alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/58bcb6b1dcd770b74a8b4567/preman-dan-wanita-bercadar
Poll: Sobat mengira, Tina wanita bercadar itu? atau Maria?

This poll is closed - 2 Voters

View Poll
Jelas bukan.0% (0 votes)
Penasaran ya? hehehe..100% (2 votes)
PREMAN DAN WANITA BERCADAR
Genre: Romantis, Horor, Aksi.
By
Laode Tahsin

Selamat pagi, aku mau minta ijin nulis cerita nih. Kisah romantis yang bercampur horror dan banyak aksi.
Nama-nama aku samarkan, jadi kalau ada kesamaan nama tokoh, peristiwa, dan tempat kejadian, tolong maafin ya guys.
Mau tahu kisah cinta mereka?


So, happy reading sobat dumay.

PREMAN DAN WANITA BERCADAR

DAFTAR ISI :
Prolog
Part 1 - Penginapan Pertamaku
Part 2 - Persahabatan
Part 3 - Wanita Asing
Part 4 - Mata Ketiga
Part 5 - Pernikahanku Dengan Wanita Bercadar
Part 6 - Perpisahan Kedua
Part 7 - Cukup Satu Maria Yang Ku Cinta
Part 8 - Selamat Datang Anakku
Part 9 - Maria Dan Cadarnya
Prolog

Aku mendengar suara azan, dan aku bergegas ke mushola rumah sakit ini. Aku berdoa dengan khusyuk, agar istriku segera siuman. Air mata mengalir tanpa disuruh saat ku berdoa.

Lalu aku kembali ke ruangan, dimana istriku di rawat. Aku duduk di samping tempat tidurnya. Aku sungguh tidak tega melihat penderitaan yang dialami istriku, selang infus terpasang di tangannya, dan oksigen mengalir ke alat yang terpasang di mulutnya. Aku hanya menunduk, dalam diamku selalu ku ucapkan doa.

Kudengar seseorang mengetuk pintu kamar. Ku lihat ibu mertuaku sudah datang. "nak, kamu sudah makan? Ini ummi bawakan nasi Padang buat kamu".

"Iya ummi sebentar. Saya masih ga nafsu makan". Jawabku sambil menaruh bungkusan nasi ke atas meja.
‘Jangan gitu nak. Kamu harus jaga kondisimu juga! Nanti pas Tina sadar, dan gantian kamu yang sakit bagaimana..? kan ga lucu!’

“Baik ummi, saya makan sekarang.”

‘Nah gitu dong. Kamu pindah ke sofa, ummi yang duduk di samping Tina.’ Kata ibu mertuaku sambil berjalan ke arahku. Aku pindah ke sofa dan memakan makananku.

Orang tua istriku termasuk orang yang berkecukupan, dan mereka juga dermawan. Pak Ali adalah nama ayah mertuaku, dan istrinya bernama ibu Nur Laili. Sudah satu tahun aku menikah dengan Tina, anak satu-satunya dari pasangan itu.

Tina adalah wanita yang taat beribadah, dan sungguh baik perangainya. Beda denganku, yang hanya mantan seorang preman. Dialah yang membuatku taubat kembali ke jalan Allah. Tapi selama pernikahanku dengan Tina, aku belum di karuniai seorang anak.

Namaku Alex, itu nama yang diberikan orang tuaku. Dan saat ini, aku memakai nama Ibrahim, sebut saja aku Baim. Aku anak pertama dari dua bersaudara, dan orang tuaku sudah meninggal sejak umurku 16 tahun. Saat itu, adikku Shinta yang perempuan, berumur 12 tahun. Jadi, orang tua Tina sudah aku anggap sebagai orang tua kandungku.

"Selamat siang mas, ibu, saya mau check kondisi Tina!” Rupanya ada dokter dan satu perawatnya yang masuk ke ruangan. Aku menghentikan makanku.

‘Oh iya dok, silahkan.’ Jawab ibuku ke dokter itu.

Selesai memeriksa kondisi istriku, ibuku bertanya; “bagaimana dok, kondisi anak saya?”

‘Ibu dan keluarga berdoa ya, supaya Tina cepat sadar dari koma nya. Nanti saya tuliskan tambahan obat, ibu bisa tebus obatnya di apotik dilantai bawah.’ Terang dokter itu.

Ibuku hanya mengangguk pelan, dokter dan perawatnya langsung keluar dari ruangan kami. Aku pun hanya diam membisu. Aku lihat mata ibuku mulai berkaca-kaca, lalu aku mendatanginya.

‘Ummi, tolong jangan sedih. Kita sama-sama berdoa ya untuk Tina.’ Kataku sambil memeluknya.

“Iya nak. Kalau begitu,ummi mau sholat dulu.” Jawabnya sambil terisak pelan.

Setelah aku makan, aku duduk disamping istriku. Tak lama kemudian, aku mulai mengantuk. Kedua tanganku berada di atas tempat tidur Tina, dan menyangga kepalaku di atasnya. Hanya satu jam aku tertidur, dan aku di kejutkan sesuatu...

Tangan kanan Tina memegang tanganku. Padahal aku ingat betul sebelum aku tidur tadi, kalau tangannya tak menyentuhku. Aku terheran, dan mau membangunkan ibuku, tapi beliau tertidur nyenyak di sofa. Lalu aku hanya mengucap syukur pada Tuhanku Allah SWT.

"Tolong sembuhkan Tina Ya Allah.. Aku tau, dia lagi berjuang untuk kembali ke kehidupan nya, maka bantulah dia, amiin.." doaku dalam hati.

Sekitar jam 5.30 sore, aku membangunkan ibuku, karena waktunya sholat maghrib. Saat malamnya, ibuku menebus obat ke apotik, lalu beliau memberikan obat itu ke perawat untuk diberikan ke Tina lewat suntikan.

Sudah jam 01.00 pagi, mataku sangat berat, aku tak dapat menahan kantuk ku. Tapi mataku terus terjaga, aku berharap Tina bangun dari koma nya. Tapi akhirnya, aku pun tertidur di kursi besi itu.

"Mas, temani aku keliling ya." ajak Tina padaku.

‘Iya sayang. Oh ya, kita duduk di pinggir danau itu yuk?’ Kataku padanya.

Aku dan Tina duduk di pinggir danau. Sebuah danau yang airnya sangat jernih, di sekitarnya tumbuh pohon-pohon yang sangat rindang. Banyak rumput di sekelilingnya, tapi rerumputan itu tidak tinggi, semua ukurannya rendah dan cantik sekali.

Tiba-tiba...

"Tina, ini sudah waktunya. Ayo ikut saya!" kata seorang laki-laki yang tak ku kenal, muncul dari belakang kami.

Aku dan Tina menoleh ke arah orang itu, dan Tina menuruti ajakan laki-laki itu. "Tina, kamu mau kemana?” Tanyaku padanya.

Tapi istriku hanya tersenyum, dan berjalan menjauh dariku. Anehnya, aku tidak mengejar istriku dan laki-laki itu.

"tuuuuuuuuuuuuuuuuuuutttt....!" aku terbangun, dan aku melihat alat yang berbunyi di atas tempat tidur Tina.
Aku panik, lalu aku membangunkan ibu mertuaku; “Ummi, Tina mi. Cepat bangun mi.” Aku terus menggoyang kaki ibuku.

"Astaghfirullah. Cepat im, panggil perawat kesini!" suruh ibu padaku. Aku langsung lari ke ruang perawat, dan untungnya masih ada satu orang yang terjaga.

"Mba. Cepat mba, istriku..!" kataku dengan nafas terengah-engah.

‘Ada apa mas?’ Tanya perawat itu.

"Sudahlah mba, ayo cepat ke ruangan istriku!”

Aku dan perawat itu lari ke ruangan. Tiba di ruangan, air mata mulai keluar membasahi pipi ibuku. Perawat itu mulai memeriksa denyut jantung dan nadi istriku Tina. 'sebentar ya mas, saya mau panggil perawat atau dokter lain yang masih terjaga.’ Katanya perawat itu.

"Ya sudah mba, cepat ya mba!” jawabku padanya.

Aku mendekati ibuku, dan memeluknya erat. Dia menangis di bahuku. "Ummi, tolong jangan nangis, Tina ga apa-apa mi, dia akan sadar, dia akan sembuh!" kataku padanya.

Ibu mertuaku menelpon suaminya, memberitahu agar cepat datang ke rumah sakit. Beberapa menit kemudian, dua perawat dan satu dokter masuk ke ruangan. Dokter mulai memeriksa Tina dengan alat yang di bawanya.

“Bu, kami sudah berusaha maksimal, tapi ini sudah takdir-Nya. Kami mohon maaf.” Ucap dokter itu.
--------------------------------------------------------------

Aku masih belum percaya atas kejadian tadi malam. Air mataku tidak bisa berhenti mengalir. Sudah 4 jam lebih aku menangis. Jasad Tina sudah di mandikan, dan beberapa menit lagi, ustad memimpin sholat jenazah, aku ikut sholat di belakang beliau.

Banyak yang ikut menyolatkan Tina. Setelah itu, aku dan beberapa warga menggotong tubuh Tina yang berada di atas keranda, ke persinggahan terakhirnya.

Doa sudah di bacakan, warga sudah mulai sepi meninggalkan pemakaman. Kedua mertuaku juga mengajakku untuk pulang ke rumahnya. Tapi aku menolak untuk berdiri dari tanah itu.

Aku meratapi batu nisan Tina dengan pandangan kosong. Hanya kenangan-kenangan indah yang sesekali muncul dalam pikiranku bersamanya.

Aku masih ingat betul saat pertama kali aku melihat Tina. Yaitu ketika di kenalkan oleh temanku Andre. Tina adalahseorang istri yang Solehah, dan seorang wanita yang paling cantik di hatiku.

Beda sekali dengan Maria, wanita yang ku kenal sebagai pacar pertamaku. Memang di dalam hidupku, aku hanya mengenal empat wanita, yaitu ibuku, Shinta, Maria, dan Tina. Sebelum mengenal Maria dan Shinta, aku akan menceritakan sosok diriku yang kelam.
Maaf ini gan/ sist, bisa jelasin ke gue ga gimana caranya bikin story jadi per part?
Thanks banyak ya utk jawabannya..

emoticon-Jempol
Part 1 - Penginapan Pertamaku

“Alex, kau itu sudah tidak punya bapak, tidak punya ibu. Kamu masih saja membuat onar! Kapan kau taubat Alex?” teriak paman Farid.

Adikku Shinta hanya menangis di kursi paling sudut. Aku menatap Shinta penuh iba. Aku menghampirinya dan memeluknya.

“Maafkan mas ya dek. Mas tadi mencuri uang untuk penuhi kebutuhan kita.” Kataku padanya.

Adikku tetap diam, sesekali dia hanya menggelengkan kepalanya.

“Lex, ubahlah kebiasaan burukmu itu! Sekarang kau sudah 18 tahun, kau sudah dewasa!” Kata pamanku lagi.

Aku berkata padanya; ‘sudahlah om, aku bisa mengurus diriku! Om dan tante kan juga sudah berjanji mau mengasuh Shinta sampai dia menyelesaikan sekolahnya. Jadi jangan urus kehidupanku om!’

Tanteku menghampiri Shinta, dia mengajak Shinta ke rumahnya. Dan tanpa bicara apa-apa lagi, om ku menyusul Shinta dan istrinya pulang. Yang jarak rumahnya hanya beberapa puluh meter saja.

Aku ke dapur, lalu membuka kulkas. Aku mengambil empat kaleng bir dan kembali duduk di ruang tamu. Aku menghabiskannya seorang diri. Aku melipat kakiku, menundukkan kepala sambil merenung.

“Ya Tuhan, aku sangat lelah tanpa kehadiran orang tuaku. Tolong aku di manapun Engkau berada.” Ucapku dalam hati.

Keesokan paginya, aku ke rumah paman. Ada hal penting yang ingin ku sampaikan pada Shinta..

“Tante, dimana Shinta? Apa dia sudah pergi sekolah?” Tanyaku padanya.

‘dia masih ada di kamar.’ Jawab tante Tatik.

Aku masuk ke kamar. Aku melihatnya tengah merapikan buku-buku sekolahnya. Lalu aku mengajaknya ke ruang tamu.

“Dek dengerin mas. Ini penting!” kataku sambil memegang pundaknya.

‘Ada apa mas?’ Jawab Shinta.

“Mulai hari ini, kamu jangan merepotkan om Farid dan tante Tatik. Karena mas akan meninggalkanmu disini.”

Shinta bertanya padaku; ‘memang mas mau kemana?’

“Mas mau keluar kota, mencari pekerjaan. Mas mau kumpulkan uang untuk sekolahmu. Supaya kelak kamu jadi orang yang sukses!” jawabku padanya.

Shinta mulai menitikkan air mata. Aku berpamitan ke paman dan tanteku. Aku berjalan keluar rumah paman, lalu menengok ke belakang sekali lagi. Tanpa terasa, air mataku mengalir pelan. Aku merasa berat meninggalkan adikku sendirian.

Aku merapikan pakaianku ke dalam tas. Aku belum tahu kemana kakiku akan melangkah. Aku hanya punya satu tujuan, yaitu rumah abang Frans.

“Tok tok tok, permisi, tok tok tok!” Aku berdiri di depan pintu rumah abang Frans.

‘Klekk!’

“Iya dek, cari siapa ya?” Seorang wanita paruh baya keluar rumah menyapaku. Sepertinya dia istri abang Frans.

“Ada mas Frans mba?” Tanyaku kemudian.

‘Oh iya ada dek, ayo masuk dulu.’ Katanya seraya mempersilakanku duduk di ruang tamu.

Abang Frans keluar dari kamarnya menemuiku.

“Oh kamu Lex, tumben kesini. Ada apa Lex?” kata bang Frans yang sedang memakai kaosnya.

“Maaf bang, pagi-pagi udah ganggu. Aku butuh pekerjaan nih bang. Apa abang bisa bantu aku?” pintaku padanya tanpa basa-basi.

‘Jadi begitu Lex. Kalau pekerjaan pabrik sih, abang gak tahu. Kalau kamu mau, ikut abang jadi kernet di truk!’ tawaran bang Frans menarik minatku.

Tanpa berpikir lama, aku menjawabnya “aku mau bang. Kapan aku bisa mulai kerja?”

‘Nanti malam aku mau kirim barang dari Sidoarjo ke Solo. Kamu bisa ikut abang mulai nanti malam.’

Aku menyetujuinya, lalu aku pamit pulang ke abang Frans dan istrinya. Aku sudah bertekad, tidak akan pulang ke rumah sebelum aku menjadi orang sukses. Maka pagi itu, aku memutuskan untuk menunggu abang Frans di kos temanku, mas Beni.

Sekitar jam 11 malam, aku pergi ke rumah abang Frans. Aku melihatnya tengah memanaskan mesin truknya. Aku pun bersiap-siap melakukan pekerjaan pertamaku.

Tiba di sebuah gudang pupuk di Sidoarjo, aku dan bang Frans menunggu di sebuah warung, sambil melihat para pekerja memindahkan barang-barang ke gudang. Setelah semuanya selesai, kami berangkat menuju Solo. Malam itu, pekerjaanku lancar hingga aku kembali ke Surabaya.

Empat bulan aku menjalani pekerjaanku. Tapi tak ada uang yang bisa ku tabung. Semuanya habis untuk kebutuhanku, tak jarang pula aku menghabiskan uang untuk membeli minuman keras.

Suatu malam, aku dan abang Frans singgah di sebuah kedai kopi di Batu, Malang.

"Susi, kamu kesini dulu sebentar." panggil bang Frans ke wanita paruh baya itu.

Ada apa toh mas? Jawabnya kemudian.

"Kamu ajarkan anak ini biar jadi lelaki sejati! Hahahaha.” Aku bingung saat mendengar ucapannya.

Lalu tante Susi menggandeng tanganku ke ruangan. Dan malam itu, adalah malam pertamaku melepas masa lajang, pada tante Susi. Kemudian kami pulang ke Surabaya. Di tengah perjalanan, kami singgah di SPBU untuk mengisi solar.

Tak terasa, sudah dua tahun aku menjalani pekerjaanku itu. Karena hidupku selalu di jalan, aku sampai tak pernah pulang ke rumah.

Aku diajak temanku Bobi, menuju Krian. Sore itu, kami menemui dua temannya. Aku masih belum tahu apa yang mereka rencanakan.

Malam pun tiba, aku dibonceng Bobi, dan satu motor lainnya, ada dua temannya yang lain. Aku belum tahu tempat tujuan kami. Dan kami berhenti di jalan raya yang sunyi. Kedua motor kami parkir di balik pepohonan.

"Bob, kita mau ngapain sih disini?" tanyaku pada Bobi.

'Merampok mobil yang lewat Lex.' jawabnya.

"Wah gila kamu Bob. Kalau aku tau, aku ga ikut tadi!" ucapanku sedikit marah padanya.

‘Sudahlah Lex, kau diam aja. Kalau ga berani, kau sembunyi saja disini. Tapi nanti jangan minta bagianmu ya!' kata Bobi.

Beberapa menit kemudian, ada truk yang datang dari kejauhan. Bobi dan kedua temannya duduk menunggu truk itu di balik pepohonan. Saat truk yang berjalan pelan itu melintas di depan kami...

"Ayo rek, sekarang!" ajak Bobi pada kedua temannya.

'Oke Bob siap.' Jawab mereka bersamaan.

Bobi melempar kaca truk dengan batu. Dan supir itu menginjak rem seketika. Bobi lari ke arah truk, diikuti kedua temannya. Mereka mengeluarkan golok dari belakang bajunya. Ada tiga orang di dalam truk itu.

'Woi, ada apa ini?' teriak salah seorang dari dalam truk.

"Diam kalian. Ayo keluar semua!" ancam Bobi seraya menodongkan golok ke sopir truk.

Dua orang langsung turun dari truk dan menyerang Bobi. Kedua teman Bobi berusaha melawan dua orang itu. Terjadi adu pukul antar mereka.

Beberapa pukulan dan tendangan mendarat di tubuh sopir. Dan sopir itu jatuh ke tanah. Teman supir itu melompat ke arah Bobi, dan menikamnya dari belakang.

Aku masih sembunyi di balik pohon. Tidak ada ketakutan yang ku rasa. Darahku semakin bergejolak melihat pertarungan itu.

Tak sabar aku duduk, aku berlari ke salah satunya. Aku memukul kepalanya dengan batu. Darah segar keluar dari telinga kiri orang itu. Dan temannya menyerangku tiba-tiba. Kepalaku pening, mataku mulai berkunang-kunang, dan aku merasakan sakit yang luar biasa di seluruh tubuhku.

"Daaaakk!" aku dipukul lagi dengan sebuah kayu.

Aku terbangun dari tidurku. Aku memandang sekeliling, dan mendapati diriku terbaring di kos Bobi. Lalu Bobi dan temannya Adi menceritakan kalau malam itu operasinya gagal. Aku juga pingsan hampir 6 jam.

Tiga hari kemudian, sakit memar dan luka ku mulai membaik. Aku bercerita ke abang Frans mengenai kejadianku, dia hanya tertawa mendengarnya. Dan malam itu, abang Frans mendapat job mengantar kaca ke kota Sragen. Kami memulai perjalanan kami dari Surabaya sekitar jam 8 malam.

Di tengah perjalanan, saat itu di perbatasan Nganjuk - Madiun, kami mengalami kecelakaan. Abang Frans yang sedikit mengantuk, keluar ke jalur kiri. Lalu bis yang mau melambung truk abang Frans dari kiri, menabrak keras bagian belakang truk.

Abang Frans kehilangan kendali mobil, dan menabrak seorang warga di daerah itu hingga tewas. Kami berdua dilaporkan warga setempat ke polisi. Dan mulai hari itu, aku dan abang Frans menginap di ruangan penuh jeruji besi. Itu pengalaman pertamaku menginap di penjara.

Ternyata kehidupan di penjara tidak terlalu buruk. Selain makanan yang setengah matang, atau kamar yang bercampur dengan kamar mandi, orang-orang di dalam penjara sangat baik.

Ruangan tiap penjara juga dipisah, aku dan bang Frans di ruangan penjara kategori kriminal umum, seperti kecelakaan lalu lintas, perampokan, tindak asusila, atau lainnya. Sedangkan ruangan untuk para narapidana narkoba di ruangan terpisah, begitu pula ruangan untuk pembunuhan, dan teroris.

Aku dihukum 6 bulan, dan bang Frans dipidana selama setahun. Pernah suatu hari, aku diberi hukuman berat. Saat itu, aku sedang berada di dapur umum.

“Hey anak baru tuh!” bisik seseorang ke temannya seraya melihatku.

Mereka berdua mendatangiku. Salah seorang menghadang jalanku, dan satunya lagi di belakangku. “Sudah kenyang makannya?” kata salah satu dari mereka.

“Woi jawab! Kau ini punya mulut. Oh jangan-jangan kau ini bisu hahaha!” ucap seorang lagi di belakangku.

Aku tetap diam. Orang yang di depanku mendaratkan pukulan keras ke rahangku. Aku terjatuh di lantai. Suasana di dapur itu langsung gaduh. Mereka menyoraki kami yang akan bertarung. Aku berdiri kembali, dengan menahan sedikit sakit di rahangku.

‘Maaf mas, saya ga mau terlibat masalah.’ Kataku pada mereka.

“Hahaha. Masalah katamu? Akulah masalahmu!” teriak orang yang ada di depanku.

“Bug bag bug. Aku terus dipukuli dua orang itu, sampai aku terpojok di dinding. Penonton semakin berteriak senang.

“Daaash!” sebuah tendangan keras mengenai perutku. Aku merintih kesakitan.

Aku berusaha berdiri, dan mengambil piring perak yang jatuh tadi, aku layangkan piring itu ke wajah salah seorang dari mereka. Di tengah perkelahianku dengan dua orang itu, petugas lapas mendatangi kami. Aku dan kedua orang itu mendapat hukuman berat.

Bang Frans kaget dengan apa yang terjadi padaku, saat itu dia ada di ruangandan diberi info temanku. Aku dihukum berjalan diatas pecahan kaca dengan kaki telanjang. Jauhnya jarak itu sekitar 20 meter. Aku tidak punya pilihan lagi, selain menjalani hukuman itu.

Setelah selesai, beberapa pecahan kaca yang menembus kaki ku mulai aku bersihkan. Aku ingin menangis, tapi aku tetap menahan air mataku agar tidak tumpah.

Tak terasa, sudah 5 bulan aku mendekam di penjara. Tinggal sebulan lagi aku berada disini, itulah pikiranku saat itu. Dan aku tidak tertarik membuat kekacauan atau perkelahian lagi.
wah gak dapet pertamax ane emoticon-Hammer2
maap gan ane juga ga tau.. ane ijin nenda aja yah pantengin cerita agan dimari emoticon-Shakehand2
Quote:Original Posted By shikykun
wah gak dapet pertamax ane emoticon-Hammer2
maap gan ane juga ga tau.. ane ijin nenda aja yah pantengin cerita agan dimari emoticon-Shakehand2


Thanks ya 😁
Monggo siapin kopinya juga..
Part 2 - Persahabatan

“Tiiitt. Klekk. Ayo dek, ikut saya ke ruangan. Kamu bisa ambil barang-barangmu lagi.” ajak seorang petugas lapas padaku.

‘Baik pak.’ Jawabku santun.

Setelah berpamitan ke abang Frans, aku berjalan menuju gerbang kebebasan. Aku kembali menghirup udara segar. Lalu aku melihat isi dompet, semua uangku waktu itu masih utuh di dalam dompet.

Aku menuju tukang bakso, aku makan dengan lahap sepiring bakso itu. Aku duduk selama setengah jam, memikirkan apa rencanaku selanjutnya. Dan akhirnya, aku memutuskan untuk pergi ke kota Malang.

Hanya butuh dua jam perjalananku menuju Malang dari Surabaya. Saat itu, aku hanya duduk di bangku terminal Arjosari. Aku tidak memikirkan pekerjaan kantoran, karena pendidikan terakhirku hanya sampai di bangku SMP.

Aku menghampiri salah satu bus jurusan Malang – Surabaya. Aku menanyakan pada sopir bus itu, apa ada pekerjaan untukku. Dan ternyata, sopir itu membutuhkan kondektur. Aku di minta memperlihatkan KTP ku.

“Jadi asalmu Suroboyo le?” tanya supir yang bernama mas Dedik itu.

‘Iya mas.’

“Pernah kerja dimana saja kamu le?”

‘Aku pernah ikut tetanggaku mas, dia supir truk barang.’ Jawabku padanya.

“Oh begitu, berarti kamu sudah pengalaman. Mana pakaianmu? Kamu tinggal di Surabaya atau di Malang?” tanyanya lagi.

‘Aku tinggal di Surabaya mas. Aku baru kemarin keluar dari penjara karena kasus kecelakaan, bos kumenabrak orang.’

Mas Dedik mengangguk mendengarkan ceritaku. Satu jam kemudian, aku mulai bekerja di bis itu. Setiap harinya, bis itu menempuh perjalanan empat rit, yaitu dua kali pulang-pergi antar kota Malang – Surabaya.

“Aku juga punya cerita nih mas Gatot tentang tante-tante.” Kataku ke beberapa orang terminal yang sedang berkumpul.

‘Oh ya? Kirain kau ini masih perjaka Lex. Hahahaha!’ sahut Joni.

“Ga mas, waktu itu aku ga ngerti apa-apa. Supir truk itu yang panggil wanita nakal buatku. Katanya supir itu, biar aku jadi laki-laki sejati.”

‘Hahahaha bisa saja kau Lex.’ Mereka tertawa dengan candaanku.

Kami meminum alkohol sampai tengah malam. Hal itu membuatku muntah-muntah. Aku kembali ke bis mas Dedik, dan tidur di dalamnya selama 4 jam.

Suatu hari, aku berkenalan dengan mas Jarot. Dia adalah bandar judi besar. Dia menyuruhku ke rumahnya saat sore hari.

“Alex, jaringan lu kan sudah luas. Gue mau, lu kerja buat gue Lex, gimana?” kata mas Jarot.

‘Bukannya aku menolak tawaran mas. Tapi aku juga kerja ama mas Dedik sekarang. Aku ikut busnya sebagai kondektur.’ Jelasku padanya.

“Bayarannya sedikit itu Lex. Sudahlah, lu pegang wilayah Utara. Lu bisa makan tidur di rumahku disana. Lu akan dapat bayaran yang banyak dari gue!”

‘Kalau begitu, aku ijin dulu ke mas Dedik. Ga enak juga kalau langsung kabur!’

“Oke Lex, gue tunggu jawaban lu besok. Kalau jadi, lu nanti harus nurut sama mas Jimmy. Panggil dia kapten dua ya.” Terangnya lagi, yang kemudian mengenalkan ku pada mas Jimmy.

‘Iya mas siap. Besok aku kabari. Kalau begitu, aku pamit dulu mas.’

“Oke Lex, lu hati-hati di jalan. Kalau ada apa-apa, hubungi gue atau ke kapten dua.”

‘Siap mas. Makasih banyak.’

Aku langsung ke terminal menemui mas Dedik. Setelah perjalanan dari Malang ke Surabaya, aku berbicara pada mas Dedik. Aku meminta ijin padanya untuk berhenti kerja. Aku juga menjelaskan pada mas Dedik, bahwa aku akan bekerja untuk mas Jarot.

Mas Dedik mengijinkanku saat itu. Dia juga berpesan padaku untuk selalu berhati-hati di lingkup perjudian, dan tidak memutuskan hubungan dengannya.

Aku menyalakan motor yang aku pinjam ke teman. Aku memakai helm dan jaketku, lalu pergi mencari alamat rumah yang diberikan mas Jarot. Di tengah perjalanan, aku melihat dua pencopet melakukan aksinya. Aku memarkir motor di depan toko bunga.

“Woi berhenti!” teriakanku membuat mereka kabur.

‘Tap tap tap tap.’

“Sialan, cepat sekali mereka. Aku harus potong jalan dari lorong itu!” pikir ku cepat.

‘Hiiaaat. Daaakk. Bug bag bug!’

Aku melancarkan pukulanku ke salah seorang dari mereka. Orang satunya lagi mengambil botol kaca, dan “praaaaankk!” botol itu pecah mengenai kepalaku.

Mereka menendang perutku berulang kali. Aku tetap bangun, lalu aku tendang orang itu dengan lututku. Aku mencekik satu orangnya lagi, tapi dia mendorongku. Aku tarik lengan kanannya dan membantingnya ke tanah. Mereka meminta ampun padaku. Kemudian aku mengambil tas yang dicuri kedua orang itu.

“Ini tasmu.” Aku memberikan tas wanita itu.

‘Makasih ya mas. Apa mas ga apa-apa?’ katanya padaku.

Aku berbalik dan berjalan menjauhinya. Lalu...

“Tunggu mas! Aku akan mengobati luka-luka mas.”

‘Gak perlu!’ Jawabku tanpa menoleh ke arahnya.

Aku kembali ke tempat motorku. Aku menyalakannya dan melaju ke rumah bang Jarot. Aku menemukan rumah mas Jarot, lalu aku memandangi rumah mewah itu dari atas motorku.

“Kenapa rumah ini sepi sekali. Ga ada seorangpun di depan rumah!” Tanyaku dalam hati.

Aku berjalan masuk ke rumah itu. Ku bunyikan bel rumah itu berkali-kali. Tak lama kemudian, seorang laki-laki berbadan besar keluar menemuiku.

“Ada perlu apa lu datang kesini?” Tanya laki-laki itu.

‘Aku bekerja untuk mas Jarot pak. Aku mau menemui mas Jimmy sekarang.’ Jawabku dari balik pagar rumah.

“Oh kapten dua. Baiklah, ayo masuk!”

Aku masuk ke rumah itu dan menemui mas Jimmy.

“Selamat datang Alex. Sudah lama gue tunggu kedatangan lu. Jadi, lu sudah membuat keputusan sekarang?” Tanya mas Jimmy padaku.

‘Iya kapten, aku sudah siap bekerja untuk mas Jarot.’

“Panggil mas Jarot dengan sebutan Jenderal ya. Dan ganti saja kata-kata saya, kamu dengan gue, lu. Paham ga Lex?”

‘Iya kapten, gue paham!’

“Oke, lu tunggu disini. Biar gue suruh orang membuatkan lu minuman. Nanti gue akan tunjukin juga kamar lu.”

‘Ya kapten. Terima kasih.’

Aku berkenalan dengan semua penghuni rumah itu. Di dalam rumah ada sebelas orang, diantaranya mas Jimmy, yang mempunyai sepuluh anak buah termasuk aku. Kalau dibawah kepemimpinan mas Jarot, ada empat kapten yang menyebar di seluruh kota. Dan antara satu kapten dengan kapten yang lain, dilarang saling mengenal.

Setiap anggota diberikan satu buah motor untuk kebutuhan operasional, termasuk aku. Dan aku juga diberikan uang pegangan oleh Kapten dua, untuk membeli kebutuhanku.

Lalu aku diberi obat-obatan untuk membersihkan luka ku saat berkelahi dengan para pencopet tadi. Banyak perban yang membalut wajah dan tanganku.

Di hari ketiga, aku pergi ke sebuah mall, untuk melepas kejenuhanku. Saat aku berjalan mengelilingi toko, aku di kejutkan seseorang…

“Mas?” panggil seorang wanita yang berjalan ke arahku.

“Ga disangka bisa ketemu lagi ya mas. Bagaimana keadaan mas?” Tanyanya lagi.

‘Aku ga apa-apa. Maaf, aku harus pergi!’ Jawabku padanya.

“Tunggu mas! Namaku Rina. Wanita itu menjulurkan tangan kanannya.

Tanpa berjabat tangan wanita itu, aku berpaling dan meninggalkannya. Sekiranya sudah jauh aku berjalan, aku melihatnya lagi ke belakang.

‘Sial, itu cewek masih berdiri disana!’

Wanita itu tersenyum melihatku dari jauh.

‘Sungguh bodoh kalau dia mau berteman denganku!’ gumamku sendiri.

Aku kembali berjalan, dan masuk ke toko pakaian untuk membeli tiga kemeja, seperti yang disuruh Kapten dua. Setelah aku merasa cukup senang, aku kembali ke rumah (markas dua).

Sesampainya di rumah, aku langsung di beri tugas oleh Kapten. Aku disuruh mengawal perjudian yang ada di sebuah daerah. Disana sedang berlangsung perjudian ‘sabung ayam’. Tanpa menundanya, aku langsung pergi ke daerah itu.

“Ini Alex, dia orang baru.” Kata temanku Dani pada penjaga disana.

Aku menjulurkan tanganku memperkenalkan diri. Aku melihat serunya pertandingan itu. Dua ayam bangkok saling beradu, bahkan sampai salah satu ayam itu mati. Di tengah jalannya pertandingan, ada seorang pemuda yang membuat onar.

Dani dan aku langsung mengamankan pemuda itu. Walaupun ada sedikit perlawanan darinya, tapi kami berdua bisa menanganinya. Lalu ada seorang lagi yang berteriak dari kejauhan… “Ada polisi. Cepat kabur!”

Dani dengan sigap membereskan uang perjudian. Aku membantunya. Lalu kami berdua mengambil motor kami.

“Lex, kita berpencar. Kita ketemu di markas!” kata Dani.

‘Oke Dan. Lu hati-hati ya.’

“Lu yang harus hati-hati Lex. Hindari jalan raya Lex!”

‘Siap Dan.’ Jawabku.

Aku memacu motor dengan cepat, meninggalkan arena pertarungan ayam itu. Setelah aku merasa cukup jauh, aku masuk ke sebuah gang. Aku menunggu di atas motor dan membakar sebatang rokok.

Seketika mobil polisi berhenti tepat di sampingku. Aku panik dan langsung menyalakan motor. Aku memasuki gang-gang sempit, yang tidak bisa dilalui polisi itu. Aku memarkir motorku di kebun warga setempat.

Ada jalan setapak di samping kebun itu. Dengan keadaan masih gugup, aku kembali menyalakan rokok ku yang sempat mati. Dan dari belakang, ada yang menepuk pundakku.

“Nah, mas yang itu hari kan?” Kata wanita itu.

‘Astaga. Sialan. Aku kaget tau!’ Bentakku padanya.

“Maaf ya mas. Jangan marah begitu dong!”

‘Apa maumu sih? Lagian kamu itu ya, bisa ada di semua tempat!’

“Aku belum sempat berterima kasih ke mas. Jadi, aku sekarang mau bilang terima kasih ke mas.” Jawab Rina sambil tersenyum.

‘Iya sudah, aku terima ucapanmu! Sekarang tinggalkan aku!’

“Mas kok kasar banget ke aku!”

‘Lalu apa lagi mau mu?’

“Maukah mas jadi sahabatku?” Katanya penuh harap. Namun aku tidak menjawabnya. Aku langsung pergi meninggalkannya.
Part 3 - Wanita Asing

Hari-hari kulalui dengan berkelahi, menghabiskan minuman keras di café, dan bercinta dengan wanita-wanita di tempat lokalisasi. Tak ada sisi positif dalam kehidupanku. Dan aku tak pernah menyesal melakukan semua itu.

Suatu hari, aku melihat Rina dari kejauhan. Saat itu, aku di dalam mobil Kijang sedang menunggu Kapten yang berada di bank. Aku keluar dari mobil, dan berjalan mendekati Maria.

“Hai Rin. Aku tadi melihatmu dari jauh. Kamu mau kemana?” tanyaku padanya.

‘Aku mau ke kampus mas.’ Jawabnya kemudian.

“Oh, jadi kamu ini mahasiswa? Baguslah!”

‘Maaf mas. Pertama, aku ga kenal mas. Dan kedua, aku ga suka bicara sama orang asing!’

“Hahahaha. Apa maksudmu Rin? Apa kamu sudah hilang ingatan?” kataku sambil tertawa.

Rina menghentikan mobil angkutan umum, dan masuk ke dalamnya. Aku masih heran melihat tingkah laku Rina. Lalu aku kembali ke mobil, dan mengantar Kapten pulang ke rumah.

Aku kembali ditugaskan mengawal perjudian di arena tinju. Beberapa uang yang terkumpul, aku masukkan ke dalam kopor. Aku mencatat semua daftar pemasang taruhan, dengan dibantu Sandi.

Terdapat dua pertandingan malam itu. Semuanya petinju lokal. Ada yang berasal dari jawa timur dan jawa tengah. Aku menyaksikan serunya pertandingan. Ada keinginanku untuk bertanding di atas arena itu. Tapi tak bisa ku wujudkan.

Pertandingan itu selesai, dan bandar menang banyak malam itu. Aku merapikan lagi semua uang ke dalam koper. Aku hanya bisa membawa 3 koper, dan sebagian lainnya dibawa temanku Sandi. Setibanya kami di rumah, kami menghitung kembali uang itu.

“Bagus Lex. Sudah beberapa kali pekerjaan lu rapih. Lu termasuk professional Lex!” Ucap Kapten dengan tersenyum lebar.

Aku hanya menganggukkan kepala; ‘semua ini bukan karena gue aja Kapten. Tapi karena kerjasama teman-teman lain!’

“Iya Lex gue paham. Oke, sekarang gue mau bagikan komisi kalian. Semuanya harap duduk!” Kapten memanggil semua penghuni rumah.

Aku diberi komisi oleh Kapten dua. Dan esok paginya, aku pulang ke rumah untuk pertama kalinya. Aku tidak melihat adik ku Shinta di rumah. Lalu aku bergegas ke rumah paman Farid.

“Tante Tatik, dimana Shinta?”

‘Sebentar lagi juga pulang sekolah. Kamu makan dulu ya Lex?’ Tawarnya padaku.

“Aku sudah makan tante.”

‘Bagaimana pekerjaan mu Lex? Kamu kemana saja selama ini?’

“Aku kerja di luar kota tante. Aku pulang ke rumah dulu ya, tolong kastau Shinta untuk temui aku dirumah.” Ucapku singkat, karena mulai merasa bosan di rumahnya.

‘Iya nak Alex.’ Jawab tante Tatik.

Siang harinya, Shinta menemuiku di rumah. Aku bicara seperlunya saja dengannya. Dan aku memberinya sejumlah uang.

Di tempat lain, markas geng kobra...

“Kalau kita terus begini, bisa rusak bisnis kita Wan! Apa lu ga tau siapa nama anak itu?” kata bos kobra.

‘Anak buahku sudah dapat info tentang dia bos. Dia Alex, anak buahnya Jimmy!’

“Pokoknya, lu urus itu Alex. Bunuh dia dalam 24 jam!”

‘Siap bos.’

“Satu lagi Wan, ada tamu besar dari Jakarta yang mau datang besok. Siapkan segalanya. Kita ga boleh mengecewakan dia!”

‘Iya bos.’ Jawab Wawan yang langsung pergi dari markas kobra.

Aku kembali ke tempat kerja ku. Dan aku melihat tidak ada orang di rumah. Lalu aku pergi ke rumah Rina sore itu. Setiba ku disana, aku bertemu ibunya. Dia bilang padaku kalau Rina tidak di rumah. Tapi, ada wajah yang ku kenal menghampiriku.

Maria: “kau lagi? Dari mana kau tau alamat rumahku?”

Aku: ‘apa maksudmu? Kita sudah sering bertemu. Seingatku, terakhir kali kamu yang mengajak berkenalan.’

Maria: “apa maksudmu? Kapan kita berkenalan?”

Ibunya Maria: “apa dia temanmu nak?”

Maria: “bukan bu, saya ga kenal dia!”

Aku: ‘baiklah, aku akan jelaskan lagi dari awal pertemuan kita!’

Maria: “ga perlu. Lebih baik sekarang kau keluar. Aku ga mau bicara dengan orang asing!”

Aku pamit pulang pada ibunya. Aku masih belum bisa menerima perlakuan wanita itu. Aku bahkan bingung kenapa dia berubah seperti itu.

Suatu hari, Kapten memberiku wewenang mencari anak buah sendiri. Katanya untuk memudahkan pekerjaanku. Ketika aku keluar dari rumah, aku melihat seseorang berdiri di samping mobil Jeepnya, aku tidak mengenal orang itu, tapi dia terus memandangku.

Aku mengeluarkan motor dan pergi ke terminal. Aku mengajak empat temanku Ozi, Vicky, Hendra, dan Rico bergabung denganku. Mereka teman yang bisa aku andalkan, jaringannya pun banyak. Dari tempat dudukku saat itu, aku melihat laki-laki tadi di dalam wartel. Dia terus melihatku.

“Hei siapa lu? Kenapa lu selalu ikutin gue?” kataku ketika menghampirinya.

‘Gue bukan siapa-siapa.’

“Kalau begitu, pergi lu dari hadapan gue!” aku mendorongnya.

‘Daaagg!’ Perutku ditendangnya. Aku langsung membalasnya dengan pukulan. Terjadi perkelahian di antara kami. Teman-teman yang melihat segera menghampiri ku. Laki-laki itu dipukuli teman-temanku. Setelah puas, aku menyuruhnya pergi.

Di tengah perjalanan pulang, aku di ikuti oleh tiga motor..

‘Woi berhenti lu!’ teriak seorang dari mereka.

Aku terus memacu motorku, tapi tiba-tiba motorku di tendang salah satu dari mereka. Aku tak dapat mengendalikan motor dan terjatuh. Lalu aku di pukuli enam orang itu.

“Sialan! makan ini. Bakk!” kata salah seorang dari mereka.

‘Bruukk!’ aku menangkis pukulan mereka.

Lalu salah seorang dari mereka menikamku dari depan. Pinggang kiriku berdarah. Aku terjatuh di tanah. Enam orang tadi segera melarikan diri. Kondisi tubuhku sangat lemas.

“Pak, pak, berhenti. Itu ada yang terluka di pinggir jalan!” ucap Maria yang sedang naik taksi.

“Ya Allah mas ini lagi. Kenapa dengan dia! Pak, ayo bantu, kita bawa ke rumah sakit.” kata Maria.

‘Jangan mba, nanti kita yang dituduh menusuk dia!’ jawab sopir taksi itu.

“Tidak apa-apa pak. Disini juga sepi, perkampungan masih jauh di depan. Saya ini perawat di rumah sakit. Ayo pak, tolong angkat tubuhnya!” kata Maria.

Hanya sedikit kekuatan yang ku punya. Aku mempertahankan kesadaranku. Dan ketika di dalam mobil taksi, aku sudah tidak ingat apa-apa.

Dua hari kemudian, aku sadar dari pingsan, setidaknya itulah yang dikatakan perawat. Aku melihat dua polisi duduk di sampingku. Mereka mengajukan banyak pertanyaan; ‘Kau masih ingat siapa namamu?’

“Alex pak. Saya dimana ini pak?” Tanyaku dengan gaya pura-pura bodoh.

‘Kamu di rumah sakit. Kami sudah melihat KTP mu, sekarang ceritakan pada kami apa yang terjadi?’

“Saya tidak ingat pak. Maaf pak!” Jawabku ke mereka.

‘Oya? Aku tau kalau kau ini mantan narapidana. Kau juga bekerja untuk Jarot kan?’

“Apa maksud bapak? saya tidak kenal Jarot.” Jawabku berbohong melindungi bosku.

‘Kami memang belum punya bukti keterlibatan mu di perjudian. Jadi lebih baik ceritakan saja apa yang terjadi padamu, sebelum kami kehilangan kesabaran!’

“Saya hanya ingat sedikit pak. Saya di ikuti tiga motor, jumlah mereka enam orang. Motor ku dijatuhkan, lalu saya dikeroyok mereka.”

‘Baiklah, nanti kau ceritakan ciri-ciri mereka.’

Aku hanya mengangguk, lalu mereka keluar dari ruangan. Beberapa menit kemudian, seorang wanita masuk ke ruang inap ku.

“Kamu...?” aku terkejut melihatnya di ruangan.

‘Iya, aku yang menolongmu di jalan!’

“Kamu kerja disini?” tanyaku padanya.

‘Iya. Aku akan menyuntikmu sekarang. Luruskan tangan kananmu!’ Perintahnya padaku.

“Hahahaha. Aku ga sangka kau ini perawat!”

‘Hei, kamu ini sudah aku tolong! Setidaknya ucapkan terima kasih!’ katanya seraya merapikan alat suntiknya.

“Maaf, terima kasih ya? Aku berhutang budi sama kamu.” Aku menundukkan kepala karena malu.

‘Sudahlah. Kenapa juga kamu harus berkelahi?’

“Aku diserang enam orang di jalan!”

‘Tapi kan pasti ada alasannya kamu punya musuh begitu. Dasar laki-laki, selalu sok kuat!’ kata Maria.

“Apa kau bilang barusan?”

‘Ga ada, lupakan saja!’ jawabnya sambil keluar dari ruangan.

Lima hari aku dirawat di rumah sakit. Aku menghubungi sang kapten, untuk membayar biaya rumah sakit. Dan salah satu anak buahnya yang juga temanku, yang diutus menemuiku di rumah sakit.

Aku masih menyimpan dendam pada mereka yang mencederaiku. Dan aku mendapat kabar, kalau mereka dari geng kobra. Aku dan empat anak buahku berencana membalas dendam.

Kami berlima pergi ke markas kobra di malam hari. Aku membagi Ozi, Hendra dan Vicky ke belakang rumah yang menjadi markas kobra itu. Lalu aku dan Rico masuk dari depan rumah. Aku bersiap di depan rumah itu.

“Rico, ayo masuk!”

‘Ya Lex.’ jawab Rico.

“Hei siapa kalian?” teriak salah satu penjaga di depan rumah itu.

Tanpa bicara apa-apa lagi, kami berdua menyerang laki-laki itu hingga pingsan. Aku mendobrak pintu rumah yang terkunci itu. Aku melihat sekitar enam orang di ruang tamu sedang bermain kartu.

“Rico, hati-hati. Ayo maju!” Aku berlari ke arah mereka.

‘Iya Lex. Hiiiaaaaatt. Buk bak buk.!’ Kami menghajar semua orang itu.

Pemukul kasti yang ku bawa patah, lalu aku mengeluarkan rantai besi, dan aku lilitkan di tangan. Beberapa orang dari mereka mengambil pedangnya, dan mengenai tubuh ku dua kali.

Aku berhasil melumpuhkan mereka, dengan datangnya tiga temanku. Lalu ada empat orang lagi yang turun dari lantai atas. Ada dua wajah yang aku kenal.

Dengan sisa tenaga, kami menghajar mereka habis-habisan. Tidak ada yang meninggal dalam perkelahian itu, kami hanya membuat mereka babak belur hingga pingsan. Kami berlima ke lantai atas dan masuk ke salah satu kamar. Kami melihat ada tiga orang di dalam kamar itu.

“Jadi lu, yang sudah buat kekacauan di rumah gue ini Lex!” Ucap salah seorang dari mereka.

‘Lex, lu kenal dia?’ kata Rico.

‘Ga Rick.’ Jawabku padanya.

“Lu memang ga kenal gue Lex. Tapi komplotan lu itu saingan berat bisnis gue. Dan hari ini, lu juga harus tanggung jawab atas perbuatan lu ini!” kata bos itu.

Dua orang anak buahnya mengeluarkan samurai. Mereka berdua memburu kami dengan brutal. Aku dan teman-temanku kewalahan menghadapinya, karena mereka ahli beladiri.

Aku berhasil mengenai lengan orang itu dengan kursi yang ku lemparkan. Dan satunya lagi dilumpuhkan oleh Hendra. Vicky mengikat mereka berdua.Tiba-tiba bos itu mengarahkan dua pistol yang di pegangnya ke arah kami.

“Diam di tempat kalian. Kalau ada yang bergerak, gue bunuh kalian!” ancam bos itu.

“Taruh senjata kalian di lantai!” suruhnya lagi.

Aku dan teman-temanku menuruti perintahnya. Dan kami disuruh berdiri di sudut kamar. Bos itu berjalan keluar pintu dengan tetap menodongkan kedua pistolnya. Lalu dia mengunci pintu kamar dari luar.

Kami mendengar langkah bos itu menuruni anak tangga. Salah satu temanku mendobrak pintu kayu itu. Saat kami mengejar keluar rumah, kami sudah kehilangan jejak bos itu dan sebagian anak buahnya.

Dua hari berlalu, aku duduk di sebuah halte bis. Aku berhasil mencopet dompet seorang laki-laki yang berdiri di depanku. Laki-laki itupun pergi menaiki bis yang dihentikannya. Lalu ada seorang pria tua mendatangiku..

“Apa yang kau lakukan anak muda?” Katanya dengan wajah mengkerut.

Aku tidak menjawabnya dan langsung berdiri.

“Hei duduk kamu!” katanya lagi dengan memegang tangan kiriku.

‘Ada apa pak?’ Tanyaku ke pria itu.

“Jangan pura-pura bodoh. Aku lihat kamu mencuri dompet pria tadi. Taubatlah nak, tinggalkan pekerjaanmu itu!”

‘Aaahh. Bapak ini tau apa!’

“Saya memang ga tau apa-apa, tapi Allah Maha Tahu perbuatanmu. Dia mencatat semua dosamu!”

‘Bapak ceramah ke saya, seolah-olah bapak ini orang suci.’

“Saya juga banyak dosa nak. Tapi saya mengajakmu untuk taubat.”

‘Aaahh sudahlah. Banyak omong kau pak!’ aku berjalan menjauhinya dan menaiki salah satu bus.

Setibaku di terminal, ada seorang pria berbadan besar menungguku. Lelaki itu mencariku setelah bertanya ke teman-teman.

“Alex, ikut gue sekarang!” katanya seraya menghadangku.

Dalam pikiranku, lelaki itu seorang polisi intel. Aku langsung berlari menjauhinya. Aku melihat ke belakang, dan dia mengejarku.
woww mantep jejak dolo kang
Wiiih thread baru nih


Salken gan emoticon-Shakehand2
Jejak dulu
Tandain dulu yah vroh
Entar ane nyusul bacanya emoticon-Peace
Quote:Original Posted By pelet.com
woww mantep jejak dolo kang


Thanks ya uda mampir..
Disundul ya gan, plus dikasih rating hahaha

Quote:Original Posted By night.writers
Wiiih thread baru nih


Salken gan emoticon-Shakehand2



Salam kenal jg ya..ak nubie 😄😄
Part 4 - Mata Ketiga

Aku terus berlari, dan memasuki taman pemakaman. Aku melihat bangunan kecil di pemakaman itu, lalu bersembunyi di dalamnya.

“Woi dimana kau setan!” teriak polisi itu.

Aku mengambil triplek dan menutupi diriku di baliknya. Di tengah persembunyian ku, tiba-tiba polisi tadi masuk ke bangunan itu.

“Sial, dimana anak itu sembunyi!” gumamnya.

Dia keluar dari bangunan. Seketika aku merasakan hawa dingin yang aneh. Lalu aku mendengar suara pelan memanggil namaku. Aku mendorong triplek untuk melihatnya.

“Wuuaaaaaahh! Siapa lu?” teriakku kencang.

Sosok makhluk menyeramkan berdiri di depanku. Sosok manusia bertubuh besar, yang tidak mempunyai kepala. Aku lari keluar dari bangunan itu.

Tubuhku masih merinding mengingat sosok makhluk halus itu. Dan polisi tadi yang masih berada dipemakaman, langsung menyergap ku dari belakang. Dia memborgol kedua tangan ku. Malam itu aku menginap untuk kedua kalinya di Polsek setempat.

Dua bulan kemudian, aku di pindahkan ke rumah tahanan di Malang. Aku menjalani sidang pertama ku keesokan harinya. Dalam sidang itu, aku melihat seorang wanita yang ku temui di rumah sakit, adikku dan pamanku.

Wanita itu memberikan kesaksian nya pada hakim, mengenai dimana dia menemukanku pertama kali. Setelah sidang, aku menemui keluargaku..

Pamanku: “Ya Allah.. Apa lagi yang sudah kau perbuat Alex?”

Shinta: “ternyata kakak selama ini bekerja tidak halal. Aku menyesal sudah menerima uang dari kakak!” Aku hanya menunduk dalam kebisuan..

Shinta: “kakak tidak kasihan kah sama Shinta? Yang aku harapkan, kita bisa hidup sama-sama kak! Kenapa kakak tega berbuat ini?

Maria: “namamu Alex kan? Aku tidak tau latar belakangmu. Tapi kalau kamu peduli dengan adikmu, ubahlah perlakuanmu ini Lex!”

Lima menit kemudian, polisi membawaku ke mobil tahanan. Dan aku kembali ke ruangan yang penuh jeruji besi.Aku terus memikirkan adikku, dan wanita itu.

Di hari jumat, aku memutuskan untuk menghadiri ceramah di masjid. Seorang ustad berceramah tentang penciptaan manusia. Aku sedih karena mengingat kedua orang tuaku. Selesai ceramah, aku menemui ustad itu.

“Silahkan duduk mas.” Kata ustad Ahmad, yang sedang duduk di dekat mimbar.

‘Terimakasih pak ustad. Ada yang mau saya bicarakan.’

“Bicaralah mas. Siapa namamu?”

‘Saya Alex pak. Saya sudah melakukan banyak dosa. Saya tidak tau apa yang saya lakukan, saya hanya mengikuti arus. Dari mana saya harus memulai pak ustad?’

“Mulailah dengan mendoakan orang tuamu.”

‘Dari mana pak ustad tahu, kalau orang tuaku...?’

“Itu tidak penting mas, saya harus tahu dari mana!” Ustad itu memotong kata-kataku.

“Yang terpenting sekarang, kamu harus mulai mendekatkan dirimu pada Allah.” Tambahnya lagi.

Selanjutnya aku di berikan penjelasan agama, mengenai sholat dan lain-lain. Lalu aku kembali ke ruangan.

Aku terbangun di malam hari. Aku melihat teman-teman satu ruangan tertidur pulas. Aku mengambil air wudhu, lalu sholat malam. Aku bersujud seraya meminta ampun pada Tuhan diatas sajadahku. Air mataku membasahi sajadah itu.

Suatu malam, teman satu ruanganku pak Soleh, mendapati ku sedang sholat malam. Dia menghampiriku setelah sholat.

“Lex, kenapa kamu sholat sunah malam saja? Sholat yang wajib ga kamu kerjakan.” Ucapnya membuka pembicaraan.

‘Aku malu mas.’ Jawabku padanya.

“Kamu malu ke siapa? Justru yang wajib itu sholat fardhunya Lex.”

‘Aku malu sama teman-teman disini mas.’

“Hahahaha Alex, Alex. Kita usaha dulu, abaikan mereka yang ada disini! Semua orang disini ga ada yang sempurna, termasuk aku.”

“Apa kau tau Lex, kalau ada jin jahat yang mengikutimu?” tambahnya lagi.

‘Hah? Mas Soleh bicara apa! Aku memang pernah lihat setan di kuburan, tapi aku ga percaya kalau jin itu ada mas.’ Jawabku padanya.

“Apa kamu mau melihat jin yang mengikutimu?”

Aku berusaha meyakinkan diriku, bahwa tak ada jin di dunia ini, apalagi jin yang mengikuti ku. Dan aku menerima tawaran mas Soleh.

Tepat di malam jumat, mas Soleh membangunkan ku. Dia menanyakan kesiapan ku. Setelah aku merasa cukup siap, mas Soleh melakukan suatu ritual.

“Astagfirullah. Apa itu mas?” dahiku mengkerut karena ketakutan.

‘Tenanglah Lex. Dia jin yang aku bilang!’ jawab mas Soleh.

“Cukup mas. Aku ga mau melihatnya lagi. Cepat tutup kembali mata batinku mas!” pintaku padanya.

‘Tidak bisa Lex kalau untuk menutup mata batinmu langsung. Butuh waktu untuk semua itu.’

“Jadi aku harus melihat makhluk ini terus? Kenapa kau ga bilang dari tadi mas? Tanyaku kebingungan.

Belum selesai dengan jin itu, aku melihat makhluk lainnya di dalam ruangan. Hal itu membuatku ketakutan. Aku seperti orang yang tidak waras. Teman-teman pun selalu menyebutku orang aneh.

“Waaaaahh!” Aku melihat sosok kuntilanak di kebun belakang, yang berdekatan dengan masjid.

Aku berlari ke arah masjid. Ada seseorang yang sedang membersihkan lantai masjid di malam itu; “Mas, tolong gue mas. Ada setan mas!” kataku dengan nafas terengah-engah.

‘Hahaha. Kau ini preman, tapi takut ama setan! Lucu kau mas.’

“Hey mas! Hati-hati kalau ngomong!” bentakku padanya.

Dia lantas meminta maaf padaku. Aku langsung kembali ke ruangan, tanpa mempedulikan orang itu. Aku merenungkan nasib yang menimpa diriku, mengenai hidupku yang berantakan, dan kemiskinan yang melekat di keluargaku.

Esok paginya, di tempat yang berbeda..

Ibunya Maria: “Maria, apa kau sudah tidak waras! Kakakmu yang tomboy saja, masih bisa memilih teman.”

Maria: ‘saya ga berteman dengannya bu. Saya cuman memberikan kesaksian waktu itu.’

Ibunya Maria: “tapi kamu membawa adik napi itu ke rumah ini kemarin! Untung kakakmu tidak tau hal ini!”

Maria: ‘iya bu, maafkan Maria. Saya kasihan ke Shinta bu.’

Ibunya Maria: “sudahlah, dari awal laki-laki itu datang kesini, ibu juga sudah curiga!”

Maria: ‘apa maksud ibu?’

Ibunya Maria: “dulu kau bilang tidak mengenalnya, tapi ternyata kamu bohong kan ke ibu! Buktinya kamu akrab ke keluarganya.”

Maria: ‘astagfirullah bu. Saya memang ga kenal dia, saya cuman menolong dia waktu itu.’

Ibunya Maria: “pokoknya kamu harus jauhin dia. Kalau kakakmu sampai tahu kamu berteman sama napi, ibu ga tanggung jawab.”

Maria terdiam mendengar omelan ibunya. Dia lantas masuk ke kamarnya dan menangis. Dalam hatinya, Maria hanya merasa iba ke Alex dan adiknya, Shinta. Maria mengambil tas kecilnya, dan pergi ke rumah Vina.

Dia menceritakan semua yang dialaminya ke temannya itu. Saat senang atau sedih, Maria memang selalu curhat ke Vina. Vina itu gadis yang baik, dia satu fakultas bersama Maria ketika kuliah dulu, namun Vina dan Maria bekerja di tempat yang berbeda sekarang.

“Hatciin, hatciin. Ah sial, siapa yang bicarain gue nih!” gumamku sendiri.

Esoknya, aku menjalani sidangku yang kedua. Tidak ada keluargaku atau wanita itu yang hadir. Hanya ada jaksa penuntut umum, dan polisi yang menangkap ku di pemakaman.

Sudah empat bulan berlalu, aku menghadiri sidang terakhir. Aku dijatuhkan hukuman dua tahun penjara, dihitung dari pertama kali aku masuk ke penjara di Polsek. Aku menerima hukuman itu, tanpa pembelaan atau dukungan dari keluarga dan dari teman-teman di markas mas Jimmy.

“Pak ustad, tunggu pak.” Ustad Ahmad menoleh padaku.

“Assalamu’alaikum pak. Maaf pak, saya ada perlu sebentar.”

‘Waalikum salam, ada apa Lex?’ tanya ustad Ahmad.

“Begini pak, tolong bantu saya pak. Saya selalu melihat makhluk halus. Temanku satu ruangan yang membuka mata batinku.”

“Saya selalu takut pak!” lanjutku lagi.

‘Perbanyaklah sholatmuLex, supaya kamu kuat. Dan jin yang mengikutimu itu, bisa pergi darimu.’

“Apa mata batin saya ini ga bisa ditutup lagi pak?”

‘Bisa tapi bertahap Lex. Kamu dekatkan dirimu pada Allah, dengan sholat dan ngaji. Nanti kita ketemu lagi jumat depan ya. Saya bantu kamu.’

“Baik pak. Terima kasih pak ustad.”

‘Iya Lex. Assalamualaikum.’

“Waalaikum salam pak ustad.”

Di hari jumat itu, aku mulai di ruqyah oleh ustad Ahmad. Aku juga mulai rutin untuk sholat fardhu, walaupun tidak penuh lima waktu. Dan ruqyah itu dilakukan selama enam bulan.Selama ruqyah itu dilakukan hingga selesai, jin yang mengikuti ku sudah pergi dariku.

Suatu hari, aku melihat seseorang yang tak asing di dapur umum..

“Hey. Kesini lu!” panggilku padanya.

Dia melangkah mundur, ketika aku mendekatinya..

“Gara-gara lu, gue jadi masuk penjara!” Ucapku mencekik lehernya.

‘Ma..maafkan gue Lex. To..long lepasin gue sekarang.’ Bos kobra itu memohon padaku.

“Diem lu. Padahal gue ga pernah kenal nama kobra, tapi gara-gara lu ini. Dasar brengsek!”

“Awas kalau lu berani berulah lagi! Biarpun ada anak buah lu disini, gue ga takut!” ancamku lagi.

‘Iya Lex, gue janji ga akan ganggu lu lagi.’ Jawab bos kobra itu padaku.

Masa tahananku akhirnya selesai. Aku lantas pulang ke rumah menemui Shinta. Aku juga berjanji padanya untuk tidak berbuat kejahatan lagi.
Quote:Original Posted By akunclassic
Jejak dulu


Boleh gan...kopinya ya jgn lupa 😁😁😁

Quote:Original Posted By akagaminorahmat
Tandain dulu yah vroh
Entar ane nyusul bacanya emoticon-Peace


Monggo bro..dilanjutin dulu aktifitasnya 😁

mantep bener, jarang" ada cerita per part nya panjang n borongan, keep update dah
jangan lupa mas buat indexnya
Quote:Original Posted By pelet.com
jangan lupa mas buat indexnya


Nah, pertanyaan gini yg ane ga paham bro.
Gimana donk solusinya? 😂😂😂

Dibantu ya gan