alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/58bc11ec98e31b7a768b457e/lukisan-ini-pasti-laku-karena-kolektor-yang-kita-datangi
Lukisan Ini Pasti Laku Karena Kolektor Yang Kita Datangi
Lukisan Ini Pasti Laku Karena Kolektor Yang Kita Datangi


Oleh: Amang Mawardi (Pelukis dan penulis)

TRIBUNNEWS.COM, PALMERAH--Saya dulu sangat dekat dengan dunia lukisan. Sebagai pelukis? Bukan...! Tetapi sebagai EO yang menyelenggarakan berbagai pameran lukisan. Persisnya sejak tahun 1990 hingga 2005.

Bahkan masih menyelenggarakan lagi sampai tahun 2009, tetapi tak segencar dan se-periodik sebelumnya yang rata-rata setiap dua-tiga bulan sekali mengadakan pameran cabang seni itu.

Pameran skala gurem yang cuma sehari dalam rangka memeriahkan lomba lukis sampai yang skala nasional, pernah saya selenggarakan. Bahkan pernah mengadakan pameran di Australia dan Thailand.

Ada dua dampak yang saya peroleh berkaitan dengan aktivitas saya itu.

Yang pertama, kalau ada orang butuh lukisan acapkali njujug ke saya.

Saya pun mendapat dampak ikutannya, yakni sering bergerak aktif untuk menawarkan lukisan kepada orang-orang tertentu yang saya anggap berduit.

Banyak di antara mereka yang semula tidak begitu mengenal dan menyukai lukisan, akhirnya menjadi kolektor yang lumayan eksis.

Mungkin lantaran kehadiran saya secara rutin mendatangi dan menawarkan lukisan kepada sosok-sosok tersebut. Tapi, itu dulu …

Yang kedua, saya pernah membuka galeri-galerian (semacam counter lukisan) di Tunjungan Plaza Surabaya, Ramayana Plaza Sidoarjo, bahkan buka stan open space di emperan pertokoan Yakaya Rungkut Surabaya.

Yang ingin saya kemukakan di sini seputar dampak pertama.

Pernah saya membawa lukisan bercorak dekoratif karya seorang pelukis Surabaya ukuran 80 x 60 cm dengan sepeda motor bersama rekan wartawan yang seniman Toto Sonata ke kawasan Kertajaya Indah.

Saat nyetir, dengan over optimistis saya bilang kepada Toto, “Lukisan ini pasti laku, karena kolektor yang akan kita datangi pernah membeli karya Rustamadji dari saya”.

Sampai di rumah kolektor itu, penawaran saya ditolaknya dengan halus, setelah sekian menit mengamati lukisan tersebut.

Karena saat membawanya tadi susah payah melawan terpaan angin, lukisan tidak saya bawa pulang, tetapi saya titipkan di rumah kontrakan wartawan Surabaya Post Jacky Kussoy di Jalan Pucang Adi yang relatif dekat dengan Kertajaya Indah.

Ya, intinya untuk mengurangi nelangsa, jika saya bawa kembali ke rumah di Rungkut yang jaraknya sekitar 13 Km itu dengan beban psikologis lukisan tidak laku, dompet kosong melompong, pulangnya akan sempoyongan lagi.

***

PENGALAMAN lain, suatu hari saya berhasil menjual lukisan berobyek pemandangan karya pelukis Soeboer Doellah ukuran 90 cm x 150 cm – kalau tidak salah waktu itu di tahun 1994 – seharga Rp 1.500.000.

Biasanya kalau saya berhasil menjualkan lukisan, saya memperoleh fee dari pelukis antara 10% - 30%.

Sesudah menyerahkan uang hasil penjualan lukisan pemandangan itu tiba-tiba saya punya pikiran “menyimpang”.

“Pak, mbok saya sampeyan beri lukisan, berapa pun ukurannya saya terima. Kali ini saya tidak minta komisi uang …” begitu saya sampaikan kepada Pak Soeboer di rumahnya di kawasan Kupang Segunting Surabaya.

Pak Soeboer antusias. Saya lantas diajak naik ke loteng di atas dapur, kemudian disuruh memilih sebuah lukisan dari tumpukan lukisan yang tak berpigura yang disandarkan di dinding yang semuanya berukuran 50 x 70 cm.

Saya lantas memilih sebuah lukisan cat minyak berobyek sebuah desa di Bali yang dikerjakan dengan teknik aquarel (mirip lukisan cat air, tipis-tipis dengan dleweran cat di beberapa bagian kanvas).

Saat menerima lukisan ini rasanya senang sekali, lantaran saya berharap dapat lukisan ukuran 40 x 50 cm lha kok diberi yang ukuran 50 x 70 cm.

Barangkali benar yang dikatakan Dahlan Iskan, salah satu definisi bahagia kalau kita menerima lebih dari yang kita harapkan. (He-he-he… Pak Dahlan ayak-ayak wae …).

Tanpa menunggu besok, lukisan langsung saya bawa ke rumah Pak Sani (ahli pigura) di kawasan Banyu Urip.

Lantas saya pilih bingkai yang cocok dengan karakter lukisan tersebut. Biasanya tiga hari selesai, tapi karena banyak pesanan, pigura saya dijanjikan selesai seminggu kemudian.

***

SUATU hari lukisan berobyek desa di Bali itu saya tawarkan kepada seorang teman wartawan yang waktu itu baru saja membuka usaha sampingan biro iklan bersama sejumlah wartawan lain. Mereka berkantor di kawasan Surabaya Timur dekat Kebun Bibit.

Beberapa hari sebelumnya saat bertamu di kantor biro iklan itu, saya lihat dinding ruang tamu kosong.

Ketika saya sarankan sebaiknya dinding yang kosong ini dihiasi lukisan, teman saya setuju. Harga lukisan desa di Bali itu deal Rp 500.000, dengan catatan akan dibayar sebulan kemudian.

Sebulan lebih seminggu kemudian, uang lukisan saya tagih. Tetapi teman saya itu disertai permohonan maaf mengatakan, bagaimana kalau harga lukisan itu diturunkan menjadi Rp 400.000.

Saya pun mengiyakan tanpa grundelan, meski pembayarannya masih sebulan lagi.

Sebulan lebih seminggu kemudian, uang lukisan saya tagih. Tetapi teman saya itu disertai permohonan maaf mengatakan, bagaimana kalau pembayaran lukisan dicicil dua kali.

Saya pun mengiyakan tanpa grundelan, meski cicilan pertama akan dibayarkan sebulan kemudian.

Hanya saja kali ini saya mencoba menafsirkan situasi yang terjadi berkaitan dengan kehadiran lukisan koleksi (eh…kolekdol) saya, bahwa mungkin ada ketidak-sesuaian paham di antara para pemegang saham di biro iklan ini. Kira-kira di antara mereka ada yang kurang setuju, “perusahaan baru berdiri kok membeli lukisan …”

Sebulan lebih seminggu kemudian, uang cicilan pertama saya tagih. Ternyata benar dugaan saya, kali ini berita yang saya terima lebih “terjun bebas”, lukisan gagal dibeli sebagaimana sedikit penjelasan dari teman saya itu, dikarenakan terjadi ketidak-setujuan di antara para pemegang saham.

Teman saya itu memohon maaf dengan sangat. Lagi-lagi saya tidak nggerundel, menggerutu. Maka, lukisan dengan teknik aquarel itu saya masukkan ke dalam mobil van saya.

Mengapa saya tidak nggerundel, tidak jengkel-mangkel, tidak marah, dengan kondisi tersebut? Saya sendiri tidak tahu.

Apakah saya memang tipe orang yang jarang nggerundel? Oo.. tidak, sering bahkan ! Apakah saya jenis sosok yang tidak suka jengkel ? Jangan salah : berkali-kali !

Atau, tidak suka marah ?. Oo … sering, meski tidak sangat sering.

Mana mungkin saya pengidap hipertensi sejak 20 tahun lalu jika saya jarang melakukan tindakan-tindakan psikologis destruktif seperti yang saya paparkan di atas.

Tetapi menghadapi kasus lukisan pemandangan desa di Bali itu, saya tidak sedikit pun menampakkan ekspresi nggerundel, jengkel, atau marah.

Dari hasil renungan di kemudian hari, barangkali sosok Pak Soeboer Doellah yang sabar, belater, dan baik kepada setiap orang – mendinginkan letupan-letupan destruktif yang mungkin akan muncul dari lubuk jiwa saya.

Ditambah sosok teman saya yang wartawan yang salah satu pemilik saham perusahaan iklan itu yang saya kenal sebagai pribadi yang baik; pendiam dan suka beramal.

Saya yakin, mungkin seandainya saat itu dia punya uang, pasti lukisan berobyek desa di Bali itu akan dibelinya sendiri. Mungkin tabungannya sedang terkuras habis untuk mendirikan perusahaan iklan itu.

Pikiran liar saya pun melayang-layang, mungkin uang kontrakan sekian tahun kantor iklan tersebut baru dibayar separuh.

Ya, dua sosok itu, agaknya telah memberi virus kesabaran pada diri saya.

***

DUA minggu kemudian saya mendatangi kantor Dewan Kesenian Surabaya (DKS) di kompleks Balai Pemuda yang sekarang dipakai Galeri DKS. Ruangan DKS saat itu, sekitar akhir 1990-an masih jadi satu dengan sekretariat BMS (Bengkel Muda Surabaya).

Mobil saya parkir persis di depan DKS. Saya pun lantas ngobrol dengan sejumlah seniman di teras kantor DKS.

Seorang tokoh seniman Surabaya yang sering bertandang ke sekretariat BMS keluar dari dalam, yang lantas say hello kepada saya. Mungkin dia keluar lantaran tertarik mendengar suara percakapan di teras. Dan mungkin juga lantaran mendengar suara dan logat saya.

Sejurus kemudian ayunan kakinya turun dari elevasi lantai teras, dan menginjak aspal pelataran Balai Pemuda. Dengan langkah – maaf – sedikit pincang , dia mendekati mobil saya.

Saya pura-pura tidak melihat tingkah sosok tokoh seniman ini. Hanya saya bergumam sangat lirih : ” Korban mendekati jebakan …”

Wajah tokoh ini ditempelkan ke kaca mobil. Pandangannya menembus dan menjelajahi kabin.

Lantas dia berjalan balik mendekati saya seraya mengatakan dengan kalem “Lukisan sopo (karya siapa) nang (di) mobilmu, Pak ?”

Saya jawab tak kalah kalem: “Darjono karo (dan) Soeboer Doellah, Mas …”

Yang lukisan Darjono berobyek seekor burung merpati adalah titipan dari wartawan Surabaya Post (bukan Jacky Kussoy) untuk saya jualkan. Yang lukisan Soeboer Doellah yang tidak jadi dibeli sebagaimana saya ceritakan di atas.

“Didol (dijual) ?”

“Ya iya lah …” jawab saya

“Ayo ikut saya !“ katanya dalam bahasa Suroboyoan.

Tokoh seniman ini bagi para seniman di Surabaya yang berteman dengan saya di fesbuk mungkin sudah bisa diraba, siapa sesungguhnya.

Dia adalah sosok yang sangat dikenal tidak saja oleh kalangan seniman di Surabaya, tetapi juga oleh banyak pejabat. Gaya hidupnya agak-agak bohemian.

Seperti orang tidak butuh, saya macak ekting ogah-ogahan, lantas mendekati mobil saya, dan membuka pintu. Sang tokoh yang sekian tahun sebelumnya beberapa kali masuk bui lantaran terlibat aksi-aksi demo di zaman orde baru itu segera membuka pintu mobil sisi kiri, lantas duduk di samping saya.

Wreennggg !!!, mobil pun saya hidupkan, seraya bertanya: “Kemana, Mas ?”

“ (Kantor Pemerintah) Kotamadya. Jalan Jimerto … “

Sampai di kantor Pemkot kami pun lantas naik ke lantai IV menjumpai salah satu kepala dinas, setelah didahului antre, mengingat ada banyak orang yang juga ingin menemui Pak Kepala Dinas.

Ada dua jam kami ngobrol ngalor-ngidul, sampai pada akhirnya sang pejabat tersebut bertanya ke pokok persoalan: “Terus, gimana… gimana ini... Ada gawe apa dik Bambang... Mungkin ada yang bisa saya bantu… ?”

“Ini lho Mas Kun, di mobilnya Pak Amang ada dua lukisan. Satu lukisan karya Darjono seharga Rp 5.000.000. Satunya lagi karya Soeboer Doellah harganya Rp. 2.500.000. Mungkin bisa sampeyan koleksi …”

“Gitu ya. Oke…oke…Yang lukisan Soeboer Doellah yang saya beli. Saya belum mampu membeli yang karya Darjono” jawab pejabat tadi tanpa mengurangi keramah-tamahannya.

Cekak aos, kami pun segera pamit dan menuju parkiran. Sebelum mobil saya starter, tokoh seniman ini bertanya, “Berapa harga dasar lukisan yang terjual tadi ?”

Saya jawab: “Lima ratus ribu, Mas !”

“Endi (mana) bagianku, sejuta …” katanya.

Uang satu juta rupiah saya serahkan kepadanya. Saya pun mengantongi satu juta lima ratus ribu rupiah. Kami pun bersalaman.

Lantas mobil saya starter, kembali melaju menuju markas DKS.

(:: Al Fatihah untuk Pak Soeboer Doellah dan Mas Bambang Sujiyono yang telah menghadap Sang Khalik lebih kurang enam tahun lalu dalam waktu yang hampir bersamaan …).

Sapa : Toto Sonata , Jacky Kussoy ,

Sumber : http://www.tribunnews.com/tribunners...g-kita-datangi

---

Baca Juga :

- Gagal Pesta Sabu, Dua Pecandu Narkoba Masuk Bui

- Ada Motor Polisi di Lokasi Pesta Sabu, Ini Biang Keroknya

- Gelar Pesta Sabu di Warung Kopi, Ini Nasib yang Dialami Sunandar

leh uga gan ... keep vosting yo emoticon-Cendol Gan