alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/58bbd916dbd7700f6b8b456b/1-page-of-feeling
1 Page of Feeling
1 Page of Feeling

1 Page of Feeling ini berisi tentang cerita pendek yang saling berbeda satu sama lain. Karakteristik cerita ane adalah genderless, sebab ane mau pembaca menghayalkan karakter sesukanya dan ane hanya mengarahkan karakter itu. Namun pada setiap akhir season, 3 cerita terakhir sedikit berbeda. Cerita itu bisa di baca standalone atau continue (dan akan bersambung lagi pada akhir season selanjutnya) dan tentu saja gendernya ane tentuin. Setiap kisah ane buat pendek, yaitu satu lembar kertas A4.

Ane masih baru di kaskus dan masih baru juga dalam membuat cerpen, maaf jika ada kesalahan tanda baca, kalimat yang tidak teratur, kosakata yang tidak banyak, dan lain sebagainya. Tinggalkan kritik dan saran agar ane semakin berkembang dan jadi lebih baik.
Spoiler for 1 Page of Feeling - Season 2:
The Second Page
The Second Page adalah cerita yang menjelaskan secara lebih detail dari salah satu kisah pilihan dari cerita 1 Page of Feeling.
Akan dilakukan pooling untuk memilihnya pada akhir setiap season (per 10 cerita).
Spoiler for The Second Page:


Update setiap sabtu atau minggu
Kadang ada update random kalau lagi ga ada kerjaan dan delay kalau banyak kerjaan.
ijin pertamax gan

ojo kentang
satuin aja gan cerita2nya, ganti jadi 1 post of feeling emoticon-Leh Uga
Setuju ma di atas ane.
Beliau penulis senior gan emoticon-Ngakak
Quote:Original Posted By fadw.crtv
satuin aja gan cerita2nya, ganti jadi 1 post of feeling emoticon-Leh Uga


Quote:Original Posted By sayabaik46
Setuju ma di atas ane.
Beliau penulis senior gan emoticon-Ngakak


Ane bikinnya di Ms. Word gan emoticon-Big Grin
Quote:Original Posted By fanzangela
ijin pertamax gan

ojo kentang


silahkan sist
Quote:Original Posted By knight109

Ane bikinnya di Ms. Word gan emoticon-Big Grin


Gpp gan.
Mungkin lebih bisa rapih tulisan ente emoticon-Jempol
Bikin konsep'y pun enak.
Quote:Original Posted By sayabaik46
Setuju ma di atas ane.
Beliau penulis senior gan emoticon-Ngakak

Waduh, saya masih baru gan. pangkat saya aja masih kaskuser. emoticon-Malu

Quote:Original Posted By knight109


Ane bikinnya di Ms. Word gan emoticon-Big Grin

Ya tapi itu mungkin ciri khas agan, tapi cuma saran koq gan biar lebih enak, sama biar viewernya keliatan banyak di jadiin satu. emoticon-Malu (S)
Quote:Original Posted By fadw.crtv

Waduh, saya masih baru gan. pangkat saya aja masih kaskuser. emoticon-Malu


Ya tapi itu mungkin ciri khas agan, tapi cuma saran koq gan biar lebih enak, sama biar viewernya keliatan banyak di jadiin satu. emoticon-Malu (S)


ane masih baru bngt di kaskus bang, ngegabung yg ke gini aja nyoba-nyoba
Quote:Original Posted By knight109
ane masih baru bngt di kaskus bang, ngegabung yg ke gini aja nyoba-nyoba


Iya gan, ane juga baru koq, masih tetap belajar. emoticon-Malu (S)
hmm gimana yak, sampe bingung mau komen apa
Quote:Original Posted By jin.bolo.bolo
hmm gimana yak, sampe bingung mau komen apa


ngomong aja gan, ane g bkln marah
ane nrima kritik, saran, no. hp cewe, gado-gado, Pizza hut, dst.....
Gan. Ini trit dibikin jadi 1 aja.

Tulisan lu udah bagus. Struktur kalimat enak dibaca. Emosi juga dapet (pas tau-tau si tokoh utama dapet undangan nikah). Tp membosankan karena ga ada dialog.

Tapi kalo lu tetep pengen model yg kaya gini, ya silahkan aja.
Quote:Original Posted By rockdathundie
Gan. Ini trit dibikin jadi 1 aja.

Tulisan lu udah bagus. Struktur kalimat enak dibaca. Emosi juga dapet (pas tau-tau si tokoh utama dapet undangan nikah). Tp membosankan karena ga ada dialog.

Tapi kalo lu tetep pengen model yg kaya gini, ya silahkan aja.


Makasih gan, nanti ane bikin yang lbih bnyk dialognya.
Akhirnya ada yg kritik juga....

BTW ane ga bisa ngegabunginnya gan, bisa bantuannya supaya bisa ane gabung, arahan atau thread untuk ngegabunginnya gitu
Quote:Original Posted By knight109


Makasih gan, nanti ane bikin yang lbih bnyk dialognya.
Akhirnya ada yg kritik juga....

BTW ane ga bisa ngegabunginnya gan, bisa bantuannya supaya bisa ane gabung, arahan atau thread untuk ngegabunginnya gitu


Bikin trit baru dgn judul yg eye catching.
Lalu cerita demi cerita lu tulis di reply, lalu lu bikin indeks-nya.
Quote:Original Posted By rockdathundie


Bikin trit baru dgn judul yg eye catching.
Lalu cerita demi cerita lu tulis di reply, lalu lu bikin indeks-nya.


Ohh, ok. Gua coba nanti. Smbil update.
Hated

“And again, you go without telling the reason”


Kau selalu mendekatiku, perempuan yang di benci di sekolah. Mendekat dengan santainya lalu berbicara banyak hal denganku. Bahkan kau mengetahui keegoisan dan kesombonganku. Tapi dengan bodohnya kau tetap mendekatiku, tanpa perduli hal itu. Awalnya aku menjauh, tak pernah memperdulikan perkataanmu. Namun perlahan kau meluluhkanku. Meski pada awalnya aku hanya berbicara karena jengkel denganmu.

Perlahan aku mulai berubah. Kesombonganku perlahan menghilang dan orang-orang mulai mendekatiku lagi. Keegoisanku ku pendam dan aku tak lagi di jauhi saat ada tugas kelompok. Lalu entah sejak kapan aku mulai mendapatkan teman yang baru. Keseharianku mulai berubah dan makin meriah. Tetapi perlahan menjauhiku. Tak ada kabar. Tak ada penjelasan. Kau hanya menjauh dan tak lagi berbicara denganku seperti biasanya. Aku tak menginginkan itu.

Aku pun menunggu di dekat gerbang sekolah. “Ouy!” kataku saat aku melihatnya, dengan sedikit berteriak. Tentu saja menarik perhatian beberapa orang, namun aku tak terlalu perduli saat itu. “Knapa?” tanyanya santai. “Ayo antar aku pulang!” kata ku tanpa berpikir panjang. Tentu saja dia tertawa. “Ku kira kau sudah membuang sifat egoismu, namun ternyata masih tersisa,” katanya sambil menghela napas “Baiklah ku antar. Aku juga mau jalan-jalan ke daerah sana.”

Rumahku tidak terlalu jauh jadi kami berjalan kaki. Saat itu dia selalu di samping ku, tapi tak ada perbincangan sama sekali. Biasanya dia akan berbicara macam-macam, namun sekarang dia hanya diam. Sekarang sudah setengah jalan ke rumahku namun dia masih tetap tidak berbicara. Aku tak tahan dengan ini. “Kenapa kau mendekatiku pada awalnya?” Tanya ku mengatakan apa yang pertama kali terlintas di benakku. “Entahlah,” dia berjalan lebih cepat sehingga sedikit berada di depanku, “Menurutmu apa?” lanjutnya. Dia pun berhenti melangkah. “Pernahkah terpikir di benakmu kalau aku tertarik padamu. Kalau aku jatuh cinta padamu?” katanya sambil menatapku dengan ekspresi yang cukup serius. “Kau sadarkan kalau aku ini lelaki normal yang tentu saja tertarik dengan wanita cantik saat aku melihatnya.” Wajahku terasa panas dan aku tak bisa lagi memandangnya. Tak ada jawaban yang bisa ku berikan. Jantungku berdetak sangat cepat dan pikiranku tak karuan. Aku lalu berjalan lebih cepat sambil memandang kebawah. Tak ada lagi perbincangan. Aku hanya ingin cepat pulang.

Setelah sampai aku mencoba mengucapkan sesuatu namun berbagai macam perasaan menghalangiku. “Bye” katanya singkat, namun ekspresinya menunjukkan sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan. Dan tak ada satu kalimat pun terucap hingga dia pergi.

Keesokan harinya aku menyiapkan berbagai macam bahan perbincangan dan juga kue kesukaannya. Namun kali ini aku tak menemukanmu di kelas. Tak ada yang tau dengan kabarnya. Lalu setelah beberapa hari aku baru aku tau kau sudah pindah jauh karena masalah keluarga.

Dan sekali lagi aku kehilangan dirinya. Namun kali ini aku tak tau bagaimana aku bisa menemukan dirinya. Tak ada yang tau alamat atau nomor teleponnya, hanya kabar kalau dia pindah keluar kota. Dan akhirnya aku tau makna dari kalimat terakhir dan ekspresi itu. Kau hanya ingin tau perasaanku sebelum kau pergi jauh dan kita tak akan bertemu lagi.
Broken Promises

“In the end, I’m the one who can’t keep my promise”


Sudah lama kita menikah. Hidup dalam keluarga yang berkecukupan dan memiliki satu anak perempuan yang cantik yang masih duduk di sekolah dasar. Gadis kecil kita adalah anak yang penurut dan baik, meski dia tidak memiliki kecerdasan yang luar biasa sepertimu, namun kau tetap mencintainya apa adanya, tanpa memaksanya sedikitpun.

Teman-teman ku banyak yang iri padaku. Orang biasa sepertiku memang tak logis bisa mendapatkan seseorang sepertimu. Cerdas, berkecukupan, dan tentu saja punya paras yang menarik. Mana mungkin aku berani mendekati orang sepertimu, apalagi bisa berpikir untuk menikahimu. Sebab yang pertama kali mendekatiku adalah dirimu. Mengajakku untuk mengurus berbagai acara, duduk di dekatku saat perkuliahan, mengajakku berjalan-jalan, dan berbagai macam hal, yang seringnya aku tak memintanya sama sekali.

Saat aku bertanya kenapa kau melakukan itu, jawabanmu karena kau nyaman saat bersama denganku. Mungkin alasan kenapa kau nyaman saat bersama ku adalah karena aku terbiasa dengan sifatmu yang selalu datang terlambat dan janji-janji mu yang kau langgar. Mungkin karena aku selalu bersabar saat menunggumu dan bertanya tanpa memarahimu saat kau melanggar janjimu.

Tapi aku selalu tak habis pikir setiap kali kau melanggar janjimu, alasanmu selalu membuatku bersyukur kau melanggar janjimu. Seperti saat itu, saat kita sudah menikah dan aku menyuruhmu untuk membeli makanan yang lagi populer di dekat tempat kau bekerja. Namun saat kau pulang, kau malah membeli nasi goreng. Lalu saat aku mau membelinya, aku baru sadar kalau salah satu bahan makanan itu adalah udang, yang mana anak kita alergi dengannya. Pada saat itu aku bersyukur karena tidak memarahimu sedikitpun.

Dan aku ingat sekali janji terakhirmu. Dengan senyuman kau mengatakannya namun dengan tangisan aku membalasnya. Sebab aku takut kau melanggar janjimu lagi. Semua bermula saat suatu pagi yang tenang saat kita sarapan bersama. Tanpa kau sadari hidungmu mulai berdarah. Memang kau biasanya akan mimisan, namun tak pernah selama ini. Aku mulai khawatir dan langsung menelpon rumah sakit meski kau melarangku.

Setelah beberapa bulan sejak kejadian itu keadaanmu mulai memburuk. Kau sering batuk berdarah dan juga bolak-balik rumah sakit. Aku sudah sangat khawatir dengan keadaanmu dan memaksamu untuk istirahat penuh. Namun itu tak menghasilkan apapun. Keadaanmu makin parah dan akhirnya aku tidak bisa fokus untuk melakukan pekerjaanku.

Terakhir kali ku lihat senyumanmu adalah sesaat sebelum kau memasuki ruangan operasi itu. Aku tau kemungkinannya sangat kecil agar kau selamat namun saat itu aku tanpa tak sadar membuat berjanji untuk kembali lagi kepadaku. Dan kau hanya membalasnya dengan senyuman.

Lalu dengan suara yang kecil dan serak kau membuatku berjanji agar tidak ada yang menangis saat kau keluar dari ruangan itu. Namun pada akhirnya aku melanggar janji itu, begitu juga teman-temanmu, keluargamu, dan anakmu. Tak ada yang bisa memegang janji itu saat kami melihatmu dan sadar bahwa tak ada lagi yang bisa bersamamu.
Coffee

“I don’t have a particular reason. I just hate a coffee.”


Di kelas yang ribut terlihat seorang pemuda yang tak bersuara. Tak mengatakan apapun hanya fokus menggambar. Tak ada makna khusus dalam gambar yang dibuatnya, dia cuma menggambar apa yang ada di pikirannya. Goresan demi goresan yang teratur, sebagai usaha agar mengalihkan pikirannya dari kesepian yang dirasakan.

Kadang memang ada dosen yang membiarkan kelas ribut asalkan terkendali. Itu adalah hal yang menyenangkan bagi orang-orang yang memang populer dan suka bicara, namun tidak padanya. Bukan karena dia tidak tahan dengan keributan yang ada, tapi karena dia bukan bagian dari keramaian yang ada. Tak ada teman atau pun orang lain yang berbicara padanya.

Perasaan ingin bicara namun tak bisa. Ingin ikut bicara namun takut tolakannya. Ingin mengutarakan pendapat namun khawatir malah menyinggung orang lain. Bincangan orang lain yang terdengar asing dan tidak dikenal. Perlahan namun pasti membuat seseorang menjauh dari keramaian atau bahkan lebih parah, dipaksa berada di dalamnya. Itulah yang dialami pemuda itu.

Namun kali ini berbeda. Bukan karena ada yang mengajaknya bicara, namun karena banyak yang membicarakan dirinya. Meski tak ada yang mengajaknya bicara namun banyak yang memperhatikannya, banyak mata menatapnya. Mungkin karena dia baru saja mendekati salah satu gadis paling populer di kampusnya. Padahal tak lama ini dia baru saja mendapat peringkat ke-5 di lomba melukis tingkat nasional tapi tak ada yang menyinggungnya.

Tak lama dia kehilangan fokusnya. Sebab ada suara perempuan memanggil namanya dari arah belakang. Namun dia tak menoleh, dia malah kembali menggambar. Bukan karena malu atau mau sok jual mahal, tapi perempuan itu tidak memanggilnya, dia memanggil orang dengan nama yang sama di dekatnya. Terlihat sedikit kekecewaan di wajahnya. Perempuan yang diidamkannya tak ada di kelas ini, namun dia masih berharap. Lalu dia tersadar kalau tidak mungkin perempuan terpopuler di kampusnya akan takluk hanya karena dia sedikit berusaha. Sebagaimana sebuah teriakan tak akan membuat seseorang mendapatkan ratu.

Jam perkuliahan berakhir. Tanpa ada yang menyapanya, pemuda itu keluar kelas. Sesaat setelahnya smartphone-nya berbunyi. Sebuah broadcast yang mengabarkan kalau ada kopi yang sedang diskon. Lalu perempuan yang diidamkan pemuda itu lewat didepannya, tak terlalu dekat dan tak terlalu jauh, namun cukup dekat untuk melihatnya. Dia terlihat bersama seorang pria yang sangat diidamkan di kampus. Dengan tubuh yang tinggi, cerdas, kaya, tampan, dan ramah. Jika di pikirkan dia adalah pria yang sangat pas untuk perempuan itu. Bagai pangeran dan putri, mungkin begitulah yang di lihat orang lain. Sambil bercanda sambil berjalan berduaan.

Tangannya menggenggam erat. Wajah yang kesal dan marah terlihat diwajahnya. Pada awalnya kemarahan itu terlihat seperti karena seseorang telah mengambil orang yang dia idamkan. Namun bukan karena itu, kemarahan itu tidak ditujukan kepada orang lain, kemarahan itu ditujukan kepada dirinya sendiri, kepada ketidakmampuannya.

“Aku benci kopi” kata pemuda itu sambil meninggalkan pemandangan itu.


Back to main menu
Mejeng doloo gan emoticon-Ngakak
Mantap lah cerita"nya emoticon-thumbsup2: