alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Mata Terkutuk - The Dark Side (REBORN) [TAMAT]
4.59 stars - based on 70 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/58896257ded770c0598b4569/mata-terkutuk---the-dark-side-reborn-tamat

Mata Terkutuk - The Dark Side (REBORN)

Mata Terkutuk - The Dark Side (REBORN) [TAMAT]


Mata Terkutuk - The Dark Side (REBORN) [TAMAT]


Semua yang bisa terlihat belum tentu adalah yang sebenarnya. Kebanyakan orang hanya melihat apa yang ingin mereka lihat. Namun ada satu bagian yang tidak akan pernah bisa berbohong, yaitu CERMINAN HATI


Setidaknya begitulah yang dikatakan oleh wanita yang kulihat selalu memancarkan aura bercahaya. Tapi maksudku apa manfaat sebenarnya dari kelebihan yang kumiliki saat ini? Sampai saat ini aku masih mencari tahu, hingga berbagai macam kejadian-kejadian aneh yang selalu ku alami. Semua berawal dari mimpi yang pernah kualami saat aku masih duduk di bangku sekolah.



Tokoh :
  • Khaidar Ekanetra - Aku, pria dengan tinggi 170cm berkulit kecoklatan dengan rambut pendek lurus, dan pendiam
  • Heri Arisyandi - Sahabatku sejak SMA, tinggi badan sepantarku, kulit putih rambut pendek keriting, orang paling gokil dan terkadang ceroboh
  • Dirga Leo - Seorang anak laki-laki yang merupakan atlit hebat sejak SMA dengan tinggi 165cm berkulit putih bersih, rambut pendek
  • Syilainun Dessari - Wanita berhijab, adik kelasku dari SMP tinggi sekitar 160cm berkulit putih, sangat pemalu tapi begitu anggun
  • Syahla Kirana - Wanita cantik nan pintar, berambut panjang hingga punggungnya, wanita yang sedikit tomboy tapi tetap anggun dan pintar
  • Razeeta - Wanita modis dengan rambut panjang, berkacamata. So cool namun elegan


SMA
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20
Part 21
Part 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28
Part 29
Part 30
Part 31
Part 32
Part 33
Part 34
Part 35
Part 36
Part 37
Part 38
Part 39
Part 40
Part 41
Part 42
Part 43
Part 44

KULIAH
Part 45
Part 46
Part 47
Part 48
Part 49
Part 50
Part 51
Part 52
Part 53
Part 54
Part 55
Part 56
Part 57
Part 58
Part 59
Part 60
Part 61
Part 62
Part 63
Part 64
Part 65
Ending?

Kisah ini akan dilanjutkan dalam thread yang berbeda, bukan apa-apa, agar judul dan cerita dapat berjalan sesuai dengan yang semestinya emoticon-SmilieMohon dimaklum. Jika kalian sadar, cerita ini sudah keluar jauh dari judul emoticon-Smilie


Jumpa Jodoh

Merupakan kisah lanjutan dari cerita ini. Dan disana semua akan terjawab dengan siapa seorang Netra menikah emoticon-Big Grin
Jika ada yang mau memberi masukan, dengan senang hati akan saya baca


Polling
143 Suara
Siapakah yang akan menikah dengan Netra? 
profile-picture
profile-picture
masqumambang dan divatooox memberi reputasi
Diubah oleh neopo
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Thread sudah digembok

Part 43 - Catatan Hati Razeeta

Quote:


Anna menarik tanganku, Zee hanya tertawa melihat wajah panikku karena Anna. Benar saja Anna membawaku ke penginapannya, tapi hanya diluar, ga sampai masuk kedalem terus berdua jadi bertiga . . . Eh . . .

Quote:


“Zee ngomong apa aja si kok Anna jadi kaya gini lagi perasaan kemaren ga segininya cemburu, terus manggil sayang?? Ini yang paling tak aku mengerti” ucapku dalam hati


Quote:


Zee langsung pergi meninggalkanku

Quote:


Seketika itu Anna langsung masuk, ia melambaikan tangannya saat di pintu penginapannya. Aku berjalan kembali ke arah api unggun yang masih menyala, ditambah lagi dengan aku yang masih belum terlalu mengantuk. Saat aku berjalan kesana, aku melihat Zee yang sedang duduk menghadap api unggun.

Quote:



*PLAKKK Zee menampar pipiku


Quote:


Karena tamparan Zee aku semakin tak bisa tidur. Waktu menunjukkan jam 1 pagi, Zee tak menampakkan wajah-wajah kantuknya, ia masih saja ngacoblak, curhat denganku.

Quote:


Aku melihat Zee dengan mata kiriku, ia sungguh terlihat sedikit berbeda sekarang. Aura hitam itu kini sudah tidak ada, namun aku masih lihat rantai yang membelit di leher dan kakinya. Aura hitam itu kini telah berubah menjadi cahaya seperti Sari, cahaya berwarna putih kehijauan. Aku langsung mengatakan hal ini padanya

Quote:


Aku melihat air mata Zee yang mulai menetes di pipinya. Aku dapat merasakan kesedihan yang ada dalam dirinya. Kisahnya tak terlalu jauh berbeda dengan Anna. Zee memeluk kedua lututnya seraya menangis.

Quote:


Zee terus saja menangis, ia memejamkan matanya . . . Suasana begitu hening . . mungkin jika hati seseorang bisa didengar, aku tahu bahwa hatinya sedang berteriak keras. Ia membuka mata dan menatapku.

Quote:


Kebetulan aku membawa sapu tangan di saku celanaku, tadinya akan aku gunakan untuk membersihkan tangan saja. Aku memberikan sapu tanganku padanya. Zee langsung mengambil sapu tangan yang aku bawa dan menghapus air matanya.

Quote:


Zee kembali menangis. Jika Anna tau dengan keberadaanku dengan Zee saat ini, dia pasti akan marah padaku. Seketika itu, entah mengapa tiba-tiba tanganku mengusap rambut panjangnya. Ia langsung menangis kembali, seperti mencoba mengeluarkan semua beban yang ada didalam dirinya.

Quote:


2 menit ia tak berbicara, matanya terlihat memerah karena tangisnya. Seketika itu ia langsung menatapku, dan senyuman kecil muncul dari wajahnya. Dia langsung menghapus air matanya sambil memberikan saputangan yang aku berikan tadi.

Quote:


Aku berbaring di tikar ini menatap langit. Api unggun mulai mengecil, tapi ada saja anak-anak yang menyiramkan minyak sehingga membuatnya kembali menyala. Zee ikut berbaring di dekatku, dengan posisi kepalanya menempel dengan kepalaku.

Quote:


Keheningan kembali menemani kami. Sampai ketika aku memanggil Zee . . ia tak menjawab panggilanku. Ternyata dia sudah tertidur. Aku membuka jaketku dan menjadikan selimut untuk Zee. Aku kembali duduk di dekat api unggun ini. Rasa kantuk ini tak kunjung datang, hingga jam 3 pagi aku mulai merasa mengantuk dan akhirnya tertidur disana. Jam 5 aku terbangun karena mendengar suara adzan, aku langsung melaksanakan shalat di dekat situ. Setelah shalat, aku kembali ke tempatku tidur tadi. Zee masih ada disana, ia masih tidur cantik. Beberapa anak sudah bangun sambil mencoba menghangatkan diri di dekat api unggun. Sesaat aku merebahkan tubuh ini tak sadar aku kembali tertidur.


*PLAK PLAK PLAK seseorang menamparku


Quote:


Aku langsung bangun dan melihat Zee yang sedang berdiri dibelakang.

Quote:

Part 65 - Kebenaran

Ada apa sebenarnya dengan Sari. Aku semakin merasa tak enak dengan Sari. Tak biasanya Sari seperti ini padaku. Beberapa hari kemarin, Sari selalu ingin dekat denganku, tapi sekarang Sari seolah menghindar dariku. Suatu sore, aku mencoba untuk menghubunginya. SMSku tak kunjung dibalasnya, telefonku juga tak kunjung dijawabnya. Rasa khawatirku semakin menjadi-jadi. Sepulang kuliah, aku menghampiri Sari dirumahnya, namun ada sedikit keraguan karena teringat apa kata Sari, bahwa ia tidak akan menemuiku lagi.


Aku sedikit mengurungkan niatku untuk mendatangi rumah Sari. Akupun pulang kerumahku. Setibanya dirumah, aku melihat seorang perempuan sedang duduk di teras rumahku bersama ayah. Mereka terlihat sedang mengobrol dan mereka terlihat begitu dekat.

Quote:


Aku masuk kedalam dan kembali keluar menemani Zee di depan.

Quote:


Zee terlihat murung saat aku menolak ajakannya. Aku panggilpun ia tak menyahut. Sampai pada akhirnya entah mengapa aku menyerah begitu saja

Quote:


Tak lama aku bersiap-siap, kami pergi menggunakan motorku. Entah kemana tujuanku hari ini membawa Zee. Zee yang mengajakku jalan malah bertanya balik aku mau kemana. Pada akhirnya, aku malah membawanya ke kampus. Karena aku ga tahu harus kemana, di kampuspun aku rasa cukup nyaman untuk sekedar ngobrol-ngobrol. Setibanya kami di kampus, kami menuju taman yang menjadi icon kampus kami.

Quote:


Zee kembali tertawa, aku membalasnya dengan ekspresi yang begitu dingin. Sampai akhirnya dia berhenti dan menatapku

Quote:


Aku menceritakan sedikit perjalananku bersama Sari mencari Anna. Zee seperti tak percaya dengan apa yang aku ceritakan, tapi itulah yang terjadi. Semua aku ceritakan bahkan ketika Anna menyetujuiku untuk tetap berhubungan dengan Sari.

Quote:


Aku dan Zeepun berangkat ke daerah Utara. Seperti dugaanku, bahwa jalanan menuju kesana sedikit macet. Namun semua terbayarkan ketika sudah sampai di daerah sana. Restoran ini merupakan restoran alam. Lebih enaknya disebutnya kafe. Dengan nuansa outdoor dan tempat duduknyapun terbuat dari kayu.


Setelah memesan, Zee kembali penasaran dengan liburanku disana. Saat aku memperlihatkan foto-foto yang ada di handphoneku, ia sangat ingin melihat tempat itu secara langsung. Tak lama kemudian pesanan kami tiba. Sambil menikmati udara sore yang mulai dingin, canda tawa mengisi obrolan kami berdua.


Selang kami mengobrol sambil menikmati camilan yang ada, aku melihat Zee yang sudah tak fokus mengobrol denganku. Rupanya ia sedari tadi tak menatapku. Namun seperti melihat kebelakangku. Aku menoleh ke belakang tapi tak tahu apa yang dia lihat. Seketika itu dia berdiri dan berjalan ke arah belakangku. Pandanganku terus saja mengikuti kemana ia pergi. Rupanya ia menghampiri seorang pasangan yang sedang makan disana. Aku melihat Zee menumpahkan minuman yang ada di meja itu ke kepala lelaki yang sedang makan itu. Sesegera aku langsung menghampiri Zee disana. Saat itu aku mendengar mereka beradu argumen.

Quote:


Zee mencoba menampar lelaki itu, tapi lelaki itu menahannya dan malah menampar balik Zee. Aku teringat sesuatu, ini terjadi sama seperti Della. Tapi dalam hal ini aku tak tahu siapa lelaki ini. Pacarnya? Semua mata pengunjung terpaku pada Zee. Seketika Zee ditampar, aku langsung menghampiri lelaki itu dan memukul wajah lelaki itu tepat di hidungnya. Ia tersungkur jatuh ke belakang hidungnya mengeluarkan banyak darah. Aku rasa hidungnya patah.

Quote:


Aku menarik tangan Zee dan pergi dari situ. Namun sebelum pergi, aku meminta maaf pada pegawai yang ada disitu karena telah membuat keributan sembari membayar pesanan kami. Aku mengantar Zee pulang. Selama perjalanan, ia menangis sambil memelukku dari belakang. Selama perjalanan, aku mencoba menenangkan Zee, tapi sepertinya dia masih shock atas apa yang terjadi tadi. Tibalah kami di rumah Zee. Seketika itu seseorang sedang menunggu diluar. Aku menghentikan kendaraanku dan beliau langsung menghampiri kami. Sebut saja tante Hera

Quote:


4 hari kemudian, aku tak mendapatkan kabar dari Sari sama sekali. Bahkan di kampuspun ia belum terlihat. Aku semakin memikirkan dia. Setelah pulang kuliah, aku menunggu adik kelasku, hanya sekedar ingin menanyakan tentang Sari.

Quote:


Tak lama kemudian, keluarlah wanita, tidak . . seorang akhwat. Dia tersenyum sambil menghampiriku

Quote:


Tiba-tiba seorang temannya datang menghampiri Vina.

Quote:

Part 64 - Suasana yang Berbeda

Segini dulu ya . . . saya sedang tidak fit hari ini emoticon-Smilie


Sekitar dua minggu aku dan Sari pergi. Saat tiba di Indonesia, aku langsung mengabari Anna seraya mengantar Sari pulang kerumahnya. Beberapa hari kemudian, aku tengah bersiap untuk menjadi panitia dalam ospek untuk adik kelasku. Beberapa dari mereka berasal dari luar kota. Sama seperti angkatanku.


Melihat banyak sekali mahasiswa baru yang masuk dari pintu gerbang, membuatku tersenyum sendiri, mengingat tahun lalu akulah yang menjadi seperti mereka. Seperti pada umumnya, bahwa kakak kelas akan mencari gebetan adik kelasnya. Tapi pengecualian buatku. Anna dan Saripun sudah membuatku bimbang karena tak dapat memilih salah satu dari mereka. Setelah ospek selesai, aku mendapat jatah libur sekitar tiga minggu. Sementara Sari . . . Dia kuliah . . emoticon-Smilie dan tiga minggu juga waktu Sari untuk berlibur


Suatu hari, aku yang sedang bermain PS bersama adikku Karna, seseorang datang. Saat aku membuka pintu, ternyata yang datang adalah Sari. Ya . . . semenjak kepulangan kami dari Australia, Sari lebih sering menghampiriku. Bahkan Annapun mengetahuinya. Aku tak merasa khawatir lagi dengan Anna, jika ia tahu, bukankah ini berarti takkan ada salah paham lagi diantara kita?

Quote:


Setelah 10 menit aku siap-siap, aku dan Sari berangkat menggunakan motor. Yang menjadi tujuanku adalah alun-alun kota. Saat itu, kami tengah duduk di sebuah rumput yang tengah menjadi spot untuk piknik para warga disitu. Sesaat kami mengobrol mengenai perkuliahan, aku melihat seseorang dari kejauhan. Seketika itu, ia terlihat seperti sedang menunggu seseorang. Setelah beberapa saat, ia sudah menghilang.


Sore itu, aku dan Sari masih membicarakan soal kampus. Karena memang benar-benar tak ku sangka bahwa Sari adalah adik kelasku. Ini berarti waktuku bersama Sari akan lebih banyak lagi. Namun yang aku ambil adalah, Anna . . . ia telah mempercayaiku untuk menjaga Sari. Dan seolah semua dipermudah dengan Sari yang kembali menjadi adik kelasku.


Singkat cerita, kuliah sudah dimulai. Aku dan Sari selalu berangkat dan pulang bersama. Setelah pulang kuliah seperti biasanya kami langsung mengajar para anak-anak di madrasah. Beberapa hari terakhir, aku melihat sesuatu yang berbeda dari Sari. Saat mengajar, Sari terlihat sedikit tak bersemangat. Aku tak mengerti dengannya. 2 hari berlalu, saat aku sedang bersiap-siap untuk berangkat kuliah. Aku chat Anna terlebih dahulu

Quote:


Setelah itu, aku langsung SMS Sari. Tapi Sari berkata bahwa ia tak bisa masuk kuliah. Akupun mengerti dengan keadaannya dan aku langsung berangkat ke kampus seorang diri. Beberapa hari berlalu. Sari masih tak kunjung sehat. Aku bertanya lewat pak ustadz Iman saat mengajar, karena aku masih sedikit ragu untuk mendatangi rumahnya. Aku memang dekat dengan Sari, namun aku masih belum dekat kepada keluarganya. Keluarga Sari sedikit terpandang, ayahnya merupakan pengurus DKM di masjid tempat kami mengajar. Namun aku terbilang jarang berkomunikasi dengan beliau.


Pak ustadz Iman menjelaskan bahwa Sari memang sedang kurang enak badan. Tak ada hal lain yang beliau ketahui. Aku juga menghubungi Sari lewat telfon, suaranya memang terdengar sedikit serak

Quote:



*Tuuut tuuut tuuut Sari menutup telefonnya.


Saat itu juga, aku benar-benar merasa khawatir pada Sari. Aku langsung pergi ke rumahnya. Saat itu ada rasa ragu karena aku belum pernah menghampiri rumahnya. Saat itu ayahnya Sari keluar dari dalam rumah. Sebut saja namanya pak Jamal

Quote:


Rasa kecewa langsung menghampiri hatiku. Pak Jamal berkata bahwa Sari sedang berada dirumah neneknya, namun Sari berkata bahwa ia sedang sakit. Apa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Sari? 3 hari kemudian, aku dan Sari berkomunikasi hanya lewat SMS. Ia selalu berkata bahwa ia baik-baik saja. Tapi aku tak percaya begitu saja. Aku merasa Sari berbeda dari biasanya.

Quote:

Part 63 - Senyuman Manis

Jika saja aku tahu lebih dulu, mungkin aku akan menghabiskan libur dengan pertengkaran antara aku dan lelaki itu. Tapi pertengkaran bukanlah sebuah jalan yang benar dalam menyelesaikan masalah. Malam ini Anna yang tak ingin membicarakan hal ini, justru malah membuatku terpikirkan. Anna tak banyak bicara lagi setelah menceritakan semuanya. Aku merangkulnya dan menyandarkannya padaku seraya ku berkata

Quote:


Anna memelukku erat. Malam itu terasa hangat karena kehadiran Anna, entah hanya perasaanku saja, atau memang karena jaket tebal Anna yang menghangatkanku.

Quote:


Kami menatap langit bersama. Suasana kota masih ramai, namun tak seramai Indonesia. Kami benar-benar menikmati momen ini.

Quote:


Kami bertatapan, seketika malah membuat kami tertawa bersama. Kami bertatapan cukup lama. Wajah kami saling berdekatan, seketika ia memejamkan matanya. Aku langsung memeluknya seketika.

Quote:


Waktu menunjukkan jam 9 malam. Tapi Anna belum mau pulang, aku rasa aku bisa mengerti dengan keinginannya untuk tetap disini. Karena ini merupakan momen langka dalam LDR. Pertemuan yang benar-benar harus dinikmati.

Quote:


Kami pulang ke penginapan. Selama perjalanan Anna menggandeng erat tanganku. Setibanya kami di penginapan. Sari ternyata belum tertidur karena menunggu kepulangan kami. Bagaimana tidak, jika ia tertidur, aku harus tidur dimana emoticon-Ngakak (S).

Quote:


Kami bertiga masuk ke kamar. Tak lama kemudian Sari tertidur di atas kasurnya. Aku merebahkan tubuh yang lelah ini di sofa. Seketika itu, Anna sedang tak mengenakan kerudungnya. Ya . . meski begitu, aku tetap senang ada perubahan darinya untuk mengenakan kerudung di luar rumah. Waktu menunjukkan jam 10 malam. Namun aku belum merasa mengantuk. Tiba-tiba Anna terbangun dan menghampiriku.

Quote:


Anna langsung duduk disampingku dan menyandarkan kepalanya ke pundakku. Kulihat berbeda darinya. Rambutnya yang dulu lurus, kini mulai sedikit bergelombang. Mungkin karena sering diikat saat mengenakan kerudung. Tapi itu malah membuatnya semakin terlihat cantik saja.

Quote:


Aku menceritakan kembali permainan saat aku dan kawan-kawan berada di fakultas tetangga.

Quote:


Semalaman kami bercerita tentang masa kuliahku dan kuliah Anna. Saat Anna kuliah, bahasa pokoknya adalah bahasa inggris. Aku salut dengan Anna yang mudah mengerti apa yang diucapkan oleh dosennya. Sementara Anna mengoceh tentang kelasku yang lebih banyak perempuannya dari pada laki-laki. Tak terasa kami mengobrol sangat lama, waktu menunjukkan jam 1 malam. Tiba-tiba apa yang biasanya terjadi padaku, kini terjadi lagi saat Anna masih tersadarkan.


Mata kiriku kembali terasa sakit, seperti kemasukan debu, namun ada sedikit rasa ngilu juga. Aku menutup mata kiriku yang sakit dengan tanganku

Quote:


Aku dapat melihat ekspresi khawatirnya. Aku tak mungkin menceritakan hal ini pada Anna. Aku belum bisa menceritakan hal-hal seperti ini padanya. Itu hanya akan membuatku terlihat aneh di matanya. Malam itu, aku sudah merasa sedikit mengantuk akibat mataku tadi membuat sedikit berat.

Quote:


Aku yang sudah mengantuk menurut saja dan merebahkan kepalaku di pangkuannya. Sesaat aku memejamkan mataku, Anna mengusap rambutku yang mulai sedikit gondrong. Seketika itu juga, ia mencium keningku. Subuh telah tiba, aku membuka mataku, dan melihat Anna yang masih duduk disitu. Waktu menunjukkan jam 3 pagi.

Quote:



*Mohon tunggu sebentar ada kesalahan tulisan


Quote:


Aku dan Anna membangunkan Sari. Ia terbangun membuka matanya perlahan kemudian tersenyum manis.

Quote:



*PLAAAK ! ! ! !


Quote:


Kami bersiap-siap untuk ke airport. Anna juga memberi kabar pada temannya untuk mengantar kami ke airport. Beberapa menit kemudian temannya sudah menunggu kami di lobby. Kamipun turun. Singkat cerita, kami sudah tiba di airport diantar oleh Sherly. Jika kalian ingat, dia adalah teman Anna yang pernah ikut video call bersamaku. Tak lama kemudian pesawat kami tiba. Sebelum aku pergi, Anna memelukku begitu erat.

Quote:


Airmata Anna menetes di pipinya. Aku mengusapnya dengan tanganku

Quote:


Seketika Anna melepas pelukannya, aku berjalan menjauh sambil melambaikan tangan pada Anna. Itulah terakhir kali aku melihat senyum manisnya sebelum pulang ke Indonesia.
profile-picture
Titikhitam198 memberi reputasi

Part 62 - Pilihan

Malam hari tiba, aku sedang berada di balkon penginapan ini. Seketika itu, Anna sudah kembali ke penginapannya disana meninggalkanku dan Sari.

Quote:


Setelah makan, kami tak pergi kemana-mana karena kekenyangan emoticon-Big Grin Aku beristirahat sejenak di sofa. Saat sedang memainkan Hpku, Sari menghampiri dan ikut duduk disampingku. Ia langsung menyandarkan kepalanya ke pundakku.

Quote:


Saat itu, tak terasa aku ketiduran di sofa masih dalam posisi duduk. Saat aku merasakan badanku pegal-pegal, tubuhku terasa berat, ternyata Sari tertidur disampingku. Tangannya melingkar di perutku begitu erat. Aku melihat jam dari arloji yang kukenakan. Waktu menunjukkan jam 1 malam. Saat aku hendak melepaskan tangannya, ia malah memegang semakin erat, alhasil aku tak bisa bergerak. Tapi secara perlahan aku berhasil lepas dari pelukannya. Aku mengambil selimut dan ku selimuti dia.


Menjelang pagi hari, Sari masih tertidur di sofa. Aku mencoba membangunkannya kemudian menyuruhnya untuk segera menunaikan shalat subuh

Quote:


Siang hari, aku dan Sari berencana untuk jalan-jalan. Anna memberiku kabar bahwa ia akan datang nanti sore untuk membantu kami packing menjelang kepulangan kami ke Indonesia. Kami hanya jalan-jalan sekitar penginapan saja, agar nantinya mudah berkomunikasi dengan Anna. Beberapa foto kami ambil bersama, karena ini juga merupakan saat liburan yang tak boleh dilewatkan begitu saja.


Tawa dan canda menghiasi hari-hariku bersama Sari. Seorang perempuan yang bukan siapa-siapanya aku, tapi begitu berharga. Seseorang yang selalu menemani hariku saat di Indonesia. Tapi . . . maaf Sari, aku tak mungkin menduakan Anna juga. Biarlah aku simpan perasaan ini untukmu.


Singkat saja ya . . . sore hari, Anna datang ke penginapan menyusulku dan Sari. Saat itu aku dan Sari tengah bersiap-siap untuk pulang esok subuh. Anna meminta tolong temannya untuk mengantar kami ke airport.

Quote:


Malam ini adalah malam terakhirku menginap disini, esok aku akan melakukan perjalanan jauh ke Indonesia. Malam ini juga, Anna meminta waktu untuk berdua denganku, tanpa ditemani Sari. Sari pun tak keberatan dengan permintaan Anna. Kami pergi keluar untuk jalan-jalan. Akupun meminjam kamera milik Sari, karena Anna memaksa ingin berfoto bersamaku.


Anna mengenakan jaket tebal, sementara aku hanya mengenakan jaket levisku dan kemeja didalamnya. Sehingga sedikit terasa dingin saat angin menembus seluruh pakaian yang kukenakan.

Quote:


Kami mengambil foto-foto disini, bahkan ada saat Anna meminta tolong “warga” untuk memfoto kami berdua. Banyak yang menyangka bahwa kami adalah pasangan suami-istri emoticon-Big Grin Aku tersenyum saja dan berdoa hehe . .

Quote:


Anna terseguk menangis sambil tertunduk. Makhluk bodoh apa aku ini, yang malah membentaknya seketika ia memiliki masalah.

Quote:


Aku bingung harus bagaimana, satu sisi aku tak mau membiarkan Sari pulang sendiri, di satu sisi, aku ingin sekali tinggal untuk membantu Anna. Tapi aku tahu, Anna akan berfikir bahwa aku akan menghajar anak itu.

Quote:

GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di