alexa-tracking

Desa Cigugur

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5882f99cdac13e76268b458e/desa-cigugur
Desa Cigugur
Desa Cigugur

Pada 13-15 Oktober kemarin, saya melakukan perjalanan ke sebuah Desa bernama Cigugur. Desa Cigugur terletak di kaki gunung Ciremai dan sekitar 3 kilometer dari kota Kuningan, Jawa Barat. Saya dan teman saya Henri Ismail kesana dalam rangka mendokumentasikan desa dimana di desa ini toleransi dan pluralitas agama benar-benar diterapkan dan dirasakan serta desa Cigugur merupakan salah satu tempat dimana komunitas terbesar pemeluk Agama Djawa Sunda atau yang juga dikenal sebagai Sunda Wiwitan berada.

Perjalanan menuju desa Cigugur sendiri memakan waktu kira-kira 4 jam menggunakan mobil dari kota Bandung. Kami menggunakan jasa travel untuk pergi ke desa tersebut. Ketika kami tiba di Cigugur, hari sudah gelap dan kami turun di depan Paseban Tri Panca Tunggal yang merupakan tempat tinggal dari tokoh agama Sunda Wiwitan, Pangeran Djatikusuma. Paseban atau orang disana biasa menyebutnya dengan gedong dibangun pada 1860, merupakan tempat berkumpulnya orang-orang di desa Cigugur semacam balai desa, pusat kebudayaan dan juga merupakan tempat tinggal Pangeran Djatikusuma. Paseban sendiri dahulunya merupakan tempat tinggal dari Kiai Madrais yang pertama kali mengembangkan ajaran agama Sunda Wiwitan ini. Anaknya, Pangeran Tedjabuana juga menempati paseban ini sebelum akhirnya Pangeran Djatikusuma yang merupakan cucu dari Kiai Madrais menempatinya.


Desa Cigugur

Latihan tari oleh para bapak-bapak

Ketika kami masuk ke dalam paseban, sedang ada kegiatan latihan tarian untuk acara esok hari, yaitu peresmian perbaikan dari paseban dan peluncuran batik resmi desa Cigugur ditambah dengan perayaan ulang tahun Pangeran Djatikusuma. Baru sebentar kami duduk, seorang bapak kemudian datang dan berbincang-bincang dengan kami yang merupakan orang asing disana. Perbincangan tersebut akhirnya berlanjut ke taman, dimana makanan untuk kami disiapkan, ternyata setelah berbincang-bincang seputar Sunda Wiwitan dan Cigugur diketahui bahwa bapak tersebut adalah putra dari Pangeran Djatikusuma, Gumirat Barna Alam. "Saya putranya Rama Djati", seraya memperkenalkan siapa dirinya, Rama merupakan panggilan yang artinya bapak. Sebagai putra satu-satunya, oleh ayahnya ia dipersiapkan untuk meneruskan ajaran ini.


Desa Cigugur

Gumirat Barna Alam yang akrab dengan panggilan Rama Anom

Malam sudah larut dan akhirnya kami bertemu juga dengan Mas Ira, yang lebih dahulu dikenal oleh Henri. Ia merupakan penganut agama Sunda Wiwitan dan berprofesi sebagai dosen antropologi di Unpad Bandung. Selama 3 hari kedepan kami menginap di rumah keluarga mas Ira yang berbaik hati dan ramah menerima kami sebagai tamu di rumahnya. Tidur saya nyenyak sekali malam itu, udara dingin dan keramahan warga desa Cigugur memberikan kesan pertama yang baik di hari saya. Keesokan harinya kami bertemu dengan ayah mas Ira yang merupakan seniman yang membuat motif-motif batik Cigugur yang rencananya akan diluncurkan sore hari itu. Bersama dengan Ayah dan Ibunya, kami dan mas Ira berdiskusi mengenai agama Sunda Wiwitan, Rama Djati, Paseban dan Cigugur. Dari obrolan tersebut berulang kali saya dengar pengalaman tentang susahnya urusan administratif dengan pemerintah dikarenakan agama yang mereka anut. Seperti halnya agama asli dan tradisional Indonesia lainnya, agama Sunda wiwitan tidak diakui sebagai agama resmi oleh karena itu tidak dapat dicantumkan dalam KTP (penganut agama Sunda Wiwitan mempunya tanda strip pada kolom agama di KTP mereka). Karena 'polos'-nya KTP mereka, seringkali penganut agama "tidak resmi" ini disalah artikan sebagai orang atheis atau tidak mempunyai agama.


Desa Cigugur

Mas Ira (paling kanan) dengan ayah dan ibunya

Siang harinya kami menuju Paseban untuk bertemu dengan Rama Djati. Kami hanya sebentar berbicang dengan beliau dikarenakan ia sangat sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk acara sore hari. Jadilah kami berkeliling paseban untuk melihat-lihat dan mendokumentasikannya. Sore harinya banyak orang yang datang ke paseban. Kursi yang disediakan penuh terisi dan pintu-pintu dan jendela-jendela tampak orang-orang berjejalan memperlihatkan antusiasme warga Cigugur terhadap acara tersebut. Di Cigugur sendiri dari perbincangan kami dengan beberapa orang diketahui bahwa dahulu mayoritas penduduk desa itu merupakan penganut Sunda Wiwitan namun karena susahnya urusan administratif dengan pemerintah dan faktor lainnya maka pada sekarang ini Islam, Katolik dan Protestan merupakan mayoritas agama yang dianut oleh penduduk sekitar dan sisanya baru Sunda Wiwitan. Kembali ke acara sore itu, Rama Djati sendiri yang membawakan acara peluncuran batik resmi desa Cigugur yang resminya baru akan dilepas ke pasaran akhir tahun di Jakarta nanti. Suaranya tegas namun tetap terdengar ramah dan simpatik, semangatnya terlihat dalam suaranya ketika menjelaskan arti tentang masing-masing motif batik, tidak memperlihatkan usianya yang sudah cukup sepuh hari itu, 74 tahun. Acara hari itu cukup meriah dan walaupun cukup ramai namun jumlah tersebut katanya hanya sepersepuluh dari jumlah yang datang pada acara Seren Taun yang diperingati pada 22 Rayagung penanggalan Sunda, yang tahun depan jatuh pada tanggal 12 Januari 2006.


Desa Cigugur

Rama Djatikusuma (baju putih) tengah duduk disela-sela acara

Tidak terasa sudah tiga hari kami berada di Cigugur, hari itu merupakan hari terakhir kami disana, rencananya malamnya kami akan pulang ke Bandung. Hari itu kami dibawa oleh mas Ira untuk melihat kuburan setempat di Cigugur, dimana pemakaman di desa ini mempunyai keunikan yaitu semua yang dikuburkan dicampur tanpa membeda-bedakan atau mengkotak-kotakkan berdasarkan agamanya. Saya sempat melihat sebuah makam orang Kristiani tepat bersebelahan dengan makam seorang muslim, suatu hal yang belum pernah kita lihat di pemakaman di kota besar seperti Jakarta. Di pemakaman ini pula terletak makam Kiai Madrais dan Pangeran Tedjabuana yang menurut dengan cerita orang disana mengalami ngahiyang atau moksa dimana tubuhnya hilang sama sekali tanpa bekas ketika kuburannya dibongkar untuk dipugar.

Sore hari dan malamnya kami masih sempat untuk melihat dan mendokumentasikan proses perbaikan Paseban yang dilakukan warga sekitar. Perbaikan paseban dilakukan dalam tiga shift, yaitu pagi, siang dan malam hari sehingga proses perbaikan berlangsung non-stop selama 2 bulan. Saat kami mendokumentasikan proses perbaikan tersebut tampak bagian tengah dan atas dari paseban yang mengalami perbaikan besar-besaran. Yang menjadi pertanyaan saya dan Henri, mengapa warga sekitar mau membantu perbaikan paseban tersebut? Sebegitu besarkah pengaruh dari seorang sosok Rama Djati pada warga sekitar? Pertanyaan itu yang membuat saya ingin kembali ke Cigugur awal tahun depan, sebelum Seren Taun dimulai.


Desa Cigugur

Warga bergotong-royong memperbaiki Paseban


Desa Cigugur

Warga tetap bekerja memperbaiki Paseban di malam hari

Malamnya kami pulang ke Bandung, tepat pukul 1 malam travel menjemput didepan rumah dan kami pamit kepada Ibu mas Ira yang sangat ramah dan baik selama kami tinggal di rumahnya. Sewaktu pulang, mobil melintasi Paseban yang tampak masih terang dengan lampu yang menerangi para pekerja memperbaiki gedung tersebut.

http://ronyzakaria.blogspot.co.id/20...gugur.html?m=1
image-url-apps
Masih kekluargaan banget
image-url-apps
Kisah yang Terkubur di Seren Taun Cigugur

Awal tahun 2009 lalu, saya pernah ikutan bantuin kegiatanFestamasio (Festival Teater Mahasiswa Nasional) yang sedang berlangsung di Jakarta. Saya di sana berperan sebagai LO bagi komunitas teater mahasiswa Univ. Syiah Kuala, Aceh (saya lupa nama teaternya). Saya pun berkenalan dengan banyak orang, ketemu teman-teman dari Aceh, termasuk teman-teman si anak-anak Aceh ini yang berkuliah di Bandung. Ada satu nama, saya lupa juga (saya sulit mengingat nama orang-orang yang hanya sebentar bgt singgah--panggil saja dia Bang), mahasiswa STSI Bandung, seorang petualang, suka budaya, seni, dan semacamnya, yang lantas kita ngobrol banyak tentang lumayan banyak hal. Salah satunya, ketika dia tahu saya berasal dari Desa Cigugur, Kuningan, dia langsung cerita tentang upacara adat Seren Taun yang tiap tahun berlangsung di situ.


"Apa? Kamu gak tahu suka ada Seren Taun di sana?" kata si Bang.
Tertohok saya. Mendadak ada yang mendesir di hati ini, semacam rasa malu, norak, kampungan, masa acara di kampung halaman sendiri gak tahu.. Kok, sodara-sodara saya gak pernah ada yang ngasih tahu soal ini ya?
"Gak tau, Bang. Hehe.. numpang lahir, doang. Kelamaan di Bogor," saya pun beralibi.
Dan.. tahun 2010 kemarin, akhirnya saya sempat ngikutin upacara adat Seren Taun di Desa Cigugur-Kuningan lengkap (enggak lengkap banget juga, sih.. minimal setiap hari saya datang dan ngekorin ritual mereka). Akhirnya...


Beberapa Langkah Saja
Parah banget emang saya. Pantas kalau saya merasa tertohok oleh perbincangan bareng anak Aceh-Bandung tahun 2009 itu. Setahun kemudian barulah semua ketertohokan saya itu terbukti sebab helaran upacara Seren Taun tersebut terletak beberapa langkah saja dari rumah mama di Cigugur, yaitu bernama Gedung Paseban Tri Panca Tunggal. Setiap hari saya bisa lewatin tempat itu kalau mau ke kota lewat jalur yang memutar. Saya bisa tiap pagi jalan kaki ke situ sambil olahraga atau main-main di balong (kolam) Cigugur yang sangat tidak asing lagi. Pantaslah kalau saya malu. Sementara acara budaya ini diikuti oleh bahkan budayawan maupun wisatawan mancanegara, saya sendiri yang kelahiran desa itu tidak tahu?! Sungguh ter-la-lu.


Akhir tahun kemarin itu, 2010, saya sempat beberapa bulan di Kuningan, lepas dari satu pekerjaan dan mencoba rehat sejenak di suasana pedesaan. Entah kebetulan atau mungkin memang sudah begitu saja jalan-Nya (ciee, sok bersinergi dengan alam Cigugur), Seren Taun Cigugur-Kuningan 22 Rayagung 1943 Saka Sunda digelar saat saya berada di sana. Senangnya.. bisa mengikuti acara kampung halaman sendiri meskipun tidak terlibat jauh dan hanya mencoba memahami, tapi buat saya ini sudah cukup. Ada rasa entah apa yang membuat saya gimana.. gitu. Rasanya seperti perasaan bangga bercampur takjub. Cigugur, kampung halamanku. emoticon-Smilie


Terkubur Sebuah Cerita
Saya ingat, deh. Itu terjadi bulan November 2010. Ritual Seren Taun pertama yang saya ikuti adalah kegiatan pembuangan hama. Pagi-pagi betul saya sudah bersiap diri sebab acaranya berlangsung pagi hari di sebuah bukit yang menurut keluarga saya angker. Konon dahulu tiap malam sering terdengar suara gamelan dari bukit itu. Ritual pembuangan hama ini memang diiringi oleh gamelan dan permainan seribu kentongan. 


Selanjutnya, hampir setiap hari saya ke acara Seren Taun ditemani adik atau saudara-saudara lainnya; menyaksikan nyiblung, pertunjukan kesenian, dan sebagainya. Tapi, banyak juga acara yang tidak saya hadiri, tidak ada teman alasannya--selain adik saya. Sebagian keluarga besar tampaknya kurang antusias bahkan cenderung skeptis. Suatu kali salah satu saudara malah bilang saat kita akan pergi ke acara Seren Taun, "Jangan sampai Enih (nenek) saya tahu." Maaf, katanya, itu acaranya orang Katolik. What? Saya melongo.


Telusur demi telusur, saya pun akhirnya mengerti mengapa ada sebagian masyarakat yang bersikap tak acuh begitu. Tersebutlah sebuah nama,Madrais, yang melegenda banget hingga menjadi semacam mitologi yang berkembang di Desa Cigugur.


Legenda Madrais
Saya mendadak jadi "peneliti" cabutan dan "wartawan" kelas teri dengan mencari sebanyak-banyaknya informasi tentang Seren Taun Cigugur-Kuningan dan hubungannya dengan tokoh bernama Madrais ini. Sayagoogling, tanya-tanya keluarga (terutama orang-orang sepuh termasuk nenek saya dan tetangga mama yang sudah tua), juga wawancara penduduk Cigugur dan salah satu panitia yang merupakan anggota masyarakat adat Cigugur-Kuningan sekaligus dosen Antropologi Unpad, Ira Indrawardana. Tersimpullah bahwa masyarakat adat Cigugur ini, sebagiannya merupakan "asap" dari para pengikut tokoh bernama Madrais pada masa dahulu. Beliau ini adalah seorang yang sakti dan hidup atas jati dirinya sendiri sebagai manusia, tak mengidentifikasikan diri pada suatu sistem agama tertentu sebab tampaknya beliau telah melampaui semua itu sebagai seorang makhluk Tuhan dan semesta alam. Ajaran Madrais ini lantas dimaknai dan diaplikasikan oleh sebagian masyarakat Cigugur. Mereka melakukan ritual-ritual sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada alam. Salah satunya adalah yang kemudian dikemas dan dikenal dengan Seren Taun.


Mereka ini adalah orang-orang yang kembali kepada "agama" buhun mereka, seperti masyarakat Baduy. Kita mengenalnya sebagai Sunda Wiwitan. Namun, pada suatu era, kepercayaan kepada selain 5 agama legal di Indonesia, dilarang. Maka, sebagian besar pemeluk Sunda Wiwitan di Cigugur ini, berbondong-bondong beralih agama ke Katolik atau Kristen. Ya, bukan ke Islam sebab ada satu kisah tersendiri mengenai hal ini yang berkaitan dengan tokoh bernama Madrais tersebut. Orang-orang tua di Cigugur akrab betul tentangnya. 


Madrais adalah keturunan sultan Kerajaan Gebang Cirebon yang sedari kecil telah diungsikan ke Cigugur dari kejaran penjajah Belanda. Ia lalu diasuh oleh kepala desa bernama Ki Sastrawardana. Untuk mengelabui penjajah dan menghilangkan jejaknya, disebarkanlah informasi bahwa Madrais (maaf) anak haram, tak jelas orangtuanya. Maka, begitulah yang dikenal masyarakat, termasuk nenek saya.


Dahulunya Madrais adalah seorang muslim yang taat. Namun, seperti dijelaskan Kang Ira (keturunan Ki Sastrawardana), suatu kali pernah terjadi tindakan tidak menyenangkan yang dialami ketika Madrais tengah melakukan khotbah Salat Jumat di masjid. Beliau dinilai oleh salah seorang jemaah tidak pantas melakukan khotbah. Ini berkaitan dengan labelnya sebagai anak haram. Orang-orang tua di Cigugur mengungkap, Madrais sakit hati kemudian "murtad" dan mendirikan kepercayaan sendiri (begitu juga yang dibilang nenek soal sakit hati). Sementara itu, Kang Ira membenarkan bahwa telah terjadi semacam "pengkhianatan" di antara saudara sendiri dan inilah yang menjadi awal sebuah sejarah.


Madrais melestarikan kembali ajaran Sunda asli dalam bentuk tarian, tembang, dan kesenian lainnya. Mereka membangun masyarakat adat yang kuat, bukan hanya di Cigugur, melainkan ke wilayah Jawa Barat lainnya. Hingga pada suatu era itu, ketika mereka tidak boleh mengosongkan kolom agama pada KTP oleh pemerintah, maka mereka memilih Katolik atau Kristen. "Yang penting bukan Islam, aja," sahut Kang Ira mengisyaratkan "dendam" leluhur.


Maka, ketika penganut kepercayaan kepada Tuhan YME kembali dibangkitkan pada masa pemerintahan Gus Dur tahun 2006 dan Seren Taun kembali digiatkan yang pada tahun itu pula presiden RI ke-4 ini menghadiri acaranya di Cigugur, masyarakat kolot menilai bahwa ini adalah acaranya orang Katolik. Setengah warga Desa Cigugur memang beragama Katolik dan keluarga Madrais (beragama Katolik pula) secara temurun menjadi penggagas masyarakat adat dan acara Seren Taun di Cigugur, namun bukan berarti ini acaranya salah satu agama. Sayangnya, itulah pola pikir yang berkembang di masyarakat kolot Cigugur, termasuk nenek saya dan beberapa keluarga besar saya lainnya. Mereka juga menganggap ini sebagai sebuah bentuk kemusyrikan.


Agama vs Budaya
Saya hanya mengkombinasikan cerita yang saya dapat dari keluarga saya dengan sejarah yang faktual. Saya hendak mencari sisi objektivitasnya. Kini saya mengerti kenapa nenek saya bilang begitu, kenapa Seren Taun kurang populer di keluarga besar saya, kenapa Madrais bersikap "keluar". Masalahnya sangat sederhana (baca: klise), yaitu "perang" antara agama dan budaya. Kebanyakan masyarakat agama (macam Enih dan keluarga lainnya) sulit memakai kacamata lain untuk melihat suatu fenomena yang terjadi sebab bagi mereka agama adalah kebenaran mutlak yang tak bisa ditawar lagi. Namun, berapa banyak kekaosan terjadi di dunia akibat perang agama?! 
Ketika agama tidak lagi mampu menjadi solusi dan malah jadi sumber perpecahan, maka budaya adalah jalan tengahnya. Di sana ada pembauran yang netral, sesuatu yang lebih ke akar. Di sana tidak ada Islam atau Katolik, yang ada hanya Sang Hyang.


Seren Taun di Cigugur bukan acaranya orang Katolik, ini acara budaya. Masyarakat Cigugur tumplak menyatu di pesta rakyat itu. Puji-pujian dilisankan dalam bahasa Sunda. Ada doa bersama lintas agama di suatu malam puncaknya. Pemimpin dari tiap-tiap agama berkumpul, memanjatkan puji syukur atas hasil bumi (panen) yang melimpah di tanah mereka: Tanah Sunda. 
Maka, hasilnya, pluralisme terjalin hangat di desa kami. Leluhur Cigugur senantiasa menjaganya. Semoga tetap lestari. Amin.

When you learn something from people, or from a culture, you accept it as a gift, and it is your lifelong commitment to preserve it and build on it. (Yo-Yo Ma)

Saya pengen banget enih atau keluarga lainnya mengerti, tapi sulit. Mereka cukup menghargai, tapi cynical. Yah, mudah-mudahan ada pencerahan bagi mereka. 
Tahun ini saya gak bisa liat Seren Taun Cigugur-Kuningan 1944 Saka Sunda, tapi akan ada Seren Taun Guru Bumi di Sindang-Barang Bogor Januari 2012nanti. Saya pengen tahu, apakah ada bedanya?


Desa Cigugur

Kang Ira Indrawardana.

Desa Cigugur

Upacara pembuangan hama.

Desa Cigugur

Seribu kentongan;
yang dipayungi cucu Madrais.

Desa Cigugur

Nyiblung.

Desa Cigugur

Paseban Tri Panca Tunggal

*Foto koleksi pribadi pada Seren Taun 1943 Saka Sunda, November 2010.

https://capnonamanis.blogspot.co.id/...-taun.html?m=1
KASKUS Ads
demen nih inpoh mixed histori, sosiolgi n antropologi kayak gini. enlightenning emoticon-Jempol