alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/587dc844902cfe2d018b456a/kuntjoro-takdir-pararaton-cerita-bersambung-cerbung-episode-1
Inspiratif 
Kuntjoro: Takdir Pararaton (Cerita Bersambung [Cerbung]-Episode 1)
Oleh: Alif Nur Hidayat



Pijakanku mulai melemah, sepertinya kaki ini memintaku untuk memberinya waktu untuk beristirahat. Nampaknya Matahari juga bersepakat denga lelahku. Sinarnya menelusup di sela-sela dedaunan dan jatuh tepat diatas kepala. Pohon beringin yang rindang di tepian sungai itu seolah memanggil dan merayuku untuk menyandarkan tubuh ini padanya. Kuputuskan untuk duduk dan beristirahat dipohon yang rindang itu.

Ku sandarkan punggung di pohon beringin itu dan ku selonjorkan kaki yang sudah mulai terasa kaku. Perlahan ku kendurkan ikatan tali dari alas kaki yang terikat kencang dan meninggalkan bekas merah di betisku. Pejalanan jauh membuat perutku meronta meminta untuk diisi. Ku santap bekal yang ku bawa dari rumah sambil menikmati suasana santai di hutan Wanatirta.

Semenjak memutuskan untuk meninggalkan desa, aku belum sempat beristirahat. Terus berjalan menelusuri sungai di tengah lebatnya hutan Wanatirta hingga sampai pada lelahku.

Aku pergi dari tanah kelahiran bukan karena ingin mencari penghidupan di tempat lain. Pangkubayan cukup memberiku hidup selama ini. Ada dorongan yang begitu kuat yang melandasi kepergianku. Takdir. Tempat yang ingin ku tuju, Kadipaten Pararaton, tengah menghadapi ujiannya. Kerajaan kecil di selatan pulau Jawa itu menjadi salah satu kerajaan yang diincar oleh Arya Jayalodra.

Arya Jayalodra adalah seorang anak selir dari kerajaan Watugaluh, salah satu kerajaan besar di tanah Jawa Dwipa. Dia kini tengah menghimpun kekuatan untuk merebut takhta Prabu Reksa Pawira, putra mahkota Watugaluh. Diawali sejak beberapa purnama yang lalu, dia mulai menaklukan beberapa kadipaten di sepanjang garis pantai selatan. Kadipaten yang berhasil ia taklukan, dijadikan basis kekuatan pertahanannya. Dia menempatkan pasukan di setiap kerajaan kecil yang telah tunduk atas perintahnya. Ekspansi yang dilakukan oleh Jayalodra hampir sampai di kadipaten Pararaton.

Beberapa hari yang lalu, datang utusan Pararaton ke desa Pangkubayan untuk memberikan pengumuman yang pada akhirnya membawaku ke tempat ini.

-"Ada apa itu?"

-"Sepertinya ada utusan kerajaan datang ke sini, ada apa gerangan?" rakyat desa bertanya-tanya sambil mendekat ke arah utusan Pararaton.

-"Woro-woro! Bersama dengan pesan ini, Adipati Soka Dwipa memanggil para pemuda desa dibawah kekuasaan kadipaten Pararaton untuk iku berjuang dalam membela Tanah Air. Bagi setiap pemuda yang ingin bergabung, dapat datang ke keraton Pararaton. Demikian pesan yang disampaikan oleh Adipati Soka Dwipa, kami berharap banyak warga desa pangkubayan yang bersedia bergabung menjadi prajurit pararaton," Ujar salah seorang utusan Pararaton yang membacakan woro-woro diatas kudanya.

-"Ampun beribu ampun tuan, jika hamba boleh bertanya, ada apa sebenarnya sehingga pararaton meminta pemuda desa kami untuk bergabung menjadi prajurit keraton?" tanya seorang rakyat kepada utusan Pararaton.

-"Kondisi saat ini sedang genting, Pararaton sedang bersiap menghadapi serangan Jayalodra," jawab utusan pararaton sambil menghela nafasnya.

-"Jayalodra? Bukankah dia adik Prabu Reksa Pawira, Raja Watugaluh?"

-"Benar, dia yang telah menaklukan Kadipaten Banyu ilir, Kadipaten Sedayu, Kadipaten Pitu lemah dan beberapa kerajaan kecil lainnya,"

-"Apa yang sebenarnya terjadi?"

-"Entahlah, sepertinya Jayalodra berusaha menghimpun kekuatan dengan menaklukan kerajaan-kerajaan kecil dibawah kekuasaan Watugaluh untuk digunakannya menyerang kerajaan milik Prabu Reksa Pawira itu. Baiklah, kami harus segera kembali ke Pararaton. Permisi," setelah menyampaikan woro-woro dan menjelaskan apa yang mereka ketahui kepada rakyat desa, mereka pergi kembali ke pararaton.

Aku yang saat itu tengah membantu Bopo menjemur padi di halaman rumah tidak ikut mendekat ke arah utusan Pararaton. Dari tempatku berdiri juga sudah terdengar dengan jelas apa yang disampaikan olehnya, jadi aku merasa tidak perlu menghampirinya dan aku lebih memilih mendengarkannya sambil tetap membantu bopoku menjemur padi. Mendengar pengumuman yang dibacakan oleh utusan Adipati dan percakapannya dengan sejumlah warga desa pangkubayan, hatiku merasa terpanggil. Meski aku hanya anak seorang petani, tapi aku yakin bahwa takdirku jauh lebih besar dari ini. Bopo yang tengah asik menginjak-injak padi yang dijemur tak menghiraukan woro-woro yang disampaikan oleh utusan Pararton. Aku menghampirinya dan meminta restunya untuk perg dan memberikan baktiku kepada Pararaton.

-"Bopo, saya ingin ikut berjuang membela negeri ini. Kiranya bopo berkenan memberikan restu kepada putramu untuk berbakti kepada ibu pertiwi." tanyaku padanya.

Bopo menghentikan injakannya dan menoleh ke arahku,

-"Kuntjoro putraku, pergilah bila hatimu memintamu untuk pergi. Namun jangan pernah kembali dengan membawa penyesalan." jawaban yang sangat tenang dari seorang ayah yang hendak ditinggal pergi oleh anak semata wayangnya.

Tapi aku teringat pesan bopo saat aku masih kecil, ketika bopo masih belum setua ini. Waktu itu kami duduk di pematang sawah sembari mengusir burung yang hendak memakan padi kami yang mulai menguning. Pada saat itu tiba-tiba Bopo berpesan kepadaku,

-"Seseorang belum dapat dikatakan sebagai manusia, bila dia belum dapat memberikan manfaat bagi orang lain."

Mungkin dibenak Bopoku inilah kesempatan bagi putranya menjadi seorang manusia sejati.

Setelah mendapatkan restu aku langsung berkemas dan pergi meninggalkan rumah dengan hanya membawa buntalan yang berisi beberapa helai pakaian dan sedikit perbekalan.

Cukup rasanya aku mengistirahatkan tubuhku, sebelum larut aku harus sudah sampai di Wero, desa perbatasan antara hutan Wanatirta dengan Kadipaten Pararaton. Setelah selesai beristitahat, aku melajutkan perjalanan. Cukup jauh aku berjalan, bersama dengan senja, akhirnya tiba pula aku di Wero. Kedatanganku disambut oleh dua gapura yang berdiri kokoh. Tunggu.. Ada yang aneh.... Biasanya gapura kerajaan selalu dijaga oleh prajurit kerajaan. Namun kali ini tidak. Padahal kondisi kerajaan sedang sangat genting, seharusnya penjagaan di setiap perbatasan kota diperketat. Kebingunganku semakin bertambah ketika aku memasuki desa Wero.

Desa ini menjadi begitu sepi, sangat berbeda dengan saat terakhir kali aku datang kemari. Desa ini seperti kota mati, bahkan suara jangkrik pun tak kudengar, begitu hening, aku hanya mencium bau hangus yang terbawa oleh angin, seperti bau dedaunan yang terbakar. Saat matahari benar-benar tenggelam, wajah malam menunjukan keganasannya. Desa yang seharusnya benderang oleh cahaya obor ditiap-tiap rumah kini menjadi gelap gulita.

Kupercepat langkah kakiku menuju keraton hingga langkahku melambat ketika melihat beberapa rumah di kota itu sudah porak-poranda. Rumah-rumah roboh dan mengeluatkan asap seperti habis terbakar. Dari balik kegelapan malam aku melihat banyak jasad tak bernyawa bergelimpangan di sepanjang jalan menuju keraton.

-"Celaka!!! Sepertinya aku terlambat," ujarku dalam hati.

Gemetar tubuh ini menyaksikan kehancuran Wero dihadapan mataku. Terdengar bunyi gemuruh yang memecah keheningan malam. Terlihat nyala obor dari kejauhan. Aku bersembunyi di balik salah satu sisa bangunan yang roboh, yang tidak mengeluarkan asap. Dari celah kecil yang terdapat di gedeg tempatku bersembunyi aku terus memandang ke arah datangnya suara gemuruh itu.

Terlihat nyala obor dari kejauhan, semakin lama cahayanya semakin terang. Cahaya dari obor yang mereka bawa mengusir kegelapan disepanjang jalan yang mereka lalui. Suara gemuruh itu ternyata berasal dari pasukan berkuda yang tengah mengawal tahanan yang dikurung dengan kerangkeng besi di atas kereta kuda. Di antara wajah yang ada di balik kerangkeng besi itu, ada satu wajah yang ku kenal. Seorang laki-laki muda berambut panjang dengan baju putih yang lusuh dan kotor.

Oh jagad dewa batara.... Itu Adipadi Soka Dwipa!!! Sepertinya Kadipaten ini telah ditaklukan oleh pasukan Arya Jayalodra. Rombongan itu pergi ke arah timur kota. Aku coba mengikuti mereka. Namun apa daya, langkah ku tak secepat langkah kuda. Aku tertinggal jauh dari mereka. Jejak kaki kuda mereka dan bekas roda dari kereta yang samar karena gelapnya malam menjadi satu-satunya petunjuk ke mana mereka pergi.

Aku mengikuti jejak itu hingga tiba di sebuah bukit batu di sebelah timur desa Wero. Pasukan berkuda yang tadi membawa Adipati Soka Dwipa sepertinya telah pergi, karena aku tidak melihat ada kuda mereka terikat di sekitar bukit itu. Di salah satu sudut bukit aku melihat ada lubang seperti mulut goa yang dijaga oleh lima orang prajurit Arya Jayalodra. Aku yakin, Adipati Soka Dwipa ditahan di sana.

Aku memutar otak untuk dapat masuk ke dalam goa itu dan membebaskan sang Adipati. Diam-diam Aku mengitari bukit batu tersebut dan memanjatnya. Di sisi atas bukit batu itu ternyata ada sebuah celah kecil yang menembus ke perut goa. Tubuhku yang kurus memberiku keuntungan, aku bisa masuk melalui celah kecil itu. Aku terus merangsek masuk, hingga tiba di perut goa.

Di dalam goa, satu-satunya sumber penerangan hanya obor yang diletakan di sela-sela dinding goa. Aku mengintip dari balik batuan goa, terlihat kerangkeng yang tadi dibawa dengan kereta kuda lengkap dengan Adipati Soka Dwipa dan beberapa orang lain di dalamnya. Ada sekitar empat belas orang di dalam kerangkeng kecil yang dijaga oleh dua orang penjaga.

-“Bagaimana aku bisa menyelamatkan Adipati Soka Dwipa?” tanyaku dalam hati.

Aku tidak membawa senjata, yang kubawa hanya buntalan yang berisi pakaian. Aku perhatikan sekelilingku. Hanya ada batu... Batu... Iya.. Batu... Nah.. Aku punya ide.. Aku keluarkan bajuku dari buntalan itu, aku isi buntalan itu dengan batu-batu yang ada di dalam goa. Kini aku punya senjata ha… ha… ha….

Aku melihat ada peluang, nyala obor di dalam goa itu tidak sepenuhnya mengisi seluruh ruang di goa itu. Ada sudut gelap di dalam goa yang tidak terkena cahaya. Dan bagian gelap itu adalah sisi atas goa, dimana banyak batuan goa yang menggantung yang menghalangi cahaya obor.

Sambil membawa buntalan berisi batu yang berat, aku panjat dinding goa yang sangat licin dengan perlahan, menempatkan posisiku diatas para penjaga itu, tidak tepat diatasnya namun cukup dekat untuk menyerang mereka. Senjataku hanya satu, sedangkan jumlah penjaga ada dua, akhirnya aku putuskan untuk menjadikan diriku sebagai senjata. Aku jatuhkan buntalan berisi batu itu ke penjaga yang satu dan yang satunya lagi kutimpa dengan tubuhku.

Para penjaga itu takluk seketika, termasuk diriku. Jatuh dari ketinggian cukup membuat tubuhku terasa remuk. Orang-orang yang ada di dalam kerangkeng terkejut dan terbangun dari posisi duduk mereka. Namun Sang Adipati hanya menoleh, kesedihan kutangkap dari raut wajahnya. Aku buka kerangkeng yang membelenggu mereka.

-"Kanjeng gusti, hamba menghadap mengabdikan diri kepada Pararaton, kepada gusti Adipati Soka Dwipa," aku berlutut dihadapan sang adipati memberi hormat padanya sambil masih mengelus pinganggu yang terasa sakit.

-"Anak muda, siapa namamu?" dia bertanya sembari mengajakku untuk bangun dari posisi berlututku.

-"Kuntjoro. Saya pemuda dari desa Pangkubayan yang bermasud untuk mengabdi kepada Pararaton,"

-"Kuntjoro... Apa kamu bisa bertarung?" sang adipati bertanya dengan tatapan penuh harap kepadaku.

-"Ampun beribu ampun kanjeng gusti, saya hanya seorang petani yang tidak bernah berlatih ilmu silat ataupun ilmu kanuragan."

-"Kita sudah kalah. Ilmu kanuraganku telah dicabut oleh Jayalodra dengan mustika karang abang miliknya. Prajuritku pun telah dihabisi olehnya, bahkan aku kehilangan kedua orangtua ku dan adikku, yang ada bersamaku sekarang tinggal beberapa abdi dalem kerajaan," jelasnya sambil menatap pilu kearah orang-orang yang terkurung bersamanya yang ternyata adalah abdi dalemnya. Sejenak dia terdiam, lalu dia kembali berbicaa dengan ekspresi wajah yang berbeda. Aku melihat adanya harapan di matanya.

-"Kita tidak bisa menghentikannya. Tapi setidaknya kita bisa mengacaukan rencana penyerangan Jayalodra ke Watugaluh. Takdir Pararaton untuk hancur telah ditetapkan, namun Watugaluh masih bisa diselamatkan. Aku punya rencana. Ikut aku," sang adipati kembali percaya diri dan mengajakku beserta para abdi dalemnya untuk pergi menuju keraton Pararaton.

Adipati Soka Dwipa meminta kami membawa obor yang ada di dalam goa sebagai alat penerangan. Kami keluar dari goa dan disambut oleh lima orang prajurit Jayalodra yang berjaga di luar. Adipati Soka Dwipa bertarung dengan mereka tanpa ilmu kanuragannya. Meskipun kehilangan ilmu kanuragan, namun dia masih menguasai jurus-jurus silat.

-"Setan alas!!! Ku habisi kau Soka Dwipa!" umpat salah satu prajurit Jayalodra sambil berlari dan mengarahkan pedangnya ke Adipati Soka Dwipa.

Adipadi mengelak dan menagkap tangan prajurit itu, memelintirnya dan mengarahkan pukulan ke siku si Prajurit hingga patah. Jerit kesakitan dari si prajurit itu membakar amarah prajurit yang lain dan dengan bersamaan menyerang Adipati. Aku tidak tinggal diam dan membantu sang raja dengan memberinya semangat serta doa dari kejauhan.

Dengan beberapa jurus dan pukulan mematikan yang di arahkan ke bagian vital para prajurit, akhirnya Adipati Soka Dwipa memangkan pertarungn itu. Setelah berhasil mengalahkan para prajurit itu, kami berlari menuju keraton Pararaton.

Sesampainya di batas desa Wero, Adipati Soka Dwipa meminta ku bersama para abdi dalem untuk mematikan obor yang kami bawa dari goa tadi lalu ia memerintahkan kami untuk mengambil atap rumah serta kayu dari sisa-sisa rumah rakyat Pararaton yang sudah roboh.

-"Berhenti. Sekarang, matikan obor kalian. Sebagian dari kalian, yang wanita, tolong kumpulkan atap rumah yng terbuat dari jerami serta sisa-sisa kayu. Sedangkan yang laki-laki ikut aku. Nanti kita semua bertemu di candi di kidul keraton. Mengerti?" titahya kepada para adi dalem.

-"Sendiko ndawuh kanjeng gusti, kami siap menerima perintah kanjeng gusti," sahut para abdi dalem.

-"Kuncoro, kamu ikut membantu mengumpulkan kayu kering ya," ujar Adipati kepadaku.

-"Begitu lemahnya kah dirik sehingga aku disuruh bergabung dengan para wanita?" pikirku.

-"Baik kanjeng gusti, akan saya laksanakan,"

Aku dan para abdi dalem wanita lantas menjalankan apa yang diperintahkan oleh sang adipati. Lalu membawa hasil pencarian kami ke candi di kidul keraton. Setibanya kami disana kami tidak menjumpai Adipadi Soka Dwipa dan para abdi dalem pria. Kami menunggu sejenak di pinggir candi.

-"Bagaimana? Kalian sudah mengumpulkan apa yang ku minta?" tanya Adipati Soka Dwipa yang datang mengendap-endap bersama abdi dalem pria.

-"Ampun gusti, hanya ini yang dapat kami kumpulkan. kami hanya dapat mengumpulkan beberapa ikat jerami dan kayu kering sisa bangunan yang roboh" sahut seorang bibi yang sudah lanjut usia.

-"Ini lebih dari cukup, sekarang taruh semua ini mengelilingi keraton," titahnya kepada kam.

-"Sementara kalian ikut aku!"

-"Baik gusti," jawab para abdi dalem pria.

Kami diperintahnya untuk menaruh benda-benda itu mengelilingi keraton. Sementara itu, Adipati Soka Dwipa bersama abdi dalem yang pria melumpuhkan para penjaga di sekitar keraton. Dan ternyata... Rencana Adipati Soka Dwipa adalah membakar keratonnya sendiri! Sepertinya dia tidak rela bila keratonnya dikuasai oleh pasukan Jayalodra dan ia juga tidak ingin bila kerajaan yang dibangun oleh leluhurnya dijadikan alat untuk melawan Watugaluh. Jayalodra yang tengah menggelar pesta kemenangannya di dalam keraton bersama beberapa para prajuritnya tidak menyadari apa yang kami lakukan di luar keraton. Sementara aku dan sebagian abdi dalem menaruh kayu mengelilingi keraton, setelah berhasil melumpuhkan para penjaga, Adipati Soka Dwipa bersama abdi dalem yang bersamanya lantas mengambil beberapa ekor kuda dari kandang yang ada di samping keraton.

Setelah kayu-kayu itu mengelilingi keraton, dari atas kuda hitamnya Adipati Soka Dwipa memerintahkan kami untuk membakar kayu-kayu itu. Kami nyalakan kembali obor yang sedianya sudah kami padamkan dan kami sulut kayu-kayu yang mengelilingi keraton itu dengan api dari obor yang kami bawa. Semakin lama api semakin membesar dan mengurung Jayalodra beserta pasukannya di dalam keraton.

Aku berdiri terdiam memandangi keraton yang dikelilingi api. Terdengar jeritan dari dalam keraton yang terbakar itu. Diantara nyala api yang melahap keraton, aku melihat bayangan hitam berjalan mendekat kearah kami. Kian lama semakin jelas wujudnya. Seorang laki-laki bertubuh besar dengan baju perang bermotif batara kala di dadanya, mengenakan kalung berwarna merah yang terus menyala dan ikat kepala yang terbuat dari logam bermotif surya melindungi dahinya. Dia berjalan diantara api yang bergejolak. Iya, dia Arya Jayalodra. Tubuhku ditarik Adipati Soka Dwipa ke atas kudanya, aku duduk di belakang sang Adipati.

-"Semuanya naik ke atas kuda kalian! Kita Mundur!!!!" seru Adipati kepada para abdi dalemnya sembari mengarahkan kudanya ke arah hutan.

Adipati Soka Dwipa memacu kudanya secepat mungkin sembari memerintahkan abdi dalemnya yang sudah berada di atas kuda masing-masing untuk pergi menjauh dari tempat itu, pergi ke arah hutan. Aku yang penasaran menoleh ke arah belakang. Aku melihat Jayalodra melakukan gerakan-gerakan aneh, dia memasang kuda-kuda, tangannya disilangkan ke depan dadanya dengan telapak tangan yang mengepal, lalu ia mengarahkan tangannya ke langit, kemudian kembali menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, lalu mengarahkan kedua tangannya kearah depan dengan telapak tangan yang terbuka. Tiba-tiba langit malam yang hitam berubah menjadi jingga dan bola-bola api melesat dari langit menuju ke arah kami. Adipati Soka Dwipa yang tengah mengendarai kuda berupaya menghindari bola-bola api itu. Sementara aku hanya bisa menjerit diatas kuda. Ada beberapa abdi dalem yang ku lihat terkena bola api dan seketika mereka terbakar habis. Pemandangan itu membuat jeritanku semakin kencang dan diiringan dengan air mataku yang mulai mengalir deras. Arya Jayalodra menghentikan serangannya, dari kejauhan aku melihat raut wajahnya, tersimpan amarah dan seolah berkata kepada kami,

-"Pergi, hidup lah sedikit lebih lama. Kelak ketika bertemu akan kucabut nafas dari kerongkongan kalian!!!"

Aku bertanya kepada Adipati Soka Dwipa yang tengah mengendarai kuda.

"Beribu ampun Raden, tapi kita akan pergi ke mana?"

"Kita akan pergi ke Watugaluh, bergabung dengan pasukan Reksa Pawira untuk menghadapi Jayalodra,"

Bersambung...

Seru nih kayaknya, ane baca2 dulu gan emoticon-nyantai
Ga ngerti ini cerita apaan
kayaknya ke forum h2h deh
Silahkan gan 😊😊😊😊
Niatnya bikin cerita kolosal... Maaf kalau aneh heeeeh
Quote:Original Posted By devtrey
kayaknya ke forum h2h deh


Forum h2h itu forum apa ya? Mohon bimbingannya.. Masih baru jadi nggak ngerti 😂😂😂
Quote:Original Posted By 6ulla
Seru nih kayaknya, ane baca2 dulu gan :nyantai


Silahkan gan... Terimakasih waktunya hehehe
Quote:Original Posted By CbL.us
Ga ngerti ini cerita apaan

Niatnya bikin cerita kolosal, tapi maaf kalau aneh hehehehe
nyimak bre :nyantai
panjang juga ya, gan... emoticon-Wow

Bisa dioper ke http://ceritera.net nich

Quote:Original Posted By adwiyudi
panjang juga ya, gan... emoticon-Wow

Bisa dioper ke http://ceritera.net nich

Itu baru epispde 1 gan... Iya... Nanti ane oper ke sana kalau episodenya udah banyak hehehehe

salah sempak bray emoticon-Salah Kamar

SFTH masih buka bray
emoticon-Salah Kamar
Kategori yang cocok disini gan https://www.kaskus.co.id/forum/16/heart-to-heart jangan lupa baca rulesnya ya gan.
×