alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/587dad40642eb650228b456d/desakan-untuk-tuntaskan-kasus-jis
Desakan Untuk Tuntaskan Kasus JIS
Hari Selasa 10 Januari 2017 kemarin, lagi-lagi terdapat elemen dari masyarakat yang kembali menyuarakan desakan mereka terhadap pihak pemerintah dan hukum untuk menuntaskan Kasus JIS. Kali ini diskusi publik dilakukan oleh Kawan 8 dan Front Mahasiswa Hukum Indonesia (FROMHI) di Gedung Joeang 45. Dihadiri oleh beberapa tokoh hukum yang selama ini mengamati dengan betul proses hukum kasus JIS dan mengkomparasinya dengan pengetahuan hukum yang mereka miliki.

Sejak tahun 2014 kasus ini bergulir, namun hingga detik ini juga proses hukum yang berjalan belum juga menemukan titik temu untuk keadilan bagi semua pihak yang terlibat. Juru bicara dari Kawan 8, Nabila Awalia memberikan pernyataan kasus kekerasan seksual di JIS pada tahun 2014 lampau merupakan kasus yang diadili oleh opini publik melalui media massa atau bisa juga dikatakan trial by the press. Saat ini proses hukum yang tengah berjalan adalah menunggu MA untuk memberikan salinan putusan atas para cleaners untuk kemudian akan dilanjutkan ke proses Peninjauan Kembali. Namun hingga di awal tahun 2017 ini masih belum pula MA menerbitkan surat putusan tersebut sehingga menghambat proses keadilan bagi mereka. Meskipun saat ini opini publik juga kembali tergiring dengan memihak para innocents karena terkuaknya fakta keanehan yang terjadi di balik kasus JIS, namun belum pula membuat pihak hukum bergeming dan tergerak untuk membebaskan mereka yang dihukum atas suatu hal yang tidak mereka lakukan.

Untuk ulasan mengenai diskusi publik yang dilakukan oleh Kawan 8 dan FROMHI, agan bisa lihat di artikel di bawah ini:

Quote:FROMHI dan Kawan8 Desak Penuntasan Keadilan Kasus JIS

Redaksikota – Front Mahasiswa Hukum Indonesia (FROMHI) menilai ada kejanggalan terhadap proses hukum yang dialami oleh para terpidana kasus kekerasan seksual terhadap beberapa siswa di Jakarta International School (JIS).

Menurut juru bicara FROMHI, Hipatios Wirawan, banyak kejanggalan fakta dan hukum yang terhadi terhadap kasus yang sempat menjadi top issue di tahun 2014 lalu itu.

“Banyak sekali fakta-fakta dan kejanggalan yang terjadi pada kasus ini namun tidak dihiraukan, bahkan dilanggar, dalam proses hukumnya. Sehingga satu orang harus meninggal dalam penyidikan polisi dan tujuh orang harus menjadi terpidana atas tuduhan-tuduhan yang tidak didasari oleh bukti-bukti yang nyata,” kata Hipatios saat menggelar diskusi publik di Gedung Joeang 45, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (10/1/2017).

Selain itu, beberapa fakta yang unik dalam proses peradilan kasus kekerasan seksual di JIS tersebut disampaikan Hipatios, bahwa berdasarkan bukti pemeriksaan terhadap salah seorang siswa TK di JIS dinyatakan negatif herpes seperti yang sempat dituduhkan orang tua siswa kepada guru JIS tersebut.

Dan dalam kesempatan yang sama, juru bicara Kawan8, Nabila Awalia menilai jika pengembangan dan proses hukum dalam kasus kekerasan seksual pada siswa di JIS, hanya berdasarkan pada tekanan opini publik semata.

“Kasus tuduhan kekerasan seksual di JIS pada 2014 lalu secara kasat mata merupakan kasus yang diadili oleh opini publik melalui media massa (trial by the press),” kata Nabila.

Dengan kondisi upaya penegakan hukum tersebut, Nabila menilai ini adalah bentuk dari rusaknya moral hukum yang lebih mengedepankan persepsi publik dibandingan dengan fakta-fakta hukum.

“Kasus ini merupakan contoh kecil bagaimana hukum dilemahkan,” pungkas Nabila.

Pun demikian, ia sangat berharap kasus seperti JIS tersebut tidak terulang kembali di kemudian hari, yakni hukum bergerak di rel yang salah. Bukan mengedepankan fakta hukum melainkan karena desakan opini publik semata.

“Kami berharap (kasus JIS) tida terulang lagi pada kasus-kasus lainnya, sehingga orang tidak bersalah dan keluarganya tidak perlu menjadi korban seperti kasus ini,” tukasnya.

Diketahui, pada bulan April 2014 publik dihebohkan dengan kasus pelecehan seksual yang dituduhkan kepada karyawan yang bekerja di Jakarta International School. Dalam kasus tersebut, salah seorang siswa sekolah kanak-kanak atau playgroup di JIS dikabarkan mendapatkan perlakuan kekerasan seksual dari orang dalam sekolah bertaraf internasional tersebut.

Ibu koban yang merasa dirugikan langsung melaporkan oknum pegawai di JIS tersebut dengan tuntutan perdata, yakni denda uang sebesar USD12,5 juta. Dan setelah pihak orang tua murid menggandeng pengacara kondang OC Kaligis, tuntutan denda naik menjadi USD125 juta atau sekira Rp1,6 triliun.

Kasus tersebut awalnya menjerat pegawai kebersihan outsourching dari PT ISS. Mereka adalah Afrischa Setyani, Agun Iskandar, Virgiawan Amin alias Awan, Syahrial, dan Zainal Abidin.

Kasus ini pun semakin berkembang hingga menjerat dua nama guru di JIS tersebut. Mereka adalah Neil Bantleman dan Ferdinant Tjong. Mereka juga ditetapkan bersalah telah melakukan kekerasan seksual pada peserta didik di sana. Semula dalam kasus hanya 1 orang korban, dalam perkembangannya pun korban bertambah menjadi dua orang yang berinisial AL, AK, dan DS.

http://redaksikota.com/2017/01/11/fr...lan-kasus-jis/


Cem berita... emoticon-No Hope
desak terus ampe tuntas
untuk berita dan politik silahkan posting dimari yah gan https://www.kaskus.co.id/forum/10