alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/587b091bd89b09e7728b4593/langkah-akrobat-ekspor-konsentrat
Langkah Akrobat Ekspor Konsentrat
Langkah Akrobat Ekspor Konsentrat

DRAF revisi Peraturan Pemerintah tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batu Bara semestinya sudah sampai di meja Presiden Joko Widodo pada Senin pekan lalu. Tapi arah angin berubah ketika Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengundang sejumlah menteri ekonomi ke kantornya pada hari yang sama. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan dan Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution hadir dalam pertemuan itu.

Dalam pertemuan yang berlangsung selama dua jam tersebut, Luhut kembali mempersoalkan produk hukum paling pas untuk mengantisipasi kebijakan relaksasi ekspor mineral yang berakhir pada 11 Januari lalu. Nasib ekspor sejumlah perusahaan, termasuk PT Freeport Indonesia, bergantung pada keputusan tersebut. "Pembahasannya seputar apakah harus diputuskan di level menteri, peraturan pemerintah, atau undang-undang," kata Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian I Gusti Putu Suryawirawan seusai pertemuan, Senin petang pekan lalu.

Pemerintah diburu waktu untuk menyelesaikan produk hukum yang mengatur kegiatan usaha pertambangan. Sebab, selain relaksasi ekspor konsentrat yang berakhir pada 11 Januari lalu, peraturan sebelumnya mewajibkan perusahaan pertambangan membangun smelter. Masalahnya, perusahaan tambang raksasa, seperti PT Freeport Indonesia, hingga kini belum menyelesaikan pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral itu.

Rapat koordinasi yang mendadak digelar Luhut ini sempat menimbulkan pertanyaan. Sebab, menurut seorang pejabat Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, sebulan lalu pemerintah bersepakat bahwa revisi peraturan pemerintah merupakan jalan keluar untuk menyiasati tenggat ekspor mineral. "Draf revisi keempat PP 23 Tahun 2010 itu sebetulnya sudah final pada awal Januari di kantor Menko Perekonomian," kata pejabat tersebut.

Menurut pejabat tadi, Luhut juga berpesan agar pemerintah tak berbeda pendapat dalam rapat terbatas di Istana Negara, yang akan digelar sehari kemudian. Sebab, sepanjang revisi dirumuskan pada bulan lalu, Sekretariat Negara sempat mengusulkan agar kegiatan pertambangan ini diputuskan melalui peraturan menteri. Sebaliknya, Kementerian Energi berpendapat urusan ekspor mineral diputuskan di level presiden.

Ditanya terpisah, Luhut mengatakan rapat koordinasi digelar agar pemerintah berhati-hati dalam membuat keputusan tentang relaksasi ekspor mineral. Ia tidak ingin pemerintah mengulangi kesalahan. "Kami menerima masalah di masa lalu yang menurut saya banyak melanggar Undang-Undang Minerba," ujar Luhut, Senin pekan lalu. Pemerintah, kata dia, harus mencari solusi dan kebijakan yang tunduk pada aturan yang sudah ada.

Presiden Joko Widodo semestinya sudah membuat keputusan dalam rapat terbatas yang digelar di Istana Negara keesokan harinya, sebelum batas akhir keran ekspor mineral ditutup. Berlangsung sekitar hampir dua jam, rapat yang dimulai pada pukul 15.00 itu belum memutuskan apa-apa. "Kami akan memfinalisasi paling cepat Rabu sore," kata Ignasius Jonan di kompleks Istana, Selasa pekan lalu.

Jonan memastikan, Presiden berpesan agar kekayaan alam dimanfaatkan untuk kemakmuran rakyat. Jokowi ingin agar peningkatan penerimaan negara menjadi pertimbangan dalam pembuatan kebijakan. Pesan penting lainnya: mendorong realisasi divestasi. "Sebisa mungkin divestasinya mencapai 51 persen," kata Jonan.

Hingga Rabu pekan lalu, Jokowi belum menunjukkan tanda-tanda akan mengumumkan keputusan pemerintah tentang kebijakan ekspor mineral. Para juru warta mendapat informasi rencana Jokowi menggelar konferensi pers pada sore hari. Bukannya mengumumkan kebijakan mineral, Jokowi malah bicara tentang kenaikan kuota haji jemaah Indonesia.

Titik terang baru terlihat pada Kamis petang pekan lalu. Dalam konferensi pers di Kementerian Energi, Jonan memastikan pemerintah memperpanjang masa ekspor mineral olahan bagi pemegang kontrak karya seperti PT Freeport Indonesia. Syaratnya, mereka harus beralih status menjadi pemegang izin usaha pertambangan khusus dan membangun pabrik pengolahan alias smelter.

Kewajiban ini tertuang dalam Peraturan Menteri Energi Nomor 5 Tahun 2017, yang diteken Jonan pada Rabu, 11 Januari 2017. Ini adalah turunan dari Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2017, yang merupakan revisi keempat dari aturan soal kegiatan usaha mineral dan batu bara. Jokowi meneken peraturan pemerintah yang baru ini pada hari yang sama.

Dalam aturan baru ini, pemerintah membatasi masa izin ekspor konsentrat hingga lima tahun. Selain perubahan status, ada hal lain yang wajib dipatuhi perusahaan tambang, di antaranya menyampaikan rencana kemajuan pembangunan smelter dalam satu tahun ke depan, plus menyodorkan evaluasi pembangunan setiap enam bulan. Perusahaan tambang asing juga harus melepas saham hingga 51 persen secara bertahap, maksimal 10 tahun sejak masa produksi dimulai.

Jonan mengancam akan mencabut surat rekomendasi ekspor jika realisasi pembangunan smelter tidak mencapai 90 persen dari target yang diusulkan perusahaan. Ia berencana menerjunkan tim yang mengawasi pembangunan smelter. "Kalau tidak ada progres, ekspornya kami setop," ujarnya. Ihwal divestasi, Jonan berjanji menyusun peraturan menteri baru sebagai pedoman teknis.

Dihubungi terpisah, PT Freeport Indonesia memastikan komitmennya untuk menaati aturan baru pemerintah. "Aturan baru itu memastikan bahwa operasi kami dapat berjalan tanpa gangguan," kata juru bicara Freeport Indonesia, Riza Pratama.

l l l
MUNCULNYA Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2017 sebagai perubahan keempat atas PP Nomor 23 Tahun 2010 ini sebenarnya bukan kebijakan ujug-ujug. Menurut pakar hukum pertambangan Universitas Tarumanagara, Ahmad Redi, yang terjadi saat ini adalah buntut dari kekeliruan yang dilakukan pemerintah tiga tahun lalu.

Pria yang kerap dilibatkan Kementerian Energi dalam pembahasan kebijakan "hilirisasi" mineral ini mengatakan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batu Bara sudah mengamanatkan agar perusahaan pertambangan mengolah dan memurnikan produknya di dalam negeri paling lambat pada 12 Januari 2014. "Suka atau tidak, perusahaan tambang semestinya sudah membangun smelter," kata Redi saat ditemui pada Senin pekan lalu.

Itu sebabnya, sejak Januari 2014, pemerintah sempat menutup keran ekspor mineral selama enam bulan, termasuk ekspor PT Freeport Indonesia dan PT Newmont Nusa Tenggara, yang kini bernama PT Amman Mineral Nusa Tenggara. Masalah muncul ketika banyak perusahaan tambang belum memiliki smelter.

Pemerintah lantas memberikan kelonggaran waktu ekspor mineral selama tiga tahun. Kelonggaran ekspor itu, kata Redi, dibungkus dalam PP Nomor 1 Tahun 2014, yang merupakan revisi dari PP Nomor 23 Tahun 2010. Peraturan teknis di level menteri yang mengatur tata cara penjualan ke luar negeri terbit dalam waktu yang bersamaan.

Di sinilah kekeliruan bermula. Menurut Redi, PP Nomor 1 Tahun 2014 melanggar Undang-Undang Minerba. Alasannya: dalam Pasal 170 UU Minerba disebutkan, kontrak karya wajib melakukan pemurnian di dalam negeri paling lambat lima tahun sejak UU Minerba diterbitkan. Sedangkan PP Nomor 1 Tahun 2014 Pasal 112 C ayat 3 menyebutkan, kontrak karya yang telah melakukan kegiatan pemurnian masih diperkenankan mengekspor hasil kegiatan pertambangan dalam jumlah tertentu. Saat itu, PT Freeport Indonesia telah memurnikan sekitar 30 persen konsentrat tembaga di PT Smelting Gresik.

Itu sebabnya Freeport mendapat izin ekspor konsentrat pada 25 Juli 2014 sebesar 756 ribu ton. Izin diberikan hingga 26 Januari 2015. Sebelum memberikan izin, pemerintah mengikat perusahaan yang berinduk di Phoenix, Arizona, Amerika Serikat, ini untuk meneken nota kesepahaman renegosiasi amendemen kontrak karya. Isinya, antara lain, Freeport bersepakat menciutkan wilayah kontrak karya seluas 90.360 ribu hektare, melakukan divestasi 30 persen, dan bersedia membangun smelter.

Freeport tidak menjalankan kesepakatan. Pada Desember 2014, pemerintah menagih lokasi lahan sebagai komitmen pembangunan smelter. Menteri Energi Sudirman Said bahkan sempat bersuara lantang menyatakan akan membekukan izin ekspor PT Freeport Indonesia.

Belakangan, Sudirman melunak. Ia memperpanjang izin ekspor Freeport periode 26 Januari-25 Juli 2015. "Kami mempertimbangkan aspek sosial. Kalau operasi Freeport dihentikan, guncangan terhadap negara akan besar karena menyangkut nasib 30 ribu tenaga kerja, penerimaan pajak, dan lain-lain," kata Sudirman dalam wawancara dengan Tempo, akhir Januari tahun lalu.

Menurut Redi, permintaan Freeport dan keinginan pemerintah tak pernah bisa menemukan titik temu. Di satu sisi, Freeport bersedia membangun smelter jika mendapat kepastian perpanjangan kontrak. Persoalannya, "Sesuai dengan aturan, keputusan perpanjangan izin operasi baru bisa diberikan dua tahun sebelum kontrak karya berakhir pada 2021," kata Redi.

Posisi pemerintah memang dilematis. Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Heru Pambudi mengatakan larangan ekspor mineral berpotensi mengganggu penerimaan bea keluar tahun ini sebesar Rp 300 miliar. Sebagai perusahaan tambang raksasa yang berkontribusi besar pada penerimaan negara, penghentian ekspor Freeport bisa membawa risiko sosial dan politik yang lebih besar.

Solusi paling tepat, menurut Redi, merevisi Undang-Undang Minerba. Ahli hukum tata negara Saldi Isra menyampaikan pendapat senada. Menurut dia, izin ekspor hanya dapat diperpanjang dengan mengubah UU Minerba. "Bukan mengubah peraturan pemerintah," katanya. Apalagi, sejak semula, semua peraturan pemerintah yang diterbitkan tidak sejalan dengan UU Minerba. Itu sebabnya, izin ekspor konsentrat bagi pemegang kontrak karya tidak bisa diperpanjang melalui perubahan izin umum pertambangan khusus.

Persoalannya, pemerintah pernah berupaya merevisi UU Minerba. Meski sudah masuk daftar Program Legislasi Nasional 2016, RUU Minerba tak kunjung dibahas Dewan Perwakilan Rakyat. Upaya mengajukan peraturan pemerintah pengganti undang-undang juga pernah disampaikan. "Saya salah satu pengusulnya," kata Redi. "Tapi ditolak dengan alasan beban politiknya tinggi karena harus melalui persetujuan DPR."

Ayu Prima Sandi, Robby Irfany


http://google.com/newsstand/s/CBIw4Pa_pzk



relaksasi juga pengajuan KK lanjutan dr sebelumnya -2thn jd -5thn


Langkah Akrobat Ekspor Konsentrat


Papua, Freeport, dan Renegosiasi
Senin, 14 November 2011 | 04:37 WIB

OLEH HARRY TJAN SILALAHI

Dengan kemelut di Papua, mulai bermunculan pembahasan tentang kehadiran Freeport di Indonesia. Pemicu kemelut adalah tingkat upah buruh Freeport yang dirasa terlampau rendah.

”Para buruh itu mengetahui dengan persis berapa pendapatan PT Freeport Indonesia (PT FI),” kata Ruben Magai, Ketua Komisi A DPRD, yang menyerukan supaya Freeport membuka diri.

Menurut ukuran tingkat upah buruh di Indonesia pada umumnya, yang dituntut oleh buruh Freeport memang tinggi, yaitu 7,5 dollar AS per jam dari yang sekarang sekitar 3 dollar AS per jam. Namun, mereka tahu upah buruh Freeport di Amerika Serikat sendiri 66,43 dollar AS per jam.

Campur aduk

Kemelut menjadi campur aduk antara kepentingan ekonomi dengan Organisasi Papua Merdeka dan otonomi khusus yang tidak beres keuangannya. Apalagi setelah dibicarakan bahwa TNI dan Polri memperoleh ”uang makan” dari PT FI. Kontrak dengan PT FI ditandatangani sejak 1967, menyusul konferensi di Geneva, November 1967, yang oleh John Pilger digambarkan dalam buku The New Rulers of the World.

Antara lain dikatakan, ”Dalam bulan November 1967, menyusul diperolehnya ’hadiah terbesar’ (baca: Surutnya Bung Karno), hasil tangkapannya dibagi. The Time-Life Corporation mensponsori konferensi istimewa di Geneva yang dalam waktu tiga hari merancang pengambilalihan Indonesia. Para pesertanya terdiri dari para kapitalis yang paling berkuasa di dunia, orang-orang seperti David Rockefeller. Semua raksasa korporasi Barat diwakili: perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel. Di seberang meja adalah

orang-orang Soeharto yang oleh Rockefeller disebut ’ekonom-ekonom Indonesia yang top’.”

”Freeport mendapatkan bukit dengan tembaga di Papua Barat. Sebuah konsorsium Eropa mendapatkan nikel Papua Barat. Sang raksasa Alcoa mendapatkan bagian terbesar dari bauksit Indonesia. Sekelompok perusahaan Amerika, Jepang, dan Perancis mendapatkan hutan-hutan tropis di Sumatera, Papua Barat, dan Kalimantan. Sebuah undang-undang tentang penanaman modal asing yang dengan buru-buru disodorkan kepada Soeharto membuat para investor ini bebas pajak untuk lima tahun lamanya. Nyata dan secara rahasia, kendali dari ekonomi Indonesia pergi ke Inter Governmental Group on Indonesia (IGGI), yang anggota-anggota intinya adalah Amerika Serikat, Kanada, Eropa, Australia dan, yang terpenting, Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia.”

Eksploitasi tembaga, emas, dan mineral lainnya oleh PT FI didasarkan pada sejumlah regulasi, antara lain kontrak karya generasi pertama yang ditandatangani 7 April 1967, Keppres No 82/EK/KEP/4/ 1967, UU Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing, pembaruan KK tahap II di tahun 1991, Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1994, dan surat BKPM Nomor 415/A.6/1997.

Kalau kita lihat adanya evolusi dalam pengaturan, evolusi ini tidak membawa perbaikan pada nasib bangsa Indonesia, tetapi justru memberikan kebebasan kepada penanam modal asing, dengan perumusan yang melanggar UUD 1945.

Kutipan Pasal 5 dari Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1994 antara lain berbunyi: ”Perusahaan patungan dapat melakukan kegiatan usaha yang tergolong penting bagi negara dan menguasai hajat hidup rakyat banyak, yaitu pelabuhan, produksi dan transmisi serta distribusi tenaga listrik untuk umum, telekomunikasi, pelayaran, penerbangan, air minum, kereta api umum, pembangkit tenaga atom, dan media massa”.

Jadi, perusahaan harus patungan, tetapi porsi Indonesia dalam perusahaan patungan cukup 5 persen saja. Ketentuan ini tercantum dalam Pasal 6 Ayat (1) yang berbunyi: ”Saham peserta Indonesia … sekurang-kurangnya 5 persen dari seluruh modal disetor perusahaan....”

Suasana dalam Konferensi Geneva di tahun 1967 diwarnai kondisi ekonomi Indonesia yang sangat rusak dan pilihan Indonesia sangat terbatas, ditambah dengan para juru runding pihak Indonesia yang terdiri dari teknokrat dan lawyer yang belum berpengalaman dalam dunia praktik, apalagi menghadapi para CEO dan pemilik dari korporasi dunia seperti yang disebutkan John Pilger tadi.

Liberal dan melanggar UUD

Namun, kontrak karya yang pertama beserta peraturan tentang peran modal asing mengalami perubahan-perubahan. Mengapa perubahan itu justru dibuat begitu liberal dan begitu vulgar melanggar jiwa UUD 1945? Kesalahan fatal dari kehadiran PT FI yang begitu lama, yaitu per tahun 2010 sudah 43 tahun, dengan pembagian manfaat yang begitu tidak adil antara PT FI dan bangsa Indonesia membuat kericuhan menjadi multidimensi, campur aduk antara kepentingan ekonomi dan kepentingan politik. Dalam kondisi seperti ini, tidak mustahil kekerasan yang terjadi dilatarbelakangi oleh beking yang luar biasa dari kekuatan korporat asing. Dan yang lain-lainnya itu hanya merupakan puncak dari gunung es yang sangat menyakitkan hati.

Tak heran kalau Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang biasanya lemah lembut, jadi berang ketika mengumumkan akan melakukan renegosiasi (bukan asal berang saja). Memang enough is enough. Mau ditunggu sampai kapan? Apakah sampai Papua merdeka dengan penguasaan de facto oleh Freeport yang berfungsi bak VOC dulu?

Sekadar beberapa angka perbandingan. Pada saat ini Freeport McMoran menguasai 90,64 saham Freeport Indonesia. Hanya 9,36 persen yang dimiliki Pemerintah Indonesia.

Harry Tjan Silalahi Mantan Sekretaris Jenderal Front Pancasila 1965; Eks Staf Buruh Pantjasila

http://health.kompas.com/amp/read/20...an.renegosiasi
Trid berat nih emoticon-Nohope
Quote:Original Posted By adoysudadoy
Trid berat nih emoticon-Nohope


luhut lebih dari paham lah baca aturan UU minerba pasal 170 emoticon-Big Grin
makanya dia galau emoticon-Toast
dari pada setelah dia habis sejarahnya ditulis catatan hitam emoticon-Ngacir emoticon-Traveller emoticon-Ngacir2
Dari era sby (setelah minerba), perpanjangan sudah ada.... Gak ada yg aneh kok


Didunia harga komkditas masih tertekan.... Perpanjangan ini untuk mendongkrak ekspor... Yang beujunh pada kestablilan Rp....
Quote:Original Posted By ajacid
Dari era sby (setelah minerba), perpanjangan sudah ada.... Gak ada yg aneh kok


Didunia harga komkditas masih tertekan.... Perpanjangan ini untuk mendongkrak ekspor... Yang beujunh pada kestablilan Rp....


alah royalti cuma 1% aja brur
liat noh IUP/K lainnya 3,75%
adil gitu?

lagian klo logika lu buat kesetabilan idr kagak usah aja perpanjang
sisa underground sitenya di tambang sendiri emoticon-Ngacir emoticon-Traveller emoticon-Ngacir2
Ngomongin ekspor berubah jadi royalti.... Seneng ngt ganti topik... Kakwkak....

Oke gw ladenin... Royalti kecil... Tapi pajaknya gmn????
Quote:Original Posted By ajacid
Ngomongin ekspor berubah jadi royalti.... Seneng ngt ganti topik... Kakwkak....

Oke gw ladenin... Royalti kecil... Tapi pajaknya gmn????


halah sama rokok aja gedean rokok

https://m.tempo.co/read/news/2016/04...pajak-terbesar

emoticon-Ngacir emoticon-Traveller emoticon-Ngacir2
udah kontrak jokowi kl mau jadi sbg presiden hra muluskan pripot. jokowi kan tdk pernah ingkar janji
Quote:Original Posted By hachioji
udah kontrak jokowi kl mau jadi sbg presiden hra muluskan pripot. jokowi kan tdk pernah ingkar janji


emoticon-Wowcantik emoticon-Kiss
____emoticon-Ngacir emoticon-Traveller emoticon-Ngacir2

Quote:Original Posted By phd.inhatred
The purpose of this article is to shed light on some topics that have garnered considerable attention over the years and to show the underlying thread that surprisingly connects them all.

Langkah Akrobat Ekspor Konsentrat

With the facts that will be presented, we can move forward with hope and optimism that there are indeed great things happening in our world and that there are those out there continuing to ensure the truth is known. Great times for us are at hand.

On November 22nd, 1963, John Fitzgerald Kennedy, one of the most beloved and famous US president’s was assassinated in Dallas, Texas. Though there are many theories as to who killed him, to get closer to the truth we must ask why he was killed. In any murder investigation, the victim’s enemies are often looked at first. In this respect, it was well known that Kennedy strongly opposed the military-industrial complex, which included The Federal Reserve and the C.I.A.

In a speech on April 27th, 1961 before the American Newspaper Publishers Association in New York City, Mr. Kennedy openly stated opposition to “secret societies, to secret oaths and to secret proceedings.” He stated further opposition to a “ruthless conspiracy…a highly efficient machine that combines military, diplomatic, intelligence, economic, scientific and political operations.”

Creating considerable dissent with the status quo and more specifically with The Federal Reserve and C.I.A., Kennedy signed Executive Order 11110 into law on June 4th, 1963, which gave the president the right to issue gold-backed currency, and completely without permission from The Federal Reserve. But where was Kennedy going to receive such large amounts of gold to back a new Treasury note?

A Little History

In the 1930′s, royal Asian families had seen that some of their gold and silver holdings in Southeast Asia were being plundered by the Japanese and needed to do something about it. In 1938, the Chinese Kuomintang government sent 7 warships loaded with gold and silver to the US Federal Reserve for safekeeping.

In return, the Chinese were given 60 year gold bonds–a subject we will return to further down. A few years later in 1944, the infamous Bretton Woods Conference took place in which the US, France and Britain were given a 50 year mandate to modernize and transform the world for the better. Backing this new global financial system that had just been set up was a now estimated 2 million metric tons of gold, held by this group of royal Asian families, which is also known as the Dragon Family.

By August 17th, 1945, President Soekarno of Indonesia had been elected “M1″ or Monetary Controller of this large cache of assets, granted under United Nations Resolution MISA 81704, Operation Heavy Freedom.

These assets are better known as the Global Collateral Accounts and were originally intended to be used for the modernization of the world through several humanitarian projects. The Dragon Family are the legitimate Depositors of these accounts.

Langkah Akrobat Ekspor Konsentrat

Presidents Kennedy and Soekarno

By 1955, it was shown that the International Monetary Fund, which was also created at Bretton Woods, was not living up to its word and was instead serving only the interest of the banking and political elite. It was at this time that a growing alliance began to see that these funds were being used to fuel the Cold War tension and decided to strongly oppose the shady banking cabal.

By 1963, this alliance pooled their financial resources together to create the Green Hilton Memorial Agreement, which was signed by John F. Kennedy and President Skoearno and was finished on November 14, 1963.

This agreement was to utilize the Global Collateral Accounts for global development and humanitarian projects (along with a new US Treasury Note, a new supernational/international note backed by gold and would bring an end to The Federal Reserve system and the CIA). Just 8 days later, JFK was assassinated.


Langkah Akrobat Ekspor Konsentrat
Langkah Akrobat Ekspor Konsentrat
Langkah Akrobat Ekspor Konsentrat
Langkah Akrobat Ekspor Konsentrat
Langkah Akrobat Ekspor Konsentrat












The above pictures show The Green Hilton Memorial Agreement and signatures of President Soekarno and President John F. Kennedy along with several others with listed amounts of gold-backed certificates.

A short time following Kennedy’s passing, President Soekarno was driven from power by way of a coup. By 1968, the Bush, Kissinger, Rockefeller and other influential families created a fake heir to the rights of the Global Collateral Accounts. Up until the writing of this article in November of 2015, these accounts have been illegally and fraudulently used by the central banking system.

The 9/11 Connection

In 1998, 60 years after the Federal Reserve Board and the Chinese swapped gold for gold bonds, the Chinese requested their gold back. After refusal from the Fed, the Chinese Kuomintang government followed with a lawsuit.

The International Court of Justice ruled that the Fed needed to return the gold, which was later agreed upon by the Fed. The first payment was scheduled to be delivered September 12th, 2001.

Interestingly, on September 10th, 2001, former Defense Secretary Donald Rumsfeld announced that 2.3 trillion dollars went missing from the Pentagon defense budget.

Even more conspicuous, Cantor Fitzgerald Securities, the company that was handling the paper work for the gold to be delivered back to the Chinese, was inside One World Trade Center on floors 101-105. All 658 of their employees were murdered on that day as the towers fell and the gold was not returned to the Chinese.

The Monaco Accords, The Trillion Dollar Lawsuit and the BRICS

In August of 2011, representatives from 57 nations (none were invited from the West) came together off the coast of Monaco to create an alliance designed to legally take down the central banking cabal and create a new global financial system using the Global Collateral Accounts for many development and humanitarian projects.

Langkah Akrobat Ekspor Konsentrat

Neil Keenan (right) with Count Albert of the Dragon Family

Reports from Neil Keenan, who helped arrange this historic meeting and has been entrusted with protecting and restoring the legal rights back to the Dragon Family and settling the Global Collateral Accounts for the benefit of humanity, has stated that this Monaco meeting alliance has now swelled to 182 countries and is being spearheaded by the BRICS nations (Brazil, Russia, India, China and South Africa).

Neil also filed a lawsuit in the Southern District of New York on November 23, 2011 to the tune of over a trillion dollars against the United Nations, the Office of International Treasury Control, Silvio Berlusconi, Ban Ki-Moon, the World Economic Forum and several others.

Langkah Akrobat Ekspor Konsentrat

For those that want proof of this lawsuit, here is a screenshot of the filed case. This comes from pacer.gov, which is used to look up filed cases. Take a look at the plaintiff and defendants.

Since that time, Neil has withdrawn the suit (Obama’s economic advisor’s brother became the judge and he previously had never been a judge before) to refile in an even more effective jurisdiction and plans to do this in the very near future. This new lawsuit will be bigger and will expose the EU, the Federal Reserve and all the parties mentioned above, plus much more.

Neil Keenan has also filed liens and a Cease and Desist order against all twelve central banks in the U.S. and a Cease and Desist order on behalf of the Dragon Family against names like Queen Elizabeth II, Hilary Clinton, George Herbert Walker Bush, George W. Bush, David Rockefeller and several other well known names.


Langkah Akrobat Ekspor Konsentrat

Langkah Akrobat Ekspor Konsentrat

Langkah Akrobat Ekspor Konsentrat

Langkah Akrobat Ekspor Konsentrat


Above is the official Cease and Desist order. To download this PDF file, click here


Is Our World to Be Set Free?

Is this massive alliance about to make it’s move on the banking and political cabal? Is Neil Keenan and his team about to finish what JFK, President Sukarno and many others were trying to accomplish?

Will the 9/11 connection to the Global Collateral Accounts finally come to light? To these questions, Neil Keenan has a statement for the world:

“JFK, Soekarno, 9-11 and everything surrounding it all boils down to one and the same groups or organizations etc., that being what is known as the Cabal or NWO. Look no further than Rothschild’s, Rockefeller’s, and on a lesser scale Bush’s, Netanyahu’s …etc.

We must always remember that according to these people we the “goyim” are the enemy and furthermore we must understand not only are they Khazars (read Khazars and their empire) but Satanists and clearly want us all dead.

They want the world, this planet and everything they touch. They taint everything they make, put together, manufacture, and one way or another are taking precious seconds and minutes away from our lives.

They go so far as to poison baby food (Johnson and Johnson’s most recently caught, simply stated we are sorry and will take the toxins out of the baby food) but when caught they simply walk away leaving a path of utter destruction for many families.

It is time we defend our families, our planet, our friends and those who will soon be life long friends. It is time to bring our planet together as one, to fight these evil criminals disguising themselves as politicians. It is time to fight them as they fight us and stop talking about it.

The road to the collateral accounts was initially filled with litter. From OITC (Ray Dam), OPPT (Heather Tucci), Swiss Indo (Sino), Karen Hudes (who never did understand the collateral accounts and had never heard of the Dragon Family when she requested my help), Red Dragon Family, World Economic Forum (Davos and Giancarlo Bruno), the UN, and many others I have never mentioned all decided at one time or another they owned or managed the accounts when in fact not a one ever had any of the DEPOSITORS permissions to represent said accounts.

We took them all down and we laid them to rest but similar to a film script they often return to life and take a second shot at things after taking a deep breath but… they are all just fiction.

We are on the road to the accounts. The litter has been tossed into the garbage where it belongs and upon completing this road the accounts will be open. The big question, even one from the Dragon Family is… will I be able to move the notes and the answer is YES!

We will be able to complete this impossible task and release the funds as initially planned for humanitarian purposes. I need a little more time to get to where we must be but we will be there and when so, the Cabal is finished… FRODO LIVES… ha ha.

NEIL KEENAN”

http://neilkeenan.com/neil-keenan-up...eral-accounts/


Quote:Original Posted By phdinhatred


halah sama rokok aja gedean rokok

https://m.tempo.co/read/news/2016/04...pajak-terbesar

emoticon-Ngacir emoticon-Traveller emoticon-Ngacir2


yahh udah autoban...akwkkaak

yang saya bicarakan TARIF PAJAK nya omm....

pipot membayar TARIF yang lebih tinggi dibanding perusahaan sejenis...!!!
Quote:
Freeport memenuhi semua kewajiban pajaknya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan sejalan dengan ketentuan dari kontrak karyanya bersama pemerintah Indonesia, termasuk membayar pajak PPh dengan tarif yang lebih tinggi yaitu 35%, dari yang diwajibkan berdasarkan peraturan PPh yang berlaku saat ini yaitu 25%,