alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/587ad6c61854f7904a8b457e/para-kandidat-ditantang-mengatasi-ketimpangan-jakarta
Para kandidat ditantang mengatasi ketimpangan Jakarta
Para kandidat ditantang mengatasi ketimpangan Jakarta
Warga menonton debat calon gubernur dan calon wakil gubernur DKI Jakarta yang disiarkan langsung stasiun televisi di salah satu warung di Senayan, Jakarta, Jumat (13/1/2017)
Debat calon gubernur dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017 putaran pertama telah usai. Debat pertama seputar visi misi setiap kandidat dan tema sosial-ekonomi Jakarta itu, berfokus pada mengatasi isu ketimpangan.

Debat pertama yang dilaksanakan Komisi Pemilihan Umum DKI Jakarta, bertempat di Hotel Bidakara, Jakarta, mulai pukul 20.00 WIB, Jumat (13/1/2017). Setelah debat pertama, akan disusul debat kedua (27 Januari), dan debat ketiga (10 Februari 2017).

Dalam enam segmen, ada data yang disampaikan secara terang, namun ada pula yang tidak. Calon gubernur dari pasangan nomor urut 1, Agus Harimurti Yudhoyono, membuka debat dengan menyoroti ketimpangan sosial ekonomi dan daya beli di Jakarta.

Pasangan Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama-Djarot Syaiful Hidayat dengan pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno, mempersoalkan angka hasil studi yang menyatakan tingkat keberhasilan pendampingan kewirausahaan. Djarot menyebut angka 10 persen, Sandiaga teguh dengan angka 80 persen.

Beragam data bertebaran, mulai dari ketimpangan, pengangguran, hingga orang asing pencari nafkah di Jakarta. Namun tak semua menyebut angka, sekadar "meningkat", atau "menurun", bahkan menyinggung isunya tanpa merujuk data pendukung.

Kandidat nomor urut 1 dan 2, tercatat paling sering mengemukakan data seputar Jakarta, baik untuk mengkritik maupun meyakinkan publik. Agus dan Mpok Sylvi, kandidat nomor urut 1, punya sejumlah angka untuk program-program unggulannya, dan mengkritisi kondisi Jakarta tapi jarang dilengkapi angka.

Ahok-Djarot, kandidat nomor urut 2, yang tengah cuti dari tugasnya sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, paling sering mengutip angka sebagai data. Tak kurang dari delapan isu yang dipaparkan dengan angka, tak jauh berbeda dengan kandidat nomor urut 1 yang menyinggung peningkatan atau penurunan dalam isu tertentu.

Bila Agus-Sylvi dan Basuki-Djarot lebih sering memapar data, pasangan Anies-Sandiaga tampak lebih banyak mengelaborasi cerita. Misalnya tentang pancing, umpan, dan kolam ikan sebagai metafora lapangan kerja, orang kaya bermobil mewah yang mau naik transportasi umum, atau kisah korban penggusuran di Bukit Duri, Jakarta Selatan.

Sandiaga Uno, calon wakil gubernur yang berpasangan dengan Anies Baswedan, sempat menyebut lapangan kerja yang kian sulit, dan mengkritik angka pertumbuhan jumlah penumpang bus TransJakarta--salah satu moda transportasi publik di Jakarta--yang hanya mencapai sekitar 6 persen.
Angka-angka di balik ketimpangan Jakarta
Isu ketimpangan, jadi isu utama pada segmen kedua debat terbuka tersebut, bertaut dengan isu kemiskinan di Jakarta. "Langkah apa yang akan diambil untuk masalah tersebut, khususnya dalam menciptakan lapangan pekerjaan, dan mengurangi dominasi penguasaan aset, agar ketimpangan dan kemiskinan bisa secara konkret dikurangi."

Namun sejak awal, Agus Yudhoyono yang juga putera Presiden ke-6 RI, sudah menggeber dengan isu ketimpangan. Membuka pemaparan visi misi Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, ia memulai dengan masalah yang dihadapi Jakarta.

"Selain yang sudah baik, potret Jakarta hari ini, ketimpangan meningkat, daya beli sebagian masyarakat menurun," ujar Agus Yudhoyono, sesaat setelah dipersilakan moderator Ira Koesno dalam segmen pertama.

Agus, berkostum biru tua dengan emblem merah putih di lengan kanan, dan nama pasangan serta nomor urut di dada, dengan percaya diri mengkritik kualitas hidup masyarakat yang menurun akibat masalah seperti banjir, macet, dan sampah. Sayangnya, Agus tak menyebut angka.

Adapun indikator ketimpangan sosial ekonomi, diwakili oleh data Koefisien Gini (sering disebut pula sebagai Rasio Gini). Koefisien Gini untuk ekonomi menghitung sejauh mana distribusi pendapatan di kalangan rumah tangga mengalami penyimpangan dari distribusi yang merata secara sempurna.

Semakin besar nilai Koefisien Gini, semakin buruk ketimpangannya. Angka 0 menunjukkan kesetaraan sempurna, sedangkan 1 menunjukkan ketimpangan sempurna.

Untuk menggambarkan ketimpangan distribusi pendapatan, menurut dokumen Badan Pusat Statistik (BPS), Gini Ratio dibagi ke dalam tiga kategori. Pertama, bila angkanya lebih besar dari 0,50 menggambarkan ketimpangan tinggi dalam distribusi pendapatan.

Bila Rasio Gini antara 0,4 hingga 0,5, menggambarkan distribusi pendapatan dengan tingkat ketimpangan sedang. Ketiga, bila angka Rasio Gini kurang dari 0,40, berarti tingkat ketimpangan distribusi pendapatan, rendah.
Para kandidat ditantang mengatasi ketimpangan Jakarta
Tangkapan layar data Rasio Gini DKI Jakarta 2010-2016
Paparan tingkat ketimpangan, secara tidak langsung menyerang kinerja petahana yang kini mencalonkan lagi, Basuki-Djarot. Basuki yang lebih kerap disapa Ahok, menanggapi isu ini pada segmen kedua.

"Memang kami akui gini rasio di DKI di atas rata-rata di nasional. Tapi kita jangan lupa tahun 2013 ketika kami pertama masuk ke DKI, perbedaan rasio di DKI dan nasional itu jauh sekali 0,43 dan 0,41. Sekarang kami sudah 0,41 dengan 0,40," papar Ahok.

Berdasarkan data BPS yang dirilis November 2016, kedua kandidat ada benarnya. Bila dibandingkan angka pada 2010, Rasio Gini Jakarta "hanya" 0,36, bahkan lebih rendah dari rata-rata nasional.

Angka ini berfluktuasi pada 2011-2013, masing-masing naik menjadi 0,43, lalu turun jadi 0,42, dan bertahan di angka 0,43. Sejak 2011, angka Rasio Gini di DKI Jakarta terus melampaui rata-rata nasional, dan agak melandai pada 2016.

Ukuran Rasio Gini di Indonesia diukur berdasarkan data pengeluaran. Kelemahannya, angkanya cenderung lebih rendah, karena kelompok berpenghasilan tinggi juga mampu mengalokasikan pendapatannya untuk menabung (Yustinus Prastowo dkk., 2014).

Apalagi bila data yang digunakan untuk menghitung ketimpangan tidak mewakili kelompok-kelompok tertentu dalam golongan kaya tersebut. Alhasil, angka Rasio Gini harus dicermati karena kenyataan bisa jadi lebih buruk dari sekadar angka.
Apa solusi para kandidat
Hasil studi staf Bank Dunia (Maret 2016, pdf) menyoroti angka ketimpangan di Indonesia. Ketimpangan yang terlalu tinggi, bisa berdampak buruk pada pertumbuhan ekonomi, memperlambat pengentasan kemiskinan, dan melemahkan kerukunan sosial.

Secara umum, menurut laporan tersebut, faktor pendorongnya ada empat. Pertama, ketimpangan dalam akses untuk mengembangkan keterampilan yang diperlukan agar mendapatkan pekerjaan berupah tinggi.

Mereka yang berketerampilan rendah, lalu terjebak pada sektor informal atau pekerjaan yang berupah rendah. Ini sekaligus jadi faktor berikutnya. Gabungan kedua faktor ini, membuat ketimpangan upah meningkat.

Ketiga, terpusatnya sumber daya keuangan di tangan segelintir rumah tangga kaya yang bisa memperkuat ketimpangan sumber daya manusia dan keuangan pada generasi berikutnya. Keempat, sekelompok masyarakat sangat rentan guncangan, sehingga mudah tergelincir ke jurang kemiskinan yang kian dalam.
Para kandidat ditantang mengatasi ketimpangan Jakarta
Jumlah pekerja di sektor formal di Jakarta mendominasi
Dalam debat pertama Pilkada DKI Jakarta, para kandidat ditantang mengajukan program-program untuk mengatasinya. Agus, yang kembali bicara untuk pasangan nomor urut 1, memulai paparan dengan bantuan tunai sementara sebagai solusi.

Selain itu, Agus punya program dana bergulir modal usaha tanpa bunga, dengan pandampingan, untuk mengembangkan UMKM. Dari sisi infrastruktur, mereka akan bangun perumahan rakyat. Program-program, diharapkan bisa menyerap tenaga kerja.

Dari paslon nomor urut 2, Ahok menyampaikan enam program yang meliputi jaminan kesehatan, pendidikan, perumahan, transportasi, pengendalian harga sembako, dan menawarkan modal usaha dengan pola bagi hasil dengan pemerintah provinsi. Pasangan petahana, menekankan pada upaya mengembangkan masyarakat produktif.

Sementara Anies, yang mengandaikan program Agus dan Ahok sebagai ikan dan kail, mengklaim programnya akan menyediakan kolamnya. Dengan platform peningkatan kesejahteraan, pasangan calon nomor urut 3 ini mengajukan 44 pusat pertumbuhan ekonomi di Jakarta untuk membuka lapangan kerja.

Mantan Menteri Pendidikan ini menegaskan terhubungnya industri rumahan dengan industrik skala besar. Dengan program ini, diharapkan bukan sekadar mengentaskan kemiskinan dan ketimpangan, tetapi juga pertumbuhan yang merata.
Para kandidat ditantang mengatasi ketimpangan Jakarta


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...pangan-jakarta

---

Baca juga dari kategori BERITA :

- Para kandidat ditantang mengatasi ketimpangan Jakarta Barack Obama bikin wakilnya menangis

- Para kandidat ditantang mengatasi ketimpangan Jakarta Panduan dan bekal mengikuti debat Cagub-Cawagub DKI

- Para kandidat ditantang mengatasi ketimpangan Jakarta Siap-siap, sekolah diperbolehkan gelar pungutan