alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Tahun Baru dan Kritik Terhadap Ulama
1 stars - based on 2 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/586a5557c0cb17f6098b4568/tahun-baru-dan-kritik-terhadap-ulama

Tahun Baru dan Kritik Terhadap Ulama

Jakarta - Pernyataan Karyono Ibnu Ahmad, seorang pemuka agama Islam menjadi viral di ujung tahun lalu. Kata dia, bakar jagung di akhir tahun itu bukan syariat Islam. Pernyataan itu dipotong menjadi "membakar jagung bukan ajaran Islam", yang tentu saja jadi terdengar konyol. Pernyataan ini adalah bagian dari kampanye yang dilakukan para ulama dan pemuka agama Islam dalam suasana tahun baru. Ini pun bagian dari kampanye besar, agar umat Islam tidak ikut merayakan hal-hal yang tidak bersumber dari Islam, seperti tahun baru, Natal, Hari Valentine, dan sebagainya. Alasannya, perayaan-perayaan itu menjauhkan umat Islam dari iman Islam. Dalam bahasa yang lebih tegas lagi, merusak akidah.

Sebenarnya tidak hanya soal perayaan. Ada banyak hal yang dikampanyekan ulama. Salah satunya konser musik. Kita ingat, beberapa tahun yang lalu konser pemusik Lady Gaga pernah gagal, karena suara ulama. Ini pun bukan khas Indonesia saja. Dua puluh tahun yang lalu, saat saya tinggal di Kuala Lumpur, ada konser grup musik Scorpions. Di media para ulama mengeluhkan perilaku anak-anak muda yang mau antri masuk ke tempat konser, pada waktu salat magrib dan isya.

Ini juga adalah keluhan sepanjang zaman. Ulama-ulama Islam merasa bahwa umat mereka sedang diserbu oleh suatu kekuatan lain, diarahkan untuk ikut ke sana, sementara mereka tak berdaya mencegahnya. Temanya selalu soal gaya berpakaian, cara bergaul, dan cara menikmati kesenangan hidup. Keluhan ini sering kali terdengar tak berdaya, dan menjadi sia-sia.

Apa masalahnya? Dunia Islam memang bukan pemimpin peradaban saat ini. Apa boleh buat, peradaban yang bukan pemimpin normalnya memang menjadi pengekor. Kita membeli berbagai produk yang diciptakan dan diproduksi di dunia lain, bukan dari dunia Islam. Produk-produk itu selalu datang disertai dengan gaya hidup. Kita mengambilnya dalam satu paket, produk+gaya hidup. Nah, omelan para ulama tadi adalah usaha untuk memisahkan antara produk dan gaya hidup. Suatu usaha yang memang mustahil berhasil.

Menyedihkan memang. Akhirnya para ulama sekedar menjadi tukang omel. Mereka sebenarnya bisa berperan lebih, menyampaikan pesan yang lebih fundamental. Apa itu? Yaitu soal bagaimana menjadi pemenang, sehingga bisa menjadi pemimpin peradaban. Bagaimana caranya? Dengan kerja keras, disiplin, jujur, tertib, dan sebagainya. Sayangnya pesan-pesan fundamental ini justru jarang dihasilkan oleh ulama.

Masalah kedua adalah soal komunikasi. Para ulama kita sering bersikap seperti polisi moral. Di rumah-rumah para orang tua juga begitu. Mereka punya satu daftar panjang, berisi "jangan". Jangan ini, jangan itu, ini haram, itu tak baik, itu merusak, dan seterusnya. Itu adalah cara komunikasi yang muskil. Karena itu, ucapan mereka sering sekedar menjadi angin lalu.

Ada banyak ulama yang tidak mampu mengemas pesan secara baik. Menyampaikan dakwah yang simpatik, dekat dengan umat. Mereka tidak turun membaur bersama umat, tapi lebih suka berdiri di menara tinggi, berteriak-teriak memberi instruksi. Kemudian mereka lelah, menyadari bahwa instruksi mereka tak dituruti. Demikian pula, banyak orang tua yang begitu. Akhirnya mereka hanya jadi tukang keluh. "Anak-anak tak patuh," kata mereka.

Di puncak persoalan, masalahnya adalah para ulama itu juga bagian dari pelaku suatu gaya hidup. Mereka sebenarnya bagian dari gaya hidup yang mereka kritik. Gaya hidup mereka sendiri tak jauh-jauh dari itu, hanya berbeda bagian saja. Di suatu acara yang saya hadiri, saya menyaksikan seorang petinggi MUI datang naik mobil mewah. Kedatangan seorang ustaz seleb naik mobil mewah dalam sebuah acara TV di tengah keriuhan soal penistaan Islam di ujung tahun lalu juga sempat menjadi viral di dunia maya. Lho, apa hubungannya? Itu adalah suatu cara hidup hedonis. Itu adalah sisi lain dari hedonisme yang dipraktekkan oleh orang-orang yang merayakan tahun baru tadi.

Artinya, para ulama itu dipandang hanya sibuk mengomeli gaya hidup orang lain, tapi abai terhadap gaya hidup mereka sendiri. Tapi, apa salahnya punya mobil mewah? Tak salah. Pasti tak salah, karena ulama selalu punya dalil untuk membenarkannya. Sementara di lain pihak, umat tak punya wewenang untuk berdalil. Mereka memilih untuk mengabaikan saja omelan para ulama. Atau, menjadikannya bahan olok-olok.

*) Hasanudin Abdurakhman adalah cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia.

DETIK

Well said, untuk bahan renungan mayoritas di Indonesia emoticon-Shakehand2
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 2
ulama pasti lbh tau apa yg mereka omongkan.
semoga aja sih.
apaan niih??
Ulama, pewaris para nabi.
Semoga pewaris para nabi bisa membuat Indonesia tentram aman damai emoticon-Angel
tulisan sampah

ujung sm pangkal nda nyambung

soal tradisi tahun baru lebih ke ajaran tetangga, makanya ulama melarang
soal hedonisme lain lagi

terlepas setuju atau tidak dgn dua hal ini dan pendapat ulama ttgnya, yg jelas tidak nyambung

penulis goblog begini yg diangkat sm detik

wajar lah nastak idiot gampang dibodoh2in sm orang gak tau agama

sok ngertik ulama lagi.

nastak idiot
gpp naik mobil mewah kan pemilk kapling surga emoticon-Nyepi
Quote:


sembah baginda jonru ulululul
Quote:


^
^
dasar nastak idiot, suka banget nyembah manusia
2000 thn berlalu, bosen nyembah si nganu emoticon-Embarrassment
skrng mau nyembah jonru


sampah
Quote:


Jangan terguncang dulu, hedonisme boleh atau tidak? emoticon-Wowcantik
emoticon-Wakaka
cendikiawan katanya... nulis panjang2 isinya ngomel2 .. emoticon-Ngakak
Quote:


lu carik di gugel dulu cor apa itu hedonisme sebelon lu tanyak2.. emoticon-Ngakak
Quote:


ho oh, tulisan gak bermutu begitu dibangga2in

parah dah kaum hartoyoist emoticon-Embarrassment
Quote:


Semua orang sudah tau artinya, tapi mungkin lu punya pengertian beda.
Menurut lu apa emang?

Quote:


tujuannya udah jelas gan, mereka tak akan senang sampai muslim mengikuti ritual2 mereka ... emoticon-Embarrassment
Quote:


silahkan cari2 dulu cor pengertian hedonisme.. emoticon-Ngakak
Mereka udah pasti lebih tau lah apa yang mereka omongkan.
Quote:


Gw sudah ngerti, tapi klo lu punya definisi baru, mungkin gw bisa coba akomodasi. emoticon-Wowcantik
Quote:



Salah satu contoh. Apa salahnya meniup terompet? Masa dilarang2. Itu kan sekedar hiburan buat anak2. Apakah terompet lambang agama tertentu? Apakah terompet merusak akidah?
Jadi ada yg salah dgn tradisi tahun baru meniup terompet? Bukankah kita lebaran juga ada tradisi meniup terompet? Apa mmg ada pengecualian?
Itu contoh kecil ketakutan yg berlebihan. Cocok dgn ujaran diatas. Cuma jadi polisi moral.
Quote:


kalo lu udah ngarti pengertian hedonisme..
gaya hidup yang menjadikan kenikmatan atau kebahagiaan sebagai tujuan utama dalam hidup apakah boleh dalam agama?

pertanyaan lu itu ngaco cor.. atau bisa dibilang lu ngga ngarti apa yg lu memperngemengkan... emoticon-Ngakak
Quote:


silah kan saja elu dan orang kek elu punya pendapat berbeda soal perayaan tahun baru
tapi klo dikaitkan dgn kritik gaya hidup hedonisme, ya tidak nyambung.

ibarat elo larang orang makan babi, alasannya krn miras haram
nyambung? kan ngga emoticon-Embarrassment

makanya gw bilang ini tulisa sampah emoticon-Embarrassment

paham?!
Diubah oleh the fan
Quote:


belajar gan.... meniup terompet dalam hal ini terlarang..
kalo ngga terima ya udah... sak karepmu.. emoticon-Big Grin
Halaman 1 dari 2


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di