alexa-tracking

La Nyalla Bebas, Jubir: Ketua MA Tidak Intervensi Sidang!

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/586262c2dcd770e8308b4569/la-nyalla-bebas-jubir-ketua-ma-tidak-intervensi-sidang
La Nyalla Bebas, Jubir: Ketua MA Tidak Intervensi Sidang!
Jakarta - Mahkamah Agung (MA) menegaskan tidak ada campur tangan Ketua MA Hatta Ali dalam sidang La Nyalla Mattaliti di kasus korupsi dana hibah Kadin Jawa Timur. La Nyalla diketahui sebagai keponakan Ketua MA Hatta Ali, namun hal itu sama sekali tidak mempengaruhi proses sidang.

"Secara biologis memang dia (La Nyalla) adalah keponakan Ketua MA. Tapi secara yuridis beliau menegaskan tidak akan ikut campur," ujar jubir MA, hakim agung Suhadi, saat dimintai konfirmasi detikcom, Selasa (27/12/2016).

Suhadi mengatakan, jika ada intervensi dari Ketua MA, sidang La Nyalla seharusnya digelar di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. Di PN Surabaya, La Nyalla sudah memenangi 3 kali praperadilan.

"Tapi ini kan dikabulkan disidangkan di Jakarta, dengan hakim yang berbeda. Ketua MA Prof Hatta Ali menegaskan tidak akan mengintervensi sidang. Saat dipindah, Ketua MA tidak protes. Harusnya kalau ada intervensi tidak akan dikabulkan pemindahan sidangnya," tegas Suhadi.

Dia juga menjamin Ketua MA tidak akan mengintervensi jika jaksa nantinya akan mengajukan kasasi. Dia menjamin hakim tingkat kasasi akan profesional.

"Termasuk sampai tingkat kasasi pasti akan profesional," ucap Suhadi.

Jaksa mendakwa La Nyalla terbukti melakukan tindak pidana korupsi dengan memperkaya diri sendiri dengan total Rp 1.105.577.500. Modusnya adalah menjual saham Bank Jatim yang dibelinya dengan menggunakan dana hibah Pemprov Jatim kepada Kadin Jatim dengan harga yang lebih tinggi.

Tapi dakwaan jaksa tidak terbukti di mata majelis hakim. Ketua majelis hakim Sumpeno mengatakan dakwaan jaksa tidak terbukti.

https://news.detik.com/berita/d-3381...ervensi-sidang

ooaaakkuu percaya emoticon-Ngakak

Vonis Bebas La Nyalla Tidak Bulat, Ini 10 Pertimbangan Hakim yang DO

Jakarta - Pengadilan Tipikor Jakarta membebaskan La Nyalla Mattaliti dalam kasus IPO Bank Jatim. Vonis 5 hakim yang mengadilli La Nyalla tidak bulat.

La Nyalla diadili oleh lima hakim yaitu Sumpeno, Baslin Sinaga, Mas'ud, Anwar dan Sigit. Tapi Anwar dan Sigit memiliki pendapat berbeda/dissenting opinion (DO) dan menilai La Nyalla seharusnya bersalah.

"Tidak diperbolehkan menggunakan dana hibah selain yang ditentukan dalam proposal. Penggunaan dana hibah untuk IPO dan Persebaya juga tidak diperbolehkan tujuannya karena membuktikan tidak tertib anggaran," kata Anwar di PN Tipikor, Jl Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Selasa (27/12/2016).

Alasan kedua, yang berwenang tanda tangan cek adalah terdakwa dan Diar (diadili terpisah). Dengan tidak ditulis nominal untuk memudahkan administrasi, hal ini membuktikan terdakwa ikut bertanggung jawab mengelola dana hibah.

"Di satu sisi sudah mendelegasikan ke Diar dan Nelson tapi di sisi lain terdakwa ikut menandatangani cek atau giro sehingga terdakwa patut mempertanggungjawabkan sehingga terdakwa patut dianggap lalai," ucapnya.

Alasan ketiga yaitu putusan PN Surabaya sebagai bukti adanya kelalaian terdakwa dalam mengontrol pengelolaan dana hibah. Keempat, keuntungan IPO yang didapat terdakwa patut untuk dikembalikan karena keuntungan bersumber dari uang negara yang digunakan untuk membeli IPO, dan uang itu bukan faktor pengurang. Pembelian IPO tidak dalam proposal sehingga uang Rp 1,1 miliar merupakan bagian dari Rp 26 miliar.

"Apakah terdakwa tahu atau tidak dalam pembelian IPO? Berdasarkan kesaksian pegawai Bank Jatim, Sri Bondan dan Diar Kusuma cukup membuktikan jika La Nyalla telah berniat untuk membeli IPO, pengembalian dana IPO tidak ada dalam proposal," papar Sigit.

Keenam, pengembalian dana hibah tidak dapat dibenarkan karena penggunaan dana hibah harus sesuai proporsal. Ketujuh, terdakwa mengetahui penggunaan dana hibah untuk Persebaya yang tidak sesuai proposal dan terdakwa sering tanda tangan cek kosong.

"Membuktikan tindakan terdakwa lalai dan tidak berhati-hati dalam mengelola dana hibah," cetus Anwar.

Kedelapan, ada pendelegasian pada tahun 2015 kepada Diar dan Nelson, tidak menghapus pertanggungjawaban untuk penggunaan dana hibah untuk IPO Bank Jatim. Kesembilan, terdakwa melakukan pembiaran dan tidak pernah mengecek ulang kepada anak buahnya asal uang untuk pembelian IPO.

"Terdakwa harus ikut bertanggung jawab sebagai penerima dana hibah secara formal dan material. La Nyalla secara hukum patut dinyatakan bersalah karena tidak hati-hati, lalai dan abai sehingga menguntungkan pihak lain dan merugikan negara," papar Anwar dan Sigit dalam pertimbangan pamungkasnya.

Tapi pertimbangan Anwar dan Sigit kalah suara dalam voting majelis. Akhirnya La Nyalla divonis bebas.
(adf/asp)
https://news.detik.com/berita/d-3381...-hakim-yang-do

La Nyalla Divonis Bebas, Ini Pertimbangan Hakim

TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Ketua Kamar Dagang Industri (Kadin) Jawa Timur La Nyalla Mattalitti divonis bebas oleh majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Ia dinyatakan tidak terbukti korupsi dana hibah Pemerintah Provinsi Jawa Timur kepada Kadin Jawa Timur sebesar Rp1,1 miliar.

"Menyatakan terdakwa La Nyalla Mataliti tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan korupsi," kata Ketua Majelis Hakim Sumpeno di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Selasa, 27 Desember 2016.

Hakim memutuskan La Nyalla dibebaskan dari dakwaan jaksa penuntut umum. Setelah putusan dibacakan, hakim juga memerintahkan agar mantan Ketua PSSI itu segera dikeluarkan dari tahanan.

Jaksa menuntut La Nyalla dengan hukuman penjara 6 tahun dan denda Rp500 juta subsider 6 bulan kurungan. Ia juga wajib mengembalikan kerugian negara sebesar Rp1,1 miliar.

Jaksa penuntut umum menyatakan La Nyalla terbukti memperkaya diri sendiri sebesar kerugian negara. Keuntungan itu didapatkan dari hasil penjualan saham Bank Jatim senilai Rp6,4 miliar. Saham itu sebelumnya dibeli menggunakan dana hibah dengan harga Rp5,3 miliar.

Dalam pertimbangannya, hakim menganggap bahwa kasus La Nyalla seharusnya sudah selesai di sidang praperadilan. Dalam tiga kali praperadilan, La Nyalla dinyatakan tidak bersalah.

Sedangkan soal uang Rp 5,3 miliar, hakim meyakini bahwa uang itu merupakan dana yang dipinjam oleh La Nyalla dan sudah dikembalikan. "Berdasarkan alat bukti yang sah dan keterangan dari dua saksi yang berkesesuaian, hakim berkeyakinan bahwa uang pinjaman Rp5,3 miliar sudah dikembalikan," ujar Hakim Mas'ud.

Menurut hakim, pengembalian uang pinjaman itu terbukti dengan adanya catatan kecil pada 2012 seperti yang diungkapkan pejabat Kadin Jawa Timur Nelson Sembiring dan Diar Kusuma Putra. "Diar diminta melengkapi berkas, karena catatan kecil ketelisut," ujar Mas'ud.

Adanya penyimpangan wewenang penggunaan Dana Hibah ini bermula dari korupsi dana hibah pemerintah provinsi Jawa Timur 2011-2014 sebesar Rp48 miliar. Dalam perkara itu, kejaksaan telah memvonis Diar dan Nelson bersalah karena merugikan negara sebesar Rp26 miliar.

Kasus itu merembet ke La Nyalla. Jaksa menyatakan bahwa La Nyalla turut menggunakan dana hibah untuk membeli saham Bank Jatim. Jaksa pun menemukan bukti baru berupa kwitansi pengembalian utang dana hibah yang janggal.

Pada kwitansi itu tertera tanggal pengembalian dana hibah yang dipinjam La Nyalla sebesar Rp5,3 miliar untuk membeli saham Bank Jatim dilakukan pada 2012. Namun, materai yang ditempel pada kwitansi itu tertanggal 2014. Bukti inilah yang memperkuat keyakinan jaksa bahwa La Nyalla terlibat.

Hakim kekeuh menyatakan bahwa La Nyalla tak terlibat. Menurut hakim Sigit Herman Binaji, penyimpangan dana sebesar Rp26 miliar sudah ditanggung oleh Diar dan Nelson dalam putusan majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Surabaya. Sehingga, pengembalian kerugian negara itu tidak bisa dibebankan kepada La Nyalla.

Terkait dengan bukti kwitansi yang janggal, Hakim Mas'ud menuturkan bahwa itu hanya persoalan administrasi. "Terkait surat yang dipersoalkan JPU, ada catatan kecil yang ketelisut dan terkait surat kwitansi pengembalian yang tertanggal mundur hanyalah masalah administratif," katanya.

Mas'ud pun menyatakan bahwa uang Rp1,1 miliar hasil selisih pembelian IPO tidak perlu dilakukan audit BPKP dan dinyatakan sebagai perolehan yang sah. Sehingga La Nyalla harus dibebaskan dari seluruh dakwaan.

Mendengar putusan hakim, seluruh pendukung La Nyalla yang berada di ruang sidang bersorak. "Allahu Akbar! Alhamdulillah!" La Nyalla pun tampak sujud syukur.

"Kami menerima dan kami kira majelis hakim telah sangat bijaksana memutuskan keadilan di ruang sidang ini," kata penasehat hukum La Nyalla, Aristo Pangaribuan. Para jaksa penuntut umum menyatakan akan mempertimbangkan untuk mengajukan banding. "Kami pikir-pikir Yang Mulia," kata Jaksa I Made Suarnawan.
https://nasional.tempo.co/read/news/...imbangan-hakim
yg pasti masih ada season ke dua, g mungkin final ini sidang
hmm.. patut mencurigakan keputusannya, tp entah kenapa emoticon-Malu
×