alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5861a3c45c779879188b4586/cotton-ink-inovasi-dan-penetrasi-pasar-1
Cotton Ink, Inovasi dan Penetrasi Pasar (1)
Cotton Ink, Inovasi dan Penetrasi Pasar (1)

Industri kreatif memang sedang ramai di Indonesia. Banyak sektor yang bisa mendatangkan uang dari industri ini, mulai dari fesyen hingga jasa pembuatan logo. Bermula dari ide kreatif dua wanita, Ria Sarwono dan Carline Darjanto, Cotton Ink pun lahir pada akhi November 2008 lalu.

Ria sendiri mendapat ilmu fesyen dari London College of Fashion dan Carline merupakan alumni Lasalle College of Fashion, Jakarta. Ria juga pernah bekerja di perusahaan garmen. Berbekal ilmu tersebut, keduanya berani memasarkan busana ready to wear melalui daring.

Awalnya, mereka menangkap momen euforia Barack Obama --presiden Amerika Serikat ke-44 yang baru saja terpilih pada akhir 2008. Ia pernah tinggal di Indonesia-- dengan menjual kaos bergambar sang presiden.

Setelah itu, mereka memasarkan produk fesyen, seperti atasan, bawahan, aksesori, sampai scarf. Namun, produk incaran pelanggan adalah tubular scarf, karena bentuknya unik dan jarang ditemui di Indonesia.

Brand (jenama) ini pun terus berkembang berkat konsep yang diusungnya, casual with a twist. Tak hanya itu, keawasan pada teknologi juga menjadi pendukung utama jenama ini berhasil masuk ke pasar hingga banyak yang bilang bahwa Cotton Ink adalah Uniqlo versi Indonesia.

Tak sekadar memproduksi dan menjual busana, Cotton Ink menawarkan lebih dari itu. Mulai dari inovasi produk, produk tanpa cacat, pemilihan figur yang tepat untuk merepresentasikan jenama, hingga mengoptimalkan media sosial untuk menciptakan pengalaman berbelanja yang berbeda.

Keawasan pada teknologi, khususnya media sosial, berhasil membawa jenama ini mendulang keuntungan dari penjualan online (daring). Meski demikian, jenama ini tak mengabaikan pasar penjualan offline (luring).

Semua langkah tersebut berhasil membuat Cotton Ink pada akhirnya membuka dua toko dan berencana ingin menambah lagi. Simak perbincangan Smart-Money bersama Ria Sarwono, salah satu pendiri Cotton Ink.

Di awal berdiri, Cotton Ink memilih jalur media sosial (daring) untuk memasarkan pakaian, peluang seperti apa yang dilihat waktu itu? Apakah masih relevan diterapkan saat ini?

Pada awal kami berdiri delapan tahun lalu, suasananya belum seperti saat ini. Blogger-blogger baru bermunculan, forum daring sedang jaya-jayanya, dan Facebook dipakai semua orang.

Media sosial sangat terukur, misal teman Facebook 2.000 orang, jadi ketika kita post foto, at least teman-teman sendiri yang sebanyak 2.000 orang itu melihat. Selain itu media sosial free of charge, hahaha.

Jadi cocok dengan keadaan kami saat itu. Kami menggunakan platform yang kami mainkan sendiri. Facebook, Blogspot, dan Twitter. Kalau ditanya masih relevan, selama media sosial masih berkembang, pasti masih relevan sampai kapanpun.

Kami juga memaksimalkan platform Instagram dan Snapchat sebagai media pemasaran. Misalnya ketika peluncuran seri #cottoninkxdianpelangi dan #cottoninkxraisa.

Dari penjualan daring dan luring, mana yang menjadi tulang punggung? Mana yang paling banyak mendatangkan pesanan?

Online masih menjadi tulang punggung dalam penjualan dan mendatangan banyak order. Dengan memanfaatkan media online, Cotton Ink mendapatkan pesanan dari negara lain. Sebut saja dari Eropa, Australia, Malaysia, dan Singapura.

Adaptasi seperti apa yang Cotton Ink lakukan melihat tren pemasaran saat ini?

Media sosial masih lebih efektif dan penggunaan orang yang ‘nyata’--tidak menggunakan model lebih enggaging--, lebih menarik, karena customer bisa melihat hal yang relevan, lebih real (saat ini dikenal dengan sebutan influencers, KOL).

Kesulitan seperti apa yang dihadapi saat berjualan secara daring dan luring? Apa kelebihan dan kekurangan dari keduanya?

Dua-duanya memiliki tantangan tersendiri, kelebihan online tentu saja opportunity market yang tidak terbatas, bisa belanja 24 jam sehari. Kekurangannya, jika kita tidak bisa mendiferensiasi brand kita, maka sama saja seperti menggarami air laut.

(Artinya), tentu saja persaingannya semakin ketat. Offline tantangannya lebih berhubungan dengan manusia, kalau online tantangannya lebih ke sistem. Sekarang, brand kami telah memiliki dua toko di Jalan Kemang dan Plaza Senayan. Sedangkan stockist dapat dijumpai di tiga kota.

The Goods Dept Pacific Place di Jakarta, ESTplus, Widely Project, dan Happy-go-lucky di Bandung, serta butik ORE di Surabaya.

Berlanjut ke bagian kedua.

Sumber : http://smart-money.co/inovasiana/cot...etrasi-pasar-1