alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/585f3bc81cbfaa63068b4567/presiden-pelayanan-plbn-entikong-harus-lebih-baik
Presiden: pelayanan PLBN Entikong harus lebih baik
Presiden Jokowi:
Presiden: pelayanan PLBN Entikong harus lebih baik
Pelayanan PLBN Entikong harus lebih baiK

Quote:Presiden Joko Widodo meminta pengelola Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, Kabupaten Sanggau, meningkatkan pelayanan seiring membaiknya fasilitas dan bangunan gedung tersebut.
Presiden: pelayanan PLBN Entikong harus lebih baik
Saat peresmian PLBN Entikong di Entikong, Rabu, Presiden mengatakan kaget ketika pertama kali menginjakkan kaki di PLBN Entikong, dua tahun lalu.
emoticon-Om Telolet Om!
"Ketika melihat langsung kondisinya kala itu sangat memprihatinkan, jika dibandingkan dengan tetangga sebelah jauh sekali. Saya bisikan dengan Menteri PU kala itu, ini kantor apa kandang? Hanya saja saya tidak menyebutkan kandang apa, yang jelas bangunan PLBN telah puluhan tahun tidak pernah disentuh akibatnya minim fasilitas," ujar Presiden Joko Widodo.
emoticon-Request
Menurut dia, setelah meninjau langsung kondisi PLBN Entikong 2015, dirinya langsung meminta dirobohkan dan dibangun lebih baik dan bagus dari bangunan tetangga.
emoticon-Salaman
"PLBN Entikong merupakan beranda NKRI, kok tidak terawat. Sekarang tepat dua tahun PLBN telah dibangun megah dan menjadi kebanggaan warga perbatasan," ujar Presiden.
emoticon-I Love Indonesia
Ia pun kembali bertanya ke Menteri PU apakah masih jelek dari bangunan tetangga. "Sudah lima kali lebih baik dari bangunan tetangga ucap menteri PU. Sesuai dengan janji yang pernah saya sampaikan ketika berkunjung di PLBN Entikong, dua tahun harus dibangun megah dan pelayanan juga harus ditingkatkan," jelas Jokowi.
emoticon-Rate 5 Star
Disampaikan Jokowi, pemerintah pusat tidak hanya membangun PLBN, juga dipikirkan kemudahan untuk berbelanja di mana ke depan Entikong akan dijadikan kawasan kepabeanan supaya penyelundupan tidak lagi terjadi.
emoticon-Ngacir2
"Semuanya harus resmi. Negara mendapatkan pemasukan dan masyarakat mendapatkan kemudahan, baik dari sisi ekpor dan import sesuai ketentuan yang berlaku," kata dia.
emoticon-Blue Guy Cendol (L)
Warga Desa Entikong, Sumijo berharap dengan diresmikanya PLBN bisa membawa kemajuan bagi daerah perbatasan, terutama kemudahan untuk memanfaatkan fasilitas belanja bagi warga perbatasan.
emoticon-Om Telolet Om!
"Kami berharap kuota belanja 600 ringgit Malaysia per bulan bisa dimaksimalkan lagi dan tidak disalahgunakan, selain itu perlu pemerintah pikirkan untuk membuka lapangan kerja di perbatasan dengan membangun pabrik," ujar Sumijo. Antara MEreka Saja

Quote:Presiden: pelayanan PLBN Entikong harus lebih baik
@KemenPU : Inilah penampakan PLBN (Pos Lintas Batas Negara) Entikong yg telah rampung pembangunannya

Lumayan gaN
Tampilan perbatasan sudah sedikit lebih baguS
mana gambarnya... emoticon-Marah

napa jauh-jauh ke entikong, malah ngurus perbatasan yang di jawa aja masih banyak sekolah tak terurus emoticon-Marah






sarkas ini beb... emoticon-Om Telolet Om!
okelah wa asik aja sama kinerja lu yang ini jok tapi untuk kinerja yang lain lu masih harus di kritik emoticon-Cool
biar gak maen geser aje itu malayemoticon-Marah

Mengunjungi Entikong, Desa Di Ujung Perbatasan Indonesia-Malaysia

Hidup di daerah perbatasan sering lebih susah. Misalnya, warga yang tinggal di Desa Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, yang berbatasan dengan Sarawak (Malaysia Timur). Meski serbasulit, tak ada pilihan bagi mereka selain harus menjalaninya.

ZULHAM MUBARAK, Sanggau

Entikong memiliki jalur darat yang menghubungkan Indonesia-Malaysia-Brunei Darussalam. Untuk mencapai daerah itu dari Pontianak (ibu kota Kalimantan Barat), jarak yang harus ditempuh 314 kilometer. Jika lewat jalur darat, butuh waktu 8-9 jam. Itu pun, sepanjang perjalanan, jauh dari rasa nyaman karena kondisi jalan yang aspalnya 80 persen rusak parah. Bahkan, ada jalan sekitar 30 kilometer yang sama sekali belum diaspal.

Itulah yang dirasakan Jawa Pos ketika mengikuti rombongan tim sosialisasi tahap pemilihan presiden (pilpres) oleh Depkominfo Kamis siang lalu (18/6/2009). Tiba sekitar pukul 11.00 WIB, Jawa Pos dan rombongan disambut Markus Sopyan, kepala desa Entikong. Kami lantas diajak berkeliling. Tampak deretan warung-warung kaki lima yang penataannya terkesan kumuh. Ketika lebih dekat mampir ke warung itu, beberapa produk makanan dan minuman didominasi produk Malaysia. ''Di sini produk-produk dari Malaysia kita sebut produk SDN BHD. Kami suka karena lebih murah, juga gampang mendapatkan,'' ujar pria paruh baya itu.

Raden Nurdin, ketua Persatuan Pemuda Perbatasan Entikong, yang ditemui Jawa Pos mengatakan bahwa warga di Entikong sangat bergantung kepada Malaysia. Dia menambahkan, sebagian besar kebutuhan pokok warga Entikong, terutama gula, makanan kaleng, dan kemasan, berasal dari negeri jiran itu. ''Karena itu, kami lebih suka damai saja dengan Malaysia,'' ujarnya.

Nurdin mengakui, tinggal di perbatasan sering menemui kesulitan alias susah. Hal itu terjadi karena minimnya infrastruktur dan fasilitas umum yang dibangun pemerintah Indonesia. ''Kami bosan dengan janji pemerintah yang katanya akan memajukan daerah di perbatasan, tapi sampai sekarang omong kosong,'' kata pria 35 tahun itu. ''Padahal, setiap presiden sudah pernah ke sini,'' lanjutnya.

Ketika harus menggunakan tabung gas, Nurdin sampai rindu supaya bisa menggunakan produk Pertamina yang warna biru. ''Selama belasan tahun kami pakai tabung gas Petronas 14 kilogram bersubsidi,'' paparnya. Tabung itu dijual dengan harga 27 ringgit atau sekitar Rp 84 ribu.

''Bahkan, rasa minyak goreng asal Jakarta yang ada di iklan-iklan televisi itu juga belum pernah sampai di lidah anak saya,'' terang dia.

Untuk bisa mendapatkan siaran televisi Indonesia, warga Entikong harus rela merogoh kocek lebih dalam. Sebab, mereka harus membeli parabola dan receiver yang berharga Rp 2 juta-Rp 3 juta. Sedangkan untuk bisa menangkap siaran televisi Malaysia, warga cukup hanya membeli antena TV standar. Dengan tiang pancang setinggi 5-6 meter, siaran TV Malaysia tertangkap dengan gambar sangat jelas.

Susahnya hidup di daerah perbatasan juga dirasakan Taufik Ardiwibowo. Pria 29 tahun asal Jember itu sudah lima tahun tinggal di Entikong. Bahkan, dia menikah dengan warga setempat. Taufik menceritakan, setiap dua hari dirinya menyeberang ke Tebedu. Dia bersama istrinya rutin berbelanja di sebuah minimarket yang berjarak hanya dua kilometer dari perbatasan Malaysia. Di swalayan bernama Sin Guan Tai itu dia biasa membeli kebutuhan sehari-hari. ''Sebab, ada juga keluarga istri yang tinggal di wilayah Malaysia. Kebanyakan warga sini punya saudara di Tebedu. Jadi, kami biasa wira-wiri,'' terang dia dengan logat Jawa kental.

Pemerintah memang menetapkan aturan khusus bagi warga perbatasan Malaysia. Mereka diperbolehkan bertransaksi dan membeli barang asal Malaysia tanpa bea cukai dengan syarat memiliki Kartu Pas Lintas Batas (PLB). Namun, tiap kepala keluarga hanya bisa membelanjakan maksimal 600 ringgit atau sekitar Rp 1,8 juta setiap bulan. Menurut Taufik, nilai itu sangat kecil karena tidak mungkin kebutuhan istri dan dua anaknya bisa dipenuhi dengan aturan itu. ''Uang 600 ringgit itu hanya bisa dapat sembako. Kalau anak kami butuh susu, kami menjadi repot,'' ujarnya.

Padahal, barang Indonesia sulit didapat. Untuk bisa mendapatkan makanan bermerek lokal, paling tidak warga harus menempuh perjalanan sekitar 50 kilometer ke ibu kota Kabupaten Sanggau. Jarak itu bisa ditempuh dengan perjalanan dua jam. ''Itu pun dengan harga cukup mahal jika dibandingkan dengan barang sama di Jawa. Misalnya, susu bisa naik 20 persen lah dari harga normal,'' terang Taufik.

Mantan TKI itu lantas membuka dompet dan menunjukkan kepada Jawa Pos. Di dalam­nya ada tiga jenis mata uang. Yaitu, rupiah, ringgit, dan mata uang Brunei. Itu dilakukan untuk memudahkan jika sewaktu-waktu ada warga Malaysia yang melintas batas dan men­jajakan kebutuhan pokok di bawah tangan. Pelintas perbatasan, baik dari Indonesia ke Malaysia maupun sebaliknya lewat Entikong, umumnya diperiksa cukup ketat. Misalnya di pos Tebedu. Namun, pemeriksaan yang ketat itu dimanfaatkan para calo Indonesia. Mereka memasang tarif rata-rata 50 ringgit atau sekitar Rp 150 ribu. ''Banyak calo yang kenal dekat dengan petugas. Jadi, mereka bisa melobi dan main mata agar WNI lolos pemeriksaan,'' ujar Munadi, seorang warga Pontianak, yang kerap melintas batas ke Kuching.

Setelah melewati pos Tebedu, pemandangan sangat indah langsung menyambut. Di sisi ka­nan jalan raya terdapat sebuah taman dengan fasilitas air mancur dan jaringan Wifi gratis.

Menurut Camat Entikong Ignatius Irianto, aktivitas warga perbatasan melintas ke Tebe­du dan wilayah-wilayah Malaysia lain me­munculkan problem tersendiri. Tak sedikit warga yang merasa lebih nyaman dengan ne­­geri jiran itu. Dia mengakui bahwa ada ra­tusan warga Entikong yang dalam dua de­kade terakhir hijrah menjadi warga negara Malaysia. Itu semua karena minimnya infrastruktur dan keterbelakangan ekonomi di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia. ''Semua akibat faktor ekonomi,'' keluh Irianto.

Kebanyakan WNI yang berpindah menjadi warga negara Malaysia berasal dari Suruh Tembawang, salah satu desa di wiayah Entikong. Suruh Tembawang adalah desa yang sangat terpencil di perbatasan RI-Malaysia. Desa itu berjarak sekitar 64 kilometer dari Entikong, ibu kota kecamatan.

Irianto juga mengkhawatirkan nasib pegawai negeri sipil (PNS) yang bertugas di perbatasan. Karena sulitnya akses, tak jarang mereka hidup serbasusah. Untuk mengambil gaji bulanan saja, mereka harus mengeluarkan dana sedikitnya Rp 1 juta untuk me­nyewa perahu motor.

Jika ingin lebih mudah, mereka harus me­nyeberangi sungai ke wilayah Malaysia dan berjalan melintasi hutan sehari penuh untuk bisa masuk kembali ke wilayah Indonesia via Tebedu-Entikong ''Apa yang terjadi jika ada di antara mereka bergaji kurang dari Rp 1 juta? Anda coba bantu saya menjawab,'' katanya.

Ada lima sekolah dasar (SD) dan satu sekolah menengah pertama (SMP) di Suruh Tembawang. Namun, terbatasnya infrastruktur membuat tidak semua warga usia sekolah yang bisa sekolah. Sedangkan untuk kesehatan, terdapat satu pos kesehatan desa di Dusun Suruh Tembawang.

Seorang warga Entikong, M. Husin, mengatakan, problem lain yang menyulitkan adalah ketersediaan air dan listrik. Listrik di desanya kerap padam karena terbatasnya pasokan. Layanan air bersih juga terbatas karena pipa yang dibangun secara swadaya sering rusak. ''Kami mandi dan cuci dengan air hujan karena pipa sedang rusak. Jadi, harap maklum,'' ujar seorang warga yang di­temui di rumahnya. (kum)
*) Published in Jawa Pos 21 June 2009
http://www.guszulham.com/2011/03/mengunjungi-entikong-desa-di-ujung.html?m=1

Semoga perbaikan wilayah teras terdepan Indonesia betul betul serius
semoga semua kedepan bisa lebih baik dari hari ini dan hari kemarin
Spoiler for PLBN Bacaan Khusus Dewasa 32th+:
Harus bisa lebih baik lagi pak

Lanjutkan
Perbatasan adalah wajah negeri kita
emoticon-Toast
Gambarnya kurang nih TS. Seneng liat berita model begini 😁
Saya bisikan dengan Menteri PU kala itu, ini kantor apa kandang? Hanya saja saya tidak menyebutkan kandang apa,


Kandang kebo kah ? emoticon-Leh Uga
Seneng ane liat sodara sodara di perbatasan jadi bangga sama negri sendiri yg besar ini. Maju terus pak, gausah peduliin orang nyinyir, kerja aja pokoknya emoticon-I Love Indonesia
Quote:Original Posted By starconquer
Saya bisikan dengan Menteri PU kala itu, ini kantor apa kandang? Hanya saja saya tidak menyebutkan kandang apa,


Kandang kebo kah ? emoticon-Leh Uga


Sst ... Jangan begitu gan
Ntar ada yang curhat

Baperan di fesbuk

Quote:Irianto juga mengkhawatirkan nasib pegawai negeri sipil (PNS) yang bertugas di perbatasan. Karena sulitnya akses, tak jarang mereka hidup serbasusah. Untuk mengambil gaji bulanan saja, mereka harus mengeluarkan dana sedikitnya Rp 1 juta untuk me­nyewa perahu motor.

Jika ingin lebih mudah, mereka harus me­nyeberangi sungai ke wilayah Malaysia dan berjalan melintasi hutan sehari penuh untuk bisa masuk kembali ke wilayah Indonesia via Tebedu-Entikong ''Apa yang terjadi jika ada di antara mereka bergaji kurang dari Rp 1 juta? Anda coba bantu saya menjawab,'' katanya.

2009 ya...sekarang kemajuannya ud luar biasa, utk gaji PNS di wilayah Perbatasan terutama dgn malaysia sdh ditangani oleh Pemprov Kalbar dgn bekerjasama dgn Bank Lokal (BPD) dgn kartu yang berlogo BankCard/MEPS (Malaysian Electronic Payment System).

Dgn kemajuan sistem pembayaran, diwilayah Kab. Sanggau sdh lebih dari 6 Bank beroperasi disana & rencananya akan dibuka wilayah Kliring & Kas Titipan BI, meskipun statusnya lokal dgn penyelenggara yg akan ditunjuk dari BI.

Permasalahannya hanya warga disana lebih senang menabung & meminjam di CU (Credit Union) dari pada di Bank & akan lebih baik jika Pemerintah juga menertibkan calo mata uang (spekulan) yg byk beroperasi di PLB Entikong.
emoticon-I Love Indonesia

Entikong, Perbatasan Indonesia Yang Terlupakan 16 Februari 2014

Sungguh, pengalaman yang satu ini, jejak langkah di perbatasan Indonesia takkan pernah saya lupakan.

Bagaimana takkan terlupakan, sekolah-sekolahnya saja masih sedikit, rumah sakit pun masih terbatas, penduduk disana, sampai-sampai mau sekolah saja, harus menempuh jarak yang tidak biasanya. Bahkan, ada yang belanja kebutuhan makanan dan yang lainnya itu sampai-sampai lebih memilih beli di negeri tetangga, Malaysia.

Dan, bila teman-teman nanti nanti berkesempatan mengunjungi kota ini, coba saja lihat dibalik gunung itu, Ya, dibalik gunung itu, disana sudah negeri tetangga, dan perbedaannya cukup amat sangat alangkah hebat dibanding dengan keadaan tempat “titik nol” Indonesia ini.

Semoga kedepannya pemerintah Indonesia bisa lebih memperhatikan dan lebih memanfaatkan kekayaan alam di wilayah Kalimantan Barat ini, karena memang benar, Indonesia ini sungguh kaya akan sumber daya alamnya. Ya, dan pemerintah bisa tetap menjaga dan melestarikannya, supaya tak mudah dimanfaatkan oleh negara lain, itu saja. https://bismamuslim.wordpress.com/20...ng-terlupakan/

Pangling! Begini Penampakan Sebelum dan Sesudah PLBN Entikong Dipercantik

Quote:Burung garuda yang gagah tampak membentangkan sayapnya tepat di sebuah bangunan yang didominasi warna putih dan ukiran adat yang unik di perbatasan Indonesia-Malaysia. Bangunan tersebut adalah Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong.
Presiden: pelayanan PLBN Entikong harus lebih baik
PLBN adalah bangunan yang berfungsi sebagai gerbang keluar masuknya masyarakat dari Indonesia ke negara tetangga, atau pun sebaliknya.
Presiden: pelayanan PLBN Entikong harus lebih baik
PLBN Entikong adalah salah satu PLBN yang dirombak total oleh pemerintah lewat Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) agar penampilannya lebih cantik dan membanggakan bagi warga perbatasan.
Quote:PLBN Entikong tahun 2014
Presiden: pelayanan PLBN Entikong harus lebih baik
PLBN Entikong tahun 2016
Presiden: pelayanan PLBN Entikong harus lebih baik

Saat sambutannya pada peresmian PLBN Entikong di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, hari ini, Rabu (21/12/2016), Presiden Joko Widodo (Jokowi) menceritakan bagaimana sebelumnya PLBN Entikong tampak sangat lusuh.

"Saya nggak tahu sudah berapa puluh tahun bangunan ini nggak pernah disentuh apa pun," kata Jokowi mengenang saat pertama kali menyambangi PLBN ini 2014 lalu.

https://finance.detik.com/ekonomi-bi...ng-dipercantik emoticon-I Love Indonesia
Bagus kalo ada kemajuan
Moga terus ada perbaikan dan perawatan nya bagus gan
Quote:Original Posted By lordkalapier

2009 ya.Entikong.
emoticon-I Love Indonesia


Bagus jadinya yak
Beeeh... mantap bener tuh tugunya emoticon-Matabelo
bisa jadi tempat wisata baru tuh, buat foto2 emoticon-Big Grin