alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
(PINDAH dari SEBELAH) NGERI!!! EMPAT TAHUN DALAM KEJARAN DEBT COLLECTOR...
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/585355e350741059388b4567/pindah-dari-sebelah-ngeri-empat-tahun-dalam-kejaran-debt-collector

(PINDAH dari SEBELAH) NGERI!!! EMPAT TAHUN DALAM KEJARAN DEBT COLLECTOR...

Berhubung baru kali ini mencoba posting di kaskus, thread ane salah kamar dan atas saran agan Grepe.lovers ane pindah dimari. Mudah-mudahan ini kamar yang betul. Supaya (minimal) ane bisa sembunyi dulu dari kejaran (hiiiii takuttt)…

INGAT!!!

Semua kemudahan yang bisa kita peroleh dari kartu kredit, suatu saat bisa berubah menjadi terror yang berkepanjangan dan tidak berkesudahan. Kemudahaan hanyalah ilusi yang menjerat leher kita. Sampai akidah dan akal sehat kita bisa digadaikan.
Jangan pernah menganggap kartu kredit adalah tambahan penghasilan, disamping pamali juga bikin otak minus 40 derajat (gobloknya).
Hutang adalah hutang, yang harus diselesaikan dengan sebaik-baiknya, supaya kalau kita mati nanti, arwah kita tidak masuk dalam “keluarga tak kasat mata” sehingga bikin agan ganta jadi tambah ganteng.

PROLOG
Kebanggaan ?! ya, mungkin itu yang ane rasakan ketika aplikasi kartu kredit pertama disetujui. Bayangkan njing, dengan penghasilan yang hanya 600.000 ane bisa mendapatkan dua kartu kredit dengan limit masing-masing 2.500.000. Nominal yang luar biasa bagi ane waktu itu. Bayangkan dengan dua kartu sakti itu rasanya dunia sudah ada didalam genggaman. Rasanya ane sudah bisa sejajar dengan bisnismen-bisnismen hebat yang biasa ane lihat di tipi-tipi itu.
Mulai hari itu, gaya hidup ane berubah brey…biasanya untuk pewangi ketek cukup bedak tabur, mulai hari itu juga sudah berganti dengan deodorant bermerek lengkap dengan parfumnya. Begitu juga dengan sepatu dan baju ane. Semua berganti dengan mudah, tinggal gesek…gesek dan gesek. Apalagi kalau pas gesek , terlihat ada pandangan kagum dari mbak-mbak SPG yang dengan jitu merayu nafsu belanja ane pada limit yang tertinggi. Rasanya bagaimana brey…. (kalau agan orang tajir dan tiap hari bergelimang harta sensasi ini tidak mungkin agan dapatkan, dijamin 100%, tapi kalau kedalaman kantongnya sama dengan ane, tentu sensasinya warbiasaaahh)
Dengan kartu kredit yang ane miliki itu rasanya dunia dalam genggaman. Apalagi, setelah itu banyak tawaran kartu kredit yang menggiurkan dari bank-bank lain. Dalam satu bulan ane sudah bisa memiliki lima kartu kredit dari bank yang berbeda, alias 10 kartu kredit baik visa maupun master dengan limit yang beragam mulai dari 5 juta sampai 10 juta…luarbiasahhhh rasanya. Karena dalam satu bulan ane merasa mendapat tambahan penghasilan hampir 100 kali lipat. Merasanya memang ane tebalin, karena jujur saja dengan gaji hanya 600.000 perbulan, ane bisa belanja hingga 50 juta rupiah ( tentu saja lewat gesek dan gesek). Tak aneh bila kerjaan ane, adalah ngluyur dari mall ke mall. Belanja dan belanja. Mulai dari makan siang, beli baju, deodorant sampai pijat dan pijat plus-plus semua serba gesek dan gesek, mudah.
Herannya semakin ane boros dalam menggunakan kartu sakti itu dan semakin sedikit ane membayarnya bahkan mefet-mefet tipis dengan minimum payment, limit kartu ane makin ditinggikan. Jadilah, hidup ane benar tergantung dengan kartu kredit itu.

Dari orang biasa menjadi serba Gesek….
Awalnya kehidupan ane biasa-biasanya saja brey…ke kantor ane cukup naik angkot atau bahkan sepeda angin. Maklum, sebagai pegawai baru gaji ane tidak lebih dari 600.000 per bulan. Gaji yang sangat pas-pasan untuk hidup di Surabaya. Oh, iya nama ane Yadi. Karyawan perusahaan penerbitan yang cukup berpengaruh di Indonesia timur. Lepas kuliah di Jogja, ane langsung keterima kerja di tempat itu. Isteri ane waktu itu masih calon pegawai negeri, gajinya 60.000 per bulan. Jadi bayangin brey dengan gaji total 660.000 ane berdua harus hidup serba ngirit dan tahan banting. Sampai-sampai furniture rumahpun ane belum bisa beli. Untungnya isteri ane cukup piawai dalam mengatur rumah kontrakan. Kerdus-kerdus bekas disulap menjadi furniture yang cukup berkelas. Sehingga banyak teman-teman ane yang merasa heran kitika melihat kondisi rumah kontrakan ane. Benar-benar home sweet home. Hidup yang benar-benar berkah dan mawardah pokoknya.
Atasan ane bikin ane berani mimpi ketinggian…
Karena ane paling muda sendiri di devisi marketing, jadilah ane sebagai orang yang paling dianggap sepaham dengan bos ane. Kalau ada kunjungan keluar kota tentu ane yang diajak. Kemana-mana ane dididik untuk menekuni dunia marketing yang sesungguhnya. Termasuk dalam melobby dan menemani calon-calon klien besar yang harus dijamu dengan baik. Mulailah ane mengenal dunia malam, mulailah ane kenal yang namanya pub dan juga panti pijat. Nah, dalam dunia loby meloby inilah ane merasa ada yang kurang. Karena kemana-mana ane harus bawa uang cash yang cukup banyak. Kadang-kadang merasa jengah juga karena harus membayar dengan uang tunai untuk kegiatan seperti diatas itu. Mulailah ane berfikir untuk memiliki kartu kredit, supaya praktis dan bebas repot.
Bos ane sebetulnya tidak setuju kalau ane apply kartu kredit, mengingat penghasilanku yang belum seberapa, dan dikantorku belum ada anggaran untuk itu. Namun, semuanya berubah ketika bosku sendiri dari yang sebelumnya old school, juga mulai apply kartu kredit. Karena bos, tentu saja permohonan kartu kreditnya cepat banget di acc bank yang bersangkutan, hanya kurang dari 20 hari bosku sudah bisa memiliki kartu kredit kategori Gold dari bank asing. Limitnya bukan main-main brey, 25 juta per kartu kredit (waktu itu kartu platinum belum muncul).
Karena ane dianggap sepaham, jadilah ane diajak belanja untuk pertama kali (tentu saja dengan kartu kredit nyis kinyis tak iye) ke mall electronic terbesar yang ada di Surabaya. Yang dibeli bos ane adalah satu set perangkat karaoke lengkap dengan TV layar datarnya 50 inchi ( benar 50, tidak dicicil inchi per inchi..), dan ane melihat dengan gampangnya barang itu berpindah tangan hanya dengan kartu yang tipis itu, itupun masih diberi fasilitas plus-plus sama bank pemilik kartu kredit, diantaranya bisa diangsur 12 x tanpa bunga. Ane merasa hidup tidak adil betul, karena untuk beli TV tabung ukuran 24 inchi saja ane harus bersitegang dengan abang kredit perobotan yang naruh bunganya ketinggian. Sehingga tiap bulan uang makan ane hampir tidak tersisa untuk mencicilnya (dan harus puasa senin kemis supaya tidak tengsin di kantor).
Dasar bos, melihat ane yang takjub seperti itu malah dengan bangga mengajak ane makan siang di sebuah rumah makan yang sangat mewah di komplek mall itu, dan lagi-lagi cukup dibayar dengan kartu tipis itu. Hebatnya lagi, masih diberi diskon hampir 50 %, gila betul. Karena ketika kita makan dan bayar dengan uang tunai, jangankan diberi diskon..pandangan pelayannya itu breyyy….bikin kita seperti warga kelas dua, masih untung kalau diberi tempat yang baik, bisa –bisa kita diberi tempat didekat toilet dan matanya mereka selalu mengawasi supaya kita tidak lari, bahkan kadang-kadang kita diberi menu yang murah-murah (itulah kontras yang harus ane saksikan dalam satu hari). Betapa tidak berharganya diri kita bila tidak memiliki kartu tipis itu (pandangan ane lho breyy..)
Mulai hari itu keinginan ane memiliki kartu sakti luar biasa besar.., bahkan sudah menjadi obsesi yang merusak akal bening ane.

Lika-liku memperoleh kartu kredit pertama…
Berkali-kali ane mengajukan dan mengisi formulir untuk bisa mendapatkan kartu kredit itu. Berkali-kali pula gagal dan tidak ada jawaban. Karena memang, ane terlalu jujur dalam mengisi formulirnya. Domisili selalu ane isi dengan jujur, kontrak. Nomor telpon, selalu ane kosongin karena memang tidak ada. Jadilah, berpuluh-puluh aplikasi tersebut tidak ada yang nembus. Ane sudah putus asa, dan memilih untuk mengubur impian memiliki kartu sakti itu. Hampir dua tahun ane Cuma bisa mimpi, sampai akhirnya bos ane diganti dan pindah tempat kerja.
Mulai hari itu, ane punya bos baru. Bos yang dari awal sudah sok jaim, bapernya luar biasa. Sedikit-sedikit memanggil ane, dan mencari-cari kesalahan pekerjaan ane. Tapi, ujung-ujungnya bos ane tersebut minta kerja sama ane, supaya problem hidupnya bisa diatasi. Karena ternyata bos ane ini hidupnya terjerumus dalam lilitan hutang kartu kredit dan KTA (kredit tanpa anggunan). Pantesan, hampir tiap hari ane selalu melihat tampang-tampang sangar, dengan badan hitam kekar selalu berganti-ganti mengunjungi ruang kerja bos ane.
Kadang-kadang terdengar gebrakan meja, dan juga kata-kata yang keras muncul sayup-sayup dari kamar bos ane. Bahkan pernah, ane lihat satu orang yang tinggi besaar lari terbirit-birit keluar dari ruangannya, dan dibelakangnya ane lihat bos ane dengan garang membawa clurit besar ditangannya (gini-gini bos ane berasal dari seberang Surabaya, yang sudah terkenal dengan tradisi cluritnya). Hebat betul bos ane ini pikirku.

Melihat ane bengong, bos lalu memanggil ane. Mulailah ane tahu problem yang menimpa bos ane itu. Ane juga Cuma bisa berempati, namun tidak bisa menolong banyak. Bos ane lalu spik-spik setan pada ane, dan berjanji akan menaikkan gaji ane tahun depan. Dengan syarat, ane harus mau ikut menanggung hutangnya. Jadi, kalau gaji ane naik jadi 2.500.000 maka bos ane minta bagian yang 1 juta untuk mengangsur hutang-hutangnya. Tanpa piker panjang ane oke-oke saja, toh permintaan bos. Ternyata bukan ane saja yang di spik-spik setan. Hampir semua kawan-kawan ane di devisi pemasaran juga mendapat SSI yang sama. Ada yang menolak dan ada pula yang mau seperti ane ini. Yang menolak, bulan depannya benar-benar pindah bagian, ada yang dipindah jadi driver ada yang dipindah jadi satpam. Nah, yang mau seperti ane dan kawan-kawan tentu dapat promosi jabatan. Ane sendiri jadi supervisor yang memegang barang-barang promosi, tempat paling basah di devisi ane.

Dengan jabatan baru, itu bos ane menyarankan supaya ane segera apply kartu kredit. Semua dia yang ngatur. Akhirnya betul, ane bisa memiliki kartu sakti itu. Dua kartu yang limitnya paling kecil, yakni 2.500.000 boleh ane miliki, sedang kartu-kartu berikutnya yang limitnya diatas 10 juta menjadi bagian bos ane. Kewajiban ane, tetap membayari kartu-kartu yang dipakai bos ane itu. Begitu juga teman-teman ane yang lain. Mungkin bos ane bisa memiliki lebih dari 10 kartu dengan limit diatas 10 jutaan atas nama kita semua. Problem bos teratasi, tidak banyak lagi ane jumpai tampang-tampang sangar yang hampir dua tahun selalu mengitari ruangan bos ane. Wajah bos juga semakin kinclong. Kariernya semakin naik, dari Manajer menjadi wakil direktur dan akhirnya menjadi direktur.
Ane dan teman-teman memang merasa berhutang budi sama bos, sehingga sumpah kita sumpah darah saling melindungi. Untungnya devisi ane selalu memperoleh hasil yang sangat baik, bahkan terbaik selama perusahaan ane itu ada. Sehingga kenakalan-kenakalan koleltif kita hampir tidak pernah terekspose keluar.
Hidup ane juga sangat berubah, dari orang yang benar-benar jujur menjadi orang yang hancur. Permainan komisi dan juga uji petik komisi menjadi santapan rohani setiap hari. Uang begitu mudah untuk ane dapatin. Bo sane juga sangat sayang sama kita semua, dari gaji 600.000 ane bisa mendapatkan gaji hampir 30 juta perbulan. Gaji yang cukup besar untuk ukuran Surabaya waktu itu. Gaji yang benar-benar berkah, karena gaji itu 100% menjadi milik isteri ane. Ane shari-hari hidup dengan memutar kartu kredit dan kartu kredit, yang terus berdatangan dan begitu mudah ane dapatkan. Sampai-sampai ane bisa dapat kartu kredit dengan limit 100 juta (bayangkan brey…100 juta).
Untuk membayar semua tagihan yang ada, hampir tidak ada masalah brey..karena bos yang mengatur semua. Bos memang hebat, dan kami betul-betul setia luar biasa. Bos besar pemilik perusahaan ane begitu percaya sama bos ane, dan bos ane memang betul-betul menunjukkan hasil pekerjaan yang luar biasa bagusnya. Jadi, semuanya jadi mudah. Everything is Ok, begitu kata bos besar. Apa yang diminta bos ane, semua diberi. Tugas ane tinggal tanda tangan. Lobby sana sini, semuanya ditanggung oleh kantor.

Lika-liku memperoleh kartu kredit pertama…
Berkali-kali ane mengajukan dan mengisi formulir untuk bisa mendapatkan kartu kredit itu. Berkali-kali pula gagal dan tidak ada jawaban. Karena memang, ane terlalu jujur dalam mengisi formulirnya. Domisili selalu ane isi dengan jujur, kontrak. Nomor telpon, selalu ane kosongin karena memang tidak ada. Jadilah, berpuluh-puluh aplikasi tersebut tidak ada yang nembus. Ane sudah putus asa, dan memilih untuk mengubur impian memiliki kartu sakti itu. Hampir dua tahun ane Cuma bisa mimpi, sampai akhirnya bos ane diganti dan pindah tempat kerja.
Mulai hari itu, ane punya bos baru. Bos yang dari awal sudah sok jaim, bapernya luar biasa. Sedikit-sedikit memanggil ane, dan mencari-cari kesalahan pekerjaan ane. Tapi, ujung-ujungnya bos ane tersebut minta kerja sama ane, supaya problem hidupnya bisa diatasi. Karena ternyata bos ane ini hidupnya terjerumus dalam lilitan hutang kartu kredit dan KTA (kredit tanpa anggunan). Pantesan, hampir tiap hari ane selalu melihat tampang-tampang sangar, dengan badan hitam kekar selalu berganti-ganti mengunjungi ruang kerja bos ane.
Kadang-kadang terdengar gebrakan meja, dan juga kata-kata yang keras muncul sayup-sayup dari kamar bos ane. Bahkan pernah, ane lihat satu orang yang tinggi besaar lari terbirit-birit keluar dari ruangannya, dan dibelakangnya ane lihat bos ane dengan garang membawa clurit besar ditangannya (gini-gini bos ane berasal dari seberang Surabaya, yang sudah terkenal dengan tradisi cluritnya). Hebat betul bos ane ini pikirku.

Melihat ane bengong, bos lalu memanggil ane. Mulailah ane tahu problem yang menimpa bos ane itu. Ane juga Cuma bisa berempati, namun tidak bisa menolong banyak. Bos ane lalu spik-spik setan pada ane, dan berjanji akan menaikkan gaji ane tahun depan. Dengan syarat, ane harus mau ikut menanggung hutangnya. Jadi, kalau gaji ane naik jadi 2.500.000 maka bos ane minta bagian yang 1 juta untuk mengangsur hutang-hutangnya. Tanpa piker panjang ane oke-oke saja, toh permintaan bos. Ternyata bukan ane saja yang di spik-spik setan. Hampir semua kawan-kawan ane di devisi pemasaran juga mendapat SSI yang sama. Ada yang menolak dan ada pula yang mau seperti ane ini. Yang menolak, bulan depannya benar-benar pindah bagian, ada yang dipindah jadi driver ada yang dipindah jadi satpam. Nah, yang mau seperti ane dan kawan-kawan tentu dapat promosi jabatan. Ane sendiri jadi supervisor yang memegang barang-barang promosi, tempat paling basah di devisi ane.

Dengan jabatan baru, itu bos ane menyarankan supaya ane segera apply kartu kredit. Semua dia yang ngatur. Akhirnya betul, ane bisa memiliki kartu sakti itu. Dua kartu yang limitnya paling kecil, yakni 2.500.000 boleh ane miliki, sedang kartu-kartu berikutnya yang limitnya diatas 10 juta menjadi bagian bos ane. Kewajiban ane, tetap membayari kartu-kartu yang dipakai bos ane itu. Begitu juga teman-teman ane yang lain. Mungkin bos ane bisa memiliki lebih dari 10 kartu dengan limit diatas 10 jutaan atas nama kita semua. Problem bos teratasi, tidak banyak lagi ane jumpai tampang-tampang sangar yang hampir dua tahun selalu mengitari ruangan bos ane. Wajah bos juga semakin kinclong. Kariernya semakin naik, dari Manajer menjadi wakil direktur dan akhirnya menjadi direktur.
Ane dan teman-teman memang merasa berhutang budi sama bos, sehingga sumpah kita sumpah darah saling melindungi. Untungnya devisi ane selalu memperoleh hasil yang sangat baik, bahkan terbaik selama perusahaan ane itu ada. Sehingga kenakalan-kenakalan koleltif kita hampir tidak pernah terekspose keluar.

Hidup ane juga sangat berubah, dari orang yang benar-benar jujur menjadi orang yang hancur. Permainan komisi dan juga uji petik komisi menjadi santapan rohani setiap hari. Uang begitu mudah untuk ane dapatin. Bo sane juga sangat sayang sama kita semua, dari gaji 600.000 ane bisa mendapatkan gaji hampir 30 juta perbulan. Gaji yang cukup besar untuk ukuran Surabaya waktu itu. Gaji yang benar-benar berkah, karena gaji itu 100% menjadi milik isteri ane. Ane shari-hari hidup dengan memutar kartu kredit dan kartu kredit, yang terus berdatangan dan begitu mudah ane dapatkan. Sampai-sampai ane bisa dapat kartu kredit dengan limit 100 juta (bayangkan brey…100 juta).
Untuk membayar semua tagihan yang ada, hampir tidak ada masalah brey..karena bos yang mengatur semua. Bos memang hebat, dan kami betul-betul setia luar biasa. Bos besar pemilik perusahaan ane begitu percaya sama bos ane, dan bos ane memang betul-betul menunjukkan hasil pekerjaan yang luar biasa bagusnya. Jadi, semuanya jadi mudah. Everything is Ok, begitu kata bos besar. Apa yang diminta bos ane, semua diberi. Tugas ane tinggal tanda tangan. Lobby sana sini, semuanya ditanggung oleh kantor. Apakah akan terus seperti itu brayyy…???

Tak Ada Pesta Yang Tidak Usai..

Bos yang baik hati itu akhirnya pensiun juga. Jadilah kami-kami ini sebagai pimpinan tidak resmi di devisi ane. Karena Bos besar belum menunjuk pimpinan baru. Dalam masa transisi itu kenakalan kami semakin menjadi-jadi bray. Karena kami berlima ( tim inti devisi kami Cuma lima itu) merasa punya wewenang untuk mengatur berputarnya organisasi sehari-hari. Permainan kamipun semakin canggih dalam mendapatkan kartu-kartu kredit baru. Kami tidak perlu lagi meminta approval dari bos kami untuk setiap aplikasi kartu kredit baru. Kamilah yang memberi approval itu. Kamilah Bos-bos itu, kami saling bertukar peran. Kadang ane yang jadi kepala bagiannya untuk permohonan teman ane, begitu juga sebaliknya kalau ane yang membutuhkan kartu kredit baru. Bahkan yang paling konyol kami juga bergantian berfungsi sebagai kepala HRD, karena nomor-nomor telpon yang kami sertakan adalah nomor-nomor yang ada di devisi ane. Kenakalan kami bahkan berlanjut dalam menerbitkan slip gaji, yang bisa kita up semaunya karena kamilah yang mengeluarkan surat keterangan penghasilan. Sesuatu yang tidak mungkin bisa kami peroleh ketika bos yang baik hati itu masih ada. Permainan itu semakin mudah , karena persetujuan kartu kredit oleh bank-bank sebelum tahun 2010 memang betul-betul longgar. Masing-masing Bank saling berlomba-lomba menerbitkan kartu kredit dengan segala pernak-perniknya. Ceking data hanya dilakukan via telpon, tidak lagi menganut asas prudenitas. Padahal sebelumnya, ceking data dilakukan on the spot, dengan mendatangi rumah dan juga survey yang ketat.

Kemudahan itulah yang membuat kami semakin lupa diri, bahkan kami sudah berani menolak dan mengembalikan kartu kredit baru yang limitnya dibawah 20 juta. Semakin besar limit yang kami miliki, berarti semakin prestis dimata teman-teman yang lain. Tidak aneh bray.., dalam zaman jahililyah itu kartu kredit yang ane miliki sampai 30 biji. Benar-benar waaarbiasahhhh (ngawurnya). Belum lagi tambahan kredit baru dalam bentuk Kredit Tanpa Anggunan, yang benar-benar hanya ditawari melalui telpon, kemudian lima hari kemudian sudah langsung ditransfer ke rekening kami. Mungkin bank menganggap kami nasabah yang paling goblok, atau paling menguntungkan untuk meraih penghasilan yang tinggi. Karena umumnya kartu kredit ane memang tidak pernah telat, selalu tidak pernah full payment melainkan mefet-mefet minimum payment dan selalu aktif untuk dipakai belanja.

Ane lanjut nanti ya bray..
profile-picture
anggaharun memberi reputasi
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 43

ane lanjut lagi...

Berbeda dengan teman-teman ane, yang menganggap kartu kredit ataupun KTA adalah tambahan modal untuk usaha (umumnya teman-teman ane punya pekerjaan sampingan sebagai pedagang retail), atau digunakan untuk memperbaiki cash flow bulanan dengan menutup kartu kredit yang limitnya kecil atau bunganya terlalu besar atau jatuh temponya paling tidak bersahabat. Ane justru menggunakan kemudahan-kemudahan itu untuk memperbesar nafsu aluamah ane, seperti kredit mobil dengan tenor yang paling panjaaang, sebagian lagi untuk beli airsoft gun sampai puluhan yang waktu itu memang sedang hit banget dan sebagian besarnya lagi untuk beli barang-barang hobby yang endak banget fungsinya. Salah satunya beli moge, motor antiq, sepda antiq de el el ( gini-gini ane pernah punya Harley Davidson 1200 cc tahun 79 yang mangkrak, matchless 350 cc, Kawasaki maguro 500 cc, Suzuki intruder yang dimodif model chopper dengan ban belakang segeda gajah, sampai piaggio X9) yang semuanya tidak pernah ane pakai, yang Cuma ane miliki untuk mejeng-mejeng doang, foto-fotoan dan kadang ane elus-elus di pagi hari.

Apakah ane tidak pernah mengendarai motor-motor itu bray..? tentu pernah namun hanya sekali. Itupun jatuh, dan ane tidak bisa bangun. Motor besar itu menimpa body ane yang kecil kaya sule itu. Masih untung ada tukang becak yang mau nolongin ane, dengan ramai-ramai mereka mengangkat motor ane yang beratnya minta ampun itu. Yang bikin ane bete dan patah arang, ada satu tukang becak yang “nylethuk” begini bray…”cak…cak nek gak isok nggawe motor…rasah kemaki, nggarai nggawe susah ae” ( mas..mas kalau belum bisa naik motor itu, ya jangan naik motor bikin susah orang saja)”. Omelnya sambil menuntun motor ane yang berat itu. Ancurrr hati ane bray…..sakitttttnya itu betul-betul disini…

Terus tentang airsoft gun yang ane miliki sampai puluhan itu, apakah juga pernah ane pakai untuk ikut club atau skirmiss misalnya ? tidak. Semuanya hanya ane miliki untuk foto-fotoan supaya picture profil ane keren he …he, bahkan beberapa unit ane berikan dengan Cuma-Cuma ke saudara atau teman ane. Sok baik, mungkin ya. Tapi yang lebih mungkin adalah supaya ane bisa beli unit baru, yang belum masuk ke Surabaya. Untuk itu, biasanya ane beli via situs-situ online yang ada di Hongkong maupun cungkwok sana. Alat transaksinya tentu dengan kartu kredit. Ini mungkin kesalahan ane yang terbesar, karena semua unit yang ane pesan semuanya tertahan di beacukai. Masih untung unit ane cuma ditahan, kalau tidak ane bisa berurusan dengan aparat kepolisian karena dianggap menyelundupkan senjata. Coba kalau sekarang, mungkin ane sudah dikeler Densus karena dianggap sekutunya Bahrun naim. Konyolnya lagi, untuk beli unit-unit yang akhirnya nyangkut di bea cukai itu ane sampai menghabiskan limit satu kartu kredit yang baru ane dapatkan dari salah satu bank plat merah, nominalnya sampai 45 juta.

Musim Semi Berganti dengan Musim gugur…
Memang tidak ada pesta yang tidak usai, begitu juga dengan masa keemasan devisi ane. Krisis tahun 2008 mengubah segalanya. Perusahaan ane melakukan penghematan besar-besaran. Order-order penerbitan yang biasanya datang bagai air bah, surut begitu saja. Untungnya perusahaan Bos ane masih terhitung penerbitan yang besar, jadi masih banyak order-order pemerintahan yang bisa diraih. Tapi, yang namanya krisis tentu memiliki konsekuensi-konsekuensi tersendiri. Sebelumnya devisi ane memiliki otoritas untuk mengelola anggaran sendiri, sehingga anggaran bisa kita gunakan sesuai dengan program-program marketing yang ada, tanpa perlu meminta persetujuan bos besar. Namun, mulai tahun itu semua pengeluaran anggaran harus sepengetahuan bos besar. Beberapa program promosi penjualan dipotong, dan pembuatan material promosi harus dibuat diinternal perusahaan sendiri. Karena mulai tahun itu juga perusahaan memiliki devisi baru, yakni unit Periklanan dan Percetakan.

Kebijakan itu tentu memukul devisi ane. Karena, biasanya kita memang mendapatkan komisi yang cukup untuk mendanai aktifitas miring kami, termasuk membayar cicilan kartu-kartu kredit kami. Bahkan dari berbagai komisi yang kami terima (asli kami tidak pernah meminta namun diberi secara sukarela..) cukup memberikan tambahan masing-masing orang 10 juta rupiah per bulan. Karena memang anggaran promosi kita cukup besar, untuk placement media iklan di Koran-koran lokal saja mencapai 5 M setahunnya , belum lagi anggaran untuk pembuatan apparel, dan material POP dan POS lainnya. Dengan system inhouse tersebut, tentu menguntungkan bagi perusahaan ane, ibarat keluar kantong kiri masuk kantong kanan. Tapi bagi ane, ini betul-betul musibah, dan membuat ane “pecas dase” (kepala pecah). Karena dengan tanggungan 30 kartu kredit yang ane miliki, minimal membutuhkan 30 Juta untuk minimum paymentnya saja (kalau rata-rata ane bayar 1 juta per kartu kredit) . Belum lagi cicilan KTA dan mobil. Jumlah yang sangat besaaaar untuk karyawan setingkat ane namun punya mimpi sekelas gayus tambunan itu. Memang setiap bulannya ane selalu sedia cash money dikisaran itu bray..

Gali lubang tutup lubang…
Biasanya disetiap bulannya ane membagi kartu-kartu kredit ane dalam tiga gelombang pembayaran. Minggu pertama ane membayar 10 kartu kredit dengan nominal 1,5 jutaan. Minggu keduanya, ane membayar 10 kartu kredit kedua dengan gesek tunai di kartu kredit yang ane bayar di minggu pertama tadi dengan masing-masing ane gestun 1 jutaan, sisanya 10 kartu kredit dan KTA baru ane bayar dari uji petik komisi tadi. Semua aman dan terkendali. Lancar bagai perputaran bola dunia.
Namun dengan adanya pengetatan anggaran tersebut, ane langsung kehilangan pendapatan 10 juta per bulan. Yang efek berikutnya mengacau siklus pembayaran yang sudah ane programkan tadi. Akibatnya, mulai ada keterlambatan pembayaran kartu kredit demi kartu kredit yang ane miliki. Desk Collector mulai rajin menelpon HP ane. Mengingatkan, bahwa pembayaran ane sudah jauh lewat jatuh tempo.
Penderitaan ane bertambah lagi dengan adanya peraturan bank Indonesia yang mulai menyeragamkan jadwal pembayaran semua penerbit kartu kredit. Jadilah ane sudah jatuh tertimpa paha, terimpit bumi dan diinjak gajah. Karena semua skema pembayaran menjadi seragam baik di minggu pertama, kedua maupun tiga. Ancurrrr plesetan telor.

Mundur dulu bray… Tiga tahun sebelumnya seorang ustadz pernah mengingatkan ane…
Ketika ane mulai merasa kesulitan untuk membayar kewajiban-kewajiban itu. Ane jadi ingat, suatu hari ketika ane tiba-tiba jadi ingat untuk sholat maghrib di masjid pinggiran kota Sidoarjo. Waktu itu, masih belum qomat, ane menunggu bukan dengan sholat sunnah tapi malah asyik bermain HP (HP Comunicator seri terbaru bray…waktu itu sedang masa jaya-jayanya), tiba-tiba ane didatangi seorang jemaah yang berpakaian mirip Alm. Ustadz Jeffry dia duduk disebelah ane persis. Menyalami dan menatap tajam wajah ane. Tentu saja ane merasa jengah, sehingga ane memberanikan diri menyapanya “Assalamualaikum….ada apa ya pak?” kata ane sambil menyalaminya, tentu saja dengan nada yang tidak begitu ramah. Dia menjawab salam ane dengan tutur bahasa yang halus dan lembut. Ane terpana, dan tentu saja malu. Kemudian berusaha merubah intonasi dan gaya pembicaraan ane menjadi lebih ramah.
Jamaah yang berpakaian mirip alm. Ustadz Jeffry tadi masih terus menatap ane, dan dengan lembut meminta maaf telah mengganggu keasyikan ane. Kemudian mengenalkan namanya “…saya Muchsin, mas…orang-orang di masjid sini biasanya memanggil saya dengan ustadz muchsin”, selanjutnya tanpa basa –basi, karena mungkin waktu sholat akan segera tiba, dan dia harus menjadi imam sholat maghrib di masjid itu. Dia hanya berkata pendek “ mas…siapapun nama njenengan nggih, saya minta sebisa mungkin segera melunasi dan menutup semua kartu kredit yang mas miliki.., mumpung belum terlambat” katanya sambil menepuk bahu saya dan beranjak ke mimbar sholat.
Terus terang ane terkejut dan agak speechless. Berhari-hari ane mikir dan mikir, apa maksud ustadz tadi. Ane malah berfikir, jangan-jangan ane akan mati ya… Kok ada ustadz yang tidak kenal ane dan tidak tahu ane, tiba-tiba mengingatkan diri ane untuk segera melunasi hutang-hutang dan menutup semua kartu kredit yang ane punyai (jujur saja ane agak percaya hal-hal yang berbau mistik-mistik gitu bray…). Sehingga kata-kata ustadz tadi betul-betul menteror diri ane. Berhari-hari bray, terngiang-ngiang terus. Namun dengan semakin moncernya karir ane, pelan-pelan peringatan itu ane lupakan dan lupa begitu saja. Bahkan ane semakin beringas dalam menangkap setiap penawaran kartu kredit yang ada. Tarsuk-tarsuk (entar besok, entar besok) menyebabkan ane tidak segera menata gaya hidup dan beban hidup yang ane punyai.
Tapi dengan rangkaian kejadian belakangan ini, ane jadi ingat kembali kata-kata ustadz tadi. Jujur saja, dalam kurun tiga tahun lalu, ane memang kebanjiran rezeki nomplok. Tiba-tiba bos besar membagi bonus yang besarnya sampai 250 juta, belum lagi bonus-bonus rutin yang biasanya muncul di bulan Mei, Juli dan Oktober. Dulu, sebelum ane tergila-gila dengan kartu kredit bonus tersebut biasanya langsung masuk ke rekening isteri ane. Namun, setelah mengenal kartu kredit semua bonus itu ane belokkin ke rekening pribadi ane sebagai rejeki laki. Dengan pembelokkan rekening tadi, minimal ane punya standby loan yang mencukupi untuk membayar kartu kredit. Apalagi dengan tambahan uji petik komisi seperti diatas. Jadi kalau ane mau, hutang-hutang kartu kredit tersebut sudah bisa selesai dulu-dulu, dulu sekali sebelum sempat beranak pinak dan menjadi lagu pusing kepala bbaby…

Nasihat teman yang berujung tsunami bagi ane dan keluarga
Setelah mulai seret, dan telpon dari desk collector bank-bank penerbit kartu kredit itu gantian menciutkan nada-nada yang mengancam halus. Ane mulai mencari info dan bertukar saran dengan siapapun yang memiliki problem dengan kartu kredit. Termasuk dari salah satu anak buah ane, yang badannya memang sebesar kinkong. Pagi itu, ane lihat dia sedang ngobrol asyik dan agak hangat dengan mas-mas security di customer service. Ane sedikit jaim untuk bergabung, tapi telinga ane sempat mendengar bahwa si kingkong baru saja ribut dengan debt collector yang mendatangi rumahnya. Bahkan menurut versi si kingkong debt collectornya sempat lari terbirit-birit meninggalkan motornya di halaman rumahnya. Mendengar itu, ane langsung ikut bergabung dan sedikit tahu kronologisnya. Rupanya si kingkong sudah hampir satu tahun tidak membayar cicilan dua kartu kredit yang dimilikinya. Masing-masing sudah beranak pinak hingga 20 jutaan. Karena sudah tidak punya dan hanya punya otot jadilah si kingkong milih penyelesaian dengan model gasrak –gusruk itu. Dari dia, ane juga baru tahu isilah collect satu sampai lima, yang mengatur mekanisme penagihan kartu kredit oleh bank-bank yang ada. Bahkan dengan bangga dia memberikan satu copyan artikel salah satu nitezen yang menolak membayar kartu kredit, karena semua hutang kartu kredit sudah ada asuransinya. Dengan antusias ane membaca postingan itu. Memang bahasanya cukup masuk akal, dan membuat ane mulai mimbikin kalkulasi untuk menuruti anjurannya itu.
Apa yang terjadi setelah itu bray…
Lihat 1 balasan
11 12 sensasinya di kejar sama debt sama bencong gan emoticon-Takut

Apalagi debt collectornya bencong keker....kelar idup lu wkakakakakaka emoticon-Leh Uga

Nih breee ane angkut ke pejwan emoticon-Cool

Quote:


Diubah oleh VictimMax
Lanjut bray. kayanya bermakna buat pengalaman hidup nih.
wah seru nih berbau utang piutang emoticon-Leh Uga
dibikin index gan biar gampang cek part per part-nya emoticon-Leh Uga

Siaaap gan..

Quote:


ngeri cak... dolanan duit manak emoticon-Takut (S)

Lanjutken cak...
emoticon-2 Jempol
langsung lanjut aja gan, kelarin dalam sehari threadnya. udah bikin kopi sama sedia udud ini emoticon-Leh Uga
Diubah oleh sempakneptunus
izin untuk jejak gan
pengalaman berarti.ini
Numpang di pejwan dulu gan emoticon-Leh Uga
gan kasih sepasi donk jgn rapeet bgt ..siwer ni matanya baca nya..kaya gak nAfas juga ane baca..lanjut trus tanda titik..

trus gmn kelanjutan nya...ane sih takut pake cc abiz ga mampu bayar
very good stories menurut ane

acung jempol gan
Wew, saran ane dilaksanakan rupanye,

memang berat kalau terlilit hutang, banyak yang lari dari hutangnya
Mejeng pejwan doloo emoticon-Cool
Update lagi dong gan,.
Ane juga pemegang kartu kredit, impian ane dari 5 tahun lalu pengen punya CC,. Alasannya kemudahan dalam transaksi di OL,. Sekarang punya 2 CC yang limitnya cuma 7 sama 4 Jt,. Telpon dari BANK penerbit udah berkali2 buat naikin, tapi ane ga mau naikin karna emang ga terlalu berguna saat ini,. Mungkin awal tahun ini ane mau nambahin jadi 16jt buat bantu abang ane kredit motor,. emoticon-Shakehand2
Diubah oleh yadigembil
ane lanjut lagi bray..
Tahun pertama…
Sebetulnya ane gagal paham dengan artikel yang diposting oleh seseorang yang menyatakan dirinya mantan pegawai bank dan bekerja di devisi kartu kredit itu. Karena menurut akal sehat ane (yang waktu itu masih benar-benar sehat), seseorang yang berhutang tentu memiliki kewajiban untuk menyelesaikan hutang-hutangnya. Bila tidak tentu membawa konsekuensi-konsekuensi tersendiri, termasuk mungkin nyawa kita tidak bisa diterima bumi. Mangkanya ketika kita melayat seseorang yang meninggal dunia, tentu pak ustadznya akan bertanya apakah diantara pentakziah yang ada masih memiliki sangkut paut piutang dengan si mayit atau dalam film-film mafia yang sering ane tonton, kita akan diuber kemanapun sama si tukang pukul (jadi ingat filmnya Josan statham “hummingbird”). Jadi, antara dan iya ane terus membaca artikel itu bray…dan cilakanya ane jadi percaya 100 % ama pendapatnya, dan memutuskan untuk mulai menghentikan pembayaran kartu-kartu kredit ane yang jumlahnya bejibun itu.

Satu demi satu tagihan yang tebal-tebal itu (tagihannya sih Cuma selembar, sisanya tawaran promo macem-macem) mulai numpuk di meja ane. Telpon dari desk collector mulai menuhi suasana ruangan kantor ane. Kantor yang biasanya sunyi dari dering telpon, mulai bulan itu hampir tidak pernah berhenti. Semuanya mencari satu orang, ane bray. Bahkan petugas customer service mulai kuwalahan dan merasa terganggu. Ane sendiri juga sudah merasa jengah, namun ane kuat-kuatin. Kompensasinya, ane mulai berlagak agak ramah kepada semua teman-teman yang ada di devisi itu, baik petugas CS maupun pak Satpam (padahal sebelumnya ane terkenal paling judes dikantor, biasalah sok merasa the Rising Star). Kadang-kadang ane juga membelikan makan siang dan kue-kue dengan maksud mereka tidak terlalu bete dengan ane.

Meskipun ane kelihatan mengerikan bankrutnya di kantor, karena ditagih terus-terusan setiap hari. Tapi sebetulnya secara keuangan ane tidak ada masalah, justru malah sehat. Karena dari uang bonus yang ane belokin dari rekening bini ane, ane masih punya penghasilan 10 jutaan lah. Cuma uang itu sudah tidak mencukupi lagi untuk mencicil minimum payment semua kartu kredit dan KTA ane. Jadi, tidak aneh bila teman-teman ane heran bin takjub melihat hidup ane masih normal-normal saja. Bahkan jadi kelihatan punya duit. Karena kalau lagi makan atau beli baju atau kegiatan yang gelap-gelapan itu, ane bayar cash (berbeda dengan dulu yang sedikit-sedikit gesek tunai atau gesek-gesek doang).

Keterlambatan satu sampai dua bulan sebetulnya belum merupakan hal yang berat bagi bank-bank penerbit kartu kredit ane. Ane masih ditelpon dengan sopan, dan hanya mengingatkan untuk segera membayar tagihan yang ada. Bahkan saking bonafidenya ane dulu, beberapa kartu kredit malah belum di blockir. Jadi ane masih bisa belanja kecil-kecilan, tapi dengan menyiapkan uang tunai (takut tengsing kalau kartunya di tolak). Kecil, karena kalau jumlah besar tentu ane akan ditelpon oleh bank penerbitnya, dan tentu akan diingatkan untuk segera membayar. Menginjak bulan ke enam dari aksi berhenti bayar itu, mulailah kehidupan ane baik dirumah maupun di kantor tidak nyaman. Karena desk collectornya mulai berganti peran dengan debt collector, tapi masih lewat telpon saja. Pada fase ini kesabaran ane mulai diuji, karena mulut debt collector (umumnya cewek dan mungkin nenek-nenek bawel) itu sudah benar-benar over dosis baik kata-katanya sampai ketinggian vocalnya. Bahkan tak jarang mereka memaki-maki ane dengan kata-kata yang ada dikebun binatang semua (mungkin persis kolektor kerak neraka si junaidih itu). Seminggu menerima telpon-telpon itu mental ane down bray…dan ane mengambil keputusan untuk membuang kartu telpon, dan berganti dengan nomor baru. Begitu pula dengan telpon yang ada di kantor dan dirumah ane, semua kabelnya ane ambil (ini kesalahan pertama ane bray..). Apa yang terjadi setelah itu bray…?



aye beberapa kali tergiur untuk punya CC, tapi inget pengalaman sodara punya CC dulu, aye urungin niat..
bisa ngelunasin cicilan motor udah alhamdulillah, tinggal rumah yg masih lama.. emoticon-Big Grin
lanjut posting Gan!
wew, ane tunggu kelanjutan cerita ente ya bray emoticon-shakehand
Si agan kenal sama di junaedih bandar kerak di bp....
still reading

Halaman 1 dari 43


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di