alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/584e45535074104b538b4580/pasca-peristiwa-g30s-pki-1965-ribuan-warga-di-cilacap-terusir-dari-tanahnya
Pasca Peristiwa G30S/PKI 1965, Ribuan Warga di Cilacap Terusir dari Tanahnya
Pasca Peristiwa G30S/PKI 1965, Ribuan Warga di Cilacap Terusir dari Tanahnya

Cilacap, GATRAnews – Pasca peristiwa 1965, ribuan warga di Puluhan desa Cilacap, Jawa Tengah dipaksa mengosongkan lahan atau "bedol desa" karena dituduh terlibat G30SPKI. Mereka dipaksa pindah ke semacam perkampungan konsentrasi yang disebut sebagai kampung dampungan atau tampungan. Beberapa lainnya diusir tanpa ganti rugi memadai.

“Kalau yang dikonsentrasikan itu terutama di wilayah yang dekat dengan perkebunan. Tetapi ada juga yang diusir tanpa ganti rugi. Mereka dibiarkan tanpa tempat tinggal dan tanah,” kata Direktur LSM Serikat Tani Mandiri (SeTam) Cilacap, Petrus Sugeng, Senin (12/12). Dia mengungkap hingga kini puluhan kampung bernama tampungan atau Dampungan masih ada, terutama di empat kecamatan Kabupaten Cilacap, yakni Kecamatan Cimanggu, Majenang, Wanareja, Cipari dan Kecamatan Dayeuhluhur. “Banyak di sini, kampung bernama tampungan atau dampungan. Itu adalah kampung konsentrasi. Tanahnya pun masih milik perkebunan. Kalau yang sudah menjadi milik warga hanya di Desa Mulyadadi Kecamatan Cipari. Lainnya, masih dikuasai perkebunan,” ujarnya. Sugeng menjelaskan, peristiwa pertama pengusiran terjadi pasca peristiwa pemberontakan DI/TII. Berdalih nasionalisasi aset, tentara memaksa warga meninggalkan kampung asalnya. Lalu, saat kondisi sudah mulai tenang, warga kembali lagi ke kampungnya. Namun, pasca peristiwa 1965, warga dipaksa keluar lagi dari desanya masing-masing. Saat ini, tanah tersebut dikuasai oleh TNI AD. “Ya kalau (kampung) penampungan itu banyak terjadi banyak di daerah PT dan PTPN ya. Itu juga sama, terjadi pada saat nasionalisasi aset DI TII dan nasionalisasi aset G30SPKI. Untuk keamanan warga masyarakat di tapungkan di salah satu tempat penampungan. Bahwa orang-orang yang mengambil atau mengelola lahannya kembali dicap sebagai orang PKI,” jelas Petrus. Sementara, aktivis reforma agraria Cilacap, Hirzudin mengklaim pihaknya memiliki bukti fisik dan nonfisik kepemilikan ribuan hektar lahan lahan yang kini telah menjadi perkebunan karet dan kakao (coklat) yang dikelola perusahaan negara, swasta dan juga asing tersebut. “Bukti fisiknya antara lain, petuk tanah (surat tanah yang ditandatangani lurah pada masa lalu-red). Selain itu, di tengah perkebunan juga masih ditemukan bekas sumur, pondasi mushola, genteng rumah, dan pemakaman umum,” kata Hirzudin seraya menambahkan. Bukti lainnya adalah saksi hidup yang menyaksikan dan menjadi korban peristiwa pengusiran warga dari tanahnya. “Tetapi saksi hidup itu sekarang sudah berusia sangat ‘sepuh’. Saya khawatir saat persoalan agraria belum selesai, sebagian dari mereka sudah tiada,” kata Hirzudin. Hirzudin menambahkan, korban pengusiran telah melakukan beberapa kali audiensi dengan Badan Pertanahan Nasional, bupati dan gubernur, DPRD dan DPR RI. Namun, hingga kini, dari delapan ribu tanah sengketa, baru 400 hektar yang dikembalikan kepada warga melalui program redistribusi tanah. “Sebagian besar lainnya masih dalam penguasaan perusahaan swasta, negara dan juga ada yang dimiliki lembaga yang berafiliasi dengan tentara. Warga korban pengusiran masih berjuang untuk mengembalikan tanah mereka,” pungkasnya.

Reporter: Ridlo Susanto
Editor: NUr HIdayat

Sumber : http://www.gatra.com/nusantara/jawa/...-dari-tanahnya

---


- Peringati G30S, Gus Sholah Serukan Pengibaran Bendera Setengah Tiang
Menyedihkan sekali...
Hak milik mereka di rampas...
Sdh begitu lama sekali proses pengembaliannya
×