alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/581b730fe052271b088b4571/perjuangan-keyakinan-sunda-wiwitan-lewat-film-dokumenter-karatagan-ciremai
Perjuangan Keyakinan Sunda Wiwitan Lewat Film Dokumenter “Karatagan Ciremai”
Perjuangan Keyakinan Sunda Wiwitan Lewat Film Dokumenter “Karatagan Ciremai”

Kegiatan Diskusi Film

Perjuangan Keyakinan Sunda Wiwitan Lewat Film Dokumenter “Karatagan Ciremai”
November 3, 2016 188 0
Facebook

Cirebon, Demosmagz.com – Film Dokumenter “Karatagan Ciremai” yang diputar tadi malam (2/11) menceritakan bagaimana seorang wanita asal desa Cigugur, Kuningan Jawa Barat yang meyakini agama leluhurnya yakni Sunda Wiwitan. Wanita tersebut bernama Anih Kurniasih (15), ia dan keluarganya mengalami diskriminasi, sebab agama yang mereka yakini tidak diakui oleh Negara.

Bahkan, sejak lahir Ani tercatat sebagai anak angkat dari kedua orang tua kandungnya. Alasannya, pernikahan orang tua nya tidak dianggap sah oleh negara. Kerap kali Anih dan adik-adiknya kesulitan mendapatkan akta kelahiran dan administrasi kependudukan lainnya.

Dalam film yang berdurasi 17 menit tersebut, Anih yang saat itu masih SMP mengaku merasa kecewa, dalam lingkungannya kerapkali ia dipandang berbeda karena agama yang dianutnya. Mulai dari teman-temannya, hingga guru yang menyarankan untuk memilih salah satu agama yang diakui negara sebagai salah satu syarat administrasi Ujian Nasional waktu itu.

Selain Anih, beberapa remaja lainnya pun kerap merasa heran karena lingkungan di sekolahnya seolah dikucilkan karena agama yang diyakininya. Menurutnya, bukankah toleransi adalah saling menghargai meskipun berbeda keyakinan. Tetapi yang mereka rasakan adalah diskriminasi yang amat menganggu pikirannya.

Film berdurasi singkat ini mengangkat isu tentang kebebasan berkeyakinan sesuai UUD, pemerintahan yang adil dan tidak mendiskriminasi serta hak mendapatkan kualitas pendidikan.

Dalam pemutaran film di salah satu warung kopi di Cirebon itu, turut dihadiri pembicara yakni Dewi Kanti dari Kuningan, Ady Mulyana sebagai sutradara dan di moderatori oleh Sinta Ridwan. Juga dihadiri oleh beberapa pemain di film tersebut seperti Anih dan teman-temannya. Selain di Cirebon, Film ini juga ternyata akan diputar di Malaysia.

Pada sesi diskusi Dewi Kanti mengatakan bahwa perjuangan mempertahankan keyakinan leluhurnya sangat sulit. Sederhananya, untuk memperoleh pendidikan di sekolah saja cukup lama, karena dalam mengisi formulir pendaftaran ada form untuk mengisi agama. Kemudian, pembuatan KTP, Kartu Keluarga, Akta Kelahiran, Surat Nikah dan lainnya. Padahal, Indonesia menganut semboyan Bhineka Tunggal Ika, namun dalam implementasinya masih banyak masyarakat yang kurang toleransi terhadap keyakinan. Di akhir ia mengaku senang karena dalam diskusi yang dilaksanakan pada Rabu malam (2/11) banyak dihadiri oleh pemuda.

Kemudian Anih yang kini menginjak SMA bercerita bahwa dulu ia pernah pindah sekolah, awalnya Anih bersekolah di lingkungan mayoritas beragama islam, ia merasakan adanya diskriminasi, lalu pindah ke sekolah yang mayoritas beragama Katolik, ia pun secara tidak langsung merasakan hal yang sama dengan sekolah sebelumya. Mereka seolah merasa kalau Anih adalah bukan bagian dari mereka. Namun Anih dan teman-temannya yang hadir malam kemarin mengaku kini sedikit lebih tenang. Baginya, keyakinan Sunda Wiwitan mengajarkan bagaimana bertoleransi dan mencintai sesama, memiliki Tuhan YME, dan lain-lainnya. Katanya, urusan agama adalah bagaimana hubungan ia dengan Tuhannya.

Sutradara asal Yogyakarta, Ady Mulyana mengaku tergerak hatinya dalam membuat film tersebut. ia menganggap film yang ia buat diibaratkan seperti bagaimana ia memiliki anak. Selain film dokumenter “Karatagan Ciremai” tahun 2015, Ady Mulyana juga membuat film dokumenter lainnya yatitu Bunga Bangsa (2009), Jari-Jari Mama (2011) dan sedang menggarap film tentang gerakan sejarah perempuan Indonesia di era 1950-1965. (Ade)

http://gaya.demosmagz.com/perjuangan...tagan-ciremai/
Selain jawa kejawen ternyata ada juga sunda wiwitan emoticon-Embarrassment
Wah ane baru tau gan.
nyimak aja dah emoticon-Traveller
wih, keyen ... emoticon-Matabelo
mejeng aja yak om
Perjuangan Keyakinan Sunda Wiwitan Lewat Film Dokumenter “Karatagan Ciremai”
bantu sundul deh gan emoticon-Cool
Bantu sundul aja gan
Quote:Original Posted By bogreeek
Selain jawa kejawen ternyata ada juga sunda wiwitan emoticon-Embarrassment



juga ada kapribaden, sapta darma, Siwa buddha, dll
Perjuangan Keyakinan Sunda Wiwitan Lewat Film Dokumenter “Karatagan Ciremai”

DISKUSI: Sutradara Ady Mulyadi (tengah) mengisi sesi diskusi mengenai Film Karatagan Ciremai. FOTO: MIKE DWI SETIAWATI/RADAR CIREBON

Film Karatagan Ciremai; Angkat Cerita dari Cigugur, Ditayangkan di Malaysia

Ditulis Oleh: ingpada: Sabtu, 5 November 2016 18:00pada: Headline, Kota Cirebon

Rasa kecewa Anih Kurniasih (15) tertuang dalam sebuah film dokumenter. Film berdurasi 17 menit itu menayangkan kisah Anih yang dalam lingkungannya kerapkali dipandang berbeda karena keyakinan yang dianutnya.

Laporan: MIKE DWI SETIAWATI, Cirebon

KARATAGAN Ciremai, sebuah tontonan yang disuguhkan mengangkat isu tentang kebebasan berkeyakinan sesuai UUD, pemerintahan yang adil dan tidak mendiskriminasi serta hak mendapatkan kualitas pendidikan.

Sebuah film yang menceritakan bagaimana seorang gadis asal Desa Cigugur, Kuningan Jawa Barat yang meyakini agama leluhurnya yakni Sunda Wiwitan. Gadis tersebut bernama Anih Kurniasih (15), keyakinan yang dianut dia dan keluarganya tidak diakui oleh negara.

Film yang disutradarai oleh Adi Mulyana ini diputar bersama di salah satu warung kopi belum lama ini. Adi Mulyana selaku sutradara dan juga pembicara dalam acara tersebut mengungkapakan bagaimana pengamatannya sebelum film ini dibuat.

Ia memaparkan bagaimana keterbukaan penganut Sunda Wiwitan. Mereka mampu menerima agama lain masuk seperti Hindu, Islam, dan Katolik pada abad 13 sampai 17. Menurutnya, disitulah terjadinya intoleransi yang sangat masif.

Ia menyatakan bahwa persoalan negara yang harus melindungi hak-hak masyrakatnya itu sudah pasti harus dilakukan dan negara harus memberi pembinaan, tetapi tidak pada mengganti keyakinannya. “Film ini sebagai kampanye untuk memperjuangkan kalangan yang terdiskriminasi. Saya ingin menyampaikan esensi yang sebenar-benarnya apa arti kebhinekaan,” katanya.

Film tersebut menceritakan Anih yang kesulitan mendapatkan administrasi kependudukan. Berdasarkan alasan negara hanya mengakui enam agama resmi, Anih dan keluarganya senantiasa mengalami diskriminasi. Sejak lahir, ia tercatat sebagai anak angkat dari kedua orang tua kandungnya.

Pernikahan orang tuanya dianggap tidak sah. Akibatnya, Anih dan adik-adiknya tidak memiliki akte kelahiran. Padahal, tanpa akte kelahiran, sulit untuk Anih mendapatkan administrasi kependudukan lainnya. Kemudian Anih yang kini menginjak SMA bercerita bahwa dulu ia pernah pindah sekolah. Awalnya Anih bersekolah di lingkungan mayoritas beragama Islam, ia merasakan adanya diskriminasi, lalu pindah ke sekolah yang mayoritas beragama Katolik, ia pun secara tidak langsung merasakan hal yang sama dengan sekolah sebelumya.

Mereka seolah merasa kalau Anih adalah bukan bagian dari mereka. Namun Anih dan teman-temannya yang hadir malam kemarin mengaku kini sedikit lebih tenang. Baginya, keyakinan Sunda Wiwitan mengajarkan bagaimana bertoleransi dan mencintai sesama, memiliki Tuhan Yang Maha Esa dan lain-lainnya. Katanya, urusan agama adalah bagaimana hubungan ia dengan Tuhannya.

Selain Anih, beberapa remaja lainnya pun kerap merasa heran karena lingkungan di sekolahnya seolah dikucilkan. Menurutnya, bukankah toleransi adalah saling menghargai meskipun berbeda keyakinan. Tetapi yang mereka rasakan adalah diskriminasi yang amat menganggu pikiran.

Turut dihadiri pembicara yakni Dewi Kanti dari Kuningan, Ady Mulyana sebagai sutradara dan di moderatori oleh Sinta Ridwan. Selain di Cirebon, film ini rencananya akan diputar di Malaysia.

Pada sesi diskusi Dewi Kanti mengatakan bahwa perjuangan mempertahankan keyakinan leluhurnya sangat sulit. Sederhananya, untuk memperoleh pendidikan di sekolah saja cukup lama, karena dalam mengisi formulir pendaftaran ada form untuk mengisi agama.

Kemudian, pembuatan KTP, Kartu Keluarga, Akta Kelahiran, Surat Nikah dan lainnya. Padahal, Indonesia menganut semboyan Bhineka Tunggal Ika, namun dalam implementasinya masih banyak masyarakat yang kurang toleransi terhadap keyakinan. “Ini utang peradaban bangsa pada masyarakat adat. Yang berpuluh tahun belum tuntas penyelesaiannya. Perlindungan negara masih setengah hati melayani dan melindungi masyarakat adat,” ujarnya.

Dewi menilai, negara belum hadir melindungi hak konstitusi masyarakat adat yang meyakini ajaran para leluhurnya. Ia memandang, masyarakat dan aparatur negara masih terjebak pada dikotomi agama dan kepercayaan. (*)

http://www.radarcirebon.com/film-kar...-malaysia.html
Wah keren nih gan
Masrizal Al Husyaini

Waspadai Aliran Menyimpang

22 Januari 2016 - 10.20 WIB > Dibaca 930 kali | Komentar

 

Perjuangan Keyakinan Sunda Wiwitan Lewat Film Dokumenter “Karatagan Ciremai”

Share1


Pengaruh pra-sejarah nenek moyang, serta globalisasi, politik, ekonomi, nyata-nyata berimbas dalam segala aspek kehidupan serta menampakkan multi krisis terhadap manusia yang belum mampu untuk menghadapinya, hingga mencari jalan keluar solusi dari masalah yang mereka hadapi. Tidak jarang meraka mencari suatu terapi aliran aliran, kepercayaan yang dianggap mampu untuk menyelesaikan masalah. 

Aliran sesat di bumi Indonesia sudah dikenal sejak zaman Wali Songo, antara lain kasus perseteruan antara Wali Songo dan Syaikh Siti Jenar. Nama Syaikh Siti Jenar yang juga dikenal dengan nama Syaikh Lemah Abang. Menurut Siti Jenar bahwa ketentuan syariat yang disusun ulama dan dipegang teguh oleh Wali Songo merupakan kesalahan dalam memahami teks-teks suci Al-quran dan Hadis. Menurut Siti Jenar Syariat Islam itu berlaku setelah manusia menjalani kehidupan pascakematian. Menurut Syaikh Lemah Abang ini bahwa Allah itu ada dalam dirinya. Pemahaman ini dinilai mirip dengan konsep al Hallaj kesamaan tentang zat Tuhan dengan manusia. Faham ini membuat Siti Jenar disidang Wali Songo dan divonis mati.

Usai zaman para Wali Songo, kemudian masuk ke zaman kemerdekaan aliran kebatinan dan kepercayaan pun kian marak seperti jamur di musin hujan. Pada periode tahun 1950 an sampai 1955 an banyak penganut aliran kebatinan dan kepercayaan yang berani menyatakan identitasnya, mereka membentuk organisasi organisasi atau paguyuban seperti Badan Kongres Kebatinan Kepercayaan Indonesia (BKKI) pada Mei 1955. Untuk menampung keresahan umat beragama Presiden Soekarno kemudian meneken peraturan presiden No.1/ PNPS / 1965 tentang Pencegahan dan atau Penodaan Agama. Peraturan tersebut lantas disahkan sebagai undang undang oleh DPR. Hingga kini, undang undang tersebut menjadi beleid satu-satunya untuk melarang satu keyakinan atau praktik keagamaan yang bertentangan dengan agama sudah berlaku di Indonesia.

Keberadaan aliran kepercayaan secara hukum menurut praktik agama dan kepercayaan itu yang dicantumkan pada UUD 1945. Hal ini dapat di lihat selanjutnya pasca-reformasi dan amandemen UUD 1945 tentang HAM dan Agama telah mengatur keberadaan aliran kepercayaan di Indonesia yang menjadi landasan hukum yaitu pasal 28 (1), (2) dan (3) serta pasal 29 ayat 2 bahwa: “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing masing dan beribadah menurut agamanya dan kepercayaan itu.” Ungkapan tentang kalimat “kepercayaannya itu” dengan pemahaman yang dualitis yaitu; Pertama, frase “kepercayaanya itu” dengan pengertian sebagai aliran kepercayaan yang realitis masih hidup di luar dari kepercayaan agama resmi yang diakui di Indonesia, yang dimaksud itu adalah aliran kepercayaan, kebatinan, dan kepercayaan suku, adat atau agama agama lokal yang saat proklamasi kemerdekaan atau sebelum susudahnya sudah mencapai populasi tumbuh, aliran kepercayaan meliputi beberapa bentuk aliran kepercayaan dan kebatinan antara lain: Pangestu (Paguyuban Ngestu Tunggal), Subud (Susilo Budi Darmo), Sapta Dharma, Tri Tunggal, dan Manunggal. Kemudian kepercayaan kebatinan, atau agama suku turun menurun atau yang sering disebut dengan agama-agama lokal seperti Dayak Maanyaan, Sunda Wiwitan, Batak Parmalin dan lainya. 

Ajaran mereka menurut penulis murni dari kepercayaan kebatinan nenek moyang mereka. Jika suatu aliran mencampur adukkan ajaran dari berbagai macam agama dan berbagai kepercayaan serta kebatinan tentu terjadi kesalahan besar dan berakibat fatal, harus dicegah agar tidak menjadi keresahan di tengah masyarakat. 

Kedua, frase “kepercayaan itu” dengan pengertian kepercayaan yang dianut agama atau kepercayaan atas keyakinan agama yang dianut di Indonesia. Kebebasan tersebut tercermin dari hak mereka untuk menyebutkan agama dalam administrasi sipil dalam membuat dokumen pribadi, afiliansi keberagamaan masyarakat di bagi kepada enam agama yaitu: Islam, Protestan, Khatolik, Hindu, Budha dan Konghucu, sebagai salah satu dari enam  agama resmi. Identitas agama tersebut dicantumkan dalam membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP), hal ini sesuai dalam UU No 3/2006 tentang Administrasi Kependudukan.

Peranan Polisi dan Bakorpakem 

Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah alat negara penegak hukum yang terutama bertugas memelihara keamanan di dalam negeri dan di dalam menjalankan tugasnya selalu menjunjung tinggi hak hak rakyat dan hukum negara.  Yakni mewujudkan terciptanya rasa aman dalam kehidupan masyarakat, ketertiban, ketentraman, keselamatan serta kepastian  hukum. Untuk melaksanakan penanggulangan terhadap aliran kepercayaan yang menyimpang maka alternatif  prioritas untuk menentukan langkah pelaksanaan tugas preventif maupun represif terhadap aliran kepercayaan dalam masyarakat, Polri tidaklah berkerja sendiri, melainkan diatur dalam wadah kerjas ama yang disebut Badan Koordinasi Pengawas Aliran kepercayaan Masyarakat, selanjutnya disebut dengan Bakorpakem. 

Bakorpakem ini terdiri dari unsur pemerintah pusat, daerah, kejaksaan, kehakiman, kementerian agama, dan tokoh tokoh agama, mengingat masalah aliran kepercayaan menyimpang di samping sebagai pelanggaran norma yuridis atau norma hukum, norma agama yang telah baku menjadi syariat, norma kesopanan, serta norma kesusilaan, dan tentunya jika dibiarkan akan berpotensi menjadi konflik sosial di tengah masyarakat.

Ciri-ciri Aliran Menyimpang

Untuk menetapkan suatu aliran menyimpang melalui fatwanya Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam  Rakernas tahun 2007 terdapat 10 ketentuan yang digunakan untuk menetapakan suatu aliran sesat atau tidaknya yaitu; Pertama, mengingkari salah satu rukun Islam dan rukun Iman. Kedua, meyakini turunnya wahyu setelah Alquran. Ketiga, mengingkari kebenaran Alquran dan Hadis Nabi Muhammad SAW. Keempat, melakukan penafsiran Alquran yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir. 

Kelima, mengingkari kedudukan hadis Nabi Muhammad SAW sebagai sumber hukum Islam. Keenam, melecehkan, menghina, dan merendahkan para Nabi. Ketujuh, mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai nabi rasul serta penutup para nabi dan rasul di akhir zaman. Kedelapan, mengubah, menambah atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariat, seperti ibadah haji tidak ke Makkah. Kesembilan, mengingkari kewajiban salat fardhu. Kesepuluh, mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’i, seperti; mengkafirkan muslim hanya bukan kelompoknya. Jika suatu aliran memiliki salah satu dari kriteria tersebut di atas, maka dianggap menyimpang dari ajaran agama serta ditetapkan sebagai aliran sesat. Wallahu ‘alam.***

Masrizal Al Husyaini, Dai Ikmi Kota Pekanbaru. Alumnus Pondok Pesantren Musthafawiyah Purba Baru



Read more: http://www.riaupos.co/4281-opini-waspadai-aliran-menyimpang-.html#.WB-kJ6CyTqD#ixzz4PGekyyqJ
Perjuangan Keyakinan Sunda Wiwitan Lewat Film Dokumenter “Karatagan Ciremai”
ane coba resapi bray emoticon-Belo
Ni negara indonesia masih terbelakang, penganut agama tradisional masih di diskriminasi. Padahal masih mending agama2 begini. daripada agama impor dari timteng macam islam/kristen. Gak banyak bikin masalah.
Masyarakat Baduy Cinta Damai dan Antinarkoba

Perjuangan Keyakinan Sunda Wiwitan Lewat Film Dokumenter “Karatagan Ciremai”

Ilustrasi. Suku Baduy. (Foto: Dok. satuharapan.com)

LEBAK, SATUHARAPAN.COM - Masyarakat Baduy di pedalaman Kabupaten Lebak hingga sampai saat ini mencintai kedamaian tanpa kekerasan juga antinarkoba.

"Jika daerah itu cinta damai dan antinarkoba maka akan terwujud kondisi aman, uman dan amin yang pada akhirnya bisa menyejahterakan masyarakat," kata Pemuka Baduy yang juga Kepala Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak Saija di Lebak, Minggu (20/11).

Selama ini, masyarakat Baduy sangat mencintai Bhineka Tunggal Ika juga persatuan dan kesatuan bangsa.

Sebab, masyarakat Indonesia beraneka ragam perbedaan mulai suku, bahasa, agama dan budaya.

Masyarakat Baduy dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kita perkuat persatuan dan kesatuan bangsa.

"Kami sejak nenek moyang hingga kini warga Baduy mencintai kedamaian tanpa kekerasan juga antinarkoba," katanya menjelaskan.

Menurut Saija, masyarakat Baduy yang memiliki 3.365 Kepala Keluarga (KK) Rukun Tetangga 65 dan Rukun Warga 13 dan Lembaga Adat 96 adat.

Namun, saat ini masyarakat Baduy mengeluhkan jika bepergian tidak memiliki agama karena dalam kolom E-KTP tidak tercantum agama Sunda Wiwitan.

Padahal, negara menjamin keberagaman Khebinekatunggalikaan itu.

"Kami minta identitas agama masyarakat Baduy bisa tercantum pada KTP seperti dulu lagi," katanya.

Saija mengatakan, pihaknya memberikan apresiasi adanya program Alokasi Dana Desa (ADD) sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan.

Penggunaan ADD tahun 2016, kata dia, dialokasikan pembangunan jembatan menuju Kecamatan Sobang, perbaikan Pusat Pembantu Puskesmas (Pustu) di perbatasan Kecamatan Bojongmanik.

Selain itu juga akan dialokasikan posko pengamanan hutan adat.

"Kami berharap penggunaan ADD dapat meningkatkan kesejahteraan," katanya. (Ant)



Editor : Diah Anggraeni Retnaningrum

http://www.satuharapan.com/read-deta...an-antinarkoba

patut ditiru nih, terbukti kalo kekerasan sektarian bukan budaya bangsa ini
pejwan isi nya sampah emoticon-Busa
Toleransi di Tanah Intoleran (3)

Jumat, 18 November 2016 | 16:07 WIB

      

Perjuangan Keyakinan Sunda Wiwitan Lewat Film Dokumenter “Karatagan Ciremai”

Kompas/WAWAN H PRABOWO

Warga melintas di dekat mural yang menyuarakan semangat kebersamaan dalam perbedaan di Jalan Kramat Jaya Baru, Jakarta Pusat, Senin (31/3/2014). Mural tersebut menjadi media bagi warga sekitar untuk menjaga kerukunan dan kedamaian di tengah perbedaan suku, agama, warna kulit, dan jender.

PURWAKARTA, KOMPAS.com – Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi bergegas. Ia mempercepat langkahnya dengan wajah yang terlihat kesal.

“Terserah agama mereka apa, tugas kita sebagai pemerintah adalah menguruskan KTP mereka. Mereka harus punya KTP, KK, akta kelahiran, akta nikah, dan berbagai catatan kependudukan!” ucapnya dengan nada tinggi kepada sejumlah pejabat di Cimahi, beberapa waktu lalu.

Kekesalan Dedi memuncak ketika mendapat kabar sekelompok penghayat Sunda Wiwitan di Kampung Cireundeu, Cimahi, belum mengantongi identitas kependudukan akibat agama leluhur yang dianutnya. Padahal Cimahi dipimpin oleh Golkar yang berada di bawah naungannya.

“Banyak alasan mengapa saya membela penganut agama leluhur,” tutur Dedi.

Baginya, penganut agama leluhur adalah penjaga adat, tata nilai, tata kelola alam, dan bahasa. Bahasa daerah buat mereka bukan hanya sekedar bahasa manusia, tapi bahasanya dengan Tuhan.

Begitupun dengan lingkungan. Contohnya Cipta Gelar Sukabumi, dan Baduy Banten, merekalah yang menjaga hutan-hutan tersebut. Jika agama mereka hilang, maka bahasa pun bisa hilang. Habitatnya bisa hancur, hutan hancur, dan sumber air pun akan hancur.

“Karena kita butuh mereka, keyakinan mereka harus kita lindungi. Selama puluhan tahun mereka hidup menderita. Mereka tidak punya KK, KTP, akte kelahiran, akte nikah. Mereka menjadi penduduk ilegal di negeri ini yang tidak mempunyai hak-hak pribadi,” tegasnya.

Itulah mengapa, 2015 lalu dirinya menyurati Presiden Jokowi dan meminta agama leluhur diakui negara.

(Baca juga: Toleransi di Tanah Intoleran (1))

Pelihara budaya

Perjuangan Keyakinan Sunda Wiwitan Lewat Film Dokumenter “Karatagan Ciremai”

KOMPAS.com/RENI SUSANTI

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi memegang cepot, salah satu karakter dalam wayang Sunda.

Dedi mengaku tidak peduli dengan anggapan orang bahwa dirinya terlalu Sunda Wiwitan dan mengarah ke hinduisasi. Berbagai kebijakan yang dikeluarkan olehnya seperti patung, kain poleng, itu tak lebih dari sekedar budaya.

“Saya ini menjual budaya sebagai ikon Purwakarta. Saya membuat patung sebagai estetika bukan untuk disembah,” tuturnya.

Jika pengkritik tersebut konsisten, seharusnya jangan patung pewayangan saja yang dipersoalkan, patung pahlawan, patung Harimau Lodaya di Kepolisian juga tidak boleh ada.

Begitu pun anggapan wajah Purwakarta seperti Bali. Dari hasil penelusurannya dengan mengumpulkan akademisi, peninggalan peradaban Sunda hampir tidak ada. Hanya ada beberapa situs.

“Dalam pertemuan tokoh Sunda dan Bali, disebutkan Bali itu Sunda kecil. Sunda besarnya berada di tanah Sunda,” tuturnya.

Sebenarnya, sambung Dedi, yang dikhawatirkan pengkritiknya bukan Bali, tapi Hinduisasinya.

“Bali bukan Hindu. Bali adalah Bali. Justru kita ini harus bangga pada orang Bali. Orang Bali berhasil melakukan balisasi Hindu,” tuturnya.

Karena kebijakannya tersebut, Dedi mengaku, ancaman kerap menghampiri. Bahkan setelah ia mengeluarkan surat edaran, ancaman dari beberapa daerah semakin menjadi.

“Enam bulan lalu saat perjalanan ke Garut, mobil belakang dilempar batu. (Mobil) depan dihantam, dan mobil saya dikejar 25 orang mengendarai motor sambil bawa pedang,” tuturnya.

Pernah juga di Bandung Barat ia dicegat 50 orang. Mereka tidak bicara, tapi memukuli mobil. Untungnya, pada dua kejadian tersebut, ada polisi.

“Surat edaran ini sebenarnya didukung banyak pihak. Tapi dukungannya dalam diam. Sebagai seorang pemimpin, saya harus tegak di tengah hujan batu,” ucapnya.

 

Perhatikan pengganti Dedi

Pemerhati Politik Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Muradi mengatakan, dalam pemerintahannya, Dedi mengintegrasikan budaya dan agama, dalam pola hubungan antar masyarakat.

“Secara prinsipil (itu) basis dari kebhinekaan. Pancasila mengajarkan toleransi, dan lain-lain. Persoalannya, secara personal Dedi kerap memperlihatkan dirinya mengarah ke Sunda Wiwitan meskipun ia seorang muslim. Sehingga orang melihat Dedi bukan penganut agama yang baik,” tuturnya.

Selama ini, orang-orang di Purwakarta tidak berani melawan Dedi karena dirinya banyak membantu dan ia memiliki power sebagai penguasa. Namun setelah tidak berkuasa, orang-orang yang diam selama ini bisa bergerak melakukan perlawanan.

“(Tugas) Satgas harus merasionalisasikan hal ini. Saat ini, orang takut (pada Dedi). Tapi begitu dia enggak jadi (turun dari bupati/gagal jadi Gubernur), orang berani menolak,” tuturnya.

Seperti di Bekasi. Di bawah pimpinan orang PDIP, Bekasi memiliki patung. Begitu pemimpinnya diganti oleh orang yang lebih agamis, patung langsung dihancurkan.

“Kalau itu terjadi (di Purwakarta), secara prinsip dia enggak berhasil. Orang menunggu waktu. Karenanya, dia harus berpikir pengganti dia harus yang seirama dengan apa yang dia lakukan sekarang,” tuturnya.

Perjuangan Keyakinan Sunda Wiwitan Lewat Film Dokumenter “Karatagan Ciremai”

KOMPAS.COM/IRWAN NUGRAHA

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menghadiri acar seren taun di Kampung Adat Cigugur, Kuningan, Jawa Barat, pada Sabtu (24/9/2016) malam.

Gayanya ini bisa menjadi role model jika dia mampu merasionalisasikan apa yang menjadi program atau sesuatu yang ditawarkan kepada publik.

Sementara itu, pengamat Komunikasi Politik dari Unpad, Suwandi Sumartias mengatakan, kebijakan surat edaran itupun lebih pada politik. Hanya partai-partai tertentu saja yang mendukung dia. Tapi kelompok partai yang relatif fundamentalis, sebenarnya memisahkan diri.

“Masalahnya, di kalangan ulama sendiri ada beberapa yang pragmatis. Tatkala iming-iming secara ekonomi, bantuan dana untuk pesantren, (menjadi) berbalik. Dan ini bukan sejarah baru. Karena di politik Orde Baru juga demikian. Bagi mereka, politik adalah transaksi,” imbuhnya.

Meski demikian, kebijakan yang dilakukannya tetap bisa menghasilkan suara. Karena tokoh-tokoh yang berbasis budaya maupun agama tentunya mempunyai massa. Walaupun memang di Jawa Barat, ulama menjadi vote getter untuk mendulang suara.

“Cuma apakah jangan-jangan karena ini transaksional, tujuan politik tidak kena. Lagi-lagi, demokrasi Indonesia  itu belum siap,” ungkapnya.

(Baca juga: Toleransi di Tanah Intoleran (2))

Dukungan dari Masyarakat

“Saya setuju toleransi. Itu memang harus digalakan, bagaimana masyarakat tidak menganggap perbedaan sebagai hal yang luar biasa. Dan itu sudah terjadi di Purwakarta, kami orang yang toleran,” tutur Teti Kusmiati (25) warga Campaka, Kabupaten Purwakarta.

Namun ia berharap, toleransi yang digembar-gemborkan tidak mengarah pada pendangkalan akidah seperti yang dikhawatirkan sebagian orang. “Islam ya Islam, Kristen ya Kristen, tetap pada jalannya masing-masing, tapi kami saling menghormati dan hidup berdampingan,” ungkapnya.

Dukungan pun datang dari para tokoh agama. Seksi Hubungan antar Agama (Hag), Gereja Yos Sudarso Purwakarta, Zakarias Kayus mengatakan bahagia dan bangga jadi warga Purwakarta yang menjunjung toleransi.

“Purwakarta kota damai, bermasyarakat, dan indah. Kami tidak tahu apa agama mereka, begitupun mereka. Kehidupan kami sehari-hari indah, tidak terlihat adanya perbedaan,” ujarnya.

Sebagai penganut Katolik, Zakarias mengaku, tidak mengalami diskriminasi. Padahal masyarakat Purwakarta didominasi muslim. Apalagi dalam acara keagamaan, muslim maupun agama lainnya kerap membantu menyukseskan acara Katolik.

Ia teringat saat tabligh akbar beberapa waktu lalu. Ia dan tokoh agama yang lain satu mobil berkeliling Purwakarta. Dan di saat Natal, semua tokoh berbagai agama ikut mengamankan bersama TNI, Polri, dan LSM seluruh agama.

“Semakin betah hidup di Purwakarta. Semuanya enak. Kalau ada masalah, didiskusikan dan mencari win-win solution. Kalau ada pandangan negatif terhadap agama lain, kami memberikan pengertian bukan itu maksudnya,” terangnya.

Salah satu keberhasilan toleransi di Purwakarta adalah ketika kabupaten tersebut mengadakan acara besar yang dihadiri puluhan ribu orang. Setiap acara tersebut tidak pernah ada gesekan. Karena semua pihak merapatkan barisan dan mendukung kesuksesan acara.

“Ulang tahun Purwakarta, Lebaran, Natal, semua pestanya muslim, pestanya Katolik,” imbuhnya.

Acep Munawar, pengurus Pondok Pesantren Al Hikamus Salafiyah mengatakan, sama dengan pesantren NU lainnya, konsep pesantrennya untuk menjaga kemaslahatan ummat, kebhinekaan dan ke-Indonesia-an.

“Coba cek sekarang yang demo, dari pesantren bukan? Jawabannya bukan. Bisa dibedakan mana yang santri dan mana yang bukan,” tuturnya.

NU, sambung Acep, berdakwah dengan cara yang santun. Bahkan para kiai berdakwah dengan penuh toleransi, bukan provokasi. Kalau bernada provokasi, dikhawatirkan Indonesia akan seperti Suriah.

“Kami mengajarkan ngaji, bersosial. Bahkan jangankan orang Islam, kalau kita punya makanan, maka kita wajib memberi kepada tetangga kita yang non muslim. Apalagi jika mereka dalam keadaan kelaparan,” imbuhnya.

Begitupun dengan tokoh agama Hindu, I Made Kandhi. Ia mengungkapkan, dalam keseharian dirinya menebarkan toleransi dan kedamaian. Karena dalam ajarannya pun, Hindu mengajarkan toleransi.

Toleransi ini perlu dijaga karena Indonesia sangat majemuk.

Seperti yang disampaikan founding father Indonesia, Soekarno:

“Negara Republik Indonesia ini bukan milik sesuatu golongan, bukan milik sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke!"

 

TAMAT

 

Tulisan berseri ini adalah hasil liputan Reni Susanti, kontributor Kompas.com di Bandung, sebagai pemenang program Fellowship Liputan Keberagaman 2016 yang diinisiasi oleh Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk).

http://regional.kompas.com/read/2016...an.3.?page=all
komeng dulu, baru baca emoticon-Cool
gembok sekalian emoticon-Cool