alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/581b489260e24b13058b4567/takdir-syarifah
Takdir Syarifah
ini cerita saya sendiri gan, alhamdulillah dapet lah terbaik ke 2 di sekolah ane..
check this out, dont forget to give cendol

~
~
Pagi hari di Guguk Panjang, Kota Bukittinggi menghiasi hujan yang semilir di ladang pari Mahmud Amrullah, pedagang beras dari jawa yang meminang Hidayati Alisyahbana, gadis asli bukittinggi, ia dikaruniai putri tunggal yang ia beri nama Syarifah Alisyahbana, gadis SMA Negeri IB berparas cantik nan kulit langsat bak ibundanya, berhati emas seperti ayahandanya, walau ia bukan satu-satunya gadis di tanah minang, ia kian disanjung karena tersohornya pebisnis datuk Amrullah yang mengirim beras ke seantero nusantara 1967 silam, ia adalah gadis yang mulia hatinya dan tak merusak kodrat seorang puan, ia sering menyelipkan uang saku kedalam kantung pengemis setiap pulang sekolah, ia tidak pernah memalingkan mukanya untuk menyapa orang di sekitarnya, walaupun teman yang membencinya tetap ia sapa dengan senyuman, hingga pada tahun 1968 perkebunan dan ladang pari datuk Amrullah gulung tikar akibat krisis ekonomi keluarganya, datuk terpaksa membantu adik bungsunya yang berada di Mesir mengalami gagal jantung, serta kakak angkatnya yang menjadi penumpang pesawat jatuh di perairan Malaka, akibat banyak tragedi yang terjadi, Syarifah atau yang disapa Rifah ini kehilangan senyum manisnya karena kala itu juga ia harus berputus sekolah dan berpindah ke tanah Padang untuk pekerjaan ayahnya yang menjadi pekerja kasar, ia harus putus sekolah walau tahun itu juga ia harus lulus dari SMA, “sudah jangan bersedih ayah tak akan kecewakan kamu kelak.” Tutur ayah Rifah, “maaf ayah, aku hanya tak lepas kendali tuk menahan emosi.” Jawab Rifah “dan juga ayah tidak perlu bersusah payah untuk mencari pendidikan untukku lagi.” Lanjutnya tersenyum, ayahnya hanya tersenyum dan menangis disamping Hidayati yang 37 tahun mengalami suka dan duka bersama.

29 September 1968 ia dan bapak ibunya berpindah ke salah satu daerah di Kota Padang, Lubuk Alung di desa inilah ia memulai lagi senyumnya dan beberapa diantara senyum itu adalah tangis, ayahnya bekerja di perkebunan besar daerah Lubuk Alung sebagai pekerja kasar suruhan Datuk Abu Bakar, orang besar yang adalah suami Hajar Dewi Aisyah dari Negeri Jiran terkenal dengan kebengisannya seperti memutus pekerjaan seorang tunawisma, mempekerjakan orang tua dan anak kecil pekerjaan kasar, namun ia dikaruniai putra bernama Habiburohman ia memiliki hati kemilau seperti ibunya, sangat terbalik dengan ayahnya, tapi ia tidak pernah sekalipun mendapat hentakan dari ayahandanya, karena ia adalah putra tunggal penerus perkebunan Lubuk Alung, siang hari menjelang sore, Amrullah dipekerjakan memacul parit, saat putrinya mendatanginya untuk membawakan sebungkus nasi, ia berpapasan dengan Habiburohman, yang juga sering mengantar nasi dengan lauk yang sedap kepada pegawai ayahnya, dan menyapa gadis langsat itu “hai gadis, bolehkah aku mengetahui namamu?” Tanya ia, “dia putriku, Syarifah kau panggil dia Rifah” Potong ayah Rifah, sementara itu dia hanya tersenyum berparas merah muda tersimpan di pipinya yang elok, “oh ya Rifah, ini putra dari Datuk Abu Bakar, dia pria yang baik” Ujar ayah, “walau saya putra seorang yang namanya sudah besar, aku tak ada bangga sekalipun, aku ingin mencari jalan aku sendiri.” Jawab Habiburahman, “oh ya sebelumnya saya belum kenalkan nama saya, saya Rohman” Kata putra orang besar yang bergegas meninggalkan Amrullah dan Rifah, “suatu nanti aku kimpoikan kau dengan dia, bukan tuk dapatkan hartanya, tapi dia memang orang benar” Tutur ayah, “ah ayah..ini sudah makanannya Rifah sudah habis waktu membantu bunda.” Jawabnya malu meninggalkan ayahnya dengan dua bungkusan nasi,

Hari ke hari, pemuda orang besar yang disapa Rohman ini tak pernah kehilangan waktu untuk menyapa gadis cantik pendatang dari Bukittinggi, tiada lain adalah Rifah, putri seorang pekerja ayahnya, walaupun pemuda ini mempunyai umur yang sembilan tahun lebih tua dari gadis cantik itu ia tetap tak pernah meluputi kebiasaannya, “dari mana saja kau Rohman, apa kau mengantar nasi lagi? Tak perlu lah kau susah payah berlaku hal sia-sia itu Engku Muda, kau juga akan menjelekkan martabat orang tua kau tu,” Sapa sahabat Rohman, “Hah apa lah kau Agung, jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi, aku sudah bersikeras aku akan mendapatkan suksesku bukan dari ayah.” Jawabnya tegas, “hei santai saja, aku tak berniat jelek” Jawabnya, “apa kau sedang bersedih?” Tanya Agung, sapaan dari Rohman, “justru aku sedang berbahagia, kau tau? Ada gadis pendatang yang cantik sekali, ia putri pekerja ayah, dia cantik sekali, rambutnya panjang terurai, matanya hitam, kulit nya kuning bak limau, senyumnya buatku tersandung beberapa kali di jalanan.” Ucapnya, “halah kau memang tak pernah jatuh cinta, berlebihan sekali kau, memangnya siapa namanya?” Tanyanya, “Syarifah Alisyahbana” Singkatnya, “alisyahbana?? Dia orang besar?”, Rohman hanya menggelengkan kepala tak tahu.

Siang itu ayahnya sedang bekerja di parit, di bawah terik matahari, bersama banyak pekerja kasar, disana juga terdapat datuk dengan kedua pengawalnya, sangat tidak biasa sekali ia datang ke lapangan, tak sengaja ia melihat kedatangan putranya yang sedang mengantarkan sebungkus nasi kepada Amrullah, ia sangat kaget, bisa-bisanya anak semata wayangnya, mendapat peran lebih rendah dari seorang buruh, mengantar makanan kepada pekerja, segeralah ia menyuruh orangnya menghampiri Rohman dan membawanya, setelah membawa ia kembali ke datuk, “kena kau Rullah, tak lama lagi kau tak dapat kerja, kau akan diusir dari Lubuk Alung” Ucap tiba-tiba seorang pekerja yang sedang menanam pari, Rullah hanya terdiam dan pucat muncul dari wajahnya, “apa-apaan kau Rohman, selama kau hidup aku percaya pada kau, tak kusangka kau khianati ayahmu ini, kurang apa kau, mempermalukan orang tua, siapa orang itu? Apa…” Ucap datuk yang kemudian dipotong oleh Rohman “tidak ayah, aku tidak ada maksud untuk mempermalukan ayah, aku hanya membantunya, dia sangat membutuhkan, tolong lah ayah, hanya sekali ini saja.” Potongnya, “terserah apa yang kau ucap, aku akan mengusirnya dari tanah Padang.” Ucap datuk meninggalkan Rohman, lalu menjelang sore itu Rohman mendatangi rumah Rifah “assalamualaikum.”,”waalaikumussalam.” Datanglah Rifah menghampiri Rohman, “ada apa perihal kau kemari tuan?” Tanya sopan, “tak usah kau panggil aku tuan, tidak enak, aku kesini tuk minta maaf.” Jawab Rohman, “minta maaf untuk apa?” Tanya lagi Rifah, “mungkin aku tak bisa melarang ayah untuk mengusir keluarga kau, tapi kau tau jika ayahku berkehendak? Toba pun ia akan beli jika ia mau.” Ujarnya, “tapi kenapa? Apa yang salah dari ayahku, ibuku juga seorang petani disana, kurang apa pengabdianku disana? Apa aku harus juga memikul tanah seperti ibu? Memacul parit seperti ayah? Sudah Rohman, jangan kau datang lagi, maaf, Assalamualaikum.” Ucapnya dengan tangisan diikuti menggebrak pintu dari kayu itu, petang itu juga ia, Rifah, dan keluarganya diusir dari tanah minang, “kau bedebah, Rohman dia adalah penerusku, apa gajimu kurang? Hingga kau ingin menikahkan anakku dengan anakmu yang kolot itu, Alisyahbana anakmu itu tidak berarti, tidak mungkin aku terima dia, kau memang pernah jadi datuk di Bukittinggi, tapi sekarang kau dibawah kuasaku.” Bentak Datuk Bakar, “apa kau bilang? Aku membesarkan anakku dengan sepenuh hati bersama Hidayati, yang juga mengabdi kepadamu, membiayai ia bersekolah, aku akan terima aku diusir dari Padang, tapi aku tak akan terima anakku dihujat oleh orang kasar sepertimu, terima kasih.” Jawab Rullah dengan meninggalkan rumah Datuk.

Sesampainya di rumah malam itu, “Rifah, Ati kita harus bergegas meninggalkan Padang, kita harus bekerja, untuk bertahan hidup, kita pergi ke Pahang.” Ucap Rullah kepada anak istrinya, karena mereka sangat menurut kepada sang kepala keluarga, malam itu juga mereka menuju Tanjugbalai untuk pergi ke Negeri Jiran, entah apa yang dia rencanakan, sesampai di sana, mungkin ketika dulu ia masih menjadi saudagar kaya, ia mempunyai hubungan baik dengan seseorang di luar sana, ia menikahkan Syarifah Alisyahbana dengan putra pedagang dari Minang yang tinggal disana Saiful Razi, putra dari Abdullah seorang sahabat dengan Amrullah yang menikah dengan Ramliyah yang dulu juga sanak dari Hidayati Alisyahbana, “nak kamu akan menikah dengan Razi, pemuda tampan yang lebih baik dari Rohman, peringainya tegas namun tidak keji, lugas namun pemilik hati.” Ujar Rullah kepada Rifah malam itu di atas kapal laut “sebagaimana rupa pemuda itu, hanya untuk ayah aku sanggup dipinangnya, asalkan bunda bahagia, aku sanggup menerimanya.” Jawab Rifah, “tak usah bersedih nak, lupakan pemuda tanah minang itu, ia takkan membuatmu bahagia, bahagia datang dari perasaan bukan dari kekayaan.” Ucap Hidayati, Rifah hanya termangu, terdapat kesedihan yang amat berat di mukanya, ia sudah menjalin perasaan dengan Rohman, beberapa tahun terakhir, hingga pada tahun ke lima ia harus dinikahkan dengan seseorang yang sama sekali belum ia kenal.

Sesampainya di Pahang, keluarga Rullah ditempatkan di rumah yang berukuran sedang, dengan kamar tiga, rumah sahabat Rullah, Abdul seorang petinggi di Malaysia dari tanah Minang, setelah bercakap-cakap layaknya teman lama tak bertemu, Rifah berjalan ke belakang Rumah, dan bertemu pemuda tampan berbadan sedang, berpenampilan sederhana “maafkan aku, kau memang asing denganku, hati seorang puan tak mudah berpindah, aku tidak akan memaksa untuk kau dinikahi olehku, aku akan menghormatimu.” Ujarnya dengan menghadap rumput ilalang di belakang rumah, “tidak, orang tuaku akan bahagia, aku harus bahagia.” Jawab Rifah, “namaku Razi, aku akan meminangmu.” Ujar Razi dan menoleh ke Rifah, dia hanya terdiam, tidak menampilkan ekspresi senang ataupun sedih, tidak pula mengeluarkan perasaan sedikitpun kepada Razi, “namaku Syarifah, Rifah.” Jawabnya, “aku bukan orang seperti Rohman, aku juga tidak selesai sekolah karena ekonomi keluarga, aku juga alami seperti yang kau alami, orang tuaku diusir dari Datuk Bakar, walau begitu aku dapat membantu mereka, yang membesarkanku, sebesar itu.” Sambil menunjuk bulan, Rifah melihat bulan yang ada di langit, “ya aku tahu, aku masuk dulu ya.” Meninggalkan Razi di belakang rumah.

Pada tahun 1973 terhitung tiga tahun setelah Syarifah tinggal di Pahang, Saiful Razi calon peminang gadis Bukittinggi itu usahanya tak berbuah apapun, sehari siang dan malam ia sudah mencari hati gadis itu, menyiapkan makanan dan mengambilkan pakaian, ia tak pernah dihiraukan bagai pajangan rotan di rumah lama, padahal cinta ia tulus kepada Rifah, namun mungkin Rifah masih tak dapat hati tuk berpindah ke hati Razi, hari ke hari berjalan seperti biasa, tidak pada hari itu, Hidayati ibu Syarifah penyakitnya kambuh lagi, padahal Radang Parunya sudah hilang ketika ia berumur 37 tahun, dan yang ini ia rasa semakin parah, batuknya berdarah, kepalanya serasa pening, dan nafasnya pun berbau anyir, dikala itu perasaan Syarifah semakin campur aduk, “Syarifah..”Panggil ibunya, “iya ibu..”Jawabnya sambil membawa secangkir teh Naga menghampiri ibunya, “ada apa kau nak?, tak habis pikir aku kau bisa menolak pemuda seribu hati itu, dia seperti pembantu mu kau tau?, dia pemuda tulus, tak pernah berbuat apapun.” Ujar ibunya, “iya ibu aku tau, dia sangat baik kepadaku, tapi aku masih tak bisa melupakan Rohman.” Ucap Rifah, “tapi apa kau tega jika ayahamu dikelakukan buruk oleh Tuk Bakar?” Tegur ibunya kembali, “bukan seperti itu, tapi benar juga yang ibu ucap minggu lalu, aku tak kan pernah dapat kembali ke Lubuk Alung.”
Sambil menegukkan teh itu kepada ibunya, “kau akan tahu bagaimana Razi, ia seperti ayahmu ketika muda dulu.” Jawab ibunya dengan mengelus kepala Syarifah.

Di tahun ke empat Syarifah tinggal di Pahang, Hidayati mengalami koma selama satu minggu, semua saudaranya dari Bukittinggi datang untuk mendapatinya, namun tak ada hasil dari dokter, Hidayati Alisyahbana istri dari Mahmud Amrullah, ibu dari Syarifah Alisyahbana menghadap ke Rahmatullah, ia meninggalkan suami dan anaknya sendirian, semua saudara menangis tersedu-sedu, ia mengenal Ati sebagai gadis desa Bukittinggi yang pandai, ia suka membantu handai taulan dan tetangganya memanen padi, membawakan baju cucian dari sungai, ia juga dikenal sebagai gadis kulit langsat dan parasnya pun membuat pemuda desa terpanah kepadanya, karena itulah banyak yang bersedih karena beperginya Hidayati, tidak terkecuali anaknya Syarifah, ia adalah anak yang patuh terhadap orang tuanya, dia memikir sangat dalam perkataan ibunya, dan ia berkeinginan tuk menerima hati Razi, ia memutuskan tuk menikah dengan pemuda Pahang darah Minang tersebut, malam itu persis di belakang rumah Abdullah ayah Razi, datanglah gadis dengan pakaian rok hijau motif bunga sebetis menghampiri anak Abdullah, “ada apa kau datang kemari Rifah? Kau ingin marah kepadaku, marahlah.” Ucapnya pasrah, “bukan, aku ingin menerimamu Abang, aku kan ajari kau cintai aku, aku juga kan belajar cintai kau, aku ingin jadi makmum mu, bukan karena pinta ibundaku, tapi aku mencintaimu dari hatiku.” Ujar Rifah memeluk Razi malam itu, “aku juga kan belajar darimu, aku kan menjadi imam mu, aku kan meminangmu, menyayangimu, hingga akhir zaman, layaknya seorang suamimu.” Jawabnya haru, akhirnya hubungan mereka pun terjalin, ia dinikahkan dengan Syarifah pada tahun 1974 di Pahang, Malaysia, mereka bahagia sebagai seorang suami dan seorang istri, terdapat kembali senyum puan tanah Bukittinggi itu, paras ayunya terpancar hingga Cumiarkan bunga sepanjang jalanan.

Tapi di awal tahun 1975, Razi ditugaskan untuk bekerja di Vietnam oleh ayahnya, namun ia tak mengajak istrinya bersamanya karena terlalu berbahaya, pada April tahun itulah merupakan akhir dari perang Vietnam, Razi ditembak mati sebagai orang sipil, dia tidak ikut andil dalam peperangan, tapi ia terkena batunya, ia meninggal pada 23 April 1975, namun Syarifah tidak mendapatkan kabar apapun dari abangnya itu, baru setelah ia melihat berita televisi, bahwa beberapa warga Malaysia tertembak secara tidak sengaja, salah satu namanya adalah Saiful Razi, ia tak sanggup melanjutkan berita tersebut, tangis membanjiri ruang keluarga Abdullah, baru setahun ia rasakan mencintai, dicintai dan direstui, kebahagiaan nya di ambil begitu saja hari itu, ia menangis sejadi-jadinya, “sabar nak, doakan saja jenazahnya tertemukan lantas kita dapat mendoakannya disini.” Ucap Rullah, “ayah, aku terlalu berdosa kepada abangku, aku menyia-nyiakan ia yang tulus mencintaiku, kenapa Allah merenggut ia secepat itu dan selama aku baru mencintainya.” Tanyanya menangis tersedu-sedu tak tertahankan di pelukan Rullah, “sudahlah, itu sudah takdir Allah, kau juga sudah berlaku terbaik kepada abangmu, jangan menangis.” Tutur ayah kepada anaknya, akhirnya Syarifah hidup hanya bersama ayahnya dan berpindah ke tanah jawa, ia sudah lupa dengan Rohman, namun ia mengingat betul ibu dan abangnya Saiful Razi, cinta sejatinya di dalam lubuk hatinya, “inilah ayah, takdir anakmu, takdir Syarifah dari tanah minang, yang harus menerima keadaan yang seharusnya tak ia terima.” Ucapnya dengan menyandarkan kepalanya pada pundak ayahnya, “ada hikmahnya anakku, Allah akan memberi yang terbaik dari semuanya ini.” Sembari memeluk anaknya diatas kapal laut dari Malaysia menuju Tanah Jawa, untuk mencari kebahagiaan yang sesungguhnya.
ane pahami dulu ya bray emoticon-Cool



edited ..

kepanjangan bray .. gak jadi lah emoticon-Ngacir
Tulisan kabeh,poseeengg borr
Komen dulu. Baca kalau sempett emoticon-Cool




# SalamDariBLORA
ijin nyimak dlu dah bre emoticon-Cool
Salah lobang bre
liat tulisannya aja udah puyeng cees
terus di jawa Rifah merintis usaha warung nasi padang, dan dialah pelopor maraknya warung nasi padang di jawa.
lalu menikah lagi dan berbahagia dgn suaminya dr tanah jawa, hingga mereka dikaruniai anak banyak.
ditambah usaha warung nasi padang yg semakin brkembang hingga kini dteruskan oleh generasi k-3-nya.
- TAMAT -
emoticon-Ngakak
Quote:Original Posted By lazzomusisi
terus di jawa Rifah merintis usaha warung nasi padang, dan dialah pelopor maraknya warung nasi padang di jawa.
lalu menikah lagi dan berbahagia dgn suaminya dr tanah jawa, hingga mereka dikaruniai anak banyak.
ditambah usaha warung nasi padang yg semakin brkembang hingga kini dteruskan oleh generasi k-3-nya.
- TAMAT -
emoticon-Ngakak


Bisa aja ngelanjutin happy ending nya.
emoticon-Ngakak
Coment dulu baca nya tahun baru emoticon-Traveller
panjang bener curcolnya