alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/581b2fbac1d770443e8b457d/bela-sby-ulil-jahat-sekali-cara-berpolitik-rezim-jokowi-ini
Bela SBY, Ulil: Jahat Sekali Cara Berpolitik Rezim Jokowi Ini
Bela SBY, Ulil: Jahat Sekali Cara Berpolitik Rezim Jokowi Ini


Politikus Partai Demokrat Ulil Abshar Abdalla menilai, cara Presiden Jokowi menanggapi Aksi 4 November ini menarik diamati. Dia melontarkan tuduhan lewat operasi intelijen bahwa SBY yang danai aksi.

"Jahat sekali!" kicau Ulil di akun Twitter-nya, Kamis (3/11)  

Tuduhan bahwa SBY ada di balik Aksi 4 November, kata ia, pastilah bagian dari operasi pemerintahan Jokowi untuk mendeskreditkan lawan-lawan politiknya. Ia menegaskan, tidak benar SBY mendanai aksi 4 November. 
 
"Saya katakan, ndak benar SBY mendanai Aksi 4 Nov. Tuduhan ini sangat ngawur. Cukup pakai akal sehat untuk menilai tuduhan ini," katanya. 

Selama ini, kata ia, pendukung Jokowi marah jika ada fitnah mengarah ke presiden. Tetapi mudah percaya jika ada fitnah yang mengarah ke lawan Jokowi. Itu menunjukkan standar ganda.

"Jahat sekali cara berpolitiknya rezim sekarang ini," katanya.

Terhadap isu dan fitnah bertubi tubi itu, Ulil menegaskan, pidato SBY tak bermaksud meredam. "Kami menunjukkan kali ini tak akan cuma diam." "Rezim sekarang ini ndak berani menghadapi kelompok Islamis, eh yg disalahin SBY. Jahat ngga sih?"

Ia meminta, di tengah "kemelut" Pilkada itu, jangan kehilangan akal sehat. Baik yang pro-Agus, Ahok atau Anis. Saringlah segala rumor dengan akal sehat.

"Rumor yang mendiskreditkan lawan politik kita cenderung mudah kita percaya. Kritisisme mendadak hilang ketika rumor menguntungkan kita," tuturnya. "Pendukung Jokowi tentu gampang percaya pada rumor bahwa SBY ada di balik Aksi 4 Nov. Ini sekedar contoh."

Sementara pembenci Jokowi akan gampang percaya pada rumor bahwa Jokowi adalah keturunan Cina, Komunis. 
"Tuhan maha pengampun. Tetapi manusia maha pendendam, terutama dalam politik. Kesalahan kecil bisa dibesar-besarin, out of proportion."

http://m.republika.co.id/berita/nasi...kowi-ini-part1
ulil,sikomo lewatemoticon-Leh Uga
Ulil kmaren bukannya anti fpi?

Ikut demo besok kagak?
*(Analisa) Kenapa SBY Malah Memprovokasi?*

Melihat nada bicara SBY saat memberi keterangan pers pagi ini, saya melihat adanya kelicikan luar biasa. Sejauh pantauan saya, SBY ini sakit, mengalami post power syndrome akut. Pernyataan SBY justru semakin mengkonfirmasi bahwa kecurigaan banyak orang yang bertanya-tanya mengapa Jokowi hanya mendatangi Prabowo dan mengundang MUI, NU serta Muhammadiyah. Sementara SBY secara otomatis tersudutkan, seperti yang saya bahas sebelumnya. Apa yang dilakukan Jokowi benar-benar strategi memukul semak-semak agar ularnya keluar.

Sekarang coba saya tanya, SBY berbicara soal demonstrasi 4 November kapasitasnya sebagai apa? Sebagai mantan Presiden, ketua umum Demokrat, apa sebagai orang tertuduh?

Sikap SBY yang baper maksimal ini memang bukan hal baru, dulu saat Jokowi blusukan ke Hambalang, SBY mendadak sensi. Kemudian curhat macam-macam, ngalor ngidul, seperti mantan yang tidak terima karena diputus.

Sebagian orang mungkin sedang kasihan atau prihatin dengan SBY yang kini tersudut. Namun saya melihat dari sudut pandang yang lain. SBY telah menjadi provokator yang sangat buruk. Keterangan pers SBY membuat kondisi yang sudah mereda kini malah memanas lagi.

“Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dianggap menistakan agama. Ayo kita kembali ke situ dulu, itu tidak boleh dan dilarang. Kita harus kembali ke sistem hukum dan KUHP. Kalau negara kita tidak mau terbakar oleh amarah penuntut keadilan maka pak Ahok yang harus diproses hukum. Jangan sampai beliau (Ahok) kebal hukum sebab ini bagian dari demokrasi, kita negara demokrasi,” kata SBY.

“Ya Pak Ahok harus juga diproses secara hukum, jangan sampai beliau dianggap kebal hukum. Ingat equality before the law, itu nilai-nilai keadilan,” ingat SBY.

SBY mengingatkan lagi jangan sampai ada rumor Ahok tidak bisa disentuh. “Bayangkan, do not touch Ahok. Nah setelah Pak Ahok diproses hukum semua pihak menghormati. Ibaratnya jangan gaduh. Apakah Pak Ahok bersalah atau tidak diserahkan ke penegak hukum,” katanya lagi.

SBY bukan orang bodoh dalam komunikasi. Dia pasti menyadari betul bahwa setiap kalimat yang diucapkannya memiliki muatan provokasi yang sangat buruk. Sekarang coba kita perhatikan dan pertanyakan, siapa yang menganggap Ahok kebal hukum? SBY. Lalu SBY sendiri yang menyerukan agar jangan ada ada seperti itu. Kan kampret! Sakit! Sudahlah jangan pura-pura bego, kita semua pasti menyadari ini sangat disengaja. Provokatif.

Selanjutnya SBY juga menjelaskan bahwa orang-orang yang datang dari daerah ke Jakarta tidak hanya ingin jalan-jalan, melainkan ada sesuatu yang diprotes dan dituntut.

“Mari kita bertanya apa yang kita hadapi. Di Jakarta dan di wilayah lain ada protes. Itu semua pasti ada sebabnya. Tidak mungkin tidak ada, ribuan rakyat berkumpu untuk hepi-hepi, jalan-jalan sudah lama ga lihat jakarta, misalnya seperti itu. Barang kali merasa yang diprotes itu dan tuntutannya itu tidak didengar. Nah kalau sama sekali tidak didengar, sampai lebaran kuda masih akan ada unjuk rasa.”

Pernyataan ini sangat menarik. Apakah ini menjadi konfirmasi SBY setuju bahwa demo akan terus berlangsung sampai Februari atau sampai Ahok ditangkap? dari mana SBY tau? Jangan-jangan tuduhan SBY lah biang kerok semua ini, atau atas arahan SBY, ternyata memanglah kenyataan.

Jika tuduhan-tuduhan bahwa SBY terlibat dalam aksi demo 4 November itu salah, seharusnya SBY tidak menjadi provokator dengan mendukung demonstrasi atas alasan demokrasi. Sebab NU sudah melarang atribut NU digunakan saat demo. Artinya NU tidak mendukung orang untuk demo. Begitu juga Muhammadiyah, melarang mengatasnamakan organisasi. Sampai Prabowo pun mengatakan, kalau Fadli Zon tetap berdemo, berarti dia turun atas nama pribadi. Lihatlah kondisinya sudah mulai mereda, kemudian SBY menyatakan mendukung demo 300% dan menganggap memang ada yang salah, ada yang dituntut, dan ada yang harus diproses hukum.

Kalau begini kenyataannya, adakah kesimpulan yang lebih masuk akal ketimbang SBY memang menggunakan isu SARA untuk memenangkan anaknya? SBY mendukung demo, mendukung Ahok segera dihukum dan ‘MENGANCAM’ negeri ini akan terbakar kalau proses hukum tidak berjalan.

Padahal kenyataannya proses hukum sedang berjalan. Bohong kalau SBY tidak tau. Tapi kalau benar-benar tidak tau, berarti dia memang tak melakukan apa-apa selama 10 tahun, sebab tak tau apa-apa. Sejauh ini polisi sudah meminta keterangan sembilan orang saksi termasuk penyebar video ke media sosial dan staf gubernur. Polisi juga telah menyambangi Kepulauan Seribu untuk meminta keterangan warga setempat soal video pidato Ahok. Sementara Ahok sendiri sudah meminta pada Bareskrim agar dirinya segera diperiksa. Itulah proses hukum.

Harusnya SBY menjelaskan itu. Bukan malah memprovokasi bahwa Ahok tidak tersentuh hukum, do not touch dan pernyataan setan “Kalau negara kita tidak mau terbakar oleh amarah penuntut keadilan maka pak Ahok yang harus diproses hukum.” Fiuh!

Banyak yang bertanya-tanya pada saya mengapa SBY tidak besikap seperti negarawan atau seperti mantan Presiden yang bijak? Jawaban sederhananya karena memang memiliki sifat kekanak-kanakan. Lihat saja cara SBY menyebut lebaran kuda, sebenarnya dia iri karena tidak diajak berkuda oleh Prabowo. Padahal dirinya masih merasa memiliki kekuatan dan harus diperhitungkan oleh Presiden Jokowi.

Kenapa bukan lebaran monyet atau lebaran sapi lah yang lebih masuk akal? Sebab di alam bawah sadarnya sudah penuh dengan kuda kuda kuda. Sebab Jokowi berkuda dengan Prabowo.

Tapi jawaban yang lebih ilmiah dan berat, karena sepertinya SBY memang ingin agar acara demo ini terus berlangsung meriah. Jangan terlalu cepat berlalu. Minimal sampai Pilgub selesai. Jika diakhiri 4 November, lalu bubar tanpa ada demo lagi, artinya bencana bagi SBY.

Anda harus bisa membayangkan bagaimana rumitnya kehidupan SBY sekarang.
Antasari dibebaskan pada 10 November, 34 proyek pembangkit listrik mangkrak mau dilaporkan ke KPK, dokumen TPF pembunnuhan Munir hilang di tangannya. Semuanya mengarah pada SBY. Sementara anaknya belum jadi Gubernur, belum punya kekuasaan. Kekuatan Demokrat menurun. Apa ndak stress? Bukankah dengan begini tidak perlu menunggu SBY mati dulu untuk mengusut kasus-kasusnya (seperti yang terjadi pada Supersemarnya Soeharto)? Sebab sudah tak punya kekuasaan dan kekuatan.

Tapi ya sudahlah. Sekarang keterangan pers sudah dibuat. Satu Indonesia jadi tau bahwa kualitas seorang SBY cukup titik-titik.
Sebagai Pakar Mantan, saya ingin mengucapkan permintaan maaf kepada para kuda-kuda karena telah disinggung-singgung oleh SBY.
Serta ingin mendukung penetapan 4 November sebagai hari raya Lebaran Kuda menurut Islam versi Cikeas.


BY ALIFURRAHMAN ON NOVEMBER 2, 2016
memang jahat sekali caranya panastak lil emoticon-Cape d... (S)Bela SBY, Ulil: Jahat Sekali Cara Berpolitik Rezim Jokowi Ini

namanya politik

terserah bagi yang benci
asal jangan buta politik aja gan emoticon-Blue Guy Peace
Sejak kampanye Pilpres saja sudah kelihatan liciknya rezim Kodok ini.

Dengan akal bulus OBOR RAKYAT, Orang Kitak-kitak saja tega MENFITNAH dan meng-kambing hitam-kan dirinya sendiri. emoticon-Takut

Quote:Akal Bulus JK, Surya Paloh dan Muhamad Reza di Balik Tabloid Obor

JAKARTA (voa-islam.com) - Sungguh permainan politik yang sangat kotor dan penuh dengan akal bulus. Di mana tiba-tiba saja kasus tabloid Obor Rakyat menjadi perhatian khusus dalam proses Pemilihan Presiden 2014.

Pasalnya, hasil cetakan media tersebut, yang belakangan di klaim milik Asisten Staf Khusus Presiden RI Setyardi, ditengarai telah menyebarkan fitnah dan menista Calon Presiden Joko Widodo yang diusung koalisi PDI Perjuangan.

Dan tidak hanya itu, tabloid yang diedarkan di kalangan tertentu itu ditengarai jadi penyebab merosotnya popularitas Jokowi, mantan Walikota Solo dan Gubernur nonaktif DKI Jakarta.

Mari kita ulas, siapa saja di balik tabloid Obor tersebut. Nama Setyardi, di kalangan aktivis mahasiswa ’98 cukup familiar. Pernah menjadi wartawan majalah Tempo dan aktif dalam mendukung pergerakan mahasiswa dalam menghadapi Orde Baru di ujung kekuasaan. Namun, benarkah motivasi tabloid Obor untuk menghancurkan popularitas Jokowi? Jawabnya, tidak!

Peredaran tabloid Obor yang berisikan pembahasan di sosial media dan di angkat ke media cetak untuk lantas disebarkan ke pesantren-pesantren di Jawa Barata, Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan tampilan yang vulgar dan kampungan namun dikemas dalam layout yang menarik sebetulnya dipakai sebagai alat propaganda pasangan Jokowi-JK.

Sebab, semua personal pemain yang berada di belakang penerbitan tabloid tersebut memiliki koneksi dengan Jusuf Kalla dan donatur pasangan Capres dan Cawapres nomor urut 2 tersebut.

Awal karier Setyardi di majalah Tempo menghasilkan pertemanan antara lain dengan Muchlis Hasyim. Muchlis sempat berkarier bersama di majalah Tempo bersama Setyardi.

Dimana keduanya juga sempat mengenyam pendidikan di Bandung. Setyardi di STT Telkom dan Muchlis di Universitas Islam Bandung (Unisba). Keduanya juga sama-sama tidak lulus dari perguruan tinggi tersebut.

Muchlis lantas terbang ke Washington, AS dan menyelesaikan sarjananya di sana. Dan baru kembali ketika dipanggil Surya Paloh, pemilik harian Media Indonesia.

Sekembalinya dari Amerika, Muchlis ditempatkan sebagai redaktur internasional di Media Indonesia dan menjadi orang kepercayaan Surya Paloh. Hingga akhirnya, dia menempati posisi redaktur eksekutif.

Di kalangan wartawan, Muchlis dikenal memiliki lobi-lobi cukup bagus dengan pemilik modal dan penguasa. Dan karena kepiawaiannya itulah lantas berhasil mendirikan media online inilah.com. Sebuah portal berita yang dukungan dananya banyak di cover Muhammad Reza, orang yang dikenal sebagai mafia minyak. Hubungan Muh dan Muchlis sangat dekat seperti kakak dan adik.

Pada Pilpres 2004, Muchlis aktif di Mega Center untuk membantu K.H. Hasyim Muzadi yang pada saat itu menjadi cawapres Megawati. Namun, ketika pasangan Mega-Hasyim kalah, dia meloncat ke Jusuf Kalla.

Kehadiran Muchlis di Istana Wapres atas prakarsa Alwi Hamu, pemilik harian Fajar di Makassar. Dan Muchlis masih terbilang sebagai keponakan dari Alwi Hamu yang merupakan karib keluarga Jusuf Kalla. Saat JK menjabat Wapres, Muchlis didapuk sebagai Press Officer Wakil Presiden.

Saat ini, selain memiliki portal berita inilah.com, Muchlis juga mendirikan Inilah Koran di Bandung dan Bogor. Dia menggandeng wartawan senior Rakyat Merdeka dan pendiri tabloid Indonesia Monitor, Syahrial Nasution.

Syahrial di kalangan wartawan dikenal dekat dengan Presiden SBY. Dan pada Pilpres 2004 menjadi Ketua Media Center SBY-JK. Konon, dana untuk mendirikan Inilah Koran juga berasal dari Muhamad Reza. Muchlis sengaja merekrut Syahrial karena dikenal kritis terhadap isu mafia migas.

Belakangan diketahui hubungan keduanya, merenggang. Muchlis juga melebarkan sayapnya dengan mendirikan Inilah Koran di Bogor dengan merekrut mantan wartawan senior Jawa Pos, Alfian. Dan terakhir mendirikan sebuah percetakan di Bandung.

Nama lain di belakangang tabloid Obor adalah Darmawan Sepriossa, alumnus Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung. Dia dikenal cukup dekat dengan para petinggi TNI dan Badan Intelijen Negara (BIN). Wartawan yang biasa ngepos di Mabes TNI dan Polhukam ini berteman baik dengan Setyardi. Darmawan juga punya hubungan cukup baik dengan petinggi partai di PDIP.

Lantas, apa cerita yang dapat diambil dari penggalan kisah orang-orang yang namanya dikait-kaitkan dengan tabloid Obor? Sebetulnya tidak lepas dari permainan transaksi politik dalam rangka membesarkan nama Joko Widodo yang seolah-olah difitnah dan dikerdilkan.

Para dalang di balik tabloid Obor, semuanya berada di pihak Jokowi-JK. Dan motivasi kontra intelijen seperti ini biasa terjadi menjelang pergantian kekuasaan. Setyardi cs hanyalah boneka yang diperalat dan ‘dibeli’ untuk menjalankan misi. Dalang utamanya adalah Surya Paloh, Jusuf Kalla dan Muhammad Reza.

Inilah yang menjadi jawaban atas kegundahan Hasjim Djoyohadikusumo, adik kandung Capres Prabowo. Cawapres Hatta Rajasa yang selama ini dikait-kaitkan dibiayai mafia minyak Muhammad Reza ternyata, cuma isapan jempol. Hingga kini, logistik yang dijanjikan Muhammad Reza untuk menyokong duet Prabowo-Hatta tak kunjung turun.

Rupanya, dana sudah mengalir ke Jokowi yang selalui merajai survey. Sehingga, dengan membesar-besarkan kasus tabloid Obor, popularitas Jokowi yang terus menurun dapat didongkrak kembali dengan strategi memfitnah diri sendiri. [mahardika che/kmpsn]

Sumur : http://www.voa-islam.com/read/indone....MPKlnRTL.dpbs



UPDATE :

Ternyata ada yang terguncang hebat dan tidak siap mental membaca komeng ane emoticon-Wakaka

Quote:Original Posted By whidiantoro


sumbernya broo.. wakakaka.. barokah bener
.. otak lu dah dicuci ma media goblok.. emoticon-Wakakaemoticon-Wakakaemoticon-Wakakaemoticon-Wakaka


Quote:Original Posted By mengong.lagi


iqra, biar gak goblok

fitnah kok goblok
goblok kok fitnah


Coba ente berdua tanyakan ke Jokewi, kenapa tidak berani meneruskan pengusutan kasus tabloid Obor Rakyat? Takut bakal membongkar konspirasi busuk oleh tim kampanyenya sendiri? emoticon-Wakaka


Coba nusron berani bantah kata ulil ngak haha
Syukur deh ulil dah baikan sama FPI
adem jangan terpengaruh provokator dan damai ya semua emoticon-Traveller emoticon-Traveller emoticon-Toast
gw mau liat nasbung ngebela si ULIL ga kali ini ??
apakah gara2 AHOK JIL & FPI bersatu ?


emoticon-Leh Uga emoticon-Leh Uga emoticon-Leh Uga emoticon-Leh Uga emoticon-Leh Uga
Emangnya ada statetment dari pemerintahan jokowi klo sibuya yg sponsorin ? emoticon-Leh Uga
apaaansih ini

banyak kawan jadi lawan

lawan jadi kawan


Quote:Original Posted By kotrek
Coba nusron berani bantah kata ulil ngak haha


ane udah diem ente panggil2 ane..........ntar ane nanya ahok dolo

Bela SBY, Ulil: Jahat Sekali Cara Berpolitik Rezim Jokowi Ini
Salah jokowi pokoknya
Si suwing msh idup nih orang
Coba kasih jabatan komisaris macam pajrul biar diem tuh mulut suwingnya
kader kebo membela kebo ya wajaremoticon-Ngakak
welah serius ini bukan hoax ? bukannya anak buahnya ulil si guntur romli itu jasmev yak kok gak akur sama ketuanya sendiri emoticon-Bingung
Oh nooo.... ada ulil....


Kabur aja dah....
Ah kampret lah politik