alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/581b240fdcd77095268b4567/agus-yudhoyono-jangan-cari-kambing-hitam-demo-4-november
Agus Yudhoyono: Jangan Cari Kambing Hitam Demo 4 November
Jakarta - Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bicara soal demonstrasi 4 November dan meminta agar tidak ada tuduhan soal penggerak atau pendana aksi. Hal tersebut ditegaskan kembali oleh calon gubernur DKI Jakarta, Agus Harimurti Yudhoyono yang merupakan putra sulung SBY

"Ya jangan main fitnah karena tidak baik memfitnah seseorang menggerakkan unjuk rasa dan sebagainya, itu tidak benar. Itu namanya menghantam-hantam sendiri sesama anak bangsa," kata Agus kepada wartawan saat berkampanye di Kedoya Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Kamis (3/11/2016).

Agus mengingatkan untuk tidak ada politisasi terhadap aksi demo 4 November. Demo itu sendiri terkait dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

"Jangan lah seperti itu (menyebarkan fitnah). Kita tidak ingin mempolitisasi segala sesuatunya kemudian mencari kambing hitam. Padahal kita tahu bahwa ini adalah reaksi dari suatu aksi," kata Agus.

Agus meminta pemerintah segera menyelesaikan permasalahan yang menjadi penyebab aksi.

"Selama tidak diselesaikan dengan baik, dengan hukum, dengan cara-cara yang ditentukan negara kita. Tentu tidak akan berhenti permasalahan ini," kata Agus.

Sebelumnya, SBY melakukan pidato di kediamannya di Cikeas, pada Rabu (2/11/2016). SBY merasa ada orang yang menuduh sebuah parpol mendanai aksi besok.

"Dulu saya tidak pernah dengan mudah menuduh ada orang-orang besar mendanai aksi-aksi unjuk rasa, ada orang besar menggerakkan unjuk rasa. Kalau dikaitkan situasi sekarang kalau ada informasi atau analisis intelijen seperti itu, saya kira berbahaya. Menuduh seseorang, menuduh sebuah kalangan, menuduh sebuah parpol, melakukan seperti itu, itu fitnah, fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. I tell you. Yang kedua, menghina. Rakyat bukan kelompok bayaran. Urusan hati nurani tidak ada yg bisa mempengaruhi, uang tidak ada gunanaya. Apalagi ukuran akidah. Banyak di dunia ini mereka rela mengorbankan jiwanya demi akidah. Memfitnah orang yang dilaporkan itu, parpol atau pihak-pihak yang dilaporkan itu. Nama analisis intelijen sekaligus menghina," kata SBY dalam pidatonya

http://m.detik.com/news/berita/d-3336715/agus-yudhoyono-jangan-cari-kambing-hitam-demo-4-november

gak ada yg nyari kambing itam gus, yg ada org nyari tahu kapan kuda lebaran emoticon-Big Grin
Agus Yudhoyono: Jangan Cari Kambing Hitam Demo 4 November
Quote:Agus Yudhoyono: Jangan Cari Kambing Hitam Demo 4 November

memang bukan kambing hitam gus
tapi kuda hitam yg dicari emoticon-Big Grin
" Jangan cari kambing item, ga usah, gua ko yg nyuruh " emoticon-Leh Uga
Lagi nyari kuda kali gus...

Blunder kubu cikeas, jokowi strong, prabowo negarawan, si album mewek
Quote:Original Posted By termahotor
" Jangan cari kambing item, ga usah, gua ko yg nyuruh " emoticon-Leh Uga


Epic banget kalo keceplosan begitu
Agus Yudhoyono: Jangan Cari Kambing Hitam Demo 4 November
Luwak kopinya ada?
Cuma naik kuda aja efeknya kemanamana
Dengan akal bulus OBOR RAKYAT, Orang Kitak-kitak saja tega MENFITNAH dan meng-kambing hitam-kan dirinya sendiri. emoticon-Takut

Quote:Akal Bulus JK, Surya Paloh dan Muhamad Reza di Balik Tabloid Obor

JAKARTA (voa-islam.com) - Sungguh permainan politik yang sangat kotor dan penuh dengan akal bulus. Di mana tiba-tiba saja kasus tabloid Obor Rakyat menjadi perhatian khusus dalam proses Pemilihan Presiden 2014.

Pasalnya, hasil cetakan media tersebut, yang belakangan di klaim milik Asisten Staf Khusus Presiden RI Setyardi, ditengarai telah menyebarkan fitnah dan menista Calon Presiden Joko Widodo yang diusung koalisi PDI Perjuangan.

Dan tidak hanya itu, tabloid yang diedarkan di kalangan tertentu itu ditengarai jadi penyebab merosotnya popularitas Jokowi, mantan Walikota Solo dan Gubernur nonaktif DKI Jakarta.

Mari kita ulas, siapa saja di balik tabloid Obor tersebut. Nama Setyardi, di kalangan aktivis mahasiswa ’98 cukup familiar. Pernah menjadi wartawan majalah Tempo dan aktif dalam mendukung pergerakan mahasiswa dalam menghadapi Orde Baru di ujung kekuasaan. Namun, benarkah motivasi tabloid Obor untuk menghancurkan popularitas Jokowi? Jawabnya, tidak!

Peredaran tabloid Obor yang berisikan pembahasan di sosial media dan di angkat ke media cetak untuk lantas disebarkan ke pesantren-pesantren di Jawa Barata, Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan tampilan yang vulgar dan kampungan namun dikemas dalam layout yang menarik sebetulnya dipakai sebagai alat propaganda pasangan Jokowi-JK.

Sebab, semua personal pemain yang berada di belakang penerbitan tabloid tersebut memiliki koneksi dengan Jusuf Kalla dan donatur pasangan Capres dan Cawapres nomor urut 2 tersebut.

Awal karier Setyardi di majalah Tempo menghasilkan pertemanan antara lain dengan Muchlis Hasyim. Muchlis sempat berkarier bersama di majalah Tempo bersama Setyardi.

Dimana keduanya juga sempat mengenyam pendidikan di Bandung. Setyardi di STT Telkom dan Muchlis di Universitas Islam Bandung (Unisba). Keduanya juga sama-sama tidak lulus dari perguruan tinggi tersebut.

Muchlis lantas terbang ke Washington, AS dan menyelesaikan sarjananya di sana. Dan baru kembali ketika dipanggil Surya Paloh, pemilik harian Media Indonesia.

Sekembalinya dari Amerika, Muchlis ditempatkan sebagai redaktur internasional di Media Indonesia dan menjadi orang kepercayaan Surya Paloh. Hingga akhirnya, dia menempati posisi redaktur eksekutif.

Di kalangan wartawan, Muchlis dikenal memiliki lobi-lobi cukup bagus dengan pemilik modal dan penguasa. Dan karena kepiawaiannya itulah lantas berhasil mendirikan media online inilah.com. Sebuah portal berita yang dukungan dananya banyak di cover Muhammad Reza, orang yang dikenal sebagai mafia minyak. Hubungan Muh dan Muchlis sangat dekat seperti kakak dan adik.

Pada Pilpres 2004, Muchlis aktif di Mega Center untuk membantu K.H. Hasyim Muzadi yang pada saat itu menjadi cawapres Megawati. Namun, ketika pasangan Mega-Hasyim kalah, dia meloncat ke Jusuf Kalla.

Kehadiran Muchlis di Istana Wapres atas prakarsa Alwi Hamu, pemilik harian Fajar di Makassar. Dan Muchlis masih terbilang sebagai keponakan dari Alwi Hamu yang merupakan karib keluarga Jusuf Kalla. Saat JK menjabat Wapres, Muchlis didapuk sebagai Press Officer Wakil Presiden.

Saat ini, selain memiliki portal berita inilah.com, Muchlis juga mendirikan Inilah Koran di Bandung dan Bogor. Dia menggandeng wartawan senior Rakyat Merdeka dan pendiri tabloid Indonesia Monitor, Syahrial Nasution.

Syahrial di kalangan wartawan dikenal dekat dengan Presiden SBY. Dan pada Pilpres 2004 menjadi Ketua Media Center SBY-JK. Konon, dana untuk mendirikan Inilah Koran juga berasal dari Muhamad Reza. Muchlis sengaja merekrut Syahrial karena dikenal kritis terhadap isu mafia migas.

Belakangan diketahui hubungan keduanya, merenggang. Muchlis juga melebarkan sayapnya dengan mendirikan Inilah Koran di Bogor dengan merekrut mantan wartawan senior Jawa Pos, Alfian. Dan terakhir mendirikan sebuah percetakan di Bandung.

Nama lain di belakangang tabloid Obor adalah Darmawan Sepriossa, alumnus Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung. Dia dikenal cukup dekat dengan para petinggi TNI dan Badan Intelijen Negara (BIN). Wartawan yang biasa ngepos di Mabes TNI dan Polhukam ini berteman baik dengan Setyardi. Darmawan juga punya hubungan cukup baik dengan petinggi partai di PDIP.

Lantas, apa cerita yang dapat diambil dari penggalan kisah orang-orang yang namanya dikait-kaitkan dengan tabloid Obor? Sebetulnya tidak lepas dari permainan transaksi politik dalam rangka membesarkan nama Joko Widodo yang seolah-olah difitnah dan dikerdilkan.

Para dalang di balik tabloid Obor, semuanya berada di pihak Jokowi-JK. Dan motivasi kontra intelijen seperti ini biasa terjadi menjelang pergantian kekuasaan. Setyardi cs hanyalah boneka yang diperalat dan ‘dibeli’ untuk menjalankan misi. Dalang utamanya adalah Surya Paloh, Jusuf Kalla dan Muhammad Reza.

Inilah yang menjadi jawaban atas kegundahan Hasjim Djoyohadikusumo, adik kandung Capres Prabowo. Cawapres Hatta Rajasa yang selama ini dikait-kaitkan dibiayai mafia minyak Muhammad Reza ternyata, cuma isapan jempol. Hingga kini, logistik yang dijanjikan Muhammad Reza untuk menyokong duet Prabowo-Hatta tak kunjung turun.

Rupanya, dana sudah mengalir ke Jokowi yang selalui merajai survey. Sehingga, dengan membesar-besarkan kasus tabloid Obor, popularitas Jokowi yang terus menurun dapat didongkrak kembali dengan strategi memfitnah diri sendiri. [mahardika che/kmpsn]

Sumur : http://www.voa-islam.com/read/indone....MPKlnRTL.dpbs



UPDATE :

Quote:Original Posted By ponari.hong


Jelasin dong, ada maksud apa si obor rakyat ketemuan sama sby kemaren.... Nyusup ke kubu agus atas perintah jokowi demi ahok?



Tolong jelasin dong kenapa Jokowi engga berani melenjutkan pengusutan Tabloid Obor Rakyat? Apa karena sudah pasti bakal menyerang teman sendiri?
Saya carinya kuda hitam nih emoticon-Ngakak
Seperti sby cuma lebih soft
Kerjaan nastak
yg sewot sendiri siapa
makin kliatan sponsornya siapa emoticon-Leh Uga
Oh oh kamu ketahuan emoticon-Kaskus Radio

Makin lama makin terlihat
Makin terbakar jenggotnya si provokator hahahahaha
Quote:Original Posted By luckyone6677
Agus Yudhoyono: Jangan Cari Kambing Hitam Demo 4 November


wah dah parah emoticon-Cool
puasanya kapan gan? emoticon-Ngakak
Ciee ciee saling melindungi..sayang anak..sayang papa..
emoticon-Betty