alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/581af405c1d770a6548b456a/everything-works-out-in-the-end
Everything Works Out In The End
Salam para sesepuh di SFTH emoticon-shakehand

Izinkan gue seorang newbie yang ingin menceritakan kisah cerita gue, sebenernya sih iseng ingin nulis aja sambil mengisi waktu luang di jam kantor. Sudah cukup lama memantau, akhirnya ingin turun gunung juga emoticon-Big Grin
Bisa dibilang ini kisah nyata, karena endingnya dan jalan cerita memang menceritakan kisah hidup gue. Namun karena menceritakan kejadian 15 tahun lalu dimana gue udah gak terlalu ingat detailnya, maka gue akan tambahkan beberapa bumbu di cerita ini.
Mengenai nama beberapa tokoh akan gue samarkan untuk kenyamanan bersama, dan beberapa tempat yang gue ceritakan disini, akan menggunakan tempat-tempat sekarang, karena gue udah gak terlalu ingat detail tempat 15 tahun lalu. Jadi anggaplah ini cerita True Story + Fiksi untuk kenyamanan kita bersama.

Regards,


Kimyandra A.
INDEX


PART 1
PART 2
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 1

“Hey,buddy. Jangan jauh-jauh mainnya, ayah capek nih..” Gue berlari-lari kecil mengejar jagoan kecil gue yang baru saja bisa berlari-lari sambil membawa bola karet miliknya.

“Hey jagoan-jagoan bunda, sini kita makan dulu. Jagoan kecil, udah ya mainnya kasian tuh ayah lagi hamil gak boleh lari-lari..”

Iya, istri gue meledek perut gue yang udah mulai membuncit. Bahkan saat dia hamil beberapa bulan, perut kita hampir sama ukurannya.

“Bunda nih, masa udah ngajarin anaknya buat ngeledek ayahnya..” Ucap gue pura-pura kesal sambil memajukan bibir beberapa centi.

“Hahahaha bercanda sayaang, sini pelukkk.. Jagoan sini peluk ayah sama bunda..” Jagoan kecil gue berlari sambil memegang bolanya, setelah lumayan dekat, dia melempar bola dengan asal dan memeluk gue dan juga istri gue.

Ahh.. Rasanya baru saja kemarin gue menjadi siswa SMA. Saat ini dihadapan gue sudah ada seorang jagoan kecil yang sedang tertidur dengan lelap di pangkuan bundanya.

Gue berbaring dipaha istri, dan mulai memejamkan mata, pikiran gue melayang ke 15 tahun sebelumnya…

--------------------


15 Tahun lalu..

Perkenalkan nama gue Kimyandra Allarick, gue terpaksa menjadi anak tunggal karena ibu mengalami keguguran saat sedang hamil calon adik. Ayah gue blasteran dan Ibu gue Indonesia asli. Gue seorang siswa kelas 2 di salah satu SMA negeri di kota Bandung.

emoticon-Cek PM (S) “Kim! Besok jangan lupa rapat untuk MOS, ya!” Isi pesan yang terkirim dari ketua OSIS gue, Kristie.

emoticon-Cek PM (S) “Besok bukannya hari Minggu?” Balas gue singkat.

emoticon-Cek PM (S) “Iya, cuma sebentar kok, ngobrolin buat besok aja.” Balas Kristie cepat.

-------------------

Hari Senin, gue udah ada di sekolah dari jam 5 pagi, karena panitia harus sudah ada ditempat lebih dulu dari peserta. Setelah mempersiapkan semua, peserta MOS pun sudah mulai berdatangan. Mereka menggunakan baju sekolah sewajarnya, karena di sekolah gue memang tidak pernah menyuruh siswanya macam-macam ketika MOS. Gue menjadi pembimbing kelompok untuk peserta MOS. Selesai upacara, peserta MOS diarahkan untuk masuk ke ruang kelas untuk mendapatkan pengarahan lebih lanjut, dan acara pertama hari ini adalah perkenalan dan menampilkan bakat dari para siswa.

“Cantiknya..” Batin gue saat seorang siswa maju kedepan untuk memperkenalkan diri.

“Nama saya Dara, asal dari SMP blablabla dan saya akan menyanyi dalam penampilan bakat ini..” Ucap gadis tersebut.

“Kak, tapi aku gak bisa nyanyi kalau gak diiringin gitar..” Ucap Dara sambil menatap gue yang duduk dikursi guru.

“…………” Gue masih diam, ngeliatin Dara.

“Ehh ini anak malah diem. Kim! Itu ditanya..” Ucap Ardy, sahabat gue sambil memukul pundak gue cukup keras.

“Eh, kenapa kenapa?..” Gue baru tersadar.

“Aku gak bisa nyanyi kalau gak diiringin sama gitar..” Ulang Dara.

“Yaudah tunjukin bakat kamu yang lain, jangan nyusahin..” Ucap gue ketus, padahal gue lagi terpesona sama wajahnya.

“Isshhh..” Ucap Dara kesal.

Akhirnya, Dara bernyanyi tanpa iringan apapun. Gue senyum-senyum mendengarkan dia bernyanyi, gimana gak senyum-senyum, dia yang tadi bilang gak bisa nyanyi kalau gak diiringin gitar, ternyata nyanyi dengan merdunya tanpa di iringin apapun.

“Tuhkan bisa, manja!” Ucap gue datar.

“Isshh.. Kaka ngeselin..” Ucapnya pelan, gue hanya tertawa kecil.

Semua siswa sudah menampilkan keahliannya, dan mayoritas dari mereka memilih menyanyi. Ada juga yang menari, dan pencak silat. Setelah itu, mereka diberikan waktu untuk istirahat dan hamper semua siswa keluar dari kelasnya untuk membeli makanan. Saat gue akan meninggalkan kelas, gue lihat Dara masih duduk dibangku sambil menyantap bekal-nya.

Gue kembali duduk di meja guru dan memperhatikannya makan. Dara yang sadar lagi gue perhatiin langsung menawarkan makanannya.

“Makan, Kak.” Ucapnya singkat.

“Okay, silakan.” Balas gue.

“Ah, iya. Kenalin nama gue Kimyandra. Biasa dipanggil Kim atau Kimy.” Gue mengulurkan tangan.

“Kaya nama cewek..” Gumamnya pelan.

“Kaka udah tau nama aku kan?” Jawabnya lagi sambil melanjutkan makannya.

“Hmm mungkin dia masih kesel karena gue tadi menyebutnya manja..” Batin gue sambil senyum-senyum.

“Hmm yaudah, gue tinggal dulu ya, hati-hati loh dikelas ini, Hiiiihhhh takut..” Ucap gue sambil pura-pura bergidik dan lari meninggalkan kelas.

Gue berlari ke kantin dan mulai bertemu dengan teman-teman gue. Gue memesan makan ke ibu kantin, menu favorit yaitu Mie Goreng plus Telur Dadar. Sambil menyantap makanan, gue masih tetap memikirkan Dara. Ah entah kenapa gue tiba-tiba memikirkannya. Membayangkan wajah kesalnya saat gue bilang dia manja dan wajah bete-nya saat gue takut-takutin di ruang kelas.

“Ah, kenapa gue jadi mikirin gadis itu..” Batin gue sambil tetap menyantap mi goreng.


Jantung, bisakah kau berdetak dengan wajar?
Wah fresh from the oven. Lanjut emoticon-shakehand
PART 2

Acara MOS sudah selesai, dan hari ini merupakan akhir dari masa MOS. Gaada yang special, gue masih mengagumi Dara dan Dara masih aja ketus ke gue. Sama seperti kebanyakan sekolah lainnya, dalam masa MOS ini pasti para siswa diminta untuk membuat ‘Surat Cinta’. Surat tersebut kami kumpulkan dan dibawa keruang OSIS. Gue mencari dan memisahkan surat-surat yang ditujukan untuk gue, dan betapa kagetnya ketika gue melihat nama Dara disana, gue membaca surat tersebut dan tersenyum kecil. Selesai membaca, gue simpan surat tersebut disaku kemeja dan bergegas pulang.

Didepan gerbang, gue melihat seorang gadis yang sangat gue kenal dan memang sempat ‘suka’ hanya saja gue mengurungkan niat untuk mendekatinya karena dia udah punya kekasih.

“Kristie? Lagi ngapain? Nunggu dijemput mang angkot ya?” Ucap gue sambil berdiri disebelahnya dan memasukan tangan ke saku celana.

“Ah, Andra. Gue pikir siapa.” Jawabnya sambil tersenyum ke arah gue. Hmmmm manisss

“Hey! Please, stop it! Jangan panggil Andra, lo kan udah tau gue gasuka dipanggil Andra.” Ucap gue kesal.

“Hahaha iya iya, Kim. Iya ini masih nunggu dijemput cowo gue, lo juga nunggu dijemput?” Tanyanya sambil celingak-celinguk mencari sosok yang menjemputnya.

“Iya nih, nunggu dijemput Ibu.” Jawab gue.

Memang, sampai umur gue segini pun Ayah dan Ibu gue masih sangat over protektif. Pergin dan pulangf sekolah pasti dijemput sama Ibu. Mungkin karena memang gue anak satu-satunya, sehingga gue diperlakukan kayak gini. Sudah beberapa kali gue protes karena diperlakukan kayak gini, tapi selalu aja Ibu bikin gue luluh dengan penjelasannya. Ibu sering jelasin, kalau dia kayak gini karena sayang dan gak mau kenapa-napa sama anaknya.

Beberapa menit kemudian, Ibu datang, gue pamit ke Kristie dan dibalas dengan senyum manisnya.

Kristie satu angkatan diatas gue, memang kita lumayan dekat karena ada didalam satu organisasi. Kristie juga selalu merespon becandaan gue dan terkadang bersikap manja. Kristie merupakan gadis yang supel dan sangat ramah. Ayahnya bekerja di instansi pemerintahan dan ibunya seorang ibu rumah tangga.

Ah, iya. Sampai lupa bercerita tentang keluarga gue sendiri. Ayah gue blasteran Inggris-Indonesia dan itu sedikit menurunkan rambut pirang dan wajah sedikit dan sangat sedikit ‘bule’ diwajah gue, mungkin karena gen dari ibu lebih kuat, wajah gue lebih ke wajah lokal dengan sedikit polesan bule. Ayah bekerja disalah satu perusahaan swasta asing yang ada di bandung. Ibu, seorang ibu rumah tangga, yang sejak dulu selalu antar-jemput gue. Ibu asli dari Bandung, dan bertemu dengan ayah saat mereka berdua bekerja di perusahaan yang sama, namun ibu keluar karena peraturan perusahaan yang tidak memperbolehkan pasangan menikah bekerja dikantor yang sama.

Saat umur gue 7 tahun, Ibu hamil dan saat itu gue sangat senang karena gue memang sangat merindukan sosok Adik. Gue selalu iri lihat teman-teman gue main dan menjaga adiknya. Makadari itu saat Ibu memberitahu bahwa gue akan punya adik gue sangat senang. Namun beberapa bulan kemudian, Ibu jatuh dihalaman belakang rumah saat sedang menyusul gue yang lagi bermain dibelakang. Gue kaget dan langsung berlari untuk membantu ibu duduk dan langsung menelfon Ayah, karena sudah banyak darah berceceran dikaki ibu.

Saat dibawa ke Rumah Sakit, ternyata dokter menyatakan bahwa Ibu mengalami keguguran. Gue dan Ayah sangat sedih, bahkan gue sempat menangis dipelukan Ayah karena memang gue menginginkan seorang adik. Sejak saat itu, Ibu agak trauma dan memutuskan untuk tidak punya anak dulu, dan sampai sekaranglah seperti ini, gue terpaksa menjadi anak tunggal.

“Ayah, boleh gak Kimy bawa motor sendiri? Kimy malu masa udah umur segini masih dianter jemput ibu.” Ucap gue saat kami sedang makan malam bersama.

“Hmm gimana, Bu?” Tanya Ayah ke Ibu.

“Ibu sih gimana Ayah aja, kasian juga Kimy, teman-temannya juga udah sendiri-sendiri” Jawab Ibu meyakinkan Ayah.

“Yaudah, besok kamu izin dulu aja pelajaran pertama, nanti Ayah anter buat bikin SIM.” Ucap Ayah sambil melanjutkan makannya.

“Nah gitu dong, jadikan kalau Kimy mau latihan karate bisa naik motor.” Ucap gue senang.

Ibu dan Ayah hanya senyum-senyum melihat gue yang senyum-senyum karena diberikan izin.

Selesai makan, gue ke kamar dan membuka HP, mendapati satu pesan masuk dari seseorang. Saat gue lihat nama pengirimnya, gue gak terlalu kaget melihat nama Kristie disana. Ah, paling juga ngingetin rapat lagi, batin gue.

emoticon-Cek PM (S) “Kim, lagi sibuk ga? Bisa ketemu?” Isi pesan dari Kristie.

emoticon-Cek PM (S) “Hmm, engga sih ini barusan aja beres makan, mau ketemu dimana?” Balas gue cepat.

emoticon-Cek PM (S) “Gue jemput lo aja ya, rumah lo masih yang waktu itu kan?” Kristie memang pernah beberapa kali ke rumah gue dengan bebeapa anak OSIS lainnya.

emoticon-Cek PM (S) “Engga, udah malem. Gue aja yg jemput lo. Tunggu dirumah lo 15 menit lg, okay?” Balas gue lagi dan disetujui oleh Kristie.

Gue izin ke Ayah Ibu dan langsung menuju ke rumah Kristie yang memang tidak terlalu jauh dari wilayah rumah gue. Saat gue tiba, Kristie sudah menunggu dihalaman rumahnya dengan wajah yang sangat kusut. Saat itu dia mengenakan kaos putih polos dibalut dengan jaket jeans.

“Hmm cantiknya, tapi kok nangis?” Ejek gue saat masuk ke halaman rumahnya.

“Kimmmm, jangan goda gue.” Ucapnya malu.

“Hehehehe mau kemana sih kita kakak Kristie yang cantiknya ilang karena nangis?” Jawab gue lagi.

“Gatau, ingin jalan-jalan aja. Temen-temen gue pada sibuk, makanya gue ajak lo, gapapa kan?” Tanyanya dengan wajah memelas. Gimana mau nolak coba?

“Cowok lo kemana emang?” Tanya gue penasaran.

“Jangan dibahas dulu, Kim. Udah yuk jalan.” Jawabnya sambil menggandeng tangan gue dan menuju ke motor.

Deg. Jantung gue tiba-tiba saja berdetak dengan cepat.

Jantung, apakah memang kau tidak bisa berdetak dengan wajar?
Cukup menarik om ,gapapa kan ane panggil 'om' ? hahaha
Kan dah punya jagoan kecil .
Keep update yak om ts,btw salken emoticon-Toast
wah ada yg baru..ikutan nyimak dimari..emoticon-Toast
Cerita yang mewajibkan diri untuk mendekat emoticon-Big Grin

Belum ada komen apa-apa masih sedikit banget soalnya emoticon-Ngakak (S) silahkan dilanjut gan.
judulnya kek lagu kodaline om emoticon-Big Grin
cerita masa SMA emang punya daya tarik tersendiri wkwkwk
PART 3

“Bagus kan tempatnya?” Tanya Kristie sambil merentangkan tangannya dan menghirup udara segar.

Saat ini kami sedang berada di wilayah atas Bandung Timur. Sekarang lebih dikenal dengan nama Cartil atau Caringin Tilu. Gue awalnya sempat kaget, karena ini pertama kalinya gue ke tempat ini. Jalannya benar-benar kecil dan gelap. Disini hanya ada 2-3 warung kecil yang menjajakan makanan dan menyediakan tempat duduk untuk pengunjungnya. Dari atas sini, kami bisa melihat indahnya kota Bandung dari ketinggian. Lampu-lampu kota sangat jelas terlihat dari atas sini. Kalau pagi atau siang hari, darisini kita bisa melihat beberapa gunung, seperti Gunung Manglayang dan Gunung Papandayan.

Tidak hanya di warung, ada beberapa motor juga yang sengaja diparkir dipinggir jalan, dan pemiliknya yang notabene ‘pasangan muda’ menikmati juga pemandangan ini dari pinggir jalan.

“Iya sih bagus, ini pertama kali gue kesini. Tapi awalnya gue kaget, abisan tempatnya gelap banget. Parah lo senengnya main ke tempat gelap-gelapan gini.” Ucap gue sambil menikmati pemandangan yang luar biasa ini.

“Iya, gue sama Rysan suka kesini.” Ucap Kristie pelan.

“Rysan siapa? Cowok lo?” Tanya gue.

“Iya, Rysan cowok gue. Tapi dia jahat, Kim. Masa dia selingkuh coba.” Jawabnya sedih, pandangannya kosong, dan gue tetap memperhatikan dia dari samping.

“Lah, bukannya tadi lo dijemput sama dia?” Jawab gue kesenengan. Putus nih pasti, batin gue dalam hati.

“Iya emang tadi dia nganter gue, tapi ternyata pas pulang dia jemput cewek lain. Bukan gue sih yang liat, tapi temen gue. Dia jahat, Kim. Kurang apasih gue.” Jelasnya, mulai terlihat emosinya, dan mulai terlihat bulir air mata yang muncul dari ujung matanya.

“Bisa aja itu sodaranya, lo jangan negatif thinking dulu lah.” Gue mencoba netral. Bahaya ntar kalau gue ikut manas-manasin dikiranya gue ngebet banget ke dia. Padahal iya.

“Kim, gue udah jadian sama dia setaun lebih, dan setau gue dia gaada sodara cewek disini, adik kakaknya cowok semua.” Jelasnya sambil terus menangis.

Gue mencoba menenangkannya. Gue tarik lembut kepalanya dan menariknya kedalam pelukan gue. Dia masih terus menangis didada gue. Dan ini berlangsung beberapa menit.

Deg. Jantung gue berdetak dengan tidak wajar. Kristie yang memang berada didada gue, sepertinya menyadarinya, dia mendongkakkan kepalanya keatas sambil melihat wajah gue, Wajah kita benar-benar dekat dan dia berhasil membuat gue kikuk. Alisnya dinaikan satu yang seolah bertanya kenapa jantung gue berdetak dengan cepat. Dia melepas pelukan, dan tersenyum kearah gue sambil menghapus air mata yang tersisa di pipinya.

‘Sorry..Sorry. Gue gak maksud apa-apa, maaf kalau cara nenangin gue keterlaluan, baru pertama kali soalnya.” Jawab gue jujur dan salah tingkah.

“Kim, gapapa lagi. Makasih lo udah buat gue tenang. Tapi emang seriusan, lo baru pertama kali meluk cewek?” Tanyanya antusias. Seketika raut sedihnya hilang dan berganti dengan raut penasaran.

“Iya serius, lo cewek kedua yang gue peluk setelah Ibu gue.” Jawab gue malu sambil tersenyum kecil.

“Lo belum pernah pacaran, Kim?” Tanyanya to the point.

“Belum, dan ini kedua kalinya gue jalan berduaan sama cewek, yang pertama ya sama ibu. Aneh ya gue?” Tanya gue.

“Engga kok, malah langka. Padahal muka lo ga jelek-jelek amat kok, Kim. Kenapa gaada yang mau ya?” Tanyanya bercanda, dia menyandarkan kepalanya dibahu gue.

“Idihh, udah ditemenin malah ngeledek. Nih dengerin ya, masalahnya bukan di muka gue, tapi emang guenya aja belum nemu yang pas.” Gue membela diri.

Jantung gue kembali berdetak tidak wajar waktu Kristie menyandarkan kepalanya.

“Hahaha kelamaan nyari yang pas, nanti yang lain malah kelewat. Emang tipe lo kayak apa sih?” Tanya lagi sambil memainkan rambutnya yang panjang.

“Gue sih ga muluk-muluk ya, yang pasti cantik, bersih, sexy, bohay, pengertian, pinter masak, baik hati, dan tidak sombong.” Jelas gue panjang lebar, seketika Kristie memukul pelan kepala gue.

“Itu sih kebanyakan mau, pantesan aja gak ada yang nyangkut.” Jawabnya.

Kami berdua tertawa dan melanjutkan ngobrol. Ini memang pertama kalinya gue dan Kristie pergi keluar berdua, biasanya pasti barengan dengan anak-anak OSIS lainnya. Gue lihat jam dan udah menunjukan pukul 9, gue mengajak Kristie pulang dan di iyakan olehnya. Selama diperjalanan kita masih ngobrol-ngobrol banyak, dan udah gak gue lihat kesedihan ada di raut wajahnya. Sesekali Kristie memukul pelan helm gue ketika gue menggodanya. Ah, rasanya seperti mimpi. Gue yang sejak dulu memang suka sama Kristie dan tiba-tiba aja dia ngajak ketemuan dan jarak kita saat ini bisa dibilang sangat dekat.

Kristie bisa dibilang salah satu primadona di sekolah. Wajah cantiknya udah gak diragukan lagi. Cantiknya dilengkapi dengan otaknya yang pintar dan sikapnya yang sangat ramah sama semua orang. Gue mulai suka sama Kristie, saat MOS dulu. Dia adalah salah satu pembimbing kelompok gue, dan karena dialah gue termotivasi untuk bergabung di OSIS.

Sebenarnya, jantung gue sejak tadi masih berdetak dengan cepat, gue bener-bener bingung, apa iya gue kayak gini karena gapernah deket sama yang namanya cewek?. Iya memang bener sih, gue memang belum pernah deket sama cewek, Cuma sekedar suka, dan udah selesai. Makanya saat ini waktu lagi berduaan sama cewek, dan dia adalah Kristie, mungkin jantung gue berdetak kesenangan, karena membuktikan bahwa gue bukan penyuka sesame jenis.

“Sekali lagi, makasih ya, Kim.” Ucap Kristie saat turun dari motor. Dia tersenyum dan menatap gue dengan lembut.

“Okay, sama-sama ya. Yaudah gue langsung pulang ya, udah malem nih.” Jawab gue sambil siap-siap menancap gas.

“Iya, hati-hati. Salam buat Om bule ya.” Ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Gue juga ‘agak’ bule, tie” Jawab gue asal.

“Hahaha yaudah sana pulang, dadah Kimy.” Ucap Kristie sambil masuk ke halaman rumahnya.

Gue menancap gas dan pulang kerumah. Di perjalanan jantung gue berangsur berdetak dengan normal.

Sesampainya dirumah, gue langsung masuk ke kamar dan berbaring dikasur bersiap untuk tidur, bersiap untuk mimpi indah karena habis melewatkan malam barengan sama Kristie. Saat gue mulai memejamkan mata, bukan hanya bayangan Kristie yang tersirat, tetapi ada satu bayangan gadis lain, iya itu Dara. Ah, kenapa gue jadi memikirkan keduanya?

Jantung, hari ini kau berhasil membuatku malu karena berdetak dengan tidak wajar didepan seseorang yang aku suka.
Asik nih cerita

keep lanjut gan
Salken om..
Keep update
Quote:Original Posted By miraclenovt
Wah fresh from the oven. Lanjut emoticon-shakehand


Terima kasih, Gan. emoticon-Big Grin

Quote:Original Posted By lanaya41
Cukup menarik om ,gapapa kan ane panggil 'om' ? hahaha
Kan dah punya jagoan kecil .
Keep update yak om ts,btw salken emoticon-Toast


Hahaha iya, gapapa gan, santai aja emoticon-Big Grin
Thanks ya emoticon-Smilie

Quote:Original Posted By minion15
wah ada yg baru..ikutan nyimak dimari..emoticon-Toast


Silakan, Gan. emoticon-Big Grin

Quote:Original Posted By greynimation
Cerita yang mewajibkan diri untuk mendekat emoticon-Big Grin

Belum ada komen apa-apa masih sedikit banget soalnya emoticon-Ngakak (S) silahkan dilanjut gan.


Terima kasih, Gan. emoticon-Big Grin

Quote:Original Posted By whtviam
judulnya kek lagu kodaline om emoticon-Big Grin
cerita masa SMA emang punya daya tarik tersendiri wkwkwk


Hahaha memang mengadaptasi dari lagu Kodaline untuk judulnya, enak-enak lagunya emoticon-Big Grin

Quote:Original Posted By gangsta123
Asik nih cerita

keep lanjut gan


Thanks, Gan. emoticon-Big Grin

Quote:Original Posted By gyogingg
Salken om..
Keep update


Salam kenal juga, Gan. emoticon-Big Grin
Quote:Original Posted By kimmya

Hahaha memang mengadaptasi dari lagu Kodaline untuk judulnya, enak-enak lagunya emoticon-Big Grin

bener banget emoticon-Big Grin

"Bisa aja itu sodaranya, lo jangan negatif thinking dulu lah.” Gue mencoba netral. Bahaya ntar kalau gue ikut manas-manasin dikiranya gue ngebet banget ke dia. Padahal iya

gue ngakak pas baca bagian ini, kebayang gimana lo salah tingkah waktu itu emoticon-Wakaka
galau nih antara kristie ma dara emoticon-Bingung
Quote:Original Posted By daniihsan9
lanjut lagi kak kimy


Okay, Gan. emoticon-Big Grin

Quote:Original Posted By whtviam

bener banget emoticon-Big Grin

"Bisa aja itu sodaranya, lo jangan negatif thinking dulu lah.” Gue mencoba netral. Bahaya ntar kalau gue ikut manas-manasin dikiranya gue ngebet banget ke dia. Padahal iya

gue ngakak pas baca bagian ini, kebayang gimana lo salah tingkah waktu itu emoticon-Wakaka


Hahaha kalau di inget-inget lagi memang iya sih, salting banget emoticon-Malu

Quote:Original Posted By minion15
galau nih antara kristie ma dara emoticon-Bingung


Yup, berada di dua pilihan emoticon-Cape d...
wah nemu cerita baru neeeeh emoticon-Toast
mantap om bro ceritanya emoticon-Selamat emoticon-Shakehand2

semoga selamat sampai tujuan ya ceritanya emoticon-Shakehand2

buat index jgn lupa ya om bro hehe
PART 4

Beberapa bulan kemudian, akhirnya Kristie dan Rysan putus. Bukan karena selingkuh yang dilakukan Rysan kemarin saja, tetapi ada beberapa hal juga yang membuat Kristie gak lagi merasa nyaman sama Rysan. Kristie, dia sangat membenci yang namanya peselingkuh. Walaupun sempat memaafkan Rysan saat pertama kali dia selingkuh, tetapi Kristie mengatakan gak bisa sepenuhnya percaya lagi ke Rysan, dan kenyataannya memang Rysan melakukan hal itu lagi dan lagi, itulah yang membuat Kristie semakin gak nyaman. Rysan yang gak terima putus, selalu saja mengganggu Kristie. Setahu gue, Rysan sudah kuliah disalah satu Universitas yang ada di Bandung, dan setiap jam pulang sekolah dia selalu berusaha menjemput Kristie, dan memohon-mohon agar Kristie kembali lagi padanya. Namun sia-sia, karena keputusan Kristie untuk meninggalkan Rysan sudah benar-benar bulat.

Di waktu yang sama, gue menjadi dekat juga dengan Dara. Mungkin, karena gue merindukan sosok 'adik', karena memang gue menganggap Dara seperti adik sendiri. Belum ada perasaan 'cinta' karena selama dekat dengan Dara beberapa bulan ini, gue lebih menganggapnya adik. Kalau ke Kristie beda lagi. Gue masih sering merasakan jantung gue berdetak cepat saat ada didekatnya.

"Kesel gue sama Rysan, masih aja ngejar-ngejar gue. Minta maaf lah, mohon-mohon balikan lah, dulu juga kayak gitu, apa buktinya dia malah selingkuh lagi kan." Kristie tiba-tiba ngomel saat kami berdua lagi makan siang bareng di warung makan depan sekolah.

"Ya, namanya juga cowok. Kadang memang gitu, butuh hiburan. Hehehe." Gue nyengir kuda.

"Perasaan itu bukan wahana permainan, Kim. Kalo butuh hiburan ya cari hiburan lain kek, jangan nyakitin perasaan orang." Jawabnya ketus.

"Dih, kenapa jadi marah-marah ke gue." Tanya gue heran.

"Abisnya lo malah belain dia, bilang kalo cowok juga butuh hiburan lah. Jangan-jangan nanti kalo lo punya cewek bakalan lo selingkuhin juga ya?" Tanyanya sambil menunjuk didepan muka gue.

"Hahaha ya engga lah, gue bukan tipe cowok kaya gitu kali." Gue membela diri.

Drttt..drttt

Handphone jadul gue yang berada diatas meja tiba-tiba bergetar. Ada satu notifikasi yang menunjukan pesan masuk.

emoticon-Cek PM (S) "Kak Kim! Lagi dimana? Aku cari dikelas kok gaada?." Isi pesan dari Dara.

emoticon-Cek PM (S) "Ini lagi diwarung makan depan sama Kristie, sini aja dek." Balas gue cepat.

emoticon-Cek PM (S) "Cieeeeee yang lagi mojok aja, nanti aku ganggu gak?." Balasnya lagi.

emoticon-Cek PM (S) "Gak usah rese! Sini aja, Dek." Balas gue lagi dan kembali ngobrol sama Kristie.

Tidak lama kemudian, Dara datang dengan senyumnya yang ceria. Penampilannya memang lumayan berbeda dari pertama MOS. Sewaktu MOS, penampilan Dara sangat terlihat seperti anak kecil, dengan seragam SMP-nya dan rambut di ikat 2. Ditambah lagi dengan tas gendongnya yang sedikit unik. Saat ini, penampilannya sudah mulai terlihat sedikit dewasa, mungkin karena memang merasa sudah bukan anak SMP lagi, dan melihat juga kakak-kakak kelasnya seperti Kristie, yang sudah mulai memperhatikan penampilannya.

"Hai kakak-kakak. Cieeee...hftttttttttttt." Sapa Dara ceria. Gue otomatis menutup mulutnya dengan menariknya ke dada gue, karena gue tau apa yang akan Dara katakan. Iya, dia bakal ceng-cengin gue.

"Kimmm, itu lepasin Dara kasian hey." Ucap Kristie sambil tersenyum kecil, dan menarik tangan gue yang sedang menutup mulut Dara.

"Biarin aja nih, mulutnya gabisa dijaga emang." Jawab gue pura-pura kesal.

"Becanda KakKim, gitu amat sih." Jawab Dara dan duduk disebelah Kristie.

"Hahaha iya iya, gue juga becanda, Dek. Maaf ya." Jawab gue sambil mengusap kepalanya pelan.

Kristie hanya tersenyum melihat kelakuan kami berdua.

Memang, gue pernah bercerita ke Dara kalau gue suka dan kagum sama Kristie. Sejak saat itu, gue selalu menangkap senyum yang tidak bisa diartikan ketika Dara melihat gue lagi berduaan sama Kristie. Senyum yang seolah mengejek namun sedikit ia tahan karena takut kristie menyadarinya, tapi ya kalau lagi kumat kayak tadi, udah mau cie cie-an aja didepan Kristie. Karena, gue udah peringkatkan beberapa kali ke Dara, jangan sampai Kristie tahu mengenai perasaan gue.

"KakKim, hari ini jadi anter aku ke toko buku kan?." Tanya Dara disela-sela kami bertiga ngobrol.

"Ah, iya emang?." Tanya gue heran, karena gue ga merasa janji.

"Iya ih, ini liat sms semalem." Ucap Dara sambil menunjukan pesan semalam yang gue kirimkan.

"Siapa yang janjiin? Disana gue kan bilang 'gimana nanti', lagian hari ini gue udah janji mau pulang bareng Kristie, Dek." Jelas gue meminta pengertian ke Dara.

"Yah, KakKim jahat." Ucap Dara sambil menunjukan wajah sedihnya.

"Hmmm, dasar cewek." Gumam gue pelan, yang ternyata terdengar jelas oleh Kristie.

"Lo jomblo sih, dan gak punya adik juga, jadi ga ngertiin perasaan cewek." Ucap Kristie datar namun tetap menyunggingkan senyumnya.

"Yaudah, Dara sama aku aja yuk ke toko bukunya. Lagian ribet nanti kalau belanja sama cowok. Kim, gue pinjem motor lo ya, gue anter Dara ke toko buku dan rumahnya, nanti gue balik lagi kesini dan lo anter gue kerumah, Okay?." Lanjut Kristie memberikan saran yang menurut gue sangat briliant dan bisa diterima. Karena gue juga malas kalau harus mengantar cewek belanja, itulah sebabnya semalam gue cuma jawab 'gimana nanti' tidak mengiyakan permintaannya.

"Nah iya, gitu aja, Kak." Jawab Dara menyetujui dan tersenyum senang, namun kembali cemberut ketika melihat gue.

"Yaudah, gitu aja. Thanks ya, Kristie." Ucap gue sambil tersenyum dan dibalas dengan senyuman manisnya.

Kristie, dia memang pantas untuk dikagumi. Dia memang baik dan ramah pada semua orang, sampai terkadang kebaikan dan keramahannya disalah gunakan oleh beberapa pihak.

Beberapa jam kemudian, Kristie datang dan menjemput gue. Sepanjang perjalanan, dia menceritakan kembali kehebohan mereka belanja berdua. Kristie menceritakan, bahwa Dara sempat curhat dan kesal akibat perlakukan gue tadi ke dia. Gue hanya senyum-senyum aja mendengarnya.

Sebelum mengantar Kristie pulang, kami mampir ke kedai es krim yang tidak jauh dari rumahnya. Ternyata, pemilik kedai itu masih saudaranya Kristie, karena disana sedang ramai akhirnya Kristie membantu bibinya yang sedikit kewalahan menangani pembeli. Dia tersenyum sangat ramah setiap memberikan es krim atau menerima uang dari para pembali. Gue hanya memperhatikan Kristie, dan kembali menganguminya.

Ah, Kristie. Kamu selalu buat jantung aku berdetak dengan tidak wajar, bisakah senyummu tidak semanis itu? Rasanya, aku ingin senyum itu hanya untukku.
Lanjutttt.

Spoiler for spoiler:

emoticon-Cool Waw namanya kim, jadi inget apa ya hmmm