alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/581ae2dc56e6affe5f8b4568/keberuntungan-itu-kutebus-dengan-darah
KEBERUNTUNGAN ITU KUTEBUS DENGAN DARAH
KEBERUNTUNGAN ITU KUTEBUS DENGAN DARAH
Cover by Pandamania80

Salam Kenal

Setelah sekian lama jadi pembaca disini akhirnya saya mutusin untuk berbagi sepenggal kisah hidup saya.
Disini saya masih newbi banget emoticon-Baby Girl jadi mohon maaf dan mohon bantuan juga sarannya kalau sekiranya ada kesalahan dalam penulisan atau dalam cerita yang saya buat ini saya melakukan pelanggaran-pelanggaran yang ditetapkan dalam SFTH (semoga ngga di Close atau di Baned..Piss emoticon-Peace Momod)

Sebut aja saya Riendi saya seorang istri dengan satu anak laki-laki (Macan nieh hehehe emoticon-Kiss ), saya juga seorang Guru di dua sekolah. Orang bilang saya pendiam Cuma jika sudah bertemu dengan orang-orang yang klop saya bisa jadi cerewet, apalagi kalau sedang bareng-bareng dengan sahabat-sahabat saya bisa kambuh koplaknya emoticon-Hammer2
Kisah ini berdasarkan kisah nyata saya dengan ada sedikit penambahan pada tiap alur dan percakapan antar tokoh tanpa mengurangi atau menambahkan kejadian real nya. Demi menjaga privasi untuk setiap tokoh dalam kisah ini akan saya samarkan, begitu pula tempat kejadian.

Saya menulis kisah ini murni hanya ingin menjadikan thread ini sebagai diary saya dan sebagai pengingat saya dikala saya kehilangan semangat karena kisah ini adalah sepenggal dari jalan hidup saya yang menjadi titik balik pencapaian saya saat ini, jika kisah ini dapat dijadikan hikmah oleh para reader saya sangat bersukur. Dan sekali lagi mohon maaf jika dalam alur penulisan kurang bagus karena sebenarnya saya tidak punya basic dalam tulis menulis.







Spoiler for TAHAPAN PROSES BAYI TABUNG:



PART 1 Tahun 2013

Aku keluar dari kamar bercat putih dengan mata berkaca-kaca sambil meringis menahan sakit “kenapa?” tanya suamiku yang menungguku diruang tunggu karna dilarang masuk oleh bidan yang tadi menanganiku “bidannya kasar banget aku berasa diperkosa” bisikku pelan tepat ditelinga suamiku karena khawatir ada petugas rumah sakit yang mendengar lalu tersinggung. Setelah mengambil obat yang diresepkan dan membayarnya kami segera pulang.

Kami pasangan suami-istri yang menikah dari tahun 2004 dan kami memiliki seorang anak laki-laki yang gagah dan ganteng berusia 5tahun. Ditahun 2010 lalu aku divonis kista oleh dokter dan harus menjalani operasi, padahal saat itu aku dan suami sudah berniat untuk nambah jumlah anggota keluarga. Pasca operasi aku dinyatakan sembuh walaupun tetap aku harus jaga pola makan, aku pun mulai hidup sehat dengan konsumsi obat-obatan herbal. Tapi entah kenapa memasuki bulan Agustus tahun 2013 aku mengalami pendarahan, selalu ada bercak cokelat di celana dalamku inilah yang membuat aku akhirnya mengalami kejadian tidak enak dirumah sakit tadi “pokoknya aku ga mau lanjutin pengobatan di rumah sakit itu, cukup sekali aja tadi aku kesitu ga mau lagi-lagi” gerutuku saat aku dan suami tiba dirumah, memang aku dan suami baru pertama berobat ke rumah sakit tersebut pertimbangan kami jarak rumah sakit yang tidak begitu jauh dengan rumah kami karena masih satu kota “terus maunya gimana? Aku kan udah usulin untuk berobat kerumah sakit tempat kamu operasi dulu” sahut suamiku sambil mengelus lembut rambutku berusaha meredam emosiku, aku hanya terdiam mendengar komentarnya, memang dari awal aku mengalami pendarahan suami sudah menyarankan aku untuk check up ke rumah sakit yang dulu menanganiku saat operasi kista tapi karena rumah sakit itu letaknya cukup jauh berbeda kota dengan rumah kami yang pastinya akan memakan banyak waktu kalau harus bolak balik belum lagi waktu prakteknya terbentur dengan waktu kerjaku makanya aku coba alternatif untuk cari rumah sakit yang dekat.

Beberapa hari setelah kejadian dirumah sakit tersebut aku memutuskan untuk melakukan check up ke rumah sakit yang dulu menangani operasi kista ku “Untuk kasus ibu harapan untuk bisa hamil lagi sangat tipis makanya kami menyarankan untuk ibu melakukan bayi tabung” penjelasan dokter membuatku sangat kaget, jujur saja dari 2010 aku dan suami sudah ingin memiliki anak lagi akan tetapi karena teridentifikasi adanya kista dirahimku dan mengharuskan aku untuk operasi pembersihan kista makanya kami mundurkan niat kami untuk memiliki anak “ada baiknya saat check up kedua nanti ibu usahakan diantar suami, agar nanti suami pun paham kondisi ibu” lanjut dokter itu aku berpaling dan menatap perempuan disebelahku dia tersenyum sambil meremas jemari tanganku mungkin untuk memberi suport padaku “kebetulan hari ini suami saya sedang kerja Dok, makanya saya minta antar kakak saya” jawabku pelan mungkin hampir tidak terdengar. Memang saat itu aku meminta sahabat yang sudah sangat dekat denganku untuk menemaniku check up karena suamiku sedang berhalangan. Dia adalah sahabat yang sudah seperti kakak ku sendiri kami selalu berbagi dalam segala hal bahkan saking dekatnya kami teman-teman kerja selalu menjuluki kami Soulmate Double R atau Soulmate Renata dan Rienda “baiklah usahakan check up kedua nanti suami ibu bisa datang” ucap dokter lagi “iya terima kasih Dok” seruku seraya berdiri dari tempat duduk dan keluar dari ruang pemeriksaan, serasa tak ingin lebih lama lagi berbicara dengan dokter itu, karena kupikir semakin banyak dokter menjelaskan tentang kondisiku semakin membuat aku sesak. Ya sesak perasaan itu yang aku rasakan saat mendengar vonis dokter tadi, bayangkan perempuan mana yang tidak sedih jika divonis tidak bisa memiliki anak, walaupun saat itu dokter mengatakan masih bisa untuk aku memiliki anak walaupun harapan itu tipis “tenang Rie Lillahita’ala aja semua vonis dokter belum tentu benar, pasrah sama Allah” hibur Renata saat kami didalam mobil Trans menuju pulang aku hanya mengangguk lemah masih syok dengan vonis dokter tadi karena aku dan suami memang sangat menginginkan hadirnya seorang anak ditengah-tengah rumah tangga kami
Jangan lupa gan di next part jadiin index emoticon-shakehand
Ok sist lanjutkan.
Belum ngerti maksud semua nya sih
Quote:Original Posted By miraclenovt
Jangan lupa gan di next part jadiin index emoticon-shakehand



Makasih udah mau mampir
Untuk index Insya Allah ane usahain seperti yg ane bilang kalo ane msh newbi jd blm bisa ngindex nih emoticon-Malu (S)
Quote:Original Posted By polyglot
Ok sist lanjutkan.
Belum ngerti maksud semua nya sih


Makasih Gan udah mau mampir
pasti akan ane lanjutkan, tapi kepotong lanjut kerja dulu
tadi ketauan bos, karena ane post thread nya pake fasilitas kantor emoticon-Hammer2

Izin nampang dulu ahh di pejwan... Kali aja te es nya rajin apdet...
Part 2

Saat aku tiba dirumah hari sudah menjelang sore, suami sudah ada dirumah dan sedang asyik bermain dengan Jagoan ganteng kami. Aku ikut larut dalam keasyikan dua Lelaki itu, sejenak aku bisa melupakan kegalauan yang diakibatkan oleh vonis dokter tadi yang mengganggu pikiranku.

Malam harinya setelah Jagoan ganteng kami tidur barulah aku dan suamiku bisa membicarakan hasil Check up ku dengan dokter siang tadi, aku ceritakan semua hasil Check up ku pada suamiku tanpa ada yang aku tutupi sama sekali termasuk vonis dokter yang mengatakan bahwa peluang ku untuk hamil sangat kecil. Aku dan suami adalah sama-sama tipe orang yang sulit mengekspresikan perasaan kecewa, berbeda saat kami merasa senang atau marah sangat mudah kami mengungkapkannya dengan berbagai ekspresi akan tetapi jika sedang merasa kecewa kami seakan menjadi tipe introfet. Seperti saat ini saat sedang membahas hasil Check up ku ini aku benar-benar merasa sangat kecewa dan aku pun tahu pasti suamiku pun pasti sangat kecewa tapi kami bersikap datar saja seperti tidak ada sesuatu hal serius yang sedang kami bicarakan "terus menurut kamu gimana Ka??" tanyaku pada suamiku sambil merebahkan tubuhku disampingnya yang sedang duduk bersila diatas karpet ruang keluarga kami sebelah pahanya kugunakan sebagai bantalan kepalaku "Coba kita fokus dulu dengan upaya penghentian pendarahan kamu" jawabnya sambil menghisap rokok nya dalam-dalam.

Setelah percakapan malam itu kami benar-benar memfokuskan diri dalam penyembuhan pendarahan yang aku alami, 4 kali selama satu bulan kami harus bolak balik ke Rumah Sakit sampai akhirnya pendarahan yang aku alami berhenti dan Dokter menyatakan aku sembuh. Akan tetapi pernyataan sembuh dari Dokter itu tidak mengubah vonis nya terhadapku yang menyatakan bahwa peluang aku untuk dapat hamil itu sangat sedikit emoticon-Mewek
Quote:Original Posted By kakangprabu6969
Izin nampang dulu ahh di pejwan... Kali aja te es nya rajin apdet...


Makasih udah mau nampang di pejwan Gan
insya Allah sampai cerita ini selesai ane usahain akan rajin update
Part 3 Penghujung 2013

Dua bulan setelah aku dinyatakan sembuh dari pendarahan yang aku alami, aku dan suami memutuskan untuk mencoba menjalankan apa yang diusulkan oleh dokter agar kami bisa mendapatkan anak yaitu Program bayi tabung. Tepat dibulan Desember 2013 kami mulai konsultasi dengan Dokter di Rumah sakit yang sama saat aku menjalani operasi pembersihan kista ditahun 2010 dan penyembuhan pendarahan dibulan agustus-september 2013, awalnya aku hanya diresepi vitamin yang harus diminum selama 2minggu kata dokter vitamin itu gunanya untuk mengembalikan vitalitas tubuhku agar saat nanti akan mulai program bayi tabung tubuhku benar-benar dalam kondisi fit. Setelah vitamin tersebut habis aku memasuki fase awal untuk proses program bayi tabung yaitu aku wajib menyuntikkan dua resep obat kedalam perutku tepatnya 3jari dibawah pusar yg harus dilakukan setiap hari tepat jam 13.00 dan setiap 4hari aku harus melakukan USG Transvaginal untuk melihat apakah sel-sel telurku merespons obat-obatan yang disuntikkan tersebut. Karena jika sel-sel telur ku tidak merespons obat-obatan tersebut maka program bayi tabung tidak dapat dilanjutkan.

Di fase ini banyak kejadian yang aku alami dari awalnya aku takut dan anti sekali dengan suntik sampai aku terbiasa menusukkan jarum suntik tersebut ke perutku (FYI : difase ini dokter menyarankan pasien untuk menyuntikkan sendiri obatnya ke tubuhnya dikarenakan penyuntikkan dilakukan tiap hari jadi ribet kalau harus bolak balik rumah sakit atau klinik terdekat. Kalau dibayangin mungkin mirip pemakai narkoba).

Saat aku belum berani menyuntikkan sendiri obat-obatan tersebut ke perutku aku selalu minta bantuan ibuku untuk menyuntikkan obat-obat itu karena suamiku pun tidak berani melakukannya, syukurnya rumahku dengan rumah orangtua berdampingan emoticon-Big Grin
Pernah ada kejadian aku liburan keluar kota dengan keluarga suami, saat itu aku belum berani menyuntik sendiri, waktu untuk menyuntik pun tiba aku dan suami kebingungan siapa yang harus menyuntikkan obat tersebut untuk mencari klinik pun agak sulit karena kami berlibur benar-benar ketempat pedesaan, ditengah kebingungan aku teringat bahwa Adik suami adalah calon bidan maka kami pun memaksa dia untuk mempraktekkan ilmu yang didapatnya di akademi kebidanan tapi untuk ini aku agak menyesal juga dan ga mau lagi-lagi minta disuntik andik iparku itu karena saat disuntik aku merasa bener-bener sakit dan sedikit keluar darah dari luka tusuk jarum suntik (karena baru calon kali ya belum jadi bidan jadi ilmu suntik nya belum mantap emoticon-Ngakak (S))

Pernah juga suatu kali saya menyuntikkan obat itu didalam bus yang sedang berjalan, dan dari kejadian inilah akhirnya saya berani untuk menyuntik obat itu sendiri. Jadi saat itu saya menjadi pendamping study tour siswa ditempat aku mengajar, tepat jam 12.30 setelah selesai makan siang rombongan kami melanjutkan perjalanan ke spot tour berikutnya, jam 13.00 rombongan kami masih terjebak macet dijalan tol saya mulai bingung kira-kira siapa diantara 3rekan saya yang ada dalam bus bersama saya yang mau menolong saya untuk menyuntik obat saya. Dari mulai minta tolong sampai memohon melas-melas pada ketiga rekan saya itu tapi tidak ada yang berani untuk menyuntikku (huft ternyata bukan aku aja yang takut jarum suntik emoticon-Hammer (S)). Akhirnya karena takut melewati jadwal suntik yang sudah ditetapkan dan karena tidak ada yang mau menolongku untuk menyuntik jadi aku nekat menyuntik sendiri obat itu keperutku sambil disemangati oleh ketiga teman-temanku, dan posisinya saat itu aku duduk dibangku paling depan di bus berseberangan dengan supir dan ketiga temanku berdiri mengelilingiku sambil bersorak "ayo Rie kamu bisa" seraya mengacungkan tangan mereka yang terkepal (seperti gaya extra jos) emoticon-Big Grin

Memasuki hari terakhir dari fase penyuntikkan ini adalah evaluasi sel telur (aku sebut saja begitu yaa karena rada lupa sebutan-sebutan medisnya) ini adalah penentuan dimana ada tidaknya sel telur yang cocok untuk dilakukan program bayi tabung. Jadi kalau didalam rahimku setelah dilakukan fase penyuntikkan ditemukan sel-sel telur yang bagus dan matang yang bisa digunakan untuk program bayi tabung tersebut maka program bisa dilanjutkan, sebaliknya jika sel-sel telur itu tidak ditemukan maka program tidak dapat dilanjutkan

Part 4 Welcome 2014 Jungkir Balik Duniaku

Gegap gempita pesta menyambut pergantian tahun berlangsung diseluruh penjuru dunia, aku dan suami tidak ikut dalam pesta perayaan tersebut kami khidmad dalam doa berharap usaha kami untuk memiliki anak dengan jalan program bayi tabung berhasil.

Tanggal 15 Januari 2014 pagi aku dan suami sudah berada diruang tunggu rumah sakit, hari ini aku akan melakukan USG kembali untuk dilihat apakah dirahimku terdapat sel-sel telur yang bisa untuk melakukan bayi tabung. Kami larut dalam kegiatan masing-masing, suamiku sibuk dengan handphone nya aku sendiri asik membuka-buka halaman majalah yang disediakan diruang tunggu tersebut "Kaaa boseeeennn, beteeee" seruku seraya menaruh majalah yang tadi aku bolak balik halamannya tanpa ku baca, suami hanya melihat kearahku tanpa berbicara apapun "ke kantin aja dulu yu laper nih pengen ngemil" rajuk ku sambil sedikit memajukan posisi bibirku beberapa senti "coba tanya dulu susternya panggilan kita masih lama ga" perintah suamiku aku pun langsung berjalan menemui suster yang menjaga dibagian pendaftaran untuk menanyakan apakah giliranku untuk diperiksa dokter masih lama atau tidak. Setelah mendapat jawaban dari suster itu aku kembali kehadapan suamiku "katanya masih 1jam lagi Ka, ayo kita cari cemilan dulu yu" laporku pada suami sambil menarik tangannya agar segera beranjak untuk mencari cemilan.

Beberapa menit kemudian aku sudah masuk dalam antrian orang yang mau memesan makanan disebuah restoran cepat saji "katanya ngemil ko masuk sini sih?? aku kentang goreng sama ayam paha bawah aja ga usah nasi minumnya es kopi late" kata suamiku seketika aku nyengir kuda sambil menjawab "tadi didepan aku liat menunya ada yang aneh Ka, namanya Lasagna aku mau coba soalnya baru liat ko pasta bentuknya kaya gitu terus kayanya banyak lelehan kejunya pasti enak" Lasagna makanan Italia sejenis pasta ini aku baru mengenal dan memakannya hari itu (nora yaa padahal hidup dipinggir kota besar emoticon-Big Grin ) tapi perkenalanku dengan Lasagna ini tidak mengecewakan karena sampai sekarang makanan ini menjadi salah satu makanan favorite ku.

Selesai makan yang aku sebut ngemil tadi kami kembali ke Unit Program Bayi Tabung, sampai disana kami langsung masuk ruang pemeriksaan, suasana tegang langsung menyelimutiku karena ini adalah penentuan bisa atau tidaknya aku melanjutkan program bayi tabung ini. Detik seakan bergerak lambat, lama sekali dokter memutar-mutar alat USG tersebut sambil menekuni layar yang menampilkan kondisi dirahimku ketegangan juga tampak diwajah dokter itu menambah semakin terasa horor suasana saat itu, mungkin karena beliau belum juga berhasil menemukan sel-sel telur dalam rahimku.

Dan saat beberapa menit berlalu wajah dokter itu mulai berubah, dia menekan tombol yang ada dimonitor membesarkan skala gambar yang ditampilkannya "lihat itu" kata dokter sambil menunjuk kelayar monitor yang menampilkan kondisi rahimku "ada 5 sel telur yang ditemukan jadi program ini bisa dilanjutkan" lanjutnya sambil melepas alat USG dari tubuhku "Alhamdulillah" seru aku dan suami hampir berbarengan. Kami melanjutkan percakapan dimeja dokter "fase selanjutnya masih sama, ibu harus menyuntikkan obat lagi ke perut ibu tapi dengan obat yang berbeda, kali ini gunanya untuk membuat sel-sel telur tadi matang dan siap untuk dibuahi" jelas dokternya lagi padaku dan suami "ibu usahakan makan yang enak dan bergizi selama program ini, istirahat yang cukup dan teratur, jaga kesehatan jangan sampai sakit. Bapa nya tolong bantu jaga mood ibu ya" tambah dokter itu "pasti Dok, terima kasih" jawab suamiku seraya menyalami dokter tersebut dan kami keluar dari ruangan pemeriksaan.
Part 5

Sebelum aku melanjutkan pengalamanku mengikuti program bayi tabung, sekilas aku ingin memberikan gambaran tentang Rumah Sakit tempat aku melakukan program tersebut khususnya Unit Program Bayi Tabung.

Rumah sakit ini berada hanya sekitar 500 meter dari exit tol dan berdiri dipinggir jalan besar dikawasan Jakarta Barat, jadi untukku transportasi kesana sangatlah mudah jika aku sedang malas memakai kendaraan pribadi karena dari tempat tinggalku menuju ke Rumah Sakit tersebut ada mobil Trans yang akan melewatinya. Rumah Sakit ini biasanya lebih dikenal orang sebagai Rumah Sakit Jantung.

Sedangkan untuk Unit Program Bayi Tabung sendiri menurutku tempatnya sangat nyaman karena disana disediakan ruang tunggu khusus berbentuk seperti ruang tamu dirumah dengan sofa-sofa empuk yang disediakan untuk para pasien yang sedang menunggu panggilan untuk diperiksa oleh dokter, ada sebuah TV besar diruangan ini yang chanel nya bisa kita ganti-ganti sesuka kita karena remote TV nya ada dimeja TV nya (ini biasanya yang aku lakukan kalo pasien diruang tunggu tidak terlalu ramai..memonopoli saluran TV emoticon-Big Grin ) untuk mengusir kebosanan saat menunggu panggilan, disediakan juga teh celup, gula, dan kopi sachet gratis. Ruang tunggu ini juga tertutup jadi terkesan lebih privasi, tidak berada dilorong Rumah Sakit seperti umumnya ruang tunggu diRumah Sakit, menurutku ini poin plus pertama Unit Bayi Tabung diRumah sakit ini.

Untuk para tim kerja di Unit ini aku juga mengacungi jempol karena suster-susternya sangat ramah malah aku merasa seperti keluarga saat menjadi pasien disana. Menyapa dan menanyakan kabar setiap aku datang untuk menjalani program, mendengarkan keluh kesahku, memberiku suport agar optimis dalam menjalani program sampai pernah saat pertama kali aku harus berhadapan dengan jarum suntik mereka mencari cara agar aku tidak tahu bahwa aku sedang disuntik. Dan dokternya pun tak kalah ramahnya, satu hal yang selalu aku ingat saat aku menjalani proses terakhir diprogram ini aku disuapi teh manis hangat oleh sang dokter yang menangani program bayi tabungku (nanti akan ku ceritakan lebih jelasnya di part-part selanjutnya).

Itulah sekilas gambaran Rumah Sakit tempat aku dan suami meniti impian untuk memiliki anak.
Part 6Teman...

Hari itu disekolah jam istirahat aku menanti pesananku diantarkan oleh abang penjual mie ayam bersama kedua temanku Yuli dan Mano “hei-hei tadi pa Firdian bilang ada tiket promo ke Bali PP per orang Cuma 700ribu, kita ambil yu liburan bareng-bareng” kata Nur yang tiba-tiba nongol dikantin dan langsung duduk bergabung dimeja kami “yang bener!! untuk tanggal berapa?” tanya Yuli antusias “berangkat tanggal 29 Januari pulang tanggal 1 Februari, ambil yu murah banget loh ini” jelas Nur membujuk kami “gue mau aja tapi ga bisa berangkat sendiri, paling harus ngajak suami sama anak” kataku sambil menikmati mie ayam yang sudah tersaji “gue juga kalo ikut pasti harus ngajak anak” Mano bersuara “ya udah ga papa kita ajak anak-anak kita biar bareng-bareng main” usul Nur “gue sih oke aja” jawabku “oke deh yu sekalian itung-itung perpisahan nya si Mano keluar dari sekolah ini” timpal Yuli “ya udah berati semua oke ya, nanti gue bilang pa Firdian kita booked tiket itu” ujar Nur memutuskan.

Seperti yang aku jelaskan di pembukaan bahwa aku adalah seorang Guru di dua sekolah (maksudnya ngajar di dua sekolah yang berbeda) jadi aku ngajar di sebuah SMA Negeri dan di sebuah SMK Swasta, di masing-masing sekolah aku punya teman dekat untuk di SMA Negeri kebetulan tiga orang ini lah teman dekat ku Yuli, Mano dan Nur. Sebetulnya aku orangnya supel mudah bergaul dengan siapapun dan aku termasuk yang terbuka dalam pergaulan maksudnya tidak pernah pilih-pilih teman tapi entah kenapa aku jadi sangat dekat dengan Yuli, mano dan Nur, kadang aku berfikir kalau kami bisa jadi teman dekat karena gaya dan selera kami sama, ya kami suka jalan-jalan, shoping, nyalon dan hura-hura.

“Tiket pesawat udah gue booked ya ke pa Firdian udah gue bayarin juga tadi ditransfer tinggal kalian bayar sama gue oke” kata Nur saat kami berkumpul di ruang guru untuk bersiap-siap pulang “gue bayar cash aja lusa ya, maklum gue kaga punya ATM” sahutku “kebiasaan lu, hari gini masih belum punya ATM juga, nora!!” ledek Nur “tau lu Rie gimana sih jangan malu-maluin gue dong sebagai temen lu” timpal Mano “iya Rie jangan kaya orang susah deh!!” Yuli ikut menimpali “yaa gimana mau punya ATM orang tabungan aja gue ga punya” jawabku sambil cengar cengir “gue doain ilang semua duit lu!!” kata Mano kesel “iris kuping gue kalo lu pada percaya si Riendi ga punya tabungan” seru Yuli lagi “hahaha udah sih pada bawel yang penting gue bayar tuh tiket biarpun pake cash” jawabku enteng sambil naik ke boncengan motornya Yuli untuk pulang. Jadilah hari itu kami berempat merencakan akan libur bersama diakhir bulan nanti. Seperti ini lah kedekatan kami, makanya aku berfikir kami bisa dekat mungkin karena memiliki hobi yang sama
Part 7

Seperti biasa tiba dirumah suami selalu sudah tiba lebih dulu, ini dikarenakan hobi ku tadi jadi kalau pulang mengajar kadang aku tidak langsung pulang entah itu ngerumpi dulu disekolah dengan ketiga temanku tadi sampe sekolah sepi atau mampir di tempat makan sekedar ngemil sambil ngerumpi, untungnya aku punya suami yang sangat pengertian akan hobiku ini (makasih yaa Ka emoticon-Peluk ) setelah berganti baju langsungg duduk manis dimeja makan nemenin suami makan sambil ikutan makan "lagi dalam masa program bayi tabung gini nongkrongnya dikurangi De, kan kemarin dokter bilang kamu harus jaga kesehatan, ga boleh cape harus istirahat rutin dan jangan sampe sakit" pesan nya (nah kan akhirnya diprotes juga emoticon-Hammer2 ) "iya Ka besok-besok ngga lagi, tapi aku ga kecapean ko" sanggahku "hmm" gumam suamiku "eh Ka aku udah booking 3tiket pesawat ke Bali PP loh untuk kita" ujarku mencoba mengalihkan pembicaraan "tadi Nur, Yuli sama Mano ngajakin, mereka juga mau bawa keluarganya, jadi itung-itung liburan aja kan waktu libur tahun baru kita ga kemana-mana" lanjutku "untuk kapan??" tanya suami "berangkat tanggal 29 Januari pulang tanggal 1 februari" jawabku "eh bentrok ga dengan jadwal program bayi tabungnya?" tanya suami lagi "mudah-mudahan sih ngga, biar refresing dulu deh kita mumet nongkrong rumah sakit mulu mumpung ada tiket promo murah juga" harapku "ya udah semoga ga bentrok dengan jadwal program nya, lagian sijagoan juga belum pernah diajak naik pesawat kan" timpal suami sambil beranjak dari meja makan karena kegiatan makan siangnya sudah selesai.

Obrolan dilanjut di ruang keluarga sambil nonton TV dan nungguin ngantuk datang karena aku adalah orang yang masih menerapkan wajib tidur siang emoticon-Big Grin kali ini kami tidak berduaan tapi bertiga karena jagoan kami yang ikut nimbrung ditengah-tengah kami "De kayanya besok kamu harus menghadap ke kepala sekolah di SMA kamu untuk minta kelonggaran absen, karena kayanya jadwal bolak balik rumah sakit akan semakin padat" kata suamiku membuka percakapan "kayanya iya deh Ka ga enak kan izin-izin terus, aku juga bingung nih" jawabku "mening kamu ngomong jujur aja sama kepala sekolah kamu masalah program bayi tabung yang lagi kita jalani mudah-mudahan aja beliau mau ngerti dan ngasih kelonggaran absen" saran suamiku. Dari awal menjalani program bayi tabung aku memang tidak banyak cerita pada siapapun hanya orang tuaku, beberapa keluargaku, dan beberapa teman dekat saja bahkan keluarga dari suami pun tidak aku beritahu.Selama ini jika ada jadwal check up ke rumah sakit yang kebetulan bentrok dengan jadwal ngajarku paling aku mengajukan izin karena ada keperluan pribadi, ini lah awal dari kesalahan yang aku buat.
Part 8

Sejenak mundur ke bulan November 2013 tepatnya dihari minggu aku lupa tanggalnya, tok...Tok...Tok.....Tok...Tok...Tok "Rie banguuuun udah siang!! bukannya kamu ada tes CPNS hari ini??" teriak ibuku sambil memggedor-gedor pintu rumah "iya Buuuu" jawabku malas sambil melirik jam dinding yang tergantung didinding kamar "baru jam setengah 7, masih pagi juga" gumamku dan bersiap tidur lagi, kebiasaanku dan keluarga kecilku kalo hari minggu adalah hari bebas jadi boleh bangun jam berapa aja "Rie buka pintunya, udah siang kamu kan tes CPNS hari ini!!" teriak ibuku lagi terpaksa aku turun dari kasur dan bergegas menuju pintu keluar rumah dan membukanya karena aku tahu kalau pintu itu belum ku buka ibuku akan terus menggedornya "udah siang ini kamu kan ada tes CPNS!!" berondong ibuku dengan kalimat yang sama yang diulang-ulangnya saat pintu rumah sudah dibuka "ah males Bu, palingan nanti yang lulus juga orang-orang yang nyogok" jawabku dengan malas masih mengucek-ngucek mata "heh jangan males-males mau lulus mau ngga itu urusan nanti namanya juga ikhtiar" ibuku mulai ceramah "lagian udah jam seginu Bu, tesnya kan jam 8 mana sempet Rie kesana, belum mandi dandan" sanggahku "mening telat daripada ngga, orang-orang mah berduyun-duyun susah payah daftar pengen ikut tes CPNS kamu dapat panggilan tanpa harus susah-susah daftar malah males-malesan, ayo cepet mandi terus berangkat kan tempatnya juga ga jauh-jauh amat!! Fahri anterin Riendi ke tempat tes pake motor cepet!! kalo sampe ngga dianter bisa dimarah sama Bapa!!" lanjut ceramahan ibuku tak pelak suamiku yang baru keluar kamar pun ikut kena ceramah "udah De buruan mandi nanti aku anterin ke tempat tesnya"kata suamiku menimpali ceramahan ibuku saat ibuku sudah meninggalkan rumahku "males Ka!! sebenernya aku niatnya ga mau ikutin tes itu, palingan juga ga akan lulus, tau sendiri gmn tes CPNS paling yang lulus yang punya koneksi dan berani nyogok, pusing-pusing dan buang-buang waktu aja ikutan tesnya" sahutku "udah berangkat aja dulu masalah lulus atau ngga kan urusan nanti, kalo ga mau pusing ngisi soalnya ga usah dibawa serius ngasal aja, dari pada ngga berangkat nanti dimarahi ortu" kata suamiku lagi aku diam tak menjawab hanya memajukan sedikit bibirku kedepan sambil berjalan kekamar mandi.

Selesai mandi dan dandan aku pun bergegas menuju tempat diselenggarakannya Tes Pengangkatan Honorer Kategori II Menjadi PNS dengan diantar oleh suami menggunakan motor, sepanjang perjalanan aku terus menggerutu tentang ketidakinginanku mengikuti tes ini "sebenernya bukan karena masalah yang bakal lulus pasti orang-orang yang udah punya beking dan nyogok aja yang bikin aku males ikut tes ini Ka, aku tuh udah lama kepikiran untuk fokus ngajar di satu sekolah aja dan kayanya pilihanku jatuh ke SMK Swasta, jadi aku mau fokus ngajar di SMK Swasta aja mulai tahun pelajaran depan, lagi pula gaji aku juga kan udah lumayan di SMK swasta jadi ga perlu cape-cape ngajar di dua sekolah" gerutuku "kalo rencananya kaya gitu sih aku juga setuju aja, tapi ini kan kamu udah nanggung dapet panggilan tes, udah hari ini ikuti aja dulu tes nya trs kalo misalnya niat kamu mau fokus ngajar di SMK Swasta aja ya tinggal berenti aja yang di SMA Negeri nya" saran suamiku "oke deh, tapi percuma aja menurutku ikut-ikut tes begini buang-buang waktu" gerutuku lagi "udah ikuti aja dulu hitung-hitung pengalaman"kata suamiku menasehati "pengalaman apaan yang ada pusing aku" sanggahku

Setiap manusia tidak ada yang tahu apa yang menantinya di depan, kadang baik dimata manusia belum tentu baik di mata Yang Maha Kuasa
Part 9
Aku sampai ditempat Tes CPNS itu dan benar perkiraanku aku telat datang semua peserta tes sudah masuk keruang tes dan duduk manis di bangku yang tertera nomor pesertanya masing-masing walaupun memang tes belum dimulai “assalamualaikum..” seruku saat hendak memasuki ruangan tes itu aku langsung disambut oleh panitia pengawas ruang dan langsung dipandu menuju bangku yang tertera nomor pesertaku. Cukup lama juga dari aku datang tadi tesnya belum dimulai juga aku terus menggerutu dalam hati sambil chating di BBM dengan teman-temanku demi mengusir kekesalan dalam hati karena kupikir harusnya hari minggu seperti ini aku bisa manfaatkan untuk pergi jalan-jalan ketempat rekreasi bersama keluargaku atau setidaknya bisa malas-malasan seharian dirumah tapi ini malah terdampar diacara Tes Pengangkatan Honorer Kategori II Menjadi PNS yang konyol ini. Konyol? Yaa konyol karena aku menganggap tes-tes seperti ini percuma diadakan kerena biasanya yang akan lulus adalah orang-orang yang punya koneksi dengan pejabat-pejabat di Dinas terkait, atau orang-orang yang rela membayar ratusan juta untuk sebuah pekerjaan.
Tes pun dimulai dengan sangat santai aku kerjakan pertanyaan demi pertanyaan”Ko gampang amat sih pertanyaannya” batinku kekesalan masih menyelimuti hatiku karenanya aku tidak begitu serius mengerjakan soal-soal tes tersebut, sekali-sekali aku masih main handphone membalas chatingan-chatingan yang masuk ke BBM ku “Bu maaf ada yang pake kalkulator nih” seru peserta disebelahku seraya aku menoleh kearahnya dan aku melihat semua mata peserta sudah memandang kearahku “what the fuck! Maksud lu gue??” batinku kaget saat itu memang sedang tes matematika dan pengawas ruang sudah ada dihadapanku “bukan kalkulator Bu tapi ini HP saya lagi bales sms” seruku dengan suara sengaja dikeraskan agar terdengar oleh semua peserta tes diruangan itu “dimasukkan ke tas aja HP nya” kata pengawas ruang lalu berjalan kembali ke mejanya, aku lirik peserta disebelahku yang tadi melaporkan aku pake kalkulator “kalo bukan lagi tes gini dan kalo ga inget sekarang gue lagi pakai atribut guru udah gue damprat lu, Hp dibilang kalkulator nora lu” gerutuku dalam hati sambil menatap tajam pada peserta itu yang pura-pura tidak sadar kalau aku sedang menatapnya, ditahun itu HP android memang belum terkenal seperti sekarang waktu itu N*k*a masih meraja bersaing dengan Bl*ckb*rr* BBM juga masih milik Bl*ckb*rr* sebagai pemegang hak patennya, saat itu aku pun masih menggunakan HP Bl*ckb*rr* yang bentuknya agak besar makanya mungkin peserta tadi mengira aku sedang memakai kalkulator.

Sudah dibuat kesal karena harus mengikuti Tes CPNS ini ditambah kejadian barusan membuatku semakin kesal saja karenanya setelah selesai mengerjakan semua soal tes aku tidak menunggu lama untuk meninggalkan ruangan tes tersebut, segera aku bangkit dari tempat dudukku dan berjalan ke meja pengawas untuk mengumpulkan lembar jawaban tes ku “tidak nunggu bel selesai aja dulu sambil periksa lagi jawabannya siapa tahu masih ada yang keliru masih ada waktu 15 menit” kata pengawas ruang “ngga usah Bu soalnya saya buru-buru ada keperluan lain” jawabku ketus “ngapain pusing-pusing periksa-periksa ulang palingan juga ga bakal lulus” gerutuku dalam hati sambil berjalan keluar ruangan diikuti mata-mata peserta lain yang menatap aneh kepadaku. Aku peserta yang datang terlambat tapi keluar tes lebih dulu...

Setiap manusia telah dituliskan takdirnya oleh Yang Maha Kuasa, apa yang mereka inginkan belum tentu bisa mereka dapatkan akan tetapi terkadang apa yang tidak mereka inginkan dengan begitu mudahnya ada digenggaman tangan mereka
Part 10

Setelah menjalani dua fase penyuntikan pada program bayi tabung tepatnya ditanggal 25 Januari 2014 aku dan suami melakukan check up kembali "Alhamdulillah sel-sel telurnya sudah matang dang siap untuk dilakukan Ovum Pick Up, dan dulu sewaktu USG terakhir kita cuma menemukan 5 sel telur tapi sekarang kita menemukan ada 8 sel telur yang bisa dilakukan OPU" kata dokter menjelaskan kondisiku saat melakukan USG (FYI : Ovum Pick Up/OPU adalah proses pengambilan ovum/sel telur dari rahim, ini dilakukan dengan operasi kecil langsung dari lubang Miss V) "alhamdulillah jadi lebih banyak lagi sel telur yang bisa dipakainya Dok" kata suamiku saat kami sudah berada dimeja dokter "betul, dan semakin banyak sel telur maka memperbesar peluang keberhasilannya" jelas dokter "terus setelah ini fase berikut yang harus dijalani apa dok?" tanyaku "setelah ini ibu tetap menyuntikkan lagi obat yang sama selama 2 hari tanggal 26 - 27 Januari tapi nanti di tanggal 27 januari kita USG ulang karena planning nya tanggal 29 Januari kita akan melakukan OPU" jelas dokternya lagi, aku dan suamiku kaget dan saling berpandangan "udah pasti Dok jadwal OPU nya tanggal 29??" tanyaku spontan "iya karena kan tadi hasil USG sel telurnya sudah matang jadi OPU harus dilakukan tanggal 29" jawab dokter, aku dan suami berpandangan dan tersenyum "kenapa? ada agenda lain ya?? tanya dokternya "ada planning liburan ke Bali Dok pas ditanggal 29" jawab suami sambil senyum-senyum "oh begitu, tapi jadwal OPU ga bisa mundur atau maju" kata dokter menjelaskan "iya Dok ga apa-apa kami mengutamakan program ini" sahutku "tiket pesawatnya sudah dibeli ya??" tanya dokternya "udah tapi ga apa-apa ko Dok" jawabku lagi "wah sayang sekali ya, jam berapa keberangkatannya" tanya dokter "jam 5 sore Dok" jawab suamiku "oh kalau begitu jika mau tetap berangkat bisa aja, OPU kan dilakukan jam 8 dan selesai jam 10 sampai ibu sadar kembali" jelas dokter "nanti kami pikirkan lagi Dok" sahutku "sayang juga yah tiket pesawatnya kalo tidak dipakai" ujar dokter "ga apa-apa dok yang penting program ini berhasil" kata suamiku bijak "oke semoga programnya berhasil ya kita sama-sama berdoa" kata dokternya lagi "aamiin..terima kasih Dok" kata suamiku lagi seraya menyalami dokter dan bersiap keluar dari ruang pemeriksaan.

Di perjalanan pulang aku dan suami terus membahas masalah ini "yaa Ka gimana dong batal deh liburan ke Bali" seruku "mau gimana lagi kan dokter bilang OPU harus sesuai jadwal yang ditetapkan ga bisa mundur atau maju" jawab suamiku "untung si Jagoan belum dikasih tahu, kalau dia udah tahu kita ada rencana ke Bali terus batal bisa ngamuk" kataku "eh tapi kan tadi dokter nya bilang bisa aja kalo kita maksain berangkat karena jam keberangkatan kita sore, jadi setelah OPU kita langsung ke Bandara" sambungku "kamu nya sanggup ngga, di OPU itu ada tindakan operasi loh, sakit ngga nanti bakalnya" kata suamiku "iya juga sih, berarti kita batalin aja??" tanyaku dengan nada sedikit kecewa "mau ga mau harus dibatalin, udahlah kita utamakan aja program ini masalah liburan bisa lain kali" kata suamiku memutuskan aku hanya mengangguk-anggukkan kepala petanda setuju walau dengan berat hati, karena jujur aku sangat menantikan bisa liburan ke Bali ini bersama keluarga kecilku dan bisa berangkat rame-rame juga dengan ketiga temanku Yuli, Mano dan Nur.

Sudah banyak yang aku korbankan demi kehadiranmu malaikat kecil buah cintaku, aku hanya berharap kehadiranmu ditengah-tengah canda tawa suka duka ku sebagai penguat cinta kami...Kehadiranmu yang tidak dapat ku beli dengan seluruh harta yang ku punya
Ijin nenda gan.. jgn kentang ya ganemoticon-Cool
Quote:Original Posted By dede7irawan
Ijin nenda gan.. jgn kentang ya ganemoticon-Cool


Silahkan Gan
Insya Allah ga akan ada kentang diantara kita emoticon-Hai
Part 11

Setiba dirumah aku langsung hubungi teman-teman ku mengabari bahwa kemungkinan besar aku batal untuk liburan ke Bali dengan mereka
"Yul kayanya gw batal ikut liburan ke Bali nya" chat ku melalui Bbm
tak menunggu lama ada balasan dari Yuli "kenapa say?? terus tiket nya gimana??"
"terbentur dengan jdwl check up program hamil gw say" jawabku
"emang check up nya ga bisa ditunda? jarang-jarang loh kita bisa pergi bareng-bareng bawa keluarga masing-masing lagi" tanya Yuli
"Gw juga pengen banget pergi bareng-bareng bawa keluarga tapi gimana dokter gw bilang jadwal check up nya ga bisa diubah" jelasku sedikit berbohong karena memang aku tidak pernah memberitahukan ketiga temanku ini perihal program bayi tabung yang aku jalani
"Terus tiket nya gimana?? sayang loh masa ga dipake" tanya Yuli lagi
"ga tahu deh, nanti gw coba tanya sepupu-sepupu gw siapa tau ada yang berminat, atau coba lu tawar-tawarin deh ke temen-temen gw gadai murah deh" jawabku
"oke deh gw coba yaa, eh lu udah kasih tau Mano sama Nur ga kalo lu ga jadi pergi?" tanya Yuli sekali lagi
"belum say, lu aja yang kasih tahu mereka yaa gw baru banget balik dari rumah sakit, cape" jelasku
"oke deh"seru Yuli
"sip makasih ya" tutupku.
Aku berbaring diruang keluarga disebelah suamiku yang duduk bersila sambil menikmati segelas kopi, suasana seperti ini adalah favorite kami berdua "sebentar lagi aku berangkat ke SMA Negeri kamu De, kasih surat keterangan Dokter mudah-mudahan kepala sekolahnya masih ada supaya bisa langsung minta izin" kata suamiku memecah kebisuan diantara kami "iya Ka, jangan lupa Surat Keterangan Dokter nya di foto copy dulu untuk dikasihkan ke SMK Swasta sama aku besok" jawabku mengingatkan nya "untuk masalah liburan ke Bali udah ikhlasin aja ga usah dipikirin kita fokus ke program bayi tabung aja, lain kali kalo program ini berhasil kita liburan bareng-bareng" nasihat suamiku "iya Ka, lain kali kita ke Bali sekeluarga ya" kataku manja lalu meraih Hand Phone yang tadi kuletak kan dilantai membuka fitur BBM dan menulis pada kolom Profile Message "yang berminat ke Bali Tanggal 29 Januari - 1 Februari ping me ada tiket gratis untuk 3 orang" lalu ku post kan pesan itu "ikhlas yaa sayang" kata suamiku sambil membelai rambutku "iya Ka" jawabku sambil tersenyum manis "ya udah aku berangkat ke SMA Negeri dulu nganter surat keterangan dokter khawatir kepala sekolahnya keburu pulang" pamit suamiku lalu beranjak pergi.

Suamiku sudah pergi menuju SMA Negeri tempat aku mengajar untuk menyampaikan surat keterangan Dokter agar aku bisa diizinkan cuti beberapa hari, aku masih malas-malasan sambil menonton TV tiba-tiba bunyi bip-bip membuyarkan konsentrasiku dari tayangan yang sedang kutonton satu BBM masuk
"Rie suami lu ada di SMA nih mau apa ya??" ternyata Yuli yang mengirim BBM itu
"iya Say mau anter surat keterangan dokter ke kepala sekolah, masih ada kan kepala sekolahnya?" jawabku dan mengajukan pertanyaan balik
"ada, eh iya say gw baca PM BBM lu seriusan itu??" tanya Yuli
"serius say, dari pada tiketnya terbuang sia-sia mening kasih ke orang" jawabku
"kalo gitu boleh ga buat sepupu gw 2orang nih" tanya Yuli lagi
"ya udah ga apa2 say, ambil aja tiketnya dirumah gw" jawabku
"seriusan Rie?? Makasih ya!!" kata Dewi
"sama-sama Say" Tutup ku.

Aku ikhlas melewatkan kenikmatan kecil itu, aku berharap akan ada kenikmatan yang lebih besar didepan sana yang bisa aku dapatkan
Part 12
Senin 27 Januari 2014 jam 6.45 aku sudah di SMK Swasta tempat aku mengajar ditemani 3 teman dekatku, sama seperti di SMA Negeri tempat aku mengajar disini pun aku memiliki 3 teman dekat bernama Renata, Yuni, dan Nia “tolong ya Yun nanti Surat keterangan Dokternya dikasih ke guru piket sama tugas untuk siswa juga” kataku “sip tenang aja” jawab Yuni “hari ini programnya ngapain Rie” tanya Renata perihal program bayi tabung yang sedang aku jalani “planning sih hari ini USG terakhir karena hari rabu nya udah mau pengambilan sel telur” jawabku “berarti udah hampir selesai ya?” tanya Renata lagi “iya mudah-mudahan, doain yaa biar berhasil” jawabku “aamiin” jawab mereka bertiga serentak “berarti kalo bayi tabung lu berhasil, usia kehamilannya cuma beda 6 bulan ya sama Yuni” ujar Nia “insya Allah doain aja” jawabku “pasti kita doain” ucap Renata “ayo De udah siang khawatir macet” seru suamiku yang sudah tiba menjemputku di SMK Swasta “Gw jalan dulu ya” kata ku sambil memeluk satu-satu temanku “hati-hati, sukses ya” seru ketiga temanku hampir bersamaan. Ya hari itu saya ke sekolah bukan untuk menunaikan kewajiban saya sebagai guru tapi hanya untuk memberikan surat keterangan dokter sebagai data pendukung pengajuan cuti ku selama 3hari kedepan.

Diperjalanan “gimana beres tadi masalah surat keterangan dokter nya?” tanya suamiku “udah aku titip sama Yuni aja” jawabku “oh ya belum cerita, kemarin waktu aku ngasih surat keterangan dokter ke Kepala Sekolah yang di SMA Negeri terpaksa aku cerita masalah program yang lagi kita jalani” kata suamiku “hah Kaka cerita?? Terus gimana??” tanyaku kaget karena memang selama ini aku dan suami sepakat untuk tidak menceritakan pada siapapun masalah program bayi tabung yang kami jalani selain pada keluargaku dan beberapa teman dekat “kayanya Kepala Sekolah respon nya positif kok, beliau memaklumi jika nanti kamu harus ambil cuti, lagi pula jadwal ngajar kamu sudah diserahkan ke Yuli kan sebagai guru pengganti” jelas suamiku “oh gitu, alhamdulillah kalo tanggapannya positif” kataku menanggapi “makanya terpaksa aku ceritain aja masalah program kita ke Kepala Sekolah mudah-mudahan dengan Beliau tahu beliau bisa ngasih keringanan absen sama kamu” jelas suamiku lagi “iya Ka” jawabku berharap.

Setiba di Rumah Sakit kami langsung disuruh masuk keruang pemeriksaan ternyata hari itu jadwal check up sedang sepi mungkin karena ini adalah hari senin bertepatan dengan hari kerja “Oke semuanya bagus, sampai saat semuanya seperti yang kita harapkan mudah-mudahan hasil akhirnya pun seperti yang kita harapkan juga” jelas dokternya setelah melakukan USG kepadaku “selanjutnya apa Dok?” tanya suamiku “nanti malam ibu suntik lagi tapi dengan obat yang berbeda, untuk lebih jelasnya hal-hal yang harus dilakukan sampai tanggal 29 nantai dijelaskan oleh suster” jelas dokternya lagi “baik Dok terima kasih” ucap suamiku sambil kami beranjak meninggalkan ruangan pemeriksaan.
Diluar ruang pemeriksaan Suster menjelaskan obat apa saja yang harus aku suntik mulai nanti malam sampai besok malam, kemudian aku dianjurkan berpuasa di hari rabu tepat tanggal 29 Januari karena hari itu aku akan melakukan OPU (Ovarium Pick UP), dan kami diharuskan sudah tiba di Rumah Sakit pada pukul 07.00.
Berharap semua berakhir indah sesuai yang diinginkan