alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5808d48cd9d7701f118b457c/curhat-di-medsos-sepucuk-surat-untuk-ibu-lulusan-jerman-mahasiswi-bakal-dipenjara
Curhat di Medsos Sepucuk Surat untuk Ibu Lulusan Jerman, Mahasiswi bakal Dipenjara
Quote: Curhat di Medsos Sepucuk Surat untuk Ibu Lulusan Jerman, Mahasiswi bakal Dipenjara

Curhat di Medsos Sepucuk Surat untuk Ibu Lulusan Jerman, Mahasiswi bakal Dipenjara



Nanda Feriana, mahasiswi Ilmu Komunikasi, Universitas Malikussaleh, (Unimal) Aceh, terancam masuk penjara setelah menjalani pemeriksaan sebagai saksi di Polres Lhokseumawe, Aceh.
Sebelumnya, pada 6 Oktober 2016, Nanda dilaporkan melakukan pencemaran nama baik dan Undang-undang Informasi Transaksi Eletronik (UU ITE) oleh, Sekretaris Prodil Ilmu Komunikasi Unimal, Dwi sekaligus dosennya sendiri ke Polres Lhokseumawe.
Surat terbuka berjudul “Sepucuk Surat untuk Ibu Lulusan Jerman” yang ditulis Nanda pada dinding (wall) akun Facebooknya 27 September 2016 dianggap mencemarkan nama baik.


Curhat di Medsos Sepucuk Surat untuk Ibu Lulusan Jerman, Mahasiswi bakal Dipenjara


Meskipun, ia tidak menuliskan identitas dosen secara mendetail.
Pada surat terbuka itu, Nanda menyampaikan rasa kecewa karena gagal mengikuti yudisium (penentuan nilai lulus suatu ujian sarjana lengkap di perguruan tinggi) di kampus negeri terbesar kedua di Aceh itu.
Bahkan, ia mengucapkan terima kasih kepada dosen lulusan Jerman yang dianggapnya telah mengagalkannya yudisium.


“Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih telah menggagalkan satu usaha besar untuk membahagiakan orangtua saya. Anda karena berasal dari keluarga orang kaya, tidak pernah merasakan kemiskinan , tidak paham sulitnya kuliah, Itu sebabnya Anda dan teman Anda melakukan ini,” demikian penggalan status di wall akun Facebook Nanda.


Nanda menyampaikan, sebelum dilaporkan ke polisi, telah berulangkali mediasi agar dosen lulusan Jerman tersebut memaafkannya.
Namun, mediasi yang digelar Fakultas Fisip Unimal gagal.
“Saya sudah dimediasi dan akhirnya Ibu dosen menuntut saya harus minta maaf di koran Serambi Indonesia empat hari berturut-turut. Nanda tidak sanggup kalau harus iklan empat hari koran,” katanya saat dihubungi, [url=http://www.tribun-medan.com,]www.tribun-medan.com,[/url] Kamis (20/10/2016).
Ia menceritakan, telah menjalani pemeriksaan di Polres Lhokseumawe, pada Rabu (19/10/2016).


Curhat di Medsos Sepucuk Surat untuk Ibu Lulusan Jerman, Mahasiswi bakal Dipenjara


Pemeriksaan berlangsung dari pukul 10.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB, ada 27 pertanyaan dilayangkan penyidik.


“Kemungkinan dalam waktu dekat ini, status saya naik jadi tersangka. Padahal, saya sudah menempuh jalur damai dan saya minta maaf karena ada pihak-pihak yang anggap saya tidak sopan dengan dosen sendiri. Saya minta maaf,” ujarnya.


Dia mengatakan, telah membawa Ibundanya ke rumah dosen tersebut untuk meminta maaf secara langsung.
Namun, Dwi, dosen Unimal lulusan Jerman itu, tak membuka pintu rumah.
“Saya kirim surat hingga empat halaman dan saya minta maaf dan memberikan setangkai mawar. Namun, surat itu dibakar dan di-posting ke media sosial. Sebenarnya bukan masalah personal saya dengan Ibu dosen, tapi persoalan akademik yang bawa ke hukum,” katanya.
“Sebenarnya dekan telah mediasi untuk pertama kali. Dalam mediasi itu, Ibu dosen minta permohonan maaf seperti ucapan selamat selama empat hari berturut-turut. Padahal di status itu, tidak ada saya sebutkan nama dan ciri-ciri fisik dan penyebutan nama Fakultas Fisip dan Ilmu Komunikasi,” tambahnya.


http://medan.tribunnews.com/2016/10/...penjara?page=3



[b]kasian emoticon-Cape d...
Quote: Ibu Dosen Beber Alasan Polisikan Mahasiswinya


Bermula dari curhatan di media sosial, Nanda Feriana harus berurusan dengan hukum. Mahasiswi Ilmu Komunikasi, Universitas Malikussaleh, (Unimal) Aceh.
Nanda dianggap telah mencemarkan nama baik seorang dosen lewat surat terbuka berjudul "Sepucuk Surat untuk Ibu Lulusan Jerman" yang ditulis pada dinding (wall) akun Facebooknya 27 September 2016.
Nanda mengaku sudah minta maaf pada sang dosen. Sebaliknya, dosen bernama Dwi yang disasar secara satire pada status tersebut, menyebut Nanda tak kooperatif.


Dwi bilang, Nanda sudah yudisium, sehingga tidak ada kaitannya dengan Unimal.
Ia melaporkan Nanda ke Polres Lhokseumawe murni karena persoalan pribadi lantaran ada tulisannya Nanda di Facebook yang menohok dirinya.


"Tolong buat berita berimbang, fakultas juga sudah memediasi. Saya juga mengajak berjumpa dan memberikan waktu satu pekan. Tapi Nanda tidak pernah mau, dan alasannya berubah-ubah," katanya kepada www.tribun-medan.com pada Kamis (20/10/2016).


Ia menuturkan, dalam mediasi, Nanda menolak meminta maaf di Harian Serambi Indonesia karena merusak reputasi dirinya.
"Lantas bagaimana dengan saya yang di-bully, korbannya ? Pernah dia pikir ke situ. Kemarin dia (Nanda) datang ke rumah saya dengan Ibunya dan kakeknya, saya sudah terlalu berat rasa sakit ini," ujarnya.
Dwi mengisahkan, dua hari lalu, Nanda mengirimkan surat dengan kalimat pujian dan sepucuk bunga mawar. Begitupun, Dwi mengaku tetap sulit untuk memaafkannya.
"Kemarin jumpa di Polres, dia melihat saya dengan ekor mata. Padahal dia itu anak didik saya. Saya gagal mendidik dia, sedih rasanya. Ada ribuan mahasiswa saya, tetapi cuma dia (Nanda) yang keterlaluan. Kecuali saya tidak mau jumpa dan bicara, kamu bisa kroscek saya di prodi (program studi). Saya dosen yang selalu siap ditemui mahasiswa," katanya.


"Kejadian ini sangat menganggu psikologis saya sebagai guru, sedih saya, sangat sedih saya. Saya merasa sangat ditohok oleh anak didik saya. Bahkan, ketika saya ingin merangkul dengan sikap lunak saya, dia menepis. Ingat, menunda yudisium bukan membatalkan Nanda jadi sarjana," tambahnya.
Ia bilang, Nanda ditunda yudisium lantaran telat memberikan berkas. Sementara, ada ratusan mahasiswa yang antre mengurus untuk ikut yudisium.


Seharusnya, mahasiswa ikut proses yang ditentukan kampus.
"Kalau dia ingin kritik Unimal, kritik dengan cerdas. Kalau Unimal perlu perbaikan gugat secara perdata, jangan pribadi saya dihina dan di-share ke banyak orang. Jadi, intinya masalah saya dengan Nanda sudah personal, bukan institusi. Unimal sudah yudisium dia sehingga selesai," tandasnya.


http://medan.tribunnews.com/2016/10/...iswinya?page=3
Quote: Ini Lakon Pekerjaan Mahasiswi yang "Dipolisikan" Ibu Dosen

Curhat di Medsos Sepucuk Surat untuk Ibu Lulusan Jerman, Mahasiswi bakal Dipenjara


Nanda Feriana, mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Malikussaleh yang terancam mendekam di penjara lantaran diduga melakukan pencemaran nama baik dosennya, dikenal sebagai aktivis.
Dwi, sang dosen melaporkan Nanda Feriana ke Polres Lhokseumawe imbas curhatan Nanda Feriana di Medsos.
Tulisan yang diberi judul “Sepucuk Surat untuk Ibu Lulusan Jerman” diunggah Nanda pada dinding (wall) akun Facebooknya 27 September 2016 dianggap mencemarkan nama baik.


Seturut dengan unggahan tersebut, akun Facebook atas nama Edi Fadhil, Kepala Sekolah Demokrasi Aceh Utara (SDAU) menuliskan, Nanda merupakan peserta SDAU yang aktif menulis.
"Nanda menjadi peserta yang paling aktif dan kritis serta aktif menulis di buletin bulanan serta beberapa edisi buku yang diterbitkan SDAU," tulis Edi di akunnya pada Kamis (20/10/2016).


Edi bilang, cukup prihatin dengan kondisi pendidikan adik-adik yang bersekolah di pedalaman, Nanda mendirikan gerakan kerelawanan Jaroe Aceh.
"Melalui Jaroe Aceh Nanda dan kawan-kawannya secara periodik mengunjungi sekolah sekolah di pedalaman Aceh Utara untuk berbagi inspirasi. Setahun terakhir Nanda menjadi bendahara Gerakan Beasiswa berbasis Facebook, Gerakan Mari Sekolah (GMS)," katanya.


Sebagai bendahara Gerakan Beasiswa Berbasis Facebook, lanjutnya, Nanda mengirimkan beasiswa ke-156 anak dampingan GMS. Namun, beberapa bulan terakhir Nanda minta off karena sedang fokus menulis skripsi.
"Tahun lalu, Nanda meraih anugerah KNPI Award sebagai apresiasi atas kiprahnya.
Sering mengikuti kegiatan-kegiatan berskala nasional dan punya bakat hebat menjadi MC (Master of Ceremony). Meski tidak menyebut nama bahkan inisial dosen yang dikritiknya, Nanda di laporkan ke polisi oleh dosennya sendiri karena mengkritik birokrasi kampus melalui akun Facebooknya di status "Sepucuk surat untuk ibu lulusan Jerman"," ujarnya.


Edi menceritakan, Nanda telah berulangkali memohon maaf melalui akun Facebooknya dan melalui pertemuan khusus yang difasilitasi oleh pihak fakultas.


"Terakhir Nanda membawa ibundanya serta Teungku imum kampungnya datang ke rumah sang dosen untuk meminta maaf. Bahkan Nanda mengirimkan surat permohonan maaf kepada sang dosen. Namun semua itu belum mampu memberi solusi. Nanda dilaporkan ke polisi oleh sang dosen," katanya.
"Kemarin Nanda untuk pertama kali sudah diperiksa di Polres Lhokseumawe dan masih berstatus sebagai saksi dan berpotensi untuk menjadi tersangka," tambahnya.


http://medan.tribunnews.com/2016/10/...u-dosen?page=3
Quote: Ini Pernyataan Nanda Feriana yang Bikin Ibu Dosen Sakit Hati


Dwi, Sekretaris Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh, mengisahkan kekecewaan nan sarat dengan curhatan Nanda Feriana, mahasiswi yang curhat di media sosial lantaran ingin dibatalkan yudisium.
Di dinding (wall) akun Facebook Nanda Feriana, tersemat judul “Sepucuk Surat untuk Ibu Lulusan Jerman” yang diunggah pada 27 September 2016. Konten pada unggahan itu dianggap Dwi, sang dosen, telah mencemarkan nama baik. Terkhusus, pada penyebutan dosen lulusan Jerman primitif.



“Dalam tulisan itu, saya dikatakan tidak beradab, primitif. Apakah perilakunya lebih bagus dari saya ? Lulusan Jerman di Unimal cuma dua orang. Satu laki-laki dan satu lagi perempuan. Kalau sudah Ibu (penyebutan di status) lulusan Jerman itu, berarti cuma saya, tidak ada yang lain,” katanya saat dihubungi [url=http://www.tribun-medan.com,]www.tribun-medan.com,[/url] Kamis (20/10/2016).
Menurutnya, tulisan pada dinding (wall) akun Facebook Nanda Feriana sudah pasti ditujukan untuknya.
Dwi menyebutkan perilaku mahasiswinya itu tidak sopan, dan mengecewakan.


“Memang sangat-sangat tidak sopan. Saya tidak akan mengistimewa mahasiswa untuk pengurusan administrasi. Ada ratusan mahasiswa menunggu transkrip nilai untuk mendaftar KKN dan yudisium. Jadi antre dong,” ujarnya.
Dia menuturkan, Nanda, meminta diperlakukan secara spesial dalam pengurusan administrasi di prodi.
Namun, sebagai sekretaris prodi, Dwi mengikuti prosedur akademik bahwa seluruh mahasiswa harus mendapatkan perlakuan serupa.


“Dia (Nanda) minta spesial serupa yang didapatnya di fakultas. Boleh mendaftar tanpa memenuhi syarat yang lengkap?. Ia (Nanda), enggak lengkap berkas dan sudah diakuinya saat mediasi. Yang jelas ketika mediasi gagal, saya kecewa. Sehingga saya memanfaatkan hak saya sebagai warga negara atas penghinaan dan pelecehan. Apakah jaminan alumni Unimal lebih baik dari alumni Jerman ?,” katanya.
“Saya tidak mau membalasnya di sosial media, karena saya tidak satu level denganya dan dia bukan level saya. Jauh kali dibawa saya jadi saya enggak mau perang di sosial media,” tambahnya.
Ia menceritakan, telah memberikan kesempatan kepada Nanda selama satu pekan, untuk membuat permohonan maaf di Harian Serambi Indonesia.


Namun, kesempatan tersebut, tidak dipenuhi dengan alasan tak punya uang.
“Setelah mediasi gagal, saya kasih waktu seminggu untuk diterbitkan permintaan maaf di media cetak. Saya bukan minta satu halaman. Saya dosen media sudah tahu duluan harga iklan enggak sampai puluhan juta. Kenapa saya minta media cetak ? statusnya sudah viral, sehingga jangan sembarangan menohok orang, menjatuhkan harkat dan martabat orang,” katanya.
Pada mediasi yang dilakukan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unimal, lanjutnya, Nanda menolak menyampaikan permintaan maaf di Harian Serambi Indonesia lantaran dapat merusak kredibilitas diri dan keluarganya.
“Lantas, sebagai dosen bagaimana dengan kredibilitas saya, ? Saya dosen yang sudah melahirkan alumni ribuan orang. Saya punya anak, punya suami dan punya keluarga besar. Permintaan saya, dia meminta maaf di media cetak selama empat hari berturut-turut. Namun, Nanda menolak, saya tetap lunak, saya hanya minta dua kali permohonan maaf di Serambi dan belum ada pembicaraan ukurannya,” ujarnya.
satu lagi korban UUITE yang geje
lebay ni dosen, lagian namanya kan juga ga ditulis di status kok bisa jadi tersangka. subyek yang dirugikan siapa?
jadi ini ceritanya mahasiswinya yang mewek di fesbuk krn dikasih nilai jelek, trus dosennya ga terima?
Quote:Original Posted By godofarcher
jadi ini ceritanya mahasiswinya yang mewek di fesbuk krn dikasih nilai jelek, trus dosennya ga terima?



yoi gan... tapi namanya keknya gak disebut padahal...
Dosen emang kejem ye, beda banget ama guru emoticon-Traveller
kalo orang luar fakultas si mahasiswi susah akan tahu dosen itu siapa sebenarnya. Di facebook, temen si mahasiswi pasti ada yg sejurusan kan, masak dari situ aja kalo ditelusuri gak bakalan tahu dosen yg dimaksud siapa, udah jelas banget ciri-cirinnya.

kalo telat yudisium, bayar lagi semester depan gitu kah? sebenernya kalo tinggal yudisium bisa minta keringanan ke Fakultas, ada yg bisa ada yg nggak sih. Cuman kalo masalah nilai ya tergantung dosennya

nasi udah jadi bubur, mo gimana lagi



dikampus gw juga ada tipe dosen kaya gtu. dari 16x pertemuan ngajar cuman 3x ngajar. pas nilai DI khs muncul banyak yang dapet nilai D.

diajarin sama dosen yang lain walaupun 1jurusan supaya mengalah untuk menang kalau ngadepin dosen kaya gtu. kalau udah lulus baru deh boleh cari gara2sama dosen
dosennya juga ya maafin lah mahasiswa, kek sensi bener..
ibu kan pernah jadi mahasiswa, pasti ngerti gimana kondisi mahasiswa n rasa kecewa mereka.. beda sama mahasiswa yang belum ngerasain jd dosen.. emoticon-Cape d... (S)
hadeeeh.. tipikal dosen angkuh keknya..
mahasiswa dah dosen yang labil emoticon-EEK!
cambuk sudahh, setelah itu semoga klen kena tsunami lagi. jujur aja gw eneggg emoticon-fuck

Ahihihi

Dosen lagi neh... Panjang bos.. Raja Kecil..
Iseng2 chatting ngobrol sama temen yg kerja di Unimal
faktanya:
Mahasiswi ngasi berkas ga lengkap dan terkesan menunda nunda
Mahasiswi itu minta perlakuan spesial, sementara ada ratusan mahasiswa lain yg ngantri mau yudisium
Mahasiswi nya mewek di FB dengan modus "orang miskin yg dizalimi org kaya", padahal sebenarnya dia yg mau melangkahi prosedur
Bu Dosen emang orangnya rada baperan dan kaku, tapi dia emang ngikuti prosedur, daripada ntar bikin marah ratusan mahasiswa lain?
Dosen lebay dan nyebelin itu emang ada
Tapi mahasiswa yang sok minta diistimewakan dan ngerasa boleh2 aja motong kompas juga ada


jadi ingat ama si bogel yg kemaren juga bikin surat cinta untuk momod emoticon-Ngakak
Begitu lah jika mereka dikasih fisik yg bagus











Banyak perempuan menjadi semakin sombong









mudah mudahan mereka berdua menjadi jelek fisik nya di mata manusia dan merasakan apa yg dirasakan oleh perempuan lain yg dianggap jelek fisik nya oleh manusia


aamiin
dosen gak akan mempersulit kalau mahasiswanya taat dan tertib walau gak semua juga sih emoticon-Big Grin
Kaga lulus yaudah kaga lulus
Kecewa...?
Kok posting di medsos
Ya ngomong banding lah ke dosennya
Giliran dikasusin mewek
Piye to...?

emoticon-Nohope