alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5801848692523371228b456a/khalifah-umar-bin-khatab-gubernur-dan-sekretaris-non-muslim
Khalifah Umar Bin Khatab, Gubernur dan Sekretaris non-Muslim
Ane kutip dari sebuah website nih mudah mudahan ente bisa mencerna nya dengan baik

FIKIH, sebagai disiplin sebuah ilmu kerap didefinisikan sebagai “Ilmu tentang Hukum-hukum Syari’at praktis yang diperoleh dari dalil-dalilnya yang terperinci.” Sedangkan kata “Pejabat” dalam KBBI diartikan sebagai “Pegawai pemerintah yang memegang jabatan penting (unsur pimpinan)”.

Tulisan ini akan mengangkat tentang –sekelumit kecil– tema jabatan dalam perspektif fikih.

Dalam tafsir “Al-Kasyf wa Al-Bayan“, Imam Abu Ishaq Ats-Tsa’laby telah menukil sebuah kisah dari Iyadh Al-Asy’ary;

وقال عياض الأشعري : وفد أبو موسى الأشعري إلى عمر بن الخطاب ، فقال : إن عندنا كاتباً حافظاً نصرانياً من حاله كذا وكذا . فقال : مالك قاتلك الله ؟ أما سمعت قول الله تعالى : ( يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا بطانة من دونكم ) الآية ، وقوله ( لا تتخذوا اليهود والنصارى أولياء ) ؟ هلا اتخذت حنيفيّاً

“Dan Iyadh Al-Asy’ary berkata; Suatu ketika Abu Musa Al-Asy’ary datang kepada Umar Ibn Khattab dan berkata; “Kita memiliki seorang penulis (pencatat/sekretaris) yang terpercaya dan beragama Nasrani, dimana orangnya begini dan begini (menyanjung kelebihannya). Kemudian Umar pun berkata; “Ada apa denganmu? Sungguh Allah akan memerangimu (ungkapan pengingkaran), tidakkah telah kau dengar Firman Allah; “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu” dan juga Firman Allah; “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali-wali(mu).” Mengapa tidak kau ambil saja orang yang Hanif? (orang yang bertauhid dan bukan musyrik).”

Selain Imam Ats-Tsa’laby, kisah di atas telah dinukil juga oleh beberapa Mufassir lainnya dengan redaksi yang berbeda-beda, di antaranya telah dinukil oleh Abu Zahrah dalam kitabnya “Zahrah At-Tafasir” saat mengatakan;

ولقد كان عمر بن الخطاب – رضي الله عنه – ينهى عن أن يستخدم غير المسلمين في الدولة الإسلامية، ويروى في ذلك أن أبا موسى الأشعري كان له كاتب نصراني، فأرسل إليه أمير المؤمنين عمر ينهاه عن ذلك، وجاء في آخر كتابه: (لا تقربوهم إذ أقصاهم الله) فرد عليه أبو موسى يقول له: (لا قوام للبصرة إلا به). فكتب إليه عمر مرة أخرى كلمة موجزة: (مات النصراني والسلام) وقد فسر الزمخشري تلك الكلمة الموجزة بقوله: (يعني أنه قد مات، فما كنت تكون صانعا حينئذ فاصنعه الساعة، واستغن عنه بغيره).

“Dan dahulu Umar ibn Khattab Radhiyallahu ‘Anhu melarang penggunaan non-Muslim di Negeri Muslim. Dan telah diriwayatkan dalam hal tersebut bahwa Abu Musa Al-Asy’ary memiliki seorang penulis (sekretaris) beragama Nasrani, lalu Amirul Mukminin Umar Ibn Khattab mengirimkan surat kepadanya melarang akan hal tersebut. Dan di akhir surat tersebut dikatakan; “Janganlah engkau mendekatkan mereka (non-Muslim) sedangkan Allah telah menjauhkan mereka”. Lalu Abu Musa pun membalas surat tersebut dengan berkata; “Urusan di Basrah ini takkan berjalan tanpa dia (sekretaris Nasrani tadi)”. Lalu Umar pun kembali menyuratinya dengan perkataan singkat; “Orang Nasrani itu telah mati! Wassalam!”.

Imam Al-Zamakhsary telah menafsirkan kalimat singkat tersebut dengan menjelaskan; “Maksudnya adalah: Orang Nasrani tersebut (anggap saja) telah mati, dan apa yang –akan– kau lakukan saat Nasrani itu telah mati, maka lakukanlah saat ini juga, dan angkatlah orang lain (sekretaris yang lain) untuk menggantikannya.””

Dari kisah di atas, setidaknya dapat kita pahami mengenai beberapa hal;

Pertama, Khalifah Umar sangat marah saat Abu Musa Al-Asy’ary –selaku Gubernur Basrah kala itu– mengangkat seorang sekretaris beragama Nasrani. Meskipun Abu Musa telah menyampaikan tabayyun dan memberikan alasan bahwa orang Nasrani tersebut adalah sosok yang handal dan piawai (bahkan urusan di Basrah takkan berjalan tanpa dia), namun Khalifah Umar tetap tidak menerima alasan tersebut dan tetap memberi perintah untuk segera mencopotnya lalu menggantinya dengan seorang sekretaris Muslim.

Kedua, saat menolak kebijakan Abu Musa Al-Asy’ary, Khalifah Umar memandang bahwa pengangkatan seorang sekretaris non-Muslim di negeri Muslim adalah sesuatu yang tidak logis. Karena logikanya, dalam sebuah masyarakat mayoritas Muslim, mustahil tidak ditemukan seorang Muslim yang lebih kredibel dibanding satu orang Nasrani yang disanjung-sanjung oleh Abu Musa tadi. Dan kalau saja memang tidak ada orang yang lebih mumpuni dibanding sekretaris Nasrani tadi, tentunya Khalifah Umar pasti takkan memerintahkan gubernurnya untuk mencopot sekretaris andalannya itu, sebab itu sama saja dengan perintah untuk melakukan hal yang mustahil, yang itu bertentangan dengan nalar dan syara’.

Ketiga, Khalifah Umar dalam penolakannya tersebut ternyata tidak murni mengedepankan wewenang kekuasaannya saja, tapi juga dalam rangka menerapkan dua perintah Allah yang telah termaktub jelas dalam Al-Qur’an:

Pertama adalah surat Ali Imran ayat 118 yang selengkapnya berbunyi;

يَا أَيهَا الذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتخِذُواْ بِطَانَةً من دُونِكُمْ لاَ يَأْلُونَكُمْ خَبَالاً وَدواْ مَا عَنِتمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاء مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَينا لَكُمُ الآيَاتِ إِن كُنتُمْ تَعْقِلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” [QS: Ali Imran [3]: 118]

Kedua adalah surat Al-Maidah ayat 51 yang selengkapnya berbunyi;

يَا أَيهَا الذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلهُم منكُمْ فَإِنهُ مِنْهُمْ إِن اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظالِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali-wali (mu); sebahagian mereka adalah wali bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi wali, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” [QS: Al Maidah (5):51 ].

Ini artinya, kedua ayat di atas dapat dijadikan landasan sebagai dalil akan “larangan mengangkat non-Muslim untuk menduduki jabatan vital di negeri mayoritas Muslim” tentunya jabatan penting lainnya yang lebih tinggi dari sekedar sekretaris gubernur.*/Yusuf Al-Amien, penulis alumni PP Darussalam – Gontor
nah ini...mantap
udah tau ini kisah...tetep aja heran perintah al-qur'an dikesampingkan untuk urusan politik semata...kafir dibela, ulama dipelototi....nauzubillah..
ente tinggal di negara demokrasi gak berhak larang2 orang berdasarkan agama

ente bawa2 ayat tapi gak bisa bertindak adil dan berlaku zalim

dasar munafiqun, jijik gw liat tingkah polah ente
Quote:Original Posted By freesky2347
ente tinggal di negara demokrasi gak berhak larang2 orang berdasarkan agama

ente bawa2 ayat tapi gak bisa bertindak adil dan berlaku zalim

dasar munafiqun, jijik gw liat tingkah polah ente


cuma islamnya gus dur yg nyebar kebaikan.. bukan cuma tafsir ini-itu, nuntut ini-itu, demo ini-itu, macam dia yg sempurna padahal koruptor yg gelarnya haji mereka sembah-sembah emoticon-Busa:
Quote:Original Posted By freesky2347
ente tinggal di negara demokrasi gak berhak larang2 orang berdasarkan agama

ente bawa2 ayat tapi gak bisa bertindak adil dan berlaku zalim

dasar munafiqun, jijik gw liat tingkah polah ente

perintah ini ada di Alquran gan. kitab yg di imani umat islam. kalo non muslim mau nyalon ga ada yg ngelarang. kami diperintahkan untuk memilih yg seiman. ayat2 dan kisah ini didakwahkan/disampaikan ke umat islam yg lupa/belum tau.
ente tinggal di negara mana tuh
Quote:Original Posted By wizardlevel6
perintah ini ada di Alquran gan. kitab yg di imani umat islam. kalo non muslim mau nyalon ga ada yg ngelarang. kami diperintahkan untuk memilih yg seiman. ayat2 dan kisah ini didakwahkan/disampaikan ke umat islam yg lupa/belum tau.

memilih yg seiman silahkan.. tapi di negara NKRI non muslim berhak jadi gubernur, jadi gak perlu teriak2 tolak pemimpin kafir.. kalo gak suka tinggal gak usah dipilih..

Kl tiap hr gw baca quran yg dipost dimari gw ga nemu agamamu agamaku atau rahmat bagi segala umat,ga heran agama lain di negeri syariah seperti mati suri atau hilang,pohon yg baik ga akan menghasilkan buah yg buruk bgitu jg sebaliknya, smoga pada taubat
Ajaran yg sangat konyol. Agama itu cuman label. Yg menentukan seseorg baik atau buruk ya perilakuny.

Seumpama ane jd bos perusahaan n mau cari manajer, maka yg terpenting adl kapasitasny. Ngapain ngurusin agamany. Atheis pun ngga masalah asal kerjany bagus.

Memangny ada jaminan kalo yg se-agama udah pasti bener, terus yg beda agama pasti ngga bener ? ngga juga kan. Mau apapun agamany, kristen kek, islam kek, buddha kek, hindu kek, yg menentukan seseorg itu baik atau jelek adl perbuatanny. Sangat konyol kalo dipatok harga mati harus milih yg se-agama.

Coba-lah berkaca n lihat realita di depan mata. Ambil contoh korsel. Disono agama ngga penting. Mau jd atheis pun ngga masalah. Tp dari kualitas manusiany lebih bagusan mana sama negara kita ? org2 disini itu bnyk yg munafik, hny suka mengagung2kan ajaran agama, tp buang sampah aja msh bnyk yg sembarangan. Ilmu agamany hny sampe di tenggorokan, kenceng suarany doank, tp praktekny msh amburadul.



makasih gan
Quote:Original Posted By freesky2347
ente tinggal di negara demokrasi gak berhak larang2 orang berdasarkan agama

ente bawa2 ayat tapi gak bisa bertindak adil dan berlaku zalim

dasar munafiqun, jijik gw liat tingkah polah ente


siapa yang melarang gan? ane cuman ngingetin buat yang merasa muslim, yang bener-bener muslim, ini kan cerita khalifah umar bin khatab. Ingat umar ini sahabat rasul paling tegas bahkan dia ingin meniru semua yang dilakukan rasul
Quote:Original Posted By tristan99
Ajaran yg sangat konyol. Agama itu cuman label. Yg menentukan seseorg baik atau buruk ya perilakuny.

Seumpama ane jd bos perusahaan n mau cari manajer, maka yg terpenting adl kapasitasny. Ngapain ngurusin agamany. Atheis pun ngga masalah asal kerjany bagus.

Memangny ada jaminan kalo yg se-agama udah pasti bener, terus yg beda agama pasti ngga bener ? ngga juga kan. Mau apapun agamany, kristen kek, islam kek, buddha kek, hindu kek, yg menentukan seseorg itu baik atau jelek adl perbuatanny. Sangat konyol kalo dipatok harga mati harus milih yg se-agama.

Coba-lah berkaca n lihat realita di depan mata. Ambil contoh korsel. Disono agama ngga penting. Mau jd atheis pun ngga masalah. Tp dari kualitas manusiany lebih bagusan mana sama negara kita ? org2 disini itu bnyk yg munafik, hny suka mengagung2kan ajaran agama, tp buang sampah aja msh bnyk yg sembarangan. Ilmu agamany hny sampe di tenggorokan, kenceng suarany doank, tp praktekny msh amburadul.





ane cuman ngingetin buat yang muslim aja gan, emang salahnya dimana? kalo ngaaku muslim kan haarus tau dulu sejarahnya islam bener gak?
Quote:Original Posted By sun.gohok

memilih yg seiman silahkan.. tapi di negara NKRI non muslim berhak jadi gubernur, jadi gak perlu teriak2 tolak pemimpin kafir.. kalo gak suka tinggal gak usah dipilih..



sebelumnya kan udah jadi pemimpin? apakah sebelumnya ada masalah? enggak kan??

masalahnya kan pak ahok yang membawa-bawa agama dalam politik? menistakan lagi, wajar kalo umat islam banyak yang ngambek ah
Quote:Original Posted By sikodik
sebelumnya kan udah jadi pemimpin? apakah sebelumnya ada masalah? enggak kan??

masalahnya kan pak ahok yang membawa-bawa agama dalam politik? menistakan lagi, wajar kalo umat islam banyak yang ngambek ah
bukannya sebelumnya juga sudah sering didemo nasbung? emoticon-Big Grin

Kadang heran sama non-muslim dan (bahkan) muslim juga.

Umat Islam hanya ingin nurut dan menjalankan ajaran sesuai Quran - Hadist (yang tentu saja menggunakan tafsir sah dari Depag dan MUI), malah pada ribut dan sibuk. Padahal itu tafsir yang menafsirkan, sama dengan ajakan Sholat, Zakat, Puasa dll, yang otomatis mayoritas muslim pada nurut. Giliran ada tafsir tersebut terkait "Bapak Itu", pada gak mau nurut.

Yang pada protes, monggo liat lagi itu Pancasila Sila yang Pertama. Setiap umat beragama berhak menjalankan agamanya dan diatur dalam undang-undang. Pada khawatir "Bapak Itu" gak akan menang ya kalau umat Islam pada sadar? emoticon-Ngakak (S) emoticon-Ngakak (S)

Khalifah Umar Bin Khatab, Gubernur dan Sekretaris non-Muslim

Khalifah Umar Bin Khatab, Gubernur dan Sekretaris non-Muslim
seduh teh, makan roti. duduk menikmati perdebatan Mayoritas yang merasa punya hak penuh atas negara ini vs Minoritas yang hidup berdampingan.

Kalau mau berandai-Andai, misalkan saat ini Islam minoritas, Nasrani 80%. trus ada orang Nasrani Koar-Koar, Jangan Pilih pemimpin Muslim ! Dia Kafir! Bukan Pemeluk agama Kristen ! Semua disampaikan terang-terangan secara on line, juga melalui media massa, baik media cetak maupun media elektronik.

Bagaimana perasaan anda wahai Muslim ?
Siapa yang sebenarnya mulai bermain dengan SARA, bukan dengan Siti ?

Memang seruan soal pemimpin kafir dan muslim, ditujukan hanya untuk umat Muslim. Tapi rasanya gak perlu DIPERBESAR-BESAR DENGAN DEMO DAN SEJENIS MAKHLUK RUSUH LAINNYA.

CUKUP MUSLIM SAJA YANG TAHU. HANYA UNTUK MUSLIM. GAK PERLU PAKAI TOA MESJID, DIKERASKAN SUARANYA SAMpAI TERDENGAR DALAM JARAK 10 KM (hiperbola).
Pertimbangkan perasaan teman anda yang non muslim
Bukahkah kita diajarkan menjaga hubungan antar manusia? MANUSIA.

Note: Kafir, dari beberapa yang saya baca, Kafir adalah orang yang memeluk agama diluar agama yg diyakini seseorang.
Jadi, buat Muslim, nasrani kafir, karna bukan pemeluk agama Islam.
Demikian sebaliknya, Muslim itu kafir buat orang Nasrani, krn tidak memeluk agama kristen.
Pahamkah?

Saya menuliskan dalam bahasa Indonesia, walau EYD kurangg sempurna a a aaa.
Mungkin saya perlu menuliskan dalam bahasa minang. MUI Sumbar soalnya udah mengeluarkan pernyataan juga.

Hm...jadi panjang gini. emoticon-Thinking
Quote:Original Posted By sikodik


ane cuman ngingetin buat yang muslim aja gan, emang salahnya dimana? kalo ngaaku muslim kan haarus tau dulu sejarahnya islam bener gak?


Kerja di perusahaan saja yg paling penting adl kompetensi. Cari pegawai yg bagus itu ngga gampang lho. Apalagi kalo menyangkut posisi yg vital.
Seumpama agan jd bos perusahaan. Pny manajer yg kerjany bagus, akan-kah agan mencopotny hny gara2 beda agama ? kebetulan kakak ane kerja jd kepala cabang bank swasta wilayah jateng. Kakak ane sering cerita bhw cari marketting yg bagus itu susah. Skrg antar bank saling mematai2. Jadi kalo ada seseorg yg hasil kerjany bagus, maka akan coba didekati sama bank yg lainny. Dikasi iming2 agar mau pindah. Kenapa begitu ? krn drpd cari org baru, bank2 lebih suka merekrut org yg sudah berpengalaman. Jaringanny sudah ada, nasabahny sudah bnyk n sudah paham sistem kerjany. Bisa langsung tancap gas. Sementara kalo pake org baru, harus mengajari dari nol. Unsur spekulasiny lebih besar.

Jadi sbnrny adalah sesuatu yg sangat konyol kalo ada org yg sudah pny pegawai yg bagus, terus dicopot hny gara2 beda agama. Memangny kenapa kalo beda agama ? masalahny apa ? yg penting hasil kerjany toh.






inget kata cak nun yang nasbungers sejati, inget dia jelas nolak ahok tapi bukan gara gara agamanya,

"gubernur itu pelayan bukan pemimpin" -cak nun

gak usah berkelit kalo memang tafsir itu banyak, belum lagi tafsir quraish shihab