alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/57f905ad14088d86258b4569/closer-short-story
Closer (short story)
Peringatan: Sebelum membaca cerita ini secara keseluruhan harus diketahui bahwa cerita ini mengandung unsur 18+ dan resiko membacanya ditanggung sendiri.

TERIMA KASIH



Closer


INDRA

Sudah setahun kami menikah. Tapi entah mengapa hubunganku dengan Lera tak seromantis saat kuliah dulu. Lera terkadang cuek, tetapi terlihat manis saat tertawa dan demi bisa bertemu dengannya, aku cepat-cepat pulang saat pekerjaan di kantor sudah selesai. Bagiku, Lera adalah wanita yang cukup terlaten dalam melakukan pekerjaan rumah tangga tapi hal itulah yang membuatku agak sulit merayunya karena saat aku melihatnya, wajahnya sudah terlihat kusut dan terkadang langsung istirahat dikamar kami. Sebagai seorang suami, aku tau beban apa yang dialami oleh seorang istri.

Orang tua dan adikku, Yudhit sudah sering bertanya, baik secara langsung, telepon, atau pun melalui sms.

" Kapan nih ada anggota baru??" " kapan ayah dan ibu bisa gendong anakmu??" pokoknya sangat banyak sehingga aku tak dapat menyebutkannya. Ayahku dengan antusias membeli obat "kuat" untukku sebanyak tiga botol dan berharap mempunyai anak kembar tapi tentu saja tak mau Lera menderita. Aku dan Lera sudah memeriksakan diri kedokter dan Alhamdullillah... hasilnya positif. Dokter hanya meminta kami untuk memilih waktu yang tepat...

Pada suatu malam aku ingin sekali menghabiskan waktu dengan Lera setelah mendengar "pengalaman panas" dari teman-teman kantorku. Mereka juga memberi jurus jitu agar Lera takluk padaku. Aku diam-diam meminum obat "kuat" pemberian ayah dan mulai mendekatinya di ranjang...


" … Sayang?"
" Ada apa?"
" Kita kan sudah setahun nikah, apa tak ada dipikiranmu buat lakukan?"
" Lakukan apa?"
" Ituloh..."
" Itu apa?"
" Gak peka amat sih, ituloh setelah malam gini…yang biasa dilakukan pasangan yang sudah nikah..."


Lera pun berpikir sejenak


"…Oh... itu ya Indra?" dari ekspresinya aku tau Lera terlihat malu
" Akhirnya kamu sadar. kamu mau kan??"
"Eh...aku sebenarnya masih malu-malu ndra"
" Setiap wanita juga mengalami hal yang sama kok. Kalau nunda terus kamu tak mau kan punya anak pas sudah kakek-kakek dan nenek-nenek?? "


Lera tersenyum tapi kurang menyakinkan
"Mama juga menyuruhku untuk tak takut melakukannya saat kita belum resmi menikah...tapi pas mau lakuin nya itu loh ndra"
Aku langsung mendekap Lera dan merasakan obatnya mulai bekerja. Kini aku harus melakukan apa yang harus dilakukan seorang pria tapi, baru saja aku mendekat kewajahnya, Lera langsung terlihat memerah dan memeluk bantal di sampingnya. Aku cuma bisa terdiam (ok. Ini nyesek).


"Kenapa Lera? ayo... kita lakukan"
" Gak. Gak aku takut kalau gak kuat"
"Tenang aja Lera aku slow kok"
Aku sudah memegang pinggangnya.


"Apaan sih kamu aku belum siap. Tidur aja!" Lera menjaga jarak dariku.
Sial. Padahal aku sudah berada di puncaknya. Pupus semua keinginanku di malam ini.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
" Gimana dra, berhasil gak?"
" gak bro"
" Yah... padahal telinga kami sudah panas nih"
" Pelan tapi pasti...tunggu aja tanggal mainnya"
" Janji ya indra??"
" Ok.ok. sudah ah gue mau lanjut kerja" kemudian aku pun mulai lanjut mengetik laporan.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


LERA


FROM: INDRA
(0854304911**)
SAYANG. MAAF YA AKU TERPAKSA LEMBUR KARENA KERJAAN LEBIH MENUMPUK DARI KEMARIN... NANTI AKU NGINAP DI KOSAN NYA DERRI... HATI-HATI DI RUMAH YA... LOVE & HUG, INDRA


Saat melihat sms nya itu entah mengapa aku tiba-tiba gelisah karena ini pertama kalinya Indra pulang telat. Padahal aku sudah menyiapkan sup tomat kesukaannya karena tak enak dengan kejadian kemarin. Mungkin memang sudah waktunya. Tapi...aku juga kepikiran kata temanku dulu, "terkadang suamiku maksa loh padahal aku sudah capek banget...pembantuku sampai dengar, Lera...malu"
Aku menggelengkan kepalaku. "tidak Lera. Jangan pikiran begitu. Positif saja" aku terdiam dan langsung meminum sup tomat tadi.


INDRA


Akhirnya pekerjaanku selesai juga. Pasti Lera mengkhawatirkanku atau mungkin dia menungguku untuk melakukan “itu” (pede banget nih orang). Sepanjang jalan, aku dan teman kantorku, Derri membicarakan berbagai hal "panas" dan ia mengatakan sudah tak sabar untuk bertemu istrinya yang akan datang minggu depan. Aku tak heran karena Derri sudah dua tahun meninggalkan istrinya untuk bekerja di ibukota. dan mereka sudah mempunyai anak berumur tiga tahun.


" Oh ya, ndra, kemarin aku sudah beli obat herbal khusus untuk Ara (istrinya) dan aku. Kata penjualnya ampuh banget kamu mau juga? Siapa tau Lera bisa ngebahagiain kamu"
"Hehe. Siapa tau aja. Iya deh."
Karena keasyikan bicara, kami tak menyadari kalau kami melewati lampu merah dan truk besar datang dari arah berlawanan dan....
Aku langsung tak sadarkan diri.


LERA


Entah pagi ini perasaan ku tidak enak setelah piring jatuh dari tanganku. Dengan refleks aku mengambil hp ku dan menelepon Indra.

"TIT. TIT. TIT"

Gak aktif? Masa sih? Aku meneleponnya lagi,

"TIT.TIT.TIT"

Masih sama. Empat kali aku meneleponnya dan feeling ku ini memang tepat. Aku langsung menelepon mama.


"Ma, Indra gak angkat-angkat teleponku. Aku takut ma"
"Tenang aja sayang mungkin Indra sangat sibuk sampai terpaksa mematikan HP nya papamu dulu juga gitu"
" Tapi Indra selalu memberitahu segalanya kalau lagi ada perlunya ma..."
"Hmm...tenang aja Lera, mungkin dia mau kasih kejutan buat kamu... Eh, maaf ya Lera, papamu mau dibikinkan kopi tuh"
" Iya deh ma. Mudah-mudahan Indra dilindungi dalam perjalanan"
"Amin... Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Aku agak lega mendengar perkataan mama dan mulai membereskan piring yang jatuh tadi.


INDRA


Aku melihat Lera dari kejauhan bersama seorang anak perempuan yang cantik sepertinya. Apakah dia anakku?? Ah. Tidak ini pasti cuma mimpi. Tapi kalau suatu hari anak ku memang seperti itu aku pasti senang sekali. Tiba-tiba, anak itu berlari menuju ke arahku dan memanggilku "papa,papa! main yuk" dia menarik tanganku dengan kuat dan kembali menuju ke arah Lera. Sambil keheranan, aku melihat wajah Lera lebih bersinar dari biasanya. Jantungku berdetak tak karuan. Jika ini dunia nyata, aku pasti akan menciumnya tapi...sudah ah. Nikmati saja mimpi ini. Seketika permandangan gelap disekelilingku berubah menjadi pantai aku, Lera, dan "anak" kami mulai menikmati suasana pantai.


LERA


Aku terkejut saat mendengar perkataan sepupuku yang mengetahui kecelakaan Indra. Firasat seorang perempuan terkadang benar. Aku menelepon mama dan bergegas ke rumah sakit. Aku sangat takut tak bisa bertemu dengan Indra lagi. Di mobil, mama mencoba menenangkanku yang terus mengigil. Papa juga mencoba menyakinkanku Indra akan tetap hidup. Sayang, air mataku sudah jatuh duluan.


Setibanya dirumah sakit aku langsung memeluk dan menangis sekencang-kencangnya melihat suamiku dalam keadaan tak berdaya. Papa dan mama hanya dapat terdiam.
Dokter yang ada diruangan itu berkata, "walaupun awalnya kritis tapi nyawanya masih bisa diselamatkan. Beda dengan temannya itu yang langsung meninggal dilokasi dan mengalami luka amat parah".
Aku terkejut. "Der...Derri...meninggal dok?". Dokter itu menggangguk. Aku merasa tergunjang karena Derri juga merupakan temanku dan dia cukup ramah. Kasihan istri dan anaknya itu, padahal dia belum mengenal secara pasti ayahnya itu. "Innallillahi wa innallillahi rojiun..."
--------------------------------------------------------------------------------------------------------

Jam besuk sudah lewat dan aku bersekeras agar bisa mendampingi Indra dua sampai tiga hari. Tapi petugas tetap memaksaku dan akhirnya aku keluar dari rumah sakit. Aku pun berdoa agar Indra dan aku masih bisa bersama-sama sampai akhir hayat. Aku tak kuasa meneteskan air mata sampai kantung mataku memerah. Papa dan mama yang menginap dirumahku terus memperhatikanku mereka mungkin takut aku terlalu syok dan melakukan hal aneh...
--------------------------------------------------------------------------------------------------------


INDRA


Sudah berapa lama aku berada di dunia "mimpi" ini?? Seminggu? Sebulan? atau setahun lebih?? Hanya tuhanlah yang tau. Di mimpi ini aku melihat "anak" kami sudah semakin dewasa sedangkan aku dan Lera semakin tua. Kami bertiga berada di sebuah tempat yang cukup luas dengan dengan rumput dan pohon yang tertiup angin sepoi-sepoi. Sementara "anak" kami menikmati pemandangan yang indah itu, Aku dan Lera saling berpegangan tangan dengan erat...

Lera berkata padaku, "Indra...jika tiba-tiba kita berpisah, apa yang kau rasakan?"
Aku spontan menjawab, " bicara apa kamu ini Lera? Kamu sudah bosan padaku ya?"
"Bukan gitu sayang. Tapi...kamu tau kan kehidupan itu tak tentu arah dan tak ada yang tau kapan ajal kita tiba kecuali yang diatas"
"Hmm...semua orang pasti merasa kehilangan dan sakit hati jika orang yang mereka sayangi, telah meninggal lebih dari kesedihan saat kehilangan benda berharga...aku tak mau kehilangan kamu dan juga anak kita"
"Aku juga"
Lera dan aku mulai saling menatap dan kami pun bermesraan...
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

LERA


Setiap hari, setiap menit dan setiap detik aku tak bisa melepaskan pandanganku dari Indra sampai makan pun aku lupa. Tubuhku sudah terlihat kurus dan wajahku juga nampak pucat tapi aku tak mempedulikannya.

Jenazah Derri sudah dibawa ke kampung halamannya di Yogyakarta. meskipun sudah lewat beberapa hari tapi aku masih tetap tak dapat melupakan kejadian saat istri Derri, Milla datang ke kamar dengan wajah yang memerah dan menetaskan air mata dengan deras.

"Mbaaaak!!!! Aku tak kuat kehilangan mas Derriiiiiiiiii!!!" saat itu dia mencengkram bajuku cukup kuat dan aku juga ikut menangis walau airmataku telah habis. Di belakang Milla, nampak seorang nenek yang mengendong anak kecil, yang kemungkinan adalah anak mereka. Sambil menangis, nenek itu mengelus-gelus kepala anak yang terlihat polos itu. Aku ingin terus bersama Indra. Kalau dia meninggal, aku ingin bisa memimpikannya sepanjang waktu. Aku tak bisa melepaskannya...
Kami sekeluarga membaca surah yasin dipanti asuhan, mengharapkan Indra bisa sadar dan Derri di terima di sisi-NYA.
-----------------------------------------------------------------------------------------
INDRA

Berbagai mimpi telah aku alami dan kini aku kembali lagi diawal, yaitu kegelapan. Lera dan "anak" kami sudah tidak ada di mataku. Ditengah kebingungan ini, aku melihat cahaya putih yang cukup menyilaukan sampai aku merasa terhipnotis ke arah cahaya itu. Tiba-tiba muncul suara misterius "JANGAN KESINI".aku terkejut. Perlahan keluar sosok yang aku kenal ya, dia adalah Derri.


"Derri. Sudah lama aku tak melihatmu. Apa kabar??" Aku memeluk Derri yang kulitnya cukup hangat.
"...."
"Kenapa bro?"
"Jangan kaget. Tapi...aku sudah tidak ada lagi didunia ini"
Aku jelas terkejut tapi inikan mimpi mana mungkin betulan...
"Ah...kamu ini bro bisa banget bercandanya. Gak lucu tau gak?"
"Benaran kok. Kamu bakal tau sendiri. Jenazahku sudah dibawa pulang daerah asalku. Aku juga berterima kasih kepada istrimu karena sudah turut mendoakanku...
Karena yang diatas lebih sayang padamu, tak lama lagi kamu pasti akan segera sadar ndra"
Dalam hati aku ingin sekali berbicara banyak dengan Derri apa daya, dia tiba-tiba menghilang bersama cahaya itu. Akupun kini betul-betul sendiri...
---------------------------------------------------------------------------------------------------
LERA

"...Nak mama dan papa tau kamu begitu khawatir dengan Indra. Tapi kami tak bisa tenang melihat raut wajahmu yang kusut itu..."
"Biar aja ma. Ini mungkin pelajaran untukku agar bisa lebih memperhatikan Indra karena aku sadar setelah nikah aku tuh rada cuek"
Papa langsung berkata, "kamu ngomong apa Lera. Ini tuh memang sudah kecelakaan bukan karena kesalahan kamu!!
Sudah. Papa mau pulang.! Malas dirumah sakit ini terus!!" entah papa tiba-tiba emosi dan dia pun keluar ruangan.
Sementara mama minta maaf padaku dan dia juga ikut keluar (karena kunci rumah ada di mama). sesudah pintu tertutup aku kembali menatap Indra dengan lembut dan mengingat masa-masa kami berpacaran dulu...
tanpa sadar akupun berbicara sendiri tentang hubungan kami.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------

INDRA

Apa ini? Aku merasakan sebuah kehangatan yang luar biasa seakan aku sedang berlapisan selimut tebal. Tiba-tiba cahaya putih menyelimutiku dan aku sangat terkejut melihat diriku dan Lera di masa lalu. Ya. Itulah saat aku berada di awal kebahagiaan. Lera dan aku berada di fakultas berbeda dia di teknik sedang aku di ekonomi. Tapi sejak pertemuan di sebuah acara amal, hidupku berubah. Lera sangat mensupportku saat melakukan kegiatan tertentu seperti saat aku menjadi MC di seminar fakultasku. Aku waktu itu semapt merasa gugup tapi Lera terus menyuruhku untuk optimis. Alhamdullillah... aku pun berhasil...

Ada juga kenanganku saat Lera salah paham aku selingkuh padahal aku kebetulan jalan dengan kakak sepupu yang sudah akrab dari kecil. lucu juga kalau di ingat lagi hehehe
Kehangatan yang aku rasakan tadi semakin lama semakin memanas. Dan.... PLUP
Tunggu. Ini dimana?? Belum terjawab pertanyaan ini, Lera telah keheranan melihatku...
--------------------------------------------------------------------------------------------------------

LERA


Aku tak salah lihat kan?? Mata Indra terbuka... iya, terbuka!!!
Aku langsung memeluknya. Walau masih tak bisa menangis , aku tetap tak peduli ! Indra mungkin merasa tidak nyaman tapi tangannya mulai mengelus-gelus kepalaku.
Kami larut dalam "pertemuan" ini...
--------------------------------------------------------------------------------------------------------

EPILOG
Saat yang ditunggu-tunggu oleh Indra akhirnya tiba. Meskipun dengan wajah memerah, Lera bisa menerimanya dengan perlahan. Indra berharap anak yang dikandung Lera akan mirip dengan yang ada di mimpi itu dan Indra akan memberinya nama: Tiara...


-SELESAI-

Selesai gan...?
iya... masih latihan menulis soalnya emoticon-Smilie
rencananya mau buat cerpen yang baru
×