alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/57f5b7e55c7798a97a8b4569/story-tuan-guru

{STORY} TUAN GURU

Hallo! semua salam kenal buat semua Agan, Sista, dan Sesepuh semua, serta Hallo! salam hormat buat Momod emoticon-Big Grin
Sudah lama ngaskus tapi cuma jadi SR, mohon maaf dulu barangkali apa yang newbie kasih ini gak sebagus karya yang lain tapi izinkan newbie kasih sedikit hiburan, daripada ada waktu luang tapi buat ngelamunin dia yang udah bahagia dengan yang lain *ehhh emoticon-Sorry

Oke Langsung aja deh, selamat membaca~~~ hehehe

{STORY} TUAN GURU

Cover By Google





TUAN GURU



Tiba-tiba saja puluhan orang sudah mengepungnya sambil melontarkan berbagai kata cacian dan makian, membuatnya beberapa detik tegak terpaku. Apalagi sejurus kemudian dia yakin, kata-kata itu benar-benar di tujukan kepadanya. Sebab tak ada siapapun selain dirinya. Dia orang yang paling terakhir keluar dari masjid selepas sholat shubuh tadi. Walaupun begitu untuk menenangkan hati dan pikiran. Sekali lagi di cobanya memanjangkan leher mengedar pandang berkeliling di antaranya masih sering mengunjunginya. Sekedar berbagi kisah.


Ataukah lintasan kenangan ini hanya semacam fatamorgana, harapan sesaat untuk menghilangkan ketakutan nya melihat wajah-wajah beringas itu? Wajah-wajah yang hendak menelan bulat-bulat tubuh renta nya yang kini tegak terpaku, tak berdaya. Tidak, matanya tak salah! Mereka memang murid-murid dulu. Dia tidak sedang bermimpi. Dia yakin itu, ya. Tuhan! Mengapa mereka bersikap kurang ajar? Setan apa yang merasuki mereka? Ataukah mereka para iblis yang menjelma menjadi para muridnya?


Begitu hebat rasa kaget mengguncang nya. Sehingga tak sepatah katapun yang meluncur dari mulutnya, meski hanya untuk menegur salah satu seorang dari mereka yang mengelilinginya. Lidahnya seperti dipaku, kelu tak bergerak. Di tekannya pelipis, memijat kepalanya yang mendadak berdenyut. Daya pikirnya benar-benar merosot drastis. Dan pada saat dia masih berada dalam gelombang ketakutan pikiran itu, tiba-tiba terdengar bentakan di belakang nya, “cepat ikut kami, Tuan Guru!”
“Tuan Guru?” pikiranya. Kata itu sempat menyentak kesadaran daya pikirnya. Alangkah janggal di telinganya frasa “Tuan Guru” yang disandingkan dengan kalimat perintah “cepat ikut kami”.


Melihat kejanggalan ini, tubuh tua itu kini secara perlahan kembali berusaha tenang, bukanlah itu wibawanya sebagai guru selama lebih dari empat puluh tahun di kampung itu masih ada? Tuan guru!
Ya, di kampung itu hanya dia yang di panggil “Tuan Guru”. Tidak seperti guru-guru lain yang lebih muda yang hanya di panggil dengan sebutan “Pak Guru”, “Pak Cik Guru”, “Ongah Guru”, atau “Guru” saja atau ada pula yang memanggil “Nak Guru”,


Konon dia di panggil begitu karena pengabdian nya yang tulus dan sungguh-sungguh selama mengajar di kampung itu. Tetapi dia sendiri tidak pernah memperdulikan mengapa dia di panggil begitu, kerjanya hanya mengajar, maka itulah yang dilakukan nya di kampung itu. Siang mengajar di sekolah umum, malam hari nya mengajar murid-muridnya mengaji di rumah. Bahkan juga mengajar beberapa orang penduduk yang masih buta huruf, sampai dia pensiun sekarang, lain dengan guru-guru yang lebih muda, yang datang kemudian Mereka lebih banyak mencari tambahan penghasilan dari kerja serabutan, ada nya mengojek, menarik becak atau apa saja pekerjaan yang mendatangkan uang.


“Cepat Jalan!” seseorang yang lain membentak lagi seraya mendorongnya karena jengkel melihat nya masih tegak terbengong bengong. Nyaris saja dia tersungkur.


Di jalan sudah menunggu puluhan orang pula, mengelu-elukan nya dengan cacimaki yang tak kalah kotor. Tak cukup itu, tubuh nya yang ringkih dalam kain sarung, sarung termahal yang pernah ia miliki, pemberian dari seorang murid nya, bertubu tubi menahan pukulan dan tendangan. Setiap pukulan dan tendangan menghantam tubuh nya, terdengar erangan tuanya melafazkan asma Allah sambil berdo’a. Sebab memang tak ada yang dapat dilakukan nya selain pasrah, Menyerahkan sepenuh nya kepada Allah. Semua yang dia alami ini sudah tak ternalar oleh pikiran bagaimanapun bijaknya. “Tak ada yang kekal, pasti ada akhirnya. Juga penyiksaan dan penistaan ini. “pikiranya sambil terus berzikir dan berdo’a.


Akan tetapi pekikan asma Allah dan do’a-do’anya itu justru membuat massa semakin mengamuk membabi buta. Mereka memaki, meludah, menyepak, meninju, menyeretnya di jalan aspal yang berlubang-lubang. Di beberapa bagian masih tampak genangan air sisa hujan semalam. Terompah kakunya berbunyi berkelontang saat di seret di jalan berlubang. Menimbulan irama tertentu di subuh yang dingin itu, entah bagaimana pasalnya, terompahnya yang sebelah kiri tiba-tiba tersangkut salah satu lubang dan tertinggal disana. Dia berbalik, hendak mengambilnya. Namun orang yang paling dekat dengan nya mendorongnya agar terus berjalan. Kini tinggal terompahnya yang sebelah kanan berkerontang. Bunyi nya terdengar janggal, merawan kan hati. Selintas kenangan tentang terompah itu mengusik hati dan pikirannya. Ingat suaranya yang berkerontang setiap subuh di atas jalan beraspal. Ingat ketika terompah itu hilang di sembunyikan oleh murid-murid mengaji nya, ingat ketika talinya putus karena lapuk dimakan karat, membuat nya hampir jatuh.


Jalan itu sunyi seketika. Hanya sekali-sekali terdengar hardikan dan makian. Mereka kini menuju ke arah luar kampung, ke lapangan sepak bola. Kain sarung yang selama ini di sayang-sayanginya kini sudah bercampur dengan kotoran dan lumpur. Disana sini malah sudah koyak-moyak akibat di sentak paksa. Begitu juga baju teluk belanga putihnya, sudah berubah menjadi kainkanal. Hilang bentuk sebagai baju, hilang warna sebagai kain. Di beberapa bagian memerah akibat resapan darah bekas kena pukulan dan lemparang. Songkok putihnya entah kemana. Tampak rambut dan cambangnya yang memutih berserakan bagai belukar terbakar. Ada darah emleleh di pelipis dan di antara dua bibirnya. Wajahnya nyaris tak bisa dikenali lagi. Keadaanya seperti maling yang tertangkap tengah pasar lalu dikeroyok beramai-ramai. Meski sepasang kakinya nyaris tak berdaya lagi menopang tubuh rentanya, dia terus saja di paksa berjalan, berjalan dan terus berjalan tertatih.


Kini mereka sampai ke persimpangan jalan, dekat lapangan yang cukup luas. Tempat biasanya ketika mudanya dulu dia mengajar murid-murid nya bermain sepakbola. Dia terus di seret ke tengah lapangan. Disana sudah menunggu dua orang bertubuh gempal berotot kekar. Tegak seperti patung mengapit. Pembina upacara setiap senin di sekolah nya dulu. Sebuah mikropon terpasang di depan nya. Di kiri kanan podium terdapat pula kayu berpalang. Seperti gawang sepak bola murid-murid nya. Pada palangnya, tepat di tengahnya terjuntai sebuah tali. Yang membuatnya bergidik, bagian ujung tali yang berjuntai itu membentuk lingkaran, sekitar selolosan kepala.
Aku akan di gantung?


~BERSAMBUNG~emoticon-Betty (S)
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
PERTAMAX
emoticon-Betty

Semangat genk update terus !!
Jangan perkenalken aku dengan kentang
setting ceritanya dimana nih?
kalau kata tuan guru itu adanya di lombok timur. panggilan hormat orabg selevel sesepuh kyai di NU.
kalau disandingkan ada cik nya. berarti daerah melayu/ sumatera
Pantengin aja gan emoticon-Big Grin
Quote:


Di jawa gan hehe
Dia di panggil begitu karena pengabdian nya yang tulus dan sungguh-sungguh dalam mengajar
Ijin mantengin cerita ente gan.. emoticon-Motret
anjir ! keren gan
bhasanya ente bner2 bsa membwa imajinasi gue ke tmpt
agak mencelos jga bc prolog nya soale anak skrg gak ada rasa hormate sm guru
#curhat


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di