alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/57ec687b1cbfaa631b8b4569/kisah-tony-ruttiman-relawan-asal-swiss-yang-bangun-daerah-terpencil-di-indonesia
Kisah Tony Ruttiman, Relawan asal Swiss yang Bangun Daerah Terpencil di Indonesia
JAKARTA, KOMPAS.com
- Sosiolog Imam B Prasodjo menulis sebuah catatan menarik di akun Facebook pribadinya mengenai seorang relawan asal Swiss bernama Toni Ruttiman.

Imam mengisahkan upaya sukarela Toni yang diam-diam keluar masuk kampung wilayah terpencil di Indonesia.
Selama tiga tahun, Toni mengajak warga bergotong royong membangun jembatan gantung sendiri karena akses jalan terputus.
Dalam catatannya itu, Imam juga menyertakan foto Toni dan sejumlah warga membangun jembatan secara swadaya dan gotong royong.

Foto lainnya menunjukkan sejumlah anak-anak yang memakai seragam sekolah dasar, menyeberangi sebuah sungai dengan cara bergelantungan pada jembatan yang sudah rusak."Toni datang ke negeri kita karena ia melihat begitu banyak anak-anak di negeri ini bergelantungan harus pergi sekolah menyebrangi sungai dengan jembatan yang rusak," ujar Imam, dalam akun Facebook-nya, yang dikutip Kompas.com atas seizin Imam, Rabu (28/9/2016).Melihat kondisi tersebut, Toni pun berinisiatif untuk mengumpulkan bahan-bahan jembatan gantung dari negerinya, Swiss.

Dia juga mengupayakan bantuan pipa dari perusahaan ternama yang pemiliknya ia kenal baik agar bersedia mengirim bantuan pipa tiang jembatan dari Argentina ke Indonesia.Toni merekrut beberapa tenaga kerja Indonesia untuk dijadikan stafnya untuk membantu semua upaya tersebut."Saat ini seorang pemuda bernama Suntana, dengan setia membantu misi kemanusiaan Toni," tutur Imam.

Dengan cara seperti ini, Toni telah berhasil memasang 61 jembatan gantung di berbagai daerah termasuk Banten, Jabar, Jateng, Jatim, dan bahkan hingga Sulawesi, Maluku Utara dan NTT.

Terhambat

Namun, yang terjadi akhir-akhir ini, upaya pengiriman bantuan justru terhambat. Menurut Imam, bantuan bahan jembatan seperti wirerope(kabel pancang) yang selama tiga tahun telah secara rutin ia kirim dari Swiss terhambat oleh lambannya birokrasi.Padahal, Presiden Joko Widodo telah memberikan instruksi agar arus barang impor dipercepat.

"Saya ikut terlibat dan mengikuti betapa sulitnya mengurus proses administrasi import barang bantuan ini. Saya merasa kesal menghadapi birokrasi yang begitu ruwet dan lambat, walaupun untuk import barang bantuan sekalipun," ungkapnya.Imam juga menuturkan keterangan dari Suntana, asisten Toni, yang bercerita proses pengurusan barang bantuan harus menghadapi penetapan denda demurrage (batas waktu kontainer).

Sementara untuk mengeluarkan kontainer dari area penyimpanan diperlukan dana yang tidak sedikit.Di sisi lain, proses permintaan penghapusan tagihan denda demurrage (batas waktu container) atas tiga kontainer wirerope dari pihak pelayaran masih memerlukan waktu yang lebih lama.Sedangkan biaya untuk denda demurrage terus berjalan per-hari.

Dalam lampiran tagihan demmurage yang diterima Imam, tertulis jumlah denda per tgl 19 September 2016 adalah Rp 169.890.000,- dan konfimasi terbaru tagihan demmurage per hari ini 26 September 2016 adalah Rp 195.650.000.

Selain itu, kata Imam, proses impor wirerope memakan waktu lebih dari dua bulan sejak kontainer tiba di Tanjung Priok karena lamanya proses rekomendasi dari kementrian-kementrian terkait yang harus ditempuh untuk proses hibah ini."Terus terang saya malu menghadapi kejadian ini. Saya ingin sekali berteriak sekerasnya mewakili rakyat yang selama ini masih mengharapkan bantuan Toni Ruttiman," ungkap Imam.

Beruntung, dari keterangan Imam kepada Kompas.com, Rabu malam, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono telah menyepakati akan membayar biaya demurrage dan seluruh proses administrasi dalam importasi wirerope sebanyak 3 kontainer.

"Semoga (janji Menteri PUPR) segera direalisasikan," tuturnya.

sumber

Disaat ada orang luar negeri yang peduli sama keadaan Indonesia
Yang katanya wakil rakyat kemana nih, malah leyeh leyeh mulu
yang kayak gini harus di blow up ke media dulu klo urusan mo lancar.
Ironis ya
Yg peduli kehidupan rakyat indonesia malah org asing
Want to be like him later in my life

emoticon-Smilie
Nasbung pasti langsung bilang nih bule antek asing, kristenisasi,bla bla bla
emoticon-Ngakakemoticon-Leh Uga
terima kasih Toni Ruttiman emoticon-2 Jempol
mantab nih peduli nya emoticon-Recommended Seller
Ayo serang dong, ini ada tapir mau menguasai daerah terpencil nih
emoticon-Ngakak
Karena bule langsung puja puji, padahal banyak orang lokal tampa ada pemberitaan yg wah berjuang untuk masyarakat dipelosok nusantara ini
Quote:Original Posted By kushzack
Yang katanya wakil rakyat kemana nih, malah leyeh leyeh mulu

itulah gan, malah orang luar negeri lebih peduli

Quote:Original Posted By mbahmomon
yang kayak gini harus di blow up ke media dulu klo urusan mo lancar.

seperti biasa gan, nunggu orang-orang marah dulu

Quote:Original Posted By Jambangan2
Ironis ya
Yg peduli kehidupan rakyat indonesia malah org asing

Ironi sekali gan

Quote:Original Posted By armandnanda
Want to be like him later in my life

emoticon-Smilie

Good Luck Gan....

Quote:Original Posted By dondo.aja
Nasbung pasti langsung bilang nih bule antek asing, kristenisasi,bla bla bla
emoticon-Ngakakemoticon-Leh Uga

Udah lah gann mulai dari kita sendiri aja buat bantu sekitar kita dulu, nasbung nastak harus bersatu

Quote:Original Posted By el.coqui
Haaaalah bule kere ngarep dapet sumbangan duit disini aja tuh orang emoticon-fuck2

emang ga bisa diajak maju lo tong
Quote:Original Posted By muka.kotak8jt
Karena bule langsung puja puji, padahal banyak orang lokal tampa ada pemberitaan yg wah berjuang untuk masyarakat dipelosok nusantara ini


Ya Syukur deh ada orang lokal yang sering bantu, inti beritanya, orang ini sering bantu bangun jembatan, sekarang terhambat karena bahan bakunya tertahan birokrasi. PAHAM?
visanya visa kerja apa turis nih?
relawan indonesia lebih hebat lagi, membantu singaparna hingga jadi besar sampe sekarang, emoticon-Traveller
wahh banyak ya bree yg sayang sama Indo. kmaren juga dibahas noh di hitam putih relawan asing yg ngelindungin hewan yg hampir punah.
Quote:Original Posted By gypsy.danger2
visanya visa kerja apa turis nih?

Kurang tau gan, mungkin visa tourist

Quote:Original Posted By .Xbot.
relawan indonesia lebih hebat lagi, membantu singaparna hingga jadi besar sampe sekarang, emoticon-Traveller

wakwkakwkawkaw paham maksudnya

Quote:Original Posted By sleeping.ugly
wahh banyak ya bree yg sayang sama Indo. kmaren juga dibahas noh di hitam putih relawan asing yg ngelindungin hewan yg hampir punah.

iya masa orang asing peduli, tapi kita yang di Indonesia malah cuek

birokrasi ruwet begini yang bikin susah ngapa-ngapain
pernah bangun jembatan sama ni org d sulawesi. salut bgt sm pemikiran doi.

"silahkan bantu warga membuat jembatan, tp biarkan mereka mengerjakanny sndiri. agar mereka bsa memiliki rasa memiliki shingga mw merawatny dg baik."

pas buat jembatan ini doi yg naik keatas brg warga (cara konstruksiny sm ky dgambar). sama dy jg komandoin apa2 aj yg harus dlakuin. oiya, dy jg bw istriny loh waktu itu, sama 1 org indonesia yg dbayar doi utk bantu2 skaligus penerjemah. SALUUT!
Quote:Original Posted By brawijayatravel
JAKARTA, KOMPAS.com
- Sosiolog Imam B Prasodjo menulis sebuah catatan menarik di akun Facebook pribadinya mengenai seorang relawan asal Swiss bernama Toni Ruttiman.

Imam mengisahkan upaya sukarela Toni yang diam-diam keluar masuk kampung wilayah terpencil di Indonesia.
Selama tiga tahun, Toni mengajak warga bergotong royong membangun jembatan gantung sendiri karena akses jalan terputus.
Dalam catatannya itu, Imam juga menyertakan foto Toni dan sejumlah warga membangun jembatan secara swadaya dan gotong royong.

Foto lainnya menunjukkan sejumlah anak-anak yang memakai seragam sekolah dasar, menyeberangi sebuah sungai dengan cara bergelantungan pada jembatan yang sudah rusak."Toni datang ke negeri kita karena ia melihat begitu banyak anak-anak di negeri ini bergelantungan harus pergi sekolah menyebrangi sungai dengan jembatan yang rusak," ujar Imam, dalam akun Facebook-nya, yang dikutip Kompas.com atas seizin Imam, Rabu (28/9/2016).Melihat kondisi tersebut, Toni pun berinisiatif untuk mengumpulkan bahan-bahan jembatan gantung dari negerinya, Swiss.

Dia juga mengupayakan bantuan pipa dari perusahaan ternama yang pemiliknya ia kenal baik agar bersedia mengirim bantuan pipa tiang jembatan dari Argentina ke Indonesia.Toni merekrut beberapa tenaga kerja Indonesia untuk dijadikan stafnya untuk membantu semua upaya tersebut."Saat ini seorang pemuda bernama Suntana, dengan setia membantu misi kemanusiaan Toni," tutur Imam.

Dengan cara seperti ini, Toni telah berhasil memasang 61 jembatan gantung di berbagai daerah termasuk Banten, Jabar, Jateng, Jatim, dan bahkan hingga Sulawesi, Maluku Utara dan NTT.

Terhambat

Namun, yang terjadi akhir-akhir ini, upaya pengiriman bantuan justru terhambat. Menurut Imam, bantuan bahan jembatan seperti wirerope(kabel pancang) yang selama tiga tahun telah secara rutin ia kirim dari Swiss terhambat oleh lambannya birokrasi.Padahal, Presiden Joko Widodo telah memberikan instruksi agar arus barang impor dipercepat.

"Saya ikut terlibat dan mengikuti betapa sulitnya mengurus proses administrasi import barang bantuan ini. Saya merasa kesal menghadapi birokrasi yang begitu ruwet dan lambat, walaupun untuk import barang bantuan sekalipun," ungkapnya.Imam juga menuturkan keterangan dari Suntana, asisten Toni, yang bercerita proses pengurusan barang bantuan harus menghadapi penetapan denda demurrage (batas waktu kontainer).

Sementara untuk mengeluarkan kontainer dari area penyimpanan diperlukan dana yang tidak sedikit.Di sisi lain, proses permintaan penghapusan tagihan denda demurrage (batas waktu container) atas tiga kontainer wirerope dari pihak pelayaran masih memerlukan waktu yang lebih lama.Sedangkan biaya untuk denda demurrage terus berjalan per-hari.

Dalam lampiran tagihan demmurage yang diterima Imam, tertulis jumlah denda per tgl 19 September 2016 adalah Rp 169.890.000,- dan konfimasi terbaru tagihan demmurage per hari ini 26 September 2016 adalah Rp 195.650.000.

Selain itu, kata Imam, proses impor wirerope memakan waktu lebih dari dua bulan sejak kontainer tiba di Tanjung Priok karena lamanya proses rekomendasi dari kementrian-kementrian terkait yang harus ditempuh untuk proses hibah ini."Terus terang saya malu menghadapi kejadian ini. Saya ingin sekali berteriak sekerasnya mewakili rakyat yang selama ini masih mengharapkan bantuan Toni Ruttiman," ungkap Imam.

Beruntung, dari keterangan Imam kepada Kompas.com, Rabu malam, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono telah menyepakati akan membayar biaya demurrage dan seluruh proses administrasi dalam importasi wirerope sebanyak 3 kontainer.

"Semoga (janji Menteri PUPR) segera direalisasikan," tuturnya.

sumber

Disaat ada orang luar negeri yang peduli sama keadaan Indonesia


Repostt oms.. emoticon-Malu (S)

Sdh da yg pos..emoticon-Malu (S)

Tampilkan donk beberapa fotonya..
karena humanity tak mempermasalahkan suku, agama, ras maupun antar golongan.