alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/57ec50b3620881a8088b4587/170-pemuda-ikuti-pembinaan-penghayat-kepercayaan-terhadap-tuhan-yme-di-denpasar
170 Pemuda Ikuti Pembinaan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan YME di Denpasar
170 Pemuda Ikuti Pembinaan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan YME di Denpasar

Selasa, 27 September 2016 20:45

     

170 Pemuda Ikuti Pembinaan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan YME di Denpasar

Tribun Bali/Ni Putu Vera Eryantini

Kemendikbud menggelar seminar Penganut Kepercayaan terhadap Tuhan YME di Bali Hai Room, Grand Inna Bali Beach Sanur, Jalan Hang Tuah, Sanur, Denpasar, Bali, Selasa (27/9/2016) dan Rabu (28/9/2016). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR -Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggelar acara seminar Pembinaan Generasi Muda Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, di Bali Hai Room, Grand Inna Bali Beach Sanur, Jalan Hang Tuah, Sanur, Denpasar, Bali, Selasa (27/9/2016) hingga Rabu (28/9/2016).

Alunan gamelan Bali yang diperdengarkan sembari menunggu acara dimulai dan satu demi satu kedatangan 170 peserta yang mengenakan pakaian adat daerahnya masing-masing; dari Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Utara memberi nuansa Indonesia yang kental dalam acara ini.

Kasubdit Kelembagaan Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Dra Wigati dalam laporannya mengatakan, tujuan dari acara ini adalah meningkatkan kemampuan dan wawasan generasi muda penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa di bidang manajemen organisasi dan pengembangan sumber daya manusia.

"Selain itu acara ini juga bertujuan mengembangkan sikap kritis mereka sehingga dapat memposisikan diri dan berperan aktif dalam pembagunan bangsa," ujarnya.

Wigati mengatakan, seminar ini sangat penting sebagai kaderisasi demi keberlangsungan eksitensi organisasi Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, di mana kebanyakan penggerak organisasi tersebut saat ini sudah memasuki usia tua.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Drs Dewa Made Beratha mengatakan, generasi muda dituntut mampu melahirkan ide dan gagasan dalam karya inovatif dalam mengisi pembangunan bangsa.

"Pemuda Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama dengan pemuda Indonesia lainnnya, maka diperlukan kesadaran dan rasa tanggungjawab untuk membangun bangsa tidak hanya dengan sesama, tetapi juga dengan pemuda lainnya," ujar Made Beratha kepada seluruh peserta yang merupakan perwakilan dari organisasi Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Dra Sri Hartini MSi mengakui apa yang diungkapkan Made Beratha, di mana generasi muda memiliki tanggungjawab yang besar, ada tantangan namun juga pasti ada peluang.

Ada sejumlah materi yang akan didapat oleh peserta, diantaranya Peran Strategis Pemuda Penghayat Kepercayaan dalam Pembentukan Karakter dan Jati Diri Bangsa, Peran Pemuda dalam Pengamalan Pancasila, dan Peran Strategis Pemuda Penghayat Kepercayaan dalam Pembentukan Karakter dan Jati Diri Bangsa.

Sri Hartini di dalam materinya, Peran Strategis Pemuda Penghayat Kepercayaan terhadap TYME dalam Pembentukan Karakter dan Jati Diri Bangsa, mengatakan kepada seluruh peserta bahwa keragaman jangan sampai menciptakan ketidakakuran.

"Keragaman patutnya menjadi pengikat dan penguat persatuan dan kesatuan di antara seluruh warga Indonesia."

Acara ini merupakan gelombang kedua. Di tahun 2015 lalu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga melakukan acara yang sama di Bogor dengan peserta dari daerah yang berbeda di Indonesia, di antaranya Yogyakarta, Jawa Tengah, DKI Jakarta, dan Lampung.

"Tahun depan rencananya kami akan membuat acara lagi di mana kami akan mengumpulkan peserra dari seluruh Indonesia yang sudah kami bina, jadi genap seluruh Indonesia," ujar Sri Hartini. (*)

http://bali.tribunnews.com/2016/09/2...enpasar?page=2

sudah saatnya agama lokal diakui resmi agar budaya kita bisa dilestarikan
https://m.facebook.com/story.php?sto...12020942211730
nah gitu donk emoticon-Toast
Kepercayaan Bukan Sub-Agama

 Oct 03, 2016  Admin  Artikel  0

Oleh: Ceprudin

Tulisan ini merupakan tanggapan atas tulisan Dra Muzayanah Bisri, MPd, pada rubrik “Wacana” koran Suara Merdeka dengan judul“Pendidikan Agama untuk Penghayat,” Edisi Selasa, (13/9/2016). Pada alenia terakhir, kalimat pertama Muzayanah menulis “tidak ada pendidikan untuk penghayat kepercayaan, karena mereka hanyalah sub dari sebuah agama”.

Penulis menilai, kalimat di atas kurang tepat. Pasalanya, penghayat kepercayaan oleh beberapa peneliti justru dikatakan sebagai sebagai “Agama Asli” Indonesia. Salah satu peneliti yang mengkaji penghayat kepercayaan adalah Rachmat Subagya dalam bukunya “Agama dan Alam Kerohanian Asli di Indonesia”.

Rachmat Subagya Rachmat Subagya adalah ahli sejarah yang mampu memahami bahasa Inggris, Arab, Urdu, dan Turki. Ia menegaskan bahwa Penghayat Kepercayaan ada sebelum agama-agama datang di Nusantara. Jauh sebelum enam agama yang “diakui” (recognize) negara berkembang di Indonesia, Penghayat Kepercayaan sudah tumbuh dan berkembang.

Hasil penelitian Rachmat Subagya menyatakan penganut Agama Asli mengalami penurunan ketika agama-agama “impor” datang dari luar (Nusantara). Karena itu, Agama Asli sepanjang sejarah berulang kali mengalami krisis eksistensi. (Rachmat Subagya: 1979, h. 187)

Para Penganut Kepercayaan semakin terkikis sejak adanya beberapa peraturan pemerintah berkenaan dengan agama. UU No 1 PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan Dan/Atau Penodaan Agama menjadi faktor utama yang membuat Penganut Kepercayaan semakin memudar. Pengaturan ini juga membuat Kepercayaan dikategorikan sebagai budaya atau tradisi, bukan sebagai agama.

Hasil penelitian lapangan Dr Tedi Kholiludin dalam “Laporan Tahunan Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang Tahun 2015 juga memaparkan bahwa Kepercayaan berdiri sendiri bukan bagian dari suatu agama. Meskipun ia juga mengakui bahwa masih ada Penganut Kepercayaan yang “mendua” dengan beridentitaskan agama yang “diakui” negara.

Maksud dari mendua tersebut, Penganut Kepercayaan dalam ritual (ibadah) sehari-hari menggunakan tata cara Kepercayaan sementara identitas kependudukannya masih beragama (salah satu dari enam agama yang “diakui” negara). Mengenai mengapa Penganut Kepercayaan masih beridentitaskan agama, Tedi mengatakan, bahwa Penganut Kepercayaan dibayangi ketakutan akan kekerasan.

Penganut Kepercayaan kerap mengalami kekerasan fisik dan psikis ketika menampakan diri sebagai Penganut Kepercayaan. Pada beberapa tempat, Penganut Kepercayaan mengalami penolakan pemakaman, penolakan pembangunan sanggar (rumah ibadah), dan kesulitan mengurus Administrasi Kependudukan (Adminduk). (elsaonline.com, 17/8).

Atas dasar itu, kata Tedi, para Penganut Kepercayaan lebih memilih “aman” dengan ritual secara sederhana (diam-diam) dan tidak menolak ketika diberikan identitas salah satu agama dalam Adminduk. Itulah mengapa Penganut Kepercayaan masih ada yang beridentitaskan salah satu dari enam agama di Indonesia.

Berdasarkan penelitian itu, maka tidak tepat jika dikatakan bahwa “kepercayaan hanyalah sub dari sebuah agama”.

Implementasi Pendidikan (Agama) Kepercayaan
Penulis juga kurang sepakat dengan tulisan Muzayanah pada alenia keempat, kalimat keempat. Pada kalimat itu Muzayanah mengatakan bahwa Permendikbud No 27/2016 hanya menyediakan fasilitas pendidikan agama bagi penganut enam agama yang “diakui” negara. Bukan untuk Penganut Kepercayaan.

Kalimat tersebut menyatakan “turunan dari UU itu dalam bentuk peraturan perundangan lain di bawahnya, termasuk terakhir Permendikbud No 27/2016 tentang Layanan Pendidikan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa pada satuan pendidikan juga hanya memberikan fasilitas pemenuhan pendidikan agama bagi pemeluk keenam agama resmi tersebut”.

Hemat penulis, kalimat di atas tidak tepat bahkan cenderung parsial. Pasalnya, melihat dari sisi judul peraturannya pun sudah menunjukan bahwa terbitnya aturan tersebut untuk memenuhi hak Pendidikan Kepercayaan para siswa Penganut Kepercayaan. Bukan untuk siswa yang menganut “agama resmi” negara.

Begitu juga ketika menelaah batang tubuh Permendikbud tersebut sangat jelas mengatur fasilitas pemenuhan hak pendidikan agama bagi Penganut Kepercayaan. Pasal 2 Ayat 1 menyatakan “peserta didik memenuhi pendidikan agama melalui Pendidikan Kepercayaan dengan mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai kurikulum”.

Selanjutnya ayat 2 menyatakan “muatan Pendidikan Kepercayaan wajib memiliki kompetensi inti dan kompetensi dasar, silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran, buku teks pelajaran, dan pendidik”. Ayat 3 menyatakan “kompetensi inti dan kompetensi dasar sebagaimana dimaksud pada ayat 2, disusun oleh Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan diajukan kepada kementerian untuk ditetapkan”.

Dari pasal di atas jelas menunjukan bahwa Permendikbud No 27/2016 tegas mengatur fasilitas pemenuhan hak Pendidikan Kepercayaan pada setiap satuan pendidikan baik jenjang SD, SMP, maupun SMA. Pemenuhan Pendidikan Kepercayaan bagi siswa Penganut Kepercayaan penting untuk diimplementasikan.

Pemenuhan hak mata pelajaran Pendidikan Kepercayaan ini supaya kasus yang menimpa Zulfa Nur Rohman di SMK 7 Semarang tidak terulang kembali. Zulfa tak naik kelas karena enggan mengikuti praktik mata pelajaran Agama Islam dengan alasan bukan keyakinannya.

Pada level implementasi ini tentu membutuhkan panduan teknis dari setiap perangkat Pemerintah Daerah dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Dinas Pendidikan setiap kabupaten/kota harus menindaklanjuti Permendikbud No 27/2016 dengan membuat kebijakan yang lebih teknis dan operasional.

Dalam implementasinya, minimal ada dua cara yang dapat digunakan oleh setiap satuan pendidikan. Dua cara inilah yang sudah mulai dipraktikan dibeberapa kabupaten/kota di Jawa Tengah, termasuk Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Kudus.

Pertama, mendatangkan guru dari organisasi Penghayat Kepercayaan untuk mengajar Mata Pelajaran Kepercayaan di sekolah. Kedua, siswa Penganut Kepercayaan diberikan keleluasaan untuk tidak mengikuti pendidikan salah satu agama di sekolah. Para siswa Penganut Kepercayaan diberikan mata pelajaran tentang (teologi) Kepercayaan pada masing-masing Kelompok Kepercayaan.

http://elsaonline.com/?p=5185
Seruan yang sama, sudah terdengar di berbagai penjuru dunia. Kebebasan yang bebas.. bas.. bas.. bas.. ada di depan mata! Dan akhirnya.. mereka siap untuk satu tatanan dunia baru! 😈
Dibali sih aman-aman aja, coba kalau ke provinsi x, nanti gak sama dengan aliran yang diusug langsung dibilangin kapir tapir dan dibubarin tuh acara. Indahnya Indonesia tanpa pemaksaan terhadap suatu keyakinan. Benerin sendiri-sendiri dulu dah agama dan kepercayaannya emoticon-Jempol
Quote:Original Posted By Ultramen.T
Dibali sih aman-aman aja, coba kalau ke provinsi x, nanti gak sama dengan aliran yang diusug langsung dibilangin kapir tapir dan dibubarin tuh acara. Indahnya Indonesia tanpa pemaksaan terhadap suatu keyakinan. Benerin sendiri-sendiri dulu dah agama dan kepercayaannya emoticon-Jempol


betul, kalo beragama tak perlu menjadi mayoritas. tak ada tuh agama yang menganjurkan umatnya untuk menjadi mayoritas di mana umat beragama itu berada
Quote:Original Posted By coro.coco.dile
Seruan yang sama, sudah terdengar di berbagai penjuru dunia. Kebebasan yang bebas.. bas.. bas.. bas.. ada di depan mata! Dan akhirnya.. mereka siap untuk satu tatanan dunia baru! 😈



illuminasi? emoticon-Takut
penganut kepercayaan kpd tuhan YME prasaan jaman Soeharto aman2 aja.

dlo di TVRI bahkan ada acaranya.

tapi yah itu dulu.

sebelum negara api menyerang.
Panastaik emoticon-babi ngumpul. emoticon-Leh Uga
Quote:Original Posted By solidaritymochi



illuminasi? emoticon-Takut


NWO 170 Pemuda Ikuti Pembinaan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan YME di Denpasar
mugi berkahipun gusti pangeran ingkang kinasih tansah kaparing dumateng kula panjenengan sedaya emoticon-Nyepi


Quote:"Kalau memilih pemimpin itu harus orang yang punya rasa kebangsaan nasionalisme. Kita tidak ingin mencari pemimpin di suatu daerah untuk menimbulkan sara, kita ini negara dengan kemajemukan yang luar biasa. Kita satu jiwa, Bhinneka Tunggal Ika." (Megawati Soekarnoputri - Presiden Indonesia V)
Bila kita, sama-sama mengakui di alam semesta ini bahwa TUHAN itu Esa, mengapa manusia ribut dengan klaim agamanya yang paling benar?.

Agama itu tidak penting di dunia. Sebab karena agama, tatanan dunia ini jadi rusak.
Karena klaim bahwa agamanya paling benar, justifikasinya sudah ratusan juta manusia jadi korban.

Jauh yang lebih penting itu adalah hiduplah berdamai dengan sesama berdasarkan hati nurani bukan karena agama.

Agama itu hanyalah dongeng murahan buat manusia yang tidak punya nurani.
170 Pemuda Ikuti Pembinaan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan YME di Denpasar
banyak juga yahh emoticon-Matabelo