alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/57c0451fe05227ee0b8b4569/chaos-theory-apa-yang-sains-dapat-jelaskan-soal-cinta
Chaos Theory: Apa yang Sains Dapat Jelaskan Soal Cinta [On Going]
Chaos Theory: Apa yang Sains Dapat Jelaskan Soal Cinta


Chaos Theory: Apa yang Sains Dapat Jelaskan Soal Cinta?

Selamat datang di thread cerita bersambung ini. Cerbung ini berkisah tentang seorang ilmuwan yang berusaha menemukan penjelasan rasional tentang kisah asmaranya. Mohon dukungan, semoga penulis dapat konsisten dan mampu menyelesaikan cerita ini sampai tamat. Selamat membaca semuanya.

Daftar Isi

Quote:BAB 1 Kencan Pertama
BAB 2 Di Kantin Sekolah
BAB 3 Eksperimen Psikologi
BAB 4 Di Koridor Sekolah
BAB 5 Malam Berbintang
Gelar tiker gan
BAB 1 Kencan Pertama

Chaos Theory: Apa yang Sains Dapat Jelaskan Soal Cinta?

“Sains bisa menjelaskan semua hal.” Pria itu berkata dengan mantap. Setelah menyeruput sedikit kopi dari bibir cangkirnya, dia melanjutkan. Wanita yang duduk di depannya tersenyum, siap menyimak.

“Rasa-rasanya, di jaman sekarang ini, Sains sudah terlalu jauh mengambil tempat yang dulu hanya bisa ditempati oleh Iman. Tapi, walaupun ilmu pengetahuan sudah maju, tetap saja, ada beberapa masalah filosofis yang belum bisa dijelaskan hingga saat ini. Tentang Kehendak Bebas, Free Will, misalnya.”

Wanita itu mengangguk-angguk kecil, mencoba memahami maksud yang pria itu sampaikan.

Si Pria berbicara lagi. “Masalah Kehendak Bebas sudah dibahas selama ribuan tahun, dan melibatkan banyak filsuf. Aristoteles, St. Agustine, St. Thomas, Sartre, dan hasil yang memuaskan semua orang belum juga didapat. Semua masih terjebak dalam pertanyaan yang sama: Bagaimana kita bisa bebas berkehendak jika Tuhan sudah tahu apa yang akan terjadi di masa depan?”

"Benar sekali."

“Sekarang ini, kita tahu kalau semua hal di alam semesta diatur oleh semacam Hukum Dasar Fisika. Dan hukum ini, karena mereka sangat akurat untuk prediksi, menjadi dasar dari semua teknologi yang ada di sekitar kita sekarang. Dan lihat apa hasilnya?”

Pria itu menggerakkan telunjuk di depan wajahnya sendiri. Sang wanita lalu menoleh ke sekeliling, mengamati hal-hal yang ada di sekitar mereka.

“Tapi coba lihat pada diri kamu sendiri. Kita ini sebenarnya juga sebuah sistem fisika, bukan? Kita sebenarnya hanyalah sebuah susunan kompleks dari molekul-molekul karbon. Kita, sebagian besar, hanyalah air, dua atom hidrogen dan satu oksigen yang saling berkaitan. Kita bukanlah sebuah anomali. Kita bukan satu pengecualian. Kita, bersama-sama dengan semua hal yang ada di alam semesta, tunduk pada hukum-hukum dasar fisika itu. Jadi bukan lagi soal apakah Tuhan sudah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, atau apakah hukum-hukum fisika inilah yang mengatur alam semesta, inti permasalahannya adalah: Kita, sebenarnya tidaklah bebas.”

"Aku rasa kamu benar."

“Kebanyakan dari kita akan mengabaikan pertanyaan semacam ini, dan berkata dalam kepala masing-masing, “Oh, tidak ada gunanya memikirkan hal semacam ini. Ini hanyalah paradoks. Pertanyaan tanpa jawaban. Lupakan saja, dan mulailan memikirkan hal-hal lain yang lebih penting.”

Sang wanita mendengarkan dengan penuh perhatian. Ada sesuatu dalam pandangan matanya. Sesuatu yang terasa janggal, namun menyenangkan.

“Tapi, pertanyaan ini selalu membayangi sepanjang umur kita. Menunggu kita, menuntut kita, untuk terus berpikir. Kita mulai memikirkan diri kita sendiri. Tentang semua hal yang kita lakukan. Tentang konsekuensi yang harus kita terima. Kita hanya bisa disalahkan, dikagumi, dihormati, untuk hal-hal yang kita lakukan tanpa kehendak kita sendiri. Pertanyaan sama yang akan datang berulang-ulang, dan tidak akan pernah kita temukan jawabannya. Coba kamu gerakkan tanganmu,” pinta Si Pria.

Wanita itu mengangkat tangannya dari bawah meja.

“Menurutmu, apa yang sebenarnya terjadi?”tanyanya lagi.

Si Wanita mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. Dia tidak tahu

“Ada semacam sinyal listrik di dalam otakmu. Neuron-neuron dalam otakmu bekerja, mengirimkan sinyal ke sistem syaraf tubuhmu, dan meneruskannya ke otot di tanganmu. Kamu mungkin merasa, kamulah yang menggerakkan tanganmu barusan, tapi, setiap bagian dalam proses tadi, bekerja dalam hukum-hukum dasar fisika, kimia, listrik, dan seterusnya… dan seterusnya.”

"Ya. Aku memepelajari itu dulu di SMA."

“Dan sekarang, kita menyadari, bahwa semua hal yang terjadi sepanjang sejarah peradaban manusia, tidak lain hanyalah sebuah permainan dan gerakan dari partikel-partikel subatomik tadi, yang selalu tunduk dalam hukum-hukum dasar fisika.”

Si Wanita bersandar ke belakang, melipat kedua tangannya di depan dada.

“Kita merasa pintar. Kita merasa spesial. Kita merasa memiliki kedudukan yang penting di alam semesta, hanya karena kita memiliki Kesadaran. Sebuah aspek keterpisahan diri yang alam ciptakan secara tidak sengaja dalam proses evolusi. Sebelum kesadaran manusia terbentuk, alam adalah satu. Tidak ada yang merasa memiliki “tubuh”. Semua bergerak bersama. Semua tumbuh bersama. Padahal, kita sebenarnya hanyalah… well, nothing, right?”

"Hmm... Aku tidak pernah memikirkan itu sebelumnya."

“Aku rasa…”Dia berhenti bicara, lalu mengangkat cangkir dan menghabiskan kopi yang tersisa di hadapannya. “…sebuah film yang baik harus mampu memberi kita ruang kontemplasi seperti ini, kan? Karena itulah aku suka Waking Life. Kalau kamu?”

“Hmm… Apa ya?” Sang wanita berpikir sejenak. Beberapa detik. “Kalau aku suka The Notebook. Kamu udah nonton belum sih? Ya ampun itu sedih bangettt.”

Pria itu menghembuskan nafas dengan samar. Ada sedikit kekecewaan di sana. Sains bisa menjelaskan semua hal, pria itu berkata lagi. Kali ini hanya dalam hati.

Kecuali, mungkin, satu hal itu.
Quote:Original Posted By alfian752
Gelar tiker gan

makasih gan
Gan ditunggu nih updatenya
Update lagi gan emoticon-Request
-DELETED-
BAB 2 Di Kantin Sekolah

Chaos Theory: Apa yang Sains Dapat Jelaskan Soal Cinta?

“Jadi, kalian kenal dimana?” Si Wanita bertanya tentang seorang teman yang bertanggung jawab atas pertemuan ini. Dialah yang mengenalkan Pria dan Wanita yang sekarang sedang duduk bersama di sudut café ini.

Pria itu memperhatikan wajahnya. Boleh dibilang, wanita ini punya daya hisap kuat bagi kaum adam. Ketika dia masuk ke café tadi, misalnya, hampir semua lelaki di sana mencuri pandang ke arahnya. Bahkan, seorang wanita yang ada di dekat pintu masuk sampai memarahi pacarnya karena diam-diam melirik. Ada daya tarik tak terjelaskan yang dimiliki wanita ini.

“Dulu, sebelum pindah ke Bandung, kami berdua kerja di tempat yang sama,” jawab si Pria

“Ohhh,” si Wanita manggut-manggut. “Tunggu, kalian sebenarnya bikin apa sih? Sorry, aku nggak terlalu paham. Haha,” wanita itu tergelak-gelak sendiri.

“Kami sedang bikin satu riset. Soal nanotechnology.”

Nanotechnology?”

“Iya, kami mencoba memanipulasi susunan materi pada skala atomik menjadi material baru dengan sifat-sifat yang kami mau. Di masa depan, aku yakin, ini akan menjadi solusi dari semua industri manufaktur agar lebih cepat dan efisien.”

“Kalian keren, yah,” seloroh si wanita.

Wanita itu lalu melambaikan tangannya ke arah pelayan. Si pelayan yang sedang mengobrol dengan petugas kasir, sontak langsung datang dengan setengah tergopoh. Wanita itu menyebutkan beberapa pesanan tambahan. Malam begitu menyenangkan. Butuh beberapa makanan kecil tambahan untuk teman ngobrol.

Sementara itu, sang Pria hanya membisu. Kedua tangannya menopang dagu. Diam-diam, dia sudah jauh meninggalkan meja café. Pikirannya mengarus jauh ke belakang. Meniti kembali jembatan waktu yang sudah lama dia lewati.

***

Jam istirahat makan siang.

Entah kenapa, kantin sekolah hari itu begitu sepi. Tidak seperti biasanya. Tampak seorang siswa duduk di bangku paling ujung. Sendirian.

Dia selalu membutuhkan ketenangan setiap kali sedang membaca buku. Hari ini, dia sedikit bersyukur karena kantin tidak terlalu ramai. Membuat dia lebih mudah untuk berkonsentrasi.

“Kosong?” Sebuah suara mengagetkannya. Membuyarkan kembali konsentrasinya dalam selang waktu sepersekian detik.

Seorang gadis tersenyum di depannya.

“Iya. Silahkan,” dia mengambil tas yang ada di bangku sebelah, sambil bergeser sedikit memberi ruang gadis itu agar lebih lapang. Sekilas, dia mengamati gadis itu. Sneakers putih, dan beberapa gelang wol, dia sudah bisa menyimpulkan.

Gadis itu lalu duduk dan meminum teh kotak yang dari tadi ia bawa. Suasana hening menyelimuti mereka berdua. Namun, dia tidak keberatan untuk menikmati keheningan itu.

“Hei…” seru gadis itu. Mengagetkan dia untuk yang kedua kalinya. “Kamu yang ada di mading itu, ya?”

“Maaf?” Dia tidak mengerti dengan apa yang gadis itu bicarakan

“Iya, yang fotonya ada di mading. Wah, jadi kamu ini semacam orang jenius ya. “

“Oh, itu.” Dia baru ingat. Beberapa hari yang lalu, ada seorang wartawan mading yang mewawancarainya. Mereka tertarik dengan cerita Olimpiade Fisika Nasional yang dia menangkan dua minggu yang lalu. Dia sebenarnya agak enggan diwawancarai, apalagi sampai diambil foto. Dia merasa agak tidak nyaman jika fotonya di taruh di tempat dimana banyak orang akan melihat.

“Hebatt.”

Minatnya untuk melanjutkan membaca kini sudah hilang.

“Maaf, tapi aku nggak pernah lihat kamu sebelumnya.

“Aku baru di sini. Masuk 3 IPS 4. Kamu kelas mana?”

“3 IPA 2,” jawab dia, pendek. Biasanya, dia tidak begitu menikmati percakapan dengan orang yang baru kenal. Tapi, rasa penasaran pada gadis itu membuat dia ingin mencari tahu lebih banyak. “Jadi, kenapa kamu pindah?”

“Aku ini…” wajah gadis itu tiba-tiba berubah serius. “… sebenarnya adalah intel.”

“Serius,” ujarnya, datar.

“Hahaha,” gadis itu terbahak sendiri. “Ah, nggak, kok. Pindah aja. Beberapa minggu lalu ayahku meninggal, lalu aku dan ibuku pindah ke sini. Kembali ke rumah kakek dan nenekku.

“Maaf. Aku turut berduka.”

“Sudahlah,” gadis itu tersenyum lagi. Manis. “Kadang-kadang, hal-hal seperti itu memang harus terjadi kan. Mengingatkan kepada kita untuk tidak terlalu cepat berjalan, lalu sesekali menoleh ke belakang.”

Dia diam. Memperhatikan wajah gadis itu. Kemampuannya untuk menghadapi kesedihan benar-benar membuatnya kagum.

“Kita belum berkenalan..” si Gadis lalu mengulurkan tangannya, yang langsung saja dia sambut, sambil menyebutkan nama masing-masing.

Mereka resmi berkenalan.

***

“Sampai di mana tadi?” pertanyaan si Wanita membuyarkan lamunannya. Mengembalikan dia kembali ke tempat ini, detik ini.

“Eh,” kata Pria itu, berhati-hati. “Aku mau ngomong sesuatu.”
Quote:Original Posted By dims090
gw suka gaya lo gan keep update


makasih gan, mampir baca terus ya

Quote:Original Posted By endeavour.
Update lagi gan emoticon-Request


oke gan
-DELETED-
ningalin jejak dlu gan, blom sempat baca, kyaknya bagys nih.
asik nih, bikin perumahan dulu disimi gan
Chaos theory? Jadi entar ada butterfly effect, domino effect, sama karma, kan?
Numpang mejeng di pekiwan
BAB 3 Eksperimen Psikologi

Chaos Theory: Apa yang Sains Dapat Jelaskan Soal Cinta?

“Kamu mau ngomong apa?” Mata wanita itu menusuk dalam ke matanya. Cepat dia menoleh ke lampu-lampu jalanan yang lebih mudah untuk dihadapi.

“Aku,” dia berkata pelan, “nggak bisa ngelawak. Ini nggak akan berhasil.”

Tawa sang wanita pun meledak. Seperti air bah yang jebol dari bendungan. Tawa yang terlampau keras sampai membuat perut terasa sedikit sakit.

“Kenapa juga kamu merasa harus ngelucu?” Si wanita bertanya sambil menghapus titik air mata yang keluar dari sudut matanya.

Pria itu kembali terdiam. Di tengah-tengah segala percakapan mereka barusan, pria itu merasa ada sesuatu yang “salah”. Seperti masih ada yang kurang untuknya.

Dia belum merasakan “itu”. Dia belum merasa kalau wanita di hadapannya harus terasa penting untuknya. Dia belum merasa excited ketika pesan pendek wanita itu muncul di handphone-nya sewaktu-waktu. Dia belum otomatis tersenyum ketika melihatnya tersenyum terlebih dahulu.

Kalau dipikir-dipikir, wanita itu sebenarnya menyenangkan kalau diajak ngobrol. Dia seharusnya adalah tipe wanita yang mudah untuk disukai lelaki. Dia pintar, cantik dan baik. Semua lelaki yang mengenal dia pasti mudah untuk menyukainya. Kalaupun ada yang tidak, itu berarti mereka belum mengenal dia dengan baik saja. Barangkali.

Ah benar juga. Batin pria itu dalam hati. Barangkali dia belum mengenal wanita tersebut dengan baik saja. Mungkin nanti dia harus lebih sering jalan dengannya. Lebih banyak mengobrol, berusaha mengenal satu sama lain. Seperti malam ini.

Face it,” kata dia. “Apa yang orang biasa lakukan di kencan pertama? Mereka saling berusaha untuk meninggalkan kesan. Kata orang, cara paling mudah untuk membuat orang suka kepada kita adalah dengan membuatnya tertawa. Sekarang, coba lihat aku. Monokrom. Kurang dimensi. Tidak romantis. Tidak suka berprosesi. Well, kalaupun kamu suka padaku hari ini, suatu hari nanti kamu pasti akan merasa bosan.”

Si wanita kebingungan. Selama ini, dia memang tidak pernah menyukai pria pembohong. Tapi, kalau terlalu jujur seperti ini, dia sendiri juga tidak tahu harus bagaimana.

“Hmm..” gumam wanita itu, “kalau begitu, jangan buat aku ketawa. Ajak aku ngomong serius.”

“Baiklah. Kamu mau ngomongin apa?”

“Apa ya…” si wanita nampak berpikir. “Oh ya. Jadi, apa yang dapat sains jelaskan tentang abstraksi bernama… Cinta?” Ada nada jahil dalam pertanyaan itu. “Kita cuma bisa merasakannya, kan? Tidak bisa diobservasi.”

Pria itu mulai tertarik. Posisi duduknya menjadi tegak. Pertanyaan wanita itu, terdengar seperti sebuah tantangan di telinganya. Menggunakan sains sebagai kerangka untuk mengkaji satu candu terbesar yang dapat dialami oleh seorang manusia: Cinta. Oh, ini akan menjadi malam yang indah.

“Sebenarnya,” dia memulai lagi, “itu bisa dilakukan. Aku pernah membaca tentang seorang psikolog membuat satu eksperimen yang bertujuan untuk menciptakan intimacy di antara dua orang asing dengan cara memberi 36 pertanyaan untuk mereka jawab, dilanjutkan dengan saling menatap mata satu sama lain selama 4 menit. Menarik.”

“Kita harus mencoba itu kapan-kapan,” tukas wanita itu cepat, sambil terkekeh.

“Ya, boleh saja.”

Senyum simpul tergambar di wajah lelaki itu. Dia teringat sesuatu.

Memakai sains untuk mengobservasi perasaan cinta.

Ini bukan kali pertama dia pernah melakukannya.

Quote:Original Posted By dystopiiaq
Chaos theory? Jadi entar ada butterfly effect, domino effect, sama karma, kan?
Numpang mejeng di pekiwan


tunggu aja kelanjutannya gan, hehe. masih panjang ceritanyaemoticon-Coblos
ijin baca ganemoticon-Hot News
Quote:Original Posted By gerryvicky
ijin baca ganemoticon-Hot News


lo siapa ya?emoticon-Malu
aku penggemarmu kaka emoticon-Najis emoticon-Najis
BAB 4 Di Koridor Sekolah

Chaos Theory: Apa yang Sains Dapat Jelaskan Soal Cinta?

“Nggak pulang?” Seorang teman bertanya.

“Belum, duluan aja,” dia tidak bergeming dari tempat duduk. Padahal, sejak tadi semua peralatan dan buku-buku sudah dimasukkan ke dalam ransel. Namun, dia belum juga beranjak pergi.

Tidak ambil pusing, temannya berlalu begitu saja.

Tidak ada lagi orang di kelas, kecuali dirinya. Pelajaran sudah berakhir lima belas menit yang lalu. Jam pelajaran yang membosankan membuat para siswa ingin cepat-cepat pulang. Tapi tidak dengan dia. Dia masih duduk di kelas. Beberapa kali, terlihat dia melirik keluar pintu, ke arah koridor sekolah. Sudah jelas. Dia sedang menunggu.

Hari ini, dia memakai jam tangan. Bukan kebiasaanya, karena memakai aksesoris di tangan membuat dia merasa tidak nyaman. Namun itu bukan jam biasa. Ada kemampuan khusus yang dimiliki jam itu. Dia sedang merencanakan sesuatu.

Tak berapa lama, apa yang dia tunggu akhirnya kelihatan. Buru-buru dia menghambur keluar kelas. Menciptakan sebuah kebetulan yang sebenarnya sudah direncanakan dengan begitu akurat.

“Hai,” sapa dia.

“Hai, Newton, kamu lagi” balas gadis itu. Tersenyum. Senyum yang masih sama seperti ketika mereka pertama bertemu di kantin sekolah kemarin. “Kenapa sendirian? Abis bikin hukum keempat, ya?”

Pertanyaan gadis itu membuatnya terkekeh. Selera humor yang unik dan menarik. Dia suka itu.

“Oh ya, hukum ke empat: ‘Ganteng itu kekal. Ganteng tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan. Ganteng hanya dapat diubah dari satu bentuk ganteng ke bentuk ganteng lainnya’.”

“Hahaha, dasar.”

Mereka pun terbahak bersama. Kolaborasi semburan tawa yang sangat menyenangkan.

“Lagi pengen pulang sendiri aja, teman-teman udah duluan, kok, tadi,” kata dia.

Me too, so let’s be alone together!

Okey,” jantungnya mencelos seketika mendengar ajakan gadis itu. Refleks, dia memegang jam tangannya.

“Kamu jenis orang yang pendiam, ya.”

“Begitulah.”

“Kamu pasti jarang keluar rumah, nggak kayak anak-anak lain di sini.”

“Justru yang aku bingung, hal buruk apa yang ada di rumah setiap orang, yang membuat mereka selalu suka untuk pergi keluar?

“Ya,” ada nada tertahan di sana. Raut muka gadis itu yang tadinya cerah tiba-tiba berubah. “Kita tidak pernah tahu itu.”

Suasana canggung muncul tiba-tiba. Dia menyadari itu, dan berusaha untuk tidak memperparah keadaan dengan membahasnya lebih jauh. Mereka lalu berjalan ke halte samping sekolah, tempat dimana angkot segala jurusan mangkal, sambil mengobrolkan apapun yang ada di kepala mereka.

“Jangan sering sendiri,” kata gadis itu, tepat ketika angkot dengan nomor tujuannya terlihat dari kejauhan. “Kalau kamu udah merasa terlalu nyaman, kamu bakal ngerasa nggak butuh orang lain lagi buat hidup.”

Dia tercenung. Barangkali apa yang dikatakan gadis itu barusan benar. Selalu menakjubkan ketika kita menemukan orang yang mampu mendeskripsikan dengan tepat apa yang sedang kita pikirkan.

“Aku duluan, ya,” gadis itu melompat ke dalam angkot. Sepuluh detik kemudian, ia berlalu.

Kini, tinggal dia sendirian berdiri di sana. Dia menghembuskan nafas berat. Sebentuk rasa tak nyaman muncul tiba-tiba di dalam hatinya. Perasaan yang dia benci, namun mustahil untuk dihindari. Dia mengeluarkan selembar kertas dan pena dari dalam saku, lalu menuliskan angka yang muncul pada jam tangannya.

112 kali per menit.

Hanya ada dua alasan mengapa detak jantung yang dia catat bisa sebanyak ini. Seingatnya, dia sudah rutin berolahraga dan mengatur apapun yang akan dia makan, jadi tidak mungkin ini adalah gejala hipertensi.

Ini, adalah sesuatu yang lain.

Dan dia, tahu persis apa itu.
×