alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/57c02ecbdcd770ee118b4572/tarif-interkoneksi-dibumbui-nasionalisme-sempit
Tarif interkoneksi dibumbui nasionalisme sempit
Tarif interkoneksi dibumbui nasionalisme sempit
Biaya interkoneksi yang baru disiapkan pemerintah merupakan instrumen penyeimbang.
Isu nasionalisme diembuskan, menyikapi kebijakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) soal tarif baru interkoneksi. Beberapa pihak menuding kebijakan itu hanya menguntungkan operator asing.

Ada pula yang memprediksi beleid itu akan merugikan negara hingga Rp50 triliun per tahun. Sedang Menteri Kominfo Rudiantara berusaha meyakinkan semua pihak, bahwa penurunan tarif interkoneksi tidak akan merugikan operator maupun negara. Kebijakan itu justru akan menyehatkan industri telekomunikasi. Apa sesungguhnya yang terjadi?

Awal Agustus lalu, disela halal bilhalal masyarakat telekomunikasi, Rudiantara menuturkan Kemkominfo sudah menyelesaikan perhitungan tarif baru interkoneksi. Kebijakan itu tertuang dalam Surat Edaran No. 1153/M.Kominfo/PI.0204/08/2016 dan berlaku mulai 1 September 2016 sampai dengan Desember 2018. Tarif tersebut akan dievaluasi setiap tahun oleh BRTI (Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia).

Tarif interkoneksi memang harus ditentukan pemerintah, sebab keberadaan interkoneksi adalah perintah Undang-undang, yaitu UU No. 36/1999 tentang Telekomunikasi, dan PP No. 52/2000.

Di kedua peraturan tersebut dijelaskan, interkoneksi adalah kewajiban bagi setiap network operator untuk saling menyambung jaringannya satu sama lain. Tujuannya adalah menjamin hak masyarakat untuk bisa saling menelepon dari dan ke operator manapun.

Tarif interkoneksi adalah biaya yang harus dibayar operator asal kepada operator yang dituju dalam percakapan, SMS juga MMS telepon lintas operator. Interkoneksi terdiri dari 18 jenis, dari seluler ke seluler, seluler ke telepon tetap, seluler ke telepon satelit, juga sebaliknya.

Kali ini dalam menentukan tarif interkoneksi, Kemkominfo melakukan simulasi 18 jenis interkoneksi. Yaitu mulai dari panggilan lokal ke telepon tetap, lokal ke seluler, lokal ke satelit, hingga biaya terminasi SMS. Sedang basis tarif yang dipakai adalah Dokumen Penawaran Interkoneksi (DPI) dari para 8 operator telepon yang ada di Indonesia.

Hasilnya adalah tarif interkoneksi simetris. Besarannya rata-rata dari total 18 skenario interkoneksi jaringan seluler, terjadi penurunan 26 persen dibanding tarif sebelumnya. Dalam angka sekitar Rp204 per menit, sedang tarif sebelumnya yang ditetapkan tahun 2011, sebesar Rp251. Kemkominfo menilai tarif ini adalah win-win solution, yang tidak akan merugikan operator manapun.

Namun bagi Telkom dan Telkomsel, tarif tersebut dianggap tidak adil. Kedua BUMN ini merasa dirugikan dan menyampaikan surat keberatan ke Kominfo.

Polemik tarif interkoneksi ini, membuat DPR mengundang pihak berkepentingan untuk menjelaskan duduk perkaranya. Komisi I DPR RI lalu mengundang Menteri Rudiantara, beserta enam dari delapan operator telekomunikasi.

Dalam Rapat Dengar Pendapat (25/8/2016), Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah, menjelaskan bila mengikuti regulasi tersebut Telkomsel akan merugi senilai Rp76 per menit. Penghitungan internal Telkomsel berdasarkan nilai investasi, tarif interkoneksinya justru harus naik Rp280 per menit.

Sementara, empat operator yang lain bisa menerima tarif tersebut bahkan berharap bisa turun lebih rendah lagi. Karena dalam perhitungan internal masing-masing operator di luar Telkom dan Telkomsel, biaya interkoneksi yang masuk akal secara bisnis berkisar Rp100 sampai dengan Rp150.

Bagi Telkomsel penurunan tarif interkoneksi ini memang cukup memukul. Sebelum ini seolah penentuan tarif interkoneksi memang mengikuti kemauan Telkomsel. Angka Rp251 yang saat ini berlaku adalah angka yang diberikan Telkomsel dalam penentuan tarif pada 2011.

Sedang Rudiantara, di hadapan DPR mencoba meyakinkan bahwa penentuan tarif interkoneksi ini tidak memihak operator manapun. Tapi berpihak kepada masyarakat pengguna telepon seluler terutama di wilayah luar Jawa. Dengan penurunan tarif interkoneksi, diharapkan tarif ritel percakapan, SMS dan MMS semua operator pun akan ikut turun, meskipun.

Menurut Rudiantara, mahalnya tarif interkoneksi selama ini, menjadikan kompetisi di industri telekomunikasi tidak sehat. Perang tarif dilakukan. Secara bergantian operator melakukan promo yang tidak masuk akal. Tarif sesama operator (on net) bisa gratis, sementara tarif antar operator dipatok sangat mahal Rp2000 per menit.

Praktik perang tarif inilah yang menurut Rudiantara memicu orang untuk memiliki ponsel lebih dari satu yang diisi kartu beberapa operator, sekadar mencari harga murah. Bila rekan yang akan dihubungi memakai Telkomsel, ia akan menggunakan ponsel yang berkartu Telkomsel. Begitu pun bila yang akan dihubungi menggunakan Indosat atau XL.

Fenomena itu, selain tidak mendidik konsumen, juga membebani ekonomi negara. Selama ini ponsel yang beredar lebih banyak yang impor. Yang jenama lokal pun komponennya impor. Besarnya impor sektor telekomunikasi mencapai sekitar 50-60 juta unit menyumbang defisit perdagangan lima miliar dolar AS.

Bila penurunan tarif bisa memengaruhi konsumen untuk hanya menggunakan satu ponsel, tentu pada akhirnya bisa mengurangi impor ponsel. Itu artinya mengurangi beban negara dalam defisit perdagangan.

Bahwa kenaikan tarif interkoneksi akan merugikan Telkom dan Telkomsel, rasanya juga berlebihan. Yang tepat akan mengurangi keuntungan semua operator. Bila penurunan tarif interkoneksi akan diikuti penurunan tarif ritel, tentu jumlahnya tidak berarti. Sebab tarif interkoneksi hanya berkontribusi sekitar 15-20 persen dari tarif ritel operator yang harus dibayar konsumen.

Isu soal penurunan tarif interkoneksi menjadi ramai, ketika keberatan kedua BUMN tersebut kemudian dibumbui isu nasionalisme dan potensi kerugian negara, oleh pihak di luar lingkungan telekomunikasi.

Anggota Komisi XI DPR RI H. Refrizal menyebutkan kebijakan tarif interkoneksi ini hanya akan menguntungkan perusahaan telekomunikasi asing. Bahkan berpotensi mengurangi pendapatan negara sebesar Rp50 triliun per tahun dari deviden yang diterima pemerintah dari BUMN tersebut.

Hal serupa diungkapkan Federasi Serikat Pekerja BUMN Strategis. Wisnu Adhi Wuryanto, Ketua Umum ferderasi tersebut, meminta Menkominfo meninjau kembali kebijakannya karena dianggap dapat dipersepsikan sebagai pemberian fasilitas yang berlebihan bagi operator asing yang beroperasi di Indonesia.

Apa yang disampaikan Refrizal maupun Wisnu, sesungguhnya di luar konteks. Potensi kerugian negara sampai Rp50 triliun, sangat tidak masuk akal. Keuntungan Telkom pada 2015--angka konsolidasi dengan anak perusahaan termasuk Telkomsel--adalah Rp14,21 triliun.

Begitu pun penyebutan operator asing dalam industri telekomunikasi. Saat ini, semua operator sebagian sahamnya dimiliki asing. Bila yang dimaksud Telkomsel sebagai operator lokal, juga tak sepenuhnya benar. Telkomsel 35 persen sahamnya dimiliki oleh Singtel, BUMN telekomunikasi milik Singapura.

Karenanya tidak elok jika isu asing versus nasionalisme disangkutpautkan dengan keputusan penurunan tarif interkoneksi. Kebijakan tarif ini murni kewenangan Kominfo untuk menyehatkan industri telekomunikasi di Indonesia.

Apa pun saat ini, industri telekomunikasi di Indonesia masih membutuhkan investor luar negeri. Tentu saja, Kominfo sebagai regulator, harus bisa membuat kebijakan yang saling menghormati antara BUMN dan mitra global. Kebijakannya secara proporsional memberi keuntungan bersama bagi para pihak, baik pemilik modal, pemerintah maupun konsumen.

Sudah saatnya, organisasi pekerja, juga legislator, tidak lagi memolitisasi regulasi bisnis dengan isu nasionalisme sempit. Telkom dan Telkomsel pun, hanya akan menjadi jago kandang, bila terus-terusan menunggang isu nasionalisme agar diutamakan dalam setiap kebijakan pemerintah.

Padahal kedua BUMN ini diharapkan menjadi pemain global di industri telekomunikasi, seperti halnya Singtel, Telekom Malaysia serta, KPN (Koninklijke PTT Nederland).
Tarif interkoneksi dibumbui nasionalisme sempit


Sumber : https://beritagar.id/artikel/editori...nalisme-sempit

---

Saya pernah denger, memang ada banyak operator2 luar yang berani modalin mahal + memiliki peralatan dan teknologi yg lebih baik mau memulai bisnis provider ISP disini, tentu saja hal ini tidak aka disukai oleh para *beep* ( sensor ) emoticon-Shutup , sebab jika ini terjadi maka akan ada yang *beep* emoticon-Shutup . Mereka bakalan "out of bussiness" karena kompetitornya memliki resource yang jauh lebih baik dari mereka. emoticon-Big Grin

Denger2 sih yang selalu menghalangi operator2 luar ini siapa lagi klo bukan dari pihak *beep* dan juga para beep* emoticon-Shutup

Ah, kalu saja itu terjadi, mungkin kita tak lagi mengalami koneksi lemot ato masalah2 klasik IT lainnya...emoticon-Amazed
Kampret nih telkomshit... dah paling mahal, kuota pelit
emoticon-Bata (S)
Takut mainan monopolinya bubar, bandarnya rugi
haduh, mau enaknya sendiri
selanjutnya tarif internet emoticon-Wink
Quote:Original Posted By netloader
Saya pernah denger, memang ada banyak operator2 luar yang berani modalin mahal + memiliki peralatan dan teknologi yg lebih baik mau memulai bisnis provider ISP disini, tentu saja hal ini tidak aka disukai oleh para *beep* ( sensor ) emoticon-Shutup , sebab jika ini terjadi maka akan ada yang *beep* emoticon-Shutup . Mereka bakalan "out of bussiness" karena kompetitornya memliki resource yang jauh lebih baik dari mereka. emoticon-Big Grin

Denger2 sih yang selalu menghalangi operator2 luar ini siapa lagi klo bukan dari pihak *beep* dan juga para beep* emoticon-Shutup

Ah, kalu saja itu terjadi, mungkin kita tak lagi mengalami koneksi lemot ato masalah2 klasik IT lainnya...emoticon-Amazed


alah cuma ngeles doang. klo bener buktikan dunk gelar jaringan di sini gelar jaringan di pedalaman kek telkomsel dan telkom lakukan. bahkan di pucuk gunung di daerah jawa cuma signal telkomsel yang ada tower telkomsel juga terlihat. operator laen mana ada yang mau masang untungnya masih minim mereka gak mikir gimana ngehubungin indonesia tapi cuma ngeruk dari pasar yang udah rame terus dibawa deh duitnya ke induk asingnya. mo invest jaringan ??? buat mereka no way.
cie...cie....ciee operator lokal mulai terguncang dan memanfaatkan isu nasionalisme untuk obat guncangan nya emoticon-Marah

ane jamin pasti pemerintah lewat menominfo gak bakalan beranilah wujudkan ini kebijakan
kalau udah sampe di cekcoki operator lokal, apalagi kalau yang recoki telkampret
telkomSALE Laknat. Maunya menang sendiri, Harga internet mahal, sinyal 4G cuma ada di kota2 besar. beda dengan Provider lain yang sinyal 4Gnya udah sampai ke daerah kecamatan2. udah sinyal 4Gnya cuma ada di kota2 besar tapi semua paket internetnya sekarang di isi sama paket 4G ya kan kasian daerah2 yg laen yg blum terjangkau sama sinyal 4G. ditambah lagi pihak TelkomSALE setiap bulan membuat kebijakan bullshit yang selalu memberatkan pelanggan, seperti contohnya untuk para pengguna LOOP. Sudah semua paket internetnya untuk para kelelawar (paket malam) dan sekarang Jam untuk paket malam tu di perpendek. yang tadinya dari jam 00.00 - 09.00 sekarang di perpendek menjadi dari jam 00.00 - 07.00.

KALAU GINI CARANYA MESKIPUN TELKOMSALE JARINGANNYA SUDAH LUAS HAMPIR KE SELURUH INDONESIA, TAPI KEBIJAKAN2 MEREKA AKAN SELALU MEMBODOHI PARA PENGGUNANYA. emoticon-Marah
sedih amat liatnya para pelanggan setia susah amat untuk dapat menikmati paket data murah meriah, ndak ada yang baik hati. ampun dah!

Tarif interkoneksi dibumbui nasionalisme sempit
kira2 kalau udah kaya gini bakal nambah jaringan di luar jawa ga ? apa tetap dgn alasan "efisiensi" ? emoticon-Big Grin
hail internet murah emoticon-Traveller
Ane pikir cuma ane yg salah liat ternyata beneran paket kelelawar Telkom**** diperpendek dari yg sebelumnya 00.00-09.00 jadi 00.00-00.07... sedihhh
emoticon-Frown
tugas kemenkominfo untuk hal ini sangat simpel:

komunikasi dan internet semurah mungkin, secepat mungkin, kemana saja, darimana saja kapan saja, baik jasa maupun alatnya, untuk seluruh Rakyat Indonesia.

ga usah pake politik.emoticon-Cape deeehh
mejeng di page one gan
Quote:Original Posted By shinnchann
telkomSALE Laknat. Maunya menang sendiri, Harga internet mahal, sinyal 4G cuma ada di kota2 besar. beda dengan Provider lain yang sinyal 4Gnya udah sampai ke daerah kecamatan2. udah sinyal 4Gnya cuma ada di kota2 besar tapi semua paket internetnya sekarang di isi sama paket 4G ya kan kasian daerah2 yg laen yg blum terjangkau sama sinyal 4G. ditambah lagi pihak TelkomSALE setiap bulan membuat kebijakan bullshit yang selalu memberatkan pelanggan, seperti contohnya untuk para pengguna LOOP. Sudah semua paket internetnya untuk para kelelawar (paket malam) dan sekarang Jam untuk paket malam tu di perpendek. yang tadinya dari jam 00.00 - 09.00 sekarang di perpendek menjadi dari jam 00.00 - 07.00.

KALAU GINI CARANYA MESKIPUN TELKOMSALE JARINGANNYA SUDAH LUAS HAMPIR KE SELURUH INDONESIA, TAPI KEBIJAKAN2 MEREKA AKAN SELALU MEMBODOHI PARA PENGGUNANYA. emoticon-Marah
r ya


Hmm.. tinggal di kota besar ya gan? Pernah ngerasain tinggal di pegunungan? Apa kabarnya operator 4G yang situ banggain? emoticon-Big Grin

Lagian ini ngebahas tarif interkoneksi, apa hubungannya sama internet emoticon-Cape d...

Intinya operator2 itu cuma pengen numpang jaringan di pelosok.. mereka gak mau invest buat infrastruktur yang gak menguntungkan.

Toh di pelosok mah internet dinilai gak penting2 amat, jadi ngapain bangun jaringan yg yg canggih.. cukup numpang buat panggilan telepon doang mah..
Jaringan internet canggih cukup di buat di pemukiman padat penduduk, jelas nguntungin... yg gak nguntungin mah kita2 ngontrak aja..


Ane pake si kuning buat internet, karena murah.. tapi ane pemakai si merah dari dulu..
Ane tinggal di salah satu kota di jawa barat di mana si kuning adalah operator dominan.. sangat dominan malah..
Ane sesekali tugas ke lapangan di daerah pegunungan.. dan sinyal si kuning sama sekali gak bisa nembus daerah ini,cuma si merah yg tembus.. bayangin, di kota di mana si kuning merupakan pemain dominan, di pinggir kotanya yg merupakan derah pegunungan si kuning sama sekali gak tembus, kalopun ada, sinyalnya kadang nongol kadang nggak.. padahal ni daerah jaraknya gak sampe 30km dari pusat kotanya... emoticon-No Hope
pdhl hoby ngaku rugi terus tp pegawai sama pejabatnya slip gajinya tinggi2 emoticon-Embarrassment
Harga internet 80 ribu / 2 gb wkkwkwke
Quote:Original Posted By netloader
Saya pernah denger, memang ada banyak operator2 luar yang berani modalin mahal + memiliki peralatan dan teknologi yg lebih baik mau memulai bisnis provider ISP disini, tentu saja hal ini tidak aka disukai oleh para *beep* ( sensor ) emoticon-Shutup , sebab jika ini terjadi maka akan ada yang *beep* emoticon-Shutup . Mereka bakalan "out of bussiness" karena kompetitornya memliki resource yang jauh lebih baik dari mereka. emoticon-Big Grin

Denger2 sih yang selalu menghalangi operator2 luar ini siapa lagi klo bukan dari pihak *beep* dan juga para beep* emoticon-Shutup

Ah, kalu saja itu terjadi, mungkin kita tak lagi mengalami koneksi lemot ato masalah2 klasik IT lainnya...emoticon-Amazed


Masyarakat ga butuh gosip, tapi bukti nyata

Kalo memang punya dana, resource dan kemampuan yang lebih. . buktikan dulu bangun jaringan, bangun tower2 ke pelosok bukan cuma main di perkotaan dan didaerah yang menguntungkan

Indonesia saat ini ga cuma butuh jaringan yang cepat, tapi lebih butuh pemerataan jaringan keseluruh pelosok pulau di Indonesia, lagian yang dibahas masalah interkoneksi bukan internet. . saat ini telfon dan sms adalah hal penting buat masyarakat pelosok, bukan internet
Telkomsel sudah investasi jauh lebih besar untuk membangun jaringan di seluruh Indonesia, jauh lebih besar dibandingkan para kompetitornya. Sekarang Telkomsel DIPAKSA oleh pAmerintah untuk sharing jaringannya ke kompetitornya. emoticon-Takut