alexa-tracking

= Restricted Area =

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/57b850e65a516323468b456b/restricted-area
= Restricted Area =
Quote:

Barangkali kau bertanya, mengapa Aku tak pernah menyapamu,
atau membalas pesan-pesan yang kau kirim setiap hari dengan rutin,
hingga akhirnya kau mungkin mulai lelah
dan memilih untuk menyerah.

Bukan, bukan karena aku membencimu, atau tak suka padamu,
atau bahkan lebih tragisnya lagi kau berfikir Aku ini angkuh.
Akan tetapi ketahuilah, bukan semua itu alasanku.
Kau tahu kan, salah satu iman dalam diri seorang wanita adalah menjaga rasa malunya.

Iya aku malu, malu jika diri ini masuk dalam pusaran angan semu,
terjebak dalam perbuatan yang dimurkai Rabbku.
Jika semua perasaan-perasaan spesial yang kumiliki telah habis terkupas,
lalu apa lagi yang masih tersisa??





Aku tak ingin menjadi budak-budak rasa.


Aku ingin belajar menjadi jiwa merdeka yang siap menerima segala takdirNya.
Yang pahit atau yang manis, jadi maaf,
jika caraku memperlakukanmu berbeda dengan gadis-gadis lain yang kau temui di luar sana.

Jika kau ingin pergi karena aku tak sesuai yang kau harapkan, silahkan!
Aku sudah diajarkan bahwa saat Allah menjadi tumpuan segala harap,
semua akan baik-baik saja. Pasti.



Jika dengan cara seperti itu, mungkin akan membuatmu membenciku, aku terima!
Jika dengan mengikhlaskanmu, Aku menjadi pribadi yang lebih baik, Aku terima!
Jika menjauhimu mendekatkanku pada kasih sang Khaliq, Aku terima!

Tahukah kau, Aku sedang menata hati, juga rasa,
agar tujuanku hanya pada Robbku.
Agar tempat berharapku hanya padaNya.

Aku tidak ingin berharap kepada hambaNya
yang tak bisa memberikan harapan apa-apa,
sebab aku tak mampu kecewa untuk kesekian kalinya.....
Aku hanya menghajatkan cinta kepadaNya. Hanya kepadaNya.

Bukankah cinta sejati tidak pernah bergantung pada kepemilikan?
Apalagi pada ikatan atas nama pacaran, iya kan?

Aku tahu tak ada perpisahan yang manis,
karena setiap perpisahan pasti akan menanamkan luka pada para pecinta.

Cara satu-satunya untuk mengobati hanyalah berkeyakinan sepenuh hati pada Qadar Illahi
bahwa Ia telah mempersiapkan orang baik untuk mereka yang tak pernah berhenti memperbaiki diri.

Namun ketahuilah saat kita memutuskan berpisah karena Allah,
jika memang engkau pemilik tulang rusukku,
selama apa pun kita berpisah,
sejauh apapun jaraknya,
tetap akan bersatu jua.

Dan jika disini aku menanti,
semoga Engkau disana menjaga....

Namun andaikata dunia tak juga mempertemukan
semoga surga mempersatukan.
Karena sejatinya jodoh itu tak pernah rumit,
ia selalu sederhana, datang dengan cinta.






Spoiler for :
Quote:
Berikan atau kau ku tinggalkan
Berikan atau kita tak usah bertemu lagi
Berikan atau ku minta dari wanita lain


Intimidasi basi dari para pecinta yang cintanya sebatas diselangkangan saja

Logikaku sudah kembali mengambil alih kendali
Jika cinta tak lebih berharga dari sekedar seks semata, maka kehilanganmu pun tak berarti apa-apa

Aku sedang berproses menjadi lebih baik
Ku ulurkan tanganku padamu untuk berjalan bersama menuju arah yg lebih baik
Kau menepisnya
Maaf-maaf saja, aku tak akan berhenti atau mengambil langkah mundur dalam hijrahku
Hanya demi seseorang yang belum tentu menjadi imamku

All i need is love

Dan kutemukan cinta terbesar yang tak akan pernah lagi ku khianati
DIA, yang menciptakanku dan tak pernah berhenti menuntunku kembali





Quote:


Sebelum perjalanan panjang ini dimulai,
Semesta raya akan menyaksikan perjanjianmu dengan dirinya,
Suatu perjanjian yang hanya diketahui olehmu dan diriNya.

Namun saat semuanya dimulai,
Lupalah dirimu akan perjanjian itu,
Dan segala apa yang telah disampaikan kepadamu....




Tenanglah, sudah aku katakan bahwa ini adalah perjalanan panjang.
Lalu bagaimana caranya dirimu bertahan?
Adalah Dia yang akan melindungimu dan mengajarkanmu secara perlahan...

Pesan-pesan akan dikirim untukmu,
Petunjuk di setiap persimpangan
Telah siap memperingatkanmu,
Dan jelas itu untukmu.

Namun seiring waktu,
Jalanmu akan semakin sempit dan berliku,
Menyusuri lorong-lorong kotor sampai semuanya mulai terlihat samar...





Kadang-kadang dirimu tidak dapat menemui jalan yang telah digariskan,

Tempatmu akan menawarkan segala kenikmatan semu

Yang menggiringmu untuk menyimpang,

Atau bahkan menghentikan langkahmu dan terlarut dalam-dalam.


Saat dirimu terpukul dan tersadarkan,
Kamu akan menangis sepanjang malam.
Isak-isak lirih menggemakan semesta alam.











penulis
Quote:


Saya (pernah) terluka. Bukan hanya hari kemarin tapi juga saat ini.
Saya bahkan sengaja lupa kapan pernah menjatuhkan cinta lagi.
Yang jelas, terluka karena cinta resmi membuat saya menghilang dari untaian-untaian huruf.
Huruf-huruf yang selalu tersusun karena kehadirannya dalam ingatan.
Huruf-huruf yang selalu memujanya dengan penuh keindahan.
Kini setelah kehilangan yang disebabkan oleh cinta pada manusia,
membuat saya harus menghilangkan segala ingatan tentangnya.
Dan tidak lagi menghadirkannya dalam huruf-huruf yang selalu kueja.

Ah, barangkali benar.
Jika cintamu telah jatuh pada dia yang tepat menurut versi Tuhan
mungkin hatimu tidak lagi terkebiri oleh nestapa yang sama.

Kamu tidak bersalah saat menjatuhkan cinta,
yang salah hanya waktunya yang belum tepat menurutnya.
Dulu saat hatimu tergila-gila padanya,
segala yang tampak olehmu hanya pesonanya saja
sehingga tanpa sengaja kamu menaruh sebuah harapan besar
bahwa suatu masa dia akan menjadikanmu sebagai rumah.
Rumah baginya untuk pulang.

Lalu, pada saat hatimu dipenuhi bunga-bunga yang kamu rawat sepenuh cinta.
Akhirnya harus layu dan mati hanya karena dia sudah enggan menyiraminya.




Luar biasa Tuhan, saat kamu merasa amat terluka.

Dia menghampiri, menawarimu pundaknya,

Membuat hatimu tidak terlalu terluka dalam.


Sebab hanya Tuhanmu lah sebaik-baiknya cinta yang sebenarnya.

Kini bersihkanlah hatimu, hapus segala perihal tentangnya.
Nanti, kalau Tuhan mempertemukanmu dengan jodoh sejatimu,
kamu pasti akan merasa sudah menemukan rumah yang sesungguhnya.

Setelah penolakan dari Tuhan membuatmu harus mempertanyakan lagi, apa benar itu cinta,
apa hanya sekedar rasa kagum biasa yang malah menjadi berlebihan.
Sementara dia yang memenuhi seluruh rongga kepalamu,
seluruh ruang hatimu yang bahkan tanpa kau sadari entah masih adakah Tuhan di dalamnya.
Dia yang sama sekali bukan (belum) jadi siapa-siapamu.
Telah membuatmu berangan terlalu tinggi.
Kembalilah.
Dan berpijaklah pada bumi kembali.

Setelah penolakan dari tuhan melalui ucapannya membuatku memutuskan untuk diam.
Berhenti membicarakan perihalnya,
berhenti merindukannya,
Dan menghapus semua ingatan yang tersisa tentangnya.
Karena begitulah caraku mengobati hati yang terlanjur kulukai.
Hanya karena dengan begitulah cara yang terbaik untuk membersihkan hati dari ingatan-ingatan tentangnya.

Kini untuk kembali menjatuhkan cinta, percayakan pada Tuhan.
Sebab jatuh cinta menurut versi-Nya adalah sebaik-baiknya berharapan tanpa dikecewakan.
Cinta yang masih tersisa dalam dada biarkanlah ada bahkan terus ada
sampai datang seseorang dan berkomitmen suci pada sang Maha pemilik cinta.

Setelah semua yang tertulis diatas,
tetaplah berharapan dan berangan hanya kepada yang berhak mengabulkan.
Sebab tidak akan pernah kau rasakan kesakitan lagi.
Dan semoga Tuhan menjatuhkan cinta hanya kepada pemilik tulang rusuk yang digunakan untuk menciptakan kita.




penulis
Quote:

Pikiran selalu gagal menerangkan perihal cinta.
Pikiran hanya mampu menafsirkan bahwa cinta adalah kenikmatan tak terhingga.
Pikiran yang dipenuhi harapan terlalu tinggi meletakan bahagia pada cinta yang belum saatnya.
Pikiran hanya tidak mengetahui bahwa cinta sendirilah yang bisa mengurai perihal cinta tersebut.
Pikiran terlalu berfokus pada sesuatu yang dia pikir adalah bahagia.
Dan sialnya, hati terpedaya oleh apa yang pikiran resapkan.





Cinta, dengan bahasa apa harus ku mulai memperbincangkan perihalmu


Ya, pada suatu ketika akan datang sebuah masa.
Kau jatuh pada cinta yang entah seperti apa.
Lalu, kepalamu mulai disesaki berjuta aroma bunga.
Kau serasa melayang ke angkasa.

Dan ketika kau terpesona, cinta yang bukan cinta itu menjatuhkanmu ke dasar neraka.
Ah, sakit luar memang tidak seberapa.
Tapi luka yang dia ukir di dalam dada, lebih membutuhkan banyak waktu untuk menyembuhkannya.

Dan kau, tidak membutuhkan pundak untuk bersandar,
Melainkan sebuah sajadah untuk mengakui dosa-dosa yang telah kau tebar.




Kau mencari-cari pembenaran atas luka.

Kau tidak membutuhkan alasan apapun, yang kau butuhkan adalah penerimaan.


Setelah kau menyadari, kau menyesalinya.
Cinta pada manusia rupanya penyebab rusaknya hati sebelanga.
Kau mencari-cari Tuhan, dengan wajah yang penuh air mata cinta kau meminta,
Agar Tuhan sudi meminjamkan pundaknya.

Terberkahilah engkau, Tuhan semesta alam begitu berhati luar biasa.
Tanpa banyak bertanya, dia meminjamkan pundaknya.
Mata yang menyimpan air mata kini berubah menjadi sungai air mata.
Andai kau tahu, hidup semata-mata hanya diabadikan untuk mereguk air kerinduan kepada sang pencipta.
Memompa spirit cinta terhadapNya.

Bukankah Dia sering berkata "Tak ada cinta yang abadi kecuali cintaKu"

Tuhan, masih maukah kau bersanding dengan hatiku? [/b][/size][/center]
Hati yang sudah tak cantik,
Hati yang sudah tak apik,
Hati yang terlalu tengik,
Hati yang ingin kembali baik.

Kau tahu hati, separah apapun patah yang menyakitimu.
Dunia tidak akan pernah berhenti berjalan, kau hanya perlu kembali menjadi tangguh.
Karena kesedihan tidak layak untuk dirayakan.
Banyak hal yang akan terlewatkan dan tersia-siakan.

Kau tahu hati, kenapa sakitmu tidak bertahta terlalu lama.
Sebab selalu ada cara bagi tuhan untuk membuatmu mengerti tentang cinta yang benar-benar memampukanmu,
cintaNya.

Wahai hati, ingatlah apa yang Lao Tzu katakan ini
"Sebuah awal yang baru bisa saja tersembunyi dalam akhir yang menyakitkan."
Terkadang kita hanya terpaku pada kesedihan saat putus cinta,
tapi lupa bahwa ada awal baru yang sudah siap kita mulai.

Kini kau mengerti kan, hati?
Sejatinya cinta yang sebenarnya akan membuatmu bahagia, memperjuangkanmu selamanya.
Kau hanya perlu bersabar, karena luka tak ada yang abadi.

Percayakan pada Tuhan, kau akan kembali bisa meraih cinta dengan kemasan yang lebih sempurna.
Tuhan akan selalu menyandingmu. Sebab dia tidak ingin melihatmu sendirian.



penulis

Quote:


Ada kalanya ketika hatimu sedang berjuang untuk sembuh, Allah akan selalu mengujinya.
Bahkan berkali-kali, ia hujamkan cemburu ke ulu hati.
Padahal Dia tahu, kamu sedang berusaha merelakan,
berusaha melepaskan bahkan kamu berusaha tidak membicarakannya.
Namun Allah mengujimu dengan selalu menghadirkan ia dalam ingatan,
Dalam hatimu bahkan merangkainya dalam harapan.

Saat hatimu mampu bertahan dalam ujianNya, Selangkah lebih dekat Allah padamu.
Dan Mungkin Allah sedang memberimu sebuah balasan yang sama,
bagaimana sakitnya jika menyimpan cinta yang terlalu pada MakhlukNya.
Memberitahumu bahwa Allah sedang cemburu pada hatimu itu.
Hatimu yang selalu berkisah tentangnya,
Hatimu yang selalu merona kala namanya menjelma,
Hatimu yang selalu cemas kala rindu padanya.

Ah hatimu yang dengan mudahnya mendua itu.
Mungkin Allah tidak mau kamu terlalu tinggi berangan
makanya Dia menolak seseorang yang kamu sebut dalam doa itu.
Karena Ia tahu apa yang baik.
Maka berbaik sangkalah kamu pada Allah yang Maha baik.



Penolakan hanya nama lain bahwa kamu sedang salah jalan.


Hai jiwa,
sebenarnya kamu tidak perlu merisaukan angka-angka yang mulai bertambah dalam hitungan dunia.

Ya, saya mengerti mereka yang sedang berbahagia itu akan semakin sering melontarkan pertanyaan 'kapan?'.

Ah, andai kamu tahu wahai teman yang sedang berbahagia.
Sakitnya mendengar pertanyaan 'kapan' tsb.
Seharusnya kalian tahu, tidak ada perempuan yang bermimpi hidup sendirian.
Alasan hawa diciptakan karena Adam merasa kesepian.
Lantas, bukankah lebih bermakna jika pertanyaan diganti doa kemudahan?

Mendoakan kebaikan untuk orang lain, setimpal yang kamu dapatkan.
Mendoakan bahagia untuk mereka yang belum berbahagia,
malaikat mengaminkan bahagia yang sama untukmu juga.
Luar biasa Sang Pencipta bukan?

Bahkan saat kamu masih dalam angan dan doa berkepanjangan,
Tidak usah tanyakan kapan doa dikabulkan.
Karena Allah hanya menyatukan ketika kamu benar-benar siap.

Dalam usahamu untuk merelakan dia yang bukan tujuan,
Adalah kunci untuk membuka pintu lainnya.
Bukankah banyak jalan ke surga, dan hidupmu tidak perlu berakhir hanya karena gagal selangkah.
Kamu punya banyak sekali waktu, tidak usah terburu-buru.
Pada waktunya semua akan datang sendiri padamu.


Hatiku pun juga sedang berusaha merelakan bukan melupakan.
Karena semakin berusaha melupakan semakin sulit dilepaskan.

“Kamu yang pernah menghiasi huruf-huruf di kepala,
Ada masanya ketika usaha merelakan ini berhasil membuat hati menerima segala takdirNya.
Dimasa itu, kamu hanya akan menjadi figuran yang pernah mengisi sebuah kisah.
Sebab skenario Allah lah yang membuat kita bersua.
Maka, masa itu saya telah memahami kenapa ikhlas terasa bermakna
ketika hatimu telah lepas dan bebas."

Sebab Proses kebahagiaan akan selalu diperjuangkan oleh anak manusia.



penulis
Quote:


Teruntuk jodohku, pulanglah ketika engkau lelah berjalan.
Suatu saat, aku akan menjadi rumah untukmu kembali,
dan pelukan untukmu bersandar karena letih.

Ketahuilah, ayahku sedang menunggumu.
Ia akan beranjak renta untuk mengurusku,
dan itu adalah tugasmu kemudian.
Meski aku tidak tahu siapa engkau,
kuharap dengan penuh cinta, engkau bersedia melangitkan harapan akan kita.




penulis
Quote:


Kita hanya (berpura-pura) saling menyapa.
Barangkali itulah yang membuat kita jadi berdebar pada apa yang sebentar.
Dia merasa tidak mampu lagi menopang rindu dari perempuan setia itu.
Ah, barangkali itulah yang menjadi alasan baginya untuk lepas dari perempuan setia itu.
Sialnya, perempuan setia itu terlanjur menggantungkan segala harapan pada lelaki lemah itu.
Mungkin begitulah perempuan, sekali menjatuhkan hati selamanya sulit terobati.

Pada akhirnya perempuan itu merasakan lukanya lagi.
Denyut yang ia pikir adalah kebahagiaan rupanya samaran lain dari kesakitan.
Rasa kehilangan yang beruntun, ah Tuhan benar-benar maha penguji.

Kau takkan bisa membayangkan
bagaimana pahitnya luka yang barusan mengabdi pada hatinya.
Bahkan ketika lelaki lemah itu memutuskan sebuah perjanjian,
ia tetap tak ingin kehilangan senyuman.
Ia hanya ingat satu hal, sebagaimana Tuhan sering berkata
"tiada luka yang abadi begitu pun rasa sakit"
Yang pergi akan selalu berganti.
Yang memilih menghilang, biarkan hilang dalam bayang.





Ah, sabarlah wahai hati.

Bukankah nikmat Tuhan maha luas dan tidak pernah berbatas.


Selama kau meyakini tuhanmu sedang mempersiapkan kebahagiaan,
suatu hari yang menurutnya sudah tepat bakalan akan kau rayakan kemenangan.
Tetaplah menjadi luar biasa,
jangan mengira dengan kehilangan telah menjadikanmu tidak berguna.
Siapa yang mengira ada yang diam-diam menyimpan doa untuk bahagiamu,
berdoa pada tuhan untuk bisa segera dipertemukan denganmu.
Sayang sekali jika senyum indahmu berganti muram durja.

Hai perempuan, hatimu yang selembut sutera adalah anugerah dari pencipta.
Karena semesta membutuhkan kelembutan untuk bisa terus berirama.
Maka dari itu, jangan biarkan kesedihan bermukim terlalu lama.
Selalu ada hari yang cerah setelah badai menerpa.

Tetaplah dengan keyakinan,
Kesetiaan yang kau pertahankan akan dibalas kesetiaan.
Tangisan bukan berarti kelemahan,
Kau boleh menangisi kehilangan tapi tidak untuk menangisinya ribuan. .
Dia yang memilih menghilang,
adalah cara tuhan menjauhkan dari kesakitan yang lebih dalam.


Kini mulailah berlari dengan kakimu kembali,
jangan terburu-buru menjatuhkan hati.
Pada waktunya, hati tahu arah pulang ke rumah yang sesungguhnya.



penulis
Quote:

Di luar sana masih hujan.
Rintiknya turun bersamaan dengan kenangan yang pernah kau lukiskan dalam ingatan.
Bulirnya yang turun di jendelaku mengisyaratkan dingin yang menusuk tulang.
Ah, mengapa hujan seperti kamu? Dingin dan tenang,
Namun bisa menenggelamkan diri dalam kenangan yang berkepanjangan.
Di luar sana, lampu di ujung gang itu masih temaram.
Seperti sinarmu yang kian padam saat kau tiba-tiba hilang tanpa berpamitan.

Andainya kau sadar,
Ada hati yang harus kau tenangkan di sini.
Ada hati yang harusnya tetap bisa kau jaga sampai saat ini.
Ada yang masih menunggumu dengan setianya tanpa pernah beranjak pergi.

Tuan, pulanglah.
Ada cerita yang harus kau selesaikan di sini.
Kembalilah, ada rindu yang harus kau tuntaskan
Di pemberhentian yang kau jadikan sementara ini.

Pulanglah, dan tuntaskan semua ini.
Aku tidak akan memintamu untuk tetap melanjutkan kisah panjang kita.
Aku telah belajar banyak untuk menyingkirkan ego, dan juga bersandiwara.
Memerankan tokoh dimana aku akan selalu baik-baik saja.


Pulanglah, agar semua bisa di jelaskan mengapa.

Agar tak ada lagi abu-abu yang menaungi perjalanan semu dua manusia yang pernah berjuang bersama.


Setelah perjalanan panjang ini,
Kau bisa pulang kemanapun kau ingin pulang.



Tapi, tak akan ada lagi hatiku dengan pintunya yang selalu terbuka.
Tenang saja, itu akan berarti banyak.
Salah satunya adalah aku tak akan memenuhi notifikasi di telpon genggammu lagi dengan pesan-pesanku.


Tak apa, aku akan memperbaiki puing demi puingnya sendirian.
Aku akan bekukan ingatan tentang kita,
dua manusia yang tujuannya tak lagi sama.

Mengikhlaskan akhir dari cerita ini menjadi kelabu dan tak berwarna.
Langit di atas semakin kelam,
sekelam bayanganmu yang ikut menghilang ditelan gelapnya malam.
Dan hujan, biarkan hujan ini semakin deras,
semakin keras mengguyur ingatan tentangmu yang semakin terbatas.


penulis
Quote:



Salib terselip di tanganmu, sedangkan tasbih terselip ditanganku,

Injil kitab sucimu, sedangkan Al-Quran kitab suciku.


Kak, aku tahu perasaan cinta adalah anugrah dari Tuhan yang maha,
Banyak perasaan nyaman yang sebenarnya lahir dari hanya sekedar menyambungkan hal-hal sederhana,
seperti kamu duduk mendengar, aku panjang bercerita,
aku menangis lalu kau yang menyeka air mata,
kemudian kita tertawa dalam banyak andai yang belum nyata.




Akhirnya, kita mengulang nyeri.
kau tetap bersikeras untuk bisa hidup bersamaku,
Tapi tak ingin memeluk agamaku,
aku tahu, aku tak bisa memaksa siapapun untuk meyakini agamaku,
tapi aku juga tak bisa dipaksakan
untuk bersatu dalam sebuah perbedaan yang sulit dikompromikan
Perpisahan dan kehilangan adalah hadiah yang paling lumrah.




Dan kita adalah sepasang rahasia nadir di puncak tubir,

Sepotong kisah ganjil

Tentang gugur cinta yang tak pernah membenci takdir



Aku tahu cinta tak pernah salah, Tuhan juga tak pernah salah,
Hanya saja kita yang sama-sama keras kepala
Melampaui batas yang sesungguhnya kitapun sudah tahu akhir ceritanya.

Kak, maka dengarlah aku, jatuh cintalah, seindahnya,
setulusnya, seperti malam yang diam-diam datang lalu merangkak perlahan mengecupi pagi,
Jatuh cintalah,
di hati yang tepat
karena kita sudah pernah salah dalam menjatuhkan hati.

Jatuh cintalah suatu ketika jika kau temukan perempuan yang lebih berani,
Lebih tangguh dariku.
Yang sanggup mengasihimu lebih dari hujan yang bertahan tuk menerobos atap rumahmu
hanya agar kau tak kedinginan sebab rumahmu tak memiliki perapian

Temukanlah dia, wanita yang mampu membuatmu selalu tersenyum,
bukan sepertiku, yang hanya bisa membuatmu terluka,
bahkan tak jarang kau teteskan air mata karena diriku,



Berhentilah hidup dalam duka yang kita bangun.



Jatuh cintalah … Jika kau temukan perempuan itu selain aku.

Kabarkan pada burung-burung gereja di bubungan rumahmu,
Fajar itu adalah bus terindah yang mengantar kepulanganku sepanjang tepian jalan.
Tulislah puisi, setelah airmata berpamitan
Dan kita tak akan bertemu kembali.

Berbahagialah kak, untuk alasan apapun yang telah kita jalani.
Akan kukenang kau sebagai masa lalu yang baik,
Yang pernah tulus kuminta pada Tuhan.
Sebab takdir, adalah hal yang paling mustahil bisa kutaklukkan,
Aku bukan tulang rusukmu yang hilang.

Selanjutnya,
Saat paragraf ini berakhir
Aku harap tak perlu lagi ada hati yang harus diketuk kembali,
Atau mencoba mengulang kisah yang sama.

Biarkan saja semuanya mengalir bersama do'a dalam sujudku
Yang menyentuh mega-mega tanpa rekayasa tanpa over drama.

Masalah hati, biar itu jadi urusanku dengan Rabbku,
Tenang saja tangisan kita ini pasti akan reda dengan sendirinya.
Kuatkan hatimu, yakinilah kak, ini yang terbaik untuk kita,
Berdoalah,
Entah di hadapan Tuhan yang mana yang kau yakini kebenarannya.





penulis
Quote:

Kutulis aksara-aksara ini,
berdempetan setiap hurufnya, bukan untuk menangisimu lagi.
Kutulis narasi ini,
Bukan untuk memintamu kembali
Setelah dengan hebat kamu hancurkan hatiku sampai patah,
sampai tak kelihatan lagi mana yang utuh dan mana yang pecah.

Bukan untuk mengharapkan langkahmu kembali,
tetapi untuk mengatakan bahwa sejauh ini aku baik-baik saja,
meski tak lagi sama.

Aku baik-baik saja, sungguh.
Aku memang pernah patah, tak kuelak lagi itu.
Aku pernah merasakan sakit yang kupikir tidak ada duanya.
Aku pernah dibuat sangat cinta,
Kemudian dihempas ke tanah dengan sangat nyata.

Pernah kualami sakitnya menangis sendirian ketika merindukan,
sedang olehmu, tak pernah sampai padaku satu kabar pun.
Dan sekali lagi, pernah kualami perihnya mengharapkan,
sedang denganmu, aku tidak pernah dipertemukan.




Untuk kamu yang pernah membuatku patah,

Tidak ada dendam yang ingin kutabur padamu.

Tidak ada amarah yang ingin kuluapkan ketika bertemu.

Tidak ada benci yang ingin kupupuk ketika saling jauh.


Aku berterima kasih untuk segala hal yang pernah kamu beri,
karena dengan itu aku belajar banyak hal yang tak ku mengerti.
Tentang mencintai, kupikir itu hanya sebuah komedi.
Namun denganmu, itu pernah menjadi bagian paling menyenangkan.
Tentang merindukan, kupikir itu hanya sebuah omong kosong.
Namun dengamu, itu pernah menjadi bagian paling menggetarkan.

Untuk kamu yang pernah membuatku patah,
Apa kabar hatimu sekarang?


Kamu tak perlu takut bahwa aku masih mencintaimu,
dan kupastikan aku tidak akan melakukan itu.

Bohong, memang.
Mana mungkin patah yang sedemikian parah
membuatku begitu saja melupakan?

Mustahil, memang.
Tapi aku sedang berjalan sekarang,
Melangkahkan kaki dan menguatkan hati
bahwa aku akan melakukan hal mustahil itu.

Percayalah dengan apa yang sedang aku usahakan,
dan tersenyumlah jika aku sudah berhasil membuktikan
bahwa aku bukan lagi perempuan lemah
yang pernah mencintaimu dengan sepenuh-penuhnya cinta.



Untuk kamu yang pernah membuatku patah,
kupastikan aku akan menjadi lebih kuat.
Dan pastikan kamu menjadi lebih hebat.

Terima kasih pernah tinggal,
Sehingga aku tahu diri untuk beranjak dengan sopan.

Jadi, kukatakan selamat tinggal,
untuk patah yang pernah kamu torehkan.

Jadi, kupastikan hatiku baik-baik saja sekarang,
dan tidak lagi menjadi beban untukmu yang memilih untuk berbalik langkah.



penulis
Quote:


Sebab, tak ada yang melepaskan dan tak ada yang dilepaskan.
Semuanya berjalan sebagaimana mestinya.





Pernah membenci, tapi tetap mengikuti.

Menerima perkenalan, saling tatap diam-diam,

Mengutarakan isi hati,

Berdamai dengan keadaan untuk saling jatuh hati,

Lantas kembali saling benci.


Berai-terurai, yang satu tersakiti,
dan yang lain membiarkannya tanpa kejelasan
atau justru bagi yang lain itu adalah kejelasan yang amat jelas
hingga tak perlu lagi ada penjelasan yang bertele-tele. Hanya buang waktu

Akhirnya, pada yang terlepas kini,
Kembali ingatan setiap kata-kata yang pernah diucapkan dulu.
Bagaimana dia sudah menyiapkan segalanya jauh-jauh hari.
Sebelum meninggalkan, sebelum semuanya tampak semakin menyiksa




Di waktu yang lain,
Ia berkata seakan-akan segalanya adalah milikku,
tidak akan pernah terlepas.
Ia meyakinkanku,
bahwa seluruh rasanya adalah punyaku,
walau akhirnya aku tersadar itu hanya serupa kembang yang tumbuh pada dahan,
lantas kembali gugur kapanpun ia mau,
dan angin akan membawanya mengitari sekian jarak
yang entah akan berujung di tepian yang mana.


Jika memang segalanya tidak bisa diperbaiki,
menyerahlah pada waktu.
Meski akhirnya akan ada kekecewaan,
tapi lihatlah di lain hari, itu akan membantumu menjadi yang seharusnya.

Tuhan tidak pernah terlalu cepat membagi bahagiaNya,
apalagi sampai terlambat.
Ia akan selalu tepat,
dan kau akan tahu, banyak alasan mengapa segalanya begitu tepat.

Mengutuki waktu,
Merutuki diri sendiri hanya akan membawaku pada kesedihan yang dalam,
Maka dengan bercerita,
aku menemukan sesuatu yang seakan ia berkata tetaplah menjadi yang terbaik,
Meski jauh jarak mengajarimu menjadi manusia yang sakit,
Penuh dendam dan pemarah.
Tetaplah bercerita lewat kata yang tertulis,
Karena lisan tak cukup membuatmu mengenang seluruh adegan.


penulis
Quote:

Ketika rasa yang dulu pernah ada kini sudah hampir tak tersisa.
Rasa yang dulu nyata kini hanya berakhir tanya dan meninggalkan lara.

Mungkin kamu telah pulang dirumah yang salah,
meskipun ada bahagia dan duka yang dulu pernah terasa.
Tapi percuma,
jikalau memang rumah yang dulu adalah tempat yang tepat untuk kamu pulang,
kamu tak akan pernah berniat untuk meninggalkan....




Pulanglah,
kamu tak akan pernah betah untuk tinggal di rumahmu yang dulu
hingga kamu kini memilih pergi dan tak tahu kapan kamu akan kembali lagi
Atau memang tak akan pernah kembali lagi.

Pergimu bukan berniat untuk kembali ke rumah,
Pergimu bukan hanya sesaat
Tapi kamu memilih untuk pergi tanpa enggan untuk kembali lagi.

****

Berkali-kali kamu ingin mencoba untuk pergi,
Tapi berkali-kali pula aku memintamu pulang kembali kerumah ini.

Berkali-kali pula kamu sukses untuk pergi,
Tapi berkali-kali pula aku menerima dan membukakan pintu rumah kembali.


Tapi apa?
Aku yang membuka kembali rumah untukmu,
Dengan berjuta harap kamu akan belajar dari kesalahan
Dan tak pernah ingin pergi lagi....



Ternyata aku salah,
seseorang yang sebelumnya telah pergi
Tak akan pernah kembali dengan membawa perasaan yang utuh,
perasaan yang tak akan sama lagi.


Harusnya aku sadari itu sedari dulu
saat pertama kali kamu memutuskan untuk pergi.




Pergimu itu menyakitkan, sayang..

Tapi kembalimu lagi yang kesekian kali itu terasa lebih menyakitkan.


Percuma jika kembalimu hanya ingin melukai dan merusak rumahmu lagi.



Kembalimu hanya bisa membuatku berharap cemas dan menerka apa yang akan kamu lakukan,
apa kamu akan pulang ke rumah dengan kemanisan
atau justru hanya kepahitan yang harus aku telan.


Aku lelah,
Lelah jika harus memperbaiki rumah ini sendirian,
Rumah yang perlahan kamu rusak dengan sengaja atau tak sengaja
tapi itu tetap terasa sakit

Aku berusaha menjaga rumah ini agar tetap utuh
Dan tetap membuka pintu lebar untuk kepulanganmu kembali.

Tapi, sepertinya usahaku sia-sia,
kamu lagi dan lagi berulah. . . . . .











Kini pulanglah,
Kamu hanya butuh rumah yang tepat agar kamu bisa nyaman tinggal didalamnya
tanpa pernah berniat merusaknya,

Tidak seperti rumah yang dulu.
Rumah yang hanya membuatmu nyaman sesaat,
maafkan aku jika rumah ini tak bisa aku tata dengan baik di setiap ruangnya
Hingga kamu tak betah tinggal didalamnya.
Tapi setidaknya
Aku pernah berusaha memperbaiki rumah ini bukan?
Selebihnya hakmu lah untuk memilih tetap tinggal atau pergi.

Kini pulanglah,
Ku harap kamu dapat pulang dengan tepat
meski dalam rumah ini masih ada jejakmu disetiap ruangnya.

Tidak, aku tak akan menghapus semua jejakmu,
tapi aku akan menata kembali jejakmu dengan baik
dan ku simpan rapat-rapat agar jejakmu itu tak lagi melukai ku
dan jika kamu berkunjung ke rumahku lagi kamu tak lupa,
kamu pernah menjadikan rumah ini tempatmu pulang.

Pulanglah, setidaknya aku sudah pernah mendapat kepastian.








penulis
Quote:

Ada disuatu masa,
ketika hatimu yang kamu kira telah kembali ceria rupanya hanya berpura-pura terlihat baik-baik saja.
Kamu tahu musuh terbesar bagi hati, ialah harapan.
Maka ketika kamu berharapan kamu harus menyiapkan kapasitas besar dalam hatimu.
Agar ketika kecewa, hatimu cukup tempat untuk menampungnya.


Kamu menghilang dari semesta,
Menyembunyikan diri adalah salah satu caramu mengembalikan suasana hati.
Hati yang berantakan seperti ini bagaimana mungkin Tuhan akan menerimanya lagi. Pikirmu.

Atau pernahkah kamu mendengar bahwa
memaafkan akan mengobati segala luka dalam hati?

Dan Pernahkah kamu merasa sudah benar-benar baik-baik saja
sampai ketika sebuah debar mengacaukan segala rencana.
Debar yang kamu kira adalah bahagia,
rupanya hanya selingan saja?
Lagi-lagi Kamu merasakan kesakitan
karenanya dan hatimu yang berkecamuk seolah memberontak ingin didengarkan.

Dalam posisi seperti ini,
kamu kembali dihadapkan pada kesakitan dan kekecewaan baru.
Salahmu sendiri yang terlalu berangan tinggi.




Yah, mungkin benar bahwa Tuhan menciptakan perempuan dengan satu kelebihan
yaitu Kuat saat Lemah.
Makanya ketika dia merasa harapannya kembali jatuh,
Dia tahu bagaimana menyembunyikan luka.

Kamu hanya mampu menangis.
Menangis dalam hati mungkin adalah kesakitan yang teramat paling.
Tapi menangis pada Pemilik segala airmata adalah menangis yang penuh kenikmatan.
Kenapa?
Karena airmatamu tidak terbuang percuma.
Dia mendengarkan,
Dia merasakan.
Hatimu yang butuh sandaran.

Sebenarnya kamu hanya perlu memaafkan apa-apa yang membuat hatimu sakit.
Walau kamu sendiri tahu bahwa memaafkan bukan berarti segala sakit yang tertoreh telah terobati.




Sekali lagi saya (beralasan) menghilang dari susunan huruf
karena tidak ingin menghadirkannya lagi dalam ingatan.
Itulah kosong yang sedang saya rasakan.

Kini setelah mencoba menapaki lagi jalan yang separuh,
Tiba-tiba angin membuat surut langkah kaki.
Menulis yang sering kusebut sebuah kesenangan,
tiba-tiba terasa sulit diayunkan.

Kamu seharusnya mengerti bahwa pertemuan hanyalah sebuah kesengajaan
yang Tuhan hadirkan dalam skenarioNya.
Apakah ada yang membekas atau sekedar saling sapa dan tertawa lepas?
Semua telah diatur olehNya.

Kita tidak bisa mengharapkan semua hal baik terjadi dalam hidup,
Seperti itupun Kegagalan, Kesakitan serta Kekecewaan.
Sebab perasaan itu hadir karena Tuhan mengizinkannya,
Dia ingin kamu belajar dan memetik hikmah di balik semuanya.

******






Semoga kelak akan datang pertemuan yang sebenar-benarnya rancangan terindah Pencipta,

Kamu mendapati genggaman hangat yang menggandeng pulang;

Pulang ke rumah yang di beri nama 'Rumah Kita'

-Sampai bertemu di Kisah Baru, Kamu-




penulis


Dear dy
Hari ini, tepat dua minggu pernikahan kami
Iya dua minggu
Tapi dalam dua minggu kami sudah belajar banyak

Salah satu yang paling ku rasa,
Saat kami bertengkar
Aku marah, ku sakiti dia dengan kata2ku
Dia ga balik marah, masih seperti dulu saat pertengkaran jaman pacaran
Tapi setelah kemarahanku tempo hari ini
Aku langsung merasa bersalah
Sangat...
Seperti merasa sangat berdosa
Padahal dia ga balik marah
Aku malah jd sedih sendiri karena udah marah sama dia
Bener2 sedih
Sampe nangis emoticon-Malu
Sedih krn udah marah sm dia
Sedih krn nyakitin dia

Cukup aneh
Mengingat pas pacaran, marah ya marah aja ga pake rasa nyesel sedalem itu

Mungkin ini yg orang maksud
Suami-istri itu satu..
Saat aku menyakiti dia, aku ikut tersakiti juga

Maafin aku ya, suamiku
Dia ga bakal ngeh juga sih wong udah baik2 aj kami ketawa ketiwi
Tapi rasa bersalah ini masih ada loh
Beginikah rasanya saat punya salah ke suami
Untunglah, aku punya suami yg paling sabar sedunia
Kamu memang selalu yg terbaik untukku
emoticon-Peluk

Quote:



Senja baru saja menggelar pesonanya.
Dibawah langit yang kemerahan, aku duduk sendirian.
Kopi yang aku pesan sudah dingin entah sejak kapan.
Jika ia bisa berbicara, pastilah sudah meronta minta dihabiskan.
Karena dibiarkan begitu saja bukan hal sepele, rindu juga demikian

Rasanya baru kemarin aku melihatmu dari kejauhan,
memandang dengan penuh minat akan apa yang kamu lakukan.
Kamu seperti candu,
Membuatku selalu ingin bertemu meski hanya melihatmu bertopang dagu.


Satu, dua, ratusan lembar kenangan yang kamu tulis,
sampai menjadi buku dihati yang saya punya.
Kamu merobek selembar saja akan melukai saya,
sedangkan sekarang kamu ingin menggunting semuanya.


~~~~~~~~~~~~~~


Dahulu, kita layaknya sepasang senja. Aku siang dan kamu malam.
Di peraduan kita dipertemukan oleh jingga yang tak berkesudahan.
Kamu yang begitu aku cinta
membuatku selamanya ingin menjadi tempat berbagi cerita.
Peluh keringat, hingga kekecewaan pada sahabatmu aku dengarkan
tanpa sedikitpun ada bagian yang terlewatkan.

Kau tau, Cinta.
Aku adalah rumah yang sama,
meskipun kini caramu masuk ada yang berbeda.
Aku adalah penikmat cinta,
yang selalu kau hujamkan padaku di setiap detik kebersamaan kita.
Seduhan kopimu, hingga syahdu suaramu,
menelisik jauh dalam kalbu.



Dulu untuk menunggu lima menit saja kau begitu marah.
Sekarang, bahkan tiga hari aku tak memberi kabar saja jawabmu entah.
Dunia memang terlalu cepat berputar,
hingga aku lupa bahwa kau sudah jauh dari yang aku pikirkan.
Aktivitas baru hingga kesibukanmu sepertinya menjadi alasan lupa.
Apalagi jarak,
yang terlanjur menjadi borok yang menyeruak.
Padahal dulu sering kita bahas,
bahwa kita adalah satu nafas....


Aku bukan orang yang suka menyalahkan keadaan,
meski aku juga mengamini jika perpisahan adalah hal yang menyakitkan.
Jarak yang kita hadapi memang sebuah hambatan,
namun bukankah cinta sejati selalu penuh rintangan?
Bukankah sejatinya cinta itu saling menguatkan?
Bukan menyalahkan keadaan.
Apalagi mencoba untuk berubah pikiran.
Karena cinta sejati itu tetap, jika kita mau saling berbagi - berucap.

Aku tetap disini, menunggumu kembali ke pelukanku.
Jangan salah, banyak laki-laki yang mencoba mendatangiku.
Sengaja aku hiraukan. Bukan karena aku tak mau membuka pintu.
Tapi karena hatiku sudah penuh untuk mencintaimu.
Aku tidak sedang pamer kebesaran cinta.
Aku hanya ingin bercerita jika cintaku tak pernah berkurang kadarnya.




Dari awal, sebenarnya aku sudah tahu.

Bahwa mencintaimu adalah deretan luka tanpa batas waktu.....


Namun, hingga saat ini hatiku kokoh dan tak bergeming,
karena hanya di bahumu aku ingin dibimbing.

Andai boleh jujur,
selama hidup aku tak pernah merasakan cinta sebesar ini.
Beberapa kali aku jatuh cinta,
namun kandas yang terjadi aku bisa menerima.
Tapi denganmu,
patah hati adalah tentang waktu yang terhenti tepat ketika merindukanmu.

Andai kau berikan aku penjelasan,
mungkin aku tak akan terguncang seperti ini.
Namun, itulah sifatmu,
yang lebih memilih diam lantas pergi tanpa sedikitpun kalimat perpisahan.
Bukankah dari dahulu sudah pernah kita perdebatkan,
bahwa bersama tak semudah mengerjakan laporan.
Kamu yang begitu tinggi,
harus aku gapai hanya dengan kekuatan mimpi.
“Turunlah sedikit!” Bukankah itu yang dari dahulu aku minta kepadamu.

Dan semakin hari, waktu berlalu tanpa pernah mau peduli.
Aku meringkuk penuh kerinduan,
sedang kau terlampau jauh berlari tanpa sediktipun meninggalkan bayangan.
Namun aku selalu percaya,
Jika takdir Tuhan tepat di samping mereka yang setia.
Dan karena cinta, aku tetap disini,
menguatkan diri, memantaskan diri sembari menunggumu kembali.



Spoiler for :
Quote:
Aku pernah terbangun dalam keadaan gamang, sebab harapan yang terlalu tinggi.
Pernah juga terbangun dalam keadaan mati, sebab dibunuh oleh mimpi.
Tapi sekali, aku terbangun dalam keadaan hidup, namun segalanya telah berhenti.
Aku tidak mati, hanya cerita yang kuakhiri.
Lalu terjerat ingatanku, pada durma yang menyebar kebencian.
Terperosok tubuhku dalam nafsu yang tak mengenal majikan.

Aku terlalu mengabaikan logika, hingga perasaan merajai seluruh indera.
Aku buta, pada kenyataan. Aku tuli, pada bisik-bisik kebenaran.
Aku kebas, pada sentuhan. Aku bisu, pada kejujuran.
Dan hanya getir, yang kukenal di ujung bibir.

Kau pernah membawaku pada sebuah titik, dan mengikatku hingga tak berkutik.
Lalu kau biarkan segerombolan burung-burung pemakan bangkai,
menghabisi harapanku yang abai.



Kala itu, aku mentitikan kisahku.
Aku mengakhiri cerita yang bermain di kepala–yang di dalamnya,
kau lah pemeran utama yang kusanjung di hadapan Tuhan.
Kemudian lahir sebuah pertanyaan, kau pergi dengan tawa atau airmata?


Namun yang kutahu, ketika kutitikan kisahku,

Tuhan mengenalkanku pada koma;

Dimana kisah hanya dipisah unsurnya, bukan dihentikan ceritanya.


Dan kini, aku terbangun dalam keadaan mengerti,
bahwa bagi Tuhan, kata "selamanya", adalah kata yang memiliki makna terlalu lama.
Lalu koma, layaknya sosok senja yang bertugas membagi masa.
Dan kau; pagi yang kurelakan, teruntuk pagi yang lain–yang juga akan digantikan.
Hingga malam, akan kembali menjadi teman setia, dalam perjalanan.




sumber
Quote:





Aku pernah begitu percaya dengan masa depan,
hingga akhirnya kecewa, dan memilih untuk tenggelam di masa lalu….


Kau begitu lihai memanjakan hati yang memang selalu haus akan manjaan.
Aku menikmatinya, sungguh menikmati hari-hari yang dulu kita lalui bersama.
Bersamamu aku rasa bahwa masa depanku akan indah.

Namun aku luput bahwa apa yang dirasa oleh hati adalah skenario Sang Pemilik Hati.
Jika di tengah jalan Dia merasa ada yang salah dan sebagian skenario harus diubah,
maka berubahlah hati itu.
Dari yang dulu kau begitu mencinta,
hingga kini seakan aku bunga tak sedap yang harus dihindari oleh pandangan matamu.

Hatimu telah dibolak dan dibalik, untuk kemudian diambil dan dijatuhkan kepada yang lain.
Aku bisa apa. Aku cukup mengadu kepadaNya untuk memohon hatimu kembali.
Tak juga Dia kembalikan hatimu untukku.
Sehingga kini aku tak lagi percaya masa depan.

Ah hati… kau terlalu lemah.
Tak bisakah kau memilih orang yang tepat untuk kau tangisi?
Kututup Hati Lalu Mengutuk Diri

Memang rasa ini belum hilang sepenuhnya.
Hanya kesadaranku yang penuh. Bahwa aku tak cukup baik. Jadi, sudahi saja…

Di beranda sebuah rumah. Bumi tergenang hujan beberapa menit yang lalu.
Sunyi. Kelabu. Namun tatkala aku menatap langit biru, sejumlah spektrum warna membentuk lengkungan indah setengah lingkaran.
Pelangi.
Dia selalu muncul sesaat setelah langit menangis.
Dirinya membawa keceriaan bagi mereka yang berduka.

Namun hadirnya hanya sesaat. Begitu sesaat.
Sehingga belum sampai sepenuhnya aku menikmati setiap warnanya, dia telah pergi.
Ya, semenjak itu, aku menutup hati ini dan mulai mengutuki diri.
Tak lagi aku percaya laki-laki. Begitu pun cinta.
Memandang sinis akan sebuah pernikahan.
Aku sudah tak memiliki hasrat untuk mencintai ataupun dicintai.
Ternyata Dia hadir dengan membawa takdir sebagai pelangi yang tak akan abadi.




Skenario Sang Pemilik Hati selalu luar biasa.
Memang benar, apa pun itu tidak akan dibiarkan pergi dan hilang kecuali digantikan dengan yang lebih baik.
Saat kita kehilangan orang yang kita pikir terbaik,
Dia gantikan dengan orang lain yang tak hanya lebih baik,
tapi akan menjadi partner sekaligus guru untuk kita memperbaiki diri.

Aku dipertemukan dengannya.
Ia yang pada akhirnya berhasil memperbaharui kepesimisan pikiranku akan cinta dan pernikahan.
Ia hadir dengan begitu mempesona dan semua rencana membangun rumah tangga.
Jelas. Tak mudah untukku percaya.
Karena menurutku, aku tidak pantas merasakan pernikahan.
Apalagi disandingkan dengannya yang hampir sempurna.
Aku tak pantas. Tidak benar-benar pantas.

Hal ini tak lantas membuatnya berlalu. Lambat laun aku bisa merasakan, bahwa skenario hidup terus berlanjut.
Sang Pemilik Hati menginginkanku untuk kembali jatuh cinta dan memberi kesempatan pernikahan.
Bukan kodratku untuk mendahului takdir. Kupantaskan diriku.
Aku ingin menjadi tepat untuk dipilih. Fokus pada banyak kelebihanku dan berdamai dengan kekuranganku.
Menunjukkan bahwa kekuranganku bukan hal yang bisa menghalangi kebahagiaanku.

Sampai akhirnya, terbentuk “Rumah Pelangi.”
Sebagaimana pelangi yang indah karena tersusun dari berbagai spektrum warna.
Ya, Rumah Pelangi ini indah karena dibangun dari perbedaan warna dalam hidup.


Rumah Pelangi ini kami bangun semenjak ijab kabul terucap dan janji suci diikat.


Bersamanya yang mengembalikan keoptimisan dan kepercayaan diriku mengenai sebuah hubungan.

Walaupun tidak begitu jelas, namun tanpa kamu, pelangi bukanlah pelangi.

Kata-kata itu yang membuatku selalu mengagumi pelangi.
Membuat aku sadar, bahwa aku ada, berarti, dan bahkan memberi warna baginya.
Aku mendapatkan apa yang aku usahakan.
Ia yang tepat aku dapatkan dari pemantasan diri.
Karena menjadikan diri kita sosok yang terpilih, butuh perjuangan.
Pantaskan diri. Ia yang tepat akan datang dengan sendirinya.

Kini, Rumah Pelangi akan selalu Aku ceritakan kepada mereka yang sedang mencari-cari kebahagiaan.
Bahagia bukan dicari, tetapi diciptakan sendiri melalui pemantasan diri.
Dan kebahagiaan itu akan terasa dengan sendirinya ketika perbedaan menjadi warna-warna indah pelangi.



sumber
Quote:




Kali ini aku ingin bicara pada-Mu dengan sejujur-jujurnya Tuhan,
bahwa saat ini aku benar-benar sangat-sangat bahagia.
Sebab Engkau telah memberikan kesempatan kepadaku untuk bertemu, mengenal sekaligus menjalin hubungan dengan seseorang yang bisa melengkapi dan menyempurnakan hidupku.
Aku benar-benar bersyukur ternyata Engkau masih sayang kepadaku.



Karena setelah apa yang aku lalui selama ini
Ketika jatuh bangun mencintai dan harus patah hati berulang kali,



Kini Engkau telah memberikanku seseorang yang bukan hanya mengobati
Tetapi juga bisa menyembuhkan semua luka yang pernah aku terima selama ini hingga tak tersisa lagi.



Tuhan, Engkau pasti sudah tahu bahwa kehadirannya telah mengubah pandangan dan jalan hidupku.

Setelah sekian lama aku berputar-putar
kini akhirnya telah aku temukan tempat untuk bersandar.


Kini aku sudah berserah diri pada-Mu dan mempercayakan semuanya kepada-Mu Tuhan.
Apapun yang menjadi takdirku dan apapun nanti yang akan terjadi di masa depan,
aku akan menjalani semuanya dengan penuh keikhlasan.
Karena sekarang aku percaya, apapun yang akan Engkau rencanakan
dan takdirkan kepadaku, semuanya pasti akan berakhir dengan bahagia.

Tuhan kini izinkanlah aku memilikinya, meski aku tahu dia milik-Mu seutuhnya



sumber
Quote:

Serupa kau, akupun tidak tahu mengapa akhirnya aku ingin menyudahi semua yang selama ini kita perjuangkan.
Aku membuat semua sia-sia, menghancurkan harapanku sendiri mengenai kita yang kukira akan terus bertahan tanpa pernah ingin pergi.
Aku takut semua ini malah menghancurkan semua mimpi, sebab aku merasa, kita hanya dua orang yang saling menyakiti.

Aku berharap kau mau melupakan semua pulang-pulang kita yang pernah terjadi,
kau mau melupakan semua jalan-jalan yang pernah kita lalui.
Mungkin benar, akan terasa berat memulai semua hal baru dengan mengesampingkan masa lalu.
Namun aku ingin kau menyadari, untuk apa mempertahankan sesuatu yang hanya melukai dirimu sendiri?



Kau harus ingat, bahwa orang yang begitu kita cinta adalah orang yang paling mungkin membuat kita terluka.
Dan juga, orang yang begitu kita pedulikan justru adalah orang yang paling rentan meninggalkan.
Dan bukankah aku membuktikan hal itu padamu?

Atas nama langit dan bumi, kau memang harus merelakanku. Aku tidak memaksamu melupakanku.
Melupakan berarti berusaha menghapus kenangan, sedangkan merelakan berarti belajar melepaskan.
Dan kenangan tidak mungkin bisa dihapus, sayang.
Yang perlu kamu lakukan adalah merelakannya, menutup rapat pintu itu.
Belajarlah berhenti menoleh ke belakang dan tataplah apa yang ada di depanmu.

Aku ingin menjadi kenangan yang kau kenang, tapi tidak sebagai sedih dan pedih.
Aku pernah begitu mencintaimu, sebelum menyadari bahwa kau memang diciptakan hanya sebagai masa lalu untukku.


Bukan inginku untuk menjadikan semua yang pernah kita jaga menjadi sia-sia.


Seandainya pergiku tak membuat aku kembali,
Aku titipkan banyak mimpi yang sudah kutata rapi.


Aku tahu, semua yang pernah terjadi di antara kita memang tak akan mudah dilupakan,
namun kita hanya harus menerima kenyataan.

Aku pernah menjadikanmu rumah untuk semua pulangku.
Namun, kau harus menghadapi kenyataan bahwa aku bukanlah yang terbaik untukmu meski aku sudah berusaha sekuat-kuatnya, aku dan dengan susah payah usahaku.

Jangan biarkan aku membunuhmu seutuhnya.
Hidup kita berdua harus tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Maafkan aku yang mungkin membuatmu mengira, aku sengaja membuat hatimu tak baik dan melukaimu dengan kesungguhanku.
Padahal, akupun tak pernah menduga, mampu membuat semuanya semenyedihkan ini.

Akupun ragu untuk kuat berdiri sendiri.
Mungkin saja kau akan tetap di hatiku, sampai nanti.
Memiliki tempat istimewa di sana.
Tidak mungkin aku lupakan kau, seseorang yang terus memperjuangkan kita. Bagaimanapun caranya.

Doakan aku semoga selalu baik-baik saja.
Kelak, kepergian dan luka yang aku bekaskan mampu mengajarimu beberapa hal.
Apa yang selalu kau perjuangkan,
jika memang tidak ditakdirkan untukmu, semua akan menguap menjadi abu dan begitu saja berlalu.



Terima kasihku untukmu, lelaki yang selalu memperjuangkan aku,
memperjuangkan mimpi-mimpi yang telah kita sepakati.
Ingat aku sebagai perempuan yang pernah bersedia dengan suka rela menjadi rumah untuk segala pulang lelah dan resahmu.

Aku pernah meyakinkanmu, bahwa aku pernah bertahan sekuat-kuatnya.
Saat aku pun yang memilih pergi, aku merasa warasku juga ikut terbawa lari. .

Kita sama-sama mempunyai hidup yang tak mungkin dihabiskan hanya dengan kesedihan dan meratapi luka.
Aku dengan lapang hati, menginginkan kau suatu saat menyadari bahwa aku memang bukan orang yang layak kau pertahankan.
Bahwa aku tidak akan lagi menjadi sesuatu yang menarik untuk ditunggu atau menyenangkan untuk kau rindu.


Aku hanya ingin kau memastikan dan menjadikan aku hanya sebatas kenangan yang telah mati.


Semoga sedih yang kuberi tidak mematahkan apapun selain hatimu.
Kau begitu hebat ketika aku cintai, juga aku berharap kau jauh lebih hebat tanpa ada aku.
Aku yakin, kau bisa mencintai dirimu sedalam kau mencintai aku.
Kau bisa perjuangkan hidupmu sekeras kau memperjuangkan aku.
Yakinlah bahwa dirimu jauh lebih penting dan berharga daripada kesakitan dan segala luka yang saat ini aku tinggalkan.

Kelak, tak ada lagi hal yang menjadi alasan kau untuk tetap menunggu dan mempertahankanku.
Sebab kau akan mengerti,
Kepergianku adalah bentuk ketidakinginanku membiarkan dirimu terus saja dibuat luka.

Relakanlah semuanya berakhir, ikhlaskanlah aku pergi.
Aku tak memiliki daya apa-apa lagi untuk tetap berjuang dan mempertahankan kita.

Aku tak mampu lagi berusaha menjadi yang kau inginkan.
Meski akupun tak tahu, kemana aku harus pergi.
Namun sebaiknya aku memang tak memaksakan semuanya disini.

Meski kau mengira aku menemukan pelukan lain selain pelukanmu,
meski kau mengira aku jatuh cinta pada seseorang lain yang berhasil merebutku darimu,
meski kau terus menyalahkan hal yang sebenarnya tidak terjadi.
Kau dan egomu juga kubiarkan mengerti,

Bahwa mungkin aku yang datang sebagai penyembuh
akhirnya pergi sebagai pembunuh.







sumber
×