alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
TERNYATA DIA DISINI (HORROR STORY)
4.68 stars - based on 41 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/57b7813e56e6afb76f8b456a/ternyata-dia-disini-horror-story

TERNYATA DIA DISINI (HORROR STORY)

Percaya atau tidak, dia ada disini dan memperhatikanmu dari balik gelap gulitanya malam yang akan membuat rasa penasaranmu terjawab. emoticon-Takut

Mungkin kalian akan berfikir "Seperti tuan yang menceritakan kisahnya."

PART 1 A - Sambutan malam

PART 1 B - Sambutan Malam

PART 2 - Kolam Renang

PART 3 - Pocong 3 Meter [BEST STORY]

PART 4 - Selamat Tinggal Pemilik Villa

PART 5 - Bapak Pengendara Motor

PART 6 - Pengalaman Kakek

PART 7 - Sendirian

PART 8 - Dibalik Gelapnya Desa

PART 9 - Makam

PART 10 - Kuntilanak Laut

PART 11 - Kelapa Atau Kepala

PART 12 - Stasiun Kereta

PART 13 - Siluman Kera

PART 14 - Rumah Sakit

PART 15 - Wanita Tanpa Nama

PART 16 - ON GOING

Terimakasih telah mengikuti alur cerita ini.

Agar saya lebih sering update, tolong di apresiasi dengan cara memberi Rate bintang 5 emoticon-Rate 5 Star
tinggalkan comment, kritik, dan saran yang positif. emoticon-Toast

Cerita ini juga terbit di Wattpad.com
baca lebih mudah dengan cara klik link dibawah ini.
link : https://www.wattpad.com/story/820305...ata-dia-disini emoticon-Sundul Up
Diubah oleh watashiwapsycho
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 16

SAMBUTAN MALAM PART 1 A

Kenalin, nama gue Imam. Gue mau ceritain pengalaman gue, semua dimulai saat gue duduk dibangku SMK kelas 1, saat itu umur gue 16 tahun. Gue dari SMP pengen banget ngerasain yang namanya jadi Osis.

Namun gue gagal saat tes, karna gue kurang mumpuni, dan saat SMK, gue nyalonin diri lagi jadi osis. Dan karna visi dan misi gue sebagai calon osis juga lumayan bagus, akhirnya gue terpilih sebagai kandidat ketua osis.

Namun gue gagal di empat besar sebagai kandidat osis. Dan akhirnya gue dapet posisi sebagai bendahara osis. Oleh guru pembina osis, mau diadakan pelantikan osis baru di daerah Bogor. Gue lupa nama villanya. Tapi masih inget banget gue suasana hening dari villa tersebut. Kita semua jalan ke Bogor dari Jakarta, tepatnya di daerah Tebet pada pukul 18.30 sehabis shalat magrib dengan mengendarai Bus.

Gue dapet kursi paling belakang, di pojok kanan, karna gue gampang ngantuk, maka gue sengaja milih disitu. Kebetulan banget jalanan saat itu gak macet.

Bus sudah masuk tol Jagorawi. Saat itu waktu menunjukan pukul 20.30, saat itu posisi gue di belakang sendirian, temen-temen gue lagi pada asik dempet-dempetan didepan sambil nanyi-nyanyi, karna gue paling gak suka berisik, makannya gue misah, duduk di belakang sambil merhatiin suasana jalan tol yang sepi, tiba-tiba mata gue terfokuskan, gue ngeliat seorang wanita dengan menggunakan gaun putih dan mukanya tertutup rambut.

Awalnya gue biasa aja, namun gue mulai parno, karna saat mobil sudah cukup jauh dari lokasi, gue ngeliat wanita yang tadi, namun kali ini dia sambil melambai-lambaikan tangan ke bus yang sedang gue tumpangi. Saat itu gue pengen pindah tempat duduk, dan ngumpul sama temen-temen yang lain, saat gue udah bangun dari tempat duduk, ga tau kenapa, tiba-tiba gue duduk lagi, gue mencoba berfikir itu cuma suatu kebetulan, saat gue pejamkan mata dan tarik nafas dalam-dalam, saat gue menoleh kekaca, gue kaget, badan gue gak bisa gerak sedikitpun, keringat gue bercucuran, gue ngeliat sebuah tangan sedang menempel di jendela kaca bus, yang jaraknya kira-kira 90cm dari posisi gue duduk, dengan kondisi pucat, banyak luka, sampe banyak darah yang mengalir dari sela-sela luka tersebut. Sekuat tenaga gue ngelawan rasa takut yang bener-bener pertama kali gue alami, gue langsung tutup muka gue dengan tas sambil dalam hati membaca surat Annas, sekitar 5 menit gue nutupin muka pake tas, gue bangun dari tempat duduk tanpa memindahkan tas dari muka gue, dan berjalan menghampiri yang lain didepan.

Saat sudah dekat dengan yang lain, gue menoleh kebelakang dengan perasaan cemas dan takut. Kini sesosok tangan tersebut sudah tidak ada. Namun untuk pengalaman pertama itu. Sudah cukup bikin gue takut setengah mati, dan gak berani duduk dibelakang lagi.

Diubah oleh watashiwapsycho

PART 1 B

Tapi gak cukup sampai disitu, gue sampai villa yang lokasinya ga jauh dari sawah, suasana villanya sangat hening, hanya ada suara hewan malam, ditambah lagi banyak pohon besar disamping villa yang kurang penerangan menambah suasana angker villa tersebut, gue denger dari temen gue, alasan kenapa milih villa ini adalah harga sewanya yang jauh dibawah murah untuk ukuran villa yang cukup menampung 50 orang.

Saat tiba, kita semua memutuskan untuk sholat Isya terlebih dahulu. Dalam kondisi lapar, sholat gue kurang khusyuk, mata gue jelalatan liatin suasana ruangan villa.

Ada didepan gue sebuah lorong yang pandangannya menuju kearah dapur, dan ada sebuah pintu didapur yang gak ditutup,jadi gue bisa langsung melihat pemandangan kearah luar yang tepatnya sebuah pohon beringin besar, gue merhatiin pohon kecil dibawahnya, ada sebuah daun yang bergerak seakan terhembus angin, namun daun yang lain tidak ada yang bergerak sedikitpun.

Saat gue amati dengan teliti, keluar sosok besar dari balik pohon, dengan warna hitam dan berbulu, serta kedua bola mata yang bulat besar berwarna merah, seakan tidak ada kelopak mata yang menutupi kedua mata tersebut. Gue seketika langsung nunduk, mengalihkan pandangan gue, dan gue melanjutkan sholat dengan suasana hati takut, dan dengan mata terpejam.

"Imam tadi ngeliat ya?." Tanya Bapak Guru gue yang saat sholat tadi jadi Imam sholat.

"I-iya pak, kok tau?." Jawab gue dengan nada takut.

"Itu sambutan untuk kita, dia gak seneng kita disini ngadain sholat Isya berjamaah. Kamu hati-hati ya, jangan kasih tau yang lain kalo kamu ngeliat, nanti kamu bisa sakit, nyawa kamu bisa terancam." Ucap bapak guru gue sambil pegang pundak gue.

Pejwan emoticon-Big Grin , update nya jgn malu malu gan emoticon-Big Grin

BAKAR DUPA

emoticon-Imlekemoticon-Imlek

KOLAM RENANG [PART 2]

Menjelang pagi, sekitar pukul 05.30 pagi, sehabis shalat Subuh. Salah satu temen gue yang bernama Andhika, mengajak gue dan kawan-kawan yang lain untuk ikut berenang, dan gue pun berkata,

"Ah ga mau, ini tuh masih pagi banget, kita ini di daerah puncak, lu pasti tau lah dinginnya air kolam berenang itu kaya gimana." Jawab gue.

"Udah elah ah, malah seger pagi-pagi berendem di air es." Saut Andhika dengan nada tertawa sambil menarik tangan gue untuk ikut mereka.

Mau ga mau, gue akhirnya ikut.

Matahari masih belum terbit, posisi kolam renang tepat disamping villa, gak jauh dari pohon beringin yang semalem gue liat sosok yang menyeramkan, sejujurnya meskipun ramai, sekitar 6 orang dan udah termasuk gue, gue masih ngerasa merinding.

"Ah gue gk ikut berenang ah, gue ngeliatin kalian aja." Ucap gue kepada Andhika yang sudah siap masuk kedalam kolam renang.

"Yaelah Mam, yaudah dah jagain pakaian kita."

"Oke sip dah."

Gue duduk di kursi kayu yang ada disamping kolam renang.

Saat gue sedang asik memperhatikan kawan-kawan yang berenang.
Tiba-tiba gue merasa merinding, ditambah hawa dinginnya pagi dan suasana yang masih gelap karna kurangnya penerangan didekat situ, menambah suasana seram di pagi itu.

Seketika mata gue tertuju pada pohon beringin besar yang tumbuh subur tersebut, gue memperhatikan pohon tersebut, gue merasa aneh, banyak daun berguguran, namun hanya didaerah sebagian saja.

Karna rasa penasaran, gue memperhatikan dari bawah sampai atas pohon yang rimbun itu.

Alanglah kagetnya gue.

Gue melihat sesosok wanita berpakaian putih panjang, dengan wajah tertutup rambut, sosok itu duduk disalah satu batang pohon dan mengayunkan kakinya, yang gue lebih bikin takut.

DIA MELAMBAIKAN TANGANNYA KE GUE!!!!!!

Ini sosok yang gue lihat di jalan tol Jagorawi semalem! Ternyata dia ngikutin rombongan gue sampai ke Villa ini!!!!!!

Gue langsung menundukan wajah gue dan menutupnya dengan pakaian temen gue, gue pengen kabur dan langsung lari, tapi kaki gue lemes seketika, cukup lama gue menahan takut dengan posisi itu.

"Mammm, woyy Mam, lu kenapa? Di panggil-panggil gak denger daritadi." Tanya Andhika yang segera keluar dari kolam dan menghampiri gue.

"Ehh-anuu, enggak kok, gue cuma ngerasa dingin aja."

"Beneran?"

"Iya beneran deh."

"Yaudah yuk masuk, gue juga kedinginan nih." Ucap Andika yang sedang mengenakan pakaiannya.

Gue menoleh ke tempat sosok kuntilanak tadi. Ternyata sudah gak ada.

"Udah yuk semuanya keluar dari kolam, kita masuk." Celetuk Andhika kepada teman yang lain.

Kawan-kawan gue udah pada keluar dari kolam renang.

"Mam ambilin baju gue dong disebelah situ." Ucap Boyo kepada gue.

"Ah enggak ah, males gue."

"Yaelah sama temen gitu banget."

"Ah elah dah, iye iye gue ambilin."

Bajunya Boyo terletak di samping kolam renang, gak jauh dari tempat duduk gue yang tadi.

Gue coba berfikir positif, bahwa kuntilanak itu udah pergi.

Gue menghampiri dan mengambil baju punya Boyo.

Dan saat itu juga gue ngeliat bayangan hitam besar seperti manusia, namun berada didasar kolam renang yang airnya sudah tenang, meskipun suasana gelap, bayangan itu lebih gelap dari gelap yang ada di dasar sekitar kolam renang. Jadi nampak jelas.

Meskipun itu bayangan ada didasar kolam renang, namun gue melihat dua cahaya merah dari dasar kolam renang itu.

"I-inii, yang semalem gue lihat pas shalat Isya." Ucap gue dalam hati dengan perasaan cemas.

Gue langsung lari menghampiri yang lain, tanpa berkata apapun gue langsung melempar baju tersebut kepada Boyo.

Entah kenapa gue menoleh kebelakang. Gue melihat sosok bayangan itu melompat keluar dari air yang tenang itu. Menimbulkan suara seperti orang yang melompat kekolam renang, air kolam yang tadinya tenang kini bergoyang-goyang.

Gue langsung lari lagi masuk kedalem villa.

Satu hal yang membuat gue janggal. Dengan suara yang lumayan keras seperti orang melompat kedalam kolam, temen gue pada asik pake baju, seolah-olah gak terjadi apa-apa dan hanya gue yang melihat dan merasakannnya.

Gue langsung masuk kedalem kamar dan gue selimutan.

"Mam lu kenapa lari kaya ngeliat setan?." Tanya Andhika kepada gue didalam kamar.

"Kagak kok, gue kebelet tadi."

"Kok kebelet malah kekamar?."

"Ga jadi kebelet, gatau kenapa." Ucap gue mencoba meyakinkan.

"Lu gak bohong kan? Lu gak ngeliat setan sini kan?." Tanya Andhika dengan wajah sedikit ketakutan.

"Seriusan gue gak bohong."

"Okedeh kalo gitu, gue mau mandi dulu."

Dalam semalaman gue udah banyak ngeliat makhluk halus disini, mulai dari perjalanan ke villa ini, bahkan sampai di villa, seperti mereka sudah tau kalau kami akan datang kesini.

Pagi gue udah cukup menyeramkan, diawali dengan sambutan yang sangat menakutkan.

Diubah oleh watashiwapsycho
jejak
Di tunggu apdetan nya gan emoticon-Request
jejak
jejak
Lanjut gan

POCONG 3 METER [PART 3]

Sudah memasuki hari kedua, saat itu ada game yang di buat oleh kakak osis, namun bukan sembarangan game, entah apa yang ada difikiran para senior osis.

Kita bermain game dengan nama game 'Pencarian Harta.' Namun bukan harta sungguhan yang kita cari, namun sebuah petunjuk dimana lokasi kunci tersembunyi untuk membuka kotak hadiah.

Game dimulai pada pukul 20.00, kita dibagi-bagi mejadi beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 3 orang. Gue mendapatkan kelompok berama Boyo dan Andhika. Diantara kita bertiga, Andhika lah yang paling berani.

Lokasi pencarian hanya di sekitar villa.

Dua jam berlalu. Waktu menunjukan pukul 22.00 malam. Namun belum ada satupun tim yang mampu menemukan petunjuk tersebut.

"Mam, Boy, ikut gue nyari kesebelah sana yuk." Celetuk Andhika.

Dengan bermodalkan sebuah senter yang gue pegang. Gue menurut aja apa yang dia omongin.

GUE LANGSUNG KAGET!

Si Andhika ngajak gue dan Boyo nyari petunjuk sampai kebelakang Villa! Tanpa gue sadari.

Cuma kelompok kita yang mencari petunjuk sampai kebelakang Villa. Kelompok lain semua pada mencari didepan.

Gue udah pernah cerita sebelumnya.

Minimnya penerangan, suasana hening, dan suara hewan malam menambah ketegangan hati gue saat itu.

"Dik udah yuk Dik jangan cari disini, gue takut, liat tuh pohon beringin serem banget, gede banget pula." Ucap gue dengan nada ketakutan.

"Iya nih Dik, gak mungkin ada disini. Palingan juga didepan." Ucap Boyo setuju dengan pendapat gue.

"Dah tenang aja, gue yang cari, Mam, lu senterin aja daerah bawah. Siapa tau ada di bawah-bawah."

Gue pegangan tangan Boyo, gue yakin banget dia juga takut.

"Eh Dik jangan cari disitu." Ucap gue dengan was-was.
Tau kenapa? Si Andhika nyari tepat dibawah pohon beringin tersebut.

Bulu kuduk gue mulai berdiri semua.

Tiba-tiba Andhika gk ada.

"Dik, lo dimanaa dik?." Ucap Boyo dengan nada sedikit keras.

"Gue disini, kesini dong, liat apa yang gue temuin." Jawab Andika

"Oh dia dibalik pohon." Saut Boyo.

"a-apaa? Dia di belakang pohon? Dik buruan kesini gue takut." Nada gue mulai terdengar panik.

"Mam, Boy, kesini buruan."

Gue dan Boyo akhirnya nyamperin.

GUE LANGSUNG KAGET!

Ternyata Andhika bukan nemuin sesuatu yang kita cari.

TAPI KUBURAN TUA!

"Dik ah gak lucu, buruan cabut." Ucap gue dengan panik.

"Coba cari-cari dulu disini, siapa tau ada."

Dhika mulai mendekati kuburan, dan mencari apa yang kita cari sampai kebelakang batu nisan makam tersebut.

Gue dan Boyo pegangan dengan erat.

Gue nyenterin sekeliling yang suasananya gelap dan hening. Ada sedikit semak-semak ilalang gak jauh dari makam tersebut.

"Mam cabut yuk, perasaan gue gak enak."

Tiba-tiba ada sesuatu yang muncul dari balik ilalang.

"POO..POOO...POCONGGGG!!!" Teriak Boyo sambil menunjukan jari telunjuknya ke arah ilalang.

Seketika gue mengarahkan senter gue kearah ilalang.
Alangkah kagetnya gue.

ADA POCONG YANG TINGGINYA SEKITAR 2 SAMPAI 3 METER!

Seketika gue langsung lari berdua dengan Boyo dengan kecepatan penuh.

Setelah sampai didepan.

"Mam lo kemana aja? Bukannya bantuin kita nyari petunjuk malah ngilang." Celetuk Andhika

"Iya nih Mam, lo gimana sih, gak kompak lo." Ucap Boyo dengan nada kesal.

"J-jadi... tadi yang kebelakang sama gue ke Villa siapa??!."
Diubah oleh watashiwapsycho

Selamat Tinggal Pemilik Villa [PART 4]

Sudah memasuki hari ketiga. Yaitu hari dimana gue dan rekan-rekan gue harus meninggakan villa itu.

Banyak kejadian yang sangat menyeramkan yang terjadi selama 2 hari terakhir.

Akhirnya gue memutuskan untuk mencari informasi tentang villa tersebut.

Bapak Ahmad. Penjaga villa tersebut, atau juga bisa disebut sebagai juru kunci yang mengetahui sejarah villa tersebut.

Rombongan bis akan kembali ke Jakarta, dan berangkat pukul 16.00.

Saat jam 12 siang, gue memutuskan untuk bertanya kepada pak Ahmad tentang villa ini.

Saat itu pak Ahmad sedang duduk di teras villa bersama dengan Bapak Guru gue yang sempet memperingati gue untuk jangan cerita kesiapapun.

"Pak Ahmad, bisa ngobrol sebentar?."

"Naon Jang?." Jawab pak Ahmad

"Pak Aziz, boleh kan saya ceritain pengalaman saya kepada pak Ahmad?." Tanya gue kepada pak Aziz.

"Boleh aja deh, toh kita gak akan kembali lagi ketempat ini." Jawab pak Aziz.

"Makasih pak Aziz." Ucap gue.

"Jadi gini Pak Ahmad, saya dari perjalanan dari tol sampai disini, saya mengalami banyak kejadian aneh, yang bahkan saya sendiri baru alami sekarang, kata Pak Aziz, itu sambutan untuk kita, tapi kenapa cuma saya aja yang dikasih liat?."

"Emang adek liat apa aja?." Tanya pak Ahmad penasaran.

"Saya melihat tiga makhluk halus pak. Yang pertama wanita pakaian putih dengan wajah tertutup rambut, kedua saya melihat sesosok seperti kingkong, badannya berbulu lebat, matanya merah bulat seperti tidak ada kelopak matanya di dekat pohon beringin itu pak, yang ketiga saya ngeliat pocong, saya gak liat persis wajahnya, soalnya itu pocong tinggi banget, sekitar 3 meter pak. Saya cuma lihat sampai ikat tali pocongnya yang ditangan."

"Tapi Adek belum liat wajah si kunti dan pocong belakang makam kan?."

"Belum pak, emangnya kenapa?." Tanya gue dengan penasaran.

"Dulu waktu bapak masih muda, saat pertama kali di kasih kepercayaan untuk jaga villa ini, bapak sampai pingsan liat wajah si kunti, wajahnya hancur seperti habis tertabrak."

Belum sempat gue bicara, pak Ahmad cerita lagi.

"Konon kata orang sini, dulu ada wanita tertimpa truk di jalan raya depan. Dan wanita itu dibawa kesini, dan meninggal disini sebelum mayatnya dibawa ambulan, tapi saat dibawa kesini, tangannya yang kanan udah gak ada, pas dicari di tkp, tangannya gak ketemu"

"Kalo yang pocong pak?." Rasa penasaran gue bercampur dengan rasa takut.

"Kalo yang pocong saya gak tau, kata pemilik villa, makam itu udah ada sebelum villa dibangun, sudah berbagai cara dipakai untuk memindahkan makam itu, tapi gak bisa, digali pakai cangkul aja pasti cangkulnya patah."

"Nah, kalo yang tinggal di pohon beringin itu, dia rajanya. Pernah ada yang coba mau tebang pohon itu, tapi orangnya sakit seminggu, dan akhirnya meninggal."

"Udah pak cukup jangan dilanjutin." Celetuk gua dengan rasa yang teramat amat sangat takut.

"Alasan kenapa aden di kasih liat, mungkin iman aden yang paling lemah dibanding yang lain."

Harus gue akui, gue jarang beribadah.

Saat pak Ahmad mau ngelanjutin ceritanya, tiba-tiba dia ngomong.

"Tuh kan, cium aroma kembang melati gak?."

"Eh iya pak bener." Jawab gue. Emang bener seketika kecium bau melati sekilas dengan ditandai sedikit adanya angin berhembus.

"Kalo udah kaya gini, bapak udah gak bisa ngelanjutin cerita. Setiap bapak beres-beres villa ini, pasti salah satu dari mereka nemenin bapak, ya ga usil sih cuma memperhatikan aja, makannya aden banyakin sholat." Ucap pak Ahmad sambil menyeruput kopi hitam.

Waktu menunjukan pukul 16.00 sudah waktunya untuk rombongan bis kembali ke Jakarta. Sebelum gue pergi menaiki bis, pak Ahmad berpesan, jika ingin kembali, jangan pernah ceritakan pengalaman seram ini kepada siapapun.

Gue udah di posisi bis, tempat duduknya sama kaya kemarin saat gue melihat si kunti.

Dan gue kaget buat yang terakhir.
Saat gue sedang memperhatikan pohon beringin itu dari dalam mobil yang sedang melaju.

Dan kali ini gue ngeliat si kunti lagi.

Dia duduk di atas ranting kecil dan sedang mengayun-ayunkan kedua kakinya.

Gue cuma bisa duduk terdiam. Gue gak berani cerita kesiapapun, leher gua seperti terkunci dan gak bisa ngalihin pandangan gue.

Lalu si kunti melambai-lambaikan tangannya kearah bis yang sedang gue tumpangi.

Bukan, bukan kearah bis.


TAPI KEARAH GUE!!!

Pundak gue lalu di tepuk.

Ternyata pak Aziz yang nepuk pundak gue.

"Kok di diemin aja? Dia itu ngucapin selamat tinggal loh." Ucap pak Aziz dengan nada berbisik.

Lalu tangan kiri gue dipegang sama pak Aziz dan diangkat.
Lalu digoyang-koyangkan seperti melambaikan balik ke arah si kunti.

"Makannya Mam banyakin Ibadah. Enak kan punya temen kaya gitu?." Ucap pak Aziz dengan nada sedikit tertawa.


Tapi tetap saja gue merasa mengalami kesialan dalam 3 hari terakhir dan gak akan pernah bisa gue lupain.
Diubah oleh watashiwapsycho
Jejak..
Nyeduh kopi dulu dah😋
lanjutkan gan seru
jejak dlu ya gan
Jadi imam ke belakang ditemani siapa donk? Jadi merinding nih siang bolong
Yang Part 3 konyol wakakaka emoticon-Takut (S)
Untung si agan buru buru kabur emoticon-Ngacir

Update lagi gan, ane tungguin nih emoticon-Hammer (S)
Lanjott gan emoticon-Request

Yg di tol jagorawi serem juga gan emoticon-Takut

gembok dulu gan
Diubah oleh schnoux.2418
Quote:


ayo update ganemoticon-Sundul Up emoticon-Sundul Up emoticon-Sundul Up
Halaman 1 dari 16


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di