alexa-tracking
Kategori
Kategori
5 stars - based on 3 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/57afd70fc0cb1789658b456a/sang-pemburu--fiksi

Sang Pemburu (Fiksi)

Halo buat semua agan-aganwati di dunia perkaskusan ini. Salam kenal dari saya selaku newbie yang juga ingin ikut meramaikan tulisan-tulisan di forum SFTH. Berhubung masih belajar dan ini juga thread pertama, mohon maaf kalau ada kesalahan di sana-sini. Monggo kalau ada agan-aganwati yang ingin ngasih saran dan juga kritik.

Ini ceritanya murni fiksi, hasil dari ngelamun pas di kamar tidur sama di WC emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin. Kalau soal update saya nggak bisa kasih jadwal. Semoga aja amanah buat nerusin ceritanya sampe selesai.
Segitu dulu aja ya, Gan. Maaf kalau terlalu formal bahasanya.

Selamat menikmati.

[SPOILER=Index]
PART 1
PART 2 : Warehouse Tragedy
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7 : Ikmal 'The Master'
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11 : Hendro and the Asses
PART 12
PART 13
PART 14 : Kuterima Suratmu
PART 15
PART 16
PART 17 : Pensi Part I I Pensi Part II
PART 18
PART 19 : Perpisahan
PART 20
PART 21 : A man with Gun
PART 22
PART 23 : Bon Bin
PART 24 : Malam yang Nggak Terlupakan Part I I Part II
PART 25
Part 26 : The Dog
PART 27
PART 28 : Wiwid, Mita dan Yesi
PART 29
PART 30 : Rob 'The Jackal' Part I Part II
PART 31
PART 32 : The Sparrow
PART 33
PART 34 : REUNION
PART 35
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
Diubah oleh kawmdwarfa
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 5
PART 1


Sekitar jam lima sore, aku sampai di kos. Dan aku heran melihat ada banyak motor yang parkir di depan kosku. Keramaiannya nggak kayak biasa.

Ada apa ini, kupikir.

“Misi, Mas,” kataku yang hendak lewat. Dan yang berjubel di pintu pagar tidak merespon. Semuanya asyik melihat ke dalam. “MISI, MAAS!” kataku lagi dengan lebih keras.

Akhirnya mereka menoleh, sebelum memberiku jalan dengan tatapan yang sangat tidak bersahabat.

Aku menelusupi kerumunannya sambil menuntun motorku. Setelah memarkirkan motor, aku yang penasaran langsung geser-geser kepala sambil sesekali jinjit. Akhirnya kelihatan juga, masih belum terlalu jelas tapi.

“Woy.”

Aku menoleh. Beberapa orang rupanya sudah menatapku, isyarat kalau ini bukanlah urusanku sama sekali. Aku pun berjalan lagi, menaiki tangga menuju kamarku di lantai atas. Waktu itu semua kamar pintunya tertutup. Entah kalau penghuni lain memang belum pulang, atau ketakutan karena situasinya seperti ini.

Begitu sampai di lantai atas, aku menyempatkan untuk menoleh ke bawah. Aku sudah menyangka kalau ini urusannya dengan salah satu penghuni, hanya saja aku tak menduga kalau aku akan melihat dia, orang itu. Dan jika dilihat dari situasinya, aku yakin dia tengah berhadapan dengan ketua dari gerombolan ini.

Sambil jalan aku terus menguping. Masih beberapa meter lagi sebelum aku sampai ke kamar.

“Trus? Jadinya gimana?”

“Udahlah. Nggak perlu, Rob.”

Orang itu berpaling ke kiri-kanan. Ekspresinya menampakkan jika ia masih belum menerima. “Oke, gini. Kamu memang udah berhenti. Kita hormatin itu. Kita hormatin. Tapi tolong. Jangan pungkirin asal kamu yang sebenarnya. Ingat, kamu,” ucap laki-laki itu sambil memegang pundaknya, “adalah orang yang udah bikin kita besar.”

Berhenti dari apa? Besar? Apa maksudnya?

“Aku terus terang kecewa. Kamu mutusin buat berhenti pas kita lagi jaya-jayanya. Tapi tolong. Seenggaknya kasih aku kesempatan buat ngebalas rasa terimakasihku.”

“Aku harus bilang berapa kali? Satu-satunya cara buat kamu ngebalas itu, biarin aku hidup tenang, Rob.”

“Enggak,” orang itu menggeleng. “Enggak gini aturan mainnya.”

“Rob!”

“Kita hanya butuh nama,” orang itu mengangkat telunjuknya. “Satu nama dari kamu, kita pergi dari sini.”

Saat itu aku sudah di depan kamar sambil melepaskan sepatu. Kemudian aku masuk. Pintunya kututup dan aku langsung mengintip. Kordin jendelanya kubuka secuil biar nggak ketahuan.

“Rob, aku udah nggak mau lagi yang kayak dulu.”

“Oke. Kamu nggak mau kasih nama, oke,” ucapnya mengangguk. “Kita bisa sapu bersih.”

Sapu bersih? Sapu bersih apanya?

“Kita pergi!” teriaknya ke semua. “Kita sapu daerahnya. Mulai dari...”

“MAXX!!!” selanya secepat mungkin. “Max yang udah ngelakuin ini.”

Laki-laki itu terkekeh. “Udah kuduga. Memang anj#ng.”

“Max sendirian. Jangan ada orang lain. Tangkap dia, bawa ke gudang. Aku nanti ke sana.”

Laki-laki itu tersenyum. Dia lalu mendekat dan memeluknya. Penghuni kos ini hanya diam. Sebentar saja, orang itu pun berlalu diikuti semuanya. Kerumunan lantas menghilang seiring dengan gerungan knalpot-knalpot yang bising. Menyisakan orang itu sendirian. Memegang seplastik transparan, yang jika boleh kutebak adalah sekotak nasi.

Aku terkejut dan langsung menjauh dari jendela. Sial, orang itu tiba-tiba melihat ke sini.

***

Diubah oleh kawmdwarfa
PART 2


Hari sudah maghrib lewat sedikit. Habis mandi aku pergi membeli makan. Setelahnya aku pulang, lalu duduk-duduk di depan kamar sambil rokokan. Bosan begitu, aku pun menyalakan TV sambil tiduran. Tapi TV-nya bisa dibilang mubazir karena aku sama sekali tak menghiraukannya. Pikiranku malah tersita pada apa yang kulihat tadi sore. Otomatis aku pun kian penasaran dengan orang itu.

Aku nggak tahu dia siapa. Maksudku, dari semua penghuni kos cuma dialah yang namanya masih jadi tanda tanya. Bukan setahuku saja, dink, semua penghuni kos ini sepertinya juga sama. Orang itu pendiam, misterius, dan sama sekali tak pernah membaur dengan anak-anak kos lainnya. Beberapa kali dia lewat ketika kami gitar-gitaran di bawah. Dan jangankan menyapa, senyum pun dia nggak mau. Berapa lama dia sudah tinggal di sini, ya? Mmmm....sekitar dua tahunanlah.

Waktu itu suasana kos masih sepi. Sebenarnya sudah banyak yang pulang, tapi kamar-kamarnya masih pada tertutup. Ada yang masih beribadah, langsung tidur karena keletihan, macam-macam pokoknya. Nah, ketika itulah aku bisa mendengar suara pintu yang terbuka. Dari arah suaranya aku merasa yakin. Dan ketika kuintip lewat jendela, benar. Itu memang dia.

Dia berjalan dengan terburu-buru. Katakanlah aku bodoh, tapi aku benar-benar nggak tahu kenapa aku tiba-tiba punya pikiran untuk ngikutin dia. Aku pun langsung mengenakan baju guna menyusulnya. Motorku lalu kutuntun hingga ke dekat pagar. Aku mengintip, sengaja ingin membaca situasi. Saat itu aku bisa melihatnya puluhan meter di depan sana. Dia lagi berhenti di pinggir jalan. Tak lama kemudian, ia menaiki angkot yang juga menurunkan seorang penumpang. Motor kunyalakan dan aku pun melaju. Sampai di dekat mulut gang, aku berpapasan dengan orang yang turun dari angkot tadi. Seorang ibu-ibu, tetangga kos yang juga kukenal.

“Habis dari mana, Bu?”

“Dari tempat sodara. Mau ke mana kamu?”

“Mau ke tempat teman, Bu,” jawabku, sekaligus tahu angkot nomor berapa yang barusan dinaikinya.

Aku sudah melaju. Ketika kuperhatikan sekeliling, angkot yang jurusannya sama juga ada beberapa di jalan. Kebanyakan kacanya hitam, jadinya susah untuk menebak isi penumpangnya. Mau mepet untuk memeriksa juga susah karena lalu lintasnya lagi ramai. Otomatis, langkahku saat itu cuma jalan sesuai jurusan. Pelan-pelan dan awas, memperhatikan sebaik-baiknya barangkali bisa kelihatan. Tapi belum ada tanda-tanda. Saat itu, aku sudah melaju lumayan jauh.

Beruntung memang, aku bisa melihatnya. Orang itu tengah berjalan ke dalam gang yang entah apa namanya.

Aku kemudian mengikutinya. Pelan-pelan dan tetap menjaga jarak. Saat itu kami melewati pemukiman, tapi cuma sebentar. Sisanya, kami melewati daerah yang gelap dan sepi. Istilahnya, tempat ini seperti tempatnya jin buang anak. Tidak mau keberadaanku disadari, aku pun mematikan dan menuntun motorku. Terus kuikuti dia dengan sangat hati-hati. Daerah ini lumayan terisolir. Dan aku tak begitu kaget mengingat pembicaraan mereka tadi sore.

Akhirnya kegelapan yang mencolok mulai berkurang dikarenakan cahaya lampu dari sebuah gedung. Seperti omongannya tadi sore, tempat itu memang seperti gudang yang tak terurus. Di depannya sudah ada beberapa orang dengan jumlah motor yang jauh lebih banyak ketimbang tadi sore. Aku masih mengambil jarak dan mengintip sambil mengendap-endap. Mereka kulihat berbicara sebentar sebelum akhirnya masuk bersama-sama.

Aku terpaku. Apa-apaan aku ini, kupikir. Aku tahu ini sudah nggak beres. Tapi aku tak bisa bohong, kalau aku merasa begitu penasaran.

‘HUSSSSH!!!!’ mulutku menghembus kencang.

Aku pun memberanikan diri. Motorku kudiamkan dengan posisi menghadap arah pulang. Kemudian aku berlari kecil ke halaman yang sudah sepi itu. Pintu gedungnya besar dan tertutup rapat. Masih mengendap-endap, aku mencari celah supaya bisa mengintip ke dalam.

Ketemu!

Aku mencoba untuk melihat ke dalam. Dan lubang yang begitu kecil membuat penampakannya jadi tidak cukup jelas. Karena sudah kadung penasaran, aku pun memutar ke samping gedung untuk mencari lubang yang lain. Ketemu! Sedikit lebih kecil memang, tapi aku bisa mengintip dengan jarak yang lebih dekat. Dan di posisi ini, aku melihat seseorang yang lagi diikat di kursi. Wajahnya berdarah. Dia ditawan. Ini pasti yang namanya disebutkan tadi sore. Siapa namanya aku sudah lupa. Orang itu, yang juga satu kos denganku, berdiri tepat di depannya. Dan di sebelahnya ada.....siapa tadi namanya?

Oh, ya!

Rob.

Pemandangan semacam ini jelas yang pertamakali buatku. Jantungku berpacu membayangkan kengerian apa yang sebentar lagi akan terjadi. Dan aku merasa sulit untuk beranjak. Akal sehatku sudah tertutup rasa penasaran yang begitu besar.

“Sekarang apa?” orang yang diikat itu mulai bicara. “Kalian kira aku takut?! Ha?!! Kubunuh kalian semua di sini...”

‘DUG!!’

Rob melancarkan tinjunya. Orang itu meringis, tapi sebentar kemudian sudah tertawa. Tak ada takut sedikitpun yang terpancar dari wajahnya.

Gila juga orang ini, pikirku.

“Rob, uda,” kata orang itu.

Rob kemudian mundur ke tempatnya semula.

Orang itu maju sebelum membuka bajunya. Yang spontan membuatku terkejut, bergidik ngeri, merinding. Aku tak pernah melihatnya bertelanjang dada selama di kos. Dan sekarang, aku jadi tahu kalau badannya itu ternyata dipenuhi bermacam-macam bekas luka.

“Kenapa kamu nggak ngerti juga, Max? Aku udah nggak hidup di dunia ini lagi.”

Oh, ya. Namanya Max.

“ANJ#NG kamu! Cuuhh!” orang itu meludah.

‘DUG!!’

“Rob! Udah!”

“LEPASIN AKU ANJ#NG!!! KUBUNUH KAMU SEKARANG!!”

“Tentu. Kamu pasti dilepasin. Kamu pasti punya kesempatan buat ngebunuh aku, pakai tangan kamu sendiri.”

“BANYAK OMONG KAMU ANJ#NG!!! LEPASIN AKU SEKARANG! PENGECUT KAMU!!”

“Pengecut? Serius?” katanya sambil mundur beberapa langkah. “Kamu! Kamu! Kamu! Kamu!” ditunjuknya beberapa orang. Tanpa diperintah lagi, orang-orang itu pun mendekat. “Ayo! Sekarang!” dia mengisyaratkan agar keempat-empatnya maju melawan dirinya sendiri. Keempatnya spontan kebingungan.

“Jangan takut! Lakuin aja apa perintahnya!” Rob berseru. Dan orang-orang itu masih nampak takut. Jelas-jelas musuh mereka sudah terikat di kursi.

“Bodoh! SEKARANG!”

Keempatnya pun mulai menyerang. Dan di luar dugaan, orang itu justru membiarkan dirinya dipukuli. Hanya berlangsung sebentar.

“Maaf, Bang,” kata salah satunya ketakutan.

“DIA BELUM BILANG BERHENTI! TERUSKAN! JANGAN SETENGAH-SETENGAH!” Rob berseru lagi.

Keempatnya saling pandang. Kian kebingungan.

“BODOH!! TERUSKAN!!”

Pembantaian kembali berlanjut dan orang itu benar-benar tidak melawan. Dia tersungkur dan ditendangi. Satu orang memeganginya sementara sisanya bergantian menghujaninya dengan pukulan. Orang itu lalu dilepaskan. Tertidur di lantai sambil tetap ditendangi.

Aku benar-benar bingung. Ini sebenarnya lagi ngapain?!

Orang-orang itu akhirnya berhenti begitu melihat isyarat. “Maaf, Bang,” kata salah satu dari mereka lagi. Benar-benar bingung kenapa ia harus melakukan itu.

Orang itu kemudian bangkit. Dengan kondisinya yang sudah sedemikian babak belur, ia malah tersenyum. “Udah sama belum, Rob?!!” serunya sambil mengibas-ibaskan tangan, menghilangkan jejak-jejak tapak sepatu dan pasir yang melekat di seluruh badannya.

Rob turut tersenyum. Ia sudah menebak ini arahnya ke mana. Ia pun bersiap seperti akan menonton film yang seru. Dan senyumnya mengisyaratkan betapa ia rindu untuk menyaksikannya. Rob lalu mengangguk. “Lepasin dia!” Seruannya membuat anak buahnya kembali terlihat bingung. Melepaskan siapa? Membiarkannya pergi? Atau? “HE! LEPASKAN! serunya lagi sambil menggeleng ke arah tawanan mereka.

Semuanya kian heranan.

“MAX! Sekarang kau punya kesempatan untuk membunuhku dengan tanganmu sendiri,” dia sambil mengangkat kedua tinjunya. “Kita udah sama sekarang. Nggak ada alasan buatku ngalah.”

Aku tadinya terkejut. Tapi pelan-pelan aku mengerti kenapa ia sengaja membiarkan dirinya jadi babak belur.

“ANJ#NG!!!!” Max yang baru dilepaskan langsung mendekat dengan tatapan yang nanar. Ekspresinya begitu haus akan darah. “MATI KAMU SEKARANG!!!”

Max melayangkan tinjunya. Dan terlihat biasa, bahkan sia-sia karena orang itu bisa menangkisnya dengan mudah. Max kian kesetanan. Tinjunya dilancarkan beserta amarah yang meledak-ledak. Masih mengelak dan menangkis, orang itu lalu mengakhirinya dengan tangkapan berteknik tinggi. Gaya bertarungnya jelas. Tingkatannya jauh sekali di atas empat orang yang tadi menghajarnya, yang kini terperangah seolah terhipnotis.

‘GDEBUKK’

Max terbanting ke tanah, sebelum ditindih dan ditinju berkali-kali tepat di tengah wajahnya. Membuatnya kian terlihat mengenaskan. Darah segar mengalir dari hidungnya.

Orang itu memaksanya berdiri, lalu mengangkat badannya seolah bobotnya memang terasa ringan. Dan, ‘DGEBUUKK!!!!’ Anj#ng! Aku hapal gerakan ini. Ini mah ‘F-5’-nya Brock Lesnar, tapi diakhiri dengan hempasan ‘DDT’. Menghujamkan kepala Max dengan begitu telaknya. Max benar-benar berantakan. Jangankan meringis, bisa kembali sadar saja aku sudah sangsi. Max yang terkulai lemas kembali dipaksa berdiri.

Dan orang itu melakukannya lagi.

ANJ###NG!!! Entah aku ingin girang melihatnya, tapi itu.... barusan... juga gerakan khas pegulat favoritku di PS.

The Rock Bottom.

Orang itu berdiri. Ia lalu menoleh ke arah Rob, yang saat itu nampak begitu sumringah. Ia menatap Max sebentar sebelum kembali menoleh. Rob kemudian mengangguk. Dan dia akhirnya meloncat dengan satu kaki terangkat lebih tinggi. Sepertinya ia membidik kepala.

“JANGAAN!!!”

Goblok. Bisa-bisanya aku berteriak.

Semua menoleh ke sumber suara. Beberapa orang langsung bereaksi. Aku ingin lari tapi seluruh badanku mendadak lemas. Ta#k!! Ta#k!! Orang itu mati karena lehernya diinjak dengan tenaga penuh. Aku langsung merinding, nangis, mau pingsan. Pertamakalinya aku menyaksikan orang dibunuh.

“WOY!!!” beberapa orang sudah menemukanku.

Entah kalau aku bisa lari dari sini.

***
Diubah oleh kawmdwarfa
PART 3


Aku diseret ke dalam. Perasaanku begitu kacau. Baiknya mungkin aku pingsan saja, tapi memang tidak. Aku bisa merasakan sakit karena semua pukulan dan tendangan itu. Aku benar-benar ketakutan.

“Bang! Ini dia yang ngintip kita tadi,” kata salah satunya. Aku pun dilepas.

Orang itu nampak terkejut. Dia pun mendekatiku. “Ngapain kamu di sini?”

“JAWAB ANJ#NG!” seseorang kembali menendang badanku.

“Udah! Biarin dia. Dudukin dia di sana,” katanya sambil berpaling. Aku pun diseret dan disandarkan ke dinding.

Rob tersenyum. Orang itu tengah mengenakan bajunya lagi ketika Rob mendekat. “Masih ganas seperti dulu.”

Orang itu berbalik. Di luar dugaan, ia tiba-tiba menarik kerah baju Rob. Rautnya kian serius. Matanya melotot. “Aku tau dia udah nggak diinginkan lagi sama kelompoknya.”

“Aku tau kamu tau itu.” Dari pinggangnya, Rob lalu mencabut sebuah pisau dan memamerkannya di dekat wajah. Senyumnya belum hilang. Mimiknya begitu tenang. “Kamu nggak bunuh dia pun, dia pasti mati. Bajingan kayak dia nggak punya kehormatan. Dia pantas dibuang. Aku beruntung bisa ngelihat kamu kayak tadi lagi.”

“Aku nggak bilang aku mau kembali!” tatapannya kian nanar

“Oke, oke,” pelan-pelan, Rob melepaskan cengkeraman itu. Dia diam beberapa saat. Sekejap kemudian tingkahnya berubah. Jauh lebih emosional. “Anj#ng! Jas! I miss you, Man. We really really miss you. Come back. Please.”

Gila. Apa iya aku tidak salah lihat. Rob yang wajahnya seram begitu langsung memelas seperti anak kecil yang merengek. Aku benar-benar nggak kepikiran sama sikapnya. Sakit. Benar-benar sakit. Alih-alih menjawab, orang itu kini menghampiriku. Membantuku berdiri, dan memapahku keluar dari sini. Aku melihat wajah-wajah orang itu sekilas. Kepergian kami diiringi kekecewaan. Dan, ta#k! Ta#k! Aku lupa kalau di gedung ini sudah ada mayat. Wajahnya melongo, berdarah-darah, hancur.

Perutku langsung mual.

“TERSERAH KAMU, JAS!! INGAT! SAMPAI KAPANPUN, KITA INI SAUDARA. KAMU TETAP BAGIAN DARI KAMI. ELJAAAS! SANG PEMBURU!!!”

Rupanya dia Eljas. Hah? Apa? Pemburu?

***


Kami meninggalkan tempat itu menggunakan motorku. Aku dibonceng. Aku nggak ingat sudah berapa jauh kami melaju. Setelahnya kami berhenti sebentar. Aku dipapah dan didudukkan di trotoar. Habis itu dia pergi entah ke mana. Aku masih lemas. Kepalaku masih terasa berat. Aku menoleh ke sekelilingku untuk mencarinya. Samar-samar, aku lalu melihat dia kembali dari seberang jalan.

“Nih,” diserahkannya sebotol air mineral.

Aku meminumnya. Bernafas selama beberapa saat. Rasanya sudah sedikit membantu.

“Udah mendingan?”

Aku mengangguk.

‘PLAK!!!’

“AAAAAW!!"

‘PLAK! PLAK!’

“Goblok kamu! Ngapain kamu ngikutin aku ke sana, hah?!!”

“Ampun, Bang!” aku melindungi wajahku sambil tertunduk. Bawaannya udah mau nangis aja.

“Jawab!” ancamnya. Tangannya sudah terangkat lagi.

“Nggak tau, Bang. Aku nggak tau.”

“Goblok! Mau nyari mati apa kamu?!!” bentaknya.

“Ampun, Bang. Jangan bunuh aku, Bang,” mataku sudah basah lagi.

“Euuu! Goblok! Bunuh, bunuh. Diam kamu!” bentaknya lagi. Aku yakin saat itu situasinya mulai menarik buat orang-orang sekitar. Dan dia sama sekali tidak perduli. “Diam! Kubunuh beneran juga ini anak!”

Ajaibnya aku bisa terdiam. Aku masih terlalu muda untuk mati.

“Minum lagi itu,” perintahnya tanpa membentak. Lalu berdiri begitu melihat sesuatu dari arah jauh. “Ayok berdiri,” katanya sambil memapahku. Kulihat di depan sana sudah ada angkutan yang berhenti. “Bisa bawa motor sendiri, kan?”

Aku mengangguk. Mau tak mau.

***

Diubah oleh kawmdwarfa
pejwan dulu baru baca hehe emoticon-Big Grin
sipp ada cerita fiksi baru, 1 genre ni dengan pomut. pomut izin gentayangan dimari ya gan emoticon-Ngacir2

#PocongImut
Quote:


Monggo gan emoticon-shakehand
Quote:


Monggo gan emoticon-shakehand emoticon-Big Grin
lumayan... ngelapak ah..
Quote:


Monggo gan emoticon-Smilie emoticon-Smilie
PART 4



Beberapa hari sudah berlalu. Badanku masih terasa sakit. Wajahku juga. Bengkaknya belum benar-benar mengempis. Aku mendapatkan trauma yang lumayan karena kejadian itu. Beberapa hari ini aku masih dihinggapi rasa takut. Alhasil, yang kulakukan setiap hari hanya uring-uringan di kamar.

Sialan memang. Aku benar-benar tak menyangka akan mengalami hal seperti kemarin. Bodoh, lebih tepatnya tolol. Buat apa juga aku mengikuti orang itu sampai ke sana. Ya, mungkin aneh, kenapa aku begitu merasa penasaran. Dan aku benar-benar nggak menyangka kalau aku rupanya sekos sama monster berdarah dingin. Dan orang-orang itu menyebutnya pemburu.

Sehebat apa rupanya dia dulu?

Apa aku pindah tempat aja ya dari sini?

“Ang!” seseorang mengetuk pintu kamarku, selagi beberapa orang terdengar bercakap-cakap. Aku masih malas. Pura-pura tidur ajalah.

“Aang!”

‘Toktoktok!’

“Aaaang!!!”

‘TOKTOKTOKTOK!!!!’

“Iyaiya. Bentaar,” aku bangkit juga akhirnya.

Pintunya kubuka. Ada beberapa teman sekolahku, dan semuanya masih mengenakan seragam.

“Kenapa kamu?” salah satunya nampak kaget. Namanya Choki. “Nggak pernah masuk sekolah. Sms nggak dibales. Ditelponin nggak diangkat. Muka bonyok gitu. Ada masalah apa kamu?”

“Masuk aja dulu,” kataku, sambil manjangin leher untuk sekedar melihat ke kamar ujung.

Aku rebahan lagi di kamar. Sementara keempat temanku langsung duduk di dalam. Ada yang langsung menyalakan tv, sisanya masih memperhatikanku dengan raut penasaran.

“Siapa yang ngajar kamu ‘Ang?” Choki bertanya lagi. Dan seketika aku langsung keingat sama kejadian itu. Nggak mungkin juga aku mengaku. Biar sering buat kesal juga aku sayang sama mereka.

“Kamu, Chok. Kayak nggak tau aja. Udah pasti si Hendro lah,” satu orang lagi nimbrung. Namanya Ikmal. Disinggungnya satu orang yang terkenal badung di sekolah kami. Bisa dibilang pentolan, sih. Aku tahu kenapa Ikmal bisa bilang begitu. Dia menduga kalau aku berselisih hanya karena persoalan cewek.

Penjelasannya nanti aja.

“Iya, ‘Ang?” Choki seperti tidak terima.

“Bukaaan. Udahlah. Nggak usah dipikirin.”

“Emangnya kenapa, ‘Ang,” tanya satu temanku lagi. Namanya Dani.

“Aku yang salah. Udah jangan dibahas.”

“Ya salahnya itu kenapa?” cecar satu orang lagi. Namanya Jhon.

“Aku nabrak anjing nyebrang,” kebohonganku terucap begitu saja.

“Hah?! Anjing nyebrang?!”

“Eh! Maksudnya.....anjingnya dibawa sama Nenek-Nenek.”

“Pantesan. Untung aja nggak sampe dibakar kamu,” Choki nyengir.

“Gila kamu, ‘Ang. Trus? Nenek itu gimana?”

“Masuk rumah sakit. Tapi udah damai, kok.”

“Barengan nggak masuk rumah sakitnya?” Jhon melawak. Dan berhasil buat semuanya.

“Sialan.”

“Mau ke mana emang kamu waktu itu?”

“Mmmm... ke tempat Wiwid.”

“Jiaah...kasihannya. Mau kencan malah sial.”

“Udahlah, ah. Malas ngomonginnya. Gimana sekolah? Banyak tugas nggak?”

“Tanya Dani aja, noh,” kata Jhon. Dani ini memang yang paling bisa diandalkan untuk urusan tugas. Paling pintar sendiri. Tulang punggungnya kami berempat.

“Banyak, Dan?”

“Lumayan.”

“Ya udah. Ada yang dibawa nggak bukunya?”

“Ada nih. Dua. Satu lagi di rumah. Pelajaran kemaren soalnya.”

“Gila. Banyak juga ya. Ya udah, sinilah. Soalnya aja dulu. Kali aja bisa sendiri.”

Selain Dani, semuanya langsung nyengir. Merendahkan.

Sialan.

***


Besoknya aku kembali masuk sekolah. Wajahku sudah 95% sembuh, dan psikisku sudah jauh lebih baikl. Tapi tetap saja, sesekali aku masih suka keingat sendiri. Ah, sudahlah. Aku yakin aku akan terbiasa juga nantinya.

Bel istirahat berbunyi. Jam pelajaran kedua sudah selesai. Anak-anak mengajakku mengajakku keluar tapi aku menolak. Mau ke kantin, rasanya belum lapar. Mau lihat orang main volly, rasanya juga malas. Aku berdiri di depan kelas sambil iseng-iseng melihati orang lewat. Hanya sebentar, sampai pandanganku menjauh hingga ke satu kelas di seberang sana, yang terpisah sejarak halaman sekolah.

Di depan kelas itu, dua orang tengah duduk-duduk santai. Posisi kelas itu agak tinggi dari permukaan tanah. Jadinya mereka duduk di pinggir trotoar dengan kaki menjuntai ke bawah. Salah satunya bernama Mita. Anaknya berkulit putih dengan rambut ikal sebahu. Wajahnya cantik. Lakunya pun begitu anggun. Orang-orang sudah tak heran kenapa dia gampang menuai kesima. Dan aku adalah satu di antara mereka. Tapi tak seperti mereka yang sudah berusaha mendekatinya, aku sendiri masih diam.

Takut.

Nah! Masih ingat yang Ikmal pernah nebak kalau aku babak belur karena Hendro? Yap, perempuan inilah alasannya.

“DOR!”

Aku seketika tersentak. Dan orang yang mengagetkanku langsung tertawa. Puas dianya. Namanya Yesi. Teman sekelasku juga.

“Apaan sih.”

“Ngelamun aja kerjanya.”

“Siapa juga yang ngelamun?”

“Oooo. Pantesan.”

“Pantesan apanya?”

“Itu tuuh,” katanya lagi sambil manyun ke arah jauh.

“Eh? Enggak kok. Sok tau ya kamu.”

“Eleee. Pake nggak ngaku lagi. Ingat, kamu itu udah ada Wiwid.”

“Apaan sih.”

“Huuuu,” soraknya. “Ang, ke kantin yuk.”

“Enggak ah. Di sini aja aku.”

“Ayolah. Temenin. Lapar nih.”

“Ya ke sana sendirian aja kenapa sih.”

“Ish! Kamu ini!” katanya sambil menarik tanganku.

“Eh, eh..tunggutunggu,” aku mencoba berontak, tapi Yesi tetap jalan tanpa menggubris. Masih enak-enak udah diganggu aja. Yesi ini memang begitu. Kerap sesuka hatinya, lebih-lebih kalau samaku. Wajar sih. Kami sendiri memang sudah dekat sejak kelas sepuluh.

Aku pun mengalah. Masih berjalan di belakang Yesi, aku menyempatkan untuk melihat ke sana lagi. Mita saat itu tengah tersenyum.

Cantik sumpah.

***

Diubah oleh kawmdwarfa
PART 5


Pulang sekolah, aku beserta anak-anak mampir ke rumahnya Ikmal. Jaraknya dekat dari sekolah kami. Kalau malas pulang ke tempat masing-masing, selain keluyuran memang kami suka mampir ke sana untuk sekedar ngobrol dan tidur siang.

Suasana di rumah Ikmal itu enak. Di belakang rumahnya teduh karena ada banyak pohon. Ada bale-bale dan ayunannya juga. Tahu kan? Ayunan buat tidur yang diikat di dahan gitu? Kami kadang suka berebut untuk bisa tidur di situ. Enak asli. Suatu kali pernah, kami mampir sekitar jam tiga sore. Aku lalu tertidur di ayunan sampai maghrib. Dan aku sudah sendirian ketika bangun. Aku dikerjain.

Sore harinya aku sudah berada di kos. Tiap kali aku pulang, aku masih saja suka keingat suasana waktu itu, di mana ada banyak orang yang berkumpul di sini. Setelah kejadian itu, aku jadi seperti hati-hati jika melewati kamarnya. Kamar orang itu, Eljas, juga berada di lantai atas. Letaknya paling ujung. Selama ini aku selalu mendapati pintunya tertutup. Entah ke mana dia.

Ketika itu sudah maghrib lewat sedikit. Aku lagi bercermin sambil sisiran. Ponselku berbunyi. Rupanya si Yesi.

“Halo, Yes.”

“Ang, malam ini sibuk nggak? Temenin aku cari buku sih.”

“Aku mau jalan sama Wiwid, Yes.”

“Yaah. Mau sih. Sebentar aja kok. Aku harusnya pergi sama kakak, tapi dia juga lagi keluar.”

“Aduuuh. Ajakin yang lain aja sih.”

“Ayolah ‘Ang. Cuma sebentar ini.”

Aku mendecak. “Kamu juga kenapa nggak dari sore sih ngomongnya?”

“Aku lagi ada kerjaan tadi. Gimana? Mau ya? Ya ya ya?”

“Gimana ya?” aku masih ragu.

“Mau dong. Gini, gini. Kamu anterin aku aja deh. Nggak usah ditemenin. Ntar aku pulangnya naik angkot aja.”

“Beneran mau naik angkot?”

“Iya nggak apa-apa. Mau ya?”

“Ya uda deh. Aku bentar lagi ke rumah. Siap-siap sekarang.”

“Yeee. Gitu dong. Makasih ya. Daaa.”

“Daa.”

Dasar, pikirku. Aku pun lanjut sisiran.

‘Tok tok tok.’

“Ya?”

‘Tok tok tok.’

“Siapa?”

‘Tok tok tok.’

“Bentar.”

‘Toktoktoktok!’

“Iyaiya. Bentaarr,” sahutku malas. Nggak sabaran amat jadi orang.

Pintunya kubuka. Dan aku terkejut. Rupanya orang itu.

“Bbb..Bang,” aku mengangguk, seolah kami sedang berpapasan di tengah gang.

“Sehat?”

“Sss...sehat, Bang.”

Diam sebentar.

“Nih,” sambil diserahkannya plastik. Isinya apa, entah.

Plastiknya kuterima sambil tetap menunduk. Aku benar-benar tidak tertarik sama isinya. Itu bisa diperiksa nanti. Yang penting orang ini pergi dululah. Bawaannya jantungan.

“Sorry soal waktu itu.”

“Nggak apa-apa, Bang,” jawabku masih tertunduk.

“Mau ke mana rapi-rapi?”

“Mau ke tempat temen, Bang.”

“Ya udah. Dimakan ya,” katanya sambil menepuk bahuku.

“Makasih, Bang,” kepalaku kuangkat. Entah kenapa, aku memberanikan diri untuk tersenyum padanya. Plastiknya lalu kuletakkan di dalam. Dia tadi bilang kalau ini isinya makanan. Lumayanlah kalau nanti malam kelaperan lagi.

“Oh, ya,” dia datang lagi di saat aku tengah mengunci pintu kamar.

“Ya Bang?”

“Jangan ada orang yang tau ya. Sampe kudengar di kos ini ada yang tau soal kemarin............
..................
..................
kamu mati.”

“................................................”

***


“Udah lama?” Yesi sambil menutup lagi pintu pagarnya.

“Enggak.”

“Yuk,” katanya sambil naik ke boncengan.

“Iya.”

Kami pun berangkat. Jarak toko bukunya lumayan jauh. Beruntungnya, jarak toko buku ke rumah Wiwid sendiri cukup dekat. Oh, ya. Wiwid itu pacarku. Kami jadian ketika libur kenaikan kelas. Aku naik kelas XII dan dia kelas XI.

“Eh! Kamu mau ke mana ‘Ang?!!” suara Yesi menyadarkanku. Di satu perempatan, aku mengambil jalan lurus, yang harusnya berbelok ke kanan. Aku jadi bengong karena kepikiran soal omongan tadi. Sialan memang. Baru aja mau disangka baik, udah main ancam bunuh-bunuh aja dia. Aku nggak tahu seserius apa ancamannya tadi, tapi aku benar-benar nggak tertarik buat nyeritain itu ke orang lain. Benar-benar nggak tertarik. Keingat terus-terusan aja rasanya udah lumayan menyiksa. Kalau bukan leherku yang diinjak, mungkin kepalaku yang bakal diputar sampe patah.

Sialan. Sialan.

“Eh! Iya. Sori sori. Lupa.”

“Lupa? Berapa lama tinggal di sini Maaas?”

“Iya iyaaa, sori.”

Beberapa lama kemudian, kami pun sampai di toko buku. Begitu Yesi turun dari motor, aku langsung melesat menuju ke rumah Wiwid. Belasan menit kemudian aku sampai di depan rumahnya. Aku melapor via sms. Tak lama setelahnya Wiwid pun keluar.

“Lho, udah bawa helm toh Kak?” Wiwid agaknya heran, nggak tahu kalau aku baru ngantar si Yesi.

“Mmmm. Iya nih. Kamu pulangin aja helm kamu. Pake yang ini aja,” reaksiku kubuat sestabil mungkin. Untungnya Wiwid nggak ambil pusing. Dia pun ke dalam lagi buat naruh helmnya.

Malam itu, Wiwid kubawa ke sebuah tempat nongkrong. Selain harganya lumayan pas, tempatnya juga asyik ketimbang tempat-tempat lain yang serupa. Wiwid memesan waffle dan coklat panas. Aku sendiri memesan onion ring sama jus alpukat.

“Eh, Kak Yohan kan udah kelas tiga, udah kepikiran mau kuliah di mana?”

“Mmmm....belum sih Wid. Papa pinginnya aku ngambil jurusan pertanian atau perkebunan gitu. Papa ada temen di Sumatra. Nanti bisa ikut sama dia aja katanya.”

“Enak dong. Kalau aku nantinya pingin...”

“Iya iya,” kusela dia, “kedokteran kan? Udah sering kamu ngomong gitu. Aku udah hapal,” aku senyum. Beda denganku yang lempang-lempang aja dalam menjalani masa sekolah, Wiwid ini udah ngerencanain semuanya. Nanti mau kuliah apa, kerja pinginnya di mana, sampe nikah pinginnya usia berapa.

Wiwid ketawa renyah. “Iya Kak. Jadi pingin cepet-cepet lulus deh.”

“Pasti lulus. Sabar aja.”

“Oh ya. Kakak masih deket sama Kak Yesi?”

“Eh? Deket? Kok tiba-tiba gitu nanyanya?” spontan aku keinget Yesi yang tadi kuantar ke toko buku. Apa aku ngaku aja ya?

“Enggak. Enggak ada apa-apa kok. Aku kadang suka ngelihat aja Kak Yesi sama Kak Yohan itu gimana. Kayaknya dia suka deh sama Kakak.”

Aku terkekeh. “Enggaklah Wid. Kita kan dari kelas satu udah barengan terus. Jadinya udah kayak....Kakak Adik gitulah paling?”

Diam sebentar.

“Mmmmm....sebenarnya tadi itu aku habis nganterin dia ke toko buku,” aku mengaku juga akhirnya. Entah kenapa, mau bohong ke Wiwid itu susah. Rasanya nggak enak. Wiwid anaknya baik, itu jelas. Itulah kenapa terkadang aku suka ngerasa jahat sendiri. Pacaran sama Wiwid, tapi diam-diam juga suka sama perempuan lain.

Maaf ya Wid.

“Aku tau kok,” Wiwid tersenyum. Sama sekali nggak ada raut marahnya.

“Eh? Kamu udah tau?”

“Maksudnya yakin aja, sampai Kakak ngaku sendiri. Biasanya juga Kakak kalau mau jalan nggak pernah bawa helm 2. Jadinya aneh aja.”

“Tapi beneran Wid. Aku tadi dipaksa. Awalnya juga dia minta nemenin...”

“Udah Kaaak,” selanya. Masih tersenyum. “Nggak apa-apa kok.”

“Iya Wid,” aku senyum. Rasanya plong.

Pesanan kami sudah datang. Kami pun makan sambil melanjutkan obrolan kami. Beberapa lama kemudian......

“HALOO.”

Kami menoleh.

Lho! Yesi?!

“Eh, Kak Yesi.”

“Ciye....yang lagi kencan,” katanya sambil nyengir. Sok asik.

“Kamu ngapain ke sini?” jelas saja aku heran.

“Aku mau nongkrong bareng temen. Belum pada dateng tapi.”

“Di sini aja nunggunya Kak.”

“Sip,” jawabnya cepat. Karena meja kami memang khusus pasangan, otomatis dia narik satu kursi lagi dari meja sebelah. Kebetulan kosong.

“Udah lama di sini?”

“Ya...lumayan Kak. Kak Yesi mau nungguin siapa? Pacarnya ya?”

“Enggak kok. Temen. Mmmm....kayaknya enak tuh,” katanya sambil menatap cemilanku. “Mau deh.”

“Pesen sendiri kenapa sih,” hendak kutahan tangannya. Kalah cepat tapi.

“Pelit amat,” sahutnya sambil ngunyah.

“Udah Kak. Nggak apa-apa sih,” Wiwid senyum.

“Tau nih. Pelit amat. Ntar kan mesen lagi yang sama. Habisin deh tuh punyaku,” katanya lagi. Tangannya jalan terus. Cemilanku habis dan minumanku juga ikut disikat. Sisa seperempat gelas.

Wiwid lucu sendiri melihat tingkahnya.

“Mas!” Yesi memanggil pelayan yang lewat.

“Ya Mbak.”

“Pesen ya. Mmmmm...” katanya sambil menatap ke meja. “Waffle-nya masih ada?”

“Ada Mbak.”

“Onion ring-nya masih?”

Pelayan itu hanya mengangguk.

“Ya udah. Aku pesen orange juice ya.”

“Waffle sama onion ring-nya Mbak?”

“Enggak deh. Itu aja.”

Kampret memang. emoticon-Nohope

***

Diubah oleh kawmdwarfa
nebak2 ya, kyakx nih cerita action dipadu romance ya, keep up date gan.. emoticon-Big Grin
Nunut ngiyup Cak, *Kasih spasi antara 'narasi' ama 'dialognya' Gan.... bosen gw mantengin Trit Real, banyak reader Kepo, yg ujung2 nya bikin TS males ngelanjutin Tritnya..

Awas lu TS kalo Trit Fiksi ini kagak lu Tamatin, sampek lu berhenti......
....
....
....
Lu mati...
Diubah oleh gnest4321
Quote:


Silahkan berfantasi Gan. emoticon-Big Grin

Doain aja bisa amanah emoticon-Big Grin
Quote:


Terimakasih sarannya gan emoticon-shakehand

Ampun Gan emoticon-Frown
Sang Pemburu (Fiksi)
Quote:


jadwal apdet nya kapan bang.. ampe tamat yee bang
Quote:


belum berani kasih jadwal gan.

semoga aja sampe tmat gan emoticon-Big Grin
PART 6


Quote:


Hari senin sudah datang lagi. Pagi ini kami belajar seperti biasa. Jam pelajaran pertama adalah bahasa inggris. Kami diam selagi bu guru menerangkan pelajaran. Ya maksudnya nggak semuanya juga. Lihat aja itu si Choki sama si Jhon. Mereka lagi asyik sendiri, dan apa yang mereka kerjakan hampir pasti bisa ditebak. Kalau bukan lagi main game ‘Worm’s World Party’, biasanya mereka lagi nonton bok#p di ponselnya si Jhon: N-G#ge Classic. Dua orang itu bisa bebas karena mejanya ada di sudut belakang. Meja di depan mereka, ada Ikmal yang kayaknya udah tidur beneran, dan Dani yang lagi gambar-gambar nggak jelas di buku paketnya. Aku duduk di depannya lagi. Tetap merhatiin depan, tapi aku aslinya ya ngantuk. Mau tidur susah. Si Yesi pasti nggangguin terus. Ya, aku duduknya barengan sama Yesi. Awalnya dia kusuruh duduk sama orang lain.

Tapi dia nggak mau.

Jam istirahat pun tiba. Kami ke kantin buat beli minuman. Habis itu kami ke depan ruangan lab. Lihat-lihat situasi barangkali ada yang bisa diajak taruhan. Ruang lab itu letaknya berdekatan sama lapangan volly. Banyak yang duduk-duduk di sana kalau lagi jam istirahat.
Dan kami pun terlambat. Sudah ada yang main rupanya. Sama-sama kelas XII tapi dari jurusan IPA. Kami pun menonton sambil menunggu giliran.

“Ang,” Jhon memanggil.

“Oy.”

“Pacarmu tuh.”

“Mana?” jawabku sambil mencari-cari. Benar. Wiwid memang lagi jalan ke arahku. Berdua sama temannya. Melihatnya Jhon jadi semangat. Kenapa? Soalnya dia ini lagi naksir sama temannya si Wiwid.

“Wid, Wid. Kasihannya kamu sayangku,” Choki pura-pura menyesal.

“Ta#k! Udah diem kamu. Denger orangnya nanti.”

“Hey Kak.”

“Hey. Mau ke mana? Kantin?”

“Hmmpph. Kakak udah makan?”

“Belum...tapi ini udah beli minum kok.”

“Yeee...makan ya makan. Minum ya minum. Nggak nyambung deh,” Wiwid senyum.

“Iya. Nanti aja. Belum laper.”

Di sebelahku anak-anak lagi pada kasak-kusuk. Dan aku bisa dengar kalau mereka lagi meyakinkan Jhon buat cepat-cepat ‘bertindak’. Choki membantunya. Langsung nempel samaku sebelum berbisik, “Ang, tahan aja si Wiwid di sini.”

“Hah? Oh..” aku senyum.

“Ya udah. Ke kantin bentar ya Kak.”

“Tunggutunggu....mmmm...sini dulu deh.”

“Kenapa Kak?”

“Mmmm....sini aja dulu. Ada yang mau kuomongin,” karangan bebas.

“Bentar doang kok.”

“Udah. Sini aja dulu. Penting. Mmm...Cici biar sama Jhon aja. Ntar Jhon yang beliin.”

Wiwid dan Cici saling pandang. Sama-sama ragu.

“Nggak apa-apa kan Ci?” kataku.

“Iya Kak.”

“Ya udah deh,” Wiwid duduk lagi di sebelahku.

“Mau apa Wid? Roti sama minum aja kan?” kata Jhon. Rautnya antusias.

“Iya Kak.”

“Oke,” jawabnya.

“Hajaaar,” Choki berteriak. Jhon yang sudah beberapa langkah berjalan langsung mengangkat jempolnya ke udara. Anak-anak pun cekikikan.

“Mau ngomong apa Kak? Penting banget kayaknya.”

Aku terkekeh. “Enggak. Itu si Jhon lagi naksir sama temenmu, makanya dia pingin jalan ke kantin barengan si Cici.”

“Oooo,” Wiwid senyum. “Kirain. Emang udah berapa lama Kak Jhonatan sukanya?”

“Mmmmm...lumayan lama sih.”

“Kakak nggak bilang. Tau gitu kan bisa kubantuin.”

“Iya bantuin aja. Bilang aja yang baik-baik soal si Jhon.”

“Tapi memang beneran baik kan?”

“Baik kok,” jawabku. Padahal ngerti kalau si Jhon aslinya suka main judi.

Obrolan kami berlanjut lagi dengan tema yang berbeda. Beberapa lama kemudian, aku pun melihatnya. Itu dia. Mita. Dia berjalan ke arah kantin. Berdua bersama temannya. Ah, sial. Entah kenapa aku malah jadi resah sendiri. Pinginnya itu ya...dia ngelihat aku pas lagi sendirian, bukannya bareng Wiwid gini. Aku tahu itu nggak ada pengaruhnya karena kami nggak saling kenal. Tapi ya itulah.

Cantik banget.

Mita....kamu anaknya siapa sih? emoticon-Genit

***
Diubah oleh kawmdwarfa
PART 7


Masih di hari yang sama.

Pulang sekolah kami mampir ke rumah Ikmal. Kami nongkrong di bale-bale, dan masing-masing udah pada singletan biar sepoinya angin makin berasa. Seorang ibu bersikap baik terhadap teman-teman anaknya itu wajar. Begitupun dengan ibunya Ikmal. Sebelumnya kami sering dimasakin indomie rebus, atau ubi goreng dan segala cemilan yang bangsanya kriuk-kriuk kalau dikunyah. Dan kali itu, kami dihidang seteko es teh dan sepiring kembang loyang. Pelengkapnya sendiri berupa sebuah gitar Kap#k seri lama. Otomatis ngobrol pun kami lakuin ketika kami lagi jeda bernyanyi.

Choki jadi pengiring pertama. Kami pun langsung nyanyiin dua lagunya D’Masiv. Aku ngikut pas di reff-nya aja. Liriknya aku nggak gitu hapal.

“Chok, gantian Chok,” Ikmal mengulurkan tangannya. Gitar pun berpindah. “Ntar malam pada mau ke luar nggak?” kata Ikmal lagi sambil memetik-metik. Semacam intro tapi aku nggak tahu itu arahnya ke mana.

“Terserah,” Jhon menyahut sambil rokokan.

Quote:


Gitar kembali digilir. Dan kali ini Jhon yang jadi pengiringnya. Sama. Dua lagu. Satu lagu Dewa-19, satunya lagi lagu Tic Band. Setelah itu baru giliranku. Aku mulai memetik part intro. Dan semuanya lebih-lebih Choki langsung berubah malas. Alasan mereka cukup jelas. Sudah hapal mereka kalau lagunya bakal kuplesetkan.

“Ini lagi ini lagi,” Choki nyeletuk.

“Bentarbentar. Pertamanya aja,” kataku sambil menarik badan. Gitarnya mau diambil sama si Choki. Dan aku pun mulai menyanyi. “Mi ta ada lah anugerah yang kuasa yang bi la terasa.....”

“Gantigantiganti!!” Choki merebut lagi gitarnya.

“Sial,” aku tersenyum.

“Orang kalo suka itu ya ngomong,” Choki nyeletuk lagi. “Mitamitamita.”

“Nantilah. Selo aja.”

“Udah dari kapan kamu ngomong gitu? Bukannya ngomong malah diem aja. Takut kamu sama si Hendro?”

“Enggaklah. Orang belum jadi pacar siapa-siapa juga. Sah-sah aja kan?” aku berkelit. Pertanyaannya Choki bisa benar bisa salah juga. Maksudnya, aku sekarang sedang tidak dalam posisi takut sama siapapun. Tapi kalau ditanya jujur apa aku berani sama itu orang, ya sebenarnya enggak juga.

“Sah sah pantatmu belah pinggir. Mbok ngaca nyet. Dianya iya belum punya siapa-siapa. Lha kamu? Yang mau ndeketin?”

Iya juga ya, pikirku. Aku pun nyengir.

“Udahlah. Putusin aja si Wiwid daripada kamu mainin. Dikira aku nggak mau apa,” Choki nyengir lagi.

“Mbok ngaca nyet. Kamunya iya mau sama dia. Lha dia? Mau nggak sama kamu?” Jhon membantuku. Minjam jurus.

Kami pun tertawa.

“Ya ‘Ang. Maju aja udah. Kalau tampang gantengan kamu kok. Dikit. Menanglah pasti,” kata Dani enteng. Entah muji entah ngeledek dia ini.

Choki tiba-tiba serius. “Tapi bener ‘Ang, soal kemaren nggak ada hubungannya sama itu anak?”

“Soal yang mana?”

“Ya yang kamu bonyok itu.”

“Enggaaaak. Lagian kalaupun memang iya, kamu mau ngapain? Mau ngajar dia gitu?”

“Enggaklah. Itukan urusanmu.”

“Ta#k. Gayanya aja yang setia kawan. Trus kamu ngapain nanya-nanya itu terus?”

“Ya mau tau aja.”

“Sial.”

“Denger ya. Aku itu nggak takut sama si Hendro.”

“Kalau sama Abangnya?” Jhon bertanya sambil tersenyum.

“Kalau itu baru.”

Jhon ketawa. “Ya sama aja nyet. Ujung-ujungnya kamu jadi takut juga kan sama si Hendro?”

“Ya Bedalah. Eh, si Hendro juga nggak bakal ada yang takut kalau nggak bawa-bawa Abangnya terus.”

“Ya kamu juga aneh. Secara gitu, geng motor. Temennya aja dibela sampe mati, masa iya adik sendiri dibiarin gitu aja,” kata Ikmal.

“Nah. Itu dia masalahnya. Tapi bener deh, kalau cuma Hendro sama anak-anaknya di sekolah, aku masih beranilah.”

“Iya Chok. Percaya, percaya. Udahlah, jangan mikir yang aneh-aneh. Udah kelas tiga ini,” Dani berpetuah.

“Jhon,” Ikmal mengulurkan tangannya. Minta santingan rokok.

“Nyalain sendiri aja napa sih.”

“Udaaah. Sekali aja,” katanya lagi. Jhon yang dipaksa pun menurut. Ikmal langsung menghisap rokoknya dengan arsikan yang cukup dalam. Dan belum lagi asapnya sempat dihembus, tiba-tiba....

“Kunci motor mana, Mal? Ibu mau keluar sebentar,” ibunya tiba-tiba langsung mendatangi kami.

Ikmal seketika membelalak. Dia menahan asap sedangkan kami langsung nahan ketawa. Secepat mungkin Ikmal langsung meraba kantung celananya. Kemudian ia nampak kaget. Sadar kalau ternyata kuncinya dipegang oleh Choki. Karena malas berada di depan, tadi ke sininya Choki yang disuruh mbonceng.

Ibunya sudah mulai dekat. Sementara Ikmal dan Choki mulai beradu kecepatan tangan.

“Hmmph! Hmpph!”

“Apa? Kamu itu ngomong apa sih?” sambil menepis tangan Ikmal, Choki berkelit dengan cengiran kuda bertanduk setan alas. Asli kami ngakak.

Ikmal melotot. Kalau rautnya boleh diterjemahkan, mungkin jadinya seperti, “Chok, udah Chok. Ampuun. Mulai panas ini.”

“Apa sih? Mana ada samaku,” Choki terus menahan Ikmal yang ingin menggeledahnya.

“Udah buang aja Mal. Pake ditahan-tahan lagi,” kataku.

Ibunya sudah berdiri di depan kami. “Mana sini kuncinya.”

“Hmmm! Hmmm!” Ikmal masih berusaha.

“Mana sini!” ibunya mulai mendesak.

“Hmmph! Hmmmph! Hmpph!” Ikmal benar-benar minta ditolong. Choki nggak perduli. Kami tetap tertawa dan perutku mulai sakit.

“Buruan Ikmal!!”

‘Gulp’

“Ini Bu, sama si Choki kuncinya.”

Lho? Kok ilang?

***
Diubah oleh kawmdwarfa
Halaman 1 dari 5


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di