alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/57972f8c96bde6d41f8b4567/bagi-bung-karno-ini-bukan-sembarang-lukisan
Bagi Bung Karno, ini Bukan Sembarang Lukisan
MEDIANYA hanyalah selembar triplek. Lukisan itu menjadi latar saat proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan.
Wenri Wanhar - Jawa Pos National Network
Bagi Bung Karno, lukisan itu amat bernilai. "Ini sebuah simbol bangsa Indonesia yang terus…terus…terus bergerak maju. Paulatim longius itur!"
Lukisan itu pertama dilihatnya pada 1943, saat pameran senirupa di Keimin Bunka Sidosho (Pusat Kebudayaan Jepang), Jakarta.
Usai pameran, Si Bung menyambangi Henk Ngantung si pembuat lukisan yang tempo hari mencuri perhatiannya.
Melihat lukisan itu teronggok di sebuah sudut, sambil menunjuk ia berseru, "aku ingin membeli lukisan itu."
"Lukisan itu sebenarnya belum selesai," jawab Henk. "Bagian lengan si pemanah belum sempurna."
"Engkau pasti bisa menyelesaikannya sekarang juga!" sahut Si Bung penuh hasrat.

"Untuk menyelesaikannya harus ada model," Henk menawar pinta.
"Aku, Soekarno, akan jadi modelnya…"
Saksi Revolusi Indonesia
Senarai dialog di atas, digubah dari tulisan Agus Dermawan T, konsultan koleksi benda-benda seni istana-istana presiden yang termuat dalam buku Bukit-bukit Perhatian: Dari Seniman Politik, Lukisan Palsu sampai Kosmologi Seni Bung Karno.
Menurut cerita Agus, kisah itu disampaikan langsung oleh Henk Ngantung pada dirinya bulan September 1991.
"Dalam beberapa puluh menit proses memperbaiki lengan pemanah itu pun selesai," kata Henk Ngantung sebagaimana dinarasikan kembali oleh Agus Dermawan.
Bung Karno bergegas pulang membawa lukisan di triplek berukuran 152x152 cm tersebut. Langsung dipajang di beranda rumahnya di Jl. Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta Pusat.
Tak sakadar saksi bisu obrolan-obrolan Soekarno dengan para sekondannya, lukisan itu menjadi latar saat kemerdekaan Indonesia diproklamirkan.

Dan ia kembali menjadi latar saat pemerintahan Republik Indonesia menggelar konferensi pers untuk pertamakali.
Lukisan berjudul Memanah itu masih tersimpan di Istana Negara, Jakarta. Sudah rusak. Di beberapa bagian, tripleknya mengelupas dan catnya rontok.
Pun demikian, bila tak ada aral melintang, lukisan legendaris tersebut akan dipamerkan sepanjang Agustus 2016 di Galeri Nasional, Jakarta Pusat dalam pameran bertajuk 17:71--Goresan Juang Kemerdekaan . (wow/jpnn)


sumber ; http://m.jpnn.com///read/2016/07/26/456600/news.php?id=456600&page=3Bagi Bung Karno, ini Bukan Sembarang LukisanMEDIANYA hanyalah selembar triplek. Lukisan itu menjadi latar saat proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan.
Wenri Wanhar - Jawa Pos National Network
Bagi Bung Karno, lukisan itu amat bernilai. "Ini sebuah simbol bangsa Indonesia yang terus…terus…terus bergerak maju. Paulatim longius itur!"
Lukisan itu pertama dilihatnya pada 1943, saat pameran senirupa di Keimin Bunka Sidosho (Pusat Kebudayaan Jepang), Jakarta.
Usai pameran, Si Bung menyambangi Henk Ngantung si pembuat lukisan yang tempo hari mencuri perhatiannya.
Melihat lukisan itu teronggok di sebuah sudut, sambil menunjuk ia berseru, "aku ingin membeli lukisan itu."
"Lukisan itu sebenarnya belum selesai," jawab Henk. "Bagian lengan si pemanah belum sempurna."
"Engkau pasti bisa menyelesaikannya sekarang juga!" sahut Si Bung penuh hasrat.

"Untuk menyelesaikannya harus ada model," Henk menawar pinta.
"Aku, Soekarno, akan jadi modelnya…"
Saksi Revolusi Indonesia
Senarai dialog di atas, digubah dari tulisan Agus Dermawan T, konsultan koleksi benda-benda seni istana-istana presiden yang termuat dalam buku Bukit-bukit Perhatian: Dari Seniman Politik, Lukisan Palsu sampai Kosmologi Seni Bung Karno.
Menurut cerita Agus, kisah itu disampaikan langsung oleh Henk Ngantung pada dirinya bulan September 1991.
"Dalam beberapa puluh menit proses memperbaiki lengan pemanah itu pun selesai," kata Henk Ngantung sebagaimana dinarasikan kembali oleh Agus Dermawan.
Bung Karno bergegas pulang membawa lukisan di triplek berukuran 152x152 cm tersebut. Langsung dipajang di beranda rumahnya di Jl. Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta Pusat.
Tak sakadar saksi bisu obrolan-obrolan Soekarno dengan para sekondannya, lukisan itu menjadi latar saat kemerdekaan Indonesia diproklamirkan.

Dan ia kembali menjadi latar saat pemerintahan Republik Indonesia menggelar konferensi pers untuk pertamakali.
Lukisan berjudul Memanah itu masih tersimpan di Istana Negara, Jakarta. Sudah rusak. Di beberapa bagian, tripleknya mengelupas dan catnya rontok.
Pun demikian, bila tak ada aral melintang, lukisan legendaris tersebut akan dipamerkan sepanjang Agustus 2016 di Galeri Nasional, Jakarta Pusat dalam pameran bertajuk 17:71--Goresan Juang Kemerdekaan . (wow/jpnn)


sumber ; http://m.jpnn.com///read/2016/07/26/456600/news.php?id=456600&page=3
Bukan sembarang lukisan, bagi pemuja Marhaen dan Komunis kali y?
kayaknya di istana bogor banyak peninggalan karya seni yang di koleksi sama bung karno..
udah lupa2 ane apa aja, kayak lukisan, patung, buku2 lama atau sejenis.. sempat tahun 2012an main ke sana n diceritain sampe detail sama penjaganya..
Naes impoh gan emoticon-Traveller
Lukisan hati
Lukisan orang bekerja daj berkeringat melulu kesukaan beliau perasaan teh ya gan?
emoticon-Matabelo