alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/57970e32529a45d63b8b4579/satu-lahan-empat-pemilik
Satu Lahan Empat Pemilik
Satu Lahan Empat Pemilik

Metrotvnews.com, Jakarta: Lahan di Cengkareng Barat diperebutkan empat pemilik. Lahan yang berada di pinggir Jalan Kamar Raya menuai polemik setelah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menyatakan ada kejanggalan pembelian lahan oleh Dinas Perumahan dan Gedung Pemda DKI dari seorang bernama Toeti Noezlar Soekarno senilai Rp668 miliar.

 

Berdasarkan laporan hasil pemeriksaan keuangan BPK atas laporan keuangan Pemprov DKI 2015, pembelian lahan di Cengkareng Barat, itu mengindikasikan kerugian negara. BPK menyebut lahan yang diklaim milik Toeti sebenarnya milik Pemprov DKI melalui Dinas Kelautan Pertanian dan Ketahanan Pangan (DKPKP). Bukti kepemilikan Pemprov DKI berbentuk Girik C.

 

Bekas Sekretaris Lurah Cengkareng Barat Jufrianto Amin menjelaskan, pada 1965, Dinas Pertanian Rakyat DKI Jakarta menyewa sebidang tanah kosong milik masyarakat seluas sekira 11,8 hektare di pinggir Jalan Kamal Raya, Jakarta Barat. Dinas Pertanian itu kini berubah menjadi Dinas Kelautan, Pertanian, dan Ketahanan Pangan.

 

Lahan itu, terdiri dari tujuh girik. Pada 1967, Dinas baru membeli lahan yang dikenal dengan Rawa Bengkel di RW 07 Kelurahan Cengkareng Barat, itu buat membangun kebun bibit. Dari tujuh hanya enam girik yang dibeli.

 

Rinciannya, atas nama Oei Eang Nio Girik C 1205 Persil 82b SIV dengan luas tanah 2.000 meter persegi. Lalu, Ayani Ahyar Girik C 1332 Persil 120 SIII dengan luas 840 meter persegi, Persil 83a S II dengan luas tanah 1.420 meter persegi. Kemudian Iskandar Girik 1168 Persil 83 b SII luas tanah 1.630 meter persegi dan Persil 30 S II dengan luas tanah 4.420 meter persegi.

 

Disusul Haji Achayar Girik C 1342 Persil 83 b S II dengan luas tanah 2.660 meter persegi. Lalu, Mugeni B. Muhamad Girik C 1619 Persil 60S III dengan luas tanah 940 meter persegi. Terakhir atas nama Oei Pek Liang Girik C 924 Persil 76 S III dengan luas tanah 3.2850 dan Persil 76 SII dengan luas tanah 1.7700 meter persegi.

 

Sementara Toeti mengklaim memiliki kuasa atas lahan Cengkareng Barat seluas 46.913 meter persegi, atau sekira 4,6 hektare. Toeti mengantongi bukti kepemilikan berupa tiga Sertifikat Hak Milik (SHM).Tiga SHM itu masing-masing No 13069/Cengkareng, SHM No 13293/Cengkareng, dan SHM No 13430/Cengkareng.

 

Melalui kuasa hukum Toeti, Ulhaq Andhiyaksa mengajukan gugatan kepada Pemprov DKI lantaran mengklaim dan memasukan lahan tersebut dalam catatan aset DKI. DKPKP memasukkan lahan Cengkareng Barat seluas 4,6 hektare sebagai aset Pemprov DKI dalam Kartu Inventaris Barang (KIB) per 31 Desember 2015.

 

Iskandar Dinata dan Dedih Alamsyah, ahli waris almarhum Haji Matroji, mengklaim memiliki bukti kepemilikan tanah Cengkareng Barat seluas 11,8 hektare. Bukti itu berupa dokumen Perjanjian Perikatakan Jual Beli (PPJB) dengan Toeti.

 

Mendiang Haji Matroji diklaim lebih dulu membeli tanah 11,8 hektare dari Toeti pada 2008, sebelum dijual kembali oleh Toeti kepada Dinas Perumahan dan Gedung Pemda DKI pada 5 November 2015.

 

Kuasa Hukum Iskandar, Guruh Marda menjelaskan, pada 1965 seorang bernama Koen Soekarno Sugono membeli lahan seluas 11,8 hektare dari masyarakat. Ada tujuh girik yang dibeli Koen.

 

Pada 1967, Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) di bawah Departemen Pertanian melakukan perjanjian konsesi dengan Koen. Konsesi menyepakati pemberian izin sewa kepada Kanwil untuk melakukan pembibitan. Konsesi disepakati berakhir pada 1985.

 

"Dulu namanya masih Kanwil di bawah Departemen (Pertanian) belum ada Dinas. Setelah Kanwil dan Dinas menyatu tidak ada pembahasan soal perpanjangan konsesi," jelas Guruh saat ditemui Metrotvnews.com di kawasan Jakarta Barat, beberapa waktu lalu.

 

Pada 1997, Koen melayangkan surat kepada Dinas Pertanian Rakyat dan Departemen Pertanian terkait perpanjangan konsesi. Kata Guruh, Dinas Pertanian Rakyat menyampaikan surat dari Departemen pertanian untuk menghentikan konsesi.

 

"Pada 1997 dikeluarkan surat intansi terkait yang menyatakan bahwa departemen pertanian terkait masalah pembibitan di lokasi, mengeluarkan surat bahwa tidak melakukan lagi perpanjangan," terang dia.

 

Pada 2008 Koen meninggal. Kepemilikan lahan Cengkareng Barat diwariskan Kepada Toeti. Di tahun yang sama, barulah terjadi jual beli lahan Cengkareng Barat antara Toeti dengan Haji Matroji.  Pada 2012 Haji Matroji meninggal, kepemilikan lahan Cengkareng Barat diwariskan kepada anaknya, Iskandar Dinata dan Dedih Alamsyah‎.

 

Di luar itu ada nama Deddy Budiman. Ahli waris dari Lie Goan Thiam ini mengaku sebagai pemilik lahan yang sah. Deddy memegang bukti kepemilikan berupa Girik C Nomor 1033 Persil 82a S.II dan Persil 82b S.III seluas 90.541 meter persegi atau sekitar 9 hektare.

 

Girik milik Deddy merupakan hasil konversi tiga Eigendom Verponding Nomor 8012, 5769, dan 5604 yang dikeluarkan pemerintah Hinda Belanda pada 22 Januari 1906 atas nama Lie Kian Tek. Deddy masih dalam garis keturunan keluarga Lie.

 

"Pemilik yang sah itu saya. Saya punya bukti, bukti Pemprov itu mana? Kalau ada sertifikat itu ngga benar. Sertifikat DKI buatan Tarso (Bekas Lurah Cengkareng barat), dia penipu. Dia dapat duit dari Rudy (Hartono) Iskandar sama Aan (Yusuf Hadiman). Mereka berdua yang mengatur semuanya," beber Deddy saat ditemui Metrotvnews.com di kawasan Harmoni, Jakarta Barat.

 

Kepala Humas dan Kerja Sama Luar Negeri Badan Pemeriksa Keuangan, Yudi Ramdan, mengungkapkan, pihaknya masih meginvestigasi buat mencari siapa pemilik tanah sebenarnya. Yudi mengatakan, laporan hasil pemeriksaan (LHP) BPK atas laporan keuangan Pemerintah Provinsi DKI 2015 hanya menemukan adanya penyimpangan.

 

"Laporannya hanya melihat ada dugaan penyimpangan. Ada pembelian atas tanah (Pemprov DKI) sendiri.  Tetapi bagaimana, siapa (pemilik tanah), apakah itu merugikan negara itu prosesnya masih diinvestigasi," kata Yudi kepada Metrotvnews.com, Senin 25 Juli.

 

Yudi menegaskan hasil pemeriksaan BPK atas laporan keuangan Pemprov DKI masih pada tahap adanya indikasi peyimpangan dalam pembelian tanah di Cengkareng Barat. Yudi belum dapat memastikan sampai kapan investigasi rampung. Dia bilang, investigasi bergantung pada kuantitas dan kualitas data yang dikumpulkan tim.

 

"Sangat tergantung pada kedalaman data dan bukti di tim yang lagi investigasi di Cengkarengh Barat. Kita kan harus mengklarifikasi semua hal.  Sampai saat ini belum diketahui (pemilik sah), karena tim masih bekerja," kata Yudi.

 

Sumber : http://news.metrotvnews.com/read/201...-empat-pemilik

---

Kumpulan Berita Terkait PEMBELIAN LAHAN CENGKARENG :

- Satu Lahan Empat Pemilik Satu Lahan Empat Pemilik

- Satu Lahan Empat Pemilik Gozali Mengaku Dapat Rp5 Juta Dari Penerbitan Sertifikat Lahan Cengkareng Barat

- Satu Lahan Empat Pemilik BPK Buru Pemilik Sah Tanah Cengkareng Barat

gila ruwetnya.
puyeng dah ngusutnya... pemprov jadi korban karena kusutnya administrasi pertanahan