alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/579703ba1cbfaa601d8b4567/nusasila-a-fallout-based-fanfiction
Nusasila [ Pasca-Keruntuhan Sebuah Negeri Kepulauan]
Nusasila [ Pasca-Keruntuhan Sebuah Negeri Kepulauan] (terinspirasi dari game Fallout)
mengandung bahasa kasar (+17)









“berat banget ini tas, bangke!”
gerutu seorang pemuda ditengah daratan Jakarta (wilayah dipulau Jawah) yang luluh lantak dan telah diambil alih oleh tanaman besar, lumut dan jamur.
“hhhhhhyyyyaaaakkk!!!”
“aaaaiiee!”
“tembak sisi kanannya!”
dari kejauhan ia mendengar pekikan teriakan dari jauh, lalu mulai merunduk, merendahkan badannya.
“anjir, siang-siang begini masa ada taring belang!?”
ia lalu mengendap menuju bekas ruko yang telah hancur, lalu menaruh tasnya disalah satu ruangan, dan menguburnya dengan sedikit tanah, dan puing. Ia menandai wilayah itu di sebuah layar dalam gelang canggih yang melingkar ditangan kanannya.
“cepet cepet! Ini uniwatch harus diganti kayaknya dah, aduh mulai ngelag gini”
‘bzzzt, cnut, nut, nut, nit, bzzt’
‘drrreeett!, boomm!!jeduar!blgem!’
“gile suaranya deket inimah!”
ujarnya, sambil bergegas lari menuju sumber suara. Sesampainya disumber suara, dia mengendap-endap mencari tempat persembunyian yang aman.

“rame aja ini gile!”
7 orang yang memakai pakaian militer dilapisi armor berwarna merah yang dicat asal-asalan, lengkap dengan senjata yang lumayan menengah keatas, sedang ‘bergulat’ dengan seekor binatang berkaki 4 dengan tinggi badan mencapai 3 meter, dan panjangnya hampir 10 meter, dan sedang mencoba kabur.
“gila! Ini komodo yang si Ibenk bilang itu!? Buseh serem amat!”
katanya dengan penuh kekaguman dan ketakutan.
“hhnnngyyaaahh!!”
komodo itu melengus, dan mulai menyerang balik, ia melontarkan ludah dari mulutnya kesalah satu prajurit itu’ppffsst!’
“arrgghh!”
armornya terkena ludah makhluk itu, lalu ia buru buru melepasnya.
”awas! kepung dia!!”
Bermodal senapan jala listrik, 2 orang mencoba mendekati bagian buntut makhluk itu,
‘cring! Zlezeb!’
mereka tewas seketika, tertusuk buntutnya yang membelah menjadi 2, lalu mengeluarkan jarum seukuran pensil namun sangat amat panjang. Ia berbalik, lalu melempar 2 mayat prajurit itu kearah prajurit lainnya, lalu mencoba untuk kabur dengan mengambil langkah seribu, dan berhasil.
“jangan dikejar!”
‘gdpak,ktpak,gdpak!’
seseorang datang dengan menunggang kuda yang unik; kudanya berkaki 6, 4 kaki depan, 2 kaki belakang. Badannya sangat kekar dan gagah dilapisi kulit dan rambut yang berwarna hitam.
“biar saya sama pasukan saya yang kejar!”
kata penunggang kuda itu. Datanglah 4 orang temannya dengan menunggang kuda yang sama, tapi lebih kecil bila dibandingkan kuda si komandan.

“Menteng Merah, terimakasih sudah bekerjasama dengan kami”
kata sang komandan sambil mengeluarkan pecut besinya, ‘brrr’ lalu menekan tombol yang ada di gagang pecut itu untuk membakar pecut besi tersebut.
“apa maksud-“
‘bltar!!’ ‘fwumng!’ ‘clttarr!’
3 orang prajurit seketika terkapar, terbakar, bahkan 1 orang badannya terbelah 2.
“APA-APAAN INI HEY!?” “BAJINGAN!”
kata prajurit yang tersisa sambil berhamburan sekaligus menembakkan senjatanya kearah para penunggang kuda.
‘dsiw!!’ ddssiww!’ ‘dredddeeret!’ ‘dedddeedderr!’
Tanpa memikirkan peluru-peluru yang mengarah kearah baju baja mereka, sang komanda berkuda berteriak
“KALIAN ADALAH ASET YANG DAPAT DIHABISKAN! DAN KALIAN BARU SAJA HABIS, KAWAN!!”
2 orang penunggang kuda yang lain mengambil senapan sniper mereka
‘JDBUM! BDAM!’ ‘cprraatt!!’
Prajurit yang lari tadipun langkahnya terhenti, sementara yang lainnya langsung roboh ketanah dengan keadaan kepala yang pecah, dan otak terburai keluar dijalanan.
“anjing! Sadis banget!!”
kata si pemuda yang sedaritadi melihat aksi mereka dengan nada berbisik yang agak nyinyir.
“ayo jalan, kawan!” si komandan pasukan itu lalu bergegas memecut tali pelana kudanya disusul oleh 4 orang lainnya “hyyaa!” ‘gdpak!gdpak!ktpak!’
langkah kudanya terlihat berat, namun kuda yang gagah itu tanpa disadari sudah berada diujung jalan.
“mereka itu bukannya Pattimura ya? Pasukan resmi pemerintah di Sumantra kan? Mau apa mereka kemari?” gumamnya sambil keluar dari persembunyian.
Tanpa pikir panjang, pemuda itu mengais barang-barang yang ada dimayat para prajurit itu
“lumayan”
ujarnya sumringah
“bisa buat diteliti, wehehehe”
‘ckrek’
tiba-tiba, kepalanya ditodong oleh pistol yang siap tembak. Seraya langsung mengangkat tangannya, pemuda itu menyerah.

“hina… hina… sayang banget kalo kepala lo ini harus pecah sekarang, kambing!”
Lalu dia menoleh
“bangke lo Benk! Bikin gue kaget aja!”
kata dia sambil berdiri, lalu meninju bahu temannya itu.
“wahaha, lagian serius amat ngejarahnya bos, kayak freeman aja lau!” kata Ibenk sambil tertawa
“hhh.. Dennis, Dennis… hidup udah enak, malah ngabur-ngabur kemana-mana lo. Orang kaya emang ada-ada aja dah kelakuannya. Seterah lo deh Den!” kata Ibenk sambil membantu melucuti peralatan mayat-mayat yang tergeletak itu.
“yee ngaco lo, yang kaya Oom gue, gue cuma kerja sama dia. Abis gue juga bosen dibelakang dapur mulu, masak mulu. Lo ga tau kan baunya daging kumbang buta kayak apa sebelum diolah? Gue jamin bakal pusing lo nyium baunya!” balas Dennis sambil sibuk membuka sarung pistol dari mayat itu.
“uuh! Kembang buta mantap itu rasanya anjir!!” khayal Ibenk sambil matanya menatap langit.
“iya enak kalo udah dipiring, lah gue yang masak, buseeh! Susah!!” tandas Dennis dengan nada lirih. “makanya gue bilang Oom gue buat ikut sama tim ekspedisi, provisioner, cari bahan mentah buat menuhin stok daging mentah sama sayuran.” Lanjutnya.
Dennis memiliki perawakan tinggi, berusia 25 tahun. Rambutnya yang agak ikal, badan kurus, dan hidung yg ‘jembatannya’ agak patah kekanan dan bangir ini, juga memiliki warna kulit pucat, dilapisi rambut-rambut yang tumbuh lumayan lebat diantara setiap jengkal kulit tangan, dan kakinya, membuat warna kulitnya sekilas seperti abu-abu. Dennis pandai memasak; dari masakan yang memang semestinya dimasak(seperti daging dan sayur mayur seperti wortel, dan daun bawang) sampai ilalang, dan rerumputan yang warnanya pun sudah tidak hijau lagi, ia dapat memasaknya hingga (entah) menjadi makanan yag layak dimakan. Bahkan, hampir tumbuhan apapun yg ditemukannya(apalagi jamur) dijalan, Ia bisa mengakalinya.

Berbekal senjata laras panjangnya yang lumayan unik: bisa menghantarkan arus listrik tegangan tinggi yang bisa memanggang otak sekaligus tengkoraknya sampai matang dengan jarak maksimal 20 meter, hanya dengan bermodal tuas pompa yang ada disisi kirinya seperti mainan anak-anak sebelum perang. Dia juga membawa kujang, pisau kecil yang lebih dimiliki seseorang dengan alasan artistik. Ia menggunakan pisau itu untuk menguliti hewan. Sangat amat tajam.
Pakaiannya selalu sederhana: kadang hanya kaos oblong dan jaket tipis yang sudah agak lusuh, dan samasekali tidak melindunginya dari badai puing, panas matahari, dan lain-lain(mengingat cuaca Jakarta dengan kondisi barunya sangat mematikan). Kadang hanya memakai kaos lengan panjang dan celana pendek sedengkul, lalu sepasang sepatu lari berwarna hijau.
Pamannya Dennis, Ded Artupas membuka sebuah restoran bernama ‘Jayamahe’ diwilayah selatan Jakarta yang notabene ditinggali oleh para petinggi dari setiap faksi. Dari mulai tim ekspedisi Brotherhood of Steel Jawah, sampai Kepala Kampus(organisasi yang membuat, memakai, dan menjual obat-obatan kimia sendiri) Daerah. Setelah berkutat 5 tahun di dunia kuliner pasca keruntuhan dunia, Dennis dan pamannya mencoba mengembangkan usahanya dibidang kuliner (lebih kearah gengsi kuliner mungkin; orang yang makan di restoran pamannya kebanyakan adalah orang terpandang dan para Rantauan, pedagang kaya lintas pulau yang ada hubungannya dengan faksi Kampus yang singgah di Jawah), dan berhasil membuka 2 restoran ( 1 dilengkapi dengan penginapan, satu lagi berupa kedai). Karena beranggapan “manusia itu rakus, apa saja yang kita sajikan diatas meja, pasti dimakan. Asal penyajiannya benar, menarik, dan tak ribet, tanah diberi kecap pun bakal mereka puja setinggi langit dan dimakan dengan lahap.”, paman Ded terus mengembangkan usahanya bersama Dennis yang menjadi juru masaknya.

Istri paman Ded, Ise, yang bertindak sebagai bos restoran sekarang, mmpunyai jaringan yang sangat luas, mulai dari jago jotos di Freeman, sampai para pengguna Power Armor yang menggunakan minigun di BoS. Tak heran, selama 5 tahun terakhir, penjagaan ketat selalu menyelimuti berbagai penjuru restoran yang luasnya hampir 200 meter persegi, ditambah pintu masuk berjarak 20 meter(makin menjauh, dan makin banyak darah, jika tak dibersihkan) dari tempat makan utama; menghindari berbagai macam ancaman makhluk yang tak diinginkan, mulai dari gerombolan kelinci yang bermutasi, dan mencoba mencari teritori baru(kadang juga jadi pemasok bahan makanan yang tak perlu bersusah payah didapat),kawanan kerbau yang tanduknya seperti 20 bilah pedang yang diikat disetiap sisi kepalanya, sampai para ghoul dan buto(super mutan di Nusasila). Hampir semua makhluk yang tak bertaring yang dibunuh oleh para penjaga rumah makan itu pasti jadi menu utamannya, kecuali buto, dan manusia.

“ini gila banget dah orang Pattimura, buseh… main jedor jedor aja kepala orang” kata Ibenk sambil berdiri dan mengoyak-oyak otak yang berceceran dengan bayonet di pistolnya.
“jangan digituin ah najis lo Benk geli gue!” kata Dennis yang sudah bergegas merapikan barang yang sudah dilucutinya.
“Ayo ah! Liat si Pattimura ngelawan komodo, mau tau gue gimana mereka nangkep tuh makhluk” gumam Dennis. Setelah mengambil tas yang dikubur sebelumnya, sambil berjalan beriringan, Ibenk lalu berceramah.
“tapi lo ngeuh ga Den, masa komodo… di Jawah…”
“ya kan bisa lewat laut Benk, dia mungkin berenang dari sulrawesi kesini kan-“
“pala lo meleleh! Ga masuk akal banget, kambing! Lo bayangin coba gimana dari sana kesini, lewat laut, pake badan sendiri, dilaut yang kayak apaan tau itu bentuknya” kata Ibenk membalikkan perkataan Dennis.
“ya gue mana tau, buat gue mah kayaknya enak itu daging komodo buat dimasak, dijadiin menu baru” timpal Dennis.
“dasar kambing..” balas Ibenk sambil melengos.
2 orang itu bergegas berjalan menuju jejak komodo, menuju hutan yang lumayan masih rindang.. walaupun lebih anyak pohon yang daunnya tak berwarna hijau lagi.
“sini Den, nih liat.. bekas cakar.” Kata Ibenk sambil menyentuh batang pohon yang ada bekas cakarnya. Setelah tak berapa lama, Dennis mengeluh.
“pak, capek pak! Ngaso dulu ngaso”
“dih, ini aja udah ketinggalan jauh banget, ditambah ngaso lagi! Lo mau daging komodo ga?” ujar Ibenk yang masih berkutat dengan skill lacak jejaknya.
“ah udah Benk, gila capek gue, nyerahnyerah! Ga sebanding!”
“terserrrahh! Bikin tenda disitu aja tuh, ama bikin api unggun, gue jalan dulu kesana bentar.”
“baik tuan, hamba kerjakan. Awas gadapet apa-apa, lo yang gue goreng!” canda Dennis.
“dih taik! Lo kanibal apa gimana Den? Ngeri beneur gue!” balas Ibenk seraya pergi meninggalkan Dennis.
Setelah tak jauh berjalan dari titik awalnya tadi, ia mendapati 3 ekor kelinci(kelinci yang bermutasi: memiliki gigi depan yang panjangnya 6-9cm, badan yang lebih besar dibanding kelinci biasa, dan telinga yang tegak dan panjang seolah-olah telinganya ditopang oleh sesuatu yang membuatnya tetap berdiri tegak) “rejeki emang! Hehehe”

Sambil mengendap-endap, Ibenk mengeluarkan busur bikinannya dan sebuah panah.
‘jglek,ckrek!’ busurnya memiliki bentuk unik; bisa dijadikan busur kecil untuk jarak pendek dan menembakkan beberapa anak panah sekaligus, lalu ada mode busur gajah, yang digunakan untuk memanah panah besi yg panjangnya 2 kali lipat dari panah biasa, kuat, sedikit lentur, dan bisa menembus beton dengan ketebalan 3 cm. ‘splat!crat!cpret!’ secepat kilat, 3 panah sekaligus yg dilontarkan Ibenk mengenai sasaran tepat di mata, di dada, dan di perut kelinci-kelinci itu. “mantap!” katanya sumringah sambil menjentikkan jari.
‘krskrksrsk’ ‘krsk!’
“suara ap-“
‘Fwwuussh!’ ‘Brass!!’ dari arah tebing pendek disebelah kiri Ibenk tiba-tiba keluar seekor komodo yang tingginya 1.5 meter dan panjangnya kira-kira 7 meter.

“bajingan!!” dengan sigap ia mengambil hasil buruannya, sayang, hanya 2 biji yang bisa dia ambil, 1 lagi terinjak-injak oleh komodo yang sedang berlarian
‘gdubrag!’
‘bragbrugbragbrug!’ si komodo seperti tak menghiraukan ada Ibenk didepannya, ia langsung terus berjalan menghancurkan pohon-pohon yang berukuran sedang dijalur jalannya.
“geblek! Kayak habis liat setan-“
‘krsk!’ “dbrass!!’dbruss!!’
‘brasbrasbras!!’
seketika kawanan serigala cincin merangsek dari semak belukar yang tadi dilewati si komodo.
“dih gila! Serigala cincin!! Kok ada beginian di Jawah!?”

Serigala cincin terkenal memiliki bulu yang tebal dan bisa menyerap banyak macam racun(termasuk radiasi), walaupun tak semua racun. Saat kontak dengan radiasi atau racun, bulu serigala cincin yang tadinya berwarna putih(umumnya putih, namun kadang ada yang berwarna coklat, abu-abu.) bisa berubah warna menjadi hijau muda atau tua tergantung tingkat konsentrasi racun dan seberapa banyak racun yang diserap. Yang paling langka adalah pemimpin kawanan serigala cincin yang biasanya berwarna hitam dibagian depan dan putih dibagian pinggul belakangnya, bulu serigala cincin alfa ini bisa mendefleksikan balistik yang berukuran kecil sampai sedang(memantulkan peluru pistol).
“anjir! Gaboleh kelewatan ini!!”
‘cglek’ Ibenk langsung mengubah busurnya menjadi mode busur gajah, lalu mencoba membidik dengan panah besinya.
“hhhp” ia menahan nafasnya
‘cbwumf!!’ anak panah yg ditarik sekuat tenaganya melesat dengan cepat!
‘fbwumm!!’
‘zebzlezzeb!’ “cuakep!!”
Teriaknya. Ia mengenai 2 ekor sekaligus (yang langsung tertancap di salah satu batang pohon tua yang besar, saking kerasnya hantaman panah besi) dari 12 ekor kawanan serigala cincin itu..
Tau ada kawanannya yg mati, tiba-tiba pemimpin kawanannya berhenti lalu melolong, dan berkomunikasi dengan cepat kesesamanya. Ibenk yang mengira dirinya aman, dari sisa kawanan serigala cincin, bergegas mengambil mayat serigala yang mati
“mayaann!!! Wahaha, mantap dah ah!”
Baru 2 langkah berjalan, 5 kawanan serigala cincin menghampirinya dari arah depan. Ibenk langsung menghentikan langkahnya sebelum para serigala lebih agresif lagi
“cuih! kirain ga nyadar!” ucap Ibenk mengeluh.

Dengan taring yang menyeringai keluar, 5 serigala cincin itu hampir mengepung ibenk dalam bentuk lingkaran.
“kalo kekepug, abis gue nih pasti..” bisiknya perlahan.
Seraya 5 serigala itu mencoba membuat lingkaran diantara Ibenk, ia mundur dengan langkah cepat, menghindari kepungan para serigala.
Ibenk buru-buru mengambil kerisnya. “ohiya!” dia lalu menarik 1 panah besi yang bersandar dipunggungnya. ‘mbletang!!’ dia memukul keduanya, lalu serigala-serigala itu menundukkan kepalanya. “ih, beneran ngaruh!!” ‘blletangg!’ sekali lagi dia memukul keris dan panah besinya. Serigala yang ingin menyerangnya kini mulai mundur.
“heyyaahh!!!”
‘bbbleenntangblntangblentaanng!!!’ serigala itu makin mengerutkan mukanya. Tak tahan dengan gelombang suaranya, akhirnya mereka berlima berlari kearah serigala alfa mereka. “hush!” “hush!” usir Ibenk.
Tak mau membuang kesempatan emas, Ibenk langsung mengambil semua buruannya, “bulunya iniloh! Gokil bangeut!!”sambil mengelus bulu yang sebagian kecilnya dipenuhi bercak darah. Ia lalu melacak balik jalannya ke tenda yang seharusnya sudah jadi.
“Den, liat Den!!” pamer Ibenk sambil mengangkat 2 kelinci dan 2 serigala cincin.
“anjing! 2 serigala cincin!! Lo dapet darimana!?” Dennis terkejut setengah mati.
“tadi ngejar kelinci ini, eh ada komodo..” jawab Ibenk
“komodo yang kita kejar!?” tanya Dennis sambil mendekati hasil buruan Ibenk.
“hmm, ga kayaknya, emang berapa ukuran komodo yg kita kejar?” Ibenk balik bertanya
“tingginya kira-kira 3 meter! Panjangnya hampir 12 meter Benk.” Jawab Dennis santai
“oh bukan, ini ukurannya lebih ‘kecil’” kata Ibenk sambil mengisyaratkan tanda petik dengan tangannya.
“tenda sama api unggunnya? Wih mantap! Nih masak nih!” Ibenk memberi kelinci yg tadi diburunnya ke Dennis, sementara daging serigala yang sudah dia pisahkan dengan bulu-bulunya, ia akali menjadi ranjau buatan(didalam daging diisi pemicu ledak, sedikit bubuk mesiu, dan segenggam penuh paku karatan).
“dasar lo gila..” kata Dennis sambil mencolek kepala Ibenk
“gila knapa? Yaelah Den, namanya Merc, tentara bayaran mah hidupnya ga ada yang tau, makanya gue selalu siap siap.” Jawab Ibenk santai.
“iya juga sih” kata Dennis sembari mulai menguliti daging kelinci dari bulunya.
“Liat! Ada ranjau daging serigala, ada dinamit daging serigala cincin! Wahahaha!! mantep ga Den!?” cakap Ibenk sambil memamerkan ‘kerajinan tangannya’
“iya mantep, terserah lo” tandas Dennis yang bahkan tidak menoleh sedikitpun.
Setelah makanan jadi, haripun mulai gelap. Mereka mulai menyantap makan malam ‘mewah’ mereka didalam belantara hutan.
“EEEEEEEeeeeuuuuu!! Ah alhamdulillah!”
“najis lo Den, jorok banget idih najis! Gue yang ugal-ugalan aja gapernah sendawa segitunya Den”gerutu Ibenk setelah mendengar sendawa Dennis.

“enak kelincinya, puas gue Benk, wahaha” balas Dennis sambil menepuk-nepuk perutnya.
Setelah makan, merekapun solat berjamaah(islam,walaupun keadaan sudah luluh lantak hancur lebuh di Nusasila, masih tetap tegar, bahkan berkembang dengan segala ritual keagamaan yg harus dijalaninya), dan meakhiri hari dengan tidur ditenda yang setidaknya bisa menghalau dingin yang siap menggigiti tubuh mereka.
“Den bangun!! DEN!”
“hooaahhmm, knapa Benk?”
Tenda mereka sudah dikepung oleh pasukan Pattimura yang kemarin membunuh 5 orang Menteng Merah.
cakep dah, lanjut ya bos, jangan kentang, ane pantau lah trit ente
“saudara siapa?” tanya kapten pasukan Pattimura yang kemarin memecut prajurit MM sampai terbelah dua. Belum sempat menjawab, si kapten dari atas kudanya mengeluarkan pecut, lalu menginspeksi kalung yang ada di dada Ibenk yang belum sempat memakai baju saat tendanya terkepung.
“hhmm… Jayamahe” kata si kapten sambil menyetuh kalung Ibenk dengan pecutnya.
“aku tak tahu Jayamahe punya tim ekspedisi yang… homoseks..”
“kami bukan homoseks! jangan asal bicara! Dia pengawal saya” kata Dennis lantang
“hoo begitu rupanya, budak seks, sekaligus pelindungnya, ya? HAHAHA!!” ucap sang kapten pasukan Pattimura sambil menundukkan badannya. “kuingatkan satu hal” lanjutnya “masih banyak wanita didunia ini bung, hahaha!!” dia terbahak-bahak makin keras.
“bercanda kawan! Jangan diambil hati! Hahaha! Maaf maaf” kata kapten pasukan Pattimura itu.
“saya harap Ded bisa masak enak sewaktu nanti saya kesana lagi, haha” tandas sang kapten.
“oh, dimana sopan santunku, maaf, nama saya Arken Salahudin, kalau anda sekalan berkenan, Kapten Arken. Anda sekalian tau kami siapa?”
Ucap sang kapten dengan nada tegas.
“Pattimura.. pasukan perbatasan.” Jawab Ibenk.

“maaf kapten, anda mengenal paman saya?” Dennis yang masih rada mengantuk tak terlalu menghiraukan apapun, karena dia tau, sang kapten mengenal Ded, dan Jayamahe.
“Ded Artupas, Pamanmu? Hoo kalau begitu, kau bisa masak?”
“bisa”
“masaklah sesuatu untukku”
“sekarang? Tapi saya ha-“
‘gdbruuk!!’
sang kapten melempar sesuatu(dibungkus oleh kertas, dan sisa sisa kardus) kedepan Dennis
“masak ini”
“ini… apa?”
“buka saja”
‘ssrrrksks’ Dennis membuka bungkusan itu. “daging…” lanjut Dennis
“ya, benar” balas si kapten
“tapi, saya tid-“
“masak” sang kapten memaksa.
“ya, tapi saya tidak jam-”
‘fwuummbbrr’ sang kapten membakar pecutnya, dan sedikit menundukkan kepala.
“MASAK”
“i-iya kapten”
dengan langkah gontai diselimuti rasa takut, Dennis bergegas mempersiapkan alat memasaknya.

“kau, kumpulkan kayu, tebang pohon kecil ini” sang kapten berbicara sambil menunjuk Ibenk tanpa menolehkan mukanya.
“saya prajurit, bukan penebang pohon” balas Ibenk angkuh.
“apa yang membuatmu jadi prajurit? Senjata? Keberanianmu menentangku? Atau hanya… harga dirimu?” sang kapten bertanya lagi dengan nada santai (tapi tetap bersiap mengeluarkan pecutnya yg masih terbakar).
“turutin aja Benk, kita kalah, gue tau lo orang pintar, dan orang pintar seharusnya tau kapan ia kalah, dan harus mundur sejenak.” Bisik Dennis.
Tanpa ada kata-kata, Ibenk langsung mengambil goloknya, dan menebang pohon yang tak terlalu besar itu.
“kapten!” salah satu penunggang kuda mendekat dan berbisik ke sang kapten.
“hmm… oke, terimakasih kawan.” Kata sang kapten sambil menepuk pundak anak buahnya yang tadi berbisik padanya.
“kita makan enak hari ini, jadi santailah sejenak, kawan-kawanku” dia berkata kepada 7 orang prajuritnya. Setelah tak berapa lama, pohon kecilpun tumbang. Dennis membantu Ibenk mengumpulkan kayu untuk dibuat api. Api pun jadi, Dennis mulai mencacah dan memotong daging seukuran tasnya itu menjadi beberapa bagian, lalu memasaknya. Selang setengah jam, masakan pun jadi, dan mereka makan bersama sambil duduk disebelah tenda yg dibuat Dennis. Selagi makan, Dennis ditanyai oleh sang kapten.
“maaf, wahai juru masak, siapa namamu?”
“Dennis, kapten”
“Dennis, bagaimana kalau kau ikut ke Asceh, jadi juru masak disana?”
“maaf, tidak bisa kapten, saya masih harus mengurus Jayamahe bersama paman saya”
“begitu rupanya” balas si kapten, sambil melahap daging yg dimasak oleh Dennis tadi. “saya hanya ingin memberi tahu” lanjutnya “rumah kami lebih besar, dan lebih kuat dari rumahmu sekarang” kata sang kapten sambil tersenyum dan terus menyantap dagingnya yang kelihatannya hampir habis.
“maaf kapten, tapi saya tak bisa”
“oke, tidak apaapa. Saya mengerti dan tak akan memaksa”

Setelah makan besar, sang kapten menaiki kudanya kembali. dia bersiul memanggil anak buahnya, bersiap untuk pergi.
“oh ya” si kapten lalu mengisyaratkan salah satu anak buahnya. Ia memberi bungkusan yg lain, dibungkus dengan karung goni, yang satu berbentuk panjang seperti pedang, yang satu lagi berbentuk abstrak kepada si kapten.
“ini untuk kalian berdua” ia memberi 2 buah jarum yang panjang dan besar pada Ibenk.
“dan ini”
‘gdblak!!’ sebongkah sesuatu yg bentuknya tak karuan.
“mungkin akan berguna buat kalian. Ayo jalan, kawan! Hhyyaaa!!” lalu mereka pergi, meninggalkan Dennis dan Ibenk dalam debu yang pekat akibat hentakan 6 kaki kuda mereka.
Dennis merapikan perkakas masaknya, sementara Ibenk merapikan tenda yang akan dilipatnya.
“Anjing… seenak jidat tuh orang..” gumam Ibenk sambil mengambil goloknya.
“santai Benk, santai..” Dennis mencoba menenangkannya.
“untung lo ngingetin gue Den..”
“santai pak, hehe. Eh ini kira-kira apaan yak?”
Dennis membuka gumpalan besar yang dibungkus kardus dan kertas seadanya itu, baunya sangat busuk dan menyengat...
Quote:Original Posted By shagydog46
cakep dah, lanjut ya bos, jangan kentang, ane pantau lah trit ente


makasih gan, hehe... pantau terus ya emoticon-Request
siap gan, udah ane bukmark nih ehehehe
‘bbrrreekk!!skrksrksk’
“dih anjing!” Dennis sontak kaget, lalu membuang bungkusan itu.
“setengah kepala komodo!” Teriak Dennis.
Penasaran, Ibenk mengoyak bungkusan yang dilempar Dennis itu dengan bayonet pistolnya.
“keganggu tuh jiwanya si anak baik..” kata Ibenk masih kesal.
“maksudnya apa coba ngasih kepala komodo?”
“kan gue bilang Den, gangguan jiwa dia!” tandas Ibenk makin kesal.
“udah ah” lanjutnya, “gue kekali dulubentar, mo mandi, lo jaga-jaga dulu Den, ntar gantian” tempat kemah mereka tak jauh dari sebuah sungai(walaupun laut Nusasila 60% sudah tercemar, banyak sungai yang mengalir dikota-kota besar malah menjadi penjernih air yang akan masuk kelaut akibat alat tiruan yg gunanya mirip G.E.C.K-nya Vault Tec. Yang pernah ditanam di Kalimantani, didekat pohon besar Drasilia.)
Selagi berjaga, Dennis mengumpulkan rempah-rempah didekat sungai yang lumayan jernih itu.
“kapulaga! Jinten! Nah ini bawang! Kok bisa disini yak tumbuhnya?! Rempah-rempah disini kok bisa subur banget yak!?” seraya memetik semua rempah-rempahnya. Tak berapa lama, Ibenk naik dari sungai itu.
“uah!! Mantap airnya jernih Den!! Ilang capek gue!”
“ok, gantian dong, jaga lo sekarang” kata Dennis
“iye kambing, bawel lo” kata Ibenk sambil memakai baju, dilapisi armornya, lalu beganti clana.
10 menit Denis masuk ke air, ia berteriak histeris.

“Benk tas lo sini Benk! Pinjem!!”
“ah buat apaan!?”
“cepetan!! Ini penting banget Benk!”
“buat apaan!? Taik ditanyain juga ah!!”
“Ini Benk! Uahh! Gila!! Berat banget cooyy!!!”
Dennis mengangkat sesuatu berbentuk lonjong dan lumayan besar.
“dih anjing lo! Tai taring belang lo angkat-angkat, gede banget lagi! Najis lo bego! Tarotaro!!”
“ini teripang, pintar!! Terong laut! Baca buku makanya!”
“terong.. laut? Tapi itu gerak-gerak gitu Den! Ih geli gue najis ih!”
“bego… aduh biadab, ini berat banget lagi! ini dagingnya mantep! Bergizi! Jaman dulu cuma segede gini nih! Tapi ini sekarang gede banget gila! Bisa buat makan 13 orang ini!!” kata Dennis sambil menjatuhkan benda besar itu keair, lalu mengepalkan tangan, memberi isyarat seberapa besar ukuran makhluk itu dulu.
“ini nih, masukin sendiri, geli gue!” Ibenk melempar tasnya militernya yang kedap air.
“najis lo, merc tapi geli ama ginian, jadi penari balet aje lo sono!” kata Dennis sambil susah payah memasukkan teripang raksasa itu kedalam tas Ibenk.
“nih nih, udah nih!” kata Dennis sambil menyodorkan tasnya yang berisi teripang sekarang.
“ga loncatkan dia Den?! Ntar menggeliat dibadan gue lagi” Ucap Ibenk dengan nada jijik
“nggalah bloon! Tunggu sampe lo ngerasain rasanya, baru lo puja puja noh teripang.” Balas Dennis. “udah yok, balik ke Jayamahe aja kita Benk” lanjutnya.
“yodah ayok” jawab Ibenk.
Setelah selesai, mereka berdua bergegas berjalan menuju kearah Jayamahe.
Sekitar 10 meter dibelakang mereka, seseorang yang menutup kepalanya dengan kupluk bajunya berlari sambil menggendong senapan sniper.
“lari! Ada feral ghoul!”kata orang itu sambil terengah-engah.
“ih cewe Benk!”
“oiye! Cewe! Langka banget gile” kata Ibenk mengiyakan Dennis
“jangan takut wey, feral ghoul doangan!” sahut Dennis.
“FERAL GHOUL SATU PAGUYUBAN!” teriak wanita itu.
‘fwussh!!’ wanita misterius itu berlari melewati Ibenk dan Dennis yang masih memproses kata-kata diotak mereka.
“anjing! Satu paguyuban! Kabur-kabur!” Dennis bergegas lari dari tempat berdirinya.
“…wangi…” bisik Ibenk perlahan, lalu menoleh kebelakang.
“gggrrrrrooouuuhh!!”
‘drapdrupdraopdropdrupdrap!!!’ suara serak dan derap langkah ratusan kaki membuat Ibenk pun akhirnya lari tunggang langgang.
Wanita misterius itu terus berlari, sampai menemukan gang kecil. Ia bersembunyi di gang itu. Tak berapa lama, Dennis melewati gang itu, disusul Ibenk, lalu gerombolan feral ghoul (manusia yang terkena paparan radias tingkat akut, dan memiliki resistansi yang sangat amat rendah bahkan tidak ada samasekali terhadap radiasi nuklir. Menyebabkan otaknya membusuk, dan mematikan sel-sel otak, akibatnya mereka menjadi gila, menyerang apapun yang bergerak, dan memakan apapun yg bisa mereka temukan)
Setelah melalui jalan berkelok, mereka akhirnya masuk ke satu rumah untuk bersembunyi.

“Den sini!” Ibenk memberi sinyal ke Dennis. Dennis pun lari berbalik kearah Ibenk yg ada dibelakangnya, lalu bersembunyi di reruntuhan bangunan.
‘drapdropdraopdrupdropdrupdrapdropdraop!!’ ribuan langkah makhluk itupun melewati mereka tanpa sedikit curiga.
“hh…huh!hah!huh! gila! Banyak banget!” kata Dennis sambil bersandar lemas ketembok.
“darimana coba itu… ohiya, cewek tadi mana Den?”tanya Ibenk
“au dah, pas di perempatan kedua, gue udah ga liat dia lari lagi didepan gue”
Lalu mereka keluar dari persembunyiannya.
“kalian, maaf kalo gue ngerepotin” tiba-tiba wanita misterius itu muncuk dari belakang mereka.
“ah, ngga kok, gapapa, lagipula, lo darimana dah, bisa bawa bawa pasukan mumi begitu?”tanya Dennis sambil berlagak sok keren.
“abis dari stasiun komuter tadi, gue diminta orang buat bikin pemetaan wilayah, sekaligus ngecek Freeman yang ngumpul disana, taunya ketemu begituan” jelas wanita itu.

“oh, pemetaan toh.. ngomong-ngomong gue Dennis, ini temen gue Ibenk, nama lo siapa?” Dennis mencoba beramahtamah.
“nama gue Kira, kalian merc juga?” kata wanita misterius itu.
“gue bukan, gue tim scav temen gue ini merc baru” sambil menepuk bahu Ibenk.
“maaf, kalo boleh tau, lo dari grup merc mana?” tanya Ibenk.
“Menteng Merah, lo sendiri?” Kira berbalik tanya.
“Jayamahe” jawab Ibenk
‘ckkrrk’
Kira langsung menodong kepala Ibenk dengan pistolnya.
“lahlah…” Ibenk dengan bingunya perlahan mengangkat tangan. “knapa langsung nodong gue gini?”
“10 tahun lalu, pasukan Jayamahe ngebakar hampir semua gudang senjata Menteng Merah, bikin Menteng Merah lumpuh, mati suri malah. Bikin bapak ibu gue hampir mati ditengah belantara utara Jakarta. Untungnya mereka ga nyerah, ga putus asa, dan sekarang Menteng Merah bisa berdiri lagi, bahkan lebih besar dari Jayamahe.” Beber Kira panjang lebar.
“hahaha, pasti lo denger rumor dari orang.. oh.. kerjaan lo ini dari orang Kampus yak dapetnya?pantesan.” kata Ibenk sambil terlihat mengepalkan tangan kanannya, tapi tetap menahan amarahnya.
“bukan… bukan Jayamahe, tapi orang lain. Ada orang yang… ngebunuh orang.. Jayamahe, ngambil bajunya, terus ngebakar gudang senjata MM” kata Ibenk dengan mukanya yang benar-benar terlihat memendam amarahnya.
“ya, nyapnyap aja terus, makin lo ngebela Jayamahe, makin ketauan siapa yang salah” tuding Kira tanpa ampun.
“susah ini, sama-sama merc. Gini deh…” Dennis berusaha menengahi
“lo mau kemana sekarang?” lanjut Dennis
“mau balik lah ke HQ gue” kata Kira.

“bukannya gue mau ngebela temen gue ya, tapi Jayamahe itu nama restoran, mba” Dennis tetap pada pendiriannya
“restoran?! Ngaco lo!! Gue udah liat gimana Jayamahe! Restoran punya penjaga gerbang bawa-bawa minigun, pada pake power armor! turret dimana-mana! Lo pikir gue dungu?” Kira terus menekan.
“gini karang ya mba, HQ MM kan terus keselatan dari Jayamahe kan? Ya, gue tau lokasinya dimana, tapi persisnya gue gatau kayak apa, lagipula HQ kebanyakan ‘perusahan’ penyewaan prajurit bayaran kan tersembunyi pasti. HQ lo pernah diserang gerombolan kebo gila? Kawanan Buto yang pake minigun ama RPG? Mini nuke? Ato pernah diserang 10 biji taring belang? Ngga? Kita pernah mba, sering malah. Lo dari jauh juga bisa liat Jayamahe, semua orang bisa spot jayamahe dari jarak 1km! makanya kita seakan jadi sasaran empuk buat semua orang yang mau nguasain Jayamahe.” Jelas Dennis lebih detil lagi.

“itu sebabnya kita butuh banyak firepower, ga cuma yang bisa nembak, tapi juga yang terlatih dibidangnya masing-masing, tapi kalo lo emang kesana mau plesir, Jayamahe emang restoran, dan Den, cewe ini bener, Jayamahe dulu itu nama perkumpulan merc, 10 tahun lalu, om sama tante lo ‘nyerah’ dan mutusin keluar dari penyewaan tentara. Lalu mereka bikin restoran. Itu yang om lo ceritain ke gue” jelas Ibenk secara detil
“ya.. terlepas dari apapun itu, gue-“ ‘JDBUGG!’ kepala Dennis dihantam oleh seekor babun, dan langsung terpental cukup jauh dari posisi ia berdiri.mereka tanpa sadar telah dikepung babun, dan lansung terpental cukup jauh dari posisi ia berdiri. Mereka tanpa sadar telah dikepung babun yang bermutasi(berbulu albino, dan bertaring layaknya pedang yang tak bisa lagi disembunyikan dimulut mereka).
“nggyyaaaa!!nnnggaaa!! nngya!!” pekikan puluhan babun lapar yang mengepung mereka diatas atap bangunan runtuh dan pepohonan yang lumayan rindang dengan daun berwarna kecoklatannya makin kencang dan lantang.
“Den! Bangun Den!! Woy Den!” Ibenk mencoba menyadarkan Dennis, sambil bersiaga memegang panah dan busurnya.
“cih, ada-ada aja. Lindungin temen lo tuh, males gue lari-larian lagi” Kira mengangkat senapan snipernya, yang beristirahat dipunggungnya. Lalu menekan tombol yang ada dikaki kanannya.
‘jglek’ ‘nngg’ ‘ssh’ ‘jglek’ ‘crksk, nnntt, ckrks’
Armor yang tadinya hanya melindungi bagian badannya, kini armornya melindungi seluruh tubuhnya. Ia tampak seperti robot yang kakinya terpaku disatu titik. Tak bisa bergerak banyak...

Ia tampak seperti robot yang kakinya terpaku disatu titik. Tak bisa bergerak banyak.
“tutup kuping lo” Kira memberi aba-aba, sambil menekan uniwatchnya.
‘nntt,nntt, ccczzzztt’
Dipunggungnya ada sesuatu benda berputar, makin lama makin cepat.
‘JDEM! JDAR!!JDUMJDUMJDAM!!’
‘frk,ckkrkrkksk’

Kira menembakkan senapan snipernya yang berkaliber .50 tanpa ampun kearah babun-babun yang mengepug mereka diatas gedung-gedung yang sudah hancur. Sesekali dia mengisi ulang senapannya dengan sangat cepat. Waktu seakan melambat dimatanya. Babun yang diatas gedung pun tak tinggal diam, mereka mencoba menyerang ke 3 orang itu dan menghindari tembakan Kira.
‘JDRM!JDMJDMJDUUMM!!BUMBAMBUM!!JDGUM!!'
Kira menembaki babun-babun itu dengan kecepatan yang luar biasa walaupun ia memakai senapan sniper yang notabene memerlukan ketepatan, fokus, dan ketenangan yang tinggi, disamping harus memanggul beban senjatanya yang hampir memiliki berat 15kg. kalah cepat, babun-babun itupun kewalahan mengatasi tembakan Kira. Hasilnya, 20 babun sedang, dan 10 babun raksasa terkapar dijalanan. Otak, hati, jantung, tulang, mata, semua organ dalam terburai dijalanan. Sisanya berhamburan menuju arah hutan yang lebat. Iebnk yang melihat secara langsung terpesona dengan aksi Kira.
‘ckrkckrk!’
setelah menunjukkan kekuatan yang mengagumkan itu, Kira membuka mekanisme baju dan helmnya. Ia seperti tetap menggunakan tudung dikepalanya.
“beuhh...” Ibenk bergumam.
“knapa?” kata Kira yang tiba-tiba menolek ke Ibenk yang masih bersiaga dekat Dennis. “udah, ayok terusin jalanya” lanjut Kira.
“ini bikinan bapak gue, masih prototype, tapi gue rasa bisa ngalahin power armornya BoS” kata Kira lantang.
“bapak lo Tinker?” tanya Ibenk lagi
“ya.. semacam itulah” jawab Kira gampang.
Setelah berjalan sekitar 1 hari penuh, akhirnya mereka sampai di Gerbang Kampus, pintu utama dari markas organisasi Kampus.
Luas wilayah markas Kampus ini hampir 10x lipat luas wilayah keseluruhan Jayamahe. Sebelum perang ’77 pecah, dan Asia tenggara ikut kacau karenanya, tempat yang dijadikan markas Kampus memang terkenal sebagai Universitas milik negeri terhebat yang diimpikan oleh orang-orang dari seluruh daerah Nusasila lama untuk berguru didalamnya.

Dipagari dari ujung ke ujung, rumornya, wilayah yang dijaga ketat petrus (penembak misterius, pasukan dari masa lampau) bereksperimen bukan hanya dengan obat-obatan, tapi juga ingin mencoba mencampurkan senjata biologis dan teknologi nuklir paling mutakhir. Ibenk dan Kira masih membopong Dennis saat itu.
“ini nih yg ngasih lo kerjaan?” kata Ibenk sambil mengisyaratkan dengan mukanya, seolah menunjuk markas Kampus.
“iyak… aduh berat-berat- turunin dulu temen lo nih!” Kira mengeluh.
“kita istirahat disini aja dulu, ntar gue yang ngomong sama mereka, numpang istirahat”lanjutnya.
“oke oke” jawab Ibenk santai.
Mereka mendirikan tenda disalahsatu pohon rindang dekat markas Kampus itu.
“gue ngomong dulu sama penjaganya” bilang Kira sambil bergegas berjalan kearah penjaga Gerbang Kampus. Tak berapa lama ngobrol akrab dengan penjaganya, mereka diperbolehkan bermalam disitu.
“gimana?” tanya Ibenk
“boleh, santai” kata Kira.
Selang beberapa menit, Dennis siuman.
“sshh! Hheeuuhh…” lirih Dennis sambil memegangi kepalanya.
“sadar juga lo, amnesia ga?” kata Ibenk asal.
“kamu siapa? Aku dimana? Kita berteman?” canda Dennis dengan muka melasnya.
‘jdut!’ Ibenk menjitak Dennis.
“aduh! baik! Setan! Laknat! Bajiingan lo Benk!” sontak Dennis membentak sambil mencoba menjitak balik Ibenk.
“gue berakin nih muka lo sekali lagi begitu!” balas Ibenk tak kalah kejam.
“iya ampun, ampun” Dennis ciut dan menyerah.
“masak sana, laper gue”
“hhh.. iya, siini tas lo, makan teripang kita!!” kata Dennis yang tiba-tiba segar saat disuruh memasak.
“Kira mana?” tanya Dennis sambil memulai menguliti dan mencacah teripang raksasa itu.
“lagi mandi” jawab Ibenk enteng
“serius?!!”
“ya”
“ga lo intip?!”
“ngapain kalo gabisa dipake mah!?”
“lah.. lo pikirannya mesum, anjing! Maunya pake pake mulu”
“eh blog, ibarat lo bikin makanan, emang cuma buat diplototin doang? Kalo ga dimakan, ya sama aja goblog, ngerti blog?” kata Ibenk dengan nada tengil.”lagian, yang mesum dia, ngatain gue mesum. Gue mah mesum tau tempat! Haha!” lanjut Ibenk.
“iya tuan” kata Dennis sambil melempar dubur teripang kearah Ibenk.
“eh anjing! Wahahaha baik lo! Geli gue!!” kata Ibenk sambil menghindar.
Merekapun melihat Kira berjalan keluar dari gerbang Kampus.
“oh sianjing, pantes gaberani ngintip! Mandinya didalem Kampus! Hahaha!!” kata Dennis cekikikan sambil mengaduk sesuatu di kuali kecilnya yang terlihat meluap luap tersesaki banyak daging.
“apesih!?” Kata Ibenk menyangkal.

“kalian kalo mau mandi, ke WC dalam Kampus aja tuh, yang didepan, gue udah izinin, tapi lewat 2 meter dari situ kearah dalem lagi, jangan salahin gue kalo kaki lo ilang satu.” Kata Kira santai sambil duduk di tenda, lalu membersihkan senapan snipernya.
“ah gue mandi ah~” kata Ibenk sambil jalan jinjit kearah Gerbang Kampus.
Para penjaga gerbang Kampus cenderung bersahabat dengan karavan suplai, pedagang chem(obat-obatan) eceran, dan para bodyguardnya. Mereka tak segan-segan membagi makanan, atau minuman (dalam jumlah tertentu) kpada beberapa orang dari faksi-faksi yang mereka tahu sedang bekerjasama(atau sedang dalam kendali) dengan mereka. Penjaga Gerbang Kampus lumayan hi-tech dari mercenary(tentara sewaan) bahkan dari beberapa prajurit BoS.

Mereka mengenakan kemeja polos satu warna dan celana jeans, dibalut armor besi yang ringan, melindungi dada sampai perut, bahu, dan paha mereka. Senjatanya adalah keturunan dari m4a1 yang dimodifikasi, senjata taktis militer pada masanya yang punya keunggulan di peredam suara dan tingkat recoil yang rendah, dan tembakan laser laras panjang. Beberapa dari mereka bahkan menggunakan Power Armor tipe 60, baju baja berat dan memiliki resistansi tinggi terhadap radiasi, dan peluru balistik, mempunyai kerangka besi, yang akhirnya bisa masuk ke Asia melalui Cina, Kamboja, Jepang, dan Vietnam dengan harga selangit dari Amerika Serikat setelah lumayan lama hanya bisa dinikmati oleh orang-orang di daerah Paman Sam saja.
“oy, nih makan dulu coy!” kata Dennis sambil menyodorkan sebatang kayu, yang menusuk daging yg melepuh, penuh dengan cairan lemak, dan rempah-rempah dipermukaannya, terlihat sangat menggiurkan.
“ya, makasih” jawab Kira sambil mengambil makanannya, lalu menancapkan benda itu disebelah senapannya, lalu lanjut membersihkan senapan snipernya.
“jutek amat, ancuran rengginang” bisik Dennis sambil menghujat.
Selang beberapa menit, Ibenk akhirnya keluar dari Kampus.
“kamar mandinya gimana Benk?” tanya Dennis
“mayanlah” jawab Ibenk sambil duduk dekat perapian yang digunakan memasak oleh Dennis. “gue makan ya Den?” lanjutnya.
“iyak, makan dah!” jawab Dennis sambil berdiri bergegas mau menuju gerbang Kampus. Setelah bercakap-cakap sebentar dengan para penjaga Gerbang, bahkan salah satu dari mereka sampai tertawa terbahak-bahak dan menawarkan sebungkus rokok ke Dennis yang buru-buru ditolaknya, Dennis pun masuk kedalam wilayah Kampus.
“lo udah berapa lama ngejaga si Dennis?” tanya Kira
“sekitar 2tahunan, emang knapa?” jawab Ibenk sambil melahap makanannya.
“lo merc asli Jayamahe?”
“bukan, gue anak baru”
“hoo..”
Malampun turun dengan senyap, seperti seorang ninja dengan langkah kucingnya.

‘grubrak!gbruk!drapdrapdrapdrup!’ Dennis berlari keluar dari wilayah Kampus sambil memegangi tasnya.“Lari!! LARI!!” teriaknya kearah penjaga gerbang.
“hhhnngggggrrrooooaaahhhh!!!!” seekor monster yang kukunya berlumuran darah, dan bertanduk mengamuk tak terkendali, dan berjalan kearah gerbang Kampus yang akhirnya dihadang oleh beberapa penjaganya.
“tembak!! Tembak kakinyaa!!! Cepaaat!!” salah seorang petrus berteriak dari salah satu atap gedung yang jaraknya lumayan dekat dengan Gerbang Kampus.
“Denn!!” Ibenk bergegas lari menuju Dennis dengan perlengkapannya. Sementara Kira hanya terpana melihat makhluk itu merobek, mengoyak, menusuk, bahkan memecahkan kepala dan menghancurkan 2 prajurit ber power armor layaknya mematahkan ranting.
“ALPHA DEATHCLAW!! Lari!!” satu penjaga lari tunggang langgang sambil berteriak, lalu tanpa dia sadari, sang monster sudah menghujam dadanya dengan tanduknya yang mengerikan, lalu membelahnya menjadi dua...
Kira bergegas mengambil senapan snipernya, lalu membidik dari tenda mereka.
‘jduarr!!’
suara senapan sniper Kira Cumiakkan telinga.
‘zbblluuhbb’

darah bersimbah dari kaki kanan makhluk itu.
“nyos!” gumam Kira yang girang mengenai kaki makhluk itu.
15 orang penjaga, 2 prajurit berpower armor, 3 petrus, 4 anjing penjaga, mati didepan Gerbang Kampus, berceceran, membuat beberapa genangan darah, dan organ dalam yang berserakan.
Makhluk dengan tinggi 10 meter, berwarna hitam mengkilat, dengan berbagai macam alat yang terpasang dipunggung dan kepalanya, tak bergeming dengan terjangan peluru kaliber.50 yg tembakkan ke kakinya.
‘bblluupup’ selang 10 detik, peluru kira dimuntahkan keluar oleh kulit kaki kanannya.
“Hah!?” Kira melongo.
“bajingan!” bisik Kira sambil kasak-kusuk “core, ayo, bekerjasamalah denganku!!” lanjut bisiknnya.
Ia sekali lagi mempersiapkan ‘mode statis’nya.

‘jglk!jglek!!cnntt!!’
‘nnttt,czzztt’
dia menekan uniwatchnya.
‘nnngggggggggggg!!!!!ssssshhhh’
benda yang sebelumnya berputar dibelakangnya sekarang berputar dengan desisan dan mengeluarkan asap.
‘ckrk!’ Kira mulai membidik lagi kearah monster itu.
‘JDUMJDAMJDUUMJDARRR!!’
4 peluru melayang, dan diarahkan ke kepala makhluk itu.

“NNGGGGGGRRRUUUUOOOAAHHH!!!” sementara Dennis berlari menjauhi monster itu, Ibenk berusaha mengalihkan makhluk itu dengan tembakan voli panahnya, 5 orang sisa penjaga Gerbang Kampus yang menembakinya dari jauh dan 2 petrus diatas atap-atap gedung yang berusaha mmbidik makhluk itu, monster itu melihat peluru yang Kira tembakkan, dan menutup mukanya dengan tangan berkuku pedangnya itu, lalu mulai berlari kearah Kira. 200…180…90…20 meter, jarak Kira dan makhluk itu sekarang hanya 10 meter.
“KIRA!! AWASS!!” teriak Ibenk sambil berlari menuju monster itu.
‘cglk! Zzzzzuutt!!’ Ibenk menyiapkan busur gajahnya, lalu membidik tangan alpha deathclaw itu.
Jarak kira dengan makhluk itu hanya tinggal 1 meter.. jarak tembak yang ideal untuk cakarnya agar dapat menembus dada Kira. Perempuan itu kini hanya seinci dari kematian, dan tak mampu berbuat apa-apa, dia sedang menungg mekanisme armornya untuk melepas mode statis dikakunya yang terkunci ketanah. hanya 3 detik waktu pelepasannya, tapi deathclaw itu 2,6 detik lebih cepat dari mekanismenya.
“NNNNNGGGGGRRRRAAAAA!!!” dengan teriakan yang Cumiakkan telinga, Kira melongo terpaku tak berdaya.
‘fbbwwuuumm!!’ ‘cccggggzzztttt!!’

Ibenk melontarkan panah besinya, yang menembus tangan kiri monster itu. Panahnya berbeda, terdapat rantai diujung belakang panah besinya.
“hhhyyyaaaahh!!”
Ibenk menancapkan panah besi lainnya ketanah, mengunci sisa rantai yang berada didekatnya.
“annjjjjjeeeeee-!!” Dennis berteriak sambil menembakkan senjata listriknya dalam waktu yg bersama dengan Ibenk menembakkan panahnya. Suara Dennis tertutupi oleh suara aliran listri yang seakan beradu dengan air, memercikkan bunga api. Listrik yang ditembakkan Dennis mengunci pergerakan keseluruhan monster raksasa itu. Kira, setelah lepas dari mekanisme baju zirahnya, buru-buru mengambil fusion core (inti nuklir yang memberi tenaga ke bajunya) yang ada di punggungnya.
‘cnt!ckcklk!!’ ia menekan fusion corenya, lalu melemparkannya kearah muka makhluk mengerikan itu, lalu bergegas lari sekuat tenaga.
‘BJDGAAAARRR!!!’
ledakan besar dengan hiasan awan jamur mini menyapu segala yang ada disekitarnya dengan api, dan mementalkan Kira 4meter menjauh dari depan makhluk itu.

“wuasu! GILA! Itu… itu mirip-mirip mini nukenya Buto!” Dennis berteriak histeris.
Dari balik kepulan asap, ada siluet sesuatu. Makhluk itu masih hidup!
Dengan tanduk yang patah sebelah, badan yang berasap seakan tak ada kerusakan signifikan lainnya yang ditimbulkan selain hanya patahnya tanduk, dan sekarang dia mengincar Ibenk.
“BANNGGSSAAAATT!!”
Setelah rantainya dihancurkan dengan sekali tarikan, dengan kecepatan yang lebih gila lagi dari sebeumnya mengincar Kira, ia berlari kearah Ibenk.
“makan nih bangs-!” Dennis menembakkan senjata listriknya lagi, kali ini ia berteriak kearah Dennis.
“RRRRROOOOAAAARRRGGHHHHH!!!”
Menciptakan gelombang EMP yang cukup kuat sehingga melontarkan Dennis seperti puing bangunan tertiup angin topan.
Lalu ia melanjutkan maratonnya kearah Ibenk. Dengan sigap Ibenk berlari menjauh, tapi tak sepadan dengan kecepatannya..

‘zzzzzzzzzzbbbwwwwuuumm!!sssssssrrrrrrrraaaaaanngg!krkrkrkrk!’

Sebuah sabit kecil menghujam kaki kiri makhluk itu, lalu membekukannya ditempat. Alpha Deathclaw yang gagah itupun tersungkur jatuh, lalu meronta-ronta. Seseorang yag entah darimana, seakan ingin menghampiri deathclaw yang meronta itu dengan berlari bersebelahan dengan Ibenk, lalu mendekati deathclaw itu. Dia mencabut pedang yg ada dipunggungnya, lalu menekuk bilah pedangnya yg panjangnya tak seperti pedang pada umumnya dengan sekali hentak.
‘jgklik!’ ‘nnnnnnnngggggggggiiiinnngggg!!’
Pedangnya seakan bergetar, bergerak maju mundur dengan cepat, menghasilkan bunyi jernih yang tak terlalu nyaring.
‘zzbwwaaanng!! Zzssaaanngg!! Blntaaangggg!! Nnnngggiiiinnnggg!’
Tanpa basa basi, dia memotong kedua tangan dan kakinya, lalu memotong sisa tanduk yang masih membahayakan.
“NNGGRROOOHHH!!”
Darah berwarna merah bercampur cairan berwarna hijau mengalir kesemua penjuru.
“NGGGRRUUUOOHHH!!” makhluk raksasa itu tak berdaya sekarang. Ia menggeliat ditanah. Orang misterius itu lalu mencabut sabit kecilnya dari sisa kaki beku sang Alpha Deathclaw yang ia hancurkan terlebih dahulu.
Ia lalu berbicara dengan salah satu penjaga gerbang yang selamat.
“panggil yang lain, beresin ini, jan ampe ayah tau.” Katanya dengan santai. “b-b-baaik tuan, maafkan kam-i yang tak bb-becus-“
Pria tadi menatap dalam sang penjaga.
“m-m-maaf tuan, baik, ss-s-saya laksanakan!” kata penjaga dengan terbata-bata.
Orang yang mengalahkan Alpha Deathclaw ini tampak sangat santai dan kasual. Memakai kemeja hitam yang dibalut sweater abu-abu, celana skinny jeans, lalu sepatu yang tingginya semata kaki(tampak seperti sepatu olahraga) berwarna perak, dan melindungi kakinya dengan pelindung lutut, ia membereskan deathclaw raksasa itu kurang dari 4 detik, seorang diri.
Ibenk menghampiri Dennis sambil tak melepaskan pandangan dari orang itu.
“Den, gapapa lo?” tanya Ibenk
“biji mata lo segitiga gapapa!! Taik! Gue diteriakin ampe mental gitu!” kata Dennis sedikit kesal. Sambil tetap berdiri melihat deathclaw yang ada dihadapannya menggeliat, dan perlahan kehabisan tenaga, orang misterius itu memanggil penjaga yang lain.

“urus mereka juga, kalo ada ilmuwan yg tanya siapa yg bolehin mereka masuk kedalam, Jo amanuphran” katanya sambil tetap melihat kearah makhluk itu. Lalu ia melihat kearah Dennis dan Ibenk yang tak terlalu jauh darinya, lalu menundukkan badannya 90 derajat, tanda minta maaf(seperti yang dilakukan orang Jepang) setelah itu pergi.....