alexa-tracking

Scene of Art (cerita fiksi)

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/576be85d9a09516e4c8b456c/scene-of-art-cerita-fiksi
Scene of Art (cerita fiksi)
emoticon-HaiHaii para pembaca emoticon-Hai


kali ini gw akan menghadirkan karya teman gw yg sedang mencoba untuk membuat sebuah cerita fantasy yg bertemakan tentang musik gitu.
semua kejadian dalam cerita ini hanyalah sebuah karangan belaka dan jika ada kesamaan nama ataupun cerita mungkin itu hanyalah sebuah kebetulan.

jika ada unek2 tentang cerita ini, jangan sungkan-sungkan untuk memberi kritik dan saran. untuk waktu updatenya gw gk bisa menentukannya karena gw harus menunggu kiriman part-part selanjutnya dari temen gw. okelah dari pada berbasa-basi yg sudah basi mending kita langsung ke ceritanya saja.emoticon-Ngakak


Chapter 1

Empat puluh tujuh ribu dua ratus rupiah jumlah yang tertera di dalam sebuah topi kusut yang terhampar di trotoar jalanan. Tujuh ribu tiga ratus rupiah dari jumlah itu terdiri dari uang receh bernilai lima ratus dan dua ratus rupiah. Hanya itu jumlah yang bisa didapat selama dua jam seperempat menit menjual kemampuannya kepada orang-orang naif dan acuh yang berlalu lalang di sepanjang jalan utama kota hujan ini. Tidak banyak harapan yang bisa di dapat pada awal malam, tidak jarang kegiatannya itu membuat dirinya merasa malu dan membuat bary sesekali menundukkan kepalanya, memalingkan wajah dari sebagian orang yang rela menunduk dan mengulurkan tangannya kedalam topi kusutnya, sebagaimana semua orang pasti merasakan hal yang sama jika berada di posisinya untuk kali pertama.
Empat puluh tujuh ribu dua ratus rupiah, ditatapnya dengan sedih dan penuh kecewa ditambah besok hari terpenting bagi adiknya.

Germilap lampu kota dan tawa canda orang-orang yang berpapasan dengannya sangat berbeda dengan apa yang di rasakan di lubuk hatinya. Tak jarang genangan air di trotoar jalan dia biarkan mengotori sepatu sneakers miliknya. Dengan gitar yang di panggul di punggungnya, dia terus berjalan menyisiri beberapa blog gedung tinggi kota. Dan sampai akhirnya dia berhenti di sebuah mall yang cukup dipadati pengunjung. Dengan mengumpulkan keberanian dan penuh harapan, dia mencoba masuk dengan wajah menunduk setengah topi tertutup sambil berjalan menjauhi kerumunan orang, sangat berbeda yang dia lakukan sebagaimana orang-orang pada umumnya. Harapan yang di harapkan di tempat yang tidak layak untuknya ini ternyata membuahkan hasil yang membuatnya sempat sedikit bernafas lega. Sebuah boneka panda kecil yang terletak di lemari kaca mencuri pandangannya, membuatnya berjalan lebih dekat untuk memastikan nominal yang tergantung di salah satu sisi telinga boneka itu. Dengan harapan, hasil jerih payahnya malam ini dan sisa uang yang dia simpan di kantong kemeja garis-garisnya melebihi jumlah nominal yang tergantung itu. Tak banyak yang dia lakukan selain menghela nafas yang ternyata jumlah uang yang dia miliki tidaklah mencukupi niatnya membawa pulang boneka panda itu untuk adiknya. Dipegangnya kotak kaca itu dengan penuh rasa sedih, dan dia mencoba berbesar hati untuk pergi meninggalkan harapan singkatnya itu.

Setelah beberapa langkah dia berjalan menjauhi harapannya itu, sebuah telapak tangan mendarat di bahu kanannya yang membuat langkahnya berhenti seketika. Setelah menoleh, dia mendapati seorang gadis cantik yang tersenyum tengah berdiri di hadapannya. Sambil sedikit mengangkat topi kusutnya, dia melihat rambut panjang yang tergerai berwarna kecoklatan dan syall berwarna hitam yang melingkar rapi di leher gadis itu. Dia sempat sedikit kaget dan bertanya dalam benaknya, apakah dia mengenal gadis yang berdiri di hadapannya saat ini.

"Apakah kau menginginkan boneka ini?" tegur si gadis sambil memberikan boneka panda harapannya itu.

Dengan wajah terkejut, bary mencoba mengulurkan tangannya untuk mengambil boneka panda pemberian gadis misterius itu.

"Te . . Te . .Terima Kasih!" kata bary sambil menundukkan kembali kepalanya.emoticon-Malu

"Apa yang akan kau lakukan dengan boneka itu?" tanya gadis itu.

"Aku akan memberikan boneka ini sebagai hadiah di hari ulang tahun adik perempuanku besok!"

"Wah, kau sungguh seorang kakak yang baik!" jawab gadis itu sambil tersenyum manis.

"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" kata bary

"Kau mencari tau sesuatu? Kenapa kau tidak bertanya dan berbicara sambil menatapku?" jawab gadis itu sambil tertawa..emoticon-Big Grin

Dengan penuh keberanian Bary mencoba mengangkat kepala dan menatap gadis itu.

"Apakah aku terlalu menakutkan?'' seru gadis itu.

"Ti . .ti . .ti . . Tidak, tidak!" Bary tersenyum malu sambil memegang topinya.

"Jadi kau pemalu, hahahaa,!"emoticon-Wakaka

"Ya bisa di bilang begitu . ."emoticon-Sorry

"Ayo ikut aku, kita bisa banyak mengobrol sambil duduk di kursi dekat eskalator sebelah sana !" pinta gadis itu.

Tanpa menjawab bary pun mengikuti gadis itu menuju sebuah kursi panjang yang terletak di sebelah kanan eskalator. Keduanya duduk dan kembali melanjutkan perbincangan yang tadi sempat tertunda.

"Aku rasa kita pertama kalinya bertemu !" saut Bary

"Kau benar, kita memang tidak saling kenal sebelumnya . ."

"Oh iya, namaku Bary dan terima kasih bonekanya!"

"Namaku Jihan dan kau tidak perlu berterimakasih, kau pantas mendapatkannya karena kau orang baik . ." sambil tersenyum emoticon-Smilie

"Bagaimana kau bisa menyimpulkan kalau aku orang baik?"

"Sebenarnya tadi aku mengikutimu . ."

"Apa ? Kenapa kau mengikutiku?" tanya Bary penasaran.

"Aku sebenarnya tidak berniat mengikutimu, tadi aku melihat kau sedang menyanyikan beberapa lagu diseberang jalan dan itu menarik perhatianku. Apakah aku benar?"

"Oh yang tadi itu ya, itu memang benar aku! Apakah aku telah membuat kesalahan?" Bary kembali menundukkan kepala dan membenamkan kedua matanya di balik topinya itu.

"Tidak, bukan seperti itu. Kau sama sekali tidak membuat kesalahan apapun!"

"Jadi kenapa kau mengikutiku?" sambil kembali mengangkat kepalanya.

"Aku hanya penasaran, karena tidak biasanya aku melihat orang bernyanyi merdu di atas trotoar jalan. Dan aku berniat memberimu beberapa uang yang pantas untuk suaramu itu" sambil menatap bary penuh keyakinan.

"Kau terlalu berlebihan menilaiku . . jadi kau sering berada di daerah sana ?

"Setiap pulang dari perpustakaan aku selalu mampir ke cafe di seberang jalan tempatmu berdiri tadi, biasanya aku menghabiskan malamku disana meminum segelas kopi sambil membaca buku yang ku pinjam dari perpustakaan".

"Kau benar-benar rajin ya . ." Bary tertawa kecil.

"Tidak juga, aku hanya melakukan hal sebaik mungkin untuk pendidikanku"

"Jadi kau masih menuntut ilmu, sekolah atau kuliah ?"

"Aku kuliah jurusan seni di salah satu universitas negeri di kota ini. Bagaimana denganmu ?"

"Aku hanya membantu paman di toko selepas tamat SMA, jadi untuk pergi ke universitas aku tidaklah seberuntung dirimu"

"Segala sesuatu memang sudah menjadi takdir tuhan, tapi dari yang aku lihat, kau lebih tertarik dengan gitarmu dari pada sebuah buku di pangkuanku ini" jihan tertawa lepas.

"Apakah kau seorang peramal ? Hahaha . .emoticon-Big Grin Perkataanmu memang benar, aku lebih memilih bermain gitar dari pada membaca buku yang akan membuat kepalaku pusing saja"

"Kau bukanlah orang yang sulit untuk masuk universitas, kau memiliki kemampuan, itu pasti mudah untukmu. Tapi kau lebih memilih hobimu di bandingkan sesuatu yang akan memusingkan kepalamu" Jihan tersenyum

"Kau pandai menilai orang dengan cepat, apakah itu kekuatan dari buku-buku yang kau baca?" Bary tertawa sambil menunjuk buku di pangkuan Jihan.

Mereka berdua terlihat lebih dekat dengan obrolan-obrolan yang diselingi beberapa guyonan. Mungkin ini pertama kali bagi Bary mendapatkan teman gadis yang membuatnya mau berlama lama berbincang.

"Eh uda jam 22.30, kita balik aja yuk !" ujar Jihan.

"Jadi lupa waktu karena ke asikan ngobrol. Jadi bisakah kita bertemu lagi? Sekalian aku balikin duitmu ini" Bary bertanya sambil berdiri di hadapan Jihan.

"Yaelah . . Untuk masalah duit boneka itu gak usa dipikirin. Kau bisa menemuiku di tempat yang ku ceritakan tadi. Mmmm mungkin pada pertemuan kita selanjutnya kau bisa menyanyikan sebuah lagu untukku, ya hitung-hitung membalas jasaku hari ini" pinta Jihan dengan nada bercanda.

"Baiklah . .aku akan melakukannya untukmu. Aku akan menemuimu besok malam"

"Oke kalau begitu aku pergi duluan ya, dahhh !"emoticon-Hai

Perlahan-lahan Jihan berjalan menuju pintu keluar mall. Bary kembali duduk dan menatap boneka panda yang diberi Jihan tadi dengan rasa terharu dan senang. Dia tidak menyangka bahwa, dia akan memberi hadiah untuk ulang tahun adiknya besok.
image-url-apps
pertamax diamankan ky emoticon-Cool
KASKUS Ads
Chapter 2



Bary merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Bary memiliki sifat pemalu dan dia tidak memiliki banyak teman, terutama teman wanita. Hanya musik yang ada di hati dan kepalanya. Ayah Bary terbunuh saat dia berumur 7 tahun dan ibunya menitipkan Bary kepada kakaknya saat setelah kejadian itu. Saat ini ibunya tinggal bersama adik perempuannya di Jepang. Sesekali mereka saling berkomunikasi mengirim surat menanyakan kabar masing-masing. Bary di besarkan oleh pamannya sejak berumur 7 tahun sampai dia lulus SMA. Selain tinggal lama bersama pamannya, Bary memiliki saudara perempuan berumur 16 tahun bernama Lisa dan Bary sangat menyayangi dan menganggap Lisa sebagai adik kandungnya sendiri. Mereka bertiga tinggal di sebuah toko musik lantai dua yang berdampingan dengan supermarket di sebelahnya.

Quote:


Bary yang di bantu Lisa lekas menutup pintu toko, dan membereskan beberapa alat musik yang tadi dilihat oleh para pengunjung. Setelah beres-beres dan menutup tokonya Bary pergi menengok pamannya di kamar yang tengah terbaring.

Quote:



Pagi ini seperti biasa udara dingin yang menyelimuti kota dengan hamparan matahari menyinari setiap sisi jalanan. Bagi Bary, hari ini memang seperti hari-hari sebelumnya. Dengan kegiatan yang sama membuka toko pada pukul 08.00 dan Lisa senantiasa membantu kakak tercintanya itu di kala waktu dia libur sekolah.

Quote:



Melihat ekspresi adik tercintanya itu Bary merasa senang dan teringat sesaat kepada Jihan, yang menurutnya dia sebagai malaikat penolong di malam kelabunya kemarin.
Setelah mereka berdua selesai sarapan, seperti biasa Lisa selalu membawakan sarapan pagi untuk paman Bo, sedangkan Bary pergi turun untuk kembali menjaga toko. Hari ini toko tampak lebih ramai, karena hari ini adalah hari libur. Banyak muda mudi baik pemula maupun yang sudah berpengalaman melihat dan membeli berbagai alat musik. Tampak terlihat mobil sedan berwarna merah mengkilat berhenti di depan toko Bary. Seorang gadis tinggi berwajah mungil dengan setelan jaket kulit bercelana jean cokelat dan sepatu berhak tinggi keluar melalui pintu mobil mewah itu. Bary tidak melepaskan pandangannya setelah gadis itu melewati pintu tokonya. Setelah Bary mengikuti ke mana gadis itu berjalan, gadis itu berhenti di depan sebuah alat musik biola. Dengan tangan menyentuh dagu dan melihat ke atas, gadis itu terlihat berpikir sejenak dan kemudian dia menatap kembali alat musik itu. Gadis itu melihat ke arah Bary dan menghampirinya di meja kasir.

Quote:


Gadis itu tersenyum dan meminta Bary mengambil dan membungkuskan biola itu untuknya. Setelah selesai membayar gadis itu pergi meninggalkan toko dengan mobil modis miliknya itu. Setelah melihatnya pergi, jantung Bary bedegup kencang dan dia baru sadar bahwa gadis yang bersamanya tadi memiliki wajah cantik yang membuat Bary jatuh cinta pada pandangan pertama. Dia hanya bisa berharap agar suatu hari nanti dia bisa berkunjung dan bertemu kembali.

Tak lama kemudian lisa datang dan ikut membantu Bary. Karena pengetahuan di bidang musik tidak sehebat Bary, Lisa hanya duduk dan membantu di bagian kasir saja. Dengan ramainya pengunjung yang datang ke toko, tanpa terasa hari mulai petang. Bersamaan dengan itu tampak terlihat gemerlap lampu jalan dan kota. Kota tampak lebih indah ketika menjelang malam.

Quote:



Dengan tampilan biasa saja seperti sebelumnya, Bary menuruni tangga dengan memakai topi kusut kesayangannya itu. Tak lama kemudian Lisa memanggil Bary dari meja kasir.


Quote:




Setelah meninggalkan toko, Bary berjalan mengambil rute yang berbeda dengan apa yang kemarin malam dia lewati. Itu karena dia hanya harus pergi ke suatu tempat dimana dia sudah berjanji akan menemui jihan disana. Bary sudah mengenal setiap sudut jalanan sampai jalan setapak yang berada di antara gedung-gedung yang menjulang tinggi. Sehingga tak butuh waktu lama Bary untuk sampai ke cafe tempat Jihan berada. Dari arah seberang jalan dia melihat seorang gadis berambut coklat dan berbaju merah maron dan diyakininya kalau itu Jihan dan Bary langsung menghampirinya.

Quote:



Mendengar kata-katanya, pria menakutkan itu mencoba menampar wanita yang bersamanya. Tapi niatnya terbatalkan lantaran sebuah buku tebal mendarat tepat di kepalanya.
×