alexa-tracking

7 warna pelangi (part 1)

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5767a15598e31bd9618b456b/7-warna-pelangi-part-1
7 warna pelangi (part 1)
Quote:


dari mana harus ku mulai cerita ini?

pada bagian mana aku harus mulai menceritakannya.

bagaimana caranya, agar kamu paham, agar aku terkesan tidak menyedihkan.


2007

“semesta ku kamu, jangan pergi”

usia ku belum 17 saat itu, aku memasuki bangku perkuliahan. semasa sekolah aku belum pernah berpacaran layaknya anak zaman sekarang (yang tiap 3 bulan, ganti pacar).Masa sekolahku hanya ku habiskan dengan bermain bersama teman sekolah ku, tertawa, seakan hidup ku memang hanya untuk bahagia, tanpa perlu risau akan urusan lain di luar urusan sekolah.

aku terlahir dari keluarga sederhana, hanya ada aku, ibu dan ayah. aku termasuk anak yang tidak memiliki ambisi besar, aku melihat dunia dalam sudut pandang yang sederhana. bahwa dunia ini ada karena Tuhan ingin manusia berbahagia. dengan segala bentuk ciptaan-Nya yang indah.

aku tidak pernah mengeluh akan hal apapun, untuk anak seumurku dulu, aku tidak pernah meminta apapun kepada orang tua ku, aku tidak pernah memandingkan akan hal yang orang lain miliki.

bersama keluarga ku bagi ku cukup. itu saja.

dunia ku terbalik saat ayah ku meninggal dunia. aku merasa Tuhan tidak adil tanpa pernah tahu keadilan apa yang selalu tuhan berikan kepadaku setiap harinya. saat itu aku merasakan diri ku menjadi begitu delusional. aku yakin ayah ku akan kembali lagi, ini hanya mimpi. dan ini terus mengganggu pikiran ku selama berapa waktu.

entah aku yang terlalu banyak nonton film yang menyuguhkan banyak mimpi, dan keajaiban. saat itu aku benar-benar ingin mendapatkan keajaiban itu.

aku tidak menangis saat ayah ku meninggal, tidak sedikitpun didepan orang lain, kawan sekolah, bahkan didepan ibu ku. aku masih sama, aku mengurusi studi ku yang saat itu aku sudah kelas 3 SMA, aku masih membaca novel davinci code ku yang belum selesai ku baca. tiba-tiba saja aku membenci ayahku.

aku benci dia, karena dia tidak mau berjuang untuk dapat terus hidup, aku benci dia dan kebiasaan tidak sehatnya selagi dia hidup, seandainya saja dia mau berhenti untuk merokok dan meminum kopi ditiap harinya. seandainya saja dia mau hidup sehat.

aku juga menyalahkan keluarga ku, saat ayah ku mau meninggal aku tidak berada disampingnya. aku malah menghubungi keluarga lain mengabari bahwa ayahku sedang sakit parah.

aku juga menyalahkan diri ku sendiri, kenapa aku harus menurut saja, padahal saat itu aku tahu, situasi yang sedang ku hadapi itu sedang tidak baik, kenapa saat itu saat dia tiba-tiba menangis dan menyentuh pipiku berkata “tidak apa-apa” sambil mencoba tersenyum, dengan bodohnya aku percaya dia tidak apa-apa. padahal aku tahu ini pasti apa-apa. dan pergi meninggalkannya.

aku benci saat ayah di menit terakhir ayah ku ada, orang sekitarku tidak mengingatkan ku, untuk terus berada didekatnya.

aku benci segala hal yang bisa mengingatkan aku tentang ayahku.
aku benci kalau kau harus menerima kenyataan bahwa kelak saat orang-orang sekitarku dengan bangganya menceritakan kehebatan ayahnya. aku hanya bisa diam. semua cerita ku akan bernada “past tense” aku benci menjadi berbeda.

aku terlanjur memilih membenci, tanpa pernah tahu rasa sayang apa yang selama ini memelukku, tanpa batas, tanpa pernah tahu dia pun sebenarnya tidak ingin meninggalkan ku secepat ini, bukan kuasanya pula untuk mengelak dan tetap memilih tinggal bersamaku.

saat itu aku baru tahu rasa sakitnya ditinggalkan, sakit sampai benci. dan aku tidak ingin merasakannya lagi.
aku tidak pernah menyangka jika akhir tahun 2006 itu ku habiskan dengan perasaan penyesalan yang tidak pernah henti akan ayah ku, dengan sebuah kado manis berpita pink yang entah dari kapan ayah ku sudah siapkan untuk ulang tahun ku yang ke 16 tahun. saat itu aku benci hujan di kala bulan Desember, aku benci. karena aku merasa hujan turun karena merasa kasian kepadaku. aku yang sudah ditinggal pergi oleh ayahku.

iya aku tahu, itu hanya ketakutan-ketakutanku sendiri.

memasuki bangku perkuliahan ditahun 2007, aku bertemu dengan dia. seorang senior, dia tampak seperti orang yang akan berjuang mati-matian demi orang yang dia sayangi. semangatnya begitu membara, seperti warna kesukaanku, warna merah. dia begitu menarik perhatianku.

--


emoticon-Cool


Pantengin kisah sedih lah sekali2
ngikut atas ane ah..pantengin nii cerita..
emoticon-Toast