alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Teman Ahok: PRD Minus Ideologi?
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5767877c1a99758d728b4568/teman-ahok-prd-minus-ideologi

Teman Ahok: PRD Minus Ideologi?

jurnalekonomi.co.id

Spoiler for Teman Ahok:


Jurnalekonomi.co.id – Huntington dan Nelson dalam “Partisipasi Politik di Negara Berkembang” memaknai partisipasi politik sebagai partisipasi politik adalah kegiatan warga Negara yang bertindak sebagai pribadi-pribadi, yang dimaksud untuk mempengaruhi pembuatan keputusan oleh Pemerintah. Partisipasi bisa bersifat individual atau kolektif, terorganisir atau spontan, mantap atau sporadik, secara damai atau dengan kekerasan, legal atau ilegal, efektif atau tidak efektif.

Secara eksplisit, keduanya membedakan partisipasi politik dalam dua karakter. Pertama, partisipasi yang demokratis dan otonom alias sukarela. Kedua, partisipasi yang dimanipulasi, diarahkan, dan disponsori oleh Pemerintah adalah bentuk partisipasi yang dimobilisasi.

Sejak 2012, kajian partisipasi politik menjadi sesuatu yang menarik jika dilihat dari gerakan Jakarta Baru, kelompok masyarakat pendukung Jokowi-Ahok yang maju sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI. Menarik karena kemudian, rupanya, gerakan tersebut menjelma menjadi gerakan Relawan JKW-JK yang mengantarkan Jokowi sebagai presiden dan Jusuf Kalla sebagai wakil presiden.

Repotnya, gerakan relawan yanggenuine tersebut belakangan justru kental dengan kepentingan individu. Lihat saja tokoh-tokoh relawan yang kini mendapat posisi di lingkaran BUMN hingga pemerintahan. Belum lagi yang masih merengek-rengek kursi kekuasaan.

Sedikit banyak, gerakan relawan 2014 mengingatkan akan gerakan pemuda 1966 yang ternyata pragmatis usai menumbangkan Soekarno atau gerakan pemuda 1999 pasca Soeharto. Simak saja berapa tokoh gerakan yang kini ada di lingkaran kekuasaan.

Tak heran, Teman Ahok, gerakan baru yang ditujukan untuk mengumpukan KTP warga DKI dalam upaya dukungan bagi Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok untuk maju melalui jalur non partai menjadi sesuatu yang mengherankan.

Target Teman Ahok sendiri cukup serius mengumpulkan 1 juta fotokopi KTP yang sah sebagai syarat Ahok maju menjadi calon independen. Padahal, syarat calon independen di Pilkada 2017 hanya 525 ribu fotokopi KTP atau 6,5% dari jumlah daftar pemilih tetap (DPT) di DKI Jakarta. Rupanya, target 1 juta berhasil tercapai juga, tepat pada hari jadi Teman Ahok 16 Juni 2016.

Sebuah perayaan kecil dilakukan di Sekretariat Teman Ahok di Graha Pejaten. Pendiri perkumpulan yang berjumlah lima orang, berusia 23-25 tahun, yaitu Amalia Ayuningtyas, Singgih Widiyastono, Aditya Yogi Prabowo, Muhammad Fathony, dan Richard Haris Purwasaputra meriung meja. Sebuah roti tart dengan satu lilin ada di muka mereka.

“Satu juta!” ujar mereka berlima. “Ini juga kado untuk Jakarta.” Pekan depan, 22 Juni Jakarta akan merayakan hari jadi dibangunnya kota Jayakarta oleh panglima Kesultanan Demak yang bernama Fatahillah. Di depan mereka Profesor Hamdi Muluk dan Prof Ikrar Nusa Bhakti bertepuk tangan.

Mencapai target 1 juta KTP warga DKI, Teman Ahok kini dianggap sebagai ‘sesuatu’ bagi partai yang tengah menikmati kekuasaan. Sejumlah partai, seperti Nasdem dan Hanura sejak awal memilih untuk mendukung. Ketua Umum Hanura, Wiranto bahkan memberikan dukungan langsung.

Alhasil sejumlah tudingan pun muncul terhadap tudingan tersebut. Hal yang menarik tentu saja delegitimasi menggunakan jargon deparpolisasi. Sesuatu tudingan yang uniknya dimunculkan orang-orang yang pernah bergerak serupa Teman Ahok di masa Orde Baru.

Kelima pendiri Teman Ahok tentu masih terlalu kecil untuk mengingat bahwa di masa Orde Baru, ketika yang lain diam, sudah ada gerakan berpolitik secara mandiri yang tidak menyenangkan bagi pihak yang mapan.

Sejarah Indonesia bahkan akan mencatat gerakan anak-anak muda di usia 20-an, Partai Rakyat Demokratik (PRD), gerakan politik yang lebih tegas secara ideologis dibandingkan gerakan politik tahun 1970-an maupun 1980-an yang mudah dipatahkan Orde Baru.

PRD yang lahir 15 April 1996 dikenal sebagai partai gerakan yang aktif melakukan kaderisasi, penggalangan massa dan kerap berjuang dengan metode ekstraparlementer. Hanya berumur tak lebih dari tiga bulan sejak dideklarasikan pada 22 Juli 1996, pemimpin dan kader PRD diburu pemerintah pasca peristiwa 27 Juli 1996.

Peristiwa 27 Juli 1996 atau Peristiwa Sabtu Kelabu adalah peristiwa pengambilalihan secara paksa kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jalan Diponegoro 58 yang saat itu dikuasai pendukung Megawati Soekarnoputri. Penyerbuan dilakukan oleh massa pendukung Soerjadi (Ketua Umum versi Kongres PDI di Medan) serta dibantu oleh aparat dari kepolisian dan TNI.

“Oh iya, aku tahu itu mas Budiman Sudjatmiko,” ujar Amalia Ayuningtyas. Namun langsung menggeleng tak paham apa itu PRD, apa itu peristiwa 27 Juli. Sesuatu yang mengherankan untuk seorang tokoh gerakan yang kini menjadi momok bagi partai yang lalu menuding: “Deparpolisasi!”

Richard Haris Purwasaputra bahkan menunjuk diri: “Kami ini anak bau kecur!” Maklum saja, ketika gerakan Jakarta Baru begitu bersemangat. Richard dan keempat kawannya baru menjadi relawan pemula yang disuruh-suruh oleh senior mereka.

Sesuatu yang mengherankan bagi individu-individu yang jika merujuk David P. Roth dan Wilson dalam “The Comparative Study Of Politics” masuk dalam kelompok aktifis adalah pemimpin dan para fungsionaris partai atau kelompok kepentingan yang mengurus organisasi secara penuh waktu (Full Time) ternyata tidak memiliki cukup dasar ideologi politik.

Jangan membayangkan ada sosok-sosok seperti Budiman Sudjatmiko, Dita Indah Sari, Bimo Petrus, Andi Arief, Rahardja Waluyo Djati, Widji Thukul, Nezar Patria, Sereida Tambunan, Mashuri, Linda Chrystanti, Herman Hendrawan, Munif Laredo, atau Garda Sembiring.

Sebaliknya lima pendiri Teman Ahok, yang merupakan representasi generasi milenial mencerminkan gerakan yang cair serupa gerakan kegiatan unit kegiatan ekstra kampus. Mereka bekerja secara organik untuk sebuah tujuan yang tidak perlu mematangkan visi ideologis. Teman Ahok adalah energi yang terkumpul untuk satu tujuan.

Wajar saja kelima pendiri Teman Ahok tak cukup ketika tudingan deparpolisasi diarahkan. Mereka juga tak cukup mengerti deparpolisasi adalah tindakan pertama yang dilakukan rezim Soeharto yang didominasi militer dengan membuat dan memberlakukan kebijakan politik untuk mengikis habis pengaruh dan peran partai politik di Indonesia.

Ideologi partai yang begitu kental di masa Orde Lama, dikikis habis selama 32 tahun dan menghasilkan pemahaman pemilu adalah kegiatan tahunan dan partai-partai saat ini yang hanya menjalankan tradisi maupun kultus individu, kecuali Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang merupakan partai kader.
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
jurnal ekonomi.. emoticon-Bingung
TEMAN MAHOK rating nya jadi naek euy.,!!

Dibanding dgn PARTAI-PARTAI.,!!

emoticon-Takut
Panjang bener beritanya, nggak ada mulusnya lagi. Numpang lewat aja ya es gue emoticon-Traveller
terus Komenlu sebagaui TS apa blog???

Richard Haris Purwasaputra bahkan menunjuk diri: “Kami ini anak bau kecur!” Maklum saja, ketika gerakan Jakarta Baru begitu bersemangat. Richard dan keempat kawannya baru menjadi relawan pemula yang disuruh-suruh oleh senior mereka.

seniornya siapa ???? cukong, cinak,pfekaes,hj lu2ng emoticon-Ngakak
Nyimak aja deh emoticon-army
Wah ini sejarah.. ntaps..
Quote:


Memang nggak ada agenda teman ahok untuk deparpolisasi. Tujuan mereka hanya sebatas Pilkada DKI dan bela calon mereka. Anak2 muda, generasi milenial dan digital memang gesit sekali dan resourceful. Dengan media sosial, mereka bisa tumbuh dan berubah secara organik. Pendukung mereka nggak tertarik dengan ideologi, kaderisasi, loyalitas group dsb. Seperti berbagai hal di dunia digital, lifecyclenya hanya sebatas sebuah campaign dengan tujuan yang simple/tangible. Begitu Ahok terpilih, mereka bubar dan mutasi lagi untuk campaign berikutnya.

Contoh fenomena yg mirip2: Anyonymous, LulzSec, Project Chanology, Occupy Movements, Arab Spring, dll.
terima kasih hj lulung ..................emoticon-Traveller
Quote:


ane setuju bgt, gan.. emoticon-shakehand
di zaman skrg dimana informasi bs didapatkan dgn cepat,
siapa saja bs jadi pencetus pergerakan..
ga harus dr kalangan intelektual, un-educated people pun bs klo mau..
Wndingnya bsa jadi parpol jg ini teman ahok .. Jokowi ahok ini punya basis relawan yg cukup . Nekat bikin parpol keknya bisa 2 orang ini
PRD tukang demo laknat...kalau udah dapat posisi tinggal molor digedung dewan....


Dimana2 kalau prd demo ya rusuh, bakar2...

Fenomena teman ahok...
Membuat ketar ketir elite...
Kalo dibandingkan PRD, gak nyambung, malah bias...
jaman gini jualan ideologi emang masih laku?


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di