alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
4.67 stars - based on 3 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/57677995c0d770e80c8b4567/kuli-canggih

Kuli Canggih (Cerita Lucu Seorang Kuli)

KULI CANGGIH

Kuli Canggih

Akhirnya, gue bisa nulis cerita serial juga sesuai janji gue di thread Diary Seoarang Kuli Yang Menjadi Anak Kuliahan Dan Jatuh Cinta.

Cerita ini gue angkat dari kisah gue sendiri, dan pada bagian tertentu memang ada yang gue ganti kalimatnya tapi tidak merubah makna aslinya, hanya bertujuan untuk lebih mudah dibaca dan dicerna. Sebelumnya teman-teman kaskuser perlu diketahui, kalau gue adalah penulis dan member kaskus yang masih sangat newbie, jadi gue sangat berharap temen-temen dapan memaklumi dan senantiasa memberikan kritik dan saraanya. Seperti biasa cerita yang gue post disini juga akan gue post diblog Kuli Canggih, jadi jangan heran jika terdapat kesamaan.

Hal lain yang gue harap dapat dimaklumi adalah masalah waktu untuk posting cerita berkutnya, gue adalah seoarang mahasiswa tingkat akhir yang sedang berjuang mendapatkan toga ke duanya, jadi sembari menyusun tesis, gue juga akan nulis cerita ini, gue usahakan seminggu sekali ceritanya bisa diupdate.Aamiin.

Secara garis besar, gue mencoba menyuguhkan kisah cinta, persahabatan, keluarga, cita-cita, dan pekerjaan menjadi satu paket dalam cerita ini, dan tentunya kisah-kisah yang gue alamin sendiri, sangat berharap temen-temen bisa enjoy dengan ini.

so, selamat menikmati wejangan dari gue. emoticon-Big Grin

INDEX






Diubah oleh: herdizon
Urutan Terlama
Halaman 1 dari 3
KC PART 1 ~ BEGOK LU!!!


Kuli Canggih

“Kalo kamu seorang penulis dan menulis untuk dirimu sendiri, cerita kehidupan seperti apa yang akan kamu tulis?”

“Riwayat hidup.”

“Iya, sudah pasti riwayat hidup. Maksud aku kehidupan yang seperti apa?”

“Entahlah, hahaha.”

“Hahaha, oke yang terakhir. Orang seperti apa yang diharapkan untuk mencapai kehidupan yang diimpikan itu?”

“Aku kadang bermimpi, punya temen dari kecil yang nantinya jadi pasangan. Hahaha.”

“Itu ngga menjawab pertanyaan pe’ak. Sekali lagi deh, ending story seperti apa yang kau inginkan bersama ku?”

Kenalin sob, gue Rizon. Temen-temen kampus lebih dominan manggil gue kulcang (singkatan dari Kulicanggih). Yang perlu digaris bawahin gue nggak ada sangkut pautnya sama Leah Dizon ataupun Fadly zon, juga nggak ada kaitannya sama mas-mas yang teriak “mijon-mijon” dalam bus. Gue anak pertama dari empat bersuadara, cowok yang berasa paling tampan kalau lagi jauh dari kaca (yoi gue banget). Hobby gue paling menarik adalah berimajinasi (paling sering waktu mandi). Hal yang paling bikin gue tertarik sampai sekarang, mencoba meneliti apakah notasi ketawa kewek kewek pada setiap manusia itu sama, dan menurut survey dua tahu ini, setiap pembaca mempraktikan ketawa itu sekarang, dan mulai senyum-senyum sendiri setelah membaca bagian ini.

Cerita ini dimulai pada awal tahun 2014, waktu itu gue sebagai mahasiswa yang sudah masuk waiting list buat wisuda (weis kaca mata hitam mana?). Dan saat ini juga, gue salah satu korban keganasan LDR semenjak 2013 (kaca mata selinder aja deh). Pada akhir 2013, gue mulai percaya LDR itu mengerikan, setelah malam jum’at bulan sabit x cewek gue kirim pesan begini,

"Untuk Kekasih hati ku yang berusaha keras demi masa depannya, aku bahagia banget sama kamu, kamu lucu, pintar membaca suasana hati aku, kamu cuek tapi mesra, banyak hal gila yang kita lakukan bersama-sama yang membekas disetiap sudut kota ini yang membuat aku merasakan rindu mampus sekarang, kamu cowok pertama yang membuat cerita cinta aku penuh warna dan sangat berkesan. Terimakasih sayang sudah membuat aku jatuh ke lubuk cinta terdalam kamu, hati aku seperti kamu tanami bermacam-macam bunga, kamu siram dan kamu rawat sehingga bunga itu tumbuh dengan ragam warna, indah banget sayang (gue bener-bener senyum lega dan terharu). Setelah aku renungkan semalaman ini, aku sudah mantapkan hati untuk mengakhiri hubungan ini, maaf, maaf, jujur aku nggak bisa pacaran jarak jauh, aku kesepian, aku harap kamu bisa menerima ini, karena aku juga udah memilih seseorang yang sekarang berada di samping aku."

Rasanya itu pedddih, bukan karena gue diputusinnya, tapi karena gue adalah cowok bermental kerupuk yang masuk angin. Gue nggak bisa dengan mudahnya kenalan sama cewek terus bilang “aku cinta kamu, kamu mau ngga jadi cewek aku.” Gue harus minum komik 5 liter dulu buat ngomong gitu. Lupain cerita ini, kita kembali ke tahun 2014, masa dimana gue keasikan ngejomblo.

Lamunan yang nyaris bikin gue kesurupan pecah pagi itu, saat nada dering panggilan yang sebelumnya gue pikir alarm nusuk-nusuk ditelinga. Dengan mata kantuk, gue menyapa orang dibalik telepon tersebut.

“HA, Haa, Haaaa, Hadceeehh. Halo,” Sapa gue sambil menarik ingus yang kececer ke mulut.

“Woi Unta ragunan, dimana lu kamfret. Gue udah nungguin dari tadi, SEMPAK.”

“Sempak lu tuh belum ganti. Lu siapa si?”

“Kan biji, masih tidur. Gerry jang Gerry.”

“Gey? Engga gue ngga gey,” Jawab gue syok.

“Gerry, G.E.R.R.Y. Gey, eh, Gerry jang,”

“Ooooo, elu ger, dimane lu cok? Paling juga masih di TOL.”

“Nenek lu di TOL, gue udeh dirambutan dari tadi, buru sini jemput.”

“Nenek gue di kampung kali. Emang jam berapa sih sekarang?”

“Bodo amat nenek lu dimane. Bagus lu nanya jam. Sekarang jam 09.44 pagi menjelang siang. Calon sarjana nganggur lu.”

“Waahahahahaha, sorry. Ya udah gue mandi dulu.”

“Kagak usah mandi gile, cuci muka aja sana.”

“Oke beb, tungguin yah cintah.”

“Jijik.” Gerry langsung menutup teleponnya.

Cuuss, gue langsung cuci muka dilanjutin dengan menjemput si Negro nyasar ini diterminal kampung rambutan menggunakan Ferrari warna biru dengan kode 112. Gerry adalah temen gue dari SMA. Kita sama-sama punya selera yang payah dalam fashion,

“Ger, baju gue masih oke nggak?”

“wihh oke banget, keren nih.”

Waktu itu gue lagi menggunakan baju yang udah berumur empat tahun, seletingan sama ponakan gue, dan baju tersebut lebih cocok digunakan sama sundel bolong, karena posisi bolongnya ngepas banget.

Selain itu, kita juga sama-sama gila game, game udah seperti kehidupan bagi kami. Sama-sama pernah diputusin gara-gara game, sama-sama jomblo yang pastinya (gue baru sadar kita secocok ini ger, jadian aja yuk kampret). Selesai SMA Gerry ke Bandung dan kerja disana, sedangkan gue di Bekasi buat kuliah. Gue kuliah di Bekasi tapi ngekos di Kelapa Dua Depok, kurang greget apa? Gue pindah ke Kelapa dua karena harus nungguin jadwal wisuda empat bulan kedepan. Gue pikir, dari pada harus pulang ke Bengkulu, lebih baik gue nyari suasana baru, untung-untung dapet kerjaan atau cewek baru. Lalu, kedatangan Gerry hari ini bukan untuk liburan, ngejenguk gue ataupun ngelamar anaknya bapak kosan gue, tapi mulai hari ini Gerry akan tinggal dikosan gue sambil nyari kerjaan baru, ini artinya romantisme antara kami berdua akan dimulai hari ini.

Lalu gue tiba diterminal kampung rambutan, dengan rintik hujan dan sedikit kilat-kilat petir menemani pencarian gue. “Ini si item sembunyi dimana lagi,” Sesekali hati gue bergumam. Riuhnya suasana terminal membuat gue sering-sering kucek mata, gimana tidak, mata gue bukannya mencari sosok Gerry, tapi melotot kearah mba-mba sexy yang gue nggak perduli asalnya dari mana. Melihat mba-mba menggunakan baju putih kehujanan its something gimana gitu, ngebentuknya itu dosa banget, ditambah lagi baju putih basah itu udah pasti tembus, bikin gue pangling dan pengin liat terus.

Setengah jam berlalu, dan gue belum juga ketemu sama Gerry, dengan sangat terpaksa gue harus ngorbanin pulsa gue untuk menelpon Gerry. Sambil menyusuri trotoar gue menaruh handphone ditelinga gue.

“Woi biji, lu dimane sih?” Teriak gue mengalahkan suara hujan.

“Masih diterminal lah kampret, lu yang dimane?”

“Ini gue diterminal, lu sebelah mananya si?”

“Gue dideket Halte busway, lu kesini ye, ilmu gue bisa luntur kena hujan,”

“Oh, Halte yang itu tuh?” Tanaya gue sambil menunjuk arah halte, seolah-olah Gerry lagi didepan gue sekarang.

Tiba-tiba, tangan gue ditarik kearah warung sama ibu-ibu, keras banget, dan ibu ini melototin gue sambil teriak.

“BEGOOKKKKK!!!”

Gue langsung syok, gue panik, itu kasar banget, dalam hati gue cuma bisa ngebales “Hah?”

“TOLOLLLLLL!!!”

“Gue salah apa?” gumam hati gue dengan ekspresi syok abis.

“BODOOOH!!! MASIH NGGA NGERTI HAH? MAU MAMPUS LU?” Dengan mata yang hampir keluar, ibu ini terus maki-maki gue.

“LU NGGAK LIAT PETIR DARI TADI? LAGA-LAGAAN LAGI LU NELPON SAMBIL JALAN, PETIR GINI,” Sambung ibu-ibu dengan muka yang belum puas.

Dengan sigap gue masukin handphone ke kantong gue, dan tertunduk. “Ibu ini bener sih, emang salah gue, bego bego,” Gue kembali berkata-kata dalam hati. Parahnya lagi, gue nggak berani kemana-mana, gue ngebatu aja disana.

Lalu, lewatlah seoarang cowok dengan jaket hitam muka lusuh, dengan bibir yang terlihat lagi ngedumel sendiri.

“Oi ger,” sapa gue.

“Nah, ini dia.”

“Ntar aja ngobrolnya, cabut yuk cabut,” Ajak gue tergesa-gesa sambil melihat kearah ibu-ibu tadi.

Gue sama Gerry langsung naik angkot biru kode 112. Jelas Gerry penasaran sama gue yang ketara banget gelisahnya, dia menanyakan kenapa gue buru-buru mau pergi. Setelah gue ceritain si hitam ini ketawa ngakak sambil mereka ulang kejadian tadi.

“BEGOOOOOKK LU, HAAHAHAHAHAHAHA.” Tawa lepas Gerry mulai bikin gue gerah.

“Puas lu kampret, tau gini nggak gue susul lu,” Ketus gue

“Hahaha, sumpah, gue bisa bayangin itu ibu-ibu tadi. HAHAHAAAHAHHAA,” Tambah Gerry.

“Hahaha, seneng lu ha? By the way, muka tambah kusam, baju tambah usang,” Balas gue berusaha keluar dari ledekan Gerry.

“Kayak lu nggak aja,”

“Ngehe, singkat tapi pedes,”

“Masih jauh nggak ini ke kosan lu?” Tanya Gerry.

“Lumayan 10 menitan,” jawab gue.

“Cukup buat nembak cewek,” Canda Gerry.

“Kayak berani aja lu,” Bales gue sambil memperhatikan jalan.

“TOLLLLOLLL, HAHAHAHAHHA, aduh anjir, sakit perut gue.”

“Goblok masih aja diulang,” Sambil mukul bahu Gerry.

“Sorry-sorry, tapi itu tadi kocak serius. Gue udah bete abis tadi, rasanya pengen balik lagi ke Bandung.”

“Kiri bang,” Potong gue ke supir angkot sambil memberikan ongkos.

“Nggak bakalan lu balik lagi ke Bandung. Gue tau kapasitas dompet lu,” Sambung gue ke Gerry.

“Hahaha, kampret.”

Akhirnya gue sama Gerry tiba dikosan. Gerry langsung memperhatikan setiap sudut ruangan, sambil menaruh tas, dia kembali membuka mulutnya.

“Hmm, rapi juga,” Dengan kepala sedikit mengangguk-ngangguk.

“Eh, yang minta lu ngasih penilaian siape? Mau tiduran, tiduran aja. Gue diatas, lu dibawah,”

“Hah? Udah sejauh ini kah?” Tanya Gerry kalem.

“Engga, bukan itu maksudnya sapi, gue tidurnya dikasur, lu dikarpetnya dibawah, atau kita bagi dua aja kasurnya, jadi tidurnya bersebelahan.”

Gerry kembali menatap gue, tapi kali ini lebih genit.

“Kasih guling buat pembatasnya, dan saling membelakangi.” Jawab gue ketus.

Gue langsung menyalakan laptop, sebelum pembicaraan aneh ini semakin dalam dan semakin menjadi-jadi. Gue tunjukin ke Gerry game yang akan rilis dua hari lagi.

“Nih ger, lusa ada game baru, masih close beta test. Ikutan nggak? Hadiah eventnya lumayan, ada motor gitu,” Mulai gue serius.

“Game apaan?” Tanya Gerry.

“MMORPG gitu, kayak perfect world dulu yang pernah gue maenin, kita berpetualang,” Gue menjelaskan penuh semangat.

“Ah, males gue kalo MMORPG, capek leveling. Mending gue ngedota,” Patah Gerry.

“Dota mulu, kagak bosen? Banyak map hack jugakan? Coba dulu makanya Ger,”

“Engga, lagian berpetualang itu didunia nyata, bukan di game, buktinya lu pensi maen perfect world,” Jawab santai Gerry sambil melangkah menuju kamar mandi. “INI PINTU GIMANA NGUNCINYA WOI,” teriaknya dibalik kamar mandi.

“ITU ADA EMBER, GESERIN AJA KE PINTU, BIAR PINTUNYA KETAHAN!!!” Teriak gue. “ITU GUE PENSI JUGA KARENA DIHACK KALI. LU COBA DULU AJA, NTAR MAU LANJUT ATAU NGGAK, TERSERAH LU!!!” Sambung gue.

“HAAAAA? SUARA LU KAGAK JELAS!!!”

“LU COBA DULU AJA, NTAR MAU LANJUT MAEN ATAU NGGAKNYA TERSERAH LU!!!”

“APA SIH? SUARA LU KECIL BANGET.”

“KAMPRET, ELUNYA YANG BUDEG. GUE BUKA NIH?”

GEDEBUUKKK!!! Tiba-tiba tembok kamar gue bergetar.

“ADOOOHHHHHHH!!!” Teriak Gerry kesakitan.

~Bersambung~
Diubah oleh herdizon
Ijin nenda gan seru kek nya ceritanya emoticon-Big Grin
Quote:


iya, silahkan gan. mau buka ruko juga gpp kok ganemoticon-Shakehand2

awalnya aja udah bikin ngakak nih emoticon-Big Grin
ikut nyimak gan emoticon-Big Grin emoticon-shakehand
Mantep gann...
Lanjudddd
Quote:


Terimakasih gan, mudah-mudahn postingan berikutnya masih bisa menghibur.emoticon-Shakehand2

Quote:


siap gan, minggu depan ya.emoticon-Peace
Quote:


Ruki kemahalan gan emoticon-Malu (S)
Lanjut gan
emoticon-Toast
Quote:

Ruki itu yang petinju di film youtuber gan?

Quote:


siap gan.emoticon-Shakehand2

ane bantu rate dulu gann ,mejeng di pejwan gann asik kayaknya hehe . emoticon-Shakehand2 emoticon-Shakehand2
Ada cerita komedi kuli canggih nih, emoticon-Ngakak, ane bantu rate ya emoticon-Rate 5 Star
Pomut izin gentayangan dimari ya gan

#PocongImut
gw nebeng pantat dimari yaa gan emoticon-Bettyemoticon-Bettyemoticon-Betty
Quote:



halooo gaaaaan makasih pm nya
kok belum ada lanjutannya lg gan?

padahal ane nunggu kemesraan ente sama gerry emoticon-Shutup
Diubah oleh nonanyonyo
Quote:

woh, maksih banyak gan. btw, pejwan itu apa ya gan? emoticon-Big Grin

Quote:


Gokil, makasih agan pomut. sekali-sekali gentayangan di hati ane gan. salam kenal dari kulcang untuk pomut . emoticon-Shakehand2

Quote:


siap gan, pantatnya masih okekan? emoticon-Betty

Quote:


halooo sis, akhirnya nimbrung juga. terimakasih waktu itu sudah merekomendasikan untuk membuat thread baru.
di intro ane kasih tahu kalo updatenya seminggu sekali.
tapi kalo lagi senggang, bisa kurang dari itu kok. apalagi tentang kemesraan ane sama gerry, hati ane menggebu-gebu. emoticon-Betty
Quote:


Salken juga Kulcang emoticon-Shakehand2
KC Part 2 ~ Calon Pemain Bola


Kuli Canggih

“Aduuhhh, kampret, sial nih kosan,” Sambil mengelus kepalanya, Gerry berjalan keluar dari kamar mandi.

“Hah? Kenape lu? Hahahah,” Tanya gue geli.

“Itu calon embrio lu tekling gue gile, kampret-kampret, belum jadi aja udah berani ngelawan om nya,” Jawab Gerry sambil merapikan pakaiannya kelemari.

“Buset, jadi yang gue buang tadi calon pemain bola? Hahahaha. Gue buru-buru tadi, jadi lupa nyiram.” Terang gue polos, tersenyum dengan muka tanpa dosa.

“Liat aja ntar, gue pertemukan dengan calon embrio gue. Biar di didik etikanya, sama orang yang lebih tua itu gimana harus bersikap,” Sambung Gerry dengan muka yang sok-sokan serius.

“Ini serius kita mau terus ngebahas masalah calon embrio?” Tanya gue.

“Lah, emang kenapa?” Tanya balik Gerry.

“Yaa, gue merasa berdosa aja ngebahas masalah sesuatu yang bernyawa terus kita buang,”

“Eh tolol, dengerin ya. Yang lu buang itu belum ada isinya, jadi lu nggak ngebunuh siapa-siapa. Ruh itu ditiupkan pada janin yang udah berumur 120 hari, emang lantai kamar mandi lu punya sel telur? Gitu aja nggak ngerti lu.”

“Gitu ya? Terus, dosa ngga?” Tanya gue lagi.

“Yaaaaaa, mmmmmm, eeeeeeee, rrrrrrrrrr, dosa sih.” Jawab Gerry sambil garuk-garuk pantat.

“Grrrrrrrrr, kok jadi gebahas ini sih? Gue mandi junub dulu ah.”

“One more, kita ngga seburuk mereka yang membuang itu pada tempatnya lalu menolak bertanggung jawab.”

“Sebenarnya, lu kerja jadi dokter atau penceramah si?” Celetuk gue sambil berjalan ke kamar mandi.

Gue sama Gerry menganut keyakinan yang berbeda, gue beratapkan bulan sabit dan bintang sedangkan Gerry beratapkan salib, yang isinya hanya berbeda segaris lantai keramik. Namun gue sama Gerry tidak pernah mempermasalahkan perbedaan tersebut, karena kami sepakat bahwa semua agama adalah baik dan damai, penuh cinta dan kasih sayang. Jadi jika bisa memilih, kenapa harus memperdebatkan satu garis keramik yang jelas lebih kecil dari pada keramiknya sendiri.

Setelah selesai mandi, gue pelan-pelan membuka pintu dan mengintip Gerry dari dalam. “Ger,” bisik gue ke Gerry yang lagi asik main guitar.

“Gerrrrrrrrr,” Teriak gue dalam notasi berbisik.

“Ha? Kenape?” Tanya Gerry.

“Tolong lemparin handuk gue,”

“Apa? Handuk? Mmm.”

“Iyee, tolong lemparin.”

“Mmm, sluuurpphh, keluar aja bebh, akuh ngga apa-apa kok,” Gerry mulai mengeluarkan ekspresi mesumnya.

“Pleaseeee,” Mohon gue sambil nampol jidat sendiri.

Gerry, mulai berdiri dan perlahan berjalan kearah gue, tapi tidak untuk membawa handuk melainkan membawa handphonenya untuk mengabadikan kejadian tersebut. Gerry mencoba mendorong pintu kamar mandi, “ara-ara, bukaaa dong, gue mau liat, ummmm.”

“Aaaaaaakkkkkk, eeeeeennggggg,” Erang gue sambil menahan pintu dari dalam, suasana yang bener-bener absurd, dia berhasil bikin gue panik kali ini.

“EEQ SAPI, SERIUS KAMPRET, HANDUK GUEEEEEE!!!” Teriak gue sambil mendorong pintu sekuat tenaga.

“Ayolah, sekali jepret doang dan lu terkenal,” dengan nada yang mesum Gerry merayu gue.

Lalu, “petaaaaaaakkkkk,” Engsel pintu yang benar-benar mendukung ide Gerry ini terlepas, alhasil pintu kamar mandi terbuka. Bersamaan dengan itu, ibu kos gue sedang berdiri didepan pintu kosan gue.

“Hah?” Mata gue dan ibu kos saling melotot, dan kaget banget dengan gue yang terpampang bebas tanpa sehalai benang, terlihat ekspresi syok dari ibu kos gue. Perlahan Gerry juga mendorong pintunya kearah gue yang udah ngebatu.

“NGAAAAUUUUUUUUUU,” teriak ibu kosan sambil berlari.

“Mampus gue, mampus gue, mampus gue,” bisik gue dibalik pintu.

Belum habis disitu, gue sama Gerry langsung dipanggil sama bapak kos. Dengan setengah nyawa yang udah melayang, gue mencoba tenang menghadapi bapak kos, tentunya setelah gue berpakaian. Jujur gue panik mampus saat itu, berbeda dengan Gerry yang memang terlihat tenang dan lebih matang, gue berpikir ini adalah perbedaan kualitas antara kami berdua.

Sempat hening beberapa menit ketika gue sama Gerry menghadap bapak kos, suasana yang benar-benar canggung, membuat gue juga kebingungan harus memulai percakapan ini dari mana, belum lagi ditambah ibu kos yang masih tersedu-sedu menangis, bikin gue berasa orang paling bersalah disana (padahal ibu kosnya lumayan lama melototin gue).

“Jadi gini pak,” Mulai Gerry dengan nada yang sangat tenang. “Saya temennya Rizon, dan kita udah sepakat mulai hari ini saya juga akan satu kosan sama Rizon, tadinya memang mau melapor ke bapak setelah Rizon mandi. Kejadian tadi juga kami sedang bercanda aja, nah kebetulan engsel pintunya lepas, saya perhatikan memang sudah layak di ganti pak.”

“Iya pak, begitu,” Tambah gue.

“Yeee, kalo gue mah kagak nape, Cuma istri gue noh kayaknye syok berat. Die tadi mau nagih uang kosan ke lu. Cuma kalo lu mau ngekos bedua, jadi nambah lagi biayanye,” jawab bapak kos dengan logat betawinya.

“Eee, kira-kira nambah berapa ya pak?” Tanya gue yang sudah merasa ini bukan masalah.

“Kagak banyak, Go ban dah,” Terang bapak kosan.

“Oh ya udah, ntar malem kita anter pak uangnya, nanti sore kami ke atm sekalian cari engsel pintu yang baru, sekali lagi kami minta maaf atas kejadian yang tadi pak,” sambung Gerry.

“Oh gitu, ye udeh, ntar malem yak.” Pinta bapak kos.

“Baik pak. Kalo gitu kita permisi balik kosan dulu,” sambung gue sambil berdiri disusul Gerry.

“Oh iyak,” jawab bapak kos.

“Ngomong-ngomong, barang oke punya tuh, ampe histeris bini gue,” bisik bapak kos.

“Sok tau lu, bini lu juga kagak liat, udah keburu gue tutup sama tangan,” jawab gue dalam hati. Menanggapi itu gue hanya tersenyum kecil.

Jarak Kosan gue sama pemiliknya nggak jauh, nggak sampai 10 meteran. Jadi sambil berjalan pulang bahkan setelah tiba dikosanpun, mulut gue nggak bisa berhenti ngocehin Gerry, udah kayak klatson angkot mangkal diterminal.

“Gile ye, masih hitungan jam lu disini, kehidupan gue berubah total,” mulai gue ketus. “Ngga tau ini kalo berbulan-bulan gue jadi apaan,” sambung gue.

“Bisa jadi gado-gado mungkin gue, monyet lu, sapi,” tambah gue lebih ketus lagi.

“Ha elah, gitu doang. Masalah kecil juga. Bawel amat,” jawab Gerry cengengesan. “Mending kita cari makan kek, kagak laper dari tadi ngoceh mulu?” Tambah Gerry.

“Oh iya, ngomongin makan, lu harus tau menu keren disini, gue jamin lu belum pernah nemu menu ini sebelumnya,”

“Apalagi sih menu yang lebih istemewa dari anak kos kalo bukan mie?” patah Gerry.

“Wee, yang ini beda sapi, mienya lebih mahal,”

“Mie apaan yang mahal?” Tanya Gerry.

“Mie goreng, digoreng lagi? Jawab gue sombong.

“Tetep aja mie, mana ada mie yang mahal, apalagi aneh gitu menunya.”

“Lu yang bego, nasi putih sama nasi goreng mahalan mana?” Tanya gue ketus.

“Serah lu dah, yang penting gue makan.”

Gue langsung menelpon salah satu nomor dihandphone, dan sambil menunggu diangkat, Gerry kembali bertanya, “Eh unta ragunan, itu lu mau mesen mie goreng di goreng lagi lewat telepon?”

“Weiss iya dong, emang pesen ayam doang bisa lewat telepon, warkop depan juga bisa kali,” jawab gue.

“Ew, canggih juga.”

Semenjak itu, Gerry jadi ketagihan mie goreng yang digoreng lagi. Dalam satu hari, minimal kami menyelipkan satu kali untuk menu ini, rasanya biasa aja sih, bener yang dibilang Gerry, yang namanya mie nggak ada yang mahal, slalu pas buat kantong anak kos. Minimal rasanya beda dari mie goreng biasanya, ini bisa mengurangi kejenuhan kita untuk menyantap mie.

Akhirnya tibalah hari close beta test game yang gue pernah ceritain ke Gerry. Namun Gerry tetap menolak untuk ikut, jelas gue nggak putus asa.

“Ger, ayolah, satu jam lagi nih eventnya, kan lumayan kalo dapet motor, jadi ada kendaraan kita,” rayu gue.

“Iya kalo dapet kalo kagak?” Tanya Gerry judes.

“Kan ada hadiah yang laen, ada voucer belanja, ada keyboard, mouse, banyak deh.”

“Nggak menarik, lu sendiri aja deh, gue dirumah aja serius, sambil cari info kerja.”

“Asal lu tau ger, pemain terbaik dalam event yang akan diselenggarakan 3 hari ini, akan di rekrut sama perusahaannya,” tambah gue dengan nada serius dan ambisius.

“Hah? Serius lu? Gokil gile. Ayok gue ikut.”

“hahaha, mampus lu,” seru hati gue yang berhasil merayu gue.

Mana ada event game yang berhadiah merekrut playernya. Saat ini, gue sangat puas bisa ngerjain Gerry, anggaplah balesan karena udah bikin kekacauan tempo hari, gue bener-bener dendam perkara tersebut.

Lalu, gue sama Gerry berjalan kewarnet, lokasinya nggak terlalu jauh dari kosan gue, hanya berkisar 100 meteran. Setibanya disana, tanpa basa-basi, billing 12 jam langsung kita pesen. Kami nggak pernah bercanda memainkan sebuah game, game bagi kami adalah perminan yang dimainkan dengan serius namun ini sebuah keseriusan yang menyenangkan. 12 jam hanya permulaan untuk event yang akan diselenggarakan selama 3 hari, tidur 1 jam kita akan tertinggal oleh player lainnya. Kira-kira gue sama Gerry baru duduk 10 menitan, tiba-tiba Gerry nabok kepala gue petaaaakkk.

“Anjritt, sakit sapi,” celetuk gue sambil ngebales nonjok bahu Gerry yang memang udah siap dengan serangan balik dari gue.

“Elu sapi, nih baca webnya, mana ada hadiah merekrut playernya buat kerja disana, ngehe lu,” ungkap Gerry kesal.

“Hehehe, kalo ngga gini, lu ngga bakal ikutan maen.”

“Becanda kira-kira dong, lu tau sendirilah gue berharap banyak masalah kerjaan sekarang,” sambung Gerry diteruskan dengan omelan kecil yang tak terdengar.

“Ya sekarang mau gimana? Lu mau balik? Monggoooo, marah? Dihutan. Ngambek? Difb noh curhat, mampus lu.HAHAHA,” balas gue puas.

“Eh tai, berantem aja yuk,” balas Gerry panas.

“Lu pikir gue takut ha? Ayok.” Jawab gue dengan muka yang mulai merah.

“Eh eh, ini udah bisa login gile, buru bikin char,” pangkas Gerry.

“Busettt, nick lu apaan?” Tanya gue.

“Apaan ya? Mmm.” Sambung Gerry.

Problem yang bikin lama pada game yang baru keluar selalu sama, maslah nick, terus milih job apaan, lalu menata characternya sebaik mungkin. Untuk tiga hal ini, bisa menghabiskan waktu selama satu jam.

“Gue Kratzz deh,” Gerry memberitahu nicknya. “Terus gue job Priest aja,” sambung Gerry.

“Hah? Serius lu main priest? Terus apaan lagi rambutnya pink gini bencong,” ledek gue.

“Bacot unta, lu udah selesai belum, masuk buru, rame banget gila.”

“Udah siap gue, nick Cloudchi job assassin, cuss add, petualangan dimulai,” Jawab gue semangat.

“Eh bentar-bentar, si Ajo mana?” Tanya Gerry sukses menyita perhatian.

“Oh iya, si kampret kemaren udah gue sms, coba lu telepon gih! Mudah-mudahan ngga tidur dia, biasanya siang gini masih tidur,”


~Bersambung~
Diubah oleh herdizon
Quote:


emoticon-Malu (S)
Belum update bang kulcang ya emoticon-Bingung (S)

Kuli Canggih
Nubie Panda numpang bikin sarang dmari yaaah. .

Pnulisannya bagus,, tanda bca sma tanda kutip udh tepat. .
Aq suka. .
emoticon-Malu

Lanjutkan critanya,, jdulnya juga menarik. .
emoticon-Malu (S)

Quote:


maaf ya, sebelum leberan diburu dosen pembimbing ganemoticon-Peace
hari ini mulai di garap kok, mudah-mudahan besok udah bisa post ya.

Quote:


lebih nubie ane kok sis emoticon-Wink
nanti ane juga tanem bambu kok.

gokil, terimakasih banyak loh sis komentnya, jadi merinding
mudah-mudahan post berikutnya masih ngena di hati ya. emoticon-Embarrassment
Halaman 1 dari 3


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di