alexa-tracking

Enam Sekawan

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/575d868ddbd7707c648b457f/enam-sekawan
Enam Sekawan
Quote:


Spoiler for Cekidot:





Spoiler for Prolog:

Part 1 :

image-url-apps
Terik matahari yang panasnya sudah mencapai ambang maksimal membuat sesosok pria berbadan paling tinggi yang baris di belakang mendecakkan lidah terus-terusan. Keringatnya sudah membasahi dirinya, benar-benar basah sampai dia yakin kalau baju ini diperas pasti airnya bisa satu ember penuh. Belum lagi perutnya yang daritadi terus melonglong, dia sedikit menyesal tadi tak menuruti Mama yang menyuruhnya sarapan dulu.

“Ospek apa ngejemur orang jadi ikan teri” rajuknya dalam hati memandang tiga senior yang ada di depannya. Seniornya dua cewek dan satu cowok, yang cowok berambut cepak dan mengenalkan diri sebagai Ian. Cewek kedua berambut sebahu bernama Clara dan terakhir cewek yang daritadi mengucapkan kalimat tentang sejarah kampus dan Fakulatas bernama Selvy. Tiga senior ini berdiri tepat di bawah pohon rindang sementara Maba-maba ikan teri ini ada di tempat dengan silau mentari maksimal yang membuat baju hitam putih mereka basah semua. Sialnya, mereka tak boleh sekalipun membersihkan keringatnya dengan tangan, keringatnya harus dibiarkan mengalir kalau tidak Ian bakalan bertindak dan menghukum mereka dengan cara tentara. Push up 100 kali. Tadi sudah ada yang mencoba, namanya Vino anak dengan cat rambut merahnya yang sangat mencolok, Vino padahal hanya mengelap keringat di dahinya dengan siku tapi hukumannya tetap berjalan. Kalau disuruh memilih, lebih baik jadi ikan teri daripada jadi ikan teri peyot. Lihat saja Vino yang sudah tepar di pinggir lapangan, baru hitungan kelima puluh dia sudah keburu pingsan.

Sudah lebih dari satu jam mereka berjemur mendengarkan kata-kata Selvy yang tak juga berhenti. Omongan Selvy juga pasti takkan didengar siapapun, tapi cewek berkacamata itu tetap melanjutkan perkataannya yang membosankan.

Karena sudah tak tahan, dengan keringatnya, dengan kakinya yang pegal, yang paling penting dengan perut kosongnya, dia melanggar perintah Ian. Dia membersihkan keringatnya dulu, berjingkat-jingkat merilekskan kakinya sambil merentangkan tangannya selebar mungkin membebaskan hawa negatif dari perlakuan tak adil yang gunanya nol itu. Tingkahnya yang seperti cacing kepanasan membuat Ian langsung menunjuknya ke depan.

Dia berjalan dengan santai, dia sudah punya tekad kalau toh dia kena hukuman seratus kali push up dia bakalan mencontoh Vino. Dalam hitungan kesepuluh dia bakalan pura-pura kena asma dan masalah selesai karena pasti dia bakalan dibawa ke tempat yang paling adem. Cara yang sangat indah.

“Lama amat lo jalan, kayak anak baru disunat aja. Sini cepetan.” Bentak Ian keras.

Sampai di depan bukannya dipanggil karena masalah yang ia harapkan bakal membuat dia duduk tenang di pohon rindang, dia justru kembali ditertawakan. Tawa yang selalu digaungkan setiap kali dia masuk sekolah, ia kira kalau masuk kampus tawa itu bakalan hilang tapi tetap saja, kalau sudah melekat sama dia, tidak ada cara untuk melepasnya.

Ian tertawa terbahak setelah mengambil nametag nya, dengan suara lantang bercampur meledek dia berseru, “Cobain di Derek. Itu beneran nama lo? Gila. Hahaha.” Ledeknya membuat seluruh orang yang mendengar ikutan tertawa.

Dari jaman dulu selalu reaksi setiap orang yang membaca, menulis, dan memanggil namanya. Mereka akan tertawa seperti melihat seorang pelawak kenamaan, padahal Cobain hanya diam saja. Tidak ada yang salah dengan namanya, namanya bahkan sangat bule. Hah, ngomongin Bule jadi keinget sama cowok bule yang tadi ada di depannya. Bule itu cupu sekali, kemeja dan celana sangat licin sesuai rambut yang memakai minyak terlalu berlebihan yang membuatnya tampak sangat bersilau sesuai juga dengan sepatunya. Kalau saja Cobain lahir dengan wajah bule, pasti mereka gak bakal seenaknya ngatain nama dia.

Gerah selalu ditertawakan membuat Cobain bergerak menuju perubahan, memang cowok di hadapannya ini adalah senior tapi derajat mereka sama, bukan? Mereka sama-sama mahasiswa. Dan mereka ada di Fakultas Hukum, ada juga pasal tentang pencemaran nama baik, bukan?

Cobain menatap Ian garang, masa bodoh dengan senioritas. Dia sudah muak dengan kejadian tempo hari, mereka pikir dia tukang lawak! Ogah! “Lo salah kalau baca nama gue Co-ba-in, yang bener itu KOBEIN.”

Tawa Ian makin meledak, “Apaan sih nama aneh kayak gitu.”

Cobain menatap Ian tak percaya, “Lo tau vokalis Nirvana?”

“Band baru?”

Astaga! Baru kali ini Cobain bertemu dengan anak cowok, senior pula yang gak paham apa itu Nirvana dan siapa itu Kurt Cobain. Jangan bilang nih cowok juga gak tahu Metallica sama Queen! Parah!

“Kalau One Direction lo tau?”

Satu anggukan Ian membuat Cobain menggeleng tak percaya. Hari gini, ada cowok yang gak tahu Nirvana tapi tahu siapa itu One Direction. Setahu Cobain kalau sudah sampai tahap seperti itu, hanya ada satu julukan pas buat Ian. Banci! Untuk apa dia takut sama Banci?!

“Parah, sense musik lo parah!”

“Apaan sih lo, pakai bicara sense musik segala.”

Selvy memotong pembicaraan mereka berdua. Dia menyuruh Cobain kembali ke barisan, dan meminta Ian kembali ke posisinya. Mata Ian sangat tajam saat menatap Cobain, tapi siapa yang peduli sama banci, mau dia segarang apapun juga tetap saja dia banci!

Cobain kembali ke barisan dengan hati superdongkol, belum lagi diperparah sama satu senyuman mendarat dari Pete untuk dia. Pete senyum manis ke dia! Ihhy, menjijikan emang dia kira Cobain cowok homo.

Dari awal ketemu Pete, Cobain merasakan hawa tak enak dan memutuskan akan membenci Pete. Siapa coba yang gak benci kalau orang seganteng itu malah dandan cupu, sedangkan dia harus berusaha maksimal buat kelihatan ganteng. Sialnya, walaupun udah cupu, dia masih tetap digandrungi cewek, Clara daritadi mendekat ke dia terus. Clara bertanya macam-macam ke dia, tapi Pete cuma jawab keheningan. Banyak juga cewek yang nguber Pete dengan pertanyaan tak bermutu tetap saja Pete bungkam. Cowok sok jual mahal, udah cupu, sok ganteng, bule lagi! Sialan.

Bukan hanya Cobain yang tak suka dengan Pete, cowok-cowok lain dalam barisan juga sependapat. Mereka sepakat memanggil Pete yang seharusnya dibaca Pit menjadi PETE, tahu makanan Indonesia yang baunya satu tingkat di bawah jengkol itu, kan?

Pete terima namanya diubah, mungkin dia sangka Pete itu nama keren, biarin aja, orang cakep itu gak pantes punya nama keren. Terlalu egois, dan serakah, lagian diakan cupu. Orang cupu juga pantesnya dipanggil sama hal yang aneh-aneh. Sayang banget bocah itu, Tuhan sudah memberikan keindahan padanya eh malah dirusak semena-mena. Kalau Cobain ada di tubuh Pete, Cobain nggak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk memikat hati para gadis. Dengan catatan, dia nggak mau cupu kayak Pete.

Pandangan Pete tak juga lepas, dia menoleh ke belakang dengan senyuman aneh itu. Jengkel, Cobain melotot ke arahnya, “Ngapain sih lo senyumin gue, najis tahu gak!” Bentaknya kencang yang langsung membuat Pete kembali memandang ke depan. Dan langsung juga membuat Cobain terkena hukuman gara-gara lancang berbicara saat berbaris.

Sialan, baru satu hari kuliah saja sudah begini penderitaannya. Masa kuliah yang ia harap sebagai masa terindah sekarang malah berubah jadi masa tersuram.

Part 2

image-url-apps
Setelah dua jam penuh ada di neraka, akhirnya para senior punya hati untuk mengistirahatkan ikan-ikan teri ini. Cobain yang paling seneng diantara yang lain, dia bahkan jingkrak-jingkrak kayak anak kecil. Akhirnya perut dia yang udah berteriak lagu rock bisa diisi makanan juga.

Tapi adalah hal yang merusak kebahagian dia, si bule kunyuk ngintilin dia mulu. Cobain mencoba lari, Pete ngikutin lari. Karena nggak mau disangka kayak film India, dia berhenti lari, Pete juga nurut. Apa-apaan sih nih bule, apa jangan-jangan dia homo? Apalagi coba kalau bukan homo, apalagi orang bule kan banyak yang homo (yah menurut riset ala-ala kadarnya Cobain doang sih). Ngebayangin Pete homo bikin Cobain merinding, ogah banget dia jadi homo. Dia emang sering ditolak cewek dan baru kali ini dikejar-kejar sama manusia tapi bukan cowok juga kali!

“Ngapain sih lo ngikutin gue? Cari cowok lain aja gih sono.” Semprotnya membuat muka Pete tertekuk. Teriakan Cobain cukup kencang membuat anak-anak lain natep ke arah mereka berdua sinis, kebanyakan sih para cewek yang gak rela bule cupu ini kena bullyan.

Buat memperbaiki citra dia di depan para cewek dan nggak mau dicap tukang bully, Cobain memperhalus bahasanya, “Lo ngapain sih ngikutin gue?”

Pete dengan muka semeringah ngangkat mukanya, tapi sedetik kemudian Pete dihiasi oleh kebingungan. Ah, iya, Pete kan bule, mungkin aja dia gak ngerti bahasa Indonesia. Oh, ini mungkin alasannya, setiap ditanya Pete selalu diam. Apa mungkin Pete juga bisu, siapa tahu, kan?

“Gue bingung mau kemana.” Jawaban itu mematahkan dua teori buatan Cobain. Pete nggak bisu, dan bahasa Pete ini selancar jalan tol. Ngomongnya bahkan udah sama kayak orang Indonesia, gak pake aksen pula.

“Terus lo pikir gue itu GPS lo yang bisa lo ikutin sesuka hati lo.” Umpat Cobain kesal. Dari awal dia udah gak suka Pete, pas diajak ngobrol kayak gini ketidaksukaan Cobain meningkat drastis jadi 200%. Cobain mutusin buat gak ngeladenin Pete lagi dan memantapkan hati dan kakinya menuju kantin.

Baru jalan dua langkah, sayup-sayup ada suara Kak Clara yang nyapa Pete. Cobain otomatis noleh lagi ke belakang buat mastiin aja.Tuh kan gak adil banget, mentang-mentang bule harus gitu Pete yang diajak ngomong sama semua cewek bening?
Pete keliatan grogi banget, tangannya gemeteran hebat dan keringet dingin membahasi keningnya. Oke, Pete cowok normal. Seengaknya dia masih bereaksi normal dideketin cewek cakep. Cobain tak mau buang waktu ngeliatin Pete dan Clara, bikin sakit hati aja.

Tiba-tiba Cobain merasakan tubrukan kencang di bahunya dari makhluk super putih yang larinya secepat Husein Bolt, larian itu seiring dengan jeritan Clara yang mengumpat-umpat Pete. Gila, Pete, jangan-jangan dia udah macem-macem sama Clara. Berani banget tuh anak.

Begitu balik, hal yang nggak terduga tersaji di depan Clara berdiri. Hal itu begitu menjijikan dan nggak layak ada di depan cewek secantik Clara. Gila ya, Pete, cowok normal mah berjuang setengah mati buat diajak ngobrol sama Clara nah Pete udah dapet giliran itu malah ngasih kado spesial menjijikan buat Clara.

Mau tahu apa yang ada di depan Clara? Cairan itu warna putih dan bergumpal, yap, itu muntahan Pete. Lo bayangin deh, muntahan Pete ada di depan Clara, ini sih bukan cuma songong tapi termasuk tindakan pelecehan. Cobain aja sampai cengok, nggak percaya bule itu nggak normalnya sampai segini parah. Emang kenapa sih Pete muntah di depan Clara, karena Clara bau badan? Ah, ini gak mungkin karena sumpah pas tadi di depan baunya Clara yang paling harum.

Temen-temen Clara berhamburan mendekati Clara dan bertanya apa yang terjadi, termasuk senior banci aka Ian yang fokusnya malah natep mata Cobain. Cobain dengan gaya super santai balas tatapan itu dengan mata lebih tajam, Ian emang senior tapi Cobain gak pernah takut sama banci. Dalam hati Cobain berdoa semoga Ian masih Straight , kenapa sih daritadi dia dideketinnya sama cowok mulu? Udah kayak penarik homo aja.

Selvy dengan muka bete, sebel, jengkel, ketekuk, cemberut, dan nangis sesegukan bilang kalau dia cuma ngajakin Pete jalan bareng ke kantin eh Pete malah jawab dia pake muntahan yang udah nyiprat dikit ke sneakers Clara dan jeans Clara. Clara terpukul banget, yailah, ditolaknya pake acara dimuntahin gitu.

Konklusi dari rentetan kejadian ini adalah Pete sarap.

Nggak mau berlama karena drama ini dan ogah banget tatepan antara dia dan Ian berlanjut, apalagi ada pepatah yang bilang dari mata jatuh ke hati. Ih.. ogah banget deh. Kalau Cobain terpaksa jadi homo (semilyar tahunpun gak bakal kejadian), dia bakalan cari cowok yang lebih cakep. Cobain berbalik dan bersungguh kali ini langkahnya tak bakalan terhenti lagi untuk ke kantin.

Harapannya sirna saat Pete secara bersamaan keluar dari toilet dengan muka super pucet. Cobain pura-pura nggak ngeliat dan terus melangkah tapi Pete ngejar dia dan berhenti tepat di depan Cobain. “Apaan sih lo, minggir, gue mau lewat.”

“Tolongin gue dong.” Pinta Pete melas banget, lebih melas daripada muka anjing yang ngemis minta makan sama majikannya.

Harusnya Cobain langsung jawab lantang, ‘nggak mau, gue sibuk. Urus aja urusan lo sendiri.’ Tapi yang keluar dari mulut Cobain malah bertentangan, “Apaan?”

“Tolongin gue dong, sampein maaf gue ke kak Clara. Gue nggak bermaksud. Sumpah.”

“Apaan sih lo, lo yang muntah kenapa gue yang ribet. Lo punya mulut, lo punya kaki dan selesai.”

“Please banget dong, gue nggak bisa ngomong langsung ke kak Clara.”

“Kenapa emang? Malu lo? Masih punya malu lo abis muntahin cewek secakep itu?”

Pete menggeleng sambil nunduk, “Gue gak bisa ada di deket Clara.”

“Ah, udahlah. Ngaco banget sih lo! Maaf kok pake perantara.” Sindir Cobain meninggalkan Pete. Kali ini Cobain harus ke kantin. Sialan, mau ke kantin aja kayak perjalanan mau ke Afrika, banyak banget rintangannya. Kalau setiap saat dia berhenti ngurusin masalah orang lain, yang ada malah perutnya nggak diurus. Sambil mengelus-elus perutnya dia berbicara, “sabar ya, cing. Bentar lagi sampe ke kantin kok.” Katanya mencoba menenangkan cacing yang meronta kelaparan.

Suara cekikian ketawa terdengar dari belakang, Pete ketawain dia. Sialan, Cobain aja nggak ngetawain Pete pas Pete melakukan aksi biadab-nya itu. Pete ini gak pernah diajarin tahu diri apa sama orang tuanya di luar negeri, seenaknya aja ngetawain orang padahal sedetik lalu doi ngemis-ngemis minta bantuan.

“Ngapain sih lo ngintilin gue mulu kayak kutu, ngetawain gue lagi lo!” Bentak Pete keras sambil menaruh tangan di kedua sisi pinggulnya, posisi menantang. Suasana gak seramai tadi, seengaknya gak ada cewek di koridor ini, jadi Cobain aman melakukan aksinya tanpa takut nilainya jatuh di mata cewek. Dia serius banget buat dapet pacar tahun ini, jadi nggak boleh ada kesalahan satu titik aja buat menghalangi keinginannya itu.

Pete langsung diam dan menunduk. Kalau ada golok, Pete langsung gorok juga nih bule. Tadi dia diketawain Pete, eh sekarang Pete malah pasang muka abis ditindas. Yaelah, cuma dibentak aja ekspresinya kayak abis dilecehin.

“Maaf.” Pete memperdalam tundukannya, tapi sedetik kemudian mukanya yang ketekuk udah disetrika. Dia menatap Cobain penuh harap, “Help me, Please.”

“Nggak.” Pete berbalik. Nolongin Pete adalah hal yang nggak akan pernah ia realisasikan. Pertama Pete itu cowok, ngapain juga dia bantuin sesama cowok. Kedua, tindakan Pete itu udah kelewatan, pasti Clara juga bakalan ngedamprat dia karena punya temen freak kayak Pete. Terakhir, Cobain ogah jadi temen Pete.

“Gue bakalan traktirin lo deh. Lo bebas mau makan apa aja, gue yang bakalan bayar.” Sahutnya dari belakang. Langkah Cobain terhenti, tawaran itu cukup menggiurkan, okay, sangat menggiurkan. Apalagi, kondisi kantung Cobain yang makin menipis gara-gara duit jajan sebulannya tinggal setengah akibat belanja action figure superman.

Hasrat dan logikanya bertempur, tapi logikanya menang. Enak saja, memangnya Cobain cowok murahan yang bisa dibayar hanya karena traktiran. Lagian, dia masih punya uang kok, dia nggak segitu kerenya sampai mau nerima tawaran Pete. Tampang Pete itu tampang manusia parasit, sekali dikasih hati, bakalan minta jantung, ginjal, otak, dan bakal ninggalin Cobain tanpa punya apa-apa.

“Gimana kalau selama lo kuliah, gue yang bakalan bayarin biaya makan lo. Lo puas makan apa aja, dari murah sampe mahal bakalan gue bayarin.”

Cobain berbalik, mukanya kelihatan sangat bingung. Tawaran itu sungguh menggiurkan, tapi dia gak boleh menjatuhkan harga dirinya. Tapi… “Okay. Misi diterima.”

Pete melampiaskan kegembiraannya dengan memeluk Cobain sangat erat. Sialnya, pelukan Cobain ini bertepatan dengan dua orang senior yang sedang jalan di koridor itu. Mereka tersenyum melihat situasi ini. kampret, jangan-jangan dia disangka homo lagi!

“Lepasin!” Pete menurut, tak bisa melepaskan senyum kelegaan dari bibirnya.

Mereka berdua berjalan beriringan menuju kantin, Cobain memasang jarak dua meter agar dia tidak disangka homo.
“Kenapa lo bisa muntah gitu sih tadi?” Cobain tak bisa menahan rasa penasarannya.

KASKUS Ads

Part 3

image-url-apps
Pete kembali menunduk, “Gue punya masalah aja, dan gue belum dapet cara ngatasin masalah itu.” Jawabnya singkat. Pete belum mau membuka masalah pribadinya dengan oranglain, orang terdekat saja tak ia ceritakan.

“Lo dendam kesumat sama Clara?”

“Bukan… nggak ada hubungannya sama Clara, hanya masalah pribadi aja.”

Tak mau dianggap kepo, Cobain menghentikan investigasinya. Kehidupan pribadi Pete tak pantas ada di otaknya. “Okay… Aduh !” Ringisnya saat badan gempal menubruk tubuh kurusnya saat mereka berbelok menuju kantin.

“Ya ampun! Lo gimana sih jalannya. Arghh-“ Kehisterisan ini bukan berasal dari mulut Cobain atau cowok gempal di depan Cobain, teriakan itu justru dari seorang cowok yang lebih kurus dari Cobain, berambut tipis dan memakai baju superman yang ada di belakang cowok gendut.

Cowok kurus aneh berambut tipis itu tiba-tiba berbalik dengan beragam umpatan di mulutnya, dan berjalan dengan langkah sangat aneh. Cobain menatap Pete si sebelahnya yang juga heran melihat makhluk ajaib itu. “Temen lo?” Tanya Cobain ke pria gempal.

Yang ditanya nyengir kuda sambil ngangguk. “Sorry atas sikapnya, emang dia selalu Salah kok.” Katanya memandang temannya sambil geleng-geleng.

Dilihat dari bajunya pasti dua anak manusia ini juga maba sama kayak dia dan Pete, sama-sama memakai baju hitam putih. Yang beda adalah, dua pria itu memakai sesuatu di rambutnya yang menodai harga diri seorang pria. Beberapa jepitan hadir di rambut mereka, warna pink pula! Cobain bersyukur dia masuk Fakultas Hukum karena dia tak harus mengorbankan harga dirinya sebagai cowok hanya untuk Ospek.

“Temen lo kenapa sih?”

“Nggak tau, dari pertama nemu udah kayak gitu. Dia itu paling anti jalan ngelewatin garis hitam di ubin.” Jelasnya pada Cobain.

“Dia OCD dong?” tebak Pete membuat dua orang lainnya bengong, asing dengan tebakan Pete. Cowok gempal yakin kalau itu sejenis perusahaan baru saingannya MCD, sedangkan Cobain yang otaknya sedang kosong nggak bisa nerka OCD maksudnya Pete.

Tebakan cowok gempal salah, dengan pelan Pete menjelaskan maksud perkataannya. Dilihat dari muka mereka, penjelasan secara ilmiah pasti takkan sampai, jadi Pete memilih penjelasan yang lebih ringan,”Obbesive Compulisve Disorder, artinya ngerjain sesuatu secara berulang-ulang dan malah jadi kebiasaan.”

“Itu penyakit?” tanya Cobain.
“Yap, sejenis penyakit kepribadian.”

“Bisa disembuhin gak? Capek gue jalan sama dia. Malu-maluin malah. Tadi aja dia ngabisin lima menit sendiri buat buka engsel pintu, dibersihin sampe mengkilat eh ujung-ujungnya dia malah buka pintu pake siku!”

“Bisa kok, tapi kemungkinannya cuma 40% dan yang bisa sembuhin cuma diri sendiri.”

“Ah, sialan. Harus betah dong gue sama dia.”Runtuknya dengan muka suntuk.

Cobain menepuk pundak cowok gempal, paham penderitaan yang hampir sejenis dengan dia. Cowok gempal harus tahan dengan orang freak, sementara Cobain mau tak mau harus tahan sama Pete agar perutnya aman. “Lo tau, nih bule juga aneh. Tadi dia muntahin senior!”

“Hah? Kok bisa?”

Cobain menoleh ke Pete yang nunduk lagi, cinta banget nih bule sama ubin, daritadi nunduk mulu. Pasti Pete juga OCD. “Tau tuh, gak ngerti.”

Tak enak sudah bertukar cerita cukup panjang tapi tak saling kenal, mereka akhirnya berkenalan. Mereka tertawa terbahak menyadari kalau nama mereka sama-sama unik. Cowok gempal ini bernama Chetan Demon Tracy, dia Fakultas Ekonomi. Temen satu fakutasnya, si cowok OCD bernama Salah. Nama Salah menjadi ledakan tawa karena nama itu begitu sesuai dengan tingkah orang itu yang serba salah.

“Lo udah berapa lama di Indonesia?” tanya Chetan. Pertanyaan ini luput dari perhatian Cobain, lagipula kalau dilihat dari bahasanya mungkin Pete udah tinggal lima tahun lebih atau malah sudah dari kecil.

“Satu tahunan. Gue pindah pas gue kelas tiga SMA.”

“WHAT?” Cobain dan Chetan berteriak bersamaan. Tak mungkin satu tahun tinggal bahasanya bisa selancar itu! “Orangtua lo orang Indonesia? Blasteran?”

Pete menggeleng, “Mama gue orang Jerman, bokap orang Prancis. Sekarang mereka lagi ada di Amerika.”

“Nah, kenapa lo bisa nyangsang ke Indonesia?”

“Karena, tempat ini aman.”

“Hah?” Cobain tak mengerti, Indonesia aman dari segi apanya coba?

“Terus lo kok udah lancar banget bahasanya? Nggak ada aksen, ngomong pake gue sama lo pula.” Chetan memotong.

“Karena gue belajar.”

Salah lalu datang, matanya masih memandang ke lantai menjaga sepatunya tak menginjak garis hitam dan berhenti tepat di sebelah Chetan. “Udah ayo jalan lagi!” katanya ke Chetan lalu berjalan lagi masih tetap menunduk.

“Lo kenalin mereka dulu nih.” Panggil Chetan, Salah berhenti dan menatap Pete dan Cobain sambil menyipit. Tatapannya dari ujung kepala sampai ujung kaki, membuat orang yang ditatap jadi agak bingung.

“Okay. Lo Cobain dan lo Pete, kalian pasti udah kenal nama gue. Bukan karena gue terkenal tapi pasti Chetan udah ngasih tahu kalian, kalaupun belum- dan itu mustahil, kalian bisa lihat nama gue dari nametag gue kayak gue tahu nama kalian dari nametag kalian masing-masing. Mustahil kalian gak lihat nama ini karena nametagnya ukuran besar – “
Ucapan itu terhenti karena tawa Cobain dan Pete. Lucu sekali melihat cowok bisa secerewet ini. Pete jadi ingat serial Big Bang Theory. Salah persis sekali dengan Sheldon, rambut, muka, tinggi, kurus, bahkan bajunya juga persis sama seperti tokoh yang populer dengan Bazinganya itu.

“Maaf, apa ada yang lucu sama omongan gue? Ketawa bisa juga artinya melecehkan omongan loh.”

Tawa Cobain makin menjadi, ia memegang perutnya yang keram akibat tawa, “Sorry, dia emang anaknya agak sarap.” Kata Chetan menunjuk Salah.

Salah menyipit ke Chetan, “Maksud lo, gue yang sarap?”

“Eh, lo mau ke kantin?” tanya Chetan mengganti topik, kalau diterusin pasti gak bakalan berhenti juga.

Cobain mengangguk sambil mengatur napasnya, “Lo juga?”

Sebenarnya Chetan tadi baru keluar dari kantin, tapi melihat Cobain sepertinya asyik, dia pun mengangguk. Lagian, bete juga harus bersama Salah. Nggak ada benernya, apapun yang Chetan lakuin pasti selalu salah dimata Salah, padahalkan yang namanya Salah kan Salah.

Salah tidak setuju, “Baru sepuluh menit yang lalu kita dari kantin, dan lo nyaranin kita ke kantin lagi? Konyol banget tau gak! Lagian fungsi kantin udah gak guna kalau toh perut kita udah keiisi.”

“Lo gak mau ikut silakan, gue mau ikut mereka.”

Salah yang tak mau jalan sendirian akhirnya menurut, sepanjang perjalanan dia selalu menggerutu di belakang.

Ternyata bukan hanya Salah yang jalan menatap bumi, Chetan yang jalan di sebelah Cobain juga sama persis. Bahkan Chetan melihat sekitaran yang ada di bawah itu dengan mata melotot. Cobain mengelus dadanya mencoba bersabar, salah apa sih dia selalu nemu orang aneh yang cinta banget sama ubin. Semuanya pada hobi nunduk!

“Eh, tunggu-tunggu!” pintanya membuat langkah yang lain otomatis terhenti. Chetan berlari menuju pot yang ada di sepanjang pinggiran lantai, dia lalu memungut sebuah logam seratus perak yang hampir tertanam oleh tanah di dalam pot itu. Dia membersihkan koin itu dengan baju putihnya, Salah langsung menyerngit dan akan menjaga jarak dari Chetan.

“Buat apaan sih, duit cepean doang!” Cobain hampir hilang kendali karena kesal. Daritadi mau ke kantin selalu aja ada haltenya!

Chetan balik ke tempatnya di sebelah Cobain, Salah langsung menjauh dan berdiri tiga lantai lebih jauh dari Chetan. “Lo jangan salah, kalau duit cepean ini dikumpulin bisa jadi duit banyak. Tadi kalau gue hitung, gue udah dapet tiga logam gopean, sebelas duit dua ratusan, dan tujuh duit cepean. Ini buat hari ini doang loh.” Katanya sambil memamerkan tas kecil di pinggangnya.

“Niat banget lo.”

“Ya harus dong! Tabungan gue aja udah mau penuh padahal baru seminggu yang lalu gue ganti celengan.”

Cobain mencibir sambil memutar bola matanya, “Iyalah, cepet penuh. Nyarinya aja sampe bikin mata mau keluar.”

Part 4

image-url-apps
Sampai di kantin, bukannya untung malah tambah buntung. Hari ini memang hari tersial buat Cobain, semua kursi di kantin sudah ada penduduknya. Sialan, masa dia harus nahan laper hari ini? Apa dia makan di lantai aja kali, ya? Ah, nanti nilainya turun di mata cewek. Dia mengedarkan matanya lagi menatap sekeliling kantin besar itu, masih ada kursi! Meja di depan tukang gado-gado baru keiisi dua orang cewek.

Salah satu penghuninya yang berambut pendek melambai ke arah Cobain, Cobain tak yakin itu ditunjukkan kepadanya makanya ia melihat ke kanan dan kirinya. Yang ada justru Pete dan Chetan, oh mungkin cewek itu kenalan mereka.

“Kenalan lo?” tanya Chetan ke Cobain. Cobain menggeleng. Mau kenalan siapa kek, yang penting mereka udah diundang buat duduk di kursi itu. Dia benar-benar butuh makan saat ini.

Lagian dia sudah begitu paham dengan karakter wanita, kedua adiknya cewek, dan mamanya cewek (Iyalah!), jadi yang harus ia lakuin adalah Stay Cool. Dia memang tak seganteng Pete, tapi untuk kadar Indonesia, dia itu manis. Ada yang bilang orang manis itu gak ngebosenin, kalau orang ganteng itu basi diliatin terus. Ada dua orang yang setuju kalau Pete itu manis, Mamanya dan adik kecilnya yang baru duduk di kelas dua SD (Itupun setelah disogok cokelat).
Berbekal kepercayaan diri yang sangat tinggi, Cobain berjalan dengan kepala tegak menuju arah yang tepat diikuti tiga orang di belakangnya.

Si rambut cepak tepuk tangan saat Cobain dan para pengawalnya datang, “Hallo, apa kabar kalian?” tanya cewek cepak dengan suara super cempreng dan tak bisa menghapus senyum di wajah.

Karena cewek itu memakai kata kalian, Cobain sebagai pemimpin menjadi perwakilan, “Baik sekali.” Katanya lalu duduk di sebelah temen cewek rambut cepak. Mereka duduk berhadapan. Temen rambut cepak juara banget cantiknya, rambutnya hitam legam lurus sepunggung dan memakai kacamata. Pasti dia anak pintar, ah, setidaknya ia tidak menyesali perjalanan ke kantinnya lama kalau pada akhirnya dia bisa menemukan Lilly Collins.

“Siapa yang suruh lo duduk di situ!” Damprat cewek cantik itu. Cobain otomatis berdiri, dia menatap cewek cantik itu horor. Astaga, bentakan cewek itu keras banget! Sampai buat anak-anak terdiam satu detik menatap mereka lalu melanjutkan kembali aktifitas mereka.
Bagaimana bisa cewek secantik itu memarahinya? Tak pernah ada yang memarahi Cobain, selain Mama. Cobain tak mau cewek ini jadi Mama keduanya, dia harusnya jadi isteri Cobain.

“Gue mau duduk disini, emang gak boleh?”

“Boleh.”

“Gak boleh!”

Cewek cempreng dan cewek cantik berkontradiksi. Cepak mendukung tapi cantik menolak. Di situasi yang genting ini, Salah malah buat ulah. Dia dengan santainya duduk di sebelah cewek cepak, ralat sejajar tapi mengambil kursi yang paling jauh. Si cantik sudah menyuruh Salah berdiri, Salah malah menantang, “Maaf ya, non. Lo bukan yang punya kampus. Ini fasilitas kampus, semua mahasiswa berhak memakainya dan nggak bisa diklaim oleh satu orang.” Jawaban Salah yang bener ini malah dipersalahkan oleh cewek cantik.

“Tapi, pada dasarnya, gue duluan yang naruh pantat gue di meja ini. Ini masih jadi teritori gue, dan kalian gak berhak duduk disini sebelum makanan gue abis.”

Salah melipat tangannya, “Yaudah, silakan.” Dia lalu melihat jam tangannya, “Gue tunggu selama lima menit. Makanan lo tinggal dikit, jadi lima menit adalah waktu maksimal.”

“Rese banget sih lo!” Jerit cewek cantik makin kencang, kali ini waktu terhenti dua detik.

“Udahlah, piggy, jangan dibawa hati gitu. Lagian kan enak makan rame-rame.” Si cepak membela cewek cantik bernama Piggy. Cobain dan Chetan terkikik diam-diam tahu nama cewek secantik itu Piggy. Ini rekor terburuk.

Piggy tetap tak terima, dia tak pernah bisa dibantah. Biasanya, orang akan mematuhi Piggy dalam sekali perintah. Dia tak suka perintahnya dilanggar.

Dengan napas berat, Piggy membuka binder –nya. Dia lalu menuliskan beragam pertanyaan di dalam sana untuk menguji kadar kepintaran anak-anak ini. Mereka boleh duduk bersamanya, tapi kekhususan itu hanya berlaku bagi anak yang paling tidak kepintarannya dua tingkat di bawah Piggy yang punya IQ 140.
Senyum tersungging di wajahnya melihat Cobain menggaruk-garuk kepala begitu diberi kertas Piggy. Cobain menggaruk kepala bukan karena gatal, bukan pula bingung (well, 50% nya sih), tapi karena dia kecewa. Dia kira Piggy bakalan memberinya sebuah puisi atau ekstremnya surat cinta karena jatuh cinta pada pandangan pertama.

Melihat reaksi Cobain begitu lama, Chetan yang letih harus berjinjit menyamai ketinggian Cobain langsung menarik kertas itu. “Apaan nih?”

“Kalian harus jawab pertanyaan itu. Kalian harus bener semua. Itu udah gue kasih soal yang paling gampang, cuma pengetahuan umum. Kalau kalian gunain otak kalian dengan benar buat nyari manfaat dari internet, harusnya kalian tahu. Gue kasih waktu dua menit buat jawab lima soal itu.” Piggy tersenyum penuh kemenangan sambil melihat jam di tangannya. Dia tak peduli tatapan sinis Salah masih terarah padanya.

Daftar pertanyaannya.
1. Apa arti Vis Sapit Qui Pauca loquitur?
2. Perbedaan Halusinasi dan Ilusi?
3. Siapa penulis terkenal yang kena Cryptomnesia?
4. Apa pekerjaan Abraham Lincoln sebelum jadi presiden dan presiden ke berapa?
5. Asal usul kenapa logo apple itu harus apel yang udah digigit?

“Ini sih bukan lima tapi ada enam!” Chetan protes sambil menunjukkan pertanyaan nomor empat.

Piggy menaikkan bahunya tak mau tahu, “Time is running out.”

Chetan tak tahu sama sekali, dia kembali menyerahkannya ke Cobain. Lagipula, yang tujuan awalnya ke kantin itu Cobain. Cobain menerima setengah hati, dia membaca lagi tulisan Piggy dengan otak yang sudah dinetralisir dari berbagai daya khayal tingkat tinggi.

Kepalanya bergerak ke kanan kiri, berharap otaknya bisa tiba-tiba jadi encer. Tapi emang udah kadar otaknya seadanya ditambah perut yang makin keroncongan, Cobain hopeless. Masa kelaperan udah genting gini malah dikasih soal!

“Coba bacain soalnya!” Salah masih menatap Piggy jengkel.

“Apa arti Pis Sapi kui paucah loquitur?”

Alis Salah berkerut, “Skip.”

“Beda Halusinasi dan Ilusi?”

“Halusinasi merasakan objek yang sebenernya gak ada.” Senyum Salah mengembang lagi, “Ilusi justru melihat objek yang emang ada tapi dilihat dengan wujud berbeda.”

Piggy melahap baksonya yang sudah tinggal dua biji menahan marah, seharusnya dia tak mencantumkan soal itu disana!

“Penulis terkenal yang kena Cryptomnesia?”

“Helen Keller!” Salah menjawab penuh semangat menggebu. Itu pertanyaan kelas rendah, tak mungkin Salah menjawab salah.

“Pekerjaan Abraham Lincon sebelum jadi pres – ah, ini mah jawabannya pengacara.” Cobain sekarang menjawab. Dia merasa begitu pintar dengan kondisi perut kelaparannya. Lincoln adalah panutannya, berkali-kali gagal tapi Lincoln tetap berdiri, dari seorang introvert bisa jadi presiden, siapa coba yang tak mengidolakan tokoh ini?

“Dan dia presiden ke-?”

Cobain membuka mulutnya tapi tak ada suara keluar, otaknya belum siap menerima tubian pertanyaan ini. Salah kembali menjawab, “Enam belas.”

“Asal usul kenapa logo Apple harus apel yang udah kegigit?”

Chetan akhirnya mendapat ilham, dia tahu jawabannya karena baru semalem dia baca kaskus. Dia tahu jawaban ini, kalau dia sampai tak tahu pasti Steve Jobs bakalan kecewa karena penggunanya tak tahu asal-usul itu. Tak ingin mengecewakan Steve Jobs yang sudah tenang di alam sana, Chetan menjawab, “Terinspirasi dari bapak komputer yang bunuh diri dengan makan apel bersianida.”

“Nama bapak komputernya?”

Chetan menatap ke atap berharap ada kunci jawaban disana, tapi Salah langsung menjawab tanpa berpikir, “Alan Turning.”

“Soal pertama belum dijawab. Tuh bule aja yang jawab.” Piggy mengusulkan setengah hati, dia sudah pasrah kalau mereka harus duduk disini. Toh, dia bakalan langsung pergi.

Dengan tangan gemetar, Pete mengambil kertas dari Chetan. “O-orang yang bi-bijaksana a-adalah ya-ya-yang berbica-ra se-se-sedi-kit.” Kertas ini ke tangan Cobain lagi, dan Pete langsung berlari kencang sambil menutup mulutnya.

“Temen kalian kenapa?” si cewek cepak berdiri, tangannya menutup bibirnya prihatin.

Cobain mengangkat bahu dan duduk lagi di sebelah Piggy, sekarang tak mungkin dia bakalan ditolak. Dia sudah menang. Ups, kelompoknya. Otaknya tak mungkin tahu segala hal itu. Ada juga sisi positif orang-orang aneh ini.

“Nama lo siapa?” Cobain sebenarnya bertanya ke rambut cepak karena hanya orang itu yang belum Cobain tahu namanya. Arah pandang Cobain juga jelas banget ke arah cewek cepak, tapi yang menjawab justru Piggy.

“Lo bisakan baca nama kita dari nametag. Gue aja bisa baca nama lo. Itu fungsi nametag biar bikin orang gak usah nanya kalo toh dia udah bisa baca.”

Cobain menggeram dalam hati, sialan! Sudah dua orang yang menjelaskan fungsi nametag seakan Cobain buta huruf. Cobain gak bisa bayangin kalau tiba-tiba Salah dan Piggy menikah, pasti dunia akan bersedih karena menurunkan satu lagi bibit menyebalkan persis orangtuanya.

Rambut cepak menyengir, “Nggak usah tanggepin Piggy, anak ini memang nggak ngerti esensi sosialisasi.” Katanya mendapat tatapan membunuh dari Piggy.

Dia tak begitu peduli dan tetap melanjutkan omongannya, “Kalau baca di nametag nama gue Monika Keysiana. Tapi… kalian harus manggil persis kayak huruf capital.”

Cobain dan Chetan yang duduk tepat di sebelah cewek itu membaca nametag dengan seksama. MONika KEYsiana. Mereka berulang kali melihat wajah cewek itu heran, apa mungkin mereka disuruh memanggil dia Monkey? Tak ada yang berani berbicara karena mereka takut kalau mereka memanggil Monkey disangka melecehkan nama.

“Eh… ehm… Mon- itu duit yang ada di samping kaki lo punya lo?” Monkey menunduk dan mengambil koin dua ratus rupiah di samping kakinya. “Ini maksud lo?”

Chetan bersemangat dan berbinar seakan menemukan harta karun, apalagi setelah Monkey bilang itu bukan punya dia.

Chetan meninju tangannya di udara dan berteriak “YES” sangat kencang.

Monkey malah tepuk tangan, “Gue seneng deh kalau lo bahagia.” Mulut Chetan langsung menganga. Sebelum sempat bereaksi, Monkey kembali berkata, “Tapi, jangan manggil gue Mon ya. Gue udah singkat nama gue jadi Monkey, gue nggak mau lagi disingkat-singkat namanya.”

“Kenapa Monkey sih?”

“Simple. Gue punya temen namanya Piggy dan sebagai temen baik, gue mau kok jadi Monkey.”

Cobain dan Chetan tak bisa menahan kikikannya, mereka tertawa begitu lepas mengalahkan suara bising di kantin. Monkey ikut turut andil dalam polusi suara itu, tawanya persis sekali kayak kuntilanak.

Hanya Piggy dan Salah yang tetap diam. Piggy menahan amarahnya, muak menjadi objek tawaan. Sedangkan, Salah yang sekarang sudah melepaskan tatapan membunuhnya dari Piggy merasa tak ada hal yang patut ditertawakan dengan nama-nama aneh itu. Nama adalah hal yang seharusnya dihormati bukan ditertawakan. Bisa saja sih dia membela Piggy, tapi karena Piggy sudah membuatnya benci pada pandangan pertama. Semilyar tahun pun takkan pernah ia mengulurkan tangannya untuk anak itu.
image-url-apps
Segitu dulu deh...
nanti kalau ada yang suka bakal dilanjutin...
kalau nggak...
yaudah... bakal ane apus... biar nggak nyampah... emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak
image-url-apps
Mohon Partisipasinya gansisemoticon-Peluk emoticon-Peluk emoticon-Peluk
image-url-apps
hhhha...kocak bener dah gan..
itu yang paling buat ngakak namanya cobain..wkwkwkw..
bisa bisanya dapet inspirasi nulis kayak gini gan..dari mana?? haha
image-url-apps
Enam Sekawan

lanjut mas'e...hore ana cerita baru
image-url-apps
Quote:



dari kehidupan ane gan... punya nama selalu jadi ketawaan orang-orang gara" aneh. Tapi kadang yang aneh yang bawa berkah... emoticon-Cool
image-url-apps
makasih sudah berkunjung emoticon-Shakehand2
image-url-apps
Quote:


w kwkw...enggak aneh sih gan..tapo unik...bukankah yang unik iti yang berkesan?? wkwkw..

semangat gan nulisnya


image-url-apps
Quote:


wah cucu nasgor datang ke lapak ane... makasih atas kunjungannya, ane jadi terharu emoticon-Mewek, kenapa nggak sekalian ajak suhu, gan... emoticon-Wkwkwk

image-url-apps
Quote:


yoi, gan... one in a milion... jadi anti mainstream... #saynotopasaran

image-url-apps
Quote:


Enam Sekawan

pesan mereka cukup ane ajh wakilnya...bre

Enam Sekawan. Enam Sekawan Enam Sekawan

mereka para kaka tertua...ane bre
image-url-apps
Quote:


imajinasi kamu tinggi banget gan..hahhha..
somplak ni pasti orangnya..wkwkw..
atau justru kayak ebi (penulis kambing jantan) wkwkwkw..

top dah..masih mantengin ni thread
image-url-apps
Quote:


oke deh brey... salam buat mereka emoticon-Leh Uga

image-url-apps
Quote:



agan bisa aja, ane jadi malu emoticon-Malu

nanti kalau nggak ada aril melintang... ane updet dua hari lagi deh brey... emoticon-Toast

image-url-apps
Quote:

hahaha..beneran..bisa ya nulis cerita konyol kayak gini...kocak..lumayan menghibur yang sedang terluka tanpa darah..wkwkwke..

oke gan...aku pantengin terus kok..


×