alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5745cc4fded770c6678b4569/sanghyang-taraje-tampomas
SANGHYANG TARAJE TAMPOMAS
Taman Wisata Alam Gunung Tampomas masuk Kecamatan Buah Dua, Congeang, Sindang kerta dan Cibeureum Kabupaten Sumedang. Keadaan lapangan kawasan Taman Wisata ini bergunung-gunung dengan keting gian antara 625 – 1.684 meter di atas permukaan laut.

Menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson sebagai berikut: Iklim termasuk tipe iklim B Curah hujan rata-rata 3.518 mm per tahun. Daya Tarik Obyek Beberapa obyek wisata yang menarik di kawasan Gunung Tampomas yaitu: Puncak Gunung Tampomas (Sangiang Taraje) Dengan ketinggian ± 1.684 meter diatas permukaan laut, seluas 1 Ha merupakan areal terbuka. Lokasi ini memiliki nilai estetika tinggi karena dari tempat ini wisatawan dapat menikmati pemandangan alam yang indah ke arah Sumedang dan sekitarnya. Adanya lubang-lubang bekas kawah dan batu-batu besar berwarna hitam menambah kekayaan imajinasi bagi yang melihatnya.
Flora Vegetasi kawasan ini termasuk tipe hujan hujan pegunungan, floranya terdiri dari beraneka ragam jenis pohon-poonan berkayu serta jenis-jenis dari golongan liana dan epiphyt. Flora yang mendominasi kawasan adalah: Jamuju (Podocarpus imbricatus) Rasamala (Altingia excelsea) Saninten (Castanea argentea) Fauna Satwa liar yang hidup dalam kawasan ini adalah : Kancil (Tragullus javanicus) Lutung (Trachypithecus auratus) Babi Hutan (Sus vitatus) Beberapa jenis burung.
Makam Keramat Terletak ± 300 m ke arah Utara Puncak Sangiang Taraje, tempat ini lebih dikenal dengan nama Pasarean. Menurut kisah, kedua makam tersebut merupakan peninggalan (patilasan) dari Dalem Samaji dan Prabu Siliwangi pada waktu kerajaan Pajajaran lama. Sumber air, Terletak di kaki Gunung Tampomas sebelah Utara, dengan debet air 202 liter per detik. Keindahan alam dengan flora dan faunanya yang masih utuh / asli.
Rute perjalanan untuk menuju lokasi Taman Wisata Alam Gunung Tampomas adalah : Bandung – Sumedang – Cibeureum Wetan – Cimalaka, sejauh ± 53 Km Cirebon – Kadipaten – Cibeureum Wetan ± 74 Km Dari Cibeureum Wetan – Cimalaka menuju lokasi (pintu masuk kawasan) ± 6 Km, dengan kondisi jalan berbatu. ( Merbabu.com )

Berbekal informasi inilah saya, istri dan Arif Hidayat Putra berngkat dari Cirebon,30 Agustus 2014. Start dari terminal Cirebon pukul 15.00. Seharusnya pukul 17.00 kami sudah sampai di Cibereum Cimalaka. Terjebak macet di Cirebon – Palimanan membuat kami baru sampai pukul 19.30.
Di Tampomas sudah menunggu Bonie Seko, Tapen Sayong, dan Ibay Blur yang mendahului melakukan perjalanan. Sementara Iman Nugraha dan Hamdani Mustofa menunggu kami di warung terakhir di jalur menuju Tempat Pembuangan Akhir dan Penambangan Pasir. Saat menghubungi Iman Nugraha ini sempat terjadi miskomunikasi, bagi Iman ( akhiceta Jungle Ghost Sumedang / lokal ) gerbang jalan menuju tempattnya itu pendek, tapi setelah kami tempuh dengan berjalan ternyata lebih dari setengah jam dengan kondisi menanjak 🙂 .
Setelah bertemu Iman ,kami putuskan makan malam terlebih dahulu sebelum naik menuju pos satu. Seusai makan ,kami menghadang truk truk pasir yang lewat menuju tempat penambangan. Sepertinya penambangan pasir ini bekerja 24 jam.
akhirnya ada satu truk yang mau kami tumpangi. Kasihan Winona Onondaga ( Noor Hasanah, squaw satu satunya dalam perjalanan ini ) ,harus meloncat ke atas truk dengan tas carrier 45 l yang berat. Saya melirik pukul 20.05

Truk berjalan lambat karena menanjak, goyangannya begitu keras. Jalan terjal berbatu menghantam kanan kiri. Dan lagi lagi, truk berbelok ke arah penambangan arah kanan, yang berarti kami turun di tengah tengah area penambangan.
kami masih harus berjalan menanjak untuk bisa mencapai TPA. Setengah jam berjalan menanjak sampailah kami di TPA, Bau menyengat, debu penambangan begitu menusuk hidung kami. Begitulah, untuk menikmati keindahan alam Tampomas,kita harus dihadapkan terlebih dahulu dengan dua fenomena ini. Sadis. Cadas. Karena malam gelap, saya tidak bisa mengambil gambar dua tempat ini, setelah turun, saya baru bisa mengambil gambar dua tempat tersebut, sebagai ilustrasi, ada sekitar 8 lokasi penambangan pasir raksasa, yang berarti jalan yang kita tapaki adalah sisa bukit yang tidak di keruk untuk jalan truk. Jurang buatan menganga sisi kanan kiri kami.
Setelah melewati TPA dan berjalan menyusuri jalan lebar berbatu ,akhirnya kami sampai di perbatasan hutan pinus dan itulah pos 1, ternyata ada Ekkie adiknya Bang Bonie yang menunggu kami untuk ikut ke puncak menyusul abangnya. Ada kejadian lucu tentang Ekie ini, ternyata lebih dari dua jam dia kebingungan melihat tingkah laku sekelompok pendaki dari kota lain yang aneh menurut dia. Tidak membawa perbekalan, tenda, lampu senter dan hanya membawa air satu botol Aqua besar untuk berdelapan. Akhirnya Ekie melarang mereka naik, setelah dia sendiri ikut naik turun dan melihat kebingungan mereka.

Pukul 21.30 kami berangkat dari pos 1. Sepanjang perjalanan ke puncak Ekie menjadi bahan bully dengan julukan Pendaki Naik Turun..hahahaha ( bersambung )
Pukul 21.00,kami beranjak dari Pos 1. Pos terpanjang di jalur Tampomas. Di jalur ini kita melewati hutan pinus, jalan terkadang landai,menurun dan menanjak. Walaupun Tampomas tercatat hanya 1.684 mdpl. tapi jalur yang melingkar cukup membuat tenaga terkuras, apalagi sebelumnya kami sudah melahap jalur penambangan pasir dan TPA yang lumayan panjang dan berbatu.
Benar apa yang dikatakan Hamdani Mustofa, jalur ini terasa panjang. Rata rata pendaki down di jalur Pos 1 menuju Pos 2. Sesekali kami terdiam, mengatur napas yang memburu, dan berusaha melawan dingin yang mulai menjalar. Winona Noor Hasanah, ibu muda beranak dua terlihat sesekali membungkuk, pasti melelahkan setelah seharian mempersiapkan dua tas carrier penuh dan mengurusi anak, kemudian perjalanan panjang Brebes Sumedang, tanpa ampun di ombang ambing truk pasair dan langsung melahap trek ini. Untung dua seminggu sebelumnya sudah pemanasan di Galunggung.
Justru saya yang terserang Gastritis, entah kenapa, saya yang tidak biasanya minum suplemen, pada saat itu mencampur aqua botol dengan satu sachet Extra Joss. Alhasil di Pos 2 saya muntah muntah, lumayan membuat pening dan kram otot perut, beruntung Winona membawa Flantacyd Forte. langsung saya kunyah tanpa air dan membiarkannya memperbaiki asam lambung saya.
Akhirnya kami sampai di Pos 2, pukul 22. 45. Arif, Iman, Eky dan Hamdani langsung membuat perapian dan mempersiapkan roti di bakar. entah rasanya seperti apa. Hee.. Dua jam yang terasa panjang. Target semakin memanjang karena kami semakin larut dalam candaan. Satu team yang baru kenal, di jalur pula, hal yang terjadi ialah estimasi waktu kerap terabaiikan.
Kami beranjak lagi. 23.30. Sekarang semua jalur adalah tanjakan dengan sedikit bonus, namun jarak antar pos pendek, ujar Hamdani Mustofa. Betul saja, 30 menit kami sudah sampai di pos 3, Awi Kereteg ( Bambu Berbisik ). langsung tidak membuang waktu kami naik ke pos 4, semakin terjal, lutut beradu dengan perut, disarankan untuk memakai kaos tangan, selain menahan dingin juga melindungi tangan saat memegang batu batu untuk pegangan saat kita menanjak. Pukul 00.40 kami sampai di Pos 4, Petilasan.
Tim memutuskan istirahat, Arif tidak kuat menahan lapar langsung buka perbekalan dan memasak bihun dan lontong serta ayam goreng yang Winona bawa dari rumah. Winona semakin menggigil saat pemberhentian tiap shelter, saya lirik dia terkadang tidur sambil duduk saat yang lain makan. Saya tahu kapasitas fisiknya, dia kuat dengan dingin, menggigil hanya karena terdiam. Betul saja , saat kita beranjak melanjutkan dan keringat mulai keluar kembali Winona seakan lupa dengan dingin.
SANGHYANG TARAJE TAMPOMASDi Pos 4 ini pemulihan tenaga sangat penting, sebab antara pos 4 dan pos 5 inilah Sanghyang Taraje bersemayam. jalur yang hampir 70 derajat seperti tangga, pijakan kita hanyalah batu yang menancap di dinding tanah. Beruntung Eky membawa minuman Gula Aren dan Asam Jawa yang menyegarkan. Pemuda asal Pulau Timor ini sangat tangguh dan periang, beruntung kami bersama dia.
Dalam senyap kami melewati Sanghyang Taraje, sesekali teriakan peringatan dari Arif leader , terdengar. 30 menit kemudian kami sampai pada sedikit tempat datar, Pos 6. ughh..legaa.
Namun wajah sumringah ini kecut kembali saat Iman mengatakan kita akan menghadapi Sanghyang Tikoro. Taraje artinya tangga, Tikoro artinya tenggorokan. Anda bayangkan bagaimana bentuk tenggorokan. Napas kami tercekat. Iman menenangkan dengan mengatakan jalur ini pendek tapi kita tetap harus lebih waspada,karena ada bagian yang seperti spiral, upayakan agar kita seimbang untuk tidak jatuh.
Betul saja, ada bagian yang seperti spiral yang harus kami lewati. Pelan dan tenang, semua tim waspada dan saling membantu. Luar biasa.
Lepas dari sanghyang Tikoro, kami menuju Top of Tampomas. kami harus tetap waspada karena dini hari ,gelap, sementara banyak lubang besar bekas kawah menanti kami, kami berjalan waspada dengan hati hati. Pada saatnya nanti turun,kami tercengang, ternyata kami melewati rimbun semak yang bila kita terpeleset sedikit saja , jurang yang tidak tahu berapa dalamnya siap menyambut .
Kami sampai di atap Tampomas pukul 02. 45, 31 Agustus 2014, perjalanan panjang,melelahkan,batu tajam. tanah basah, dingin, cerita mistis, horor, hantu blao, sudah kami lewati.. tapi yang lebih menyenangkan, ada Bonie Seko, Tapen Sayong, dan Ibay Blur yang segera berhamburan menyambut kami. We are The Champion, We are Jungle Ghost. Urang Jurig Leuweung.
Dalam hitungan menit, Kopi Hitam Flores, Teh Hitam Gunung Buthak Blitar, segera terhidang, gelak tawa bersahutan menjelang Subuh di 1684 mdpl, Tampomas Nu Matak Waas. (bersambung)
Penulis tidak sempat nmenikmati sunrise di atap Tampomas, kesiangan . Setelah sarapan, kami seperti biasa mengambil gambar dan melakukan opsih di atas puncak Tampomas. matahari semakin tinggi, makin banyak yang berdatangan ke puncak Tampomas.
Seperti saat itu, serombongan adik adik pelajar dari MTS Hambawang Sumedang berdatangan satu satu. Mereka tampak ceria bisa sampai di puncak Tampomas, dan kami lihat lahap menikmati perbekalan . Rupanya memang ada eskul kegununghutanan di MTS tersebut. Salut untuk pak Duradi, Bapak Pembimbing yang sabar menanamkan kecintaan terhadap alam.
Pukul 10.00 kami akhirnya memutuskan untuk turun. Turun dengan memunguti sampah di jalur dan membakarnya di setiap pos.
Riang perjalanan kami, di sambut mentari, angin sejuk, pohon pohon berlumut dan fauna yang menikmati hidupnya di sana.
mudah mudahan lestari alam Tampomas, dan mudah mudahan penambangan pasir tidak menjamah kawasan Hutan Tampomas. Amin.
0001.JG-2014-2019 – Hiawatha Onondaga
ceritanya bgus gan cma kyknya slah kamar emoticon-Request