alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/57452deedad770c4238b456b/ketika-paham-radikal-masuk-ke-ruang-kelas-sekolah
Ketika paham radikal masuk ke ruang kelas sekolah
Ketika paham radikal masuk ke ruang kelas sekolah
Satu survei memperlihatkan 25% siswa dan 21% guru menyatakan Pancasila tidak relevan lagi.

Anak-anak di sekolah tingkat dasar dan menengah bahkan taman kanak-kanak berisiko terpapar ajaran intoleransi dan radikalisme, seperti ditunjukan sejumlah penelitian.

Kekhawatiran juga itu disampaikan oleh sejumlah orang tua kepada BBC Indonesia.

“Suatu hari saya lagi mengobrol sama dia, terus dia lihat film di TV, dia bilang sama aku itu orang Islam lagi memerangi orang kafir lho. Kafir itu apa saya pengen ngetes. (Dia jawab) Kafir itu orang yang bukan Islam. Saya terus terang deg, bapaknya juga kaget."

Tyas (39) seorang ibu dari anak yang belajar di sekolah dasar di kawasan Jabodetabek mengungkapkan kekhawatiran tentang pelajaran agama di sekolah.

“Kamu tahu dari siapa? Dia bilang dari pak guru di sekolah katanya. Jadi kekhawatiran kami itu keluarga kami tidak mayoritas Muslim, menurut saya berdampak tidak baik sama anak saya, takutnya reluctant dengan perbedaan karena di keluarganya juga ada yang begitu.”

-GP Ansor: Buku TK ‘Anak Islam Suka Membaca’ ajarkan radikalisme
-Siswa 'mengenal Nabi Muhammad' sebagai panglima perang
-Survei: hampir 50% pelajar setuju tindakan radikal

Orang tua lain, Mira Siregar, langsung memindahkan anaknya dari sebuah sekolah swasta di Jakarta, setelah mengetahui sekolah memutarkan film tentang perang Palestina untuk murid-muridnya.

"Ketika itu kelas dua, dan saya langsung memindahkan anak saya ke sekolah lain begitu naik kelas tiga, saya sangat khawatir itu 'kan masalah kekerasan, ada kaitan dengan ideologi juga, dan tidak layak dilihat oleh anak-anak," jelas Mira.

Ajaran kekerasan pernah ditemukan oleh organisasi sayap pemuda Nahdlatul Ulama, GP Ansor, yang menyebut beberapa jilid buku pelajaran siswa Taman Kanak-kanak (TK) berjudul Anak Islam Suka Membaca, mengajarkan radikalisme dan memuat kata-kata 'jihad', 'bantai', dan 'bom'.

Akhirnya buku itu pun ditarik setelah menimbulkan kritikan gencar dari masyarakat.

Ketika paham radikal masuk ke ruang kelas sekolah

Guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta Azumardi Azra mengungkapkan paham radikal -yang menganggap pemahamannya paling benar- juga telah menyusup ke sekolah menengah melalui guru.

“Saya mengalami sendiri. Putri saya sekolah di sebuah sekolah yang bagus, elite, cukup mahal di Jakarta selatan. Ada satu atau dua gurunya yang kalau mengajar suka menyisipkan pesan-pesan ajaran salafi, yang berpikir hitam putih, atau mengajarkan paham-paham yang kelihatan proradikalisme untuk mengubah keadaan," kata Azyumardi.

"Cuma, saya tidak tahu berapa banyak murid yang bisa terpengaruh,” katanya.

Kebijakan sekolah

Survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP), yang dipimpin oleh Prof Dr Bambang Pranowo, yang juga guru besar sosiologi Islam di UIN Jakarta, pada Oktober 2010 hingga Januari 2011, mengungkapkan hampir 50% pelajar setuju tindakan radikal.

Data itu menyebutkan 25% siswa dan 21% guru menyatakan Pancasila tidak relevan lagi. Sementara 84,8% siswa dan 76,2% guru setuju dengan penerapan Syariat Islam di Indonesia.

Jumlah yang menyatakan setuju dengan kekerasan untuk solidaritas agama mencapai 52,3% siswa dan 14,2% membenarkan serangan bom.

-Pegiat mahasiswa Muslim: Sistem kekhalifahan? No! Pancasila? Yes!
-Jejak Wahabi, dari sayap kanan hingga perang Paderi
-Penyebaran gerakan khilafah di kampus menguat pascareformasi

Peneliti Maarif Institute, Abdullah Darraz, mengatakan melemahnya nilai Pancasila dan kebangsaan di sekolah berbanding lurus dengan maraknya radikalisme itu.

"Institusi sekolah ini dalam pandangan kami itu dari aspek sisi kebijakan, proses pembelajaran di kelas dan proses eskrakulikuler yang membuat radikalisme itu menguat di sekolah negeri. Ada sekolah yang terlalu permisif yang membolehkan kelompok radikal masuk situ, itu mengatasnamakan bimbingan belajar dan konseling," jelas Darraz.

Selain itu, lingkungan keluarga menurut Darraz juga berpegaruh karena sering kali orang tua membiarkan anak-anaknya mengikuti kelompok radikal, daripada anaknya terlibat tawuran atau narkoba.

Lagu nasional

Ketika paham radikal masuk ke ruang kelas sekolah
Anies Baswedan mengatakan sekolah wajib untuk menyanyikan lagu nasional dan upacara bendera.

Di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, beberapa tahun lalu sebuah yayasan pendidikan pernah memecat 13 guru karena mengajarkan paham radikal, seperti dijelaskan Ketua Yayasan Assalamah Ungaran, Husein Abdullah.

"Memberikan pelajaran agama yang tidak sesuai syariat yang kami anut, mereka ini tidak sesuai dengan Syafi’i, mengajarkan tak boleh tahlil, ziarah kubur, ini bapak-bapak kamu kalau tahlil itu salah dalam tanda kutip sekarang orang berbicara dengan istilah wahabi itu, mereka tak mau upacara bendera hari Senin, tak mau menyanyikan Indonesia Raya, setelah mereka masuk itu tidak ada," jelas Husein.

"Sekolah, guru, yang menolak menyanyikan lagu Indonesia Raya, atau sekolah atau guru yang tidak mau menyanyikan lagu bernuasa kebangsaan itu, maka mereka dapat sanksi, sejauh ini belum ada."
Anies Baswedan

Menurut dia, setelah peristiwa itu pengawasan terhadap sekolah asuhan Yayasannya ini dilakukan dengan lebih ketat.

Sementara itu, Menteri Pendidikan dan kebudayan, Anies Baswedan, mengatakan upaya pencegahan radikalisme di sekolah dilakukan antara lain dengan mewajibkan sekolah-sekolah untuk menyanyikan lagu nasional atau daerah di awal dan akhir proses belajar mengajar.

“Sekolah guru yang menolak menyanyikan lagu Indonesia Raya, atau sekolah atau guru yang tidak mau menyanyikan lagu bernuasa kebangsaan itu, maka mereka dapat sanksi, sejauh ini belum ada," jelas Anies.

Selain itu, Kemendikbud juga mewajibkan murid untuk membaca buku sebelum pelajaran dimulai, untuk menumbuhkan cara berpikir kritis, karena dengan itu dapat menangkal paham ekstremisme.

Sementara, Kementerian Agama ingin menambahkan materi tentang figur Nabi yang toleran dan penganjur perdamaian dalam materi pelajaran sejarah Nabi Muhammad di sekolah-sekolah.

Pemahanan keislaman dan keindonesiaan


Sementara itu, Azumardi mengatakan penyebaran paham radikal di kalangan murid sekolah menengah ini ini harus segera disikapi pemerintah.

“Karena itu saya berulang kali mengusulkan kepada Menteri Agama atau Mendikbud supaya para guru ditatar dan diberikan sarasehan mengenai keislaman, keindonesiaan, kepanduan atau integrasi antara keislaman dan keindonesiaan, " jelas Azumardi.

Karena, menurut dia, para guru tidak memiliki perspektif yang jelas mengenai keindonesiaan dan keislaman, yang sesungguhnya terintegrasi.

"Jadi tidak perlu dipertentangkan sebagai dua entitas yang bertentangan,” jelas Azumardi Azra.

Sementara Tyas, mengharapkan adanya standardisasi para guru, terutama guru agama, agar memahami keberagaman.

http://www.bbc.com/indonesia/berita_...akmuda_sekolah
emoticon-Marah
waspada gan ekstrim kanan lagi mengumpulkan kekuatan diam"
lha orang kafir itu artinya bukan orang islam
domba sesat itu artinya bukan kristen emoticon-Wkwkwk
apa ortunya islam KTP atau orang kejawen yang kepaksa nulis islam di KTP nya emoticon-Najis
Ketika paham radikal masuk ke ruang kelas sekolah
Quote:Original Posted By kurt.cob41n


Sementara itu, Menteri Pendidikan dan kebudayan, Anies Baswedan, mengatakan upaya pencegahan radikalisme di sekolah dilakukan antara lain dengan mewajibkan sekolah-sekolah untuk menyanyikan lagu nasional atau daerah di awal dan akhir proses belajar mengajar.

“Sekolah guru yang menolak menyanyikan lagu Indonesia Raya, atau sekolah atau guru yang tidak mau menyanyikan lagu bernuasa kebangsaan itu, maka mereka dapat sanksi, sejauh ini belum ada," jelas Anies.



coba pak masuk ke sekolah dengan label internasional. jangan bacot aja emoticon-Najis
dana dari saudi lancar, siap2 aja banyak generasi nasbung cingkrang goblok bermunculan emoticon-Traveller
Yg ini nih harus diwaspadai. Ada bom sarinah. Ada kelompok Santoso. Ada ISIS. Ada FPI. Ada HTI. masa masih belum nyadar juga?
Quote:Original Posted By Jagadex
Yg ini nih harus diwaspadai. Ada bom sarinah. Ada kelompok Santoso. Ada ISIS. Ada FPI. Ada HTI. masa masih belum nyadar juga?


bukan belum nyadar ... tapi krn kebodohan ..... krn lewat agama paling enak buat dimainkan ...emoticon-Turut Berdukaemoticon-Entahlah
lho katanya kebebasan menjalankan agama dilindungi uud? gak upacara pan ndak merugikan orang lain, gimana sih ini emoticon-Stick Out Tongue
ini cecunguk2 yang menghembuskan isu pki buat kamuflase
padahal diam2 pengkaderan ektrimis kanan

isu pki berhembus 1-2 bulan terakhir ini
ini bertepatan dengan razia spanduk & banner khilafah dijalan2
Nyimak gak
keaadaan ini udah berlangsung cukup lama sekitar 10 tahunan lewat hampir 15 tahun, itulah akibatnyan klo PKS lewat lembaga dakwahnya meyusup ke kampus dan sekolah, dari jaman gw SMA dulu udah terasa, dan parahnya sekarang udah beregenerasi, soalnya temen2 gw jaman sekolah dulu sekarang juga udah banyak yg jadi guru dan meneruskan ajaran radikal fanatik yg dia dpt dari seniornya dulu.
anaknya tetangga ane juga gitu gan,ane diceritain hormat bendera merah putih dilarang karena gak sesuai sama syariat islam gitu katanya emoticon-Cape d... (parah)



pemerintah sama kemendikbud kudu bertindak nih,pancasila sebagai ideologi bangsa semakin lama semakin memudar emoticon-Turut Berduka
bisa jadi ekstrimis kanan semua nih anak" sekarang
Itu yg komen pertamax kenapa jd misuh2 sendiri dan bawa2 agama sebelah ya emoticon-Big Grin
generasi onta2 muda
di arab saudi pendidikan dari kecil udah di doktrin untuk menghancurkan jahudi, kristen dan shiah..... emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka

budaya arab sampah kok mau di tiru..... emoticon-Wakaka

youtube-thumbnail
Quote:Original Posted By boniedog
Ketika paham radikal masuk ke ruang kelas sekolah


wkwkwk
gw dari sd sampe kuliah sekolah di tempat umum, memang ada beberapa guru yang setiap mengajar diselipkan anti barat, cina, kristen, padahal sekolah umum, kalo ente minoritas punya duit banyak mending anak sekolahin di sekolah swasta kayak penabur dll, kasihan disekolah umum takut mentalnya gak kuat disindirin mulu. kayak keponakan ngadu ke emaknya katanya dia gak di temenin karena orang kristen, padahal masih SD.
Bocah2 udah dicekokin ideologi kegelapan
Dimana ngapirin n ngehalalin darah pihak lain dianggap normal, malah diwajibkan
Logicnya dimana ?
Benar2 sebuah religion of peace emoticon-Jempol
lebih bahaya dr pki.... emoticon-Ngacir