alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/573fd78fe05227314d8b456c/rahasia-kotor-iran-quotmerencanakan-kekacauan-hajiquot-terbongkar
Rahasia Kotor Iran "Merencanakan Kekacauan Haji" Terbongkar
Rahasia Kotor Iran "Merencanakan Kekacauan Haji" Terbongkar

JEDDAH - Terlepas dari kenyataan bahwa penyidikan masih berlangsung, keterlibatan Iran dalam perencanaan kegiatan teroris selama haji telah ditunjukkan dengan pengakuan Kantor Urusan Haji Iran.

Dilansir Arab News (19/5), hal tersebut terbongkar pada persidangan terhadap 30 warga Saudi, satu warga Afghanistan dan satu warga Iran, dengan tuduhan menjadi anggota kelompok mata-mata yang berkaitan dengan intelijen Iran. Bukti dari sejumlah plot Iran untuk mengacaukan keamanan Kerajaan Saudi Arabia (KSA), menciptakan kerusuhan dan menyebarkan kekacauan selama haji juga telah nampak titik terangnya.

Menurut laporan dalam publikasi media lokal, salah satu terdakwa telah mengirimkan pesan audio kepada pemimpin Iran Ali Khamenei meminta dukungan keuangan untuk mendirikan pusat Syiah di Makkah. Pusat Syiah ini akan digunakan untuk memicu hasutan dan sektarianisme, dan memberikan informasi penting tentang musim haji kepada intelijen Iran. Pusat Syiah akan dibantu oleh intelijen Iran yang bekerja di OKI.

Pengakuan ini semakin menambah keyakinan bahwa Iran tidak akan menghentikan upaya jahatnya untuk mengeksploitasi haji dengan menyebarkan perselisihan dan slogan perrmusuhan. Ini dirancang untuk memecah umat Islam seperti yang telah ditunjukkan dalam pengadilan tentang pertemuan-pertemuan lain antara anggota kelompok dan Khamenei.

Iran tidak akan ragu menggunakan segala cara untuk mencapai tujuan jahat selama haji dengan menghasut perselisihan sektarian. Iran telah mengadakan pertemuan rahasia dengan para pengikutnya di Lebanon, khususnya organisasi teroris Hizbullat, untuk merencanakan kejahatan selama musim haji bahkan jika rencana itu menyebabkan jatuh korban yang tak berdosa dan kerugian harta

Teheran telah mencoba menggunakan koresponden Al-Alam channel yang memiliki kantor pusat di Teheran. Koresponden ini beroperasi di beberapa daerah KSA seperti yang diakui oleh salah satu terdakwa kelompok mata-mata. Tujuannya adalah untuk mendistorsi citra KSA, mendukung aksi protes, mengganggu aktivitas dan menyebabkan kekacauan selama haji.

Al-Alam channel mendukung pelatihan sejumlah anggota mata-mata dalam hal penggunaan komputer, kamera, laporan terenkripsi, dan mengirim fotografi intelijen tentang pelaksanaan Haji, situs militer dan pidato resmi. Ini semua telah terbukti dengan sangat jelas. Kelompok mata-mata tersebut juga menunjukkan upaya serius Iran untuk mendapatkan informasi rahasia tentang instalasi pertahanan KSA, yang dapat mempengaruhi keamanan nasional, persatuan dan keamanan Arab Saudi dan angkatan bersenjatanya.

Sejumlah anggota kelompok membenarkan pertemuan mereka dengan Khamenei, dalam koordinasi dengan intelijen Iran, dan mengakui upaya mereka untuk melakukan kegiatan yang merusak kepentingan KSA, dan terhadap fasilitas ekonomi penting di negara ini, mengganggu perdamaian dan keamanan, mengancam kesatuan sosial dengan menyebarkan kekacauan, kebencian dan kegiatan memusuhi KSA.

Sebagian besar anggota kelompok ini melakukan perjalanan ke Iran dan Lebanon, mengadakan pertemuan dengan agen intelijen Iran dan menerima pelatihan spionase. Pertemuan mereka diselenggarakan di sejumlah lokasi yang berbeda.

Koordinasi antara kepala intelijen Saudi dan Kementerian Dalam Negeri yang menyebabkan suksesnya penangkapan agen dari jaringan mata-mata Iran.

Kementerian Dalam Negeri KSA mengumumkan bahwa penangkapan dilakukan dalam operasi keamanan terkoordinasi dalam empat wilayah Arab Saudi: Makkah, Madinah, Riyadh dan Provinsi Timur.

Pernyataan itu mengatakan bahwa yang ditahan adalah agen mata-mata kontak dengan intelijen Iran dan telah mengumpulkan informasi tentang instalasi vital di Arab Saudi.

Sumber: Arab News
Terjemahan: MiddleEastUpdate.com

http://www.portalpiyungan.com/2016/05/rahasia-kotor-iran-merencanakan.html?m=1
Faham Islam yang menyimpang terbesar saat ini:
1. Syiah >>> penyimpangannya sudah jelas
2. Wahhabi >>> Meski Tahap awalnya masih relatif "aman" , namun Tahapan akhirnya menghasilkan Islam radikal macam Al-Qaeda, ISIS dan penyimpangan Tauhid (mensifati Allah dg mahluk)
3. Islam Liberal >>> mengedepankan akal ketimbang Iman, aqidah yg menyimpang.

wallahu 'alam
Quote:Original Posted By rickyrickardo
Faham Islam yang menyimpang terbesar saat ini:
1. Syiah >>> penyimpangannya sudah jelas
2. Wahhabi >>> Meski Tahap awalnya masih relatif "aman" , namun Tahapan akhirnya menghasilkan Islam radikal macam Al-Qaeda, ISIS dan penyimpangan Tauhid (mensifati Allah dg mahluk)
3. Islam Liberal >>> mengedepankan akal ketimbang Iman, aqidah yg menyimpang.

wallahu 'alam


No 1 dan 3 sdh benar.
Yg no 2 fitnah murahan kaum penyimpang tauhid dari pentakwil sifat Allah, pelaku bid"ah, pengamal kesyirikan
Melawan lupa ttg syiah/ Iran yg bikin rusuh jemaah haji.

Berikut ini 7 Peristiwa kekacauan yang dilakukan Syiah dalam sepanjang sejarah:

1. Tahun 293 H,  Syi’ah Qaramithah menyerang Kufah, membakar seluruh kabilah Arab Bani Abd al-Qais, dan melakukan aksi pembantaian yang cukup mengerikan.

2. Tahun 312 H, di bawah pimpinan Abu Thahir al-Qarmathi pemeluk Syiah menyerang kafilah yang baru menunaikan Ibadah haji dari Makkah. Mereka membunuhi kaum lelaki dan menawan kaum wanita. Meramapas harta mereka yang lebih dari 1 juta dinar. (Ibn Katsir al-Syafi’i, AL-Bidayah wa al-Nihayah, juz XI, h. 149).

3. Tahun 317 H, Abu Thahir al-Qarmathi sampai ke Makkah pada hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah). Dia dan tentaranya membantai para jamaah haji dan mu’tamirin di sekitar Ka’bah, baik mereka yang sedang thawaf, maupun mereka yang bergelantungan di kelambu Ka’bah.

Merampas harta mereka. Dan bukan cuma itu, mereka juga mencabut Hajar al-Aswad dari Ka’bah, dan membawanya ke Kerajaan mereka, dan tetap berada di sana sampai 335 H ( selama + 18 tahun).
(Ibn Katsir al-Syafi’i, AL-Bidayah wa al-Nihayah, juz XI, h. 160).

4. Tahun 1406 H: Jama’ah haji Iran turun di Jeddah. Setelah melalui pemeriksaan, ternyata kebanyakan jama’ah yang berjumlah 500 orang, menyembunyikan bahan peledak C4 di bagian bawah tas. Kemudian bahan peledak tersebut dikumpulkan dan mencapai berat 150 Kg.

lihat videonya : فيديو قديم و خطير يبين جرائم الشيعة في حج 1406:
youtube-thumbnail


5.Tahun 1407 H.Hizbullah bekerja sama dengan Garda Revolusi Iran, dan didukung oleh Jama’ah haji Syiah dari Saudi, mengadakan demonstrasi besar-besaran di Makkah al-Mukarramah, pada musim haji 1407 H. Hasilnya, 402 orang wafat, 85 di antaranya adalah petugas keamanan.

Akibat dari kerusukan ini menyebabkan puluhan bangunan hancur, ratusan wanita, anak-anak, dan orang tua terinjak-injak , dan ratusan ribu jama’ah haji terhambat melaksanakan manasik.

6.Tahun 1409 H. Anggota Hizbullah-Saudi bekerjasama dengan Syi’ah Kuwait melakukan aksi peledakan bom di Kota Makkah.Bahan peledak mereka peroleh dari pejabat (Syi’ah) Kedubes Kuwait di Saudi. Para pelaku diangkat sebagai pahlawan oleh kaum Syi’ah.

7. tahun lalu 1436H. Sehabis lempar jumroh aqobah jamaah haji Iran tdk mau mengikuti aturan jalan balik ke mina. Mereka pulang dengan melawan arus shg terjadi tubrukan arus dg jamaah lain yg akan lempar jumroh shg ribuan korban tewas tdk terhindarkan.
Kabah itu milik umat islam apa milik onta arab? emoticon-Big Grin

Quote:Original Posted By charliebego


No 1 dan 3 sdh benar.
Yg no 2 fitnah murahan kaum penyimpang tauhid dari pentakwil sifat Allah, pelaku bid"ah, pengamal kesyirikan


Umat Islam dahulu damai sebelum datangnya Wahhabi, pemicunya adalah dari pemahaman Bid'ah itu sendiri.
Ulama2 mazhab yg 4 membagi 2 bid'ah menjadi Bid'ah hasanah (baik) dan dholalah(buruk), ketika faham wahhabi datang mereka tidak bersepakat mengenai pengertian bid;ah tsb.
Salah satu dari ajaran yang (diyakini oleh Muhammad bin Abdul Wahab pendiri wahhabi, adalah mengkufurkan kaum muslim sunni yang mengamalkan tawassul, ziarah kubur, maulid nabi, & lain-lain.
Berbagai dalil akurat yang disampaikan berkaitan dengan tawassul, ziarah kubur,mauled dll, ditolak tanpa alasan yang dapat diterima.
Dengan berdalihkan pemurnian ajaran Islam, dia terus menyebarkan ajarannya di sekitar wilayah Najed. Orang-orang yang pengetahuan agamanya minim banyak yang terpengaruh. Termasuk diantara pengikutnya adalah penguasa Dar’iyah, Muhammad bin Saud (meninggal tahun 1178 H / 1765 M) pendiri dinasti Saudi, yang dikemudian hari menjadi mertuanya.
Pengikutnya semakin banyak & wilayah kekuasaan semakin luas. Keduanya bekerja sama untuk memberantas tradisi yang dianggapnya keliru dalam masyarakat Arab, seperti tawassul, ziarah kubur, peringatan Maulid & sebagainya.
Tak mengherankan bila para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab lantas menyerang makam-makam yang mulia. Bahkan, pada 1802, mereka menyerang Karbala-Irak, tempat dikebumikan jasad cucu Nabi Muhammad ﷺ, Husein bin Ali. Karena makam tersebut dianggap tempat munkar yang berpotensi syirik kepada الله سبحانه و تعالىى.
Dua tahun kemudian, mereka menyerang Madinah, menghancurkan kubah yang ada di atas kuburan, menjarah hiasan-hiasan yang ada di Hujrah Nabi Muhammad ﷺ.Keberhasilan menaklukkan Madinah berlanjut. Mereka masuk ke Mekkah pada 1806, & merusak kiswah, kain penutup Ka’bah yang terbuat dari sutra. Kemudian merobohkan puluhan kubah di Ma’la, termasuk kubah tempat kelahiran Nabi ﷺ, tempat kelahiran Sayyidina Abu Bakar & Sayyidina Ali, juga kubah Sayyidatuna Khadijah, masjid Abdullah bin Abbas. t.

Sayyid Ahmad Zaini Dahlan Mufti Madzhab Syafi’i, merangkap “Syeikh al-Haram” suatu pangkat ulama tertinggi saat itu yang mengajar di Masjid al-Haram mengatakan:

“Ketika orang-orang Wahhabi masuk Thaif mereka benar-benar membunuh manusia secara massal & membantai yang tua, kecil, rakyat & gubernur, yang berpangkat, & yang hina, bahkan mereka menyembelih bayi yang masih menyusu di hadapan ibunya. Mereka masuk ke rumah-rumah, mengeluarkan penghuni rumah & membunuhnya. Kemudian mereka mendapatkan sekelompok orang yang sedang belajar al Qur’an maka mereka membunuh seluruhnya & bahkan mereka menyisir setiap kedai & masjid & membunuh setiap orang yang berada di dalamnya. Mereka juga membunuh seorang laki-laki yang sedang rukuk atau sujud di dalam masjid sehingga mereka semua binasa. Semoga adzab penguasa langit menimpa mereka”( syeikh Ahmad Zaini Dahlan, Umara’ al Balad al Haram, (Beirut: al Dar al Muttahidah li an-Nasyr), hal. 297-298))

Gerakan kaum Wahhabi ini membuat Sultan Mahmud II, penguasa Kerajaan Usmani, Istanbul-Turki, murka. Dikirimlah prajuritnya yang bermarkas di Mesir, di bawah pimpinan Muhammad Ali, untuk melumpuhkannya. Pada 1813, Madinah & Mekkah bisa direbut kembali.Gerakan Wahhabipun surut. Tapi, pada awal abad ke-20, Abdul Aziz bin Sa’ud bangkit kembali mengusung paham Wahhabi. Tahun 1924, ia berhasil menduduki Mekkah, lalu ke Madinah & Jeddah, memanfaatkan kelemahan Turki akibat kekalahannya dalam Perang Dunia I. Sejak itu, hingga kini, faham Wahhabi mengendalikan pemerintahan di Arab Saudi. Dewasa ini pengaruh gerakan Wahhabi bersifat global. Riyadh mengeluarkan jutaan dolar AS setiap tahun untuk menyebarkan ideologi Wahhabi. Sejak hadirnya Wahhabi, dunia Islam penuh dengan pergolakan pemikiran, sebab kelompok ekstrem itu selalu menghalau pemikiran & pemahaman agama Islam (Sunni-Syafi’i) yang sudah mapan
coba komunis pki dan neokomunis wahabi belajar ini

Rahasia Kotor Iran "Merencanakan Kekacauan Haji" Terbongkar



baca
Inteligensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Inteligensia Muslim Indonesia Abad ke-20
by Yudi Latif




Ciyeee... Sunni lagi tebar fitnah
Giliran Iran maju dan bikin barat ketar ketir, langsung banyak Sunni Indon ng-fans sama Iran

Pret lah tai kucing
Quote:Original Posted By indonesia..ber1
coba komunis pki dan neokomunis wahabi belajar ini

Rahasia Kotor Iran "Merencanakan Kekacauan Haji" Terbongkar



baca
Inteligensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Inteligensia Muslim Indonesia Abad ke-20
by Yudi Latif



Hari gini, masih ada yg taqiyyah mencatut nama wahabi dg komunis.





? Rahasia Kotor Iran "Merencanakan Kekacauan Haji" Terbongkar.

Sana cuci muka dulu kalau kehabisan amunisi utk memfitnah.
Quote:Original Posted By JahanamBejat
Ciyeee... Sunni lagi tebar fitnah
Giliran Iran maju dan bikin barat ketar ketir, langsung banyak Sunni Indon ng-fans sama Iran

Pret lah tai kucing



Nih ada yg ga trima alias teeguncang junjungannya yg menjadi sumber dari segala sumber fitnah selama ini.
Sana cuci muka dulu, belajar sejarah yg bener....



? Rahasia Kotor Iran "Merencanakan Kekacauan Haji" Terbongkar.

Quote:Original Posted By bingungkabeh



Hari gini, masih ada yg taqiyyah mencatut onama wahabi dg komunis.





?

Sana cuci muka dulu kalau kehabisan amunisi utk memfitnah.


modusnya sama kok: level atas foya2, level bawahnya kere yang dijejali ideologi
Quote:Original Posted By rickyrickardo
Umat Islam dahulu damai sebelum datangnya Wahhabi, pemicunya adalah dari pemahaman Bid'ah itu sendiri.
Ulama2 mazhab yg 4 membagi 2 bid'ah menjadi Bid'ah hasanah (baik) dan dholalah(buruk), ketika faham wahhabi datang mereka tidak bersepakat mengenai pengertian bid;ah tsb.
Salah satu dari ajaran yang (diyakini oleh Muhammad bin Abdul Wahab pendiri wahhabi, adalah mengkufurkan kaum muslim sunni yang mengamalkan tawassul, ziarah kubur, maulid nabi, & lain-lain.
Berbagai dalil akurat yang disampaikan berkaitan dengan tawassul, ziarah kubur,mauled dll, ditolak tanpa alasan yang dapat diterima.
Dengan berdalihkan pemurnian ajaran Islam, dia terus menyebarkan ajarannya di sekitar wilayah Najed. Orang-orang yang pengetahuan agamanya minim banyak yang terpengaruh. Termasuk diantara pengikutnya adalah penguasa Dar’iyah, Muhammad bin Saud (meninggal tahun 1178 H / 1765 M) pendiri dinasti Saudi, yang dikemudian hari menjadi mertuanya.
Pengikutnya semakin banyak & wilayah kekuasaan semakin luas. Keduanya bekerja sama untuk memberantas tradisi yang dianggapnya keliru dalam masyarakat Arab, seperti tawassul, ziarah kubur, peringatan Maulid & sebagainya.
Tak mengherankan bila para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab lantas menyerang makam-makam yang mulia. Bahkan, pada 1802, mereka menyerang Karbala-Irak, tempat dikebumikan jasad cucu Nabi Muhammad ﷺ, Husein bin Ali. Karena makam tersebut dianggap tempat munkar yang berpotensi syirik kepada الله سبحانه و تعالىى.
Dua tahun kemudian, mereka menyerang Madinah, menghancurkan kubah yang ada di atas kuburan, menjarah hiasan-hiasan yang ada di Hujrah Nabi Muhammad ﷺ.Keberhasilan menaklukkan Madinah berlanjut. Mereka masuk ke Mekkah pada 1806, & merusak kiswah, kain penutup Ka’bah yang terbuat dari sutra. Kemudian merobohkan puluhan kubah di Ma’la, termasuk kubah tempat kelahiran Nabi ﷺ, tempat kelahiran Sayyidina Abu Bakar & Sayyidina Ali, juga kubah Sayyidatuna Khadijah, masjid Abdullah bin Abbas. t.

Sayyid Ahmad Zaini Dahlan Mufti Madzhab Syafi’i, merangkap “Syeikh al-Haram” suatu pangkat ulama tertinggi saat itu yang mengajar di Masjid al-Haram mengatakan:

“Ketika orang-orang Wahhabi masuk Thaif mereka benar-benar membunuh manusia secara massal & membantai yang tua, kecil, rakyat & gubernur, yang berpangkat, & yang hina, bahkan mereka menyembelih bayi yang masih menyusu di hadapan ibunya. Mereka masuk ke rumah-rumah, mengeluarkan penghuni rumah & membunuhnya. Kemudian mereka mendapatkan sekelompok orang yang sedang belajar al Qur’an maka mereka membunuh seluruhnya & bahkan mereka menyisir setiap kedai & masjid & membunuh setiap orang yang berada di dalamnya. Mereka juga membunuh seorang laki-laki yang sedang rukuk atau sujud di dalam masjid sehingga mereka semua binasa. Semoga adzab penguasa langit menimpa mereka”( syeikh Ahmad Zaini Dahlan, Umara’ al Balad al Haram, (Beirut: al Dar al Muttahidah li an-Nasyr), hal. 297-298))

Gerakan kaum Wahhabi ini membuat Sultan Mahmud II, penguasa Kerajaan Usmani, Istanbul-Turki, murka. Dikirimlah prajuritnya yang bermarkas di Mesir, di bawah pimpinan Muhammad Ali, untuk melumpuhkannya. Pada 1813, Madinah & Mekkah bisa direbut kembali.Gerakan Wahhabipun surut. Tapi, pada awal abad ke-20, Abdul Aziz bin Sa’ud bangkit kembali mengusung paham Wahhabi. Tahun 1924, ia berhasil menduduki Mekkah, lalu ke Madinah & Jeddah, memanfaatkan kelemahan Turki akibat kekalahannya dalam Perang Dunia I. Sejak itu, hingga kini, faham Wahhabi mengendalikan pemerintahan di Arab Saudi. Dewasa ini pengaruh gerakan Wahhabi bersifat global. Riyadh mengeluarkan jutaan dolar AS setiap tahun untuk menyebarkan ideologi Wahhabi. Sejak hadirnya Wahhabi, dunia Islam penuh dengan pergolakan pemikiran, sebab kelompok ekstrem itu selalu menghalau pemikiran & pemahaman agama Islam (Sunni-Syafi’i) yang sudah mapan


Pendapat madzab Imam Syafii tentang masalah ziarah kubur....

Simak penjelasan Pendapat Imam An Nawawi rahimahullah (wafat 676H), ulama besar madzhab Syafi’i, mungkin akan dikatakan terpengaruh paham Wahabi, karena perkataan beliau berikut ini

:لا يجوز أن يطاف بقبره صلى الله عليه وسلم، ويكره إلصاق الظهر والبطن بجدار القبر، قاله أبوعبيد الله الحليمي وغيره. قالوا: ويكره مسحه باليد وتقبيله، بل الأدب أن يبعد منه كما يبعد منه لو حضره في حياته صلى الله عليه وسلم.هذا هو الصواب الذي قاله العلماء وأطبقوا عليه، ولا يغتر بمخالفة كثيرين من العوام وفعلهم ذلك، فإن الاقتداء والعمل إنما يكون بالأحاديث الصحيحة وأقوال العلماء، ولا يلتفت إلى محدثات العوام وغيرهم وجهالاتهم… ومن خطر بباله أن المسح باليد ونحوه أبلغ في البركة، فهو من جهالته وغفلته، لأن البركة إنما هي فيما وافق الشرع، وكيف يبتغى الفضل في مخالفة الصواب؟!“Tidak boleh thawaf di kuburannya Nabi shallallahu’alaihi wasallam, dan tindakan menempelkan punggung dan perut ke dinding kuburan beliau adalah perbuatan yang dibenci. Itulah yang dikatakan oleh Abu Ubaidillah Al-Halimi dan ulama yang lainnya. Mereka juga mengatakan: “dibenci pula mengusap kuburan itu dengan tangan dan menciumnya. Namun yang sesuai dengan adab / sunnah adalah dengan menjauh dari kuburan beliau, sebagaimana hendaknya ia menjauhkan badannya bila ia mendatangi beliau saat masih hidup.Inilah tindakan yang benar, yang dikatakan oleh para ulama, dan mereka sepakat dalam hal ini. Dan janganlah tergoda dengan banyaknya orang-orang awam yang menyelisinya, dan (jangan tergoda pula) oleh kelakuan mereka itu! Karena mengikuti dan mengamalkan sesuatu itu hanyalah dengan dasar hadits-hadits yang shahih dan perkataan para ulama.

Dan jangan tergoda oleh bentuk-bentuk kebodohan dan perkara-perkara (bid’ah) yang diada-adakan oleh orang-orang awam. Barangsiapa terbetik di benaknya, bahwa mengusap dengan tangan dan tindakan yang semisalnya lebih mendatangkan berkah, maka itu merupakan kebodohan dan kelalaiannya. Karena keberkahan hanyalah dalam hal yang sesuai syariat.
Bagaimana mungkin suatu keutamaan dicari dalam hal yang menyelisihi kebenaran?! (Al-Majmu’, karya Imam Nawawi, 8/275).

Banyak orang beranggapan dianjurkan untuk shalat di kuburan para wali saat berziarah. Tentunya dengan tujuan yang beragam. Padahal Nabi shallallahu’alaihi wasallam pernah menyabdakan
:لَا تُصَلوا إِلَى الْقُبُورِ“
Janganlah kalian shalat ke kuburan!” (HR. Muslim: 972).
Mungkin diantara mereka ada yang ngeyel dengan mengatakan: “itu kan kalau shalatnya menghadap ke kuburan, kalau saya shalatnya di kuburan tapi menghadap ke kiblat!“.
Sayang, orang seperti ini belum tahu hadits-hadits lain yang lebih tegas dalam masalah ini.

Bukankah Nabi kita tercinta shallallahu’alaihi wasallam juga telah menyabdakan
:الْأَرْضُ كُلهَا مَسْجِدٌ إِلا الْحَمامَ وَالْمَقْبَرَةَ“
Bumi semuanya bisa dijadikan masjid (yakni tempat shalat yang di dalamnya ada sujud), kecuali tempat untuk mandi, dan kuburan” (HR. Abu Dawud: 492 dll, dishahihkan oleh Alhakim, Adz-Dzahabi, dan Syaikh Al Albani).

Mungkin ia masih akan ngeyel dengan mengatakan: “itu kan pemahaman Anda yg wahabi”, mohon ma’af mas ‘lakum diinukum waliya diin“.Subhanallah… sulit jadinya jika sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam kurang dihormati dan tidak didengarkan.

Baiklah, bukankah Ibnul Mundzir (wafat 319 H) yang bermazhab Syafi’i telah mengatakan
:وَقَوْله: «وَلَا تَجْعَلُوهَا قُبُورًا» ، يَدُل عَلَى أَن الصلَاةَ غَيْرُ جَائِزَةٍ فِي الْمَقْبَرَةِ“

sabda beliau: ‘jangan jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan!‘, itu menunjukkan bahwa shalat itu tidak diperbolehkan di kuburan” (Kitab Al-Ausath, 2/183).
Quote:Original Posted By indonesia..ber1
modusnya sama kok: level atas foya2, level bawahnya kere yang dijejali ideologi



Ternyata dinegara yg katanya Wahabi, rakyatnya hidupnya paling enak.
Mereka disubsidi, pendidikan gratis, kesehatan gratis, ke RS gratis.
Bahkan org yg membenci wahabi alias syiah juga dilayani tanpa pandang bulu.

Kenapa ente yg ribut, wong rakyatnya senang kok disana.

Kerajaan Arab Saudi adalah sebuah negara Arab yang terletak di Jazirah Arab. Beriklim gurun dan wilayahnya sebagian besar terdiri atas gurun pasir. Sebuah negeri yang diyakini tak satupun negara di dunia ini yang tidak mengenalnya. Baik itu negara sekuler terlebih lagi negara sesama muslim.

Banyak sekali keunikan atau kelebihan yang dimiliki negara dimana Islam berasal ini. Keunikan atau kelebihan yang tentunya akan sangat membahagiakan bagi warganya. Berikut beberapa fakta tentang keunikan atau kelebihan Arab Saudi yang tidak ditemui di negara lain.

1. Tidak ada pemilu untuk memilih kepala negara

Arab Saudi adalah negara monarki absolut. Tidak ada pemilu ala negara demokrasi seperti yang terjadi di berbagai negara. Meski berjuluk negeri kaya raya, namun proses pergantian tampuk pimpinan di Arab Saudi sangatlah hemat biaya, bahkan mungkin tanpa biaya sama sekali. Pergantian tongkat kepemimpinan dari Raja Abdullah yang meninggal dunia kepada Raja Salman hanya berlangsung beberapa menit setelah pembacaan surat keputusan. Kemudian diiringi baiat dan saling berjabatan tangan.
Tidak ada triliunan uang yang dihambur-hamburkan hanya untuk sebuah pesta demokrasi. Rakyat merasa aman, nyaman dan tentram. Mereka tidur di malam hari di bawah kekuasaan seorang raja, dan mereka bangun di pagi hari dalam keadaan kekuasaan sudah beralih ke raja berikutnya. Negara dalam kondisi damai, tanpa gejolak dan tanpa rasa takut.

2. BBM di Arab Saudi sangat murah

BBM jenis oktan 91 hanya dihargai 0,75 riyal ( sekitar 2.700 rupiah). Itupun setelah mengalami kenaikan dari bulan sebelumnya yang hanya 0,45 riyal (sekitar 1.600 rupiah). Sedangkan BBM jenis oktan 95 hanya seharga 0,90 riyal (3.250 rupiah) setelah sebelumnya seharga 0,60 riyal (2.150 rupiah). Harga 1 liter bensin di Saudi setara dengan setengah liter air minum kemasan di Indonesia.

3. Pendidikan di Arab Saudi gratis, itupun masih ditambah dengan beasiswa yang diberikan kerajaan.

Secara umum seluruh universitas negeri di Saudi memberikan beasiswa penuh (full-scholarship). Mahasiswa sama sekali tidak dibebani biaya kuliah dan bahkan diberi uang bulanan atau mukafaah. Mukafaah di seluruh universitas negeri Saudi hampir sama yaitu sekitar 890 riyal per bulan (sekitar 3 juta rupiah) baik untuk S1, S2 maupun S3. Mahasiswa S2 atau S3 yang merangkap sebagai research assistant (RA) atau teaching assistant (TA) akan mendapat tambahan gaji. Besar kecilnya gaji tergantung universitas yang bersangkutan. Jika beruntung ikut proyek penelitian dosen bisa mendapat tambahan uang saku lagi.

Biaya hidup tidak terlalu besar, karena telah disediakan asrama gratis dan mendapat subsidi makan di kantin kampus. Dengan kondisi seperti ini rata-rata mahasiswa masih bisa menabung dari beasiswa yang diperoleh. Bagi mahasiswa yang membawa keluarga, maka harus menyewa rumah di luar dan di beberapa kampus disediakan pengganti biaya sewanya.

4. Jalanan di Arab Saudi kualitas tol semua, dan gratis

Arab Saudi sangat memperhatikan masalah infrastruktur, termasuk soal sarana jalan. Jalan tol penghubung Mekkah dan Jeddah misalnya. Selain memiliki track lurus lempang, kondisi jalan juga mulus dan lebar. Dua jalur yang berlawanan arah selalu disekat rapi, sehingga membuat semakin nyamannya para driver saat mengemudi. Mengemudi berapapun jauhnya tak begitu melelahkan bagi para driver disana. Soal kemacetan? Maaf, Anda salah alamat, ini Arab Saudi, macet adalah hal yang sangat langka ditemui.

5. Wajib shalat berjamaah di masjid

Arab Saudi adalah satu-satunya negara yang mengharuskan penduduknya untuk menghentikan seluruh aktivitas perdagangan selama pelaksanaan salat berjamaah yang mana setiap toko harus ditutup ketika telah dikumandangkan azan tanda masuknya waktu salat wajib. Lalu bagaimana dengan para PKL yang menggelar dagangan di pinggir jalan? Aman, tidak ada yang berani mencuri dagangan mereka satu pun. Berbeda dengan negara lain, yang lengah sesaat saja, sepeda motor pun lenyap.

6. Tingkat kriminalitas sangat rendah

Masih terkait dengan poin sebelumnya, mengapa PKL di Arab Saudi dengan mudahnya meninggalkan lapaknya untuk shalat berjamaah? Ya, karena tidak ada yang berani mencuri dagangannya. Mencuri dagangan orang, berarti tangan bakal copot. Ketatnya penerapan syariat Islam di Arab Saudi berimbas pada rendahnya tingkat kriminalitas. Tentu kita tidak mengatakan bahwa Arab Saudi 100% bebas kriminalitas, namun apabila dibandingkan dengan negara lain, bahkan negara Islam sekalipun, yang tidak menerapkan syariat Islam, maka akan jauh sekali kondisinya.
Dan sekali pun kita mendengar berita kriminal di Arab Saudi, biasanya tidak jauh dari kasus TKI dan berita kriminalitas di kalangan anggota kerajaan, yang tentunya sangat tendensius. Sumber berita biasanya tidak jauh dari media-media Syiah, kelompok radikal khawarij dan musuh-musuh Arab Saudi lainnya.

7. Arab Saudi negara paling dermawan di dunia

Sejak tahun 1970-an, Arab Saudi telah menyumbangkan bantuan sebesar 49 miliar poundsterling yang membuatnya menjadi negara donor terbesar di dunia. Sebagai contoh, untuk Aceh saat terjadi bencana tsunami saja, Arab Saudi menggelontorkan US$70 (Sekitar Rp 651 Milyar). Semua bantuan Arab Saudi yang mayoritasnya diperuntukkan ke negara-negara Islam bersifat hibah, tanpa syarat apapun.
Mengapa Arab Saudi begitu royal menyumbangkan kekayaannya untuk negara lain? Setidaknya ada dua hal yang berpengaruh, pertama karena memang Arab Saudi adalah negara kaya raya. Yang kedua, sudah menjadi karakter orang Arab yang begitu bersemangat untuk berderma. Hal ini bisa dilihat saat musim haji atau umrah, bagaimana antusiasme warga Arab Saudi untuk menjamu tamu-tamu Allah dari berbagai penjuru dunia.

8. Warga Arab Saudi bebas pajak penghasilan

Tidak ada pajak penghasilan yang dipungut dari warga Arab Saudi. Bahkan bukan hanya warga Arab Saudi, warga negara-negara Teluk yang memiliki kerjasama dengan Arab Saudi seperti Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, dan Uni Emirat Arab umumnya dibebaskan dari pembayaran pajak penghasilan, akan tetapi mereka tetap harus tunduk pada aturan pembayaran zakat.

9. Syiar-syiar Kuffar Dilarang

Di saat negara-negara muslim masyarakatnya resah karena tingkat kehamilan di luar nikah sangat tinggi, terutama pasca perayaan Valentine’s Day. Atau tindak kriminal yang meningkat saat momen perayaan Tahun Baru, warga Arab Saudi masih adem ayem. Mereka bisa tidur nyenyak pada malam tahun baru maupun malam Valentine. Tidak ada kekhawatiran kemana perginya anak mereka pada momen-momen penuh kemaksiatan tersebut.
Valentine, Perayaan Natal dan Tahun Baru, konser musik dan berbagai event hura-hura adalah sesuatu yang terlarang di negeri itu. Jangankan perayaan Valentine, ada sedikit saja yang mengarah ke sana, polisi syariah sudah bertindak tegas. Sehingga jangan berharap bisa menemukan toko-toko yang menjual pernak-pernik Valentine atau terompet Tahun Baru di Arab Saudi.

10. Proteksi terhadap warga sangat tinggi

Sudah menjadi isu yang mendunia, bahwa di Arab Saudi wanita dilarang mengemudi mobil. Meski banyak diprotes, apalagi oleh dunia barat, kebijakan ini sebenarnya untuk melindungi kaum wanita. Dengan diperbolehkannya wanita mengemudi, akan membuat mereka lebih sering meninggalkan rumah melebihi kebutuhan. Tugas-tugas keluarga akan terbengkalai. Dan para wanita akan menampakkan wajah-wajah mereka di jalan-jalan.
Dengan diamnya para wanita di rumah dan tidak berkeliaran dengan mobil-mobil mereka, keamanan dapat lebih ditingkatkan. Keamanan untuk para wanita tersebut dan juga keamanan untuk pengguna jalan lainnya. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa wanita bukanlah pengemudi yang baik. Tabiat wanita yang mudah panik, kurang mampu mengambil keputusan, akan sangat berbahaya jika berada di jalan raya. Jika peraturan ini bisa diterapkan di negara lain, maka tidak ada lagi kekhawatiran pada pengemudi pria akan bertemu dengan ibu-ibu yang lampu sein-nya ke kanan dan motornya justru belok ke kiri.

Wallahu a’lam.
Quote:Original Posted By bingungkabeh

Pendapat madzab Imam Syafii tentang masalah ziarah kubur....
Simak penjelasan Pendapat Imam An Nawawi rahimahullah (wafat 676H), ulama besar madzhab Syafi’i, mungkin akan dikatakan terpengaruh paham Wahabi, karena perkataan beliau berikut ini
.................
sabda beliau: ‘jangan jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan!‘, itu menunjukkan bahwa shalat itu tidak diperbolehkan di kuburan” (Kitab Al-Ausath, 2/183).


tau gak kalo nabi dan sahabatpun sholat di kuburan????

Jika anda mencari kebenaran bukan pembenaran, maka Buka mata buka hati baca baik-baik perkata hingga selesai....

Salah satu pokok permasalahan dalam dunia Islam adalah orang-orang yang kembali kepada Al Qur'an dan As Sunnah dengan akal pikiran masing-masing secara otodidak (shahafi) bersandarkan muthola'ah (menelaah kitab) dan umumnya dengan metodologi "terjemahkan saja" yakni memahami dengan makna dzahir/harfiah/tertulis/tersurat dari sudut arti bahasa (lughot) dan istilah (terminologi) saja.

Rasulullah SAW telah mencirikan mereka yang menyebabkan perselisihan karena perbedaan pemahaman yakni ulama bangsa Arab yang hanya berkemampuan berbahasa Arab saja atau “terjemahkan saja”, sebagaimana dalam sabdanya yang artinya

“Mereka adalah seperti kulit kita ini, juga berbicara dengan bahasa kita (bahasa Arab)“. Saya bertanya ‘Lantas apa yang anda perintahkan kepada kami ketika kami menemui hari-hari seperti itu?” Nabi menjawab; “Hendaklah kamu selalu bersama jamaah muslimin dan imam mereka!” Aku bertanya; “kalau tidak ada jamaah muslimin dan imam bagaimana?” Nabi menjawab; “hendaklah kau jauhi seluruh firqah (kelompok-kelompok) itu, sekalipun kau gigit akar-akar pohon hingga kematian merenggutmu kamu harus tetap seperti itu” (HR Bukhari 6557, HR Muslim 3434)

Berkata Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari XIII/36: “Yakni dari kaum kita, berbahasa seperti kita dan beragama dengan agama kita. Ini mengisyaratkan bahwa mereka adalah bangsa Arab”.

Ulama banga Arab tersebut tentu mengerti bahasa Arab namun mereka tidak memperhatikan bahwa Al-Qur’an dan As-Sunnah diturunkan Allah dan disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam bahasa Arab yang fushahah dan balaghah yang bermutu tinggi, pengertiannya luas dan dalam, mengandung hukum yang harus diterima. Yang perlu diketahui dan dikuasainya bukan hanya arti bahasa tetapi juga ilmu-ilmu yang bersangkutan dengan bahasa arab itu seumpama nahwu, sharaf, balaghah (ma’ani, bayan dan badi’).
Akibat kesalahpahaman mereka dalam memahami Al Qur'an dan As Sunnah , secara tidak disadari oleh mereka atau secara tidak langsung dapat memfitnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Contoh hadits yang disalahpahami oleh mereka.

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Amru an-Naqid keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Hasyim bin al-Qasim telah menceritakan kepada kami Syaiban dari Hilal bin Abi Humaid dari Urwah bin az-Zubair dari Aisyah radhiyallahu’anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda dalam sakitnya yang menyebabkan beliau tidak bisa bangkit lagi, ‘Allah melaknat kaum Yahudi dan Nashrani yang menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid’ (HR Muslim 823)

Mereka secara tidak disadari atau secara tidak langsung dapat memfitnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam disebabkan mereka berpemahaman bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah melarang kuburan sebagai masjid dalam arti melarang kuburan sebagai tempat beribadah seperti sholat atau membaca Al Qur'an

Kesalahpahaman mereka diakibatkan mereka memahami Al Qur'an dan As Sunnah dengan akal pikiran masing-masing secara otodidak (shahafi) bersandarkan muthola'ah (menelaah kitab) dan umumnya dengan metodologi "terjemahkan saja" yakni memahami dengan makna dzahir/harfiah/tertulis/tersurat dari sudut arti bahasa (lughot) dan istilah (terminologi) saja.

Makna dzahir atau makna harfiah atau makna dari apa yang tertulis (tersurat) atau makna literal atau makna leksikal yakni makna dasar yang terdapat pada setiap kata atau kalimat atau makna kata secara lepas, tanpa kaitan dengan kata yang lain dalam sebuah susunan kata atau kalimat.

Mereka tidak memperhatikan makna bathin atau makna dibalik yang tertulis (tersirat) atau makna gramatikal yakni makna turunan atau makna kata yang terbentuk karena penggunaan kata tersebut dalam kaitannya dengan tata bahasa. Makna gramatikal muncul karena kaidah tata bahasa, seperti afiksasi, pembentukan kata majemuk, penggunaan atau susunan kata dalam kalimat dan lain lain. Contohnya makna majaz (kiasan)

Hadits tersebut menguraikan tentang laknat Allah ta’ala terhadap kaum Yahudi dan Nashrani maka kata masjid tidak dapat dimaknai sebagai tempat sholat bagi kaum muslim namun kata masjid dikembalikan kepada asal katanya yakni sajada yang artinya tempat sujud.

Jadi kalimat larangan “jangan menjadikan kuburan sebagai masjid” adalah makna majaz (kiasan) artinya adalah “larangan menyembah kuburan"

Jikalau larangan “jangan menjadikan kuburan sebagai masjid” dipahami dengan makna dzahir , tentu mustahil seukuran kuburan dijadikan masjid.

Jikalau dipahami sebagai larangan "jangan menjadikan kuburan sebagai tempat beribadah"

Tidak masalah kalau di sisi kuburan beribadah kepada Allah Azza wa Jalla. Yang terlarang adalah beribadah kepada kuburan alias menyembah kuburan.

Mereka melarang sholat atau melarang membaca Al Qur’an di sisi kuburan maka mereka secara tidak disadari atau secara tidak langsung telah melarang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang melaksanakan sholat jenazah di sisi kuburan dan tentunya membaca Al Fatihah yang termasuk bacaan Al Qur’an.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad telah mengabarkan kepada kami Abu Mu’awiyah dari Abu Ishaq Asy-Syaibaniy dari Asy-Sya’biy dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata: Bila ada orang yang meninggal dunia biasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melayatnya. Suatu hari ada seorang yang meninggal dunia di malam hari kemudian dikuburkan malam itu juga. Keesokan paginya orang-orang memberitahu Beliau. Maka Beliau bersabda: Mengapa kalian tidak memberi tahu aku? Mereka menjawab: Kejadiannya malam hari, kami khawatir memberatkan anda. Maka kemudian Beliau mendatangi kuburan orang itu lalu mengerjakan shalat untuknya. (HR Bukhari 1170)

Telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Bukair telah menceritakan kepada kami Za’idah telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq Asy-Syaibaniy dari ‘Amir dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata; Nabi Shallallahu’alaihiwasallam mendatangi kuburan. Mereka berkata; Ini dikebumikan kemarin. Berkata, Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma: Maka Beliau membariskan kami di belakang Beliau kemudian mengerjakan shalat untuknya. (HR Bukhari 1241)

Begitupula diriwayatkan Umar ra mengetahui bahwa Anas ra sholat di atas kuburan sehingga beliau menginjak kuburan. Lalu Umar berkata, “Al-qabr, al-qabr! (Kuburan, Kuburan!)” maka Anas ra melangkah (menghindari menginjak dalam batas kuburan), lalu meneruskan shalatnya. [Lihat Fathul Bari libni Hajar I:524, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379].

Dalam kitab al-Muwatha’, Imam Malik ra menyebutkan sebuah riwayat tentang perbedaan pendapat para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam mengenai tempat penguburan jasad Nabi Shallallahu alaihi wasallam.

Sebagian sahabat berkata, “Beliau kita kubur di sisi mimbar saja”. Para sahabat lainnya berkata, “dikubur di Baqi’ saja”. Lalu Sayyidinaa Abu Bakar ash-Shiddiq r.a datang dan berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Seorang nabi tidaklah dikubur kecuali di tempatnya meninggal dunia”.

Lalu digalilah kuburan di tempat beliau meninggal dunia itu”.

Tentulah para Sahabat Nabi tidak akan mengusulkan agar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dimakamkan di sisi mimbar kalau mengetahui terlarang sholat di dekat atau di area perkuburan. Posisi mimbar tentu merupakan bagian dari masjid. Namun, dalam riwayat di atas, tidak ada seorang pun dari Sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam yang mengingkari usulan itu.

Hanya saja usulan itu tidak diambil oleh Sayyidinaa Abu Bakar r.a karena mengikuti perintah Nabi shallallahu alaihi wasallam agar dikubur ditempat beliau meninggal dunia. Maka, beliau pun dikubur di kamar Sayyidah ‘Aisyah r.a yang melekat pada masjid yang digunakan sebagai tempat shalat oleh orang-orang muslim. Kondisi ini sama dengan kondisi kuburan-kuburan para wali dan orang-orang shaleh yang ada di dalam masjid-masjid pada zaman ini.

Ummul mu’minin ‘Aisyah berkata, “Saya masuk ke dalam rumahku di mana Rasulullah dikubur di dalamnya dan saya melepas baju saya. Saya berkata mereka berdua adalah suami dan ayahku. Ketika Umar dikubur bersama mereka, saya tidak masuk ke rumah kecuali dengan busana tertutup rapat karena malu kepada ‘Umar”. (HR Ahmad).

Begitupula dengan dengan dikuburkannya Sayyidinaa Abu Bakar Radiyallahu'anhu dan Sayyidinaa Umar Radiyallahu'anhu di tempat yang sama dengan Nabi Shallallahu alaihi wasallam yaitu kamar Sayyidah ‘Aisyah Radiyallahu'anha yang masih dia gunakan untuk tinggal, duduk, lalu lalang dan melakukan shalat-shalat fardhu dan sunnah serta membaca Al Qur'an. Dengan demikian, hukum kebolehan ini merupakan ijmak para Sahabat radhiyallahu’anhum.

Mereka tidak merujuk kepada pendapat para ulama yang sholeh yang mengikuti salah satu dari Imam Mazhab yang empat.

Mari kita simak perkataan para ulama yang sholeh yang mengikuti Imam Mazhab yang empat contohnya Imam Nawawi berkata

“Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata : “disunnahkan agar membaca sesuatu dari al-Qur’an disisi quburnya, dan apabila mereka mengkhatamkan al-Qur’an disisi quburnya maka itu bagus” (Riyadlush Shalihin [1/295] lil-Imam an-Nawawi ; Dalilul Falihin [6/426] li-Imam Ibnu ‘Allan ; al-Hawi al-Kabir fiy Fiqh Madzhab asy-Syafi’i (Syarah Mukhtashar Muzanni) [3/26] lil-Imam al-Mawardi dan lainnya.

Imam Syafi’i mengatakan “aku menyukai sendainya dibacakan al-Qur’an disamping qubur dan dibacakan do’a untuk mayyit” ( Ma’rifatus Sunani wal Atsar [7743] lil-Imam al-Muhaddits al-Baihaqi.)

Imam Ahmad semula mengingkarinya karena atsar tentang hal itu tidak sampai kepadanya namun kemudian Imam Ahmad ruju’

al-Hafidh (Ibnu Hajar) berkata setelah mentakhrijnya dengan sanadnya kepada al-Baihaqi, ia berkata ; telah menceritakan kepada kami Abu Abdillah al-Hafidz, ......... : kami shalat jenazah bersama bersama Ahmad, maka tatkala telah selesai pemakamannya duduklah seorang laki-laki buta yang membaca al-Qur’an disamping qubur, maka Ahmad berkata kepadanya ; “hei apa ini, sungguh membaca al-Qur’an disamping qubur adalah bid’ah”. Maka tatkala kami telah keluar, berkata Ibnu Qudamah kepada Ahmad : “wahai Abu Abdillah, apa komentarmu tentang Mubasysyir bin Isma’il ? “, Ahmad berkata : tsiqah, Ibnu Qudamah berkata : engkau menulis sesuatu darinya ?”, Ahmad berkata : Iya. Ibnu Qudamah berkata : sesungguhnya ia telah menceritakan kepadaku dari Abdur Rahman bin al-Lajlaj dari ayahnya, ia berpesan apabila dimakamkan agar dibacakan pembukaan al-Baqarah dan mengkhatamkannya disamping kuburnya, dan ia berkata : aku mendengar Ibnu ‘Umar berwasiat dengan hal itu, Maka Ahmad berkata kepada laki-laki itu “lanjutkanlah bacaaanmu”.

Abdul Haq berkata : telah diriwayatkan bahwa Abdullah bin ‘Umar –radliyallahu ‘anhumaa- memerintahkan agar dibacakan surah al-Baqarah disisi quburnya dan diantara yang meriwayatkan demikian adalah al-Mu’alla bin Abdurrahman.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda , "Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, sesungguhnya syetan itu akan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al Baqarah.” (HR Muslim)

Mereka mengatakan bahwa "Di sini Nabi melarang rumah dijadikan kuburan dan menyuruh membaca Al Baqarah agar syetan keluar. Terkandung faidah di dalamnya bahwa kuburan itu tidak boleh membaca Al Qur'an karena bila boleh membaca Al Qur'an di kuburan niscaya Nabi tidak akan menyamakan rumah dengan kuburan. Oleh karena itu untuk membedakannya Nabi menyuruh membaca Qur'an di rumah agar rumah kita tidak seperti kuburan. Jadi kesimpulannya: bid'ah baca Al Qur'an di kuburan"

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda "Jadikanlah shalat kalian di rumah kalian dan jangan jadikan rumah tersebut seperti kuburan” (HR. Bukhari no. 432 dan Muslim no. 777).

Sabda Rasulullah yang artinya “Jangan jadikan rumah kalian seperti kuburan“ adalah kalimat majaz (kiasan) yang maksudnya adalah “jangan rumah kalian sepi dari sholat maupun membaca Al Qur’an” . Jadi kedua hadits tersebut tidak ada kaitannya dengan kuburan dalam makna dzahir namun kuburan dalam makna majaz yang artinya sepi.

Mereka pada akhirnya mengingkari kitab Ar Ruh yang ditulis oleh ulama Ibnu Qoyyim Al Jauziah , murid dari ulama Ibnu Taimiyyah , para ulama panutan mereka sendiri. Silahkan baca kutipan Ar Ruh pada http://mutiarazuhud.files.wordpress..../12/ar-ruh.jpg yang menjelaskan bahwa dahulu kala memang ada kebiasaan sedekah bacaan Al Qur’an kepada ahli kubur.

Marilah kita simak pendapat para ulama terdahulu.

Imam Baidhowi dalam kitab Syarh Az-Zarqani atas Muwaththo’ imam Malik berkata :
Imam Baidhawi berkata : “ Ketika konon orang-orang Yahudi bersujud pada kuburan para nabi, karena pengagungan terhadap para nabi. Dan menjadikannya arah qiblat serta mereka pun sholat menghadap kuburan tsb, maka mereka telah menjadikannya sebagai sesembahan, maka Allah melaknat mereka dan melarang umat muslim mencontohnya.

Adapun orang yang menjadikan masjid di sisi orang shalih atau sholat di perkuburannya dengan tujuan menghadirkan ruhnya dan mendapatkan bekas dari ibadahnya, bukan karena pengagungan dan arah qiblat, maka tidaklah mengapa. Tidakkah engkau melihat tempat pendaman nabi Ismail berada di dalam masjidil haram kemudian hathim ?? Kemudian masjidl haram tersebut merupaan tempat sholat yang sangat dianjurkan untuk melakukan sholat di dalamnya.

Pelarangan sholat di perkuburan adalah tertentu pada kuburan yang terbongkar tanahnya karena terdapat najis “
(Kitab syarh Az-Zarqani bab Fadhailul Madinah)
Imam Baidhawi membolehkan menjadikan masjid di samping makam orang sholeh atau sholat dipemakaman orang sholeh dengan tujuan meminta kepada Allah agar menghadirkan ruh orang sholeh tersebut dan dengan tujuan mendapatkan bekas dari ibadahnya, bukan dengan tujuan pengagungan terhadap makam tersebut atau bukan dengan tujuan menjadikannya arah qiblat.
Dan beliau menghukumi makruh sholat di pemakaman yang ada bongkaran kuburnya karena dikhawatirkan ada najis, jika tidak ada bongkarannya maka hukumnya boleh, tidak makruh.
Menurut imam Baidhawi larangan yang bersifat makruh tanzih tersebut, bukan karena kaitannya dengan kuburan, namun kaitannya dengan masalah kenajisan tempatnya. Beliau memperjelasnya dengan kalimat :

Huruf lam dalam kalimat tersebut berfaedah lit ta’lil (menjelasakan sebab). Arti kalimat itu adalah karena pada pekuburan yang tergali terdapat najis. Sehingga menyebabkan sholatnya tidak sah, apabila tidak tergali dan tidak ada najis, maka sholatnya sah dan tidak makruh.

Oleh karenanya imam Ibnu Abdil Barr, menolak dan menyalahkan pendapat kelompok orang yang berdalil engan hadits pelaknatan di atas untuk melarang atau memakruhkan sholat di pekuburan atau menghadap pekuburan. Beliau berkata :

“Sebagian kelompok menganggap hadits tersebut menunjukkan atas kemakruhan sholat di maqbarah / pekuburan atau mengarah ke maqbarah, maka hadits itu bukanlah hujjah atas hal ini “.

Karena hadits di atas bukan menyinggung masalah sholat dipekuburan. Namun tentang orang yang menjadikan kuburan sebagai tempat peribadatan alias menyembah kuburan.

Imam Az-Zarqani dalam kitab Syarh Muwaththo’nya berkata ketika mengomentari makna MASAJID dalam hadits Qootallahu berikut :

“ (Mereka menjadikan kuburan para nabi sebagai masjid / tempat sujud) yang dimaksud adalah mereka menjadikan kuburan para nabi sebagai arah qiblat mereka dengan aqidah mereka yang bathil. Dan menjadikan kuburan para nabi sebagai masjid melazimkan untuk menjadikan masjid (tempat sujud) di atas kuburan seperti sebaliknya. Dalam hadits di dahulukan orang Yahudi karena mereka lah yang memulai menjadikan kuburan sbgai masjid kemudian diikuti oleh orang nashoro, maka orang yahudi lebih sesat “.

Kemudian setelah itu beliau menukil ucapan imam Baidhawi tersebut. Dan setelahnya beliau berkomentar :

“ Akan tetapi Hadits riwayat imam Bukhari dan Muslim tersebut menunjukkan KEMAKRUHAN membangun masjid di atas kuburan secara muthlaq, yaitu kuburan kaum muslimin karena ditakutkan penyembahan pada orang yang dikubur, dengan bukti hadits “ Ya Allah, jangan jadikan kuburanku sesembahan yang disembah. Maka ucapan imam Baidhawi tersebut diarahkan jika tidak khawatir terjadinya penyembahan pada orang yang disembah “.

As-Syaikh As-Sanadi dalam kitabnya Hasyiah As- Sanadi berkomentar tentang maksud hadits di atas sebagai berikut :

“ Yang dimaksud hadits tersebut adalah bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wasallam memperingatkan umatnya agar tidak berbuat dengan makam beliau sebagaimana orang Yahudi dan Nashoro berbuat terhadap makam para nabi mereka berupa menjadikan kuburan sebagai tempat sujud. Baik sujud pada kuburan dengan rasa ta’dzhim atau menjadikannya sebagai qiblat yang ia menghadap padanya diwaktu sembahyang atau semisalnya. Ada yang berpendapat bahwa seamata-mata menjadikan masjid di samping makam orang sholeh dengan tujuan mendapat keberkahan, maka tidaklah dilarang “ (Hasyiah As-Sanadi juz 2 hal/ 41)

Dari komentar para ulama di atas dapat kita tangkap bahwa illat, manath, motif atau sebab pelaknatan Nabi Shallallahu alaihi wasallam kepada orang yahudi dan nashoro adalah wujudnya penyembahan pada kuburan, mereka menjadikan kuburan sebagai tempat sujud, mereka menjadikan kuburan sebagai sesembahan sehingga ini merupakan bentuk kesyirikan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Adapun umat Islam, maka tak pernah sekalipun ada sejarahnya umat Islam menyembah kubur. Umat Islam membina kubur hanya untuk memuliakan ahlul qubur (terlebih kubur orang yang sholeh), menjaga kubur daripada hilang terhapus zaman, dan memudahkan para peziarah untuk berziarah, dalam menemukan kubur di tengah-tengah ribuan kubur lainnya, juga sebagai tempat berteduh para peziarah agar dapat mengenang dan menghayati dengan tenang orang yang ada di dalam kubur beserta amal serta segala jasa dan kebaikannya.

Sedangkan kaum muslim yang berdoa kepada Allah ta’ala dengan bertawassul pada ahli kubur yang dekat dengan Allah ta’ala, mereka berdoa dan beribadah kepada Allah bukan meminta kepada ahli kubur atau menyembah kuburan.

Kaum muslim yang berdoa kepada Allah ta’ala dengan bertawassul pada ahli kubur yang dekat dengan Allah ta’ala, mereka sangat paham dan yakin bahwa yang mengabulkan doa mereka hanyalah Allah Azza wa Jalla bukan ahli kubur yang mereka tawassulkan.
======================================

perlu dipahami wahai saudaraku.....memahami agama itu melalui ulama-ulama yang telah teruji keshalihan dan keilmuannya
mereka adalah ulama-ulama mazhab 4.
wahhabi adalah firqah/mazhab yang lahir pada sekitar abad ke 18, mereka membawa perbedaan-perbedaan yang mendasar dengan mazhab 4 bahkan menganggap bathil kitab2 fiqih mazhab yang 4

ingat kata imam ibnu sirrin ""Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikan dari siapa kalian mengambil agama kalian."

wallahu'alam bishowab
Quote:Original Posted By bingungkabeh



Ternyata dinegara yg katanya Wahabi, rakyatnya hidupnya paling enak.
Mereka disubsidi, pendidikan gratis, kesehatan gratis, ke RS gratis.
Bahkan org yg membenci wahabi alias syiah juga dilayani tanpa pandang bulu.

Kenapa ente yg ribut, wong rakyatnya senang kok disana.

Kerajaan Arab Saudi adalah sebuah negara Arab yang terletak di Jazirah Arab. Beriklim gurun dan wilayahnya sebagian besar terdiri atas gurun pasir. Sebuah negeri yang diyakini tak satupun negara di dunia ini yang tidak mengenalnya. Baik itu negara sekuler terlebih lagi negara sesama muslim.

Banyak sekali keunikan atau kelebihan yang dimiliki negara dimana Islam berasal ini. Keunikan atau kelebihan yang tentunya akan sangat membahagiakan bagi warganya. Berikut beberapa fakta tentang keunikan atau kelebihan Arab Saudi yang tidak ditemui di negara lain.

1. Tidak ada pemilu untuk memilih kepala negara

.......rtemu dengan ibu-ibu yang lampu sein-nya ke kanan dan motornya justru belok ke kiri.

Wallahu a’lam.


Dalam Sunan Ibn Majah, Shahih Ibn Khuzaimah, dan Mustadrak al-Hakim diriwayatkan dari Abu Umamah bahwa Nabi SAW bersabda, “Tak ada tempat di muka bumi yang tidak diinjak dan di duduki Dajjal, kecuali Mekkah dan Madinah. Ia mendatangi setiap celah kedua kota itu, namun malaikat selalu menemuinya dengan pedang. Akhirnya ia singgah di Dharib Ahmar, di persimpangan tanah kosong yang tandus. Lalu Madinah diguncang tiga kali sehingga semua orang munafik, baik laki-laki maupun perempuan, keluar menuju Dajjal[.Dengan demikian, yang jelek keluar dari Madinah sebagaimana kipas tungku api membersihkan kotoran besi. Hari itu disebut pembersihan.” Ada yang bertanya, “Dimana orang Arab saat itu?” Jawab beliau, “Pada saat itu mereka sedikit
Jangan lupa baca password sebelum menjalankan ritual nguing nguing duarr emoticon-Angkat Beer
Quote:Original Posted By rickyrickardo


tau gak kalo nabi dan sahabatpun sholat di kuburan????

Jika anda mencari kebenaran bukan pembenaran, maka Buka mata buka hati baca baik-baik perkata hingga selesai....

Salah satu pokok permasalahan dalam dunia Islam adalah orang-orang yang kembali kepada Al Qur'an dan As Sunnah dengan akal pikiran masing-masing secara otodidak (shahafi) bersandarkan muthola'ah (menelaah kitab) dan umumnya dengan metodologi "terjemahkan saja" yakni memahami dengan makna dzahir/harfiah/tertulis/tersurat dari sudut arti bahasa (lughot) dan istilah (terminologi) saja.

Rasulullah SAW telah mencirikan mereka yang menyebabkan perselisihan karena perbedaan pemahaman yakni ulama bangsa Arab yang hanya berkemampuan berbahasa Arab saja atau “terjemahkan saja”, sebagaimana dalam sabdanya yang artinya

“Mereka adalah seperti kulit kita ini, juga berbicara dengan bahasa kita (bahasa Arab)“. Saya bertanya ‘Lantas apa yang anda perintahkan kepada kami ketika kami menemui hari-hari seperti itu?” Nabi menjawab; “Hendaklah kamu selalu bersama jamaah muslimin dan imam mereka!” Aku bertanya; “kalau tidak ada jamaah muslimin dan imam bagaimana?” Nabi menjawab; “hendaklah kau jauhi seluruh firqah (kelompok-kelompok) itu, sekalipun kau gigit akar-akar pohon hingga kematian merenggutmu kamu harus tetap seperti itu” (HR Bukhari 6557, HR Muslim 3434)

Berkata Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari XIII/36: “Yakni dari kaum kita, berbahasa seperti kita dan beragama dengan agama kita. Ini mengisyaratkan bahwa mereka adalah bangsa Arab”.

Ulama banga Arab tersebut tentu mengerti bahasa Arab namun mereka tidak memperhatikan bahwa Al-Qur’an dan As-Sunnah diturunkan Allah dan disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam bahasa Arab yang fushahah dan balaghah yang bermutu tinggi, pengertiannya luas dan dalam, mengandung hukum yang harus diterima. Yang perlu diketahui dan dikuasainya bukan hanya arti bahasa tetapi juga ilmu-ilmu yang bersangkutan dengan bahasa arab itu seumpama nahwu, sharaf, balaghah (ma’ani, bayan dan badi’).
Akibat kesalahpahaman mereka dalam memahami Al Qur'an dan As Sunnah , secara tidak disadari oleh mereka atau secara tidak langsung dapat memfitnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Contoh hadits yang disalahpahami oleh mereka.

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Amru an-Naqid keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Hasyim bin al-Qasim telah menceritakan kepada kami Syaiban dari Hilal bin Abi Humaid dari Urwah bin az-Zubair dari Aisyah radhiyallahu’anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda dalam sakitnya yang menyebabkan beliau tidak bisa bangkit lagi, ‘Allah melaknat kaum Yahudi dan Nashrani yang menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid’ (HR Muslim 823)

Mereka secara tidak disadari atau secara tidak langsung dapat memfitnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam disebabkan mereka berpemahaman bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah melarang kuburan sebagai masjid dalam arti melarang kuburan sebagai tempat beribadah seperti sholat atau membaca Al Qur'an

Kesalahpahaman mereka diakibatkan mereka memahami Al Qur'an dan As Sunnah dengan akal pikiran masing-masing secara otodidak (shahafi) bersandarkan muthola'ah (menelaah kitab) dan umumnya dengan metodologi "terjemahkan saja" yakni memahami dengan makna dzahir/harfiah/tertulis/tersurat dari sudut arti bahasa (lughot) dan istilah (terminologi) saja.

Makna dzahir atau makna harfiah atau makna dari apa yang tertulis (tersurat) atau makna literal atau makna leksikal yakni makna dasar yang terdapat pada setiap kata atau kalimat atau makna kata secara lepas, tanpa kaitan dengan kata yang lain dalam sebuah susunan kata atau kalimat.

Mereka tidak memperhatikan makna bathin atau makna dibalik yang tertulis (tersirat) atau makna gramatikal yakni makna turunan atau makna kata yang terbentuk karena penggunaan kata tersebut dalam kaitannya dengan tata bahasa. Makna gramatikal muncul karena kaidah tata bahasa, seperti afiksasi, pembentukan kata majemuk, penggunaan atau susunan kata dalam kalimat dan lain lain. Contohnya makna majaz (kiasan)

Hadits tersebut menguraikan tentang laknat Allah ta’ala terhadap kaum Yahudi dan Nashrani maka kata masjid tidak dapat dimaknai sebagai tempat sholat bagi kaum muslim namun kata masjid dikembalikan kepada asal katanya yakni sajada yang artinya tempat sujud.

Jadi kalimat larangan “jangan menjadikan kuburan sebagai masjid” adalah makna majaz (kiasan) artinya adalah “larangan menyembah kuburan"

Jikalau larangan “jangan menjadikan kuburan sebagai masjid” dipahami dengan makna dzahir , tentu mustahil seukuran kuburan dijadikan masjid.

Jikalau dipahami sebagai larangan "jangan menjadikan kuburan sebagai tempat beribadah"

Tidak masalah kalau di sisi kuburan beribadah kepada Allah Azza wa Jalla. Yang terlarang adalah beribadah kepada kuburan alias menyembah kuburan.

Mereka melarang sholat atau melarang membaca Al Qur’an di sisi kuburan maka mereka secara tidak disadari atau secara tidak langsung telah melarang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang melaksanakan sholat jenazah di sisi kuburan dan tentunya membaca Al Fatihah yang termasuk bacaan Al Qur’an.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad telah mengabarkan kepada kami Abu Mu’awiyah dari Abu Ishaq Asy-Syaibaniy dari Asy-Sya’biy dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata: Bila ada orang yang meninggal dunia biasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melayatnya. Suatu hari ada seorang yang meninggal dunia di malam hari kemudian dikuburkan malam itu juga. Keesokan paginya orang-orang memberitahu Beliau. Maka Beliau bersabda: Mengapa kalian tidak memberi tahu aku? Mereka menjawab: Kejadiannya malam hari, kami khawatir memberatkan anda. Maka kemudian Beliau mendatangi kuburan orang itu lalu mengerjakan shalat untuknya. (HR Bukhari 1170)

Telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Bukair telah menceritakan kepada kami Za’idah telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq Asy-Syaibaniy dari ‘Amir dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata; Nabi Shallallahu’alaihiwasallam mendatangi kuburan. Mereka berkata; Ini dikebumikan kemarin. Berkata, Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma: Maka Beliau membariskan kami di belakang Beliau kemudian mengerjakan shalat untuknya. (HR Bukhari 1241)

Begitupula diriwayatkan Umar ra mengetahui bahwa Anas ra sholat di atas kuburan sehingga beliau menginjak kuburan. Lalu Umar berkata, “Al-qabr, al-qabr! (Kuburan, Kuburan!)” maka Anas ra melangkah (menghindari menginjak dalam batas kuburan), lalu meneruskan shalatnya. [Lihat Fathul Bari libni Hajar I:524, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379].

Dalam kitab al-Muwatha’, Imam Malik ra menyebutkan sebuah riwayat tentang perbedaan pendapat para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam mengenai tempat penguburan jasad Nabi Shallallahu alaihi wasallam.

Sebagian sahabat berkata, “Beliau kita kubur di sisi mimbar saja”. Para sahabat lainnya berkata, “dikubur di Baqi’ saja”. Lalu Sayyidinaa Abu Bakar ash-Shiddiq r.a datang dan berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Seorang nabi tidaklah dikubur kecuali di tempatnya meninggal dunia”.

Lalu digalilah kuburan di tempat beliau meninggal dunia itu”.

Tentulah para Sahabat Nabi tidak akan mengusulkan agar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dimakamkan di sisi mimbar kalau mengetahui terlarang sholat di dekat atau di area perkuburan. Posisi mimbar tentu merupakan bagian dari masjid. Namun, dalam riwayat di atas, tidak ada seorang pun dari Sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam yang mengingkari usulan itu.

Hanya saja usulan itu tidak diambil oleh Sayyidinaa Abu Bakar r.a karena mengikuti perintah Nabi shallallahu alaihi wasallam agar dikubur ditempat beliau meninggal dunia. Maka, beliau pun dikubur di kamar Sayyidah ‘Aisyah r.a yang melekat pada masjid yang digunakan sebagai tempat shalat oleh orang-orang muslim. Kondisi ini sama dengan kondisi kuburan-kuburan para wali dan orang-orang shaleh yang ada di dalam masjid-masjid pada zaman ini.

Ummul mu’minin ‘Aisyah berkata, “Saya masuk ke dalam rumahku di mana Rasulullah dikubur di dalamnya dan saya melepas baju saya. Saya berkata mereka berdua adalah suami dan ayahku. Ketika Umar dikubur bersama mereka, saya tidak masuk ke rumah kecuali dengan busana tertutup rapat karena malu kepada ‘Umar”. (HR Ahmad).

Begitupula dengan dengan dikuburkannya Sayyidinaa Abu Bakar Radiyallahu'anhu dan Sayyidinaa Umar Radiyallahu'anhu di tempat yang sama dengan Nabi Shallallahu alaihi wasallam yaitu kamar Sayyidah ‘Aisyah Radiyallahu'anha yang masih dia gunakan untuk tinggal, duduk, lalu lalang dan melakukan shalat-shalat fardhu dan sunnah serta membaca Al Qur'an. Dengan demikian, hukum kebolehan ini merupakan ijmak para Sahabat radhiyallahu’anhum.

Mereka tidak merujuk kepada pendapat para ulama yang sholeh yang mengikuti salah satu dari Imam Mazhab yang empat.

Mari kita simak perkataan para ulama yang sholeh yang mengikuti Imam Mazhab yang empat contohnya Imam Nawawi berkata

“Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata : “disunnahkan agar membaca sesuatu dari al-Qur’an disisi quburnya, dan apabila mereka mengkhatamkan al-Qur’an disisi quburnya maka itu bagus” (Riyadlush Shalihin [1/295] lil-Imam an-Nawawi ; Dalilul Falihin [6/426] li-Imam Ibnu ‘Allan ; al-Hawi al-Kabir fiy Fiqh Madzhab asy-Syafi’i (Syarah Mukhtashar Muzanni) [3/26] lil-Imam al-Mawardi dan lainnya.

Imam Syafi’i mengatakan “aku menyukai sendainya dibacakan al-Qur’an disamping qubur dan dibacakan do’a untuk mayyit” ( Ma’rifatus Sunani wal Atsar [7743] lil-Imam al-Muhaddits al-Baihaqi.)

Imam Ahmad semula mengingkarinya karena atsar tentang hal itu tidak sampai kepadanya namun kemudian Imam Ahmad ruju’

al-Hafidh (Ibnu Hajar) berkata setelah mentakhrijnya dengan sanadnya kepada al-Baihaqi, ia berkata ; telah menceritakan kepada kami Abu Abdillah al-Hafidz, ......... : kami shalat jenazah bersama bersama Ahmad, maka tatkala telah selesai pemakamannya duduklah seorang laki-laki buta yang membaca al-Qur’an disamping qubur, maka Ahmad berkata kepadanya ; “hei apa ini, sungguh membaca al-Qur’an disamping qubur adalah bid’ah”. Maka tatkala kami telah keluar, berkata Ibnu Qudamah kepada Ahmad : “wahai Abu Abdillah, apa komentarmu tentang Mubasysyir bin Isma’il ? “, Ahmad berkata : tsiqah, Ibnu Qudamah berkata : engkau menulis sesuatu darinya ?”, Ahmad berkata : Iya. Ibnu Qudamah berkata : sesungguhnya ia telah menceritakan kepadaku dari Abdur Rahman bin al-Lajlaj dari ayahnya, ia berpesan apabila dimakamkan agar dibacakan pembukaan al-Baqarah dan mengkhatamkannya disamping kuburnya, dan ia berkata : aku mendengar Ibnu ‘Umar berwasiat dengan hal itu, Maka Ahmad berkata kepada laki-laki itu “lanjutkanlah bacaaanmu”.

Abdul Haq berkata : telah diriwayatkan bahwa Abdullah bin ‘Umar –radliyallahu ‘anhumaa- memerintahkan agar dibacakan surah al-Baqarah disisi quburnya dan diantara yang meriwayatkan demikian adalah al-Mu’alla bin Abdurrahman.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda , "Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, sesungguhnya syetan itu akan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al Baqarah.” (HR Muslim)

Mereka mengatakan bahwa "Di sini Nabi melarang rumah dijadikan kuburan dan menyuruh membaca Al Baqarah agar syetan keluar. Terkandung faidah di dalamnya bahwa kuburan itu tidak boleh membaca Al Qur'an karena bila boleh membaca Al Qur'an di kuburan niscaya Nabi tidak akan menyamakan rumah dengan kuburan. Oleh karena itu untuk membedakannya Nabi menyuruh membaca Qur'an di rumah agar rumah kita tidak seperti kuburan. Jadi kesimpulannya: bid'ah baca Al Qur'an di kuburan"

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda "Jadikanlah shalat kalian di rumah kalian dan jangan jadikan rumah tersebut seperti kuburan” (HR. Bukhari no. 432 dan Muslim no. 777).

Sabda Rasulullah yang artinya “Jangan jadikan rumah kalian seperti kuburan“ adalah kalimat majaz (kiasan) yang maksudnya adalah “jangan rumah kalian sepi dari sholat maupun membaca Al Qur’an” . Jadi kedua hadits tersebut tidak ada kaitannya dengan kuburan dalam makna dzahir namun kuburan dalam makna majaz yang artinya sepi.

Mereka pada akhirnya mengingkari kitab Ar Ruh yang ditulis oleh ulama Ibnu Qoyyim Al Jauziah , murid dari ulama Ibnu Taimiyyah , para ulama panutan mereka sendiri. Silahkan baca kutipan Ar Ruh pada http://mutiarazuhud.files.wordpress..../12/ar-ruh.jpg yang menjelaskan bahwa dahulu kala memang ada kebiasaan sedekah bacaan Al Qur’an kepada ahli kubur.

Marilah kita simak pendapat para ulama terdahulu.

Imam Baidhowi dalam kitab Syarh Az-Zarqani atas Muwaththo’ imam Malik berkata :
Imam Baidhawi berkata : “ Ketika konon orang-orang Yahudi bersujud pada kuburan para nabi, karena pengagungan terhadap para nabi. Dan menjadikannya arah qiblat serta mereka pun sholat menghadap kuburan tsb, maka mereka telah menjadikannya sebagai sesembahan, maka Allah melaknat mereka dan melarang umat muslim mencontohnya.

Adapun orang yang menjadikan masjid di sisi orang shalih atau sholat di perkuburannya dengan tujuan menghadirkan ruhnya dan mendapatkan bekas dari ibadahnya, bukan karena pengagungan dan arah qiblat, maka tidaklah mengapa. Tidakkah engkau melihat tempat pendaman nabi Ismail berada di dalam masjidil haram kemudian hathim ?? Kemudian masjidl haram tersebut merupaan tempat sholat yang sangat dianjurkan untuk melakukan sholat di dalamnya.

Pelarangan sholat di perkuburan adalah tertentu pada kuburan yang terbongkar tanahnya karena terdapat najis “
(Kitab syarh Az-Zarqani bab Fadhailul Madinah)
Imam Baidhawi membolehkan menjadikan masjid di samping makam orang sholeh atau sholat dipemakaman orang sholeh dengan tujuan meminta kepada Allah agar menghadirkan ruh orang sholeh tersebut dan dengan tujuan mendapatkan bekas dari ibadahnya, bukan dengan tujuan pengagungan terhadap makam tersebut atau bukan dengan tujuan menjadikannya arah qiblat.
Dan beliau menghukumi makruh sholat di pemakaman yang ada bongkaran kuburnya karena dikhawatirkan ada najis, jika tidak ada bongkarannya maka hukumnya boleh, tidak makruh.
Menurut imam Baidhawi larangan yang bersifat makruh tanzih tersebut, bukan karena kaitannya dengan kuburan, namun kaitannya dengan masalah kenajisan tempatnya. Beliau memperjelasnya dengan kalimat :

Huruf lam dalam kalimat tersebut berfaedah lit ta’lil (menjelasakan sebab). Arti kalimat itu adalah karena pada pekuburan yang tergali terdapat najis. Sehingga menyebabkan sholatnya tidak sah, apabila tidak tergali dan tidak ada najis, maka sholatnya sah dan tidak makruh.

Oleh karenanya imam Ibnu Abdil Barr, menolak dan menyalahkan pendapat kelompok orang yang berdalil engan hadits pelaknatan di atas untuk melarang atau memakruhkan sholat di pekuburan atau menghadap pekuburan. Beliau berkata :

“Sebagian kelompok menganggap hadits tersebut menunjukkan atas kemakruhan sholat di maqbarah / pekuburan atau mengarah ke maqbarah, maka hadits itu bukanlah hujjah atas hal ini “.

Karena hadits di atas bukan menyinggung masalah sholat dipekuburan. Namun tentang orang yang menjadikan kuburan sebagai tempat peribadatan alias menyembah kuburan.

Imam Az-Zarqani dalam kitab Syarh Muwaththo’nya berkata ketika mengomentari makna MASAJID dalam hadits Qootallahu berikut :

“ (Mereka menjadikan kuburan para nabi sebagai masjid / tempat sujud) yang dimaksud adalah mereka menjadikan kuburan para nabi sebagai arah qiblat mereka dengan aqidah mereka yang bathil. Dan menjadikan kuburan para nabi sebagai masjid melazimkan untuk menjadikan masjid (tempat sujud) di atas kuburan seperti sebaliknya. Dalam hadits di dahulukan orang Yahudi karena mereka lah yang memulai menjadikan kuburan sbgai masjid kemudian diikuti oleh orang nashoro, maka orang yahudi lebih sesat “.

Kemudian setelah itu beliau menukil ucapan imam Baidhawi tersebut. Dan setelahnya beliau berkomentar :

“ Akan tetapi Hadits riwayat imam Bukhari dan Muslim tersebut menunjukkan KEMAKRUHAN membangun masjid di atas kuburan secara muthlaq, yaitu kuburan kaum muslimin karena ditakutkan penyembahan pada orang yang dikubur, dengan bukti hadits “ Ya Allah, jangan jadikan kuburanku sesembahan yang disembah. Maka ucapan imam Baidhawi tersebut diarahkan jika tidak khawatir terjadinya penyembahan pada orang yang disembah “.

As-Syaikh As-Sanadi dalam kitabnya Hasyiah As- Sanadi berkomentar tentang maksud hadits di atas sebagai berikut :

“ Yang dimaksud hadits tersebut adalah bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wasallam memperingatkan umatnya agar tidak berbuat dengan makam beliau sebagaimana orang Yahudi dan Nashoro berbuat terhadap makam para nabi mereka berupa menjadikan kuburan sebagai tempat sujud. Baik sujud pada kuburan dengan rasa ta’dzhim atau menjadikannya sebagai qiblat yang ia menghadap padanya diwaktu sembahyang atau semisalnya. Ada yang berpendapat bahwa seamata-mata menjadikan masjid di samping makam orang sholeh dengan tujuan mendapat keberkahan, maka tidaklah dilarang “ (Hasyiah As-Sanadi juz 2 hal/ 41)

Dari komentar para ulama di atas dapat kita tangkap bahwa illat, manath, motif atau sebab pelaknatan Nabi Shallallahu alaihi wasallam kepada orang yahudi dan nashoro adalah wujudnya penyembahan pada kuburan, mereka menjadikan kuburan sebagai tempat sujud, mereka menjadikan kuburan sebagai sesembahan sehingga ini merupakan bentuk kesyirikan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Adapun umat Islam, maka tak pernah sekalipun ada sejarahnya umat Islam menyembah kubur. Umat Islam membina kubur hanya untuk memuliakan ahlul qubur (terlebih kubur orang yang sholeh), menjaga kubur daripada hilang terhapus zaman, dan memudahkan para peziarah untuk berziarah, dalam menemukan kubur di tengah-tengah ribuan kubur lainnya, juga sebagai tempat berteduh para peziarah agar dapat mengenang dan menghayati dengan tenang orang yang ada di dalam kubur beserta amal serta segala jasa dan kebaikannya.

Sedangkan kaum muslim yang berdoa kepada Allah ta’ala dengan bertawassul pada ahli kubur yang dekat dengan Allah ta’ala, mereka berdoa dan beribadah kepada Allah bukan meminta kepada ahli kubur atau menyembah kuburan.

Kaum muslim yang berdoa kepada Allah ta’ala dengan bertawassul pada ahli kubur yang dekat dengan Allah ta’ala, mereka sangat paham dan yakin bahwa yang mengabulkan doa mereka hanyalah Allah Azza wa Jalla bukan ahli kubur yang mereka tawassulkan.
======================================

perlu dipahami wahai saudaraku.....memahami agama itu melalui ulama-ulama yang telah teruji keshalihan dan keilmuannya
mereka adalah ulama-ulama mazhab 4.
wahhabi adalah firqah/mazhab yang lahir pada sekitar abad ke 18, mereka membawa perbedaan-perbedaan yang mendasar dengan mazhab 4 bahkan menganggap bathil kitab2 fiqih mazhab yang 4

ingat kata imam ibnu sirrin ""Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikan dari siapa kalian mengambil agama kalian."

wallahu'alam bishowab


Sdh jelas nabi melarang sholat di kuburan dan dikuatkan oleh pendapat sahabat dan mayoritas ulama, masih ngeyel, nyari pendapat yg aneh2 dari sedikit ulama yg tdk maksum.

Saran sy kalo ngaji jangan asal 2 an. Cari guru yg ahlu sunnah. Jangan cari guru yg suka bid'ah, suka jimat, suka minta barokah ke kuburan, minta2 sesuatu ke kuburan, suka mentakwil sifat Allah, tdk mau berhukum dgn hukum islam, suka membaca quran dgn pake toa tapi gak mau mengamalkan isinya kecuali yg sesuai hawa nafsunya, gak mau memanjangkan jenggot, ambisi dgn kekuasaan, suka memilih orang kafir sbg pemimpin, suka kenduri kematian yg mrp warisan hindu yg dimasuki unsur2 islam dll
Quote:Original Posted By charliebego


Sdh jelas nabi melarang sholat di kuburan dan dikuatkan oleh pendapat sahabat dan mayoritas ulama, masih ngeyel, nyari pendapat yg aneh2 dari sedikit ulama yg tdk maksum.

Saran sy kalo ngaji jangan asal 2 an. Cari guru yg ahlu sunnah. Jangan cari guru yg suka bid'ah, suka jimat, suka minta barokah ke kuburan, minta2 sesuatu ke kuburan, suka mentakwil sifat Allah, tdk mau berhukum dgn hukum islam, suka membaca quran dgn pake toa tapi gak mau mengamalkan isinya kecuali yg sesuai hawa nafsunya, gak mau memanjangkan jenggot, ambisi dgn kekuasaan, suka memilih orang kafir sbg pemimpin, suka kenduri kematian yg mrp warisan hindu yg dimasuki unsur2 islam dll


1 - jelas anda tidak menelaah tulisan diatas ttg makna dzahir hadits dan hadits yg menunjukan nabi dan sahabat sholat di kuburan
2. anda suruh sy ngaji jangan asal2an, tapi anda sendiri "ngaji" tulisan diatas tersirat hanya sepintas saja aja ga baca dan menelaah keseluruhan isinya
3 Guru yang benar2 ahlu sunnah dan selamat untuk diikuti ialah yang bersanad/keilmuannya nyambung ke rasulullah SAW, yang diakui ribuan ulama yatu ulama2 mazhab 4
4 jangankan guru ngaji, org yg dianggap walipun kalo minta ke kuburan, tidak mau berhukum dg islam tentu tidak boleh di ikuti, dan ini sudah masuk ke wilayah personal dan bisa jadi fitnah

taukah anda apa beda anda dan saya?

saya bermazhab syafii dan anda bermazhab wahhabi

mengapa mazhab begitu penting
?

Di dalam Al Qur’an & Hadits terdapat banyak ayat-ayat yang multi tafsir, bercabang dan tidak pasti, dimana dalam menafsirkannya membutuhkan keilmuan yang sangat qualitative, dalam hal inilah Mazhab berperan

diantarnya adalah mengenai : pengertian bid'ah, dan juga hadits mengenai "kuburan" dll

dari sini sudah terlihat kan perbedaannya?
anda mengikuti kefahaman ulama wahhabi sy mengikuti kefahaman ulama mazhab syafii

sy ulang sekali lagi......

di dalam Al-Quran dan Sunnah terdapat banyak teks yang belum jelas dan bisa mengandung berbagai macam penafsiran yang tidak mudah di pahami dan dilaksanakan oleh awam, sehingga umat islam lebih mudah, efektif dan efisien dalam menjalankan agama/peribadatannya tanpa takut “tersesat” .





Quote:Original Posted By rickyrickardo


1 - jelas anda tidak menelaah tulisan diatas ttg makna dzahir hadits dan hadits yg menunjukan nabi dan sahabat sholat di kuburan
2. anda suruh sy ngaji jangan asal2an, tapi anda sendiri "ngaji" tulisan diatas tersirat hanya sepintas saja aja ga baca dan menelaah keseluruhan isinya
3 Guru yang benar2 ahlu sunnah dan selamat untuk diikuti ialah yang bersanad/keilmuannya nyambung ke rasulullah SAW, yang diakui ribuan ulama yatu ulama2 mazhab 4
4 jangankan guru ngaji, org yg dianggap walipun kalo minta ke kuburan, tidak mau berhukum dg islam tentu tidak boleh di ikuti, dan ini sudah masuk ke wilayah personal dan bisa jadi fitnah

taukah anda apa beda anda dan saya?

saya bermazhab syafii dan anda bermazhab wahhabi

mengapa mazhab begitu penting
?

Di dalam Al Qur’an & Hadits terdapat banyak ayat-ayat yang multi tafsir, bercabang dan tidak pasti, dimana dalam menafsirkannya membutuhkan keilmuan yang sangat qualitative, dalam hal inilah Mazhab berperan

diantarnya adalah mengenai : pengertian bid'ah, dan juga hadits mengenai "kuburan" dll

dari sini sudah terlihat kan perbedaannya?
anda mengikuti kefahaman ulama wahhabi sy mengikuti kefahaman ulama mazhab syafii

sy ulang sekali lagi......

di dalam Al-Quran dan Sunnah terdapat banyak teks yang belum jelas dan bisa mengandung berbagai macam penafsiran yang tidak mudah di pahami dan dilaksanakan oleh awam, sehingga umat islam lebih mudah, efektif dan efisien dalam menjalankan agama/peribadatannya tanpa takut “tersesat” .







Makna dhahir gundulmu
Makna dhahirnya justru melarang sholat di kuburan.

Mendewa2kan mazhab, kelompokmu itu justru tdk bermazhab kecuali diambil yg sesuai hawa nafsunya.
Contohnya ngaku2 mazhab syafi'i, tetapi akidah ngambil dari asyari
Quote:Original Posted By charliebego


Makna dhahir gundulmu
Makna dhahirnya justru melarang sholat di kuburan.



Subhanallah...ko ga nyampe ya....anda jelas2 tidak baca artikel diatas....ada makna yg memang dzahir ada yg bathin, semua itu butuh pemahaman dari ulama yang benar2 faham.

Baca dengan hati yang bersih ya gan.....baca hingga selesai.....

Telah menceritakan kepada kami Muhammad telah mengabarkan kepada kami Abu Mu’awiyah dari Abu Ishaq Asy-Syaibaniy dari Asy-Sya’biy dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata: Bila ada orang yang meninggal dunia biasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melayatnya. Suatu hari ada seorang yang meninggal dunia di malam hari kemudian dikuburkan malam itu juga. Keesokan paginya orang-orang memberitahu Beliau. Maka Beliau bersabda: Mengapa kalian tidak memberi tahu aku? Mereka menjawab: Kejadiannya malam hari, kami khawatir memberatkan anda. Maka kemudian Beliau mendatangi kuburan orang itu lalu mengerjakan shalat untuknya. (HR Bukhari 1170)

Telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Bukair telah menceritakan kepada kami Za’idah telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq Asy-Syaibaniy dari ‘Amir dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata; Nabi Shallallahu’alaihiwasallam mendatangi kuburan. Mereka berkata; Ini dikebumikan kemarin. Berkata, Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma: Maka Beliau membariskan kami di belakang Beliau kemudian mengerjakan shalat untuknya. (HR Bukhari 1241)

Begitupula diriwayatkan Umar ra mengetahui bahwa Anas ra sholat di atas kuburan sehingga beliau menginjak kuburan. Lalu Umar berkata, “Al-qabr, al-qabr! (Kuburan, Kuburan!)” maka Anas ra melangkah (menghindari menginjak dalam batas kuburan), lalu meneruskan shalatnya. [Lihat Fathul Bari libni Hajar I:524, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379].


Quote:Original Posted By charliebego


Mendewa2kan mazhab, kelompokmu itu justru tdk bermazhab kecuali diambil yg sesuai hawa nafsunya.


haduuh...anda ga baca tadi apa ga paham???

Quote:Original Posted By rickyrickardo



mengapa mazhab begitu penting
?

Di dalam Al Qur’an & Hadits terdapat banyak ayat-ayat yang multi tafsir, bercabang dan tidak pasti, dimana dalam menafsirkannya membutuhkan keilmuan yang sangat qualitative, dalam hal inilah Mazhab berperan

diantarnya adalah mengenai : pengertian bid'ah, dan juga hadits mengenai "kuburan" dll

dari sini sudah terlihat kan perbedaannya?
anda mengikuti kefahaman ulama wahhabi sy mengikuti kefahaman ulama mazhab syafii

sy ulang sekali lagi......

di dalam Al-Quran dan Sunnah terdapat banyak teks yang belum jelas dan bisa mengandung berbagai macam penafsiran yang tidak mudah di pahami dan dilaksanakan oleh awam, sehingga umat islam lebih mudah, efektif dan efisien dalam menjalankan agama/peribadatannya tanpa takut “tersesat” .




Quote:Original Posted By charliebego


Contohnya ngaku2 mazhab syafi'i, tetapi akidah ngambil dari asyari


Di forum-forum offline maupun online, para penganut Wahabisme itu adalah kaum yang sangat benci dengan muslimin yang mengikuti aqidah Asy’ariyah. Mereka mengatakan Asy’ariyah itu sesat, tahukah anda bahwa imam-imam ulama yang punya nama besar semacam Ibnu Hajar Atsqolani, Imam Nawawi, Imam Baihaqy adalah para penganut Aqidah Asy’ariyah yang notabene adalah kaum Ahlussunnah Wal Jamaah

http://ummatipress.com/wah-ternyata-...suh-abadi.html


“Sebaik-baik abad adalah abadku kemudian abad setelah mereka kemudian abad setelah mereka”.(H.R. Tirmidzi)
Pada masa ulama salaf ini, di sekitar tahun 260 H, mulai menyebar bid’ah Mu’tazilah, Khawarij, Musyabbihah dan lainnya dari kelompok-kelompok yang membuat faham baru. Kemudian dua imam agung; Abu al-Hasan al-Asy’ari (W. 324 H) dan Abu Manshur al-Maturidi (W. 333 H) –semoga Allah meridlai keduanya– datang dengan menjelaskan aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah yang diyakini para sahabat nabi dan orang-orang yang mengikuti mereka, dengan mengemukakan dalil-dalil naqli (nash-nash al-Quran dan Hadits) dan dalil-dalil aqli (argumen rasional) disertai dengan bantahan-bantahan terhadap syubhat-syubhat (sesuatu yang dilontarkan untuk mengaburkan hal yang sebenarnya) Mu’tazilah, Musyabbihah, Khawarij tersebut di atas dan ahli bid’ah lainnya.
Sehingga Ahlussunnah dinisbatkan kepada keduanya. Mereka; Ahlussunnah Wal Jamaah akhirnya dikenal dengan nama al-Asy’ariyyun (para pengikut imam Abu al-Hasan Asy’ari) dan al-Maturidiyyun (para pengikut imam Abu Manshur al-Maturidi). Hal ini tidak menafikan bahwa mereka adalah satu golongan yaitu al-Jama’ah. Karena sebenarnya jalan yang ditempuh oleh al-Asy’ari dan al-Maturidi dalam pokok aqidah adalah sama dan satu.
Adapun perbedaan yang terjadi di antara keduanya hanya pada sebagian masalah-masalah furu’ (cabang) aqidah. Hal tersebut tidak menjadikan keduanya saling menghujat atau saling menyesatkan, serta tidak menjadikan keduanya lepas dari ikatan golongan yang selamat (al-Firqah al-Najiyah). Perbedaan antara al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah ini adalah seperti halnya perselisihan yang terjadi antara para sahabat nabi, perihal apakah Rasulullah melihat Allah pada saat Mi’raj?.
Sebagian sahabat, seperti ‘Aisyah dan Ibn Mas’ud mengatakan bahwa Rasulullah r tidak melihat Tuhannya pada waktu Mi’raj. Sedangkan Abdullah ibn 'Abbas mengatakan bahwa Rasulullah r melihat Allah dengan hatinya. Allah member kemampuan melihat kepada hati Nabi Muhammad sehingga dapat melihat Allah. Namun demikian al Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah ini tetap sepaham dan sehaluan dalam dasar-dasar aqidah. Al-Hafizh- Murtadla az-Zabidi (W. 1205 H) mengatakan:
“Jika dikatakan Ahlussunnah wal Jama’ah, maka yang dimaksud adalah al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah “. (al-Ithaf, juz 2 hlm 6). Jadi aqidah yang benar dan diyakini oleh para ulama salaf yang shalih adalah aqidah yang diyakini oleh al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah. Karena sebenarnya keduanya hanyalah meringkas dan menjelaskan aqidah yang diyakini oleh para nabi dan rasul serta para sahabat. Aqidah Ahlusssunnah adalah aqidah yang diyakini oleh ratusan juta umat Islam, mereka adalah para pengikut madzhab Syafi’i, Maliki, Hanafi, serta orang-orang yang utama dari madzhab Hanbali (Fudhala’ al-Hanabilah).

Wallahu a'lam bish-showaab.

https://www.facebook.com/buyayahya.a...67780956608278