alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerita Seram Selama Mengabdi di Desa Terpencil
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5728f2661a997597708b456b/cerita-seram-selama-mengabdi-di-desa-terpencil

Cerita Seram Selama Mengabdi di Desa Terpencil

INDEX


PART 1 - Perkenalan - Langsung ada di postingan ini
PART 2 - Keberangkatan
PART 3 - Tiba di Desa
PART 4 - Malam Pertama
PART 5 - Ibu Tua
PART 6 - Informasi Mengejutkan
PART 7 - Suara
PART 8 - Terkuncikah ?
PART 9 - Rumah Terang
PART 10 - Gadis Cantik Yang Kesepian
PART 11 - Tangisan
PART 12 - Pernyataan Kades
PART 13 - Terjebak
PART 14 - Pengungkapan
PART 15 - Silahturahmi Pertama
PART 16 - Tamu
PART 17 - Jalan Malam
PART 18 - Berteduh Lagi
PART 19 - Balik !!!
PART 20 - Maksud Terselubung
PART 21 - Perdebatan
PART 22 - Halusinasi ?
PART 23 - Halusinasi 2
PART 24 - Tangis dan Tawa
PART 25 - Pengejaran Amelia
PART 26 - Ngecek Lagi ?
PART 27 - Gak Hoki
PART 28 - Siapa Itu Ya ?
PART 29 - Hari Yang Tenang
PART 30 - Kebelet !
PART 31 - Bertemu Lagi !
PART 32 - Tertabrak !
PART 33 - Terror
PART 34 - Kejutan !!!
PART 35 - Terror 2
PART 36 - Terror 3
PART 37 - Lemari Cermin
PART 38 - Ngecek yuk
PART 39 - Tangisan
PART 40 - Ketukan
PART 41 - Mimpi atau Nyata
PART 42 - Penampakan
PART 43 - Haruskah Melapor ?
PART 44 - Mencari Solusi
PART 45 - Pengungkapan Misteri !
PART 46 - Pengungkapan Misteri 2
PART 47 - Pengungkapan Misteri 3
PART 48 - Pengungkapan Misteri 4
PART 49 - Sebenarnya ini apa ?!
PART 50 - Pengungkapan Lemari Cermin
PART 51 - Nenek oh Nenek
PART 52 - Konflik !
PART 53 - Kejutan
PART 54 - Bolehkah Gue Kabur ?
PART 55 - Hilang !
PART 56 - Duniaku
PART 57 - Gue Dimana?
PART 58 - SURAT
PART 59 - Suara dan Penglihatan ?
PART 60 - Masuk atau Kagak ?!
PART 61 - Aku Hilang !
PART 62 - Kembali
PART 63 - Penjelasan
PART 64 - Siksaan !
PART 65 - Ketenangan
PART 66 - Suara Aneh
PART 67 - Terjebak !
PART 68 - TOLONG GUE !
PART 69 - Kuburan (NEW UPDATE)


Cerita Seram Selama Mengabdi di Desa Terpencil - Part 1

Cerita ini merupakan fiksi, namun isi dari cerita ini sebagian diambil dari serangkaian kisah pengalaman nyata yang dialami oleh penulis dan dicampur dengan cerita fiksi yang tidak benar-benar terjadi. Beberapa kejadian memang benar terjadi dan beberapa kejadian merupakan cerita rekayasa untuk penambahan agar cerita ini menjadi lebih menarik. Semua nama tokoh, nama tempat dan lain-lain telah disamarkan guna menjaga nama baik pemilik aslinya.

Nah mari kita mulai ceritanya.

1 Februari 2015, Yap tepat pada tanggal ini saya mahasiswa jurusan ekonomi yang bernama Dony mendapatkan tawaran menarik dari kampus saya. Saya berasal dari Jakarta, kuliah di salah satu universitas swasta ternama di Jakarta dan sekarang tengah memasuki semester delapan. Menjelang memasuki semester 8 yang ku anggap bakal menjadi semester terakhir untuk perkuliahanku, Aku memiliki banyak waktu luang karena aku hanya tinggal menyelesaikan KKN dan menyusun skripsi (Itupun uda hampir kelar karena data2 skripsinya uda ada dan tinggal dimanipulasi, namun repotnya ya itu nanti minta persetujuan dosen dan revisi2 yang menjengkelkan pastinya dan bisa menghabiskan waktu cukup lama).

Sebelum tanggal 1 Feb, keseharianku cukup membosankan karena terlalu banyak waktu luang, mau memikirkan tentang KKN, tetapi aku masih galau mau KKN di mana, belum ada lokasi KKN yang asik menurutku sampai saat ini. Kebanyakan waktu luangku kuhabiskan untuk berkelana di kampus mencari info2 sputar KKN, hingga suatu waktu aku pergi ke ruangan dosen, bercerita2 dengan dosen dan terakhir sebelum pulang, aku membaca papan informasi yang ada di ruangan dosen, seketika mataku tertuju pada papan informasi yang terdapat selembaran brosur. Brosur tsb bertuliskan :

“Dicari 10 Mahasiswa/I yang berminat untuk ikut serta dalam kegiatan pembangunan desa terpencil selama 3 bulan, dana semua ditanggung oleh kampus. Diperuntukkan bagi mahasiswa/I yang berada di semester 7 ke atas.
Kriteria : Memiliki jiwa pemberani, bisa hidup mandiri, menyukai kehidupan alam desa dan ingin pengalaman seru.
Hadiah : Bagi anda yang belum menyelesaikan KKN, maka KKN dianggap selesai sehubungan dengan kegiatan ini dan mendapatkan nilai A
Bagi anda yang sedang menyelesaikan skripsi, maka nilai Skripsi anda akan langsung mendapatkan nilai A.
Silahkan isi formulir yang dapat diambil di bagian kemahasiswaan, serahkan formulir tersebut ke rektorat paling lambat tanggal 30 Januari 2015. Bagi mahasiswa/I yang kami anggap cocok untuk ikut serta dalam kegiatan pembangunan desa ini, akan kami informasikan pada tanggal 1 Februari 2015.
Mahasiwa/I akan kami pilih dari berbagai jurusan agar dapat saling melengkapi dan membuat serangkaian program untuk pembangunan desa tersebut.
Untuk informasi lebih lanjut bisa langsung datang ke rektorat.”

Wahhhh !!! Setelah membaca brosur ini, akupun kaget dan cukup tertarik untuk mengikuti kegiatan ini. Langsung kutanyakan ke bagian kemahasiswaan di fakultasku tentang formulir ini dan apakah masih ada kuota kosong untuk kegiatan pembangunan desa ini atau tidak.

Saya : “Pak ! Itu brosur di papan informasi masih berlaku kan Pak? Kira2 masih ada slot kosong utk saya ikut serta gak ?”

Dosen Kemahasiswaan : “Oh brosur itu, setahu saya itu masih terbuka untuk semua mahasiswa di universitas ini. Penutupannya kan di akhir bulan Januari ini. Kenapa? Kamu minat utk ikut ?”

Saya : “Oh jelas minat lah Pak ! KKN dan Skripsi langsung kelar dan nilainya A loh !”

Dosen : “Hehehe iya nak, Bapak juga kaget baca brosur ini, kok bisa ya rektorat langsung izinkan KKN dan Skripsi langsung dapat nilai A.”

Saya : “Loh, memangnya kenapa Pak ? Tahun2 sebelumnya belum pernah ada informasi seperti ini?”

Dosen : “Belum pernah nak. Ini informasi terbaru dan perdana yang pernah Bapak dapatkan. Belum pernah ada kegiatan seperti ini selama bapak mengajar di sini. Ya uda kamu coba apply aja deh, siapa tau kamu bisa terpilih kan, itu untuk 10 orang kapasitasnya loh, coba aja kamu ajak temanmu biar gak bosan. Siapa tau bisa masuk kalian kan, tapi nanti kepastian siapa yang berhak ikut itu jg ditentuin dari rektorat dan kemungkinan kamu dan temanmu tidak bisa lolos barengan, tapi dicoba saja, paling enggak nanti kamu bakal dapat banyak teman baru loh. Nih formulirnya.”

Saya : “Makasih pak, paling enggak saya lolos dari KKN dan Skripsi yang menyusahkan ini Pak. Hehehehe.” (Ketawa cengengesan)
Setelah mendapatkan formulir dari dosen kemahasiswaan fakultasku, Aku langsung bikin group chat via BBM untuk beberapa teman2ku yang berjumlah 4 org termasuk aku yang tentunya masih belum KKN dan Skripsi.

Saya : “Woi, Bro ! Baca nech, Kalian ndak perlu KKN dan bikin skripsi oeeee ! Ikut program ini, seru cui ngabdi di desa, hidup di alam bebas, KKN dan skripsi lgsg kelar. Dana semua ditanggung kampus ! Ikut yok, untuk semua fakultas loh!”

Rudy : “Wew serius tuh? Keknya seru juga loh ! Lu ada formulirnya?”

Victor : “Wakakaka, klo KKN dan skripsi lgsg A , gue masuk cui. Kapan kasi gue form nya ?”

Benny : “Gue ikut apply deh klo kalian semua apply ! Ya moga” aja kepilih semua kita berempat!”

Saya : “Okay, form nya kalian jemput aja ama gua di kampus ya!”

Setelah menghubungi semua teman2 gua, gua pun atur waktu ketemu mreka dan ngasihin formulir untuk mereka isi.
Tepat pada tanggal 1 Februari 2015 pagi hari, HP kami masing2 pun berdering.

Saya : “Woiii brooo ! Gue dapat sms dari rektorat nech ! Gw kepilih untuk ikut loh ! Wakakka, kalian cam mana? Lolos ?”

Rudy : “Gue kagak lolos brooooo… Suram !!!”

Victor : “Lu gak lolos Rud ? Gue lolos nech wkawkakwa, mantap Don ! Bareng2 nikmatin alam desa kita, skalian cuci mata liat cewek2 desa wakwkawka ! Benny gimana?”

Benny : “Gue gak lolos cukkk~ Kok bisa yeee… Padahal pengen banget gue nikmatin alam desa, intinya sih sebenarnya kkn dan skripsi kelar wakwakka.”

Saya : “Sabar yee yang gak lolos wkwkwk, kalian ambil masa langkau aja, barangkali tahun depan ada lagi kegiatan beginian hehehe.”

Rudy : “Taikk lu… Ya uda info2 n cerita2 ye pengalaman xan disana gimana !”

Victor : “Pasti bro ! Eh Don, nanti siang kita ke rektorat bareng deh ya !”

Saya : “Sip bro !”

Siang harinya sehabis makan siang, gue dan Victor langsung menuju ke rektorat dengan mengendarai motor kami masing2. Selama perjalanan kami saling bercerita.

Saya : “Eh bro, bosan gak ya nanti selama di desa, 3 bulan loh. Entah ada pulang or enggak ?”

Victor : “Ya kagak tau, enak sih hidup mandiri dan bebas, tapi klo 3 bulan ndak pulang ya bosan jg, kecuali di desa itu adem dan bnyk hiburan, tapi gue rasa mana bakal byk hiburan, tv, game, inet pasti ga ada or klo pun ada pasti jelek sekali.”

Saya : “Iya juga sich, tapi biarlah, lumayan kan KKN dan Skripsi bisa kelar dalam 3 bulan bersamaan. Bersabar2 aja dah, tujuan kita kan itu. Hehehe”

Victor : “Yoi Bro. Kira-kira 8 peserta lagi cowo apa cewe ya, klo cowo semua bosan juga nech. Btw entah ada yang tipe gue or gak ya, pengennya sih klo ada yg cewe yg tipe gue, bisa pdkt-an sekalian hahaha.”

Saya : “Hehehe.. Lu mah mata keranjang wakwkawka.”

Ehem, sampai lupa ngasih tau ke para pembaca, Gue dan Victor punya kriteria tipe cewe kami masing-masing. Ya moga-moga aja ada yg sesuai tipe, jadi bisa aktivitas bareng sambilan PDKT. hehehe





Polling
1,516 Suara
Bagusnya Cerita ini memiliki Alur Panjang atau pendek ? Bagaimana isi ceritanya?  
profile-picture
profile-picture
sriwidyaning93 dan farid2098 memberi reputasi
Diubah oleh suwandilam
Halaman 1 dari 146
Akhirnya kami pun tiba di kantor rektorat, berkumpul di Aula rektorat sesuai yang diinformasikan melalui SMS tadi pagi. Di aula terkumpulah semua anggota yang akan diberangkatkan untuk kegiatan pembangunan desa ini. Ternyata cowo ada 4 orang termasuk gue dan Victor, cewe ada 6 orang. Sebelum pegawai rektorat memulai pemberitahuan informasinya, gue dan Victor saling lirik sana sini sambil ngecek2 siapa aja sih yang bakal berangkat bareng kami.

Wow ! Ternyata dari fisik, gue melihat ada 3 cewe yang sepertinya sesuai tipe gue, 3 lg bukan dan sisanya 2 cowo. Gak hanya itu, gue dan Victor masih ga bisa melepaskan pandangan mata kami melihat anggota2 cewe ini, rupanya ke enam-enamnya pada cantik2 dan memiliki standar di atas rata-rata buat mata kami.. Wow surga dunia nih pikir kami selama menjalani kegiatan pembangunan desa ini, body nya rata2 oke pula tuh, putih-putih lagi. Gileeee cewe sekarang adem ayem buat dipandang HAHAHAHAHA ~ Sambil melihat yg cewe, kami pun melihat yang cowo dan saling menyapa mereka.

Victor : “Halo, kalian yang bakal sama-sama berangkat untuk kegiatan pembangunan desa ya?”

Aldi : “Oh iya, halo, salam kenal ya, namaku Aldi, aku dari jurusan teknik smster 8.”

Victor : “Oh teknik ya, salam kenal deh, gua Victor dan ini temen gua Dony. Gua dari jurusan komputer dan si Dony ini dari jurusan Ekonomi. Salam kenal ya, kami juga smster 8. Kalo kamu bro ?”

Danu : “Aku dari jurusan ilmu komunikasi nih. Semester 8 juga. Btw, uda dapat informasi2 tentang kegiatan pembangunan ini?”

Aldi : “Klo gua sih sama skali belum tau apa2 nih, cuman ya gw suka kehidupan alam bebas aja, biasanya klo hidup di desa kan alamnya bebas. Terus ya KKN dan Skripsi kelar katanya dan ga perlu ngeluarin duit sedikitpun lagi katanya.”

Dony : “Nah betul tuh bro. Setuju banget gua. KKN dan Skripsi kelar, itu intinya pasti kan ?”

Danu : “Iya.. wkwkwk gw sih mikirnya juga kesitu, kelar dan gratis lagi, itung2 liburan tapi sambil ada kerjaan yang ga membosankan.”

Victor : “Same as me dehh.. Berarti intinya kita berempat otaknya sama lah ya hahahah. Btw, lihat tuh cewe2 yang bakal sekelompok ama kita. Cakep dan cantik yahhhh, apa tujuan mreka sama juga ?”

Danu : “Iya cakep2, itu beberapa nonpribumi kayak kalian ber2 deh, terus rata2 enam cewe itu cantik2 semua. Bisa pdkt nech hahaha. Lu jomblo ?”

Victor, Aldi, Gua : “Kami JONESS broooooo ~ Hiksss !” (Muka kasihan)

Di tengah2 keasyikan kami berempat bercerita, tiba2 pegawai rektorat langsung menghidupkan MIC dan mulai memberitahukan seputar informasi tentang kegiatan pembangunan desa ini. (Wah sialan, kami keasyikan cerita sesame cowo, sampai lupa kenalan ama cewe2 sekelompok ini)

Pegawai : “Terima kasih untuk semua mahasiswa/I yang telah hadir di aula ini utk mengikuti kegiatan pembangunan desa terpencil ini. Di sini kalian telah terkumpul semua yang terdiri dari 10 orang dari fakultas berbeda-beda. Saya tidak akan memperkenalkan kalian satu persatu, saya harap nanti kalian bisa saling berkenalan sendiri. Di sini saya akan menjelaskan tentang kegiatan pembangunan desa terpencil ini terlebih dahulu. Bagi kalian yang merasa cocok dan memang ingin ikut terjun ke lapangan, silahkan tanda tangan surat pernyataan kesanggupan untuk berangkat. Bagi kalian yang merasa tidak cocok setelah mendengar penjelasan dari saya. Maka kalian masih dapat mengundurkan diri.”

Victor : “Wew gila Don ! Keknya lumayan menantang dan serius nih kegiatannya.”

Saya : “Gue rasa gitu sih, kok sampai diinfoin gini yah, apa jangan2 ribet or susah kali ya? Atau jangan2 serem cuiii desa terpencil.”

Danu : “Gue sih takutnya serem dan gak aman aja, terus susah gak yah bolak balik kesananya?”

Aldi : “Nah itu yang masih bingung, coba kita dengerin deh. Uda selow aja, kita liat yang cewe2 gimana responnya. Masa kita kalah ama cewe?

Victor : “Wkwkwkwk klo cewe semua OK pergi. Kita mesti pergi ya broo?

Saya, Danu, Aldi : “Sip bro.. Semenegangkan apapun dan sesusah apapun penjelasan dari pegawai rektorat ini, klo semua cewe berangkat. Kita harus berangkat? Deal ?!

Victor : “Deal Bro ! Untuk persahabatan kita berempat yang baru !”

Pegawai Rektorat : (Dengan nada serius) “Baiklah semuanya, mohon dengarkan baik-baik dan kalo perlu dicatat untuk prosedur kegiatan ini ! Silahkan duduk terpisah satu sama lain, tidak boleh ada yang duduk berdekatan, kami tidak ingin kalian sambil berbicara saat saya memberikan penjelasan dan kami tidak mau kalian terpengaruh oleh anggota lain saat saya menjelaskan, silahkan berikan jarak yg cukup jauh dari anggota yang lain dan silahkan isi di kertas yang saya berikan jika kalian SETUJU utk berangkat ataupun TIDAK SETUJU.
Kalian bersepuluh akan diberangkatkan untuk kegiatan pembangunan desa terpencil yang lokasinya berada di provinsi Riau yang tentunya jauh dari tempat tinggal kalian. Desa tersebut sangat terpencil dan jauh dari perkotaan, bisa dibilang benar-benar terletak di alam bebas terbuka, pemandangannya masih hijau dan indah, udara segar dan bersih, sungai-sungai nya bersih, masyarakatnya kebanyakan adalah petani, peternak dan mungkin ada beberapa profesi lainnya. Desa tersebut masih terkenal kuat akan adat istiadat dan nilai-nilai keagamaannya.

Semua biaya keberangkatan, biaya tempat tinggal, biaya keseharian untuk bertahan hidup selama 3 bulan, biaya untuk kegiatan-kegiatan yang akan kalian lakukan dan biaya-biaya lainnya akan didanai oleh kampus sepenuhnya. Semua biaya yang digunakan harus ada laporannya.
Kalian akan diberikan waktu satu minggu sebelum diberangkatkan untuk mempersiapkan diri kalian, meminta izin kepada orang tua, menyiapkan segala kebutuhan, saling mengenal satu sama lain, membuat program-program kegiatan yang kira-kira akan kalian kerjakan nantinya, program ini boleh berubah-ubah setelah kalian sampai langsung di desa tersebut dan menyelesaikan berbagai kepentingan lainnya terlebih dahulu.

Kegiatan ini hampir sama dengan kegiatan KKN, namun penempatannya lebih jauh dan tentunya kegiatan ini akan lebih menantang. Mengapa demikian ?

Kalian bersepuluh akan diberangkatkan menggunakan pesawat ke provinsi Riau, kemudian sesampai di bandara, kalian akan dijemput oleh travel di sana untuk di bawa ke desa terpencil tersebut. Perjalanan dari bandara ke desa akan memakan waktu cukup lama mungkin sekitar 10 jam. Kalian tidak akan ditemani oleh dosen, dengan kata lain kalian bersepuluh akan berangkat secara mandiri. Kami pihak kampus sudah mengirimkan surat kepada kepala desa di sana dan telah mendapatkan respon yang baik dan mereka setuju untuk menerima kalian di desa nya.

Segala program kegiatan silahkan kalian konsultasikan dengan kepala desa, kami pihak kampus hanya menerima laporan dari kalian dan laporan dari kepala desa. Berhubung kalian jumlahnya sepuluh orang, maka diharapkan kalian dapat saling menjaga satu sama lainnya seperti kegiatan KKN pada umumnya.

Kalian akan diberangkatkan selama 3 bulan dan tentunya sampai saat ini, belum ada informasi kalau kalian boleh pulang sebelum 3 bulan tersebut berakhir. Artinya, selama 3 bulan kalian harus bertahan hidup di sana dan menyelesaikan program kalian. Segala dana yang dibutuhkan akan kami kirimkan, silahkan membawa uang pribadi kalian untuk berjaga2 jika perlu, nantinya semua uang pribadi kalian akan diganti oleh kami sesuai dengan laporan yang kalian buat.

Perlu diketahui, sehubungan desa yang akan kalian tuju adalah desa terpencil, maka tentunya jaringan internet, komunikasi, transportasi dan lain-lainnya akan sedikit susah dan tidak segampang seperti kehidupan kalian di Jakarta.
Pandai-pandailah membawa diri kalian di sana, jadilah kelompok yang bermanfaat dan dapat memajukan desa tersebut. Jika kalian setuju, silahkan tuliskan di kertas yang saya berikan. Bagi yang merasa tidak sanggup. Dipersilahkan untuk meninggalkan aula rektorat ini. Terima kasih.”

Mendengar informasi dari pegawai rektorat ini, kami semua pun terdiam dan saling bertatap-tapan karena kami tidak bisa berbicara karena jarak duduk yang jauh. Berselang beberapa menit, kami berempat tidak melihat para cewe berdiri meninggalkan ruangan, yang artinya semua cewe setuju untuk berangkat ! Berarti kami berempat sesuai janji persahabatan lelaki. Kami harus berangkat juga ~ Ya meskipun Nampak di raut muka kami berempat agak shock, akhirnya kami menyerahkan kertas tersebut kepada pegawai rektorat dan kami pun dipersilahkan berkumpul lagi.

Victor : “Gileee Don… Jauh banget desanya. Agak menegangkan nih.”

Saya : “Yoi, serem sih kedengerannya, tapi mau gimana lagi, tuh cewe2 berangkat semua loh !”

Danu : “Okay bro, berarti kita semua berangkatkan ? Wakakka, selow aja deh, kita ditemenin 6 cewe cantik2 loh, terus kita bisa jadi kayak pahlawan entar di sana lindungin mereka klo ada apa2.. Bener gak ?”

Victor : “Wah cemerlang juga ide lu, gue ampe ga kepikiran kesana gara2 mikirin jauhnya desa itu.”

Aldi : “Hmm… Gue sih nulis setuju seperti janji kita, meskipun agak cemas, tapi jalanin aja deh, anggap tantangan, lagian KKN kan juga begini.”

Saya : (Sedikit termenung dan berbisik dalam hati) Hmm.. Kurasa coba jalanin aja deh, agak menegangkan dan menakutkan sih, tapi gapapalah anggap pengalaman.

Victor yang melihat gue sedikit terdiam dan agak bingung langsung nyamperin dan bilangin ke gua

Victor : “Oeee bro selow lahhh, 3 bulan doank, kita kan uda biasa keluyuran and nginep2an, ga masalah lah, lagian kita juga sering hash ke alam terbuka, aman tuh. Lagian liat tuh cwe-cwe cantik dan manisnya, sexy-sexy lagi, tinggal serumah ama mreka, dekat ama mreka, adem tuh !”

Danu : “Wakakka setuju banget gue bro !”

Dony : “Ya lah ya lah ! Berarti tanggal 8 kita berangkat kan !”

Victor : “Yuppie ! Gue mau kenalan dulu ah sama cewe-cewe nya!”
Sebelum Victor pergi memperkenalkan dirinya, tiba-tiba gerombolan cewe itu datang dan sepertinya mereka uda saling kenal sesama cewe.

Laras : “Hai ! Kenalan donk ~ Gua Laras dari jurusan ekonomi smster 8, dan ini temenku Nadya dari jurusan ekonomi jg smster 8.

Nadya : (Agak malu-malu dan menunduk) “Iya salam kenal yah, saya Nadya.”

Victor : (Langsung natap ke gw dan senyum ngenes) “Oi Bro ! Teman satu jurusan ama lu nech. Cantik2 gini kok lu gak kenalin ke gw? Lu gak kenal ya ?

Saya : (Muka memerah) “Wahhh diem-diem ! Gua gak kenal, ini aja baru pertama kali ketemu. Salam kenal ya, Gua Dony dan nih si ribut ini
Victor namanya. Terus dua lagi itu Aldi dan itu Danu.”

Danu n Aldi : (Pasang tampang COOL sambil ngangguk2) “Salam kenal ya…”

Feby : (Tiba-tiba datang sambil salaman ke kami berempat) “Kenalin yah, nama ku Feby, Aku masih smster 7 jurusan keguruan.” (Sambil senyum manis)

Danu : (Berbisik ke gua) “Woi bro, montok dan cantik loh nih cewe.. Selera gue banget hehehehe.”

Saya : (Sambil menghindar dari Danu) “Eh iya salam kenal yahhh, gua Dony dari jurusan Ekonomi.”
Setelah berkenalan dengan 3 cewe ini, kelihatannya mereka ini natural banget, tapi cantik-cantik loh, kulit putih bersih, wajah bersih, manis rata2 bulat manis dan rambut lurus rapi. Wah idaman dah…

Amelia : “Ehmmm… Kenalin donk, gua Amelia smster 8 juga dari jurusan hukum.”

Victor : (Bisik ke gw lagi) “Wuih brooo kali ini coba liat baik-baik dech. Cantik putih manis rambut lurus panjang. Tipe gue banget nech !”

Saya : (Menghindar lagi dari Victor karena agak risih) “Iya.. Salam kenal, gw Dony.”

Aldi : (Bisik ke kami bertiga) “Eh cui, cwe2 kelompok kita kok cakep2 semua ya? Bakal seru nih kegiatan di desanya wakakak”

Angela : “Haloooo… Kalo saya Angela smster 7 dari jurusan kedokteran, Salam kenal yahh.”

Victor : “Wow kedokteran yahhh.. Rawat kami yah kalo ada yang sakit !” (Sambil senyum2 imut gitu dech)

Angela : “Ahahaha bisa aja koko nih ~ Oia nih satu lagi Monica, dia campuran loh Indo Japan, smster 7 jurusan Bahasa.”

Saya : (Sambil ngangguk2) “Yuppp salam kenal yahhh…”

Danu : “Wew… ada yang blasteran yahh.. pantesan agak berbeda…”

Monica : (Agak memerah dan tersipu malu, terlihat jelas karena wajahnya yg putih banget dan matanya yg bulat bersinar) “Ehh iya iya…”
Setelah selesai kenalan, kami berempat para cowo pun berkumpul lagi

Danu : “Waaahhhh mantap kali kelompok kita ini… Cewenya cakep2, Ah urusan di desa belakangan dah, yang penting tinggal bareng, aktivitas bareng sama cewe2 cakep.. Mantap abis ~”

Victor : “Wakakak… Yoi broo… Kalo gt gue ga masalah lagi deh soal berangkat utk kegiatan desa ini. Hajar hajar !”

Aldi : “Gue ngikut broo. Moga2 kegiatan desanya lancar deh hehehehe”

Saya : “Iya deh… Seru sih nampaknya, tapi kondisi desanya gimana yahh…”

Setelah selesai pertemuan di aula rektorat ini dan kami bersepuluh semuanya SETUJU untuk berangkat, maka kami tinggal mempersiapkan segala keperluan kami dalam waktu seminggu dan akan bertemu lagi pada tanggal 8 FEBRUARI 2015 untuk keberangkatannya.
Yahhh kedengarannya sih asik banget yah tinggal bareng dan aktivitas bareng teman-teman baru, apalagi bagi para cowo bisa tinggal bareng cewe-cewe cantik, bahagia banget deh, padahal mereka belum tau seperti apa desa yang akan mereka tinggali nantinya, bagaimana keadaan desa tersebut, yang pasti perlu diketahui, namanya desa terpencil, letaknya jauh dari kota lagi, ga ada inet, jaringan komunikasi dan transportasi susah, wahhh menyeramkan dehhhh…
Semuanya akan dibahas di episode selanjutnya ~
Ditunggu yah ~
Diubah oleh suwandilam
jangan ada kentang di antara kita gan,
bakalan jadi horkep gak nih? emoticon-Ngakak emoticon-Hammer2
Cerita Seram Selama Mengabdi di Desa Terpencil – Part 2

Tanggal 8 Februari 2015 pun tiba. Setelah 1 minggu persiapan berlalu, kami semua akhirnya berkumpul di bandara terkemuka di Jakarta pada pagi hari sekitar pukul 7. Kami bersepuluh bertemu di tempat yg telah dijanjikan bersama.

Victor : “Nah… Sepertinya kita semua sudah lengkap bersepuluh kan ?”

Laras : “Sudah kok. Keberangkatan kita pukul 8 nanti kan sesuai di tiket yang diberikan oleh kampus ?”

Aldi : “Ho oh.. 1 jam lagi.. Sekarang gini deh, kita bahas2 dulu yuk tentang perjalanan kita nih?”

Amelia : “Okay.”

Gue : “Loh itu cewe berempat lainnya kok ga ikut nimbrung ?” (Sambil lirik ke para cewe lain)

Kelihatannya Nadya si cewe berambut lurus sebahu dan Monica cewe blaster indo jepang yang putih dan cantik serta lumayan sexy sedang sibuk bermain HP, sedangkan Angela dan Feby sibuk mencari jajanan ringan di stand makanan yg ada di bandara.

Danu : “Ya uda biarin aja mreka, nah gini, kita kan berangkat jam 8, kemungkinan akan tiba di bandara Riau sekitaran pukul 10, perjalanan dari JKT ke RIAU lebih kurang 2 jam. Nantinya kita akan langsung dijemput oleh travel yang disediakan kampus dan butuh perjalanan 10 jam utk sampai ke lokasi.”

Laras : “Eh… itu artinya kita tiba di lokasi sekitaran jam 10 malam, ngitung-ngitung kita kan pasti break makan dan istirahat? Gak salah tuh !”

Amelia : “Iya juga ya. Uda malam banget tuh, mau nyari siapa kita di sana ? Astaga !”

Gue : (Sambil natap ke Victor) “Oi cuii, kalo nyampe nya jam 10 malam, di desa terpencil yang kita gak tau apa2, bagusnya gimana tuh ?”

Victor : (natap balik dengan tatapan kebingungan) “Entahlah bro. Jalanin aja. Gue jg masih bingung, nanti kita Tanya sama supir travel yg nganterin kita aja deh.”

Di sela-sela kami berdiskusi, tiba-tiba Angela dan Feby datang menghampiri kami membawa kan minuman kaleng.

Angela : (Ngasihin minuman ke Victor) “Ko, ini minuman kaleng, masih sejam lagi nanti kehausan.”

Victor : (Sedikit kaget dan natap ke Angela) “Eh iya iya, makasih loh Angela.”

Danu : (Sambil godain Victor dengan berbisik) “Broo.. Cantik juga nih Angela, Putih bersih, lumayan tinggi, sexy juga, baik lagi. Matanya bulat gede manis banget loh senyumannya. Hehehe

Victor : (Sambil mendorong si Danu) “Ssttt.. Jangan keras-keras… Malu gue tau !”

Feby : (Nyodorin minuman ke kami-kami lainnya) “Ini buat yang lainnya.”

Semua : “Oh thanks ya.”

Akhirnya jam pun menunjukkan pukul 8. Pengumuman dari bandara agar para penumpang segera memasuki pesawat karena pesawat sebentar lagi akan berangkat. Sesampai di dalam pesawat, kami melihat barisan tempat duduk adalah berjumlah 3 kursi untuk setiap deretnya yang artinya harus ada salah satu dari kami yg duduk terpisah. Karena yang cewe jumlahnya 6 orang, tentunya kursinya sudah pas untuk 3 – 3. Sementara karena kami cowo jumlahnya ber-4, artinya harus ada 1 orang yang duduk terpisah sendiri. Kami pun memutuskan untuk melakukan pengundian cabut kertas, 1 kertas diberikan warna merah dan 3 kertas warna putih, bagi yang mendapatkan warna merah, berarti dia harus duduk terpisah.

Danu : “Sene sene seneee… kumpul dulu, nih kita ngundi aja biar adil, pastinya yang duduk sendiri bakal bosan wakakak.”

Gue : “Oh gue jagonya cabut undian nech. Ga mgkn sial !”

Victor : “Hahahaha. Elo mah biasanya sering sial klo nyabut gini Don!”

Aldi : “Yuk..”

Sesaat setelah nyabut ~

Victor : “Gue putih cui.. Wakakkaa, gw mah emang selalu hoki klo undian gini.”

Gue : “ANJIR !!!” GUE KOK DAPAT MERAH !”

Victor : “Wkakakakak, Nasib loe lah tu!”

Akhirnya tempat duduk telah diputuskan, gue terpaksa duduk dibarisan depan sendiri, di belakang gue ada Victor, Danu dan Aldi, di belakang mereka ada Laras, Nadya dan Amelia, di belakang mereka lagi ada Angela, Monica dan Feby.
Setelah 2 jam penuh kebosanan di dalam pesawat, akhirnya kami tiba di bandara Riau yang mungkin sangat baru bagi kami. Kami semua belum pernah pergi ke Riau, sesampai di bandara kami segera muter-muter untuk nyari supir travel yang telah disediakan oleh pihak kampus. Sambilan kami menelepon, kami pun mencari kesana-sini agar lebih menghemat waktu. Tidak lama kemudian, kami bertemu dengan supir travel yang disediakan oleh kampus. Ternyata supirnya adalah seorang bapak-bapak yang kira-kira usianya sudah mendekati 40an ke atas dan bergolongan darah Jawa yang dapat kami ketahui dari gaya bicaranya yang lembut dan sopan.
Kami pun mengikuti Bapak tersebut ke mobilnya dan setelah ketemu mobilnya.

Victor : (Lihat ke mobil dan bisik ke gw) “Tuh lihat mobilnya, tipe agak panjang, dan sepertinya posisi duduknya di depan hanya bisa 2 orang buat supir dan 1 orang kita, terus belakangnya bakal 3-3-3. Wakakka artinya 1 orang dari kita yg cowo harus jadi tumbal duduk depan lagi selama 10 jam wakwakwka.”

Gue : “Hahahaha… Diem lu… Ga usah liat2 ke gw napa.. Ga bakal sial lagi gw klo soal ngundi-ngundi”

Danu : “Hehehe.. Yuk kita undi lagi seperti tadi !”

Pengundian pun berlangsung kembali ~

Aldi : “Gue putih lagi nih, artinya duduk bareng-bareng biar ga bosan hehe!”

Gue : “Ahhh BIADAB !!! KOK GUE MERAH LAGI !”

Danu dan Victor : (Ngakak terbahak-bahak) “Wkakakakaka SURAM KALI KAU BRO~! WKAKAKA”

Para cewe yang melihat Danu dan Victor tertawa begitu keras sampai kebingungan dan salah satu dari mereka pun menghampiri ~

Amelia : (Sambil ngampirin ke gw yang tampangnya lagi menyedihkan) “Kalian ngapain sih? Kok ketawa-ketawa lepas gitu?” (Sambil senyum-senyum)

Gue : (Garuk-garuk kepala) “Eh gapapa gapapa. Hehehe”

Victor : (Bisikin ke Amelia) “Diaa suram muluh klo ambil undian hahahaha”

Gue : (Narik si Victor) “Oiii dieemmm lu berisik…”

Setelah selesai menentukan pilihan, akhirnya Gue mesti duduk di depan bersama si Bapak supir, di belakang gua ada Laras, Nadya dan Amelia dan di belakangnya lagi ada Angela, Monica dan Feby dan yang paling belakang barulah diisi oleh Danu, Aldi dan Victor. Ahh asal gue liat ke belakang, mereka pasti cengengesan dan ngeledekin gua.. Mereka asik ngobrol-ngobrol, sementara gue ngantuk duduk di depan sendiri. Mau ngobrol ke belakang, isinya cewe yang bisa dibilang masih gue masih canggung.

Kami start jalan dari mobil sekitaran pukul 11 siang, selama diperjalanan ya gue kebanyakan ngelihat pemandangan di jalan dan sekali-kali ngobrol ama cewe-cewe di belakang gue. Sementara temen gue yg cowo lainnya sibuk main game or entah bahas apalah yang keliatannya seru, tapi gue ga bisa nyambung.

Ga lama kemudian, jam pun menunjukkan pukul 6 sore. Artinya kami sudah 7 jam di perjalanan dan sekarang kami sedang break karena pak supirnya ingin istirahat dan sholat sebentar sambilan cari makan malam. Kami pun berhenti di masjid yang berukuran sedang dan kelihatannya jumlah pemukiman penduduk di sini sudah mulai jarang, tidak sepadat seperti sebelumnya.

Kami pun memutuskan untuk cuci muka dan makan di salah satu warung makan yang berada di pinggiran jalan. Warung ini kelihatan lumayan, tempatnya yang luas dan bangunannya yang terbuat dari kayu-kayu menambah nuansa kehidupan dengan alam bebas sesuai kesenangan hatiku, namun sayangnya yang membuat kami gelisah yaitu ga ada seorangpun yang makan di tempat ini, hanya kami

bersepuluh termasuk si pak Supir. Tapi biarlah, makan beginian toh ga bikin mati kok ~ hehehe

Danu : (Mendekati si pak supir) “Oh ia Pak, kami mau nanya nih Pak, ini kan sudah pukul 6 sore, berarti klo kita jalan terus masih sekitaran 3 sampai 4 jam lagi kan? Entar nyampai di desanya uda mau tengah malam. Apa masih ada orang di desa tuh?”

Pak Supir : (Sedikit terdiam) “Emm sepertinya ga ada orang lagi dik. Kita nginep di sini dulu ampe tengah malam, ampe warung ini mau tutup, terus nanti kita baru berangkat pelan2 biar kita nyampainya subuh.”

Gue, Victor dan Aldi sedikit kaget mendengar perkataan si pak Supir.

Pak Supir : “Oh iya, nanti pas subuh berangkat, saya juga tidak bisa bawa cepat, soalnya jalan menuju ke desa kalian ini termasuk jalan yang sangat jarang dilewati orang, bisa dibilang jalannya agak susah, sepi dan gelap.”

Gue : “Sepi dan gelap, Pak ?!”

Pak Supir : “Iya dik. Namanya juga desa terpencil. Memang sangat jarang dilalui orang-orang. Masyarakatnya juga saya dengar sangat primitif, kurang begitu terbuka dengan lingkungan luar. Terus sepanjang perjalanan nanti juga kebanyakan hutan-hutan dan semak-semak. Sangat minim jumlah pemukiman warga. Jadinya jalannya agak gelap.”

Gue : (Sambil nelan ludah, glekk dan bisik ke Victor) “Ini benar-benar suram neh.”

Victor : (Balas bisik ke gue) “Yoo mau gimana lagi. Suram sih suram, tapi seru keknya kan, kayak di game-game, hidup di village gitu, indah ~ wakakka” (Sambil nenangin diri)

Pak Supir : “Oh iya, kalian tolong kasi tau ke yang cewe-cewe ya, tapi ga usah jelasin terlalu panjang lebar, bilang aja kita istirahat dulu dan berangkatnya pas tengah malam biar nyampainya subuh. Okay ?”

Kami semua : “Ehhhmm.. Baik pak.”

Setelah makan malam selesai, kami berempat pun langsung memberitahu para cewe tentang informasi yang disampaikan oleh pak Supir. Si Victor langsung mendekati Amelia, si gadis cantik berkulit putih dengan rambut hitam lurus yang lumayan panjang. Sementara gue menghampiri Monica, cewe blasteran yang putih dan cantik dengan rambut lurus panjang yang berwarna kecoklatan dan Angela, si cewe putih cantik berambut hitam lurus panjang dengan poni Dora.

Kalau Danu dan Aldi sudah pasti langsung menghampiri Laras, Nadya dan Feby.
Sebelumnya kami berempat para cowo sih sudah jelasin hal ini, sambilan ngabdi di desa, sambilan PDKT. Jadi kami kasih ruang gerak buat masing-masing kami melakukan pengenalan diri lebih dalam.. Hehehe, bisa di bilang sambil nyelam minum air deh ~ KKN KELAR, SKRIPSI KELAR, GEBETAN DAPET ~ Moga-Moga Sichhh ~

Tak lama setelah kami menginfokan hal ini kepada para cewe, tampaknya mereka menjadi sedikit cemas dan terdiam. Ya wajar saja, mereka pasti berpikiran yang macam-macam seperti kami. Para cowo aja cemas apalagi para cewe, mengingat jalanan yang gelap, suasana yang sepi dan pemukiman penduduk yang begitu jarang. Jalan yang agak susah dilalui, kiri kanan lebih banyak hutan dan semak-semak. Wah bisa dibayangkan bagaikan di negeri antah berantah ini ~

Jam pun menunjukkan pukul 12 malam, warung makan akan segera tutup, kami pun membangunkan beberapa orang dari kami yang sudah tertidur pulas karena kecapekan di mobil, tampaknya si Pak Supir juga baru saja bangun dan ia pergi cuci muka untuk siap-siap berangkat lagi.
Wahhhh… Langit yang masih begitu gelap, suasana yang begitu sunyi senyap, sekeliling yang dapat kulihat hanyalah hutan dengan pohon yang menjulang cukup tinggi, sebagian lagi tampak tebing-tebing dan udara tengah malam yang begitu dingin membuat bulu kudukku merinding ~
Pemukiman warga yang nyaris tidak terlihat dari sini, hanya warung makan di pinggiran jalan ini saja yang bercahaya. Baiklah, pak Supir pun sudah siap cuci muka dan masuk ke dalam mobil, perjalanan menuju desa terpencil pun akan dilanjutkan lagi ~


Diubah oleh suwandilam
udaha gan?
Masih lanjut bosss hahaha
Ijin ninggalin jejak gan
Gan lanjut gan.. Gan lanjut dong.. Woy gan lanjutt plisss emoticon-Mewek mumpung ane gelar tukar nih emoticon-Hammer (S) emoticon-Big Grin
Lagi proses ngetik nih hehehe sabar2
Ngetik dlu aja gan, ane tungguin kok
Wan,tak ada kah foto foto kaliab di sana?
Cerita serem lagi nih
Cerita Seram Selama Mengabdi di Desa Terpencil – Part 3

Suara mesin mobil pun telah terdengar, kami semua mulai naik ke dalam mobil untuk siap-siap berangkat. Para cewe kelihatannya masih kecapekan dan masih mengantuk. Sementara gue melihat ke belakang, Danu dan Victor kelihatannya juga ngantuk, sementara Aldi sedikit terjaga. Gue yang duduk di depan susah untuk tertidur karena harus menemami pak Supir bercerita agar beliau tidak ikut-ikutan ngantuk.

Wah memang benar kiri kanan rata-rata hutan dengan pohon yang menjulang tinggi yang rimbum, tebing-tebing juga terlihat, terkadang kalau di lihat ke sisi kanan atau kiri, bisa terlihat seperti jurang ke bawahnya. Sementara kalau gue lihat ke belakang, tampaklah Laras, Nadya dan Amelia yang sedang sandaran sambil tidur-tiduran. Wihh cantik banget mereka pas lagi tidur, itu yang ada dipikiran gue (Coba aja klo Victor duduk di sini, bisa nengokin si Amelia lagi tidur neh).

Biar ga bosan, gue pun bercerita2 dengan pak Supir.

Gue : “Pak, uda jam 4 subuh nih, berarti sebentar lagi sampai kan?”

Pak Supir : “Iya dik. Lebih kurang 1 jam-an lagi kita sampai. Oh iya, kalian kok bisa dapat kegiatan seperti ini ya ?”

Gue : “Ho oh.. Kami dapat pengumuman dari kampus tentang kegiatan ini. Dananya juga diberikan dari kampus, tugas kami di sini ya melakukan pembangunan terhadap desa yang katanya terpencil ini Pak, terus dengan kata lain kuliah kami lgsg kelar Pak setelah kegiatan ini siap.”

Pak Supir : (Sambil mengangguk-ngangguk dan menatap ke saya) “Sudah pernah dengar cerita tentang desa ini sebelumnya Dik?”

Gue : (Menggeleng-geleng kepala seperti kebingungan) “Emm, belum pernah Pak. Saya dapat informasi dari kampus saya, katanya kegiatan ini juga perdana diadakan. Desanya aja kami belum tau sebenarnya, kami disuruh meraba-raba sendiri dan bersosialisasi langsung ketika sampai di desanya. Memangnya kenapa Pak”

Pak Supir : “Owh begitu.”

Gue : (Sedikit penasaran) “Memangnya kenapa Pak? Kok sepertinya Bapak mau mengatakan sesuatu tapi tidak jadi ?”

Pak Supir : (Sedikit ragu-ragu) “Emm.. Selama kalian mengabdi di desa itu, Bapak sarankan kalian jangan berbuat yang macam-macam yah. Desa itu masih terkenal kuat akan kekuatan mistisnya. Setahun yang lalu, Bapak juga pernah mengantarkan rombongan mahasiswa seperti kalian yang jumlahnya juga 10 orang dari universitas lain, tetapi….”

Gue : (Semakin penasaran) “Tetapi kenapa, Pak ?”

Pak Supir : (Menghela nafas panjang) “Tetapi mereka semua tidak ada yang kembali dengan selamat….”

Gue : “HAHHH?!!! (Dengan nada agak teriak karena kaget) Yang benar Pak ?”

Pak Supir tersebut hanya mengangguk seolah-olah mengiyakan apa yang disampaikannya barusan, namun beliau tidak mau cerita panjang lebar lagi meskipun gue terus bertanya. Sejenak gue terdiam kaget dan melihat ke belakang, syukurlah semua teman-teman gue sepertinya tertidur dan tidak begitu mendengar percakapan gue dengan pak Supir ini. Ahhh gila ini… Yang benar saja ada kejadian seperti itu di zaman modern ini pikirku. Lupain aja deh, gue pun malas ceritain ke teman-teman lainnya. Eittss,, rasanya tadi ada salah satu cewe yang juga sadar deh akan percakapan gue dengan pak Supir, tapi siapa ya ??? Ah mudah-mudahan enggak ada yang denger deh.

Perjalanan pun terus dilanjutkan, sesaat aku melihat ke arah jam tanganku yang telah menunjukkan pukul 6 pagi, Pak Supir pun mengatakan bahwa kita sudah memasuki kawasan desa terpencil ini, kulihat teman-temanku di belakang, mereka semua sudah terbangun dan menyaksikan pemandangan alam desa ini yang memang benar-benar memukau hatiku dan mungkin hati teman-temanku.

Yapp. Begitu indahnya pemandangan desa ini. Hamparan sawah yang begitu hijau, tebing-tebing dan bukit yang masih rimbun dan hijau, air sungai kecil yang begitu jernih dan tidak penuh akan limbah. Butiran embun yang membasahi kaca mobil ini (Wah ini seperti nya di dataran tinggi desanya menurut gue). Lika liku jalan dari tanah liat dan berpasir yang begitu sepi. Kupandangi setiap jalan yang dilewati oleh mobil ini dan gue sedikit terkejut.
(GILE ! Ga ada lampu penerangan jalan sama sekali ! Kalo malam hari macam mana ini ! Bakal gelap gulita semacam kota mati)

Tak lama kemudian, kami pun sampai di rumah Pak Kades (Kepala Desa). Pak Supir ini memperkenalkan kami kepada Pak Kades dan menjelaskan tentang kegiatan yang akan kami lakukan di sini. Sosok pak Kades ini berbody tinggi tegap, warna kulit lumayan hitam dan memiliki janggut yang lumayan lebat dan cukup membuat kami sedikit ketakutan, jangan-jangan orangnya serem, tetapi ternyata Pak Kades memberikan respon yang baik, ramah dan bersahabat, kami pun diajak masuk ke rumah pak Kades, ahhh lega hatiku ~. Rumah Pak Kades ini tergolong cukup besar, hanya saja terletak di tempat terpencil begini, klo di kota, uda termasuk orang kaya banget nih menurut gue.

Kami pun memperkenalkan diri kami masing-masing. Bercerita-cerita tentang kegiatan yang akan kami lakukan. Pak Kades pun mengatakan akan menghubungi pihak kampus bahwa kami telah tiba dengan selamat di desa ini.

Tidak terasa jam telah menunjukkan pukul 12 Siang. Kami pun di ajak makan siang bersama di rumah Pak Kades yang kebetulannya istrinya sudah mempersiapkan makanan lebih karena kami akan datang hari ini. Selesai makan, Pak Supir mohon izin untuk pulang meninggalkan kami, Beliau mengatakan nanti jika ingin pulang setelah 3 bulan, hubungi saja Pak Kades, Beliau akan menelepon saya untuk mengantar kalian pulang.

Setelah pak Supir pulang, Pak Kades pun mengantar kami dengan mobil pickup menuju tempat hunian kami (karena kami cukup ramai, sehingga sebagian harus duduk di bak mobil blakang yang terbuka). Victor dan Danu dipersilahkan duduk di depan untuk menemani pak Kades.

Oh iya, kelompok kami ini tidak ada memakai sistem siapa ketua dan wakil ketua grup. Kami sepakat untuk mempersilahkan setiap anggota menyampaikan pendapat mereka dan memimpin setiap program jika yang bersangkutan mampu, namun sepertinya Victor dan Danu memang terlihat lebih cocok untuk memimpin dalam kondisi begini. (Hehehe, gue dan teman-teman lainnya kurang suka ngurus ini itu soalnya).

Beberapa menit perjalanan, tibalah kami di tempat hunian kami yang ternyata WOW, rumahnya cukup gede, sayangnya terbuat dari papan saja. Di belakang rumah kami kira-kira berjarak beberapa ratus meter, terdapat sumur, kemudian pekarangan rumah kami cukup luas dan hanya dipenuhi oleh rumput-rumput hijau biasa dan juga beberapa pohon yang lumayan tinggi dan berdaun lebat sehingga terasa begitu sejuk. Memang benar, pemukiman warga sangat sedikit. Jarak dari satu rumah ke rumah lain cukup jauh, dari beberapa puluh meter hingga ratusan meter, jalannya pun hanya jalan setapak tanah liat yang bercampur pasir, selebihnya hanya rumput-rumputan hijau yang tumbuh dan pohon-pohon hijau yang menghiasi pemandangan rumah kami ini.

Pak Kades : “Nah, selama 3 bulan kalian akan menempati rumah ini, rumah ini tergolong cukup luas kok, ada beberapa kamar kosong yang bisa kalian gunakan, beberapa ruangan kosong yang bisa kalian pakai untuk meletakkan peralatan kalian. Oh ia, untuk kamar mandi ada di dalam rumah ini, hanya saja buat yang ingin BAB, tempat nya terpisah.”

Amelia : “Eh ? Maksudnya pak?”

Pak Kades : “Iya, untuk tempat BAB, tempatnya ada di luar rumah ini, sekitaran beberapa puluh meter dari rumah, sebelum sumur belakang.”

Laras : “Wah, berarti kami harus keluar rumah donk Pak ? Kalo malam kebelet gimana yah ?”

Pak Kades : (Sambil senyum) “Ya begitulah, harus keluar. Hahaha” (Sambil tertawa)

Danu : (Bisik ke Victor dan Gue) “Nah kita bisa jadi pahlawan nih, temenin cewe tiap x mau boker?!” Wkakakaka

Victor : (Balas bisik ke Danu) “Setuju banget gue. Kesempatan neh ! hahahaha. Ya gak Don?”

Gue : (Sedikit kurang merespon karena masih teringat cerita pak Supir tadi) “Eh, iya iya.”

Victor : “Ah elu kok malah nda semangat gini sih? Jangan-jangan takut pula lu ya?

Gue : “….” (Ga bisa ngomong apa-apa)

Pak Kades : (Tersenyum melihat kami semua sedikit cemas) “Udah udah tenang aja, ga perlu ada yang dicemaskan dan ditakutin kok. Desa ini aman-aman saja dan tak pernah ada masalah. Nih ambil koper-koper kalian dan bawa masuk ke dalam rumah. Minggu awal ini kalian istirahat saja dulu, lakukan penyesuaian diri dengan lingkungan dan sosialisasi dengan warga dulu ya. Sambilan melihat potensi-potensi apa yang bisa kalian jadikan program kegiatan kalian. Nanti kalau uda ada, baru hubungi saya ya.”
Kami Semua : (Mengangguk-ngangguk) “Baik Pak. Terima kasih atas bantuan dan perhatiannya.”

Pak Kades pun meninggalkan kami, kami semua mulai memasukkan koper-koper kami ke dalam rumah, mulai beres-beres rumah, nentuin kamar, nentuin kegiatan, saling pengenalan diri sesama anggota, bercerita-cerita, bagi tugas dan lain-lain layaknya anak KKN deh ~

Nah terhitung dari episode ini, mulailah kejadian-kejadian seru dan menegangkan serta menyeramkan menghantui hari-hari kami.
Silahkan nantikan episode selanjutnya, akan ada pengenalan diri untuk setiap tokoh dalam cerita ini.



Quote:


Emm untuk foto-foto saya tidak punya karena cerita ini sudah bercampur fiksi, namun nanti akan saya sertakan foto-foto penunjang untuk menambah suasana cerita agar lebih menarik ~

Foto-foto ini bukan milik saya dan tentunya juga bukan foto pemandangan desa terpencil yang saya maksud tersebut, saya hanya mengambil foto pemandangan yang kira-kira mirip dan dapat mengilustrasikan kira-kira seperti apa lingkungan desa tersebut utk menambah imajinasi pembaca.

Cerita Seram Selama Mengabdi di Desa Terpencil

Cerita Seram Selama Mengabdi di Desa TerpencilCerita Seram Selama Mengabdi di Desa Terpencil
Diubah oleh suwandilam
Mantap emoticon-2 Jempol Gasss Terus broo
gak dibuatkan index gan ?
biar gampang bacanya gitu....hehehe

saran aja sih yah gan...emoticon-Smilie
Pakein spasi antara paragraf ya om. Biar ga mumet bacanya. Ditunggu updatenya. Jgn ampe kentang.
Quote:


Okay gan.. Sudah dibuatkan indexnya.
Quote:


Okay beres, di update selanjutnya akan pakai spasi ~
Cerita Seram Selama Mengabdi di Desa Terpencil – Part 4

Setelah pak Kades meninggalkan kami, kami pun merapikan segala peralatan dan barang-barang yang kami bawa. Sambilan merapikan barang-barang. Gue dan Victor sambilan ngecek kondisi rumah ini, sementara Danu dan Aldi hanya duduk dan beristirahat mungkin karena capek merapikan barangnya. Para cewe juga kelihatan sedang istirahat dan merapikan barang mereka, klo cewe ya wajarlah, agak rapi dibanding kami hehe..

Gue : “Oe Vic. Rumah ini mayan gede ya. Cuman pondasi dindingnya rata2 dari kayu, banyak lubang n celah-celah lagi, sarang laba-laba juga banyak, debu juga banyak yah.”

Victor : “Yoi, ga usah heran lah klo itu. Eh kita cek seisi rumah ini yok? Oia klo soal celah-celah, itu hoby Danu tuh ntar, bisa ngintip2an, lu juga pengen kan?”

Gue : “Ah gue sih enggak kek kalian deh. Udah ah kita ngecek2 dulu deh.”

Kami pun mengelilingi rumah ini dan kami dapatkan ada 3 kamar kosong yang bisa kami jadikan tempat tidur kami. 1 kamar untuk 4 cowo, dimana barang-barang cowo diletakkan di ruangan tengah, jadi kamar hanya untuk tidur, 1 kamar untuk cewe yang terdiri dari Laras, Nadya dan Amelia, kemudian 1 kamar lagi untuk Angela, Monica dan Feby.

Kamar pertama terletak di depan dekat pintu masuk rumah yang diisi oleh rombongan Laras, kamar kedua tepat dibelakang kamar pertama yang diisi rombongan Angela, sementara kamar ketiga terletak agak ke belakang ke arah dapur dan kami yang menempatinya.

Ruangan kosong yang ada yaitu ruang tamu yang kosong, ruang tengah yang hanya ada satu lemari milik pemilik rumah ini, dapur yang cukup luas dan terdapat beberapa peralatan makan seperti piring, gelas dll milik pemilik rumah ini, gudang dan kamar mandi serta toilet utk BAB terletak di jalan belakang. Ya kira2 beginilah kondisi rumah yang kami tinggali utk 3 bulan ke depan ini.

Sambilan mengecek-ngecek rumah, tidak terasa jam telah menunjukkan pukul 7 malam.
Lampu di segala sisi rumah kami hidupkan karena dari luar sangat gelap (Ga ada lampu penerangan jalan sama sekali, yang ada palingan lampu dari rumah-rumah warga, itupun jarak nya sangat jauh). Meskipun demikian, pada malam hari yang sunyi senyap ini, cahaya rembulan begitu terang karena alam di desa ini sangat bersih dari polusi udara, Langit malam memang gelap, namun ditemani cahaya rembulan yang remang-remang dan udara yang dingin sejuk sangat menenangkan hati dan membuat pikiran nyaman dan betah untuk tinggal di sini, ya hitung-hitung melepas lelah dan kebosanan tinggal di kehidupan kota.

Untuk malam pertama, kami mendapatkan makan malam yang telah disediakan oleh istri pak Kades saat siang tadi. Makan malam pun selesai, dan kira-kira jam sudah mau menunjukkan pukul 9 malam, kami berkumpul di ruang tamu untuk bercerita-cerita mengisi malam pertama kami di desa terpencil ini. Amelia dan Laras yang mulai membuka topic pembicaraan.

Amelia : “Hei…Kita kan bakal 3 bulan nih tinggal di desa ini. Kita bagi tugas dulu yuk ?”

Laras : “Yah.. Kita harus bagi tugas utk piket deh paling enggak. Pas hari ini, kalian bertugas untuk belanja, masak dan bersih-bersih rumah. Setuju gak?

Victor : “Gue okay aja.”

Gue : “Yup bebas.”

Danu dan Aldi juga mengangguk dan mengiyakan saja.

Monica : “Oh ia baginya gimana tuh?”

Amelia : “Emm, klo menurutku, gimana klo kita bagi 5 orang dalam satu kelompok piket? Jadi selang seling gitu deh piketnya, satu kelompok terdiri dari 2 cowo dan 3 cewe, pas kan ?”

Danu : “Sippp.. Gue bareng Aldi, Laras, Angela dan Feby ya. Setujukan Aldi?!” (Tiba-tiba bersuara)

Aldi : (Nganguk-nganguk)

Seketika Laras, Angela dan Feby terkejut

Angela : “Eh kami?? Oke deh.”

Victor dan gue yang mendengar ucapan dari Danu tiba-tiba terdiam dan saling bertatapan.

Victor : (Bisik ke gw) “Mantap banget si Danuuuuu brooo… Pengertian banget dia ama kita?!!! Wkwkwkwk”

Gue : (Masih agak bingung) “Ha? Maksudnya?”

Victor : (sambil nendang gua) “Ah bego loeee.. Berarti kita kan sekelompok ama Amelia dan Monica si cewe rambut coklat yang lu bilang cantik itu !”

Gue : (Baru tersadar dan senyum2) “Wooooo iya Bro IYA !!! WKakakakak KOK GA SADAR YA GUE DARITADI ! Wkakakakak “

Tiba-tiba Amelia, Monica dan Nadya datang menghampiri kami dan duduk di dekat kami.

Amelia : “Okay karena kita sekelompok piket. Mohon kerjasamanya ya dan saling membantu untuk 3 bulan ke depan?!”

Victor : (Dengan pedenya) “Oh siap siap buk ! Pasti itu.”

Gue : (Senyum-senyum lihat ke Victor karena tau dia lagi kesenengan) “Aman dah tuh klo ada Victor, lu nyuruh dia napain aja dia juga mau, ngangkat air ke kamar mandi dari sumur juga mau tuh wakakak.”

Victor : “Eh brengsek lu hahahaa.”

Monica dan Feby pun tertawa kecil mendengar ucapan ku ~ Woo bahagia nih bisa bikin Monic tersenyum pikirku hahahahahaha
Sementara kalo melihat ke kelompok Danu dan Aldi, sepertinya Danu begitu semangat deh di kelompok itu, yah maybe ada yang ditaksir juga hehehe, klo Aldi sih sepertinya dia enjoy-enjoy aja. Anaknya kalem dan sopan, ya mgkn tidak senakal kami lah ~

Teng ~ Jam menunjukkan pukul 9 malam, tiba-tiba seisi rumah kami menjadi gelap dan hanya sinar rembulan yang tersisa.

Angela : “Aaaaaa…. !!!!” (Menjerit kaget)

Danu : “Eh kenapa Angel? (Sambil ngidupin lampu dari HP)

Mendengar jeritan dari Angela, tiba-tiba gw juga kaget dan kepikiran akan yang dibilang si Supir ini. Ah ga mungkin ga mungkin, ini Cuma mati lampu aja. Sambil nenangin diri.

Angela : (Menghembuskan nafas kecil) “Oh maaf gapapa gapapa… Aku hanya kaget tiba-tiba mati lampu.”

Kami semua : (agak lega) “Oh syukurlah.”

Dalam keadaan mati lampu, suasana kami semakin tegang dan hening. Hanya lampu dari 2 HP yang kami nyalakan guna menghemat baterai. Ah siapa yang nyangka di malam pertama tiba sudah dikagetkan dengan mati lampu.

Victor : (Lirik ke gw) “Eh Don, lu kenapa? Kok jadi diam gtu?”

Gue : (Tegakkan kepala) “Oh gapapa gapapa, Cuma sedikit ngantuk aja hehehe.”

Monica, Amelia dan Nadya melihat ke arah gue, gue jadi malu dikirain gue takut padahal lagi kepikiran karena perkataan pak Supir tadi pagi nih. Dalam keadaan yang cukup gelap, gw pandangin setiap temen-temen yang sekelompok piket ama gw. Kelihatannya kok raut muka Monica agak cemas ya. Kalo Amelia dan Nadya sih biasa-biasa aja main HP mereka.

Victor : (Nyenggol gue) “Eh Bro.. Bengong mandangin apa sih? Jangan mikir yang macam-macam deh ! Kerasukan entar lo !”

Gue : “Bawel lu ah ! Gw lagi liatin raut muka Monica, kok kayaknya dia agak cemas gtu ya? Apa ada sesuatu?”

Victor : (Lirik ke Monica trus senyum2 ke gue) “Biasa aja tuh dia. Ah perasaan loe aja kali, lu mikir yang enggak2 tentang Monica ya? Baru malam pertama juga uda mau macam2 lu.

Gue : “Taikkk lu !”

Sambilan bercanda dengan Victor, sepertinya klompok Danu dan Aldi sudah mulai beranjak dari tempat duduk dan masuk ke kamar.

Victor : “Eh, Dan, kalian uda siap diskusi n bagi tugasnya?”

Danu : “Udah sih, Lagian mati lampu, uda ngantuk dan capek mereka, tadi pagi kan kurang lelap tidur di mobil.”

Gue : “Iya juga sich, ya uda deh masuk kamar lagi yuk, mati lampu entah ampe kapan, tapi syukurlah dingin, angin bisa masuk dari celah2 papan.”

Akhirnya kami berempat pun masuk ke kamar dan di dalam kamar kami matikan cahaya dari HP sambil baring-baring. Suara jangkrik dan serangga di malam hari dapat terdengar dengan jelas dari kamar kami. Wah benar-benar alam yang indah dan tenang seperti di game game fantasy nih pikir gue. Tak lama kemudian, terdengarlah suara rintik-rintik hujan turun perlahan-lahan dan mulai deras.
Sbelum tertidur, kami pun saling bercerita.

Danu : (Membuka topik) “Eh bro-bro… Gimana menurut kalian para cewe itu ? Coba kasi pendapat kalian masing2 deh. Daripada bosan kita, gue belum ngantuk kali soalnya.”

Victor : “Hmm.. Kalo menurut gue, si Amelia ini orangnya agak tegas dan sinis deh, tapi dia punya jiwa kepemimpinan yang mayan oke tuh, pengertian juga mgkn. Yg bikin gue demen sih ya postur tubuhnya mayan tinggi lah, rambut lurus hitam. Klo lu Don?”

Gue : “Klo menurut gue si Monica juga tipe gw sih, Dulu gue pernah ngejer sosok cewe yang mirip dia, rambutnya panjang dan agak kecoklatan, matanya agak gede, cantik dan sexy deh menurut gue, sifatnya sih kayaknya agak pendiam dan pemalu ya, tapi kayaknya pengertian dan asik diajak cerita deh, mungkin yah.”

Aldi : “Kalo gue liat Laras sih mirip kayak Amelia, sedangkan Nadya mirip kayak Monica, hanya beda sifat aja. Coba klo sama, mungkin lu dan Victor bisa galau milihnya ~ Hehehe.”

Victor : (Sambil berpikir) “Eh bener juga kata lu ya Di. Fisik dan facenya mirip2 hahaha.”

Danu : “Nah klo menurut gua si Feby itu body nya oke nih, sexy dan montok, putih bersih juga, mata gede, rambut pnjang. Cakep deh. Nah klo si Angela, cakep juga kayak Feby, rambutnya panjang, poninya rata kayak poni Dora, matanya bulat dan senyumannya manis. Cakep lah, sayangnya bukan tipe gw aja. Klo sama, gue jg bakal galau milihnya wakwkawka.”

Gue : “Ah udah udah, tidur lagi. Gue ngantuk, kalian di mobil mendingan dapat tidur. Gue duduk depan temanin supir, kagak bisa tidur!”

Victor : “Hahahahah Lu mah klo ngajak bahas cewe pasti gitu, biasanya semangat, kok sekarang jadi enggak ya?”

Gue : “Ga tau ah ~” (Gue lanjut tidur, gue ga bisa mikir macam2 karena masih keingat perkataan pak Supir tadi, ah ga nyaman banget jadinya)

Nah malam hari pertama pun kami jalanin dengan tidur dalam kondisi mati lampu, angin sepoi-sepoi yang dingin yang berhembus dari luar terkadang membuat ku merinding, tetapi ya itu hanyalah hembusan angina, gue ga mikir macam2. Akhirnya kami berempat pun tertidur.

Di tengah lelapnya tidur kami, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kami terus menerus sambil manggil nama gue…
Wew… Siapakah itu ? Gue terbangun dan dalam kondisi setengah sadar, gue masih mendengar suara itu…..


Diubah oleh suwandilam
Naro sendal dulu gan,,kl rajin update nanti ane pantengin ini trit
Lihat 1 balasan
Halaman 1 dari 146


×
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di