alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/57289ca756e6af857e8b456e/inilah-data-fakta-amp-rekor-saat-leicester-juara
Inilah, Data-Fakta & Rekor saat Leicester Juara
Inilah, Data-Fakta & Rekor saat Leicester Juara

Solopos.com, LEICESTER – Leicester City telah memastikan diri menjadi juara Liga Premier Inggris 2015/2016. Terdapat beberapa data yang menakjubkan mulai dari skuat yang minim hingga konsistensi performanya.

Kepastian gelar juara Liga Premier Inggris 2015/2016 didapat Leicester setelah rival utama mereka, Tottenham Hotspur, hanay bermain imbang 2-2 melawan Chelsea, Selasa (3/5/2016) dini hari WIB. Tambahan satu poin tak cukup bagi Tottenham untuk mengejar perolehan poin The Foxes.

Ini merupakan gelar juara pertama bagi Leicester di ajang Premier League. Sebelumnya mereka sudah pernah mencicipi gelar juara divisi dua sebanyak tujuh kali, dan juara divisi tiga sekali. Hal itulah yang membuat cerirta Leicester juara ini layaknya dongeng bagi sebagian kalangan termasuk para pemain.

Apalagi musim lalu, Leicester berada di jurang degradasi dan bisa selamat di laga-laga akhir liga. Seperti dikutip dari BBC, Selasa (3/5/2016) kesuksesan Leicester menjadi juara musim ini tak terlepas dari konsistensi performa mereka. Tim polesan Claudio Ranieri itu sangat akrab dengan posisi lima besar.

Leicester di Premier League 2015/2016

25 pekan di posisi pertama

5 pekan di posisi kedua

4 pekan di posisi ketiga

1 pekan di posisi keempat

2 pekan di posisi kelima

1 pekan di posisi keenam

Data dan fakta lainnya yang dilansir BBC adalah poin Leicester sebagai juara akan menjadi yang tersedikit dalam lima musim terakhir Liga Premier Inggris. Saat ini Leicester mengoleksi 77 poin dengan dua pertandingan tersisa, membuat mereka maksimal menutup musim dengan 83 poin.

Poin Juara Premier League dalam 5 musim (termasuk musim ini)

2011-12 Manchester City, 89 poin

2012-13 Manchester United, 89 poin

2013-14 Manchester City, 86 poin

2014-15 Chelsea, 87 poin

2015-16 Leicester, 77 poin (maksimal 83 poin)

Data lainnya adalah skuat Leicester musim ini bukanlah skuat dengan biaya mahal. Bahkan skuat The Foxes musim ini menjadi yang terendah keenam dibanding klub-klub Premier League lainnya. Total skuat Leicester hanya senilai 63 juta poundsterling atau setara dengan Rp1,2 triliun.

Berikut harga skuat Premier League saat ini

Man City 415 Juta Pounds

Man Utd 395 Juta Pounds

Chelsea 280 Juta Pounds

Liverpool 260 Juta Pounds

Arsenal 231 Juta Pounds

Tottenham 159 Juta Pounds

Newcastle 145 Juta Pounds

Southampton 139 Juta Pounds

Everton 112 Juta Pounds

Sunderland 112 Juta Pounds

West Ham 106 Juta Pounds

Aston Villa 93 Juta Pounds

Stoke 73 Juta Pounds

Crystal Palace 72 Juta Pounds

Leicester 63 Juta Pounds

West Brom 62 Juta Pounds

Swansea 56 Juta Pounds

Watford 53 Juta Pounds

Norwich 55 Juta Pounds

Bournemouth 43 Juta Pounds

Data tersebut bak menunjukkan bahwa uang tidak serta-merta menjamin kesuksesan. Tentu faktor Ranieri, yang baru kali ini menjuarai liga divisi teratas, tak dapat dikesampingkan. Ia terbukti mampu meracik taktik terbaik dengan pemain yang ia miliki.

Sehubungan dengan pemain, nama Jamie Vardy dan Riyad Mahrez menjadi dua pemain Leicester yang paling menonjol. Vardy dan Mahrez menjadi pemain yang paling berkontribusi untuk gol-gol Leicester.

Gol terbanyak Leicester

Jamie Vardy: 22

Riyad Mahrez: 17

Leonardo Ulloa: 6

Shinji Okazaki: 5

Assist terbanyak Leicester

Riyad Mahrez: 11

Danny Drinkwater: 7

Jamie Vardy: 6

Marc Albrighton: 6

Penampil terbanyak Leicester

Marc Albrighton: 36

Wes Morgan: 36

Kasper Schmeichel: 36

Ngolo Kante: 35

Riyad Mahrez: 35

Jamie Vardy: 34

Data lain dari BBC juga memperlihatkan bahwa Leicester sudah menggunakan pemain paling sedikit dibandingkan tim-tim lain pada musim ini. Hal itu boleh jadi karena Ranieri mengusung filosofi don’t change the winning team, atau bisa juga karena tipisnya skuat, atau mungkin jarangnya pemain-pemain andalan yang berhalangan untuk main.

Jumlah pemain digunakan musim ini

Manchester United: 33 pemain digunakan

Liverpool: 33

Newcastle United:30

Everton: 30

Crystal Palace: 29

Aston Villa: 28

Bournemouth: 28

Norwich City: 28

Sunderland: 28

West Ham United: 28

Stoke City: 27

Chelsea: 26

Southampton: 26

Swansea City: 26

West Bromwich Albion: 26

Arsenal: 25

Manchester City: 25

Watford: 25

Tottenham Hotspur: 24

Leicester City: 23

Dengan menjuarai Premier League, Leicester menjadi pemenang untuk kali pertama di divisi teratas sejak Nottingham Forest melakukannya pada 1978. Berikut catatan BBC mengenai kampiun-kampiun lain di liga top Eropa yang juga baru pertama kali juara.

Prancis – Montpellier, 2012

Jerman – Wolfsburg, 2009

Italia – Sampdoria, 1991

Skotlandia – Dundee United, 1983

Spanyol – Deportivo La Coruna, 2000

SUMUR
mantep bray emoticon-Cool
Dengan jadi juara musim ini, mungkin musim depan Leicester "mulai berani" melirik belanja pemain2 handal
emoticon-Toast
Suporter chelsea dan city bakal urbanisasi tahun depan
emoticon-Wakaka
mantap ini tim tim gede di berakin semua musih ini emoticon-Recommended Seller
Mantab gan, semoga tidak terlalu terlena sma kemenangannya musim ini, biar musim depan bisa menoreh prestasi lagi.

emoticon-2 Jempol
Saya membayangkan Claudio Ranieri dan Manuel Pellegrini duduk di sebuah gubuk di pinggir laut. Mereka memainkan bidak-bidak catur ketika sore sedang menjemput malam.

Mereka sudah tidak ingat siapa yang pertama kali mengajak atau menggelar papan catur di meja itu, sebuah meja kayu yang sudah compang-camping. Matahari sudah hampir jatuh, tapi cahayanya masih sempat menerobos kolong-kolong langit untuk menyorot cat dari meja kayu itu yang mulai mengelupas.

Betapa kurang ajarnya waktu. Mereka biasa berbuat seenaknya tanpa bisa ditawar-tawar. Rasa-rasanya permainan itu baru dimulai sebentar tadi, waktu hawa pantai masih lebih hangat dari sekarang. Ranieri masih ingat betul pria beruban di depannya menenggak bir dari botol berkali-kali. Haus rupanya, dia pikir. Sembari memikirkan langkah berikutnya, Ranieri terkekeh. Ia lalu membetulkan kacamata bergagang tipisnya dan melihat ke arah rambut-rambut putih pria di depannya itu: Mana yang lebih banyak, ubanku atau ubannya, pikirnya.

Melihat rambut-rambut putih itu, kekeh Ranieri berubah. Tiba-tiba saja ada nada getir terselip. Ia yang tadinya dimaksudkan untuk menertawai betapa banyak uban di kepala rekannya itu, lantas begitu saja berubah menjadi kekeh menertawai diri sendiri. Ranieri memegang kepalanya sendiri; rambutnya putih semua. Waktu memang kurang ajar.

Tiba-tiba saja Ranieri disesaki melankolia. Rambut putih itu, dan juga tubuh tuanya, adalah bukti utuh bagaimana waktu sudah menghajarnya bertubi-tubi. Ada momen-momen yang lewat sekelebat saja. Sedangkan momen-momen lainnya tinggal selamanya. Ranieri menunggu dengan sabar, entah sejak kapan, sampai akhirnya dia bisa membayar lunas momen-momen itu.

Ranieri adalah pria tua gagal. Gagal karena ketidakberuntungan. Apes adalah teman dekatnya di laut yang berkecamuk dengan buas. Saat banyak pria-pria tua seperti dirinya sudah mendapatkan tangkapan besar demi tangkapan besar, Ranieri hanya bisa puas dengan segelintir tangkapan yang nyaris tidak ada artinya.

Satu atau dua kali, Ranieri nyaris mendapatkan tangkapan besar. Tapi, entah datang dari mana, nasib apes selalu datang menyerobot tangkapan besarnya. Kapal bagusnya seringkali pulang dengan banyak bopeng. Sampai akhirnya, tak ada lagi tuan-tuan kapal yang mau meminjamkan kapalnya. Ranieri pun menyingkir dalam kesenyapan.

Maka, ketika ia memutuskan untuk melaut sekali lagi dengan kapal yang jauh lebih seadanya, ia dianggap gila. Tapi, Ranieri sudah kepalang pasrah. Dapat atau tidak tangkapan besar kali ini, hidupnya adalah di laut yang berkecamuk itu. Seiring makin putihnya rambut, ia sudah tidak banyak berpikir lagi.

Sudah tidak ada lagi kesempatan untuk berpusing-pusing. Ranieri paham, untuk membayar lunas apes demi apes itu, tidak ada waktunya lagi untuk berkutat memikirkan apa yang perlu dibawa dan dilakukan di laut nanti. Ia hanya harus memastikan saja bahwa harpun-nya masih cukup kuat dan jalanya masih cukup erat, supaya seumpama tangkapan besar itu muncul di depannya lagi, ia tidak membiarkannya lolos lagi.

Harpun untuk menombak kuat-kuat, jala besar untuk menarik tangkapannya itu nanti ke kapalnya. Ini sudah cukup. Tidak perlu apa-apa lagi, ini atau itu lagi sebagai tambahannya, waktunya cuma tinggal sekarang.

Laut hari itu sedang aneh. Banyak kapal-kapal besar pulang dengan cepat. Mereka bilang, ada badai di depan sana. Satu atau dua kapal sudah karam. Ini situasi berbahaya. Banyak yang sudah menyerah hari itu.

Untuk seorang tua yang sudah kepalang dicap gagal, apa lagi yang tersisa? Kalaupun badai juga membuat kapalnya karam, ya, sudahlah. Jika badai sekalian menghabisi hidup apesnya, terjadilah. Kalau tidak... Ia bergantung di tipisnya asa pada harpunnya, semoga saja kapal-kapal itu melewatkan tangkapan besar yang masih berkeliaran di laut sana.

Entah ketabahan apa yang dimiliki Ranieri, sampai-sampai akhirnya nasib baik justru berpihak kepadanya. Barangkali sekumpulan apes yang menumpuk itu adalah uang muka, serupa koin-koin yang diberikan kepada Charon untuk melintas ke dunia orang mati. Ranieri memang belum mati, tapi ia sudah membayar segala kesengsaraannya di depan. Entah ini benar atau tidak, tapi Ranieri mulai mempercayainya.

Laut hari itu memang masih berkecamuk dengan buas. Tapi, kapalnya masih kuat untuk menahannya. Bersyukurlah Ranieri, dalam perjalanan panjangnya ke tengah laut, yang sudah menguras habis tenaganya serta menggerus otot-otot tua di lengannya, kapalnya tidak tidak terbalik dihantam badai. Saat sisa-sisa tenaganya hanya tinggal tersisa sedikit, muncullah tangkapan itu di depan mata. Menggeliat dengan liar, melompat keluar-masuk air. Ia merasa bebas hari itu, karena menyangka tidak akan ada kapal besar yang akan datang menangkapnya.

Dengan sedikit bersusah payah karena kelelahan, Ranieri berdiri. Ia mengambil harpunnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Sedikit lagi, sedikit lagi... Tangkapan besar itu ada di depan matanya, menggeliat dengan bebasnya. Untuk kali ini, untuk berbagai kegagalan yang pernah diterimanya sebelum ini, Ranieri memilih untuk memejamkan matanya.

***

Sore sedang datang menjemput malam. Ranieri masih merasakan letih luar biasa di sekujur tubuhnya. Otot-ototnya kaku bukan main. Sesekali ia berusaha menegakkan tubuhnya sembari menepuk-nepuk punggungnya dengan tangan kanannya. Tidak pernah ia merasa seletih ini sebelumnya.

Perjuangannya di laut beberapa hari kemarin betul-betul menguras tenaga dan pikirannya. Tapi, kini ia sudah damai. Ketika suara "krak" keluar atas efek pelurusan punggungnya, yang terasa adalah rasa puas bukan kepalang.

Dalam beberapa hari terakhir, orang-orang datang untuk melihat tangkapan besarnya; sekitar 5 meter dari ujung hidung sampai ujung ekor. Si pria tua gagal itu sudah berhasil. Ia tidak menjualnya, tapi membagi-bagikan dagingnya kepada siapa pun, entah itu kepada mereka yang pernah meragukannya dulu atau kepada mereka yang tiba-tiba saja jadi mengenalnya.

Ranieri memilih berada di tempat lain ketika banyak orang mengagumi hasil tangkapannya. Ibunya, yang juga sama tuanya dan jauh lebih ringkih, adalah apa yang ada di benaknya ketika itu. Menghabiskan siang dengan makan sampai kenyang.

Pellegrini datang ketika tangkapan besarnya sudah habis. Kolega tuanya itu suatu kali pernah menyebut dengan penuh keraguan, Ranieri tidak akan mampu lagi pergi ke laut dan mendapatkan tangkapan yang sama besarnya. Tapi, pedulikah Ranieri? Terkadang cukup satu kali, dan satu kali itu saja ia bisa mendapatkan sebuah tangkapan besar, ia merasa sudah membayar lunas hari-hari penuh kekecewaan itu.

Ini bukan dongeng, katanya. Ini adalah kenyataan. Dan apa lagi yang lebih memuaskan ketimbang kenyataan --yang senyata-nyatanya-- yang mengalahkan khayalan paling liar sekalipun?

Maka, pada sore menjelang malam itu, Ranieri dan Pellegrini bertukar kekeh. Nasib sedang menyapa mereka dengan dua rupa yang berbeda. Pellegrini masih tersenyum, meski sedikit getir. Ranieri hanya bisa menduga-duga bahwa kolega berubannya itu sedang menunggu kepergian, kepergian yang sudah pasti tanpa bisa ditunda-tunda.

Laut hari itu jauh lebih tenang. Ranieri sudah tidak punya nafsu untuk melaut lagi, ia hanya ingin duduk saja, diam sejenak dengan lampu kecil di teras gubuknya, menghadap ke arah ombak yang baru-baru ini ia taklukkan. Mungkin ia akan terus seperti itu sampai pagi menjelang.

Pellegrini, sementara itu, tidak menyelesaikan langkahnya. Ia sudah keburu malas. Bidak caturnya ditelantarkan begitu saja. Ia menenggak botol birnya sampai habis lalu beranjak. Malam itu, ia berniat untuk melaut malam itu juga. Waktunya sudah tidak banyak.

"Ini sudah bukan tempatku lagi," kata Pellegrini.

Ranieri tersenyum. Sebagian senyumnya adalah ucapan semoga beruntung, sebagian adalah sungging dari kepuasannya. Ia tidak menyangka, seberapa pun tidak pedulinya ia awalnya, tangkapan besarnya itu membuatnya melangut sedemikian hebatnya.
Mantap nih leicester. Selamat buat leicester udah juara EPL
Congrats LCFC , dari tim ini kita belajar bahwa uang tidak selalu menjadi segalanya tetapi keyakinan usaha kerja keras adalah segalanya yoi yoiemoticon-Leh Uga
ga yakin ane mereka bisa pertahankan gelar juaranya musim depan
mantap dah leicester,
aaaak g ngarti bolaemoticon-Insomnia