alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/572894a41a997526478b457c/mimpi-menjadi-kaya-dari-investasi-bodong
Mimpi menjadi kaya dari investasi bodong
Mimpi menjadi kaya dari investasi bodong
Berharap untung besar malah buntung
Low risk, low return. High risk high return. Saran itu selalu disampaikan kepada investor pemula.

Tapi sesungguhnya tak cuma pemula yang mesti mengingat saran tersebut. Semua pelaku investasi selalu dihadapkan pada risiko dan keuntungan. Artinya, bila hanya terfokus pada keuntungan yang dijanjikan, melupakan risiko, malah bisa buntung jadinya.

Itulah yang terjadi pada kasus investasi Surat Utang Negara (SUN) seri: FR0035, yang ditawarkan Wealth Management Reliance Securities. Investasi akhirnya menjadi urusan polisi dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), setelah korban berjatuhan.

Pada 2014, E.P. Larasati, Head of Wealth Management Reliance Securities, menawarkan peluang investasi dalam SUN tersebut. Targetnya bisa mengumpulkan sebanyak Rp200 miliar. Benefit yang ditawarkan cukup menggiurkan. Imbal bagi hasil 9-12 persen, tenor 3, 6, dan 12 bulan. Minimal investasi Rp250 juta.

Sejumlah agen investasi independen ikut menawarkan produk ini, karena komisinya cukup besar, 1 persen.

Alwi Sutanto dan Sutanni, adalah contoh orang yang terbujuk investasi tersebut. Keduanya dijanjikan imbal hasil 12 persen dibayar di muka. Desember 2014, kakak beradik ini melakukan deal langsung dengan Larasati di kantor Reliance Securities, Tbk. Alwi langsung menyetor Rp2,2 miliar, sedang Sutanni, menyetor Rp1 miliar. Berikutnya Rp750 juta pada Maret 2015.

Keduanya pun tak curiga, ketika setoran investasinya bukan ke rekening Reliance Securities, tapi ke PT Magnus Capital.

Namun setelah jatuh tempo, runtuh juga harapan Alwi dan Sutanni mendapat hasil besar. Reliance Securities, mengaku tak punya divisi Wealth Management. Sedang Larasati, diklaim sudah keluar dari perusahaan itu per April 2014.

Polisi dan OJK hari-hari ini tengah melakukan investigasi, sehingga belum bisa disimpulkan modus kasus tersebut. Yang pasti, di Indonesia kejahatan kerah putih berkedok investasi, bukanlah hal baru. Umumnya mereka mengemas produknya dengan bahasa yang cukup memikat: high yield investment program (HYIP).

Penipuan berkedok investasi, alias investasi bodong, terjadi tak cuma di kota besar, tapi sudah masuk di kota kecil sampai pelosok. Bidang investasinya pun beragam, dari agribisnis, seperti perkebunan jati emas, peternakan ayam petelor, juga bebek. Ada pula bisnis transportasi, perdagangan permata, emas, pembangunan perumahan sampai wisata rohani.

Kita tentu masih ingat investasi bodong CV Panen Mas yang terbongkar pada 2014 lalu. Hasil yang dijanjikan sangat luar biasa. Dalam produk paket penanaman singkong dengan modal Rp47,5 juta, masa tanam 12 bulan, janji pengembalian investasi Rp99 juta.

Keuntungan mendekati 100 persen ini bisa memikat setidaknya 179 investor dengan nilai investasi beragam. Ketika janji tak terpenuhi, sejumlah nama artis, bahkan eksekutif perusahaan dan guru besar, mengaku jadi korbannya.

Kasus investasi bodong yang terjadi di Gorontalo, Sulawesi, menelan korban ratusan orang. Jumlah investasi hingga Rp60 miliar yang tidak bisa dikembalikan pelaku. Sederet investasi bodong menyusul masuk ke meja laporan kejahatan Badan Reserse Kriminal Polri. Misalnya kasus PT Dua Belas Suku (DBS) Blitar, Jawa Timur, yang membukukan kerugian ratusan miliar.

Apa sesungguhnya yang membuat usaha investasi bodong selalu diminati orang. Ada banyak faktor. Misalnya saja sifat yang ada pada umumnya manusia, yaitu ingin mendapat keuntungan besar, tanpa menyadari risikonya. Juga ketidakpahaman terhadap bisnis keuangan.

Yang lain, gampang terpengaruh orang yang mengaku mendapatkan keuntungan besar dalam praktik investasi, apalagi orang terkenal.

Para penipu sangat menyadari kelemahan umum masyarakat tersebut. Itulah sebabnya, banyak perusahaan investasi bodong, selain menjanjikan keuntungan yang besar juga memasang figur publik, seperti selebritas, pejabat publik, bahkan tokoh agama sebagai daya tarik.

Pelaku penipuan investasi bodong, sesungguhnya juga orang yang sangat paham banyak jaring hukum yang bisa menjerat mereka. Misalnya UU No. 8/2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian uang; KUHP; UU No. 6/2009 tentang Bank Indonesia; atau UU No. 21/2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan.

Bahkan ancaman hukum yang sangat berat di UU No. 10/1998, yaitu pidana 15 tahun penjara dan denda Rp20 miliar, bagi siapapun yang menghimpun dana dari masyarakat tanpa seizin Menteri Keuangan.

Namun mereka juga tahu celah hukum, yaitu dengan UU No. 37/2004, tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Ada kecenderungan model pembelaan dalam kasus penipuan investasi bodong, bergeser menjadi sengketa niaga.

Perusahaan tak mampu melunasi utang kepada para investornya, lalu dipailitkan. Aset penyelenggara investasi bodong disita untuk melunasi utang tersebut. Sudah bisa dipastikan, aset yang tersisa jumlahnya pasti tak mencukupi untuk melunasi utang tersebut.

Kita tak cukup hanya prihatin dengan banyaknya korban praktik investasi bodong ini. OJK, harus lebih giat melakukan edukasi tentang aneka investasi keuangan.

Membuat masyarakat melek soal jasa keuangan dan investasi, tidak harus menjadikan masyarakat sebagai ahli investasi. Karena sesungguhnya, masyarakat harus disadarkan dari mimpi menjadi kaya melalui investasi bodong.

Masyarakat juga harus punya cara terbaik agar tidak menjadi korban investasi bodong. Misalnya saja kehati-hatian, bisa mengendalikan sifat serakah ingin mendapatkan keuntungan besar, dan tentu saja logis. Hampir semua investasi bodong menjanjikan keuntungan yang tidak logis.

Misalnya, logis dalam menghitung keuntungan yang dijanjikan. Bila dijanjikan lebih dari 15 persen setahun saja, semestinya, sudah harus curiga. Karena bunga sebesar itu sama dengan 3 kali bunga deposito bank nasional, yang mematok angka 4,5-5 persen setahun.

Logis juga berlaku ketika memilih perusahaan yang menawarkan investasi berbunga tinggi. Kredibilitas perusahaan menjadi pertimbangan utama.

Bila ragu dengan kredibilitas perusahaan tersebut, ada cara yang cukup gampang: Cek ke layanan pengaduan OJK atau telepon ke nomor 021 500 655. Dari sini setidaknya akan mendapatkan kepastian legalitas perusahaan di bidang jasa keuangan.


Sumber : https://beritagar.id/artikel/editori...vestasi-bodong

---

pokoknya, yg berbau INVEST2 an,
sudah TIDAK ADA YANG BISA DI PERCAYA emoticon-Najis

kalo mau untung ya USAHA SENDIRI,

kongsi?
gw juga ga percaya ama kongsi2an emoticon-Najis

pengalaman orang2 di sekeliling gw,
kalau kongsi,
kita sudah jujur, "rekan" kongsi yg ga jujur emoticon-Cape d...

mendingan usaha sendiri aja sesuai kemampuan,
mau untung ya dinikmati sendiri,
mau rugi ya dirasakan sendiri,
ga nyalah2in orang emoticon-Stick Out Tongue
×