alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5728521fa09a392a6b8b4567/mitsuo-fuchida
Mitsuo Fuchida
Mitsuo Fuchida
Sebagian dari kita tentu pernah menonton film Hollywood yang berjudul “Pearl Harbor” kan? Film mengisahkan kisah cinta segitiga antara dua pilot Amerika Serikat dengan seorang perawat, kisah mereka sebagai korban dan pahlawan terhadap peperangan melawan kekejaman Kekaisaran Jepang. Dalam ketegangan film tersebut disaat-saat Jepang telah siap menyerang “Pearl Harbor” ada seorang pilot Jepang yang menerikan “Tora! Tora! Tora!” yang merupakan tanda operasi itu akan dimulai.

Mitsuo Fuchida (淵田 美津雄) lahir pada 3 December 1902, adalah seorang Kapten dan pembidik bom di Imperial Japanese Navy Air Service sebelum dan selama Perang Dunia ke II. Ia dibesarkan dan didoktrin untuk mencintai tanah airnya Jepang dan membenci Amerika Serikat dengan alasan perlakuan kasar pada para imigran Asia pada paruh pertama abad kedua puluh. Fuchida belajar di akademi militer dan kemudian bergabung dengan Imperial Japanese Navy Air Service yang pada tahun 1941 sudah memiliki 10.000 jam terbang dan telah membuktikan dirinya sebagai teladan. Ketika para pemimpin militer Jepang membutuhkan seseorang untuk memimpin serangan mendadak terhadap Pearl Harbor maka mereka memilih Fuchida.

Fuchidalah yang mengirim kode sandi "Tora! Tora! Tora!" (Tiger! Tiger! Tiger!) yang terkenal itu ke kapal induk. Keberhasilan misi sangat mengejutkan, lebih terkejut lagi bahwa ia mengetahui bahwa dari 70 perwira yang ikut serta dalam serangan itu, ia adalah satu-satunya yang kembali hidup.

Pada tahun 1945 ia telah menjabat posisi Chief Operations Air Imperial Japanese Navy. Pada tanggal 6 Agustus ketika sedang sarapan di kota Nara, Jepang, di mana markas militer baru sedang dibangun, ia terkejut ketika mendengar tentang sebuah bom telah dijatuhkan di Hiroshima. Dia terbang untuk menyelidiki, kemudian mengirim laporan mengejutkan ke Markas Pusat.

http://dainipponjepang.blogspot.co.i...-pemimpin.html

MITSUO FUCHIDA : DARI PEARL HARBOUR KE KALVARI

Mitsuo Fuchida (3 Desember 1902 - 30 Mei 1976) adalah seorang kapten Jepang penerbang pesawat pembom di Angkatan Laut Kekaisaran Jepang sebelum dan selama Perang Dunia II. Ia terkenal karena karena memimpin serangan udara gelombang pertama pada Pearl Harbor pada 7 Desember 1941. Dibawah komandan utama, Laksamana Madya Chūichi Nagumo, Fuchida bertanggung jawab atas koordinasi seluruh serangan udara.

AWAL KEHIDUPAN

Mitsuo Fuchida lahir di daerah Katsuragi, Nara Prefecture, Jepang. Ia masuk Akademi Angkatan Laut Kekaisaran Jepang di Etajima, Hiroshima, pada tahun 1921, di mana ia berteman dengan teman sekelas Minoru Genda dan berminat dalam penerbangan. Dia lulus sebagai kadet pada 24 Juli 1924, dipromosikan menjadi pembantu letnan pada 1 Desember 1927 dan dipromosikan menjadi letnan pada tanggal 1 Desember 1930. Fuchida memiliki spesialisasi dalam pemboman horisontal dan diangkat menjadi instruktur teknik pada tahun 1936. Dia memperoleh pengalaman tempur di dalam dua Perang Sino-Jepang, ketika dia ditugaskan di kapal induk Kaga pada tahun 1929 dan kemudian ke grup udara Sasebo. Pada tanggal Tanggal 1 Desember 1936 dia dipromosikan menjadi mayor dan diterima di Pendidikan Staf Angkatan Laut. Fuchida bergabung dengan kapal induk Akagi pada tahun 1939 sebagai komandan skuadron udara pada bulan Oktober 1941.

“Karena ayah saya adalah seorang kepala Sekolah Dasar dan seorang nasionalis yang sangat patriotik, saya bisa mendaftarkan diri di Akademi Angkatan Laut ketika berusia delapan belas tahun. Setelah lulus tiga tahun kemudian, saya bergabung dengan Penerbang Angkatan Laut Jepang, dan bertugas sebagai pilot kapal induk selama lima belas tahun. Jadi, ketika tiba saatnya untuk terpilih sebagai komandan untuk misi Pearl Harbor, saya telah mempunyai jam terbang lebih dari 10.000 jam, membuat saya menjadi pilot tempur paling berpengalaman di Angkatan Laut Jepang.”

PERANG DUNIA II

PEARL HARBOUR

Pada hari Minggu tanggal 7 Desember, 1941, kekuatan Angkatan Laut Jepang di bawah komando Laksamana Madya Chūichi Nagumo yang terdiri dari enam kapal induk dengan 423 pesawat siap untuk menyerang pangkalan Angakatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbor, Hawaii. Pada jam 06:00 pagi, gelombang pertama 183 pesawat pengebom tukik, pembom torpedo, bom level dan pesawat penyerang, lepas landas dari geladak kapal-kapal induk 370 km sebelah utara Oahu menuju Armada Pasifik Amerika Serikat di Pearl Harbor.

“Saya harus mengakui bahwa saat ini lebih bersemangat dari biasanya karena saya terbangun pagi itu pada pukul 3:00 pagi, waktu Hawaii, empat hari setelah hari ulang tahun saya ketiga puluh sembilan. Enam kapal induk kami di posisi 230 km sebelah utara dari Pulau Oahu. Sebagai komandan umum skuadron udara, saya melakukan check akhir pada laporan informasi intelijen di ruang operasi sebelum pemanasan pesawat tempur saya yang bermesin tunggal, tiga tempat duduk tipe-97, pesawat tempur yang digunakan untuk pemboman bertingkat dan meluncurkan terpedo.”

“Matahari terbit di timur dengan megah di atas awan putih ketika saya memimpin 360 pesawat tempur menuju Hawaii pada ketinggian 3.000 meter. Saya tahu persis tujuan saat itu yakni untuk mengejutkan dan melumpuhkan kekuatan angkatan laut Amerika di Pasifik. Tapi saya cemas memikirkan beberapa kapal perang Amerika tidak berada di sana. Tapi saya tidak boleh berlarut-larut tentang hal itu. Saya hanya khawatir tentang keberhasilan militer yang akan saya buat.”

Pada jam 07:20, Fuchida, yang saat itu telah menjadi komandan, memimpin perjalanan di sisi timur pulau itu, kemudian membelok ke barat dan terbang di sepanjang pantai selatan melewati kota Honolulu.

Dia memerintahkan "Tenkai!" ("Ambil posisi menyerang!"), dan kemudian pada jam 07:40 waktu Hawaii, setelah melihat tidak ada aktivitas AS di Pearl Harbor, Fuchida menutup kaca kanopi pesawat Nakajima-nya, bomber terpedo B5N2 Tipe 97 Model 3 "Kate", menembakkan suar hijau memberikan sinyal untuk menyerang.

Pada jam 07:49, Fuchida menginstruksikan operator radionya, Norinobu Mizuki, untuk mengirim sinyal kode "To, To, To" ("Totsugeki seyo!" - "Serang!") ke semua pesawat. Pilot Fuchida, Letnan Mitsuo Matsuzaki, memandu bomber dalam menyapu daerah sekitar Barber Point, Oahu.

“Begitu kami mendekati Kepulauan Hawaii di hari Minggu pagi yang cerah, saya melakukan pemeriksaan awal dari pelabuhan, dekat Hickam Field dan instalasi lain sekitar Honolulu. Melihat seluruh Armada Pasifik Amerika melabuhkan jangkar dengan damai di bawah kami, saya tersenyum saat meraih mikrofon dan memerintahkan, ‘Semua skuadron, terjun ke menyerang!’ Waktu adalah jam 07:49 pagi.”

Pada jam 07:53, Fuchida memerintahkan Mizuki untuk mengirim kata-kata kode "Tora Tora! Tora!" ke kapal induk Akagi, kapal komando dari Armada Udara ke-1. Pesan yang berarti bahwa kejutan lengkap telah tercapai. Karena kondisi atmosfer yang menguntungkan, transmisi kata kode "Tora Tora! Tora!" terdengar di seluruh radio kapal perang Jepang, di mana komandannya, Laksamana Isoroku Yamamoto dan seluruh stafnya, duduk sepanjang malam menunggu kata-kata serangan itu.

Setelah gelombang pertama penyerang kembali ke kapal-kapal induk, Fuchida tetap berada di atas Pearl Harbour untuk memeriksa kehancuran yang dicapai dan mengamati serangan gelombang kedua. Dia kembali ke kapal induknya setelah serangan gelombang kedua menyelesaikan misinya. Dengan bangga, dia mengumumkan bahwa armada kapal perang AS telah dihancurkan. Fuchida memeriksa pesawatnya dan mendapati badan pesawatnya penuh dengan 21 lubang besar akibat tembakan peluru anti serangan udara, di mana hanya kabel-kabel kontrol utama yang masih mengikat membuat pesawat tempurnya tetap utuh. Kesuksesan serangan Pearl Harbour itu membuat Fuchida menjadi pahlawan nasional di mana Kaisar Hirohito sendiri memberikan medali penghargaan.

“Seperti badai dahsyat, pesawat-pesawat skuadron saya, pesawat terpedo, pengebom tukik dan pesawat penyerang, menggempur secara tiba-tiba dengan keganasan yang tak terlukiskan. Ketika asap mulai mengepul dan kapal-kapal perang yang hebat, satu per satu mulai miring, hati saya menyala-nyala dengan sukacita. Selama tiga jam berikutnya, saya langsung memerintahkan lima puluh pembom yang ada untuk tidak hanya menyerang Pearl Harbor, tetapi juga lapangan udara, barak militer dan dermaga kering di dekatnya. Lalu saya berputar-putar di level yang lebih tinggi untuk menilai secara akurat kehancuran yang dicapai dan melaporkannya kepada atasan saya.”

“Delapan kapal perang yang ada di pelabuhan, lima rusak parah. Kapal Arizona rusak sama sekali; kapal Oklahoma, California dan West Virginia tenggelam. Kapal Nevada dalam kondisi tenggelam; hanya kapal Pennsylvania, Maryland dan Tennessee bisa diperbaiki. Dari delapan kapal, California, West Virginia dan Nevada bisa diperbaiki setelah waktu yang lama, namun kapal Oklahoma, setelah diangkat kemudian ditengglamkan lagi sebagai monumen. Kapal-kapal kecil lainnya rusak, tetapi 3.077 personel Angkatan Laut AS terbunuh atau hilang, 876 luka-luka, 226 tentara darat tewas dan 396 terluka, adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa diperbaiki.”

“Itu adalah peristiwa yang paling menggetarkan dalam karir saya. Dari sejak saya mendengar cerita mengenai kemenangan Jepang melawan Rusia tahun 1905, saya bermimpi menjadi seorang laksamana seperti Laksamana Togo, pemimpin armada Jepang dalam perang laut tersebut.”

OPERASI TEMPUR LAINNYA

Pada tanggal 19 Februari 1942, Fuchida memimpin gelombang pertama dari dua gelombang serangan 188 pesawat tempur yang menghancurkan Darwin, Australia. Pada 5 April, dia memimpin serial serangan udara lainnya melalui kapal induk terhadap pangkalan Angkatan Laut di Ceylon yang merupakan markas besar Armada Timur Inggris, di mana digambarkan Winston Churchill sebagai "saat yang paling berbahaya" dalam Perang Dunia II.

Pada bulan Juni, sementara atas kapal induk Akagi, Fuchida terluka pada Pertempuran Midway. Waktu itu dia tidak dapat terbang karena sedang menjalani pemulihan dari operasi usus buntu di kapal beberapa hari sebelum pertempuran. Dia berada di anjungan kapal ketika menghadapi serangan oleh pesawat tempur AS di pagi hari. Kapal induk Akagi terkena serangan di mana reaksi berantai kebakaran bahan bakar dan bom mulai menghancuran kapal. Ketika api menutup jalan keluar dari anjungan, para perwira dievakuasi turun dengan tali, dan sementara Fuchida meluncur turun, ledakan melemparkannya ke geladak dan membuat pergelangan kakinya patah.

“Selama empat tahun berikutnya, saya bertekad untuk memperbaiki prestasi saya lebih dari saat penyerangan Pearl Harbor. Saya terlibat dalam pertempuran di Kepulauan Solomon, Jawa, Samudera Hindia; sebelum akhirnya pertempuran Midway pada tanggal 4 Juni 1942. Kemudian saya kerena serangan usus buntu saya tidak bisa terbang. Saya berbaring di tempat tidur dan meringis mendengar suara tembakan pesawat-pesawat Amerika yang menyerang kapal. Pada hari akhir pertempuran Midway, kami menderita kekalahan besar pertama dengan kehilangan sepuluh kapal perang.”

PERWIRA STAF

Setelah penyembuhan, Fuchida menghabiskan sisa perang sebagai perwira staf. Pada bulan Oktober 1944 ia dipromosikan menjadi kapten. Sehari sebelum bom atom pertama dijatuhkan di Hiroshima, dia berada di kota itu untuk menghadiri konferensi militer selama seminggu dengan para perwira tentara Jepang. Kemdian Fuchida menerima panggilan dari Markas Besar Angkatan Laut memintanya segera kembali ke Tokyo. Hari berikutnya, Amerika menjatuhkan bom atom ke atas kota itu. Sehari setelahnya Fuchida kembali ke Hiroshima memimpin sebuah tim untuk memeriksa kehancuran. Semua anggota tim Fuchida yang pergi ke Hiroshima meninggal karena keracunan radiasi, tapi ajaibnya Fuchida tidak menunjukkan gejala paparan radiasi apa pun. Dia satu-satunya tim militer pemeriksa kehancuran Hroshima yang masih hidup bertahun-tahu kemudian. Karir militer Fuchida berakhir pada saat demobilisasi militer Jepang pada bulan November 1945.

“Saya ketika itu berada di Hiroshima, hanya sehari sebelum bom atom dijatuhkan untuk menghadiri konferensi militer di sepanjang minggu dengan Angkatan Darat. Untungnya, saya menerima panggilan dari Markas Besar Angkatan Laut yang meminta untuk segera kembali ke Tokyo.”

“Sejak saat itu, keadaan menjadi lebih buruk. Saya tidak ingin menyerah. Saya lebih memilih mati dalam peperangan. Namun, ketika Kaisar mengumumkan bahwa kami akan menyerah dalam peperangan, saya setuju saja.”

KEHIDUPAN SETELAH PERANG

Setelah perang, Fuchida dipanggil untuk bersaksi di persidangan atas kejahatan militer Jepang. Hal ini membuatnya marah karena ia melihat pengadilan ini tidak lebih dari "pengadilan oleh pemenang perang".

“Dengan berakhirnya perang, karier militer saya juga berakhir karena semua pasukan Jepang dibubarkan. Saya kembali ke kampung halaman saya di dekat Osaka dan mulai pertanian, tapi itu hidup mengecewakan. Saya menjadi semakin tidak bahagia, terutama ketika persidangan kejahatan perang dibuka di Tokyo. Meskipun saya tidak pernah dihakimi, Jenderal Douglas MacArthur memanggil saya untuk bersaksi pada beberapa kesempatan di depan pengadilan.”

Pada musim semi tahun 1947, dengan keyakinan bahwa Amerika telah memperlakukan tawanan Jepang dengan cara yang sama, Fuchida bertekad untuk membawa bukti untuk sidang berikutnya, dan pergi ke Pelabuhan Uraga dekat Yokosuka untuk bertemu dengan kelompok tawanan perang Jepang yang baru saja pulang. Dia terkejut ketika bertemu dengan perwira teknik pesawatnya, Kazuo Kanegasaki, yang diyakininya telah meninggal di Pertempuran Midway. Ketika ditanya, Kanegasaki bercerita kepada Fuchida bahwa mereka tidak disiksa atau dilecehkan. Kenyataan itu sangat mengejutkan Fuchida.

Menurut anak laki-laki Fuchida, ayahnya memiliki green card yang memungkinkan tinggal secara permanen di AS, tapi dia tidak pernah mau menjadi warga negara Amerika.

Fuchida meninggal karena sakit komplikasi diabetes di Kashiwara, dekat Osaka pada tanggal 30 Mei 1976 di usia 73.

http://www.pesta.org/mitsuo_fuchida_...our_ke_kalvari
Mitsuo Fuchida
"Saya akan menjadi pendekar samurai!", kata saya kepada teman sepermainan saya. Pedang mainan saya berkilauan dalam cahaya pagi di negeri matahari terbit. "Kamu selalu menjadi samurai!" mereka mengeluh. "Beri kami kesempatan untuk menjadi samurai," keluh mereka. "Beri kami kesempatan!"

Meskipun Jepang tidak lagi memiliki tentara profesional yang dikenal sebagai samurai, semua anak-anak di desa saya suka berpura-pura menjadi samurai.

Saya perlu untuk membuat mereka mengerti bahwa bagi saya tidak hanya sekedar bermain. "Saya ingin untuk menjadi seorang prajurit perkasa," kata saya. "Kalian akan melihat suatu hari, Mitsuo Fuchida akan menjadi pahlawan yang membawa kemasyuran bagi Jepang!"

Ketika saya tumbuh, saya bekerja keras untuk membuat impian saya menjadi kenyataan. Saya lulus dari akademi militer pada usia 21. Akhirnya saya menjadi pilot top di negara saya. Mimpi saya menjadi kenyataan, dan negara saya sedang dalam usaha untuk menguasai wilayah Asia yang luas.Tapi ada satu masalah. Suatu musuh raksasa bernama Amerika, berdiri di jalan kemenangan kami. Jika kami bisa menghancurkan raksasa ini, tidak ada yang bisa menghentikan kami. Pada tahun 1941, saya terpilih untuk memimpin armada perang untuk melukai sang raksasa.

Raksasa yang Tertidur

Pagi-pagi tanggal 7 Desember 1941, deru mesin menggema di telinga saya. Saya naik kapal pesawat tempur, siap untuk mewujudkan impian masa kanak-kanak yang kini menjadi kenyataan. Beberapa saat kemudian saya memimpin lebih dari 180 pesawat sarat dengan kekuatan mematikan menuju ke Hawaii. Misi kami adalah untuk menghancurkan 'Armada Pasifik’ Amerika Serikat.

Ketika kami mendekati pulau surga yang tertidur, cahaya pertama fajar melesat di langit, diikuti dengan terbitnya matahari merah cemerlang. Saya merinding, matahari terbit itu adalah simbol Jepang. Melalui teropong saya melihat kapal-kapal Amerika yang megah berlabuh di Pearl Harbor. Musuh itu terlihat begitu tenang – tapi kami akan memberinya kejutan!

Pada 07:49 saya berteriak "Tora, Tora, Tora!" di mikrofon saya. Saat teriakan perang saya terdengar oleh prajurit Jepang, adrenalin saya naik. Seperti tawon mekanik kami menukik - membom dengan ketepatan tanpa ampun, lalu kami menyaksikan kapal Amerika yang perkasa habis terbakar, kemudian tenggelam seperti perahu mainan. Dalam waktu kurang dari dua jam kami menghancurkan 150 pesawat dan membunuh lebih dari 2.000 prajurit Amerika. Hati saya dipenuhi rasa bangga dan senang saat saya merayakan kemenangan kami. Bagaimanapun juga, hanya soal waktu sebelum raksasa akan bangkit dan membalas dendam.

Kekalahan

Setelah operasi darurat untuk usus buntu, dokter memerintahkan saya untuk tinggal di rumah sakit dan beristirahat, tapi saya prajurit perkasa tidak mau mendengarkan dia! Saya menuju ke geladak kapal di mana saya bisa melihat Pertempuran Midway berlangsung. Hanya sesaat ketika kami yakin kami ditakdirkan untuk menang, kini giliran pesawat musuh beraksi. Hanya dalam hitungan detik, terjadi ledakan dahsyat, meninggalkan lubang di kapal kami dan kami mengalami kekalahan. Saya kemudian mengetahui bahwa semua pasien di rumah sakit kapal meninggal akibat ledakan itu.

Pada tanggal 5 Agustus 1945, saya meninggalkan kota Hiroshima Jepang untuk pindah ke pangkalan militer lain. Beberapa jam kemudian, Amerika menjatuhkan bom atom, melenyapkan kota itu. Mengapa hidup saya diselamatkan untuk kedua kalinya? Ketika perang berakhir beberapa hari kemudian, negara saya dikalahkan dan saya sangat terpukul. Kepahitan dan kebencian memenuhi hati saya. Saya adalah seorang serdadu yang sombong, sekarang saya harus beralih ke pertanian untuk mencari nafkah.

http://menarapenjaga.blogspot.co.id/...rangan-ke.html
Pembahasan menarik awalnya, tetapi karna artikel ini titik beratnya tentang Mitsuo Fuchida yang menerima agama kristen (tanpa ada maksud SARA) apakah artikel ini bisa jadi data sejarah? Karna menurut ane, isi thread ini skitar 70-80% yang bisa masuk data sejarah.
Kalo jepang menuntaskan penghancuran pearl harbour, hancurlah armada us
emoticon-Malu Quote:Original Posted By yayan109x
Kalo jepang menuntaskan penghancuran pearl harbour, hancurlah armada us


gak juga om,katanya sih kapal induk/carrier nya amerika banyak yang di luar waktu pearl harbour di serang
cmiiw lupa lagi nama kapalnya,nunggu sepuh nambahin
Quote:Original Posted By yayan109x
Kalo jepang menuntaskan penghancuran pearl harbour, hancurlah armada us


Ga juga.. Carrier US nya masih seliweran dimana mana.
@TS: JANGAN KOTBAH, GAN!!!

Ane juga Kristen, bukan begini caranya... Ente kotbah di gereja, atau ada forum tersendiri.

@All: ane udah PM TS nya.

@Mimin: mohon dilock/closed thread nya kalo TS gak ubah postingnya..
Pindah agama dibilang bertobat. emoticon-Hammer
Buat apa gan harus di close saya rasa ini cerita yg menarik dan bagian dari sejarah kok... Mau itu kristen atau muslim gk ada bedanya sejarah ya sejarah dan ini dalah forum untuk itu.m kalu tidk suka jangan dibaca kan gampang.
Quote:Original Posted By cumi2got
@TS: JANGAN KOTBAH, GAN!!!

Ane juga Kristen, bukan begini caranya... Ente kotbah di gereja, atau ada forum tersendiri.

@All: ane udah PM TS nya.

@Mimin: mohon dilock/closed thread nya kalo TS gak ubah postingnya..


Done

Udah ane edit

Monggo dicek
Quote:Original Posted By yayan109x
Kalo jepang menuntaskan penghancuran pearl harbour, hancurlah armada us


Kalau cuma penghancuran engga bakal ngehacurin armada US, mungkin lebih tepatnya memperlambat armada US, lagian pada waktu itu kemampuan produksi industri amerika nomor satu di dunia.
Quote:Original Posted By yayan109x
Kalo jepang menuntaskan penghancuran pearl harbour, hancurlah armada us



Its a bullshit.... jepang sama sekali tidak mengahancurkan amerika.... ia hanya menyatukan seluruh rakyat amerika untuk bertempur pada ww2.... seandainya jepang tidak menyerang amerika mungkin ia masih bisa bertahan sedikit lebih lama.... walaupun akhirnya akan hancur juga Oleh gabung tentara merah dan cina...
Quote:Original Posted By hazor.v2
Hubungan jepang dan usa memang sudah panas waktu itu

Ada hipotesa Kalau jepang ga nyerang pearl harbour mngkn amerika yg nyerang jepang duluan

Rrc ga usah diharepin deh..moril rendah dan sibuk perang sodara
Kejayaan militer rrc dimasa lalu hilang tanpa bekas



Pada saat itu susah rasanya mamarika buat masuk dalam theater perang dunia 2.... Rakyatnya tidak mau mamarika berperang karena alasan bahwa ekonomi akan memburuk layaknya pada Great war terjadi... bahkan mereka mempunyai uu netralitas... walaupun mamarika memberikan bantuan kepada sekutunya baik berupa bantuan aluttista maupun bantuan tentara relawan...

Satu satunya yang membuat rakyatnya bersatu bahkan uu netralitasnya pun dirubah .... Itu adalah karena telah di serangnya pearl harbour.