alexa-tracking

Buku Sebaris Derita

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5727c3fd12e25745598b4567/buku-sebaris-derita
Buku Sebaris Derita
"Tapi... Tapi 'kan itu cuman buku"

"Menurut kamu, iya... tapi ini teman aku"


Buku Sebaris Derita


Quote:


INDEX





Happy Reading...

Prolog


Tepat disaat tengah malam aku bersandar di pojok kamar dengan lampu yang sudah aku matikan. Kamarku begitu sepi dan terasa hampa. Tak ada seorangpun disana selain aku. Ku arahkan telapak tanganku ke atas dan kugenggam erat kepalannya, hingga membuat seluruh urat yang menjalar keluar. Di tangan kiri sudah aku persiapkan sebuah pisau untuk mengiris pergelangan tanganku, jaraknya hanya satu senti.

Aku menangis keras sambil mencoba menahan suara yang akan keluar dari mulutku. Jantungku sudah bergejolak rasa ingin lepas. Aku rasa tidak ada gunanya aku hidup di dunia ini lagi. Aku hanya sendiri di sini. Kehidupan semakin keras, aku sudah tidak sanggup. Disaat aku sangat jatuh, tidak ada yang bisa membantuku. Seperti yang aku bilang, aku hanya sendiri. Jikalau aku nantinya mati, sudah pasti tidak ada seorangpun yang akan merindukanku.

Ujung pisau sudah melekat di permukaan kulit, tinggal satu gesekan dalam dan panjang sudah pasti akan membuat aku kehabisan darah dalam sekejap. Aku terus menangis, mencoba untuk berteriak akan sakit yang akan ku rasakan.

"Ahhhhhhhhhhhhh..........." Kulepaskan pisau itu dari tanganku. Aku menangis keras.

"Ma, aku udah gak kuat. Tolong bawa aku, Ma"

Tak lama kudengar suara ketukan pintu diselingi dengan panggilan namaku. Aku tidak mau menjawab, hanya diam sambil menangis. Suara itu lekas hilang, aku bisa mendengar dia berlari entah kemana. Suara lain kemudian muncul. Aku kenal betul suara itu adalah suara pemilik kostan yang sedang aku tempati ini. Pria itu terus memanggil namaku. Aku hanya melihat ganggang pintu yang terus bergerak, namun pintu tak kunjung terbuka karena sudah terkunci.

Sampai akhirnya satu tendangan melayang dan pintu terbuka.

Kejadian itu terjadi setahun yang lalu...


Part 1


"Han, tolong pindahin kardus itu ke dalam mobil ya sebelum kamu pulang"

"Siap, Pak"

Sudah hampir menyerah dengan kehidupan, akhirnya aku bisa bangkit. Sekarang aku sudah mempunya pekerjaan, walaupun hanya pekerjaan biasa di sebuah pabrik pakaian. Pekerjaan ini bisa aku dapatkan karena bantuan pak Wo, pria yang mempunya kostan dimana aku dulu tunggal. Sekarang aku sudah pindah jauh ke Bandung dan tinggal di sebuah rumah kontrakan bersama dua temanku. Aku bertemu kedua temanku itu juga berkat pak Wo. Dia membantuku hampir dalam segala hal, aku tidak tau bagaimana harus berterima kasih.

Sekarang sudah masuk hari ketigaku dan aku tetap bersyukur akan setiap harinya. Jika saja dulu aku terlalu bodoh untuk mengiris tanganku, aku tidak yakin dimana aku sekarang berada. Mungkin aku akan berada di tempat yang seharusnya diisi dengan orang-orang yang sudah membunuh dirinya.

***


Sore itu aku sedang duduk di depan kontrakan bersama Vian, temanku. Mataku tak bisa beralih dari rumah besar yang ada di depanku. Pagarnya cukup tinggi sehingga menghalangi pandangan ke dalam rumah. Selama aku berada disini, aku tidak pernah melihat satu aktifitaspun di sana.

"Yan, rumah depan kok sepi mulu ya?"

"Yang tinggal cewek noh. Cuman sendiri"

"Ah gak mungkin. Mana mungkin cewek sendirian tinggal dirumah gede gitu"

"Iya dia tinggal sendirian, pergi aja lo kesana kalau gak percaya sama gue"

"Ah, ngapain"

"Dia cantik lho, tipikal cewek bandung banget. Tapi sayang–"

"Sayang kenapa?"

"Dia bisu"

Aku terdiam sambil menelan air ludahku. Seorang wanita tinggal sendirian di dalam rumah dua lantai yang berpagar tinggi dan dia bisu, itu semua sungguh tidak masuk akal. Entahlah, ekspresi wajah Vian sungguh meyakinkan, dia sungguh tidak terlihat bercanda.

"Lo tau dari mana dia bisa?"

"Tau lah. Dia kalau kemana-mana selalu bawa buku coretan gitu. Jadi kalau dia mau ngomong dia tinggal tulis, robek terus kasi ke orangnya"

"Lo pernah ngobrol sama dia?"

"Kalau gue disuru sama pamannya aja"

"Maksud lo?"

"Panjang ceritanya, mau tau banget lo"

"Udah ceritain aja"

"Jadi gini, dulu waktu dia masih SMA, bokap-nyokapnya meninggal pas mau berangkat kemana gitu... lupa gue. Nah, semenjak itu dia selalu ngurung dirinya dan gak mau keluar, SMA aja gak lulus. Jadi dia kayak trauma aja gitu bawaannya, gak tau kenapa"

"Emang bisa orang bisu sekolah? gimana caranya?"

"Tau ah gue, cuman itu yang pamannya ceritain ke gue. Terus pamannya kadang telfon gue buat ngeliatin dia. Ya kadang gue liatin kesana, seminggu sekali, dua minggu sekali tergantung kapan pamannya nyuru aja"

Mungkin wanita itu dulunya sekolah di SLB atau semacamnya, aku tidak pernah tau jika orang bisu bisa bersekolah di sekolah umum. Tapi jika masalah kehilangan kedua orang tua, aku mengerti seratus persen apa yang dia rasakan. Jika dia kehilangan kedua orang tuanya karena kecelakaan. Aku kehilangan ibuku karena kanker dan kehilangan ayahku karena penyakit paru-paru. Yang pada akhirnya sama saja, kami kehilangan kedua orang tua. Mungkin bedanya, dia masih mempunya orang yang menyayanginya dan masih mau merawatnya, setidaknya perduli terhadapnya, tidak seperti aku yang memang sendirian.

Setelah kedua orang tuaku pergi, aku memang tidak mempunyai siapa-siapa. Semua saudara dari ibu dan ayahku entah kemana larinya, tidak ada yang mau merawatku. Aku tau pasti jika pernikahan kedua orang tuaku itu berdasarkan permintaan mereka. Ayah dari ibuku sempat tidak setuju dengan pernikahan itu, karena waktu itu ayahku belum mapan dan tidak mempunyai pekerjaan. Tapi ibuku tetap bersikeras sampai akhirnya dia mengakui jika dia sudah mengandungku selama dua bulan. Mereka menikah dan kemudian ayah dari ibuku secara resmi membenci anaknya sendiri.

KASKUS Ads
image-url-apps
Ijiiin gelar kursi..
Lanjutkan gaaan!
image-url-apps
yg nulis quote di buku itu temennya yg bisu itu gan?
image-url-apps
baca prolog ama part 1 buat ane tertarik. lanjutkan gan jangan di kentangin ini cerita
Quote:


Sip gan.

Quote:


Bukan sih, dapet di google emoticon-Smilie

Quote:


Moga betah deh baca cerita ane.

image-url-apps
mantap gan jut..

Part 2


Hari sudah semakin malam, kopi yang dari tadi kusedu masih tak kunjung habis karena panasnya. Aku masih duduk penasaran di depan rumah sendirian. Untuk sekali saja aku ingin melihat aktifitas di rumah besar itu, aku sungguh terlalu penasaran dengan wanita yang tinggal di dalam sana.

Setelah kopi kusedu habis, akhirnya aku pasrah. Aku masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rapat-rapat. Vian dan Edo, kedua temanku sudah tidur duluan karena besok mereka harus mengikuti pelatihan di perusahaan swasta. Beruntung besok adalah hari sabtu dan aku bisa beristirahan.

***

"Han, kita berangkat dulu yee.."

"Iya-iya"

Aku rasa jam masih menunjukan pukul 8 atau 7, entahlah aku terlalu malas untuk bangkit dari kasur. Karena kopi yang kusedu tengah malam tadi, aku jadi kesusahan untuk tertidur. Mungkin aku berhasil tertidur pulas pada jam 4.

Kami masih belum punya TV atau kebanyakan barang elektronik lainnya. Aku terpaksa hanya bisa duduk di depan rumah sambil mendengar indahnya suara kendaraan yang melintas. Jika biasanya kebanyakan orang pasti mengharapkan liburan karena mereka bisa bersantai di rumah dan melakukan hal menarik lainnya, tapi aku lebih berharap agar aku bisa bekerja saja, lagian tidak banyak yang bisa aku lakukan di rumah selain makan dan tidur.

Sebuah taksi berhenti tepat di depan rumah. Aku terkejut dan bertanya-tanya dalam hati. Seorang wanita dengan umur kisaran 40-an keluar dari taksi dengan tas yang jinjing ukuran sedang. Taksi itu lekas pergi dan meninggalkan wanita itu berdiri sendirian di depan rumahku, tapi dia menghadap ke rumah besar itu. Matanya dengan leluasa menyapu tampak depan rumah itu, seolah sudah lama tak melihat. Kemudian dia berjalan perlahan menuju pagar rumah dan menekan tombol bel.

Aku berdiri membenarkan posisi dudukku, sudah tidak sabar melihat siapa yang akan membuka pagar. Jika memang orang yang tinggal di rumah itu sendirian, maka sudah pasti dialah yang akan membuka. Menurut keterangan yang diberikan Vian tadi malam. Wanita yang tinggal di rumah itu adalah wanita cantik tipikal bandung. Aku sungguh penasaran.

Suara pintu pagar terdengar bergeser. Bergegas aku berdiri dan menatap lurus ke arah wanita tua yang masih menunggu pagar untuk terbuka.

"Bintang?" Sapa wanita tua itu. Perempuan yang disebutnya dengan panggilan Bintang itu lekas memeluk wanita tua itu.

Aku menarik nafas panjang ketika melihat wajah Perempuan dengan sebutan bintang itu. Wajah cantik, hidup mancung, bibir tipis, alis tipis dan rambut yang di ikat poni. Tapi entah kenapa wajahnya pucat seperti orang sakit. Sungguh mengerikan ketika aku melihatnya. Dia terlihat kurus, tidak terlalu kurus tapi cukup kurus.

Tak sedetikpun kualih kan pandangan dari mereka yang sedang berpelukan. Sampai Perempuan itu melihat ke arahku dengan tatapan kosongnya. Aku lekas mencoba untuk menghindari tatapan itu. Mereka melepaskan pelukannya.

"Yaudah yuk masuk" Ajak wanita tua itu

Perempuan yang bernama bintang itu terlihat mengangkat telapak tangannya setinggi dada dan mengisyaratkan kepada wanita tua itu untuk menunggu. Tatapannya langsung mengarah kepadaku. Dan entah kenapa dia berjalan ke arahku. Sembari dia berjalan, tangannya sibuk menulis di sebuah kertas lalu menyobeknya. Dia memberikan kertas sobekan itu.

"Temennya Vian dan Edo?"

Sesudah aku membaca, aku melihat aneh ke arahnya. Dia mengangkat kedua alisnya, menanti jawaban. Aku mengangguk.

Kemudian dia melanjutkan menulis. Dan kembali memberikanku sebuah kertas sobekan.

"Gue Bintang, yang tinggal di depan. Salam kenal. Gue perhatiin lo dari tadi ngawasin gue"

Dia memberikan tangannya, dan kami bersalaman. Tangannya dingin.

Lembaran lainnya kuterima.

"jangan ngangguk-ngangguk aja, emang bisu?"

Aku menggaruk belakang kepalaku dengan malu "Hehe.. enggak kok" Dan aku juga tidak mengerti mengapa dari tadi aku hanya mengangguk layaknya orang bisu.

Terbesuk sedikit senyuman di kedua ujung bibirnya. Tanpa pamit, dia lekas kembali ke rumahnya, dimana wanita tua itu sudah menunggunya dari tadi.
story bagus kaya nya.
numpang stand by yak. emoticon-Blue Guy Smile (S)
gelar tiker dulu mudahan cerita ny awet seru ny emoticon-Big Grin
Quote:


Silahkan dan semoga betah emoticon-Smilie

Quote:


Amin emoticon-Smilie
Part 3


Respon kedua temanku kurang lebih biasa saja saat aku memberitahukan kepada mereka kalau Perempuan bisu itu telah menghampiriku. Mungkin tidak ada yang spesial di mata mereka karena tentunya mereka sudah mengenal Bintang jauh lebih lama dariku. Tapi terbesuk di hati, aku penasaran dengan wanita itu. Entahlah, hanya pensaran.

Suara telfon kepunyaan Vian berdering, menandakan sebuah panggilan masuk. Aku yang langsung terbangun dari tidur di sofa tak tahan lagi dengan suaranya. Kuambil hp milik Vian, kupandangi nomor yang menelfon. Itu sebuah nomor tanpa nama. Dengan cepat aku melihat sekeliling untuk mencari Vian. Aku terus berusaha mencari Vian yang entah kemana perginya di tengah maghrib. Tak lama setelah panggilan pertama berhenti, nomor itu kembali menelfon untuk yang kedua kalinya.

Aku tau jika mengangkat panggilan di hp milik orang lain tidaklah sopan, meski teman sendiri. Tapi nada dering yang renyah itu sungguh membuatku terganggu dan Vian entah kemana. Dari dalam rumah bisa aku lihat jelas, kedua motor masih terparkir rapi di depan teras. Hal itu menandakan Vian pastinya tidak pergi kemana-mana. Lalu aku sadar jika Edo juga ikut menghilang. Aku berlari keluar rumah untuk melihat mobilnya. Ternyata benar, mereka berdua pergi entah kemana. Aku berjanji dalam hati, jika panggilan itu menelfon sampai yang ketiga kalinya, mau tidak mau aku harus menjawab. Mungkin saja itu panggilan penting.

Panggilan itu kembali masuk.

"Hallo?" Ucapku dengan nada pelan dan sopan

"Hm, hallo. Ini Vian, benar?" Dia menjawab. Terdengar dari suara adalah seorang wanita

"Ini benar nomor Vian, tapi dia lagi gak ada di rumah. Kalau boleh tau ini dengan siapa?"

"Oh iya, saya bibiknya non Bintang, yang tinggal di depan rumah Vian. Saya mau minta tolong sama dek Vian buat ngecek keadaan non Bintang. Om praman ngasi nomor dek Vian ke saya, katanya buat ngecek keadaan non Bintang selagi saya gak ada disana"

"Oh. Viannya lagi di luar. Tapi kalau boleh, bisa saya bantuin kok. Saya juga tinggal serumah dengan Vian"

"Kalau gitu tolong cek aja keadaan non Bintang ya – namanya siapa?"

"Hanan"

"Yaudah, terima kasih ya dek, Hanan"

"Iya, sama-sama"

Aku akhiri panggilan itu. Perlahan aku berjalan ke depan pintu, sekilas melihat dari luar rumah Bintang. Lampu-lampu di rumahnya sudah menyala dengan terang, tapi tetap saja keadaanya sangat hening seperti tidak ada orang.

Kututup pintu rumah dan kuselipkan hp milik Vian di saku celana. Aku mulai berjalan keluar. Hingga sampainya aku di depan pintu pagar yang tinggi menjulang ke atas, kira-kira tiga meter. Kutekan pelan tombol bel yang ada di dekat pagar. Dengan perasaan grogi dan campur aduk, aku mendengar suara pintu rumah terbuka. Aku menunggu seseorang di dalam bertanya. Lalu aku berpikir kembali. Perempuan itu bisu, dia pasti tidak akan bertanya. Lalu dengan tegas aku sebutkan namaku.

Tak kudengar lagi suara di seberang pagar. Kucoba merunduk sedikit untuk melihat apakah ada orang di seberang. Kulihat sepasang kaki sedang berdiri dengan sandal. Hanya berdiri tegak tak bergerak. Aku mulai sedikit takut dan cemas. Tunggu, aku tidak pernah menyebutkan namaku disaat kami berkenalan. Aku hanya menggangguk layaknya orang bisu, aku sedang gugup saat itu.

"Ini Hanan, teman Vian sama Edo. Yang tinggal didepan"

Terdengar suara besi pagar mulai bergesekan dan pintu pagar terbuka tak sampai satu meter. Dia berdiri tepat di depanku. Tak bergerak, tak berkata, tak berkedip dan tak berekspresi. Aku mulai bingung dengan apa yang mau aku lakukan.

"Hai, sorry ganggung. Gini, tadi bibik lo nelfon, dia nyuru ngecek aja" Ucapku dengan terbata-bata dan tersenyum aneh

Dia hanya mengangguk dan mengangkat jempol kanannya keatas.

Aku masih berdiri disana. Dia masih berdiri disana. Tak ada percakapan yang terjadi. Hanya kami berdua yang saling bertatapan. Aku bersumpah, itu lima detik terlama dalam hidupku. Dia lalu menulis di buku catatan kecil yang ada di tangannya, lalu memberikannya kepadaku.

"Udah? itu aja 'kan?"

"Iya, itu aja sih"

Dia mengangguk sekali lagi, lalu menutup pintu pagar.

"Eh, tunggu" Ujarku sambil menahan pintu pagar yang hampir tertutup

Anggukan lainnya diberikan. Tapi kali ini dia mengucapkan kalimat "apa?" tanpa suara. Aku melihatnya lucu sekaligus aneh.

"Tapi lo baik-baik aja 'kan? gak kenapa-kenapa?" Balasku dengan senyuman

Jempolnya terangkat keatas, dia tersenyum lalu menutup pintu pagar.

Aku bisa mendengar suara dia mulai melangkah untuk masuk ke dalam rumah. Aku masih berdiri di depan pagar dengan sejuta pertanyaan yang terus terlintas di benakku.

"By the way, nama gue Hanan" Kepalaku tertegak ke atas, aku berteriak. Berharap suara itu bisa melompati pagar.

Tak ada jawaban yang aku terima darinya, melainkan hanya suara hentakan pintu yang baru tertutup. Dan entah kenapa aku merasa sangat senang sekali.
image-url-apps
gan tolong panjangin update partny.. terlalu sedikit ane lihat
Quote:


Ntar ane coba panjangin deh emoticon-Smilie

Part 4


Hari itu aku diberi libur karena aku memang sedang tidak enak badan. Tenggorokanku rasanya sakit saat menelan dan kepalaku terasa sangat berat dan berdenyut. Tak hanya itu, hidungku juga tersumbat parah karena flu. Aku tidak tau jelas apa yang telah aku makan sehingga membuat aku terkena penyakit.

Dirumah aku hanya sekedar beristirahan dengan tiduran. Didekat telinga terpasang headset yang selalu setia menemaniku. Memang tidak enak berada sendirian dirumah, ditambah lagi sakit. Aku terpaksa harus menghabiskan sepanjang hari dengan tiduran. Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan. Huh, aku harap kami punya TV atau semacamnya.

Masih dilagu yang sama, tiba-tiba aku mendengar suara ketukan dipintu depan. Ketukan itu berangsung saat lama, tapi aku baru mendengarnya. Dengan rasa kepala yang sangat berat aku berdiri, mencoba menyeimbangkan badan. Kepalaku rasanya seperti berputar. Aku masih belum tau siapa yang terus mengetuk pintu depan. Dia terus mengucapkan kalimat salam. Dari suara, itu terdengan seperti suara wanita.

"Dek Vian ya?" Sapa wanita itu dengan senyuman ramah tamah

"Bukan, saya Hanan. Ini bibiknya Bintang yang kemarin nelfon, bukan?" Suaraku terdengar sangat berat karena efek flu.

"Eh, iya. Lagi sakit ya, Dek?"

"Haha.. enggak kok, cuman flu doang" Terkadang pria lebih suka berbohong agar terkesan kuat, ya seperti apa yang baru aku katakan.

"Oh, cepat sembuh deh. Ngomong-ngomong Viannya ada?"

"Dia lagi kerja. Emang ada apa kalau boleh tau, Bik?"

"Gini, bibik mau minta tolong aja bentar, sama kamu aja ya. Bibik minta tolong kamu tolong jagain non Bintang sebentar aja"

Jujur aku tidak tahu mau berkata apa dan aku sangat bingung dari pernyataan Bibik. Kenapa harus dijaga, apa apa?. Seharusnya Bintang sudah tarlalu besar untuk dijaga.

"Emang kenapa Bintangnya, Bik?" Tanyaku bingung.

"Ga kenapa-kenapa sih, jagain aja"

Dengan tanda tanya besar, aku menjawab "iya"

Tak lama kemudian datang sebuah taksi jemputan Bibik itu dan dia pergi, meningalkan aku yang masih kebingungan di depan pintu sendirian. Setelah memberanikan diri, aku mencoba melangkan menyebrangi jalan menuju rumah yang ada di depan kontrakanku. Sebuah rumah besar yang konon katanya hanya ditinggali satu orang. Seorang perempuan nan ayu, sayangnga dia bisu.

Pintu pagar sudah terbuka tak terlalu besar. Aku masuk ke dalam dan melihat sekeliling. Di depan garasi rumah, terdapat dua mobil yang masih bisa aku kenali. Sebuah Pajero hitam dan Jazz Hitam. Dari situ aku melihat pintu rumah yang sudah terbuka, mungkin sudah dipersilahkan untukku. Aku mencoba untuk mengintip ke dalam rumah, tapi tak ada siapa-siapa selain TV yang masih menyala. Kuucapkan salam lalu aku masuk ke dalam rumah dengan perasaan campur aduk. Tak terlalu jauh melangkah aku mulai melihat sebuah kamar yang pintunya tak tertutup sepenuhnya. Aku menelan ludah sementara hati berdebar dan mengintip. Kulihat perempuan itu sedang duduk di atas kasurnya dengan sebuah novel yang berada di atas pangkuan. Matanya lurus melihatku. Aku kedapatan mengintip. Tapi pandangan itu seolah seperti pandangan tanpa emosi, hanya pandangan kosong saja dan tak ada senyuman.

"Hai" Sapaku dengan tangan kanan sambil memaksakan sebuah senyuman.

Dia hanya mengangguk lalu matanya kembali mengarah ke novel itu.

"Tadi gue disuru sama–"

Belum sempat aku menjelaskan semuanya lalu dia mengangguk. Menandakan dia sudah mengerti.

"Kalau gitu gue di depan TV ya?"

Satu anggukan kecil menandakan sebuah iya.


Entah ini semacam balasan doa atau bagaimana. Tadi aku mengeluh karena tidak ada yang bisa aku lakukan dirumah, bahkan untuk menontonpun tidak bisa. Sekarang aku berada di sofa super nyaman dan sebuah TV led yang layarnya hampir sebesar lemari pakaianku. Dengan masih menjaga tata krama, aku duduk dan mulai menyaksikan apa yang ada di depan mata. Aku tidak berani untuk mengganti siaran.

Detik berubah menjadi menit, menit berubah menjadi jam dan jam terus berangsung hampir berubah menjadi hari, tapi wanita itu tak kunjung pulang. Mungkin sudah lima jam aku berada di rumah asing ini tanpa sadar kalau aku sudah tertidur. Jam yang berada di atas TV tentunya yang mengingatkanku.

"Astaga" Aku terkejut.

Perempuan itu duduk dia atas sofa dengan kedua kaki yang bersila. Semangkok ice cream tampak sedang menemaninya. Aku terkejut karena rambut itu terurai tak menentu. Dan entah berapa lama dia sudah berada di situ. Dia sentak kaget ketika mendapatiku terkejut.

"Sorry, kejut gue, rambut lo berantakan banget" Ujarku dengan sedikit tawaan geli.

Dia tersenyum lalu meletakkan mangkok ice cream itu di atas meja, lalu mengikat rambutnya dengan gaya pony tail. Kedua alisnya terangkat beserta senyuman tipis dan jempol yang terangkat. Aku membalasnya dengan hal yang sama. Sebuah jempol yang terangkat keatas.

"Eh, bibik lo kemana sih? masih lama gak?"

Tangan sebelah kirinya masih memegang semangkok ice cream. Tangan sebelah kananya berusaha untuk menulis di sebuah buku catatan kecil yang terpangku di atas paha sebelah kanannya.

"Mau pulang?"

"Engga, cuman nanya doang"

Bahunya terangkat keatas, menandakan dia tidak tahu lalu matanya kembali fokus ke TV.

image-url-apps
nitip sendal disini ya gan emoticon-Traveller
image-url-apps
ijin nyimak di pejwan gan...

keep Update yak...
emoticon-Shakehand2
image-url-apps
Jejak dulu
image-url-apps
Nunggu apdet sambil mikir ini fake atau facts!
×