alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5726fcd854c07aa9688b4579/aksi-siber-isis-tidak-dianggap-mencemaskan
Aksi siber ISIS tidak dianggap mencemaskan
Aksi siber ISIS tidak dianggap mencemaskan
Ilustrasi
Gerombolan garis keras ISIS dan jaringan yang mengaku terlekat padanya takkunjung selesai menaburkan kecemasan. Terbaru, satu kelompok kecil peretas menyiarkan daftar berisi 3000 nama dan alamat warga New York yang diduga tengah diburu ISIS. Para dedemit maya yang tergabung dengan United Cyber Caliphate menyebarkan daftar lewat aplikasi berbagi pesan Telegram.

Menurut laman Mic, daftar tersebut dipandang telah usang. Selain berisi nama pegawai pemerintah yang bekerja untuk lembaga negara seperti Departemen Luar Negeri dan Departemen Pertahanan Amerika Serikat, daftar pun memuat banyak nama "orang biasa" yang salah satunya bernama Art, 88 tahun. "Lebih terdengar sebagai perang mental," ujarnya, "bikin 3000 orang di kota ini jadi keki.'

Biro Federal AS (FBI) dan kepolisian New York mendatangi rumah-rumah warga yang dikejar teror tersebut. "Meski biasanya (FBI) akan meniadakan komentar atas perkara operasional dan investigatif tertentu, kami rutin menyampaikan informasi kepada para individu dan organisasi yang berpotensi mengancam," ujar seorang juru bicara FBI dikutip NBC New York.

Baru-baru ini dilaporkan bahwa ada peningkatan upaya kelompok pro-ISIS untuk melangsungkan serbuan di Internet. Bulan lalu, kelompok pro-ISIS meretas laman New Jersey Transit Police. Mereka pun mengunggah informasi pribadi para polisi yang bekerja di sana.

Belum jelas mengenai bagaimana para peretas itu mendapatkan informasi mengenai 3000 orang yang menjadi targetnya. Sebagian besar nama berasal dari Brooklyn, beberapa dari Manhattan, Staten Island, Queens, serta lokasi lainnya. Mereka dikenal tidak terlibat aktif dalam politik atau bahkan bersentuhan dengan pemerintahan.

Dalam rentang waktu yang berdekatan, para peretas ISIS pun menampilkan daftar target berisi informasi sekitar 70 orang personel militer AS yang pernah terlibat serangan drone di Suriah. Dalam pesan yang dibagikan, dilansir NDTV, para penjahat siber itu meminta para pengikutnya untuk membunuh mereka yang berada dalam daftar.

Para peretas termaksud berjaringan dengan Inggris dan melabeli diri 'Divisi Peretasan Negara Islam'. Seraya mengirimkan nama, alamat rumah, serta foto-foto target, para hacker itu menyerukan para pengikutnya untuk "membunuhi (orang-orang dalam daftar) di mana pun mereka berada." Pengintil-pengintil itu dibujuk untuk "mendatangi rumah target dan memancungnya, menusuknya, menembak kepalanya, atau meledakkanya.'

Bersamaan dengan peredaran daftar, pesan dengan nada membakar pun disematkan. "Baik militer atau presiden kalian (Amerika Serikat) pengecut...(Kalian hanya berani mengirimkan drone (pembunuh) untuk menyerang kami dari udara," tulis pesan tersebut.

Bagian dasar dokumen memacak gambar Patung Liberty dengan kepala yang sudah terpenggal.

Dua kasus itu kian meneguhkan upaya perekrutan oleh ISIS yang kian mengandalkan teknologi informasi. Pun tidak hanya proses rekrutmen, ISIS memanfaatkan produk TI yang terserak untuk berkomunikasi atau bahkan menyerang target-target asing. Dilansir laman The Atlantic, para pejabat tinggi intelijen juga mengutuk penerapan pesan terenkripsi dalam komunikasi ISIS. Dan secara umum, tidak mudah mencari aplikasi demikian--WhatsApp dengan pembaruan termutakhir sudah memungkinkan pengguna mengirimkan pesan terenkripsi.

Namun, dalam artikel berjudul "Don't Panic (For Now) About ISIS Hacking", laman tersebut menulis bahwa ISIS belum sanggup meluncurkan serangan siber di Barat karena kemungkinan "belum punya perangkat atau tidak tahu caranya.'

Sejauh ini, tulis The Atlantic, serangan siber ISIS yang paling menghebohkan menyasar akun Twitter Pusat Komando AS dan media Newsweek.

Meski belum mencapai skala menggelisahkan, antisipasi terhadap serangan lebih gencar di masa mendatang telah disiapkan. Sejumlah petinggi dari Departemen Pertahanan AS mulai melatih senjata perang sibernya untuk menggasak ISIS. Senjata itu bakal mengacak-acak pola pembayaran para serdadu ISIS, memanipulasi komunikasi gerombolan guna menciptakan kebingungan, dan mengganjal potensi perekrutan anggota.


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...ap-mencemaskan

---

ISIS bakal menjadi senjata makan tua bagi Amerika emoticon-Cool
×