alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5726d1afc1cb170d458b4578/tarian-jiwa
TARIAN JIWA
Sahabat, Thread ini berisikan kumpulan cerita-cerita yang sudah sangat mainstream namun saya coba hadirkan lagi disini dengan bahasa saya sendiri dengan harapan pesan-pesan yang disampaikan dalam cerita ini bisa sampai ke hati agan-agan disini.

Satu hal yang pasti, cerita ini murni karangan ane sendiri gan. Jadi mungkin bahasanya masih acak adul. emoticon-Ngakak

Happy Reading

AM I HAPPY FOR YOU?

Air mata menetes secara perlahan dari mata perempuan tersebut. Di sana, di atas pelaminan sepasang manusia yang terlihat menyunggingkan senyum bahagia di wajah mereka.

Cinta tidak harus memiliki, bisik hati kecilnya. Dengan sapu tangan, dia usap air mata yang masih menetes membasahi pipi putihnya. Dengan menegakkan bahunya dan menghirup banyak udara, dia berjalan mendekati sepasang pengantin tersebut.

Si lelaki terkejut. Wajahnya pucat dan menunjukkan rasa bersalah yang teramat sangat. Sementara pengantin wanita yang tidak tahu menahu dengan hubungan pengantin pria dan tamu wanita tersebut tetap memasang wajah bahagia.

"Selamat yah, semoga kalian menjadi keluarga samara. I am happy for you both!" Katanya lirih. Air mata tanpa bisa dia bendung kembali membasahi pipinya. Dia memeluk pengantin perempuan sambil berbisik pelan.

"Jaga dia! Jangan kamu sia-siakan. Sungguh, sebagian jiwaku sudah berada dalam genggamanmu. Aku titipkan cintaku. Jangan pernah bosan mencintainya!"

Pengantin perempuan terkejut. Dadanya berdebar kencang. Dia seolah merasakan keperihan dan kepedihan hati perempuan tersebut.

Wanita tersebut melepaskan pelukannya dan memberikan senyuman manisnya kepada si pengantin perempuan.

Saat dia mendekati pengantin lelaki tersebut, dia mengulurkan tangannya dan masih berusaha memberikan senyumannya walau hatinya terasa hancur berkeping-keping.

Tidak ada kata terucap. Dunia terasa begitu sunyi. Kilasan masa lalu berkilat di hati dan pikiran dua anak manusia tersebut. Namun sepertinya dewa cinta tidak berpihak kepada mereka. Hubungan yang terjalin lama tinggal cerita yang hanya akan menjadi sebuah kenangan yang harus di kubur dalam-dalam.

Ketika pegangan tangan keduanya terlepas, perempuan tersebut melangkah dengan cepat. Tidak peduli dengan pandangan banyak orang yang dipenuhi banyak tanda tanya.

***

Cinta, sekuat apapun kamu merengkuhnya, sekuat apapun kamu mengikatnya, jika sang Maha Kuasa tidak menjodohkanmu tidak ada yang bisa kamu perbuat. Kamu harus menerimanya dengan lapang dada dan rela hati.

Tidak perlu sakit hati. Tidak perlu menyimpan kebencian. Karena cinta selalu ada dimanapun kita berada.

Berdamailah dengan masa lalu. Tatap hari esok yang lebih menjanjikan dari pada terpuruk dengan keadaan yang tidak mungkin kita perbaiki.


Salam Sahabat

KETIKA MEDIA SOSIAL MENGHANCURKAN RUMAH TANGGAKU!

"Aduh, romantisnya suamiku, pulang-pulang bawain aku kado yang isinya cincin dan kalung yang sangat indah! Terima kasih, suamiku!"

"Wahhh, my husband is very wonderfull, pagi-pagi sudah nyiapin sarapan buat aku. Tahu aja kalau isteri sakit ga' bisa masak! Terima kasih sayang, kamu adalah lelaki terbaik yang pernah aku miliki!"

"Astaga, tiket keliling eropa? Oh my God, suamiku mau mengajakku bulan madu yang ke sekian kalinya ke eropa! Makasih sayangggg!"

"Alhamdulillah, saat ini suamiku telah memenuhi keinginannya memberangkatkan orang tuanya dan orang tuaku ke tanah haji. Semoga kita selalu diberkahi ya sayang!"

Blablabla...

Tanpa terasa ratusan postingan telah dia tulis di wall facebook pribadinya. Tanpa dia sadari, begitu banyak wanita lain yang membaca postingannya tersebut. Siapakah yang tidak akan iri? Siapakah yang tidak akan cemburu dengan kehidupan yang dia miliki. Tanpa dia sadari, Tuhan mulai menegurnya dengan gelombang kehancuran rumah tangga.

Perempuan itu, Sinta namanya. Cantik dan terlihat humble. Gayanya modis dan selalu memperhatikan penampilannya. Memiliki banyak teman baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Sinta memiliki seorang suami yang bekerja di sebuah perusahaan multinasional dengan jabatan yang cukup tinggi. Tampan, gagah dan yang paling penting agamanya taat. Sinta merasa sangat beruntung menjadi isteri Rama, nama suaminya tersebut.

Lelaki tersebut sangat setia dan selalu berusaha memenuhi kebutuhan Sinta baik secara jasmani maupun rohani. Kebahagiaan tersebut tidak bisa dia tanggung sendiri. Semua unek-unek dan kekagumannnya terhadap sang suami tercurah ke media sosial. Path, Facebook, twitter, instagram menjadi senjatanya untuk mempromosikan ke seluruh dunia tentang kebaikan seorang Rama.

Ribuan like dan ratusan koment dia dapatkan dan tidak sedikit juga yang mengingatkannya untuk tidak mengumbar kata-kata romantis di media sosial tersebut. Namun dia tidak peduli dengan kritikan tersebut. Dia memiliki prinsip, ini kebahagiaanku, salahkah aku kalau aku memuja suamiku sendiri?

Sampai akhirnya suatu hari ada seorang teman berkunjung ke rumahnya. Perempuan tersebut sangat cantik, bahkan melebihi kecantikan Sinta, usianya pun lebih muda beberapa tahun. Namanya Ratu. Parasnya yang cantik dan tubuh yang sangat bagus, tidak ada lelaki yang tidak akan terpesona oleh kecantikannya. Begitu juga dengan Rama. Dia sedikit tertegun melihat kehadiran Ratu. Ratu juga merasakan atmosfir yang berbeda ketika melihat Rama. Hati kecilnya mengakui ketampanan dan keramahan Rama. Senyuman Rama membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

Iblis mulai merasuki pikiran kedua anak manusia tersebut. Rama mati-matian menjaga pandangannya. Berusaha mengontrol hatinya yang tiba-tiba tidak tenang. Apalagi Ratu mulai dengan sengaja memperlihatkan pahanya yang putih bersih. Lelaki tersebut merasakan kerongkongannya kering.

Tidak tahan dengan godaan tersebut dia meninggalkan Sinta dan Ratu untuk berbincang-bincang.

"Gimana? Kamu percayakan betapa mempesonanya suamiku?" Ujar Sinta sambil bercanda. Dia tidak sadar, kalau Ratu sudah terpikat kepada Rama. Berbagai ide berkelebat di pikiran Ratu, aku harus mendapatkannya, bisik hati kecilnya.

"Hmm, relatif sih! Menurut aku biasa saja! Hahaha!" Ratu berbohong dengan ucapannya. Sungguh, dia masih ingin melihat Rama lebih lama. Namun dia tahu diri, akan datang masanya dimana Rama bisa berada dalam genggamannya.

***

Sepulangnya Ratu dari rumah Sinta, bayangan Rama terus menggodanya. Gila, apa yang aku rasakan? Kenapa bisa seperti ini? Shit!

Dia menghempaskan tubuhnya ke kasur. Berusaha menghalau bayangan Rama dari pikirannya.

***

Ratu berdiri di pinggir jalan yang sangat sepi tersebut. Ketika jam masih menunjukkan pukul 11 malam. Sudah berhari-hari dia melakukan stalking tentang Rama. Jam berapa Rama pulang kerja, dimana lewatnya dan semua hal yang berhubungan dengan Rama tidak luput dari intaiannya.

Tepat denting jam di angka 12, sebuah sedan berwarna silver melaju dengan kecepatan sedang. Ratu yang melihat kedatangan mobil tersebut menghamburkan badannya ke jalan. Seperti yang sudaj dia prediksi, mobil berdecit ketika direm mendadak. Pinggul Ratu terserempet ujung mobil. Perempuan tersebut melenguh tinggi merasakan hantaman yang cukup menyakiti pinggulnya.

Rama segera turun dari mobil dan mendapati seorang perempuan terkapar di depan mobilnya. Jalanan begitu sepi. Rama dengan sigap membalikkan badan perempuan tersebut dan sangat kaget mendapati wajah si korban.

"Ratu?" Ujarnya bergetar. Perempuan tersebut meringis kesakitan.

"Rama? Ya Tuhan, sakit sekali!" Ratu merintih menahan sakit. Rama dengan cepat memegangi pinggang Ratu. Ratu menyandarkan wajahnya di dads bidang Rama. Senyuman culas muncul di wajah perempuan tersebut. Selalu ada pengorbanan untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

"Kamu, kenapa bisa ada disini? Ya ampun, Ratu, kita ke rumah sakit ya?" Rama terlihat panik dsn cemas.

"Jangan... Tidak usah Rama. Rumahku tidak jauh dari sini. Antarkan aku pulang saja. Hanya terserempet saja kok. Maaf yah aku telah merepotkanmu!" Ratu mengalungkan tangannya di leher Rama ketika pria tampan tersebut mengangkat tubuhnya ke dalam mobil.

"Seharusnya aku yang minta maaf karena telah menabrakmu!" Rama merasakan jantungnya berdebar kencang. Ratu memakai pakaian yang sangat sexy. Kulit pahanya terasa mulus. Belahan dadanya terbuka lebar membuat jakun Rama bergerak. Dia tidak menyangka bakalan bertemu lagi dengan perempuan yang sempat mendatanginya ke dalam mimpi-mimpi malamnya.

"Kamu darimana sih? Kenapa bisa berada di tempat sepi begitu?" Ujar Rama setelah mobil mulai berjalan meninggalkan tempat tersebut. Ratu terdiam. Wajahnya menampakkan kesedihan.

"Aku dicampakkan kekasihku, Ram! Hikshikshiks. Tadi kami bertengkar hebat. Dia meninggalkanku disana. Lelaki tersebut benar-benar tidak bertanggung jawab. Padahal aku sangat begitu mencintainya. Entah apa salah dan dosaku, sehingga dia tega mencampakkanku seperti itu! Hikshikshiks!" Ratu menangis tersedu-sedu. Rama sangat kasihan sekali. Dia belai rambut semi pirang di kepala Ratu. Berusaha menenangkannya.

"Maaf yah, aku turut bersedih dengan ceritamu. Apa kamu mau ke rumahku? Kamu bisa bercerita banyak kepada Sinta. Mungkin dia bisa membantu!" Ujar Rama sambil tersenyum manis. Membuat debaran di hati Ratu semakin tidak menentu.

"Tidak usah, Ram! Sudah terlalu malam. Antarkan aku pulang saja yah?" Jawab Ratu sambil memperbaiki posisi duduknya.

"Kamu tinggal sama siapa?" Tanya Rama setelah sesaat mereka dalam kebisuan.

"Sendiri saja, Ram! Maklum, wanita karir seperti aku kadang terlalu sibuk dengan pekerjaan. Sinta sangat beruntung. Dia tidak perlu susah payah bekerja. Apalagi dia mempunyai suami seperti kamu, Ram. Ganteng, kaya dan baik hati lagi. Akh, andai aku juga bisa sebahagia Sinta!" Ratu merasakan pipinya panas dan memerah karena kelepasan bicara. Dia jadi salah tingkah. Sementara Rama juga tidak tahu harus berkata apa.

"Maaf yah Ram. Aku terdengar childish banget yah? Hehehe!" Ujar Ratu jengah.

"Haha, tidak apa-apa, Ratu. Lagian, kamu juga tidak bakalan susah menemukan pendamping hidup seperti yang kamu inginkan. Aku yakin, setiap manusia itu pasti ada pasangannya!" Kata Rama dan mengedipkan matanya ke arah Ratu.

"Yah, semoga saja Ram!"

Gemuruh di dada Ratu semakin tidak karuan. Bisikan setan berkali-kali mengiang di telinganya. Ini kesempatan bagus. Sangat bagus!

Sesampai di rumahnya, Rama kembali membopong tubuh Ratu. Masuk ke dalam rumah dan terus menuju kamar. Dengan hati-hati Rama membaringkan tubuh Ratu. Perempuan tersebut meringis kecil.

"Masih sakit?" Tanya Rama khawatir.

"Iya Ram. Sepertinya keseleo. Mungkin besok aku harus ke tukang pijit!" Tanpa ragu, Ratu menurunkan celana shortnya, menampakkan daging pinggulnya yang putih bersih. Karuan saja, Rama jadi panas dingin.

Iblis bersileweran di sekitar mereka. Rayuan dan rengekan Ratu membuat hati Rama terpikat. Malam itu, pertahanan Rama jebol. Di tengah kesunyian malam dua tubuh menyatu dalam kancah dosa. Pengkhianatan pun tak terhindari. Rama telah menduakan hatinya. Terpikat akan kecantikan dan kemolekan seorang Ratu.

***

Hari-hari berlalu. Hubungan gelap yang dijalani oleh Ratu dan Rama belum terendus oleh Sinta. Namun Sinta merasakan perubahan yang teramat sangat dari diri seorang Rama. Sinta tidak lagi menjadi Ratu di hati Rama. Sikapnya jadi jauh berubah. Jarang pulang ke rumah. Sekalinya pulang, yang ada hanya teriakan kemarahan dan kebencian kepada Sinta.

Tubuhnya makin kurus, makin kuyu dan layu. Cinta yang dulu tumbuh berseri, perlahan-lahan gugur. Meninggalkan bunga layu yang entah bisa berbunga lagi.

Tidak ada lagi postingan kebahagiaan di media sosialnya. Hanya keluhan dan keluhan yang dia update. Sehingga akhirnya dia mengetahui perselingkuhan suaminya dengan temannya sendiri.

"Seharusnya aku tidak mengundangmu ke rumahku. Ternyata kamu ular yang dengan tega merampas kebahagiaanku. Aku berharap, kamu bisa menjaga Rama dengan baik. Ketahuilah, mungkin saat ini kamu berbahagia di atas penderitaanku, tapi lambat laun, akan ada balasan yang setimpal atas perbuatanmu!"

***

Hikmah:

Jangan pernah menganggap sepele hal kecil yang kamu lakukan. Berawal dari mempromosikan suami di media sosial, menimbulkan kecemburuan wanita lainnya. Direbut dan akhirnya hancur tidak bersisa lagi.

Siapa yang salah? Siapa yang tidak bisa menjaga suaminya dengan baik? Siapa yang tidak bisa bersyukur dengan apa yang dia miliki. Kenapa harus menyombongkan apa yang dimiliki, tanpa disadari kalau sewaktu-waktu apa yang dimiliki tersebut bisa pergi dan hilang dari kehidupan?

Selalu waspada dan hati-hati dalam bertindak. Karena bencana dan petaka selalu setia mengintai setiap saat.

Salam Sahabat.
bagus.....begitulah realita kehidupan
kadang kita menutup mata dan telinga kita akan kenyataan yang ada

CINTA TANPA KEJUJURAN

Cerita berikut ini mungkin pernah dialami semua orang. Cinta selalu identik dengan yang namanya kesetiaan, kejujuran dan kepercayaan. Namun jika salah satu saja tidak berfungsi, hubungan tidak akan harmonis. Tidak akan berjalan sesuai dengan keinginan.

Mari simak, kisah sedih berikut ini, dimana ketika kejujuran dipertanyakan, yang didapat bukan jawaban tapi putusnya sebuah hubungan dan jalinan tali kasih.

***

Wika berjalan dalam pekat malam dengan gerimis turun membasahi badan. Hatinya remuk redam mendapati sang kekasih mengkhianati cinta sucinya. Tidak menyangka dan tidak menduga. Perempuan yang dia cintai, mengkhianatinya sedemikian rupa.

Wika menghenyakkan pantatnya di sebuah batu besar. Berusaha menenangkan gejolak batinnya yang tidak tenang.

Sesaat, pikirannya melayang ke beberapa jam yang lewat.

***

"Dira, nanti aku ke rumahmu yah? Aku kangen banget sama kamu. Sudah sebulan kita tidak bertemu. Padahal kita berada di satu kota yang sama! Masa' untuk bertemu kamu saja susahnya minta ampun!" Wika mengawali serentetan kalimat tersebut ketika menelpon Dira, pujaan hatinya.

"Hahaha," tawa Dira terdengar begitu renyah. Salah satu hal yang disukai oleh Wika dari Dira. "Bukannya aku tidak mau, sayang. Tapi aku benar-benar sibuk. Pekerjaan menumpuk. Kamu kan tahu sebagai seorang supervisor pekerjaan ku bukan pekerjaan yang bisa selesai dalam hitungan jam! Belum lagi aku sering keluar kota mengurusi pekerjaan di luar area!" Jawaban yang sama yang Wika dengar. Wika tidak mau berpikir yang tidak-tidak. Dia percaya dengan sepenuh hati kalau perempuan yang dia cintai tersebut adalah gadis jujur dan berpendidikan. Tidak mungkin dia membohongi Wika yang sudah dipacarinya bertahun-tahun.

Wika menghela nafas berat. Rasa rindu di hatinya sudah tidak tertanggungkan. Dalam hitungan satu tahun lagi dia akan meresmikan hubungannya dengan Dira sebagai sepasang suami isteri. Dia percaya, kalau Dira masih menjadikannya satu-satu kekasih hatinya.

Memikir sampai disana, Wika mencoba untuk bisa mengendalikan dirinya.

"Baiklah sayang, semoga urusan kamu segera selesai dan kita bisa bertemu lagi!" Ujar Wika sambil menutup telponnya.

Namun yang namanya manusia, rasa penasaran pastilah ada. Apalagi ini sudah satu bulan lamanya Wika tidak bertemu dengan Dira. Wika merasa ada sesuatu yang janggal.

Apakah aku telah dibodohi? Tidak! Dira tidak mungkin membohongiku. Begitu kata hatinya terus menyemangatinya.

Seiring berjalannya waktu, hati Wika tidak tenang. Dia memutuskan untuk mencari tahu. Ada apa sebenarnya dengan Dira!

Jadi begitu jarum jam berdentang di angka tujuh malam dia mulai mendekati rumahnya Dira. Mengintai dari jarak beberapa meter. Ingin tahu, apakah Dira akan keluar malam ini atau tidak.

Angin berhembus lirih. Dingin dan membekukan. Wika menunggu di balik batang pohon di pinggir jalan tidak jauh dari rumah Dira. Satu jam berlalu tidak ada terlihat batang hidung sosok yang dinanti. Wika merasa bersalah karena tidak mempercayai Dira. Mungkin saja Dira saat ini masih di kantor, atau masih di jalan. Atau mungkin di rumah dan tidak ingin pergi keluar malam.

Bodohnya aku, bisa-bisanya aku melakukan tindakan konyol seperti ini, racau Wika di dalam hati sambil tertawa kecil. Namun senyumannya sesaat memudar ketika dia mendengar deru kendaraan. Sebuah sedan berwarna merah metalik berhenti tepat di depan halaman rumah Dira. Saat itu juga Wika melihat kekasih hatinya keluar dari rumah dan tampil begitu cantik malam ini. Mengenakan gaun pendek berwarna hitam dengan rambut tergerai. Wajahnya terlihat sedikit kesal, dan kata-kata yang keluar dari mulutnya membuat Wika tersentak.

"Lama banget sih, Beib! Satu jam lho kamu telat!" Dira melontarkan kata-kata tersebut kepada seorang lelaki yang juga terlihat begitu modis dan handsome yang baru saja keluar dari dalam mobil. Dia mendekati Dira dan memeluk perempuan tersebut.

Dada Wika terasa sesak dan nyeri. Kemarahan di hatinya menggelegak. Tanpa bisa ditahan lagi Wika segera menghambur ke arah kedua orang tersebut. Matanya menatap Dira dengan sorot yang dipenuhi dengan kebencian.

"Wika?!" Dira sangat terkejut melihat Wika berdiri di depannya dengan wajah memerah menahan marah.

"Jadi ini kesibukan yang kamu bilang? Pengkhianat!" Wika langsung membentak Dira yang tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

"Wika, aku... Aku tidak...!" Dira mencoba membela diri sambil mendekati Wika. Namun Wika memundurkan badannya.

"Tidak usah kamu jelaskan! Cukup tahu aku sekarang perempuan seperti apa dirimu ini! Murahan!"

"Wikaaa!" Dira mendamprat Wika dengan keras. "Terserah kamu mau bilang apa! Aku katakan yah, aku bosan sama kamu! Bosan dan rasanya aku tidak memiliki masa depan denganmu. Selagi aku masih bisa mendapatkan yang terbaik darimu, tidak ada salahnya kan aku membuka hati untuk yang lain?" Dira berjalan mendekati lelaki tampan di sampingnya. Memeluk pinggang lelaki tersebut tanpa ada rasa bersalah kepada Wika.

Melihat itu hati Wika semakin terluka,

"Ternyata aku tidak pernah ada artinya di hatimu! Sekian tahun kita menjalin hubungan, ternyata cuma aku yang terlalu berharap! Oke! Jika ini memang inginmu, silahkan! Pergi, aku tidak butuh perempuan tidak setia seperti dirimu! Aku hanya berharap, suatu saat kita tidak pernah bertemu lagi. Dan aku harap kamu bahagia dengan pilihanmu ini!" Selesai berbicara seperti itu, Wika melangkah dengan cepat meninggalkan kedua anak manusia tersebut. Tidak menoleh lagi ke belakang tanpa dia sadari kalau Dira meneteskan air mata kepedihan mengiringi kepergiannya.

***

Wika berjalan tidak tentu arah. Hatinya terasa perih dan luka. Selama ini dia merasa hubungannya dengan Dira baik-baik saja. Apapun yang diinginkan Dira selalu berusaha untuk dia penuhi. Namun dia tidak menyangka bakalan mendapatkan balasan seperti ini. Wika meneriakkan kekesalannya ke langit tinggi.

"Brengsek! Kenapa semuanya jadi hancur begini! Perempuan apakah yang kupacari selama ini? Jangan-jangan aku hanya sekedar badut hiburan baginya dikala sepi! Shit!" Wika meracau tidak jelas. Dia terus melangkahkan kakinya sehingga dia kembali sampai di rumah di kala hujan akhirnya tercurah ke bumi.

***

Keesokan paginya Wika terkejut ketika terbangun dari tidurnya, Dira sudah duduk di tepi ranjangnya. Memandangnya dengan syahdu dan lembut. Matanya menatap dengan penuh cinta kepada Wika yang sekarang membalikkan punggungnya membelakangi Dira.

"Ngapain kamu kesini?" Rungut Wika ketus. Dia masih kesal dan ingat dengan apa yang terjadi semalam. Ditunggu-tunggu tidak ada jawaban dari Dira. Wika membalikkan badannya, dan sesaat dia terkejut. Tidak ada Dira di dalam kamarnya.

Apakah aku berhalusinasi? Shit! Bahkan ketika bangun tidurpun bayangannya masih saja mengganggu pikiranku. Ya Tuhan, enyahkanlah makhluk jahat itu dari hidupku.

Wika segera bangun dari tidurnya. Dia harus mandi dan segera pergi bekerja. Jika dia turutkan hatinya, bisa-bisa dia akan meringkuk meratapi nasib sehari semalam di dalam kamar mengenang perjalanan cintanya.

Selesai mandi, berpakaian dan sarapan Wika mencek pesan masuk di perangkat selulernya. Dan sebuah pesan masuk dari Dira menghiasi inboxnya.

"Maafkan aku yang tidak pernah jujur selama ini sama kamu, Wika. Aku tidak tega. Jujur, kamu terlalu baik untukku. Semoga, nanti kamu bisa mendapatkan yang lebih baik dari aku. Seminggu lagi aku akan melangsungkan pernikahan dengan Kevin. Aku harap kamu mau memaafkan dan memberikan doa restu untuk kebahagiaanku dengan Kevin. Aku tidak mau menjalani hidup dengan adanya kebencian dari orang lain. Rasanya seperti ada yang mengganjal kalau hidup diisi dengan kebencian. Kamu bersediakan memaafkanku?"

Pesan yang cukup panjang dan membuat Wika tertegun. Santai sekali perempuan ini mengirimkan pesan menyakitkan seperti itu kepadaku? Batin Wika emosi. Dia membalas pesan tersebut,

MATI AJA LOE!

Wika segera memasukkan hapenya ke dalam kantong celananya. Berusaha melupakan apa saja yang dia baca barusan.

Aku tidak akan tertipu lagi. Aku masih percaya, masih ada cinta bagiku di luar sana. Semangat Wika. Kesedihan ini hanya sementara!

The end

Isteri Bergaji Tinggi

Lukas merupakan anak tertua dari empat bersaudara. Dimana adik-adiknya masih menempuh pendidikan. SMU, SMP dan SD. Sementara dia sendiri sudah bekerja di sebuah perusahaan Swasta.

Kedua orang tuanya hanyalah pedagang biasa. Subuh sudah berangkat ke pasar dan baru kembali ke rumah ketika mentari senja sudah tenggelam di ujung hari. Otomatis, ketiga adiknya berada di dalam pengawasannya.

Lukas merupakan sosok yang bertanggung jawab, tegas dan mandiri. Adik-adiknya menaruh simpati dan hormat kepada dirinya. Patuh dan tidak berani membangkang dengan semua perintah dan peraturan yang dibuat oleh Lukas.

Seiring berjalannya waktu, Lukas pun sudah memasuki usia untuk berkeluarga. Dia akan mempersunting seorang wanita cantik yang juga merupakan seorang wanita karir. Perempuan tersebut sama kerasnya dengan Lukas. Memandang hidup bukanlah untuk main-main. Setiap waktu dipenuhi target yang tersusun dan terencana. Lukas menyukai Sonia, wanita tersebut, karena selain cantik juga memiliki prinsip yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Lukas merasa Sonia adalah wanita idamannya.

Sonia merupakan seorang Administration Head di sebuah kantor yang bertaraf international. Sebenarnya dia juga merasa gamang, apakah dia benar-benar bisa membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga. Namun ada beberapa komitmen yang dia buat dengan Lukas, dimana salah satunya Lukas tidak melarangnya untuk meniti karir. Alasannya, hidup sekarang ini tidak bisa mengandalkan keuangan suami saja. Apa-apa sekarang mahal dan melihat jabatan Lukas yang hanya staff biasa tidak akan mampu memenuhi standar hidupnya yang biasanya tinggi.

Dari segi penghasilan, Lukas memang tinggal jauh dibandingkan Sonia yang sudah menjadi pejabat perusahaan. Namun, materi bukan alasan utama Lukas bersikeras mempersunting Sonia. Lebih karena dia hanya tidak menemukan alasan lain kenapa dia bisa begitu mencintai Sonia yang terlihat keras dengan hidupnya.

Kedua keluarga sudah bertemu. Hari bahagia itu pun datang. Lukas dan Sonia akhirnya sah menjadi suami isteri. Lukas mengontrak sebuah rumah kecil untuk mereka berdua. Awalnya Sonia tidak mempermasalahkan hal itu. Namun, semakin hari banyak sekali hal di rumah itu yang membuat Sonia tidak nyaman.

Kawasan tempat dia tinggal terlalu kampungan dan ramai sekali dengan anak-anak. Dimana-mana terdengar suara ribut dan bising. Belum lagi sarana pdam yang sering mati. Listrik juga sering padam. Benar-benar kawasan perumahan yang jauh dari kata ideal.

Tidak mau menimbulkan pertengkaran, Lukas akhirnya menyerahkan urusan perumahan kepada Sonia.

"Kita akan tingal di komplek mewah, Mas! Ini bukan standar hidupku. Aku akan sangat malu jika ada rekan kerjaku yang melihat aku tinggal di kawasan kumuh seperti ini!" Sonia memberikan ultimatum yang membuat dada Lukas terasa sesak. Dia gamang membayangkan tinggal di perumahan elit. Dia merasa rendah diri.

"Maafkan Mas ya, Sonia! Mas belum mampu membahagiakan kamu!" Ujar Lukas dengan suara tertahan. Dia malu dengan dirinya sendiri. Dia pandangi wanita cantik yang sekarang berbaring di sampingnya.

"Mas, aku menikahimu bukan untuk membuatmu malu dan rendah diri. Apapun yang aku miliki, sekarang adalah milikmu juga. Selagi aku masih memiliki uang dan harta kita bisa menggunakannya untuk kebaikan kita bersama. Jadi Mas, aku mohon, berhentilah bersikap seolah-olah kamu tidak butuh pertolongan dariku!"

Malam itu, Lukas tidak menjawab apapun yang diucapkan oleh Sonia. Gengsinya sebagai lelaki masih begitu tinggi. Harga dirinya seolah-olah diinjak-injak. Tanpa Sonia tahu beberapa air mata bergulir di sudut mala Lukas.

***

Rumah itu terlihat sangat besar untuk dihuni oleh hanya dua orang. Sonia tidak mau menyewa jasa pembantu. Dia beralasan, seemuanya masih bisa dia handle sendiri, tentunya dengan bantuan Lukas. Dia ingin lebih banyak menghabiskan waktu dengan Lukas.

Namun akhirnya kesibukan kerja merampas semua hasrat mulia tersebut. Lukas sibuk dengan pekerjaannya, begitu juga dengan Sonia yang sering bepergian keluar kota mengurus cabang-cabang perusahaan tempat dia bekerja. Waktu berharga mereka berdua hanyalah berbaring kelelahan di atas ranjang.

Enam bulan pernikahan dan Sonia masih belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Lukas berharap hari ini dia bisa mengajak Sonia ke dokter kandungan. Dia sudah merasa malu dengan ucapan teman-temannya di kantor.

"Hei, itu perkutut digunain ga'? Masih belum kelihatan hasilnya!"

"Loe isteri dipandangi aja ya, Luk? Ga' diolah gitu lahan gambut loe?"

Dan semua ledekan tersebut membuat telinga Lukas memerah. Mau emosi tapi dia tahan. Setelah dia renungi, selama enam bulan pernikahannya baru tiga kali mereka berhubungan badan. Karena setiap Lukas ingin, Sonia menolak dengan alasan capek!

"Sayang, sore nanti usahakan pulang cepat yah, kita harus konsul ke Dokter. Mas sudah pengen punya baby!" Lukas memeluk Sonia dari belakang dan menciumi leher putih isterinya dengan lembut.

"Aku usahakan ya, Mas... Mengingat ini akhir bulan, pekerjaan pasti sangat banyak!" Sonia membalikkan badannya dan mengecup bibir Lukas. Selanjutnya perempuan tersebut melangkah meninggalkan Lukas sendirian. Lukas memandang jam di dinding. Pukul setengah tujuh isterinya sudah berangkat bekerja. Lukas menghela nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala.

***

"Setelah saya diagnosa, tidak ada yang salah pada bapak dan ibu. Cuma, saran saya Ibu jangan terlalu stress dan lelah. Karena untuk bisa hamil dibutuhkan fisik yang baik dan prima. Ibu bekerja?"

Pertanyaan Dokter tersebut mengiang-ngiang di telinga Lukas di malam harinya. Stress dan kelelahan penyebabnya dia masih belum bisa memiliki momongan.

Apakah aku tidak akan punya anak dari Sonia?

Lukas kembali menarik nafas sesak. Dia tidak mungkin melarang Sonia untuk bekerja. Karena komitmen yang telah mereka ciptakan sebelum menikah. Lukas mengutuk dirinya yang tidak bisa tegas pada dirinya sendiri. Dia merenungi lagi kehidupan rumah tangganya.

Memang saat ini, dia bisa membeli apa saja dengan penghasilan isterinya ditambah dengan penghasilannya sendiri. Rumah mereka semakin penuh dengan barang-barang mahal. Masing-masing sudah memiliki mobil sendiri. Harta mereka sudah bisa dikatakan berlebih hanya untuk menghidupi mereka berdua.

Aku ingin punya anak!

***

Pertengkaran demi pertengkaran akhirnya hadir dalam hidup Lukas dan Sonia. Sonia menegaskan untuk menunda kehamilannya karena dia sedang fokus dengan karirnya sementara Lukas sangat ingin memiliki anak.

"Persetan dengan jenjang karirmu! Kamu itu isteri aku! Aku berhak mendapatkan anak darimu! Untuk apa kita menikah kalau kamu tidak mau mempunyai keturunan?" Hardik Lukas tepat di depan wajah Sonia.

"Aku bukan tidak ingin, Mas! Aku hanya berniat menundanya. Kenapa kamu tidak mengerti juga yah? Apa kamu kira kehidupan mewah yang kamu rasakan saat ini didapatkan secara instan? Mikir donk!" Sonia juga menyalak tak kalah keras.

"Aku tidak butuh kemewahan, Sonia! Aku hanya ingin kamu memiliki banyak waktu untuk keluarga kita! Apa kamu ingin kita terus-terusan seperti ini? Berkeluarga tapi serasa tidak berkeluarga. Kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu! Mengabaikanku yang sering kesepian di rumah ini!"

"Oh my god! Kamu terlalu drama, Mas! Sudahlah, kalau aku bilang tunda ya tunda! Kamu tidak bisa mengatur-atur hidupku!" Sonia menatap tajam ke arah Lukas yang akhirnya memilih untuk bungkam. Perlahan-lahan dia meninggalkan Sonia yang masih memandangnya dengan berang.

***
Inilah hidupku. Beristerikan seorang perempuan yang penghasilan dan pekerjaannya jauh di atasku. Semua yang ada di rumah ini, adalah hasil dari kerja kerasnya. Sedangkan aku? Apa yang bisa aku berikan? Gajiku cuma sekian juta yang hanya habis untuk membiayai hidupku sendiri.

Kadang aku sering menggigit lidahku sendiri. Menahan kata-kata melompat dari mulutku. Karena pernah suatu hari Sonia mengatakan kepadaku, kalau aku hanya bermodalkan dengkul saja ketika menikahinya.

Inilah aku, haruskah aku sesali keputusanku menikahi perempuan seperti Sonia?

Aku yakin, diluaran sana, begitu banyak orang-orang yang senasib denganku. Oh lelaki, ternyata tidak selamanya kamu kuat dan bisa diandalkan!

***

Hai, bagaimanakah kisah yang kalian baca di atas? Menghiburkah? Ada pelajaran yang bisa kalian ambil? Hehehe, kalian bisa memprediksi ending dari cerita di atas.

Salam Sahabat! πŸ•˜πŸ˜πŸ»

πŸŒ΄πŸƒπŸŒΊπŸŒΊπŸƒπŸŒ΄
πŸ’›πŸŒ»πŸŒ»πŸŒ»πŸŒ»πŸ’š
🌻🌻 😍 🌻🌻
🌻 Love YOU 🌻
🌻🌻 🌹 🌻🌻
πŸ’šπŸŒ»πŸŒ»πŸŒ»πŸŒ»πŸ’›
πŸŒ΄πŸƒπŸŒΊπŸŒΊπŸƒπŸŒ΄

☁☁☁☁☁☁☁
β˜πŸŽ€πŸŽ€β˜πŸŽ€πŸŽ€β˜
πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€
πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€
πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€
β˜πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€β˜
β˜β˜πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€β˜β˜
β˜β˜β˜πŸŽ€β˜β˜β˜
☁☁☁☁☁☁☁

SUAMI TEMPERAMENTAL

Kekerasan di dalam rumah tangga seolah-olah bukan lagi hal yang luar biasa di kehidupan manusia. Banyak hal yang memicu terjadinya hal tersebut. Mulai dari cemburu membabi buta sampai dengan masalah perekonomian.

Bisa kita simak, kita dengar, kita baca dari berbagai media begitu banyak perempuan yang harus menanggung rasa sakit, baik secara fisik atau batin yang dilakukan oleh suaminya.

Inspirasi dari cerita ini semoga bisa mengguggah kita semua, bahwa hidup jika hanya menurutkan rasa amarah dan benci tidak akan pernah menyelesaikan permasalahan yang ada malah hanya akan mengakibatkan banyak hal buruk yang bisa merusak.

Enjoy the story

***

Aku seorang janda dengan tiga orang anak lelaki yang masih kecil-kecil. Jarak umur mereka hanya satu tahun. Bisa kalian bayangkan betapa repotnya aku mengasuh ketiga anak tersebut. Ditambah lagi, aku juga tinggal dengan ibuku yang sudah sepuh. Kalian tahulah bagaimana kalau orang sudah tua. Sudah pikun dan sering lupa akan dirinya sendiri, bukannya membantu malah tambah merepotkan.

Usiaku baru 25 tahun. Orang tidak akan mengira kalau aku sudah memiliki tiga orang anak. Usia tiga, dua dan satu tahun. Bebanku benar-benar berat. Sangat berat!

Keputusanku untuk menikah muda ternyata salah besar. Aku tertipu. Perkimpoianku dengan ayah dari anak-anakku hanya bertahan empat tahun. Aku tidak tahu, kalau mantan suamiku tersebut ternyata memiliki isteri tua dengan tiga orang anak pula. Dan itu baru beberapa bulan yang lalu aku ketahui.

Selama menikah dengannya, tidak sekali dua kali aku mengalami kekerasan fisik. Dia seolah bak raja. Harus selalu dilayani. Salah sedikit saja, maka dia tidak segan-segan menamparku. Menjambak rambutku dan membenturkan kepalaku ke dinding.

Kehamilan pertamaku tidaklah membuatnya bahagia. Dia tidak peduli. Aku waktu itu tidak ngeh kenapa dia kadang menghilang seminggu dan kembali lagi minggu berikutnya. Begitu terus selama hampir empat tahun perkimpoianku. Sampai anak-anakku lahir, dia masih saja melakukan kekerasan fisik kepadaku.

Aku tidak bisa melawan, memberontak karena aku tidak ingin terjadi perceraian. Aku tidak ingin anak-anakku tumbuh tanpa kehadiran seorang ayah. Aku tahan semua rasa sakit tersebut. Aku sabarkan hatiku, dia pasti suatu saat akan berubah. Tidak ada manusia yang benar-benar jahat. Mungkin aku memang belum becus mengurus dan melayani keperluannya. Aku selalu menyalahkan diriku sendiri.

Walau aku hamil, aku masih juga berusaha bekerja membanting tulang. Apapun pekerjaan aku jabanin. Mulai dari tukang cuci, jadi OB atau apapun yang bisa aku kerjakan. Karena suamiku tersebut jarang sekali menafkahiku secara materi. Tapi kalau untuk urusan ranjang, dia bernafsu sekali. Otaknya cuma sex dan sex saja. Sampai aku ingin memasang KB tapi dia larang. Dia ingin memiliki anak sebanyak-banyaknya dariku. Walau hatiku perih, namun aku tetap mencoba bertahan.

"Bukankah banyak anak itu banyak rezeki, sayang?" Rayunya padaku setiap kali aku mengutarakan untuk memasang KB.

"Bukan begitu, Mas. Punya anak satu saja sudah membuat kita keteteran. Mas juga jarang kasih uang belanja. Apa-apa sekarang mahal, Mas!" Sanggahku dengan hati-hati. Mendengar perkataanku membuatnya murka. Tangannya yang kasar hinggap di pipiku tanpa rasa kasihan. Bibirku pecah dan rasanya nyeri sekali.

"Kalau aku bilang tidak, ya tidak! Jangan banyak protes kamu!" Bentaknya dan mendorong tubuhku dengan kasar. Lalu dia akan meninggalkanku tanpa rasa belas kasihan sedikitpun.

Dan akhirnya aku hamil anak kedua. Cobaan semakin berat. Karena dia sudah mulai mabuk-mabukan dan berjudi. Kekerasan fisik semakin menjadi-jadi. Wajahku sudah lebam-lebam. Membuatku semakin takut untuk keluar rumah. Tetangga bukannya tidak peduli kepadaku, namun aku memohon kepada mereka untuk membiarkannya saja. Aku tidak ingin suamiku kenapa-kenapa. Apalagi sampai dilaporkan ke polisi.

"Nak, ini sudah keterlaluan. Dia itu sudah bukan manusia lagi. Sudah iblis laknatullah. Kamu juga berhak bahagia anakku! Aku tidak ingin mati dan meninggalkanmu hidup dalam penderitaan seperti ini!" Terkadang ketika kesadaran menghampiri Ibuku kata-katanya bukan menenangkanku malah membuatku semakin sedih. Aku memeluk erat tubuh tuanya. Melampiaskan jeritan hati dan perasaanku yang terasa sangat tersiksa dengan semua keadaan ini.

***

"Mas, susu anak kita habis. Apakah Mas ada uang?" Aku bertanya padanya di suatu malam. Dimana hujan deras begitu kuat menghantam bumi. Aku berdoa di dalam hati semoga pertanyaanku tidak membuatnya murka.

"Apa? Susu?" Dia langsung melompat ke dekatku. Matanya melotot buas. Dan dengan kasar dia meremas dadaku, "Lalu ini gunanya apa? Hanya benda tidak berguna? Kamu jangan banyak gaya sok kaya! Tidak mungkin seorang anak tidak dibekali air susu oleh Tuhan!"

Aku meringis kesakitan ketika dia menyentakkan tangannya di dadaku. Aku tahu, air susuku mungkin memang cukup untuk satu orang anak. Tapi ini dua. Pasca lahirnya anak ketigaku, air susuku serasa tidak pernah cukup untuk mereka. Aku bersyukur anak pertamaku sudah berhenti menyusu.

"Mas, tapi air susuku tidak mencukupi untuk mereka berdua. Aku mohon Mas, belikanlah susu bantu agar mereka tidak kelaparan. Aku mohon dengan sangat. Dengarlah tangisan mereka, Mas. Mereka lapar!" Ratapku dengan penuh perasaan. Namun bukannya tersentuh, kemarahannya semakin menjadi-jadi.

Ditengah deru badai dia menghajarku habis-habisan. Ketiga anakku menangis, menejerit dan berteriak dengan rasa ngilu di tangisan mereka. Sampai akhirnya anak pertamaku yang berusia tiga tahun bergayut di kaki ayahnya. Tepat ketika kaki tersebut hampir menghantam perutku.

Tubuh anakku yang kecil melayang. Seiring dengan jeritanku, kepalanya membentur dinding rumah.

Lalu semuanya sunyi. Senyap. Aku kehilangan kesadaranku. Aku berharap, aku tidak akan terbangun lagi. Rasanya penderitaan ini sudah sampai di batasnya.

Aku ingin mati saja, Tuhan!

***

Malam itu malam terakhir aku bertemu dengan suamiku. Tetangga sudah begitu geram dengan tingkah lakunya. Seandainya saja tidak ada yang peduli mungkin aku dan anak-anakku sudah dihabisi oleh suamiku tersebut. Aku dan anak pertamaku segera dilarikan ke rumah sakit. Aku merasakan tulang belulangku seolah-olah remuk. Serasa hancur. Kesedihan demi kesedihan telah menghantam jiwaku. Dan aku mengikhlaskan kepada Tuhan atas semua takdir yang dia timpakan kepadaku.

***

Suamiku, mendekam di dalam penjara. Ketika aku menjenguknya kesana aku bertemu dengan isteri tuanya. Awalnya aku tidak percaya dengan penuturan perempuan tersebut. Dia memelukku dengan erat.

"Terima kasih telah menyelamatkan kami! Kita bebas, kita bebas dari manusia durjana ini! Semoga dia membusuk di dalam penjara!"

Kata-katanya membuat tubuhku bergetar. Ternyata isteri pertamanya pun selalu mendapat perlakuan tidak manusiawi darinya. Kami menatapnya yang tertunduk malu. Aku masih merasakan secuil rasa kasihan kepadanya. Aku terima dia menyakiti tubuhku. Aku terima dia memperlakukanku dengan sangat kejam. Tapi kalau anakku pun menjadi korban kekerasannya aku tidak akan pernah bisa memaafkannya.

Mungkin kematian lebih baik untuk orang sepertinya yang tidak memiliki hati dan perasaan!

The End

****

Hai sobat, jumpa lagi dengan saya yang mencoba menghadirkan cerita-cerita penggugah jiwa. Semoga bisa memetik pelajaran yah dari cerita-cerita yang saya tulis.

Salam Sahabat.